alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Medcom.id /
Politik tanpa Mahar Teruji di Pilkada 2018
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b433043dbd77044338b4587/politik-tanpa-mahar-teruji-di-pilkada-2018

Politik tanpa Mahar Teruji di Pilkada 2018

Politik tanpa Mahar Teruji di Pilkada 2018

Jakarta: Partai NasDem membuat kejutan di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018. Dari 17 provinsi yang menggelar kontestasi, partai ini mampu memenangi 11 di antaranya. Dan di empat provinsi, NasDem mampu membawa kader internalnya menjadi kepala daerah.

 

Kejutan ini terasa di luar nalar, pasalnya sejumlah survei justru menyigi jika NasDem akan kesulitan mendapatkan cukup suara untuk bisa menempatkan wakil rakyat pada Pemilihan Umum 2019. NasDem diperkirakan sulit untuk bisa menangguk angka dua persen keterpilihan. Artinya, tak akan bisa menjadi partai elite di Senayan yang mampu melampaui ambang batas 4 persen sesuai undang-undang.

 

Namun, semua itu tampaknya terpatahkan dengan hasil di Pilkada 2018. Jargon ‘Politik tanpa Mahar’ disebut sebagai pendorong. Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengistilahkan fenomena ini sebagai tailwind: Didorong oleh keinginan perubahan dari masyarakat.

 

“Ada unsur penopang yang mendorong. Ini bagaikan pesawat yang kena tailwind, dorongan angin dari belakang. Ada keterpautan hati, ada empati. Partai menempatkan dirinya, menempatkan calon tanpa biaya apa pun,” kata Surya Paloh saat diwawancara secara khusus oleh Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Selamun, pekan lalu.

 

Dalam wawancara khusus ini, Surya Paloh juga membeberkan apa yang dia cita-citakan untuk Partai NasDem ke depan. Termasuk, kenapa Surya Paloh selalu terdepan mengusung calon. Tak terkecuali sebagai partai pertama yang mengusung Presiden Joko Widodo untuk maju kembali di Pemilihan Presiden 2019.

 

Apa arti kemenangan Partai NasDem di Pilkada Serentak 2018?

 

Artinya, ini upaya dari satu keyakinan. Yang meletakkan dasar pada strategi kemenangan diikuti dengan persyaratan. Kemudian mengawalnya dan mengikuti setiap detik perubahan yang harus disesuaikan dengan strategi pemenangan itu sendiri.

 

Memang hasil ini tidak begitu saja bisa tercapai. Diperlukan satu pengorbanan dan keyakinan dari pucuk pimpinan partai. Saya meyakinkan para caleg untuk melihat keadaan masyarakat. Saya memberikan pemahaman arti kehadiran dia sebagai caleg.

 

Apakah kemenangan ini menjadi gambaran cita-cita besar NasDem meraih tiga besar di Pemilu Legislatif 2019?

 

Sejujurnya memang demikian. Ini merupakan anak tangga menuju ke sana. Kalau kita tidak melihat proses pilkada dengan seluruh effort yang kita miliki, kita tidak boleh berharap memberikan hasil yang optimal. Sebaliknya, kalau kita memang benar-benar mendekatkan spirit, semangat, dan percaya diri, saya yakin kita akan berhasil memenangkan kompetisi.

 

Selalu ada pertanyaan, partai bisa meraih tiga besar setelah mampu menempatkan orang sebagai bupati, wali kota, dan gubernur?

 

Kita sudah ikut tiga kali pilkada. Pilkada pertama, PDIP nomor satu, runner up-nya NasDem. Saya mensyukuri itu. Kawan-kawan memberikan semangat yang lebih baik. Pertama kali ikut pilkada kita sudah dapat kedudukan yang terhormat.

 

Pilkada kedua, dengan persiapan yang sama dan belajar sedikit dari kekurangan-kekurangan dari pilkada pertama, NasDem runner up lagi. Golkar menang. Dua kali Pilkada NasDem tidak berubah posisinya.

 

Kita ikut pilkada ketiga. Untuk pemilihan gubernur, NasDem ranking nomor satu. Pilkada secara nasional nanti kita tunggu rekapitulasinya dari KPU. Saya rasa kalau enggak nomor satu atau nomor dua. 



 

Apakah kemenangan ini karena jargon ‘Politik tanpa Mahar’? Apa istimewanya?

 

Sederhana sekali, kita mau mengubah kelaziman yang kita anggap tidak tepat. NasDem ingin membawa gerakan perubahan restorasi bangsa ini. Ini kan menyangkut peradaban kita juga. Bagaimana pun esensi dari keberadaan pilkada secara langsung untuk memilih putra/putri terbaik bangsa. Untuk menduduki posisi strategis baik di provinsi, kabupaten, dan kota. Tentu dengan pertandingan free fight. Tarung bebas.

 

Tapi kita tidak bisa melupakan faktor esensi kapabilitas yang dimiliki oleh seseorang. Ada visinya, kemampuan leadership, dan sebagainya. Itu harus diperhitungkan. Kepribadian, kapabilitas, itu esensi pertama.

 

Kedua itu elektabilitas. Sayang juga orang-orang yang hebat terpilih, punya kemampuan, leadership baik, tapi tingkat elektabilitasnya rendah sekali. Perpaduan inilah yang harus dihitung baik-baik oleh NasDem dalam mengatur strateginya. Hal inilah yang memungkinkan kita bisa tetap menjaga roh, soul, idealisme kita sebagai institusi partai politik.

 

Partai politik itu tidak melulu pragmatis. Kalau dia bicara pragmatis, dia hanya melihat kapabilitas, tidak ada urusan dengan kemampuan, aspek kapabilitas itu sendiri. 

 

Konsistensi melaksanakan politik tanpa mahar inikah yang membuat NasDem melesat?

 

Saya rasa iya. Ada unsur penopang yang mendorong. Ini bagaikan pesawat yang kena tailwind, dorongan angin dari belakang. Jadi, melaju lebih cepat. Mereka (masyarakat) punya hati, empati, di samping pikiran, dan pendekatan rasionalitas yang mereka miliki. Ada keterpautan hati, ada empati. Partai menempatkan dirinya, menempatkan calon dia tanpa biaya apa pun.

 

Dengan bantuan tailwind atau perasaan publik tadi, seberapa cepat kira-kira NasDem akan menjadi partai besar?

 

Bergantung, bagaimana pun sejarah telah mencatat partai baru seperti NasDem langsung berhadapan dengan parliamentary threshold (ambang batas parlemen sebesar 3,5 persen). Tidak semua partai yang mengikuti pemilu bebas dari ini.

 

Partai ini tahu ada 3,5 persen parliamentary threshold (di UU Pemilu yang baru 4 persen) yang harus diikuti. Semua pengamat meragukan, bahkan survei terakhir belum memenuhi. Dia (NasDem) kalau dibulatkan (saat ini) belum 7 persen, persisnya 6,8 persen. Itu sebuah prestasi. Ada 36 anggota DPR di tingkat pusat, 1.200 anggota DPRD provinsi, kabupaten, dan kota. Ini debut yang baik, tetapi dengan political gagasan yang dikedepankan, dia akan berhadapan dengan kondisi realitas masyarakat kita.

 

Sejujurnya, masyarakat kita sekarang ini tidak melihat lagi pikiran-pikiran yang lebih strategis untuk satu kepentingan jangka panjang. Sangat pragmatis. Dia (masyarakat) tidak tertarik pikiran-pikiran soal masalah sentuhan penguatan ideologi supaya Indonesia berdiri kokoh bagi masa depan anak-cucu kita.

 

Realitasnya, ada uang berapa? Kemampuan berapa besar? Praktik transaksional itu merupakan kelaziman yang terjadi. Walaupun, ada orang yang sungguh-sungguh mengatakan ada tekad dan semangat kejujuran. Kalau ada kaca yang bisa menerobos jantung hati, dia benar-benar jujur, belum tentu mendapatkan tempat karena syarat utama tadi ialah transaksional. 

 

NasDem masuk dalam situasi seperti itu. Keluar kelaziman seperti itu bisa dianggap anomali juga. Ini keanehan, seberapa yakin jalan ini? Di mana tailwind bisa membantu Anda untuk berjalan lebih cepat?

 

Kalau saja kita perjuangkan ini dengan sungguh-sungguh, kalau saja datang dari dasar, ketulusan, keikhlasan hati, dan pengabdian sebagai anak bangsa, ini tidak hanya diidentikkan harus mengusung presiden, kepala pemerintahan, atau wakil presiden. Atau apa pun jabatan-jabatan formal dari insitutsi-institusi resmi yang ada. Seorang ketua umum partai politik bisa memerankan ini dan memang diyakinkan sunguh-sungguh. Sedikit atau banyak dia akan berproses ke depan.

 

Kalau ini kita pertahankan dari waktu ke waktu, secara konsisten mungkin bukan saya yang rasakan hasilnya. mungkin anak cucu kita yang merasakan. Namun sebaliknya, kalau kita tidak mulai dengan akal sehat kita, siapa yang akan memulainya?

 

Kita setuju ada suatu bagian yang salah dari realitas kehidupan kita hari ini. Interaksi masyarakat tidak sehat, masyarakat sudah saling tidak percaya satu sama lain. Siapa yang harus memperbaiki ini? Peran kaum ulama, pemuka agama, baik itu muslim dan nonmuslim, memang dibutuhkan memberikan ketaladanan. Tapi, itu tidak hanya dibiarkan saja kepada mereka, posisi civil society ini harus bergerak.

 

Di sisi lain, kita masuk pada model demokrasi yang liberal. Semua boleh berkelahi, bertempur, apa saja saling meyakinkan, baik meyakinkan yang baik atau yang salah. Ini adalah kondisi yang tidak sehat.



 

Sekarang soal sosok Ridwan Kamil, sosok yang nyaris tidak didukung partai untuk menjadi calon gubernur Jawa Barat. NasDem dukung Ridwan Kamil, fakta nyata politik tanpa mahar. Apa yang Anda lihat?

 

Saya lihat efektif. Memang belum sepenuhnya seperti apa yang kita harapkan, tapi trennya bergerak positif. Kita melihat kembali satu hal yang paling penting, bangsa ini harus tetap menjaga dan memiliki budaya malu.

 

Enggak ada gunanya penguasaan teknologi yang semakin maju dari anak-anak kita. Penguasaan teknologi informasi di alam modernisasi ini. Kita ini bangsa timur, tapi kita kehilangan esensi yang paling utama. Apa yang kita masukkan dalam konteks peradaban kita sebagai suatu bangsa modern? Tidak ada lagi kehidupan yang kita kenal dengan apa yang kita maksudkan asas kepantasan. Ada koridor kepantasan. 

 

Selain Ridwan Kamil, NasDem juga mendukung Khofifah Indar Parawangsa di Pilgub Jatim. Bagaimana NasDem mengendalikan konflik di internal?

 

Keterbukaan. Sejak awal NasDem mengedepankan politik gagasan. Bagaimana kita bisa meyakinkan masyarakat kalau itu tidak dimulai dari diri kita sendiri sebagai pimpinan. Sikap, perilaku, ucapan, dan perbuatan saya terekam oleh seluruh pasukan. Kalau dari waktu ke waktu mereka merasa ada inkonsistensi di sana, kalau dari waktu ke waktu mereka rasakan ada sesuatu yang tidak nyaman dari diri mereka, saya pikir akan lain.

 

Mungkin saya tetap memiliki dukungan, tapi dukungan itu tidak dalam keikhlasan. Hanya dukungan yang semu karena saya sebagai pimpinan mereka tidak lebih dari itu. NasDem mencoba menawarkan pikiran-pikiran politik gagasan. Supaya kita tidak lagi terjebak pada pendekatan yang aksesoris. Pendekatan kulit. Seakan-akan orang jahat pun bisa jadi orang baik dengan ditutup kamuflase, angan-angan, dan aksesoris lain.

 

Kita tidak lagi harus terjebak ke sana. Kita harus juga melihat substansinya, isinya. Jangan kayak orang yang berangkat ke rumah-rumah ibadah. Memang fisiknya ada di sana, tapi dia meninggalkan soul-nya. Itu yang NasDem perlu ingatkan.

 

Orang berpolitik bersih kan sulit, melawan arus, seberapa gampang dan sulit sebetulnya?

 

Tidak banyak masyarakat yang tahu kalau ketua umum Partai NasDem ini telah berkecimpung di dunia politik selama setengah abad. Saya bukan lagi anak muda hari ini. Kalau masih ada tekad dan semangat saya pada batas kesempatan yang diberikan, saya ingin memberikan yang terbaik di sisa usia saya.

 

Saya sudah dapatkan yang terbaik. Negeri ini sudah memberikan. Saya tidak bisa memberikan hal yang pejuang-pejuang lakukan. Saya tidak mungkin jadi seorang Sutan Sjahrir. Saya tidak mungkin jadi Bung Karno, Bung Hatta, atau tokoh-tokoh hebat lain. Tapi, ada momentum sekarang ini di mana orang sudah tidak percaya terhadap asas kebajikan. Apa salahnya kalau saya tetap ada di situ.

 

Artinya, sebutir pasir atau setetes air yang saya lakukan, kalau itu memberikan makna, silakan. Saya sudah katakan, saya mungkin sudah tidak bisa dapatkan manfaat ini. Masyarakat pun belum tentu mengalami perubahan pola pikir yang hebat. Tapi, saya harus terus ingatkan kalau kita ingin jadi bangsa besar. Kalau kita mau jadi bangsa yang milliki sistem dan nilai, maka perilaku sosial kita harus kita perbaiki.



 

Kalau ada kader yang bermasalah atau bertentangan dengan garis partai, apa yang akan dilakukan?

 

Terus menerus saya ingatkan bahwa kodrat kita sebagai manusia tidak terlepas dari kesalahan, dosa, dan kebodohan. Untuk itulah agama. Mengembalikan kita pada niat baik. Kita salah, kita kembali lagi. Ketika pasukan kita mengalami kekhilafan, kesalahan, kebodohan, aturlah yang baik.

 

Partai ini memiliki peraturan, begitu tersandung kasus KPK, hanya dua kemungkinan, yakni mengundurkan diri atau dipecat. Kita sudah letakkan dari awal, saya berharap itu tidak terkena pada orang-orang yang saya sayangi.

 

Saya berdoa untuk itu, terhindarkan dari seluruh keluarga besar partai ini. Tapi seluruh kehidupan ini tidak ada satu pun jaminan. Ada jalan terjal, jalan ke bukit-bukit. Saya mengajak semuanya, mari kita hadapi perjalanan kehidupan ini untuk mempertahankan niat baik. Enggak ada artinya seluruh aturan formal dalam upaya-upaya menegakkan hukum, termasuk mencegah korupsi.

 

Kalau kita hanya cari-cari kesalahan, saya perlu ingatkan hari ini gubernur (ditangkap KPK), besok lagi ada di sana. Saya pernah menyatakan seandainya saja kita sama-sama punya komitmen, kita bisa. Indonesia membutuhkan kesadaran membangun bersama bangsa ini.

 

Banyak kader dari partai lain masuk, salah satunya Syahrul Yasin Limpo, bagaimana melihat fenomena ini? 

 

Tidak ada paksaan untuk siapa pun. Para sahabat, teman-teman, aktivis, atau anggota dewan untuk bergabung ke NasDem. Kalau mau bergabung itu satu kehormatan. Ada niat baik, ini partai baru, partai yang kalau dilihat surveinya cuma 2 persen. Jadi, kalau saya katakan ada gebrakan, ini ibarat latihan perang-perangan saja. Ada teman-teman yang nanti masuk ke DCS (daftar calon legislatir sementara), sekitar 30 anggota dewan yang sekarang ini masih aktif dari berbagai macam partai. Memang ada kesediaan bergabung. Begitu masuk, mereka adalah bagian keluarga yang amat kita syukuri dan hormati. Menyatukan seluruh potensi kita, kita perkuat barisan.



Sumber : http://news.metrotvnews.com/politik/...i-pilkada-2018

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Politik tanpa Mahar Teruji di Pilkada 2018 Bacaleg NasDem Diminta Siapkan Mental Maju dari Jateng

- Politik tanpa Mahar Teruji di Pilkada 2018 Wawancara Khusus Bersama Surya Paloh (4)

- Politik tanpa Mahar Teruji di Pilkada 2018 Wawancara Khusus Bersama Surya Paloh (3)

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di