alexa-tracking

KODE KERAS UNTUK ANIES

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b4567dcdbd770b26a8b457a/kode-keras-untuk-anies
KODE KERAS UNTUK ANIES
KODE KERAS UNTUK ANIES

KODE KERAS UNTUK ANIES 

Jogja, kota kecil, tua, tapi menolak keras untuk mulai lapuk ini. Sebenarnya menghasilkan ribuan orang sejenis Anis Baswedan (AB), dengan ciri2 dasar yang sama: memulai segala sesuatunya dengan manis, simpatik, dan menarik, tapi berakhir tragik dan memalukan. Karena walau mereka masih tetap punya posisi tinggi, tapi secara "moral, secara kesejatian", mereka telah lama habis. Ini alasan dasar untuk menjelaskan kenapa "orang2 sejenis" ini, akan ngotot bertahan atau bahkan mencapai level yang lebih tinggi. Ini menjelaskan tidak banyak yang sampai ke level tertinggi, karena sebagian memilih tiarap untuk tetap dianggap baik. Karena itu contoh lainnya, tentu saja seniornya dalam berpolitik, AR, yang makin tua makin membingungkan itu! Karena hanya dengan cara demikian, mereka bisa membuang rasa malu. Akar dasar orang Jogja itu apa yang disebut "duwe isin, kudu duwe isin" (punya rasa malu, harus punya rasa malu). Sejelek-jelek Pak Harto, sejahat-jahatnya Pak Harto, ketika ia memutuskan mundur: ia betul2 berdiam diri (minimal demikian adanya tampaknya dari luar), karena ia memiliki rasa malu. Ia bisa sahja melakukan, keonaran, kebisingan, dan resek, sebagaimana "anaknya" yang endut itu lakukan setelah ia sepuluh tahun jadi presiden. Tapi Suharto memilih diam: orang lain mengatakan ia menderita dengan sakit tuanya, orang Jawa bilang ia "seleh, semeleh", menerima dengan pasrah segala kesalahannya. Ia tidak pernah betul2 dihukum, tapi ia telah menghukum dirinya sendiri "dengan diam-nya", hingga ajal menjemputnya. Ini mungkin pelajaran yang susah diterima oleh para pembencinya!

Kompas beberapa hari lalu, membuat laporan bahwa tingkat kriminalitas di DKI Jakarta meningkat dalam 6 bulan terakhir. Dalam sebuah razia narkoba, berhasil ditangkap cukup banyak wajah baru. Dan bagian yang paling memprihatinkan adalah usia mereka makin muda, bila sebelumnya berkisar antara 25-30 tahun, bergeser menjadi 18-23 tahun. Semuda itu mereka sudah mulai jadi bandar shabu dan ganja. Seorang kriminolog UI mensinyalir bahwa realitas ini menunjukkan social disorder yang makin parah. Apa itu social dis-order? Sederhananya adalah terjadinya keterasingan dalam interaksi sosial, sehingga mereka membutuhkan pelarian2. Pelarian tersebut bisa saja (yang umum) bergelayut pada agama, bisa pada hobby, komunitas, dan yang paling buruk tentu saja narkoba. Benang merahnya sama: membuat mereka merasa "mabuk" dan memiliki ketergantungan. Dan jangan salah, dalam pra-kondisi seperti inilah menjadi alasan kelompok fasis masuk dan mulai menancapkan kekuasaannya. Yang kadang diabaikan, fasisme itu sebenarnya tidak hanya sebagaimana dipahami dalam bentuk2 seperti Nazi di Jerman yang lebih rasis dan nasinalistik, tapi juga bergaya (atau berdasar) agama. Dan fasisme gaya baru inilah yang tampaknya akan semakin menguat di Indonesia. Pemerintah yang demokratis akan dianggap sebagai bentuk pemerintah yang lemah dan gagal memelihara ketertiban sosial. 

Dan ketertiban sosial inilah yang tampaknya sengaja dihilangkan di Jakarta. Suatu ke-absurd-an yang luar biasa, saat Asian Games, sebuah perhelatan yang belum tentu 30 tahun sekali terselenggara bisa sedemikian diabaikan. Jalanan tjustru makin kumuh, kali2 kembali kotor, dan kemacetan nyaris tanpa solusi. Pedagang kaki lima kembali merampok trotoar jalan, ojek dalam segala bentuknya semakin menguasai jalanan. Padahal ukuran dasar peradaban modern itu mula2 dilihat bagaimana masyarakatnya bisa bersikap disiplin dan terhormat di jalanan. Dalam konteks inilah: pasangan Upin-Ipin ini betul2 cuma mengurusi "interest" masing2. Sialnya keduanya sama2 Amerikanis, yag bolak-balik ke kedua negara itu untuk entah apa yang diperjuangkannya. Sementara kotanya sendiri makin amburadul! Kasus pohon dan bunga plastik, tapaknya akan selalu tercatat "absurditas" yang menandai makin busuknya birokrasi yang tegadai di kota ini. Kita menganggap ini sebuah "kecelakaan", namun sebenarnya tidak sama sekali. Begitulah cara gerombolan pencoleng bekerja. Mereka korbankan sebuah pekerjaan kecil agar jadi isue publik dan ramai dipergunjungkan, agar menutupi isue besar yang sebenarnya sedang mereka kerjakan. Salah satu kelebihan psangan Gubernur ini adalah mereka punya pembela fanatik, di luar tentu saja kaum ultra-nasionalis, kelompok agama yang fanatik, dan yang gak pernah disebut sebagaimana saya singgung di atas para Amerikanis di segala bidang yang tampak mulai kehilangan peran.

Anis pasti akan ikut gelanggang Pilpres, karena tanpa itu ia akan ambruk (di Jakarta) di tengah jalan. Sandi akan menggantikannya didampingi dari kelompok who do you know. Tentu dengan agenda berupaya keras mengembalikan uang yang sudah banyak keluar dan membayar janji yang telah terucap. Saya pikir setahun saja, bila ia sabar sudah balik, selebihnya tentu tinggal berhitung untung. Dan yang tersisa adalah Jakarta yang berantakan, dan Indonesia yang ikut tunggang langgang. Coba lihat saat ia justru bertanya pada warga Jakarta bagaimana ia harusnya mengatasi kemacetan. Tampak bijak tapi sesungguhnya dongok sekali. Itulah contoh ngeles model orang Jogja yang klasik dan tengik. Ciri dasar orang yang telah gagal, bahkan sebelum ia melakukan apa2. Sekali lagi, dari perspektif kampung halaman-nya sendiri: Anis adalah contoh produk gagal dari kota yang selama ini mengedepankan segala hal baik. Dan segala hal yang baik selalu menuntut batas, sedang ia dalam istilah kami "wis kepunjulen" (terlalu jauh, lewat batas). Terlalu banyak meminta, dan akhirnya membuatnya mengambil terlalu banyak. Sialnya orang seperti ini akan tetap bertahan untuk menularkan rasa sakitnya! Sakit haus kuasa yang tak terperi...
image-url-apps
Jualan janji lebih laris daripada jualan bukti, ironi negeri ini
×