alexa-tracking

Harus cermat menyikapi perang dagang AS

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b4357a9dac13eab5c8b458d/harus-cermat-menyikapi-perang-dagang-as
Harus cermat menyikapi perang dagang AS
Harus cermat menyikapi perang dagang AS
Ilustrasi: Trump menimbang kembali relasi dagang Indonesia-AS.
Genta perang dagang yang ditabuh Amerika Serikat, bergaung tak hanya sampai di Tiongkok. Semua anggota WTO pun merasakan dengungnya. Begitu pun Indonesia.

Pernyataan AS yang akan mengenakan tarif impor 25 persen untuk 818 produk mulai 6 Juli 2018, adalah tabuhan genta yang didengarkan oleh semua negara.

Secara formal, kebijakan baru soal tarif dari AS itu seperti diarahkan untuk membidik 1.300 produk dari Tiongkok, senilai 50 miliar dolar AS, seperti aluminium, serta otomotif dan suku cadang mobil.

Namun, yang bereaksi atas beleid AS ternyata tak cuma Tiongkok. Bersama Kanada, Meksiko, Uni Eropa, negeri Panda pun melancarkan balasan. Mereka mengumumkan akan melakukan kenaikan tarif untuk barang-barang buatan AS dengan nilai sekitar 75 miliar dolar AS.

Presiden AS Donald Trump bergeming dengan balasan itu. Ia tetap pada keinginannya untuk menyeimbangkan angka negatif dalam neraca perdagangan AS terhadap mitranya.

AS malah tengah merancang regulasi dalam bentuk undang-undang yang memungkinkan Trump menaikkan tarif sesuai keinginannya. Selain itu AS juga bisa menegosiasikan tarif khusus dengan negara-negara tertentu. Kedua hal itu dinilai masyarakat ekonomi internasional melanggar aturan dasar WTO.

Karena masuk dalam ekosistem perdagangan global, Indonesia mau tak mau terpengaruh dengan pertempuran kekuatan dagang global tersebut. Artinya Indonesia tidak bisa steril dalam peperangan dagang tersebut.

Apalagi dalam pengumuman resminya, Kantor Perwakilan Perdagangan AS atau United Trade Representative (USTR) mengatakan akan melakukan evaluasi relasi dagang terhadap tiga negara yakni Indonesia, India, dan Kazakhstan.

Evaluasi ini didasari kekhawatiran atas kepatuhan negara-negara tersebut terhadap program Generalized System of Preference (GSP).

GSP adalah program perdagangan yang didesain untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi dengan mengizinkan bebas bea masuk terhadap ribuan produk dari negara mitra AS yang dianggap penerima manfaat itu. Kongres AS awal tahun ini memilih untuk memperbarui GSP hingga 2020.

GSP AS memberikan pemotongan tarif bea masuk terhadap sekitar 5.000 produk dari total 13.000 jenis produk yang dikenal oleh pemerintah AS. Indonesia memperoleh manfaat GSP AS dalam kategori A untuk 3.500 produk, antara lain sebagian produk agrikultur, produk tekstil, garmen, dan perkayuan.

Memang tidak semua produk ekspor Indonesia memperoleh manfaat GSP. Pada 2016, Indonesia hanya memperoleh manfaat GSP untuk 124 produk, dengan nilai sebesar 1,8 miliar dolar AS (Rp25,8 triliun) dari total ekspor Indonesia ke AS sebesar 20 miliar dolar (Rp286 triliun).

Ringkasnya sebagian besar produk ekspor unggulan Indonesia tidak memperoleh manfaat GSP. Begitu pun, tidak semua produk yang diberikan manfaat GSP, mampu dipenuhi oleh Indonesia, karena memang tak tersedia produknya di sini.

Yang pasti neraca perdagangan Indonesia-AS, saat ini masih menguntungkan Indonesia. Pada 2017 misalnya, total ekspor Indonesia ke AS sebesar 17,79 miliar dolar AS. Sementara Indonesia mengimpor produk AS sebesar 8,12 miliar dolar AS.

Menilik sikap Trump yang tidak mau AS defisit dalam hubungan dagang, ada kemungkinan hasil buruk dalam evalauasi tersebut. Bila hasil evaluasi GSP tidak menguntungkan Indonesia, bisa dipastikan akan menekan angka ekspor Indonesia.

Artinya isu evaluasi GSP ini menjadi strategis bagi Indonesia. Itulah sebabnya hari ini (Senin, 9/7) Presiden Joko Widodo bersama para menteri bidang ekonomi melakukan rapat terbatas untuk menyikapi isu tersebut.

Harus disadari pada saat ini posisi Indonesia tidak seperti Tiongkok yang bisa mengambil sikap keras atas kebijakan AS. Diplomasi dan lobi lebih realistis dilakukan agar GSP untuk Indonesia masih dipertahankan.

Apapun perang dagang yang tengah berlangsung antara AS-Tiongkok dan negara-negara lain, telah memberi akibat buruk secara global. Indonesia pun sudah merasakan akibat perang dagang raksasa ekonomi tersebut.

Pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS adalah simtom paling dirasakan dari instabilitas perdagangan global saat ini.

Memang pelemahan rupiah, bisa berdampak positif bila saja ekspor Indonesia lebih banyak bila dibandingkan impor. Sayangnya neraca perdagangan internasional Indonesia malah negatif.

Pada Mei 2018 misalnya, menurut data BPS tercatat minus sebesar 1,51 miliar dolar AS (Rp21,36 triliun). Angka ini turun tipis dari defisit bulan sebelumnya yang mencapai 1,63 miliar dolar AS.

Penyebab negatif neraca perdagangan sebenarnya bukan karena performa ekspor yang buruk. BPS mencatat ekspor Indonesia Mei 2018 meningkat hingga 16,12 miliar dolar AS. Angka ini naik 10,90 persen dibanding ekspor April 2018 yang hanya mencapai 14,53 miliar dolar AS.

Sayangnya pertumbuhan impor melesat lebih cepat dibanding ekspor. Nilai impor Indonesia pada Mei 2018 sebesar 17,64 miliar dolar AS. Meningkat 28,12 persen dari dari bulan sebelumnya yang 13,77 miliar dolar AS.

Defisit perdagangan ini menjadi salah satu penyebab menurunnya cadangan devisa. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2018 sebesar 119,8 miliar dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan akhir Mei 2018 sebesar 122,9 miliar dolar AS.

Cadangan devisa sebesar itu setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Rasio tersebut memang masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Meski bukan angka yang buruk, kita harus tetap waspada. Kita tidak pernah tahu sampai kapan perang dagang akan berakhir, begitu pun kapan instabilitas global akan berhenti.

Di sisi yang lain kebijakan dan insentif yang dilakukan pemerintah untuk merangsang ekspor pun belum segera memberikan hasil. Begitu pula upaya menekan impor juga belum terlihat dampaknya.

Kita tentu berharap Indonesia tetap berhati-hati menyikapi kebijakan AS tentang GSP ini. Bagaimana pun saat ini Indonesia sangat membutuhkan pertumbuhan ekspor yang baik untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi seperti direncanakan.
Harus cermat menyikapi perang dagang AS


Sumber : https://beritagar.id/artikel/editori...rang-dagang-as

---

Baca juga dari kategori EDITORIAL :

- Harus cermat menyikapi perang dagang AS Tak perlu tergesa-gesa, RKUHP harus dibahas tuntas

- Harus cermat menyikapi perang dagang AS Memenuhi kebutuhan anak-anak di Internet

- Harus cermat menyikapi perang dagang AS Menanti putusan MK tentang presidential threshold

×