alexa-tracking

Opini: Akankah Anies Baswedan Tantang Jokowi di Pilpres 2019?

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b44a6d4d89b09e3798b456a/opini-akankah-anies-baswedan-tantang-jokowi-di-pilpres-2019
Opini: Akankah Anies Baswedan Tantang Jokowi di Pilpres 2019?
Para pendukung Anies Baswedan mengklaim bahwa ia memiliki ‘aset’ yang mencukupi untuk mencalonkan diri dalam pilpres 2019. Dukungan untuk pencalonan Anies sebagai presiden atau wakil presiden telah terdengar sejak sekitar dua bulan yang lalu. Namanya ada di dalam daftar harapan populer.

Oleh: Jeo Legho (Global Indonesian Voices)

Otto von Bismarck, seorang ahli strategi terkenal yang menyatukan negara-negara Jerman menjadi negara yang kuat dan modern, mengatakan bahwa “Politik adalah seni kemungkinan, sesuatu yang dapat dicapai”. Kutipan itu diartikan bahwa politisi harus berkompromi untuk mendapatkan semua yang mereka inginkan.

Tampaknya, pepatah itu terwujud menjadi kenyataan di Indonesia akhir-akhir ini, ketika bangsa ini bersiap untuk pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislatif serentak tahun depan. Para politisi dilaporkan sibuk membuat konsesi dengan orang-orang di dalam partai mereka sendiri dan dengan partai politik lainnya agar mereka tampil sebagai calon presiden untuk pemilu yang akan diselenggarakan pada 9 April 2019. ‘Koalisi’ partai sekarang telah menjadi kata kunci yang sering digunakan bahkan di antara penduduk yang tinggal di pedesaan di seluruh Indonesia, berkat penetrasi televisi.

Spoiler for Anies Baswedan:


Kasus kali ini berpusat pada Gubernur Kota Jakarta Anies Baswedan. Suara dukungan untuk pencalonan Anies sebagai presiden atau wakil presiden telah terdengar sejak sekitar dua bulan yang lalu. Namanya ada di dalam daftar harapan populer.

Selain Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, yang merupakan saingan terkuat Jokowi dalam pemilu 2014, ada juga Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono, Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan, dan Mahmud MD. Seperti halnya Anies Bawedan, Gatot Nurmantyo dan Mahmud MD bukanlah pemimpin atau kader partai politik. Gatot adalah mantan Panglima Angkatan Bersenjata sementara Mahfud adalah mantan ketua Mahkamah Konstitusi.

Suara dukungan lain muncul untuk pencalonan Anies Baswedan sebagai pasangan Prabowo Subianto, yang merupakan pendiri dan ketua umum Partai Gerindra saat ini. Selain itu, beberapa orang bahkan merasa bahwa Anies Baswedan mampu menggantikan Prabowo sebagai calon ketua umum Gerindra dan calon koalisinya, yang kemudian dibantah oleh pejabat senior partai seperti yang dilaporkan oleh Kompas.com.

Para pendukung Anies mengklaim bahwa ia memiliki ‘aset’ yang mencukupi untuk mencalonkan diri dalam pilpres 2019. Aset itu termasuk posisinya sebagai gubernur Jakarta, yang mempopulerkan namanya. Aset lainnya adalah hasil survei baru-baru ini yang menempatkan Anies berada di tempat ketiga dalam hal popularitas, tepat setelah Jokowi dan Prabowo; hubungan kuat gubernur tersebut dengan Gerindra dan Partai PKS, yang bersama-sama mengusungnya ke kursi gubernur; studinya di bidang ekonomi dan urusan publik di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) dan Universitas Maryland di AS. Selain itu, ia juga berpengalaman dalam birokrasi sebagai rektor universitas dan menteri kabinet, selain kecerdasannya yang diakui secara luas, menurut laporan Merdeka.com.

Sementara itu, selama beberapa minggu terakhir, Anies dilaporkan telah mengadakan pembicaraan dengan Prabowo dan Zulkifli Hasan, ketua umum Partai PAN. Namun dia menolak untuk mengatakan apakah mereka membahas tentang pilpres tahun depan dan pihak-pihak yang kemungkinan mencalonkannya sebagai calon presiden atau wakil presiden.

Dengan dukungan kuat dari koalisi pimpinan Gerindra dan organisasi-organisasi berbasis agama garis keras, Anies Baswedan naik ke jabatan gubernur Jakarta pada Oktober lalu setelah mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang beragama Kristen dari etnis Tionghoa dan sekutu politik dekat Presiden Jokowi. Sebelumnya, Anies Baswedan pernah menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan di kabinet Presiden Jokowi, ia menjabat sebagai menteri hanya selama dua tahun. Presiden membebaskannya dari jabatan itu karena alasan yang belum diketahui publik.

Pemberhentian Anies dari kabinet mengejutkan banyak orang karena dua alasan: pertama, ia secara luas diakui sebagai akademisi terkemuka dan seorang aktivis yang sangat memprovokasi pengembangan pendidikan bagi orang-orang di daerah terpencil. Kedua, Anies Baswedan adalah tokoh kunci di tim sukses kampanye calon presiden Jokowi. Dia bergabung dengan tim itu setelah mundur dari Partai Demokrat di mana dia ikut serta dalam konvensi presidensinya dan gagal. Bahkan, dari kubu Partai Demokrat, Anies telah berulang kali menyerang Jokowi dan pasangannya, Jusuf Kalla.

Banyak yang masih ingat alasan Anies untuk meninggalkan kamp-kamp pesaing Jokowi dan bergabung dengan tim kampanye Jokowi yang berasal dari partai-partai koalisi yang dipimpin oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Anies berkata, “Pak Jokowi itu orang baik. Saya selalu ingin membantu orang baik siapapun itu.”

Dan sekarang, karena Presiden Jokowi masih menjadi ‘orang baik’ di mata banyak orang Indonesia, Anies Baswedan harus menjawab pertanyaan mengapa dia tega menantang Presiden itu, yang juga merupakan mantan atasannya dan ‘orang baik,’ di pemilu tahun depan jika ia dicalonkan.

Mengenai hal ini, gubernur Jakarta tersebut mungkin hanya mengutip pepatah lama bahwa dalam politik tidak ada teman atau musuh permanen, hanya kepentingan permanen. Atau, seperti kata-kata Otto von Bismarck “politik adalah seni kemungkinan, sesuatu yang bisa dicapai.” Maka dari itu dia bebas untuk melakukan kompromi politik apapun yang dia inginkan tanpa menghiraukan klaim bahwa dia tidak memenuhi janjinya di beberapa kebijakan utamanya sebagai gubernur Jakarta.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Calon gubernur Jakarta saat itu, Anies Baswedan (kanan) dengan Sandiaga Uno setelah keluar dari tempat pemungutan suara di Jakarta, Indonesia, pada 19 April 2017. (Foto: EPA)

Klik Sumber
image-url-apps
Generasi cepirit emas siap mendukung PRIBUMI DARI SUKU BANGSA ARAB utk melawan PRIBUMI DARI SUKU BANGSA JAWA andalan kecebong/nastak emoticon-Ultah
image-url-apps
itu gak melanggar sunatullah ya? emoticon-Bingung
KASKUS Ads
image-url-apps
Utk pendukung wiwi mulai skrg coba luangkan waktu utk mensholatkan bangkenya sendiri2 ya
image-url-apps
Ane harap sih anies bakal maju sebagai capres, dijamin 2019 pasti bakal lebih seru emoticon-Big Grin
anies maju, mahfud cocok cawapres
prabowo ahy fusion, moeldoko pasti mampu melibas mereka
aher maju.. tgb dah jadi cawapres jokowi emoticon-Big Grin
image-url-apps
kalo mau menang mudah pake sop pilkada dki lagi

buat spanduk bully jenazah emoticon-Big Grin
image-url-apps
Quote:


gorong2 se-indonesia bisa dibongkar sama dia emoticon-Ngakak
image-url-apps
Menjijikkan.
image-url-apps
emoticon-Ngakak
image-url-apps
Ngurus tanah abang aja ga becus mau jadi presiden emoticon-Ngakak lawan pkl aja ga berani tegas mau jadi presiden gmn ntar kalo lawanya yg lebih garang kalo jadi presiden emoticon-Ngakak dp 0 % aja masih belum jelas mau kabur jadi capres
emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
image-url-apps
pribumi arab vs pribumi jawa

emoticon-Ngakak
image-url-apps
Opini: Akankah Anies Baswedan Tantang Jokowi di Pilpres 2019?
Opini emoticon-Ngacir
udah hampir satu tahun ini, ada yang bisa jabarin prestasi apa kek, bukak warung oke oce cabang baru kek, keruk kali pake tangan progresnya sampai mana atau apalah, yang kira kira bisa dibanggakan emoticon-Bingung
Quote:

jakarta auto pilot + program2 ga jelas anget2 tai ayam emoticon-Leh Uga

image-url-apps
Kalo jual agama sama mayat, pasti laku ini makhluk
emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
image-url-apps
wowo baca berita ini pasti cenat cenut ga karuan emoticon-Big Grin
ayo bangkek siapa lagi yang gamau di solatin? emoticon-Ngakak (S)
×