alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Akhir Hidupku di Duniaku
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b44f09ca2c06e973a8b4567/akhir-hidupku-di-duniaku

Akhir Hidupku di Duniaku

Quote:


Enam belas tahun setelah aku lahir di dunia. Membuatku sadar akan sesuatu, hidup itu harus dijalani dan dinikmati. Bukan dibuang percuma. Sebenarnya aku heran dengan kasus bunuh diri yang kerap beredar belakangan ini. Apakah mereka tidak bisa menikmati hidupnya? Padahal Tuhan sudah memberikan kita kesempatan dan kita menyia-nyiakannya. Aku tidak mengerti.

Aku memikirkan berita pagi tadi saat sarapan. Walau tinggal sendirian, aku tetap melakukan kegiatan keseharian dengan normal dan juga aku bukan orang malas, sebenarnya dulu aku sangat pemalas dan parahnya tidak keluar kamar sama sekali.

Jarak antara asrama dan sekolah tidak begitu jauh, jadi aku sering berjalan kaki. Yah, tidak semua siswa tinggal di asrama, ada yang beberapa tinggal di rumah masing-masing. Untuk bersekolah di sini, aku harus mencari tempat tinggal murah tapi aku tidak bisa menangani masalah keuangan jadi aku mengambil beasiswa.

Beasiswa ditujukan pada calon siswa yang memiliki prestasi dan tidak memiliki sumber daya yang mumpuni jadi aku termasuk kategori tersebut.

Berjalan menuju ke sekolah memerlukan waktu sekitar 15 menit, kami yang tinggal di asrama memiliki ijin untuk membawa kendaraan pribadi tapi harus membayar tempat sewa garasi, itu percuma bagiku sih.

“Pagi!”
Tiba-tiba seseorang merangkulku dari belakang.
“Selamat pagi juga, tuan putri” balasku.
“Ih, kenapa sih kamu selalu memanggilku seperti itu?” Dia menunjukkan ekspresi cemberut.
“karena pantas aja buatmu” kubalas dia dengan senyum pagiku.
“Pagi-pagi udah ngegombal, dasar ampas” timpal seorang perempuan dari belakang kami berdua.
“Jangan marah gitu dong, An” Tuan Putri melepas rangkulannya dan menghadap belakang sambil menaikkan tangannya setinggi dadanya.
“Hmm” dengan angkuhnya membuang wajahnya dari kami berdua.

Mereka berdua adalah orang-orang yang senasib denganku disini tapi alasan mereka bersekolah dan tinggal diasrama berbeda denganku, mereka berasal dari panti asuhan, sedangkanku berasal dari keluarga kecil. Aku tidak menyalahkan nasip, justru bersyukur bisa bertemu dengan mereka berdua.

Tuan putri ini bernama Mawar Kusuma sedangkan si jutek ini Anna Fitriani, mereka berdua tinggal bersama di panti asuhan, katanya sih mereka masuk ke panti saat bersamaan. Kurasa itu benar adanya, entah dari mana perasaan itu.

Jika diingat-ingat kembali mereka berdua sudah merepotkanku saat pertama kali bertemu dan pertemuan pertama itu saat mereka salah memasukkan koper mereka ke dalam kamarku. Peristiwa itu membuat kegaduhan dan membuat beberapa orang yang tinggal disekitar kamarku pada keluar.

Anehnya aku merasa cocok dengan mereka berdua.

Sekolah Mentari Terbit adalah sekolah yang biasa saja tidak ada yang spesial tapi bagi mereka yang tidak memiliki sumber daya yang mumpuni, sekolah ini adalah idaman.

Saat memasuki gerbangnya, tidak berbeda dengan bangunan sekolah lainnya. Gerbang besi yang dicat hitam, di samping kirinya ada pos satpam dan langsung disuguhkan lapangan basket atau futsal. Bagi yang membawa kendaraan bisa diparkirkan di parikiran dalam sekolah.

Jam 07.24 di lobi. Aku sudah absen di finger print, alat ini sudah lumrah bagi setiap instansi negara, begitu pula dengan sekolah. Ya nanti juga diabsen lagi sih. Kurasa ini cuma sekedar formalitas saja.

Oh iya, mereka berdua berbeda kelas denganku, aku berada di kelas B dan mereka di kelas D.

Suasana kelas sudah rame, wajar aja sih bentar lagi mau memasuki waktu jam pembelajaran pertama.

Aku adalah MC di cerita tapi bukan berarti aku akan duduk di samping jendela atau paling depan, tempat dudukku ditengah-tengah ruang, benar-benar ditengah. Coba deh kalian bayangin kalo kelas tidak ada guru, seberapa keras suara yang bisa kudengar.
Quote:


Kutaruhkan tas ke bangku dan membukanya, weh, bukunya Anna masih ada didalam tasku, aku harus segera mengembalikannya.

Kuambil buku itu dan berjalan keluar kelas, menuju kelas D. Jarak antar kelas tidak begitu jauh sebenarnya.

setibanya disana, aku menggeser pintu dan melangkahkan kakiku.
“Permisi, saya mau mengembalikkan buku” ucap di depan pintu kelas D.

Seseorang menghampiriku dan mengadahkan tangannya.

Nih orang to the point ya? Kuberikan bukunya dan tiba-tiba seseorang mendorongku dari luar. Eits, aku tidak jatuh, kalian jangan berharap yang tidak-tidak, keberuntungan seperti itu hanya ada pada imajinasi kalian.

“Oh ada orang toh, maaf enggak keliatan”

Orang itu tidak menunjukkan apapun di wajahnya, dia lebih dingin daripada Anna. Jika aku tidak salah ingat dia adalah salah satu pemain utama judo sekolah, walaupun kelas 1, dia tetap terlihat seperti raksasa bagiku.

Mawar menghampiri kami karena dia menemukan hal seru, kurasa dia tidak mempedulikanku, biarlah.

“Wah ada apa ini?” matanya Mawar berbinar, seakan-akan menemukan mainan baru.
“Tidak ada”
Si raksasa itu berjalan melewatiku dan duduk ke tempatnya, dia benar-benar besar.
“Kamu enggak apa-apakan?” tanya Mawar.
“tidak apa-apa kok”

Aku merasa suasana kelas D berubah derastis dan sepertinya bukan aku saja yang merasakan perubahan signifikan ini.

Si raksasa itu juga bangun dari tempat duduknya melihat kebawah. Karena aku penasaran aku juga melihat kebawah. Rupanya seluruh lantai kelas D tertutupi spell sihir, sial aku tidak bisa membaca karena itu sudah aktif.

Quote:


Seketika seluruh ruangan kelas berubah menjadi putih dan seluruh orang berpindah tempat, sepertinya kita dipanggil oleh penyihir.
Situasi macam ini sangat gawat, sepertinya penyihir itu menginginkan di raksasa karena tubuhnya sangat cocok sebagai holy knight atau berserker karena dia memiliki tubuh yang cocok untuk mengisi bagian itu.

Sepertinya 21 siswa sudah terpanggil di dunia ini, seharusnya 20 orang. Kan aku cuma ikut-ikutan kan?

Ruangan ini seperti istana-istana di eropa, dinding batu puallam yang sangat khas, kelembaban yang membuat orang ingin segera pindah dari sini, sejujurnya aku tidak suka ruangan bawah tanah seperti ini, tepatnya aula penjara bawah tanah.

*Brush*brush*brus* satu persatu lentera menyala bersamaan iringan sepatu yang menginjak lantai granit ini.
Seseorang muncul didepan kami, sepertinya dia perempuan tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena tudung yang ia kenakan. Sumpah suasana kayak gini membuatku bernostalgia.

"Wahai Pahlawan dari dunia lain! Selamat datang di FALCONLAKE"

Eh? dia tidak salah sebutkan?
Diubah oleh kizoku.daiki48
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
karena ada beberapa kesalahan, saya memohon maaf dan saya telah mengubah beberapa kata dan nama tokoh.

Rose Foster : Mawar Kusuma
Anna Baker : Anna Fitriani

alasan utama mengubah nama karena tidak dirasa tidak cocok dengan cerita selanjutnya, sedangkan nama tempat tetap.

jika ada saran dan kritik, silahkan.
weh, ceritanya isekai toh


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di