alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Hasil Pilkada Tidak Bisa Jadi Tolok Ukur Pilpres 2019
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b43070114088de8458b4569/hasil-pilkada-tidak-bisa-jadi-tolok-ukur-pilpres-2019

Hasil Pilkada Tidak Bisa Jadi Tolok Ukur Pilpres 2019

Hasil Pilkada Tidak Bisa Jadi Tolok Ukur Pilpres 2019













Koran Sulindo – Hasil pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang digelar pada 27 Juni lalu, tidak bisa menjadi tolok ukur untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Apalagi setelah Pilkada setiap partai lalu mengklaim sebagai prestasi dan kemenangannya.


Klaim tersebut, kata Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo, menjadi lucu. Pasalnya, setiap Pilkada terjadi koalisi antara partai satu dengan partai lain. Karenanya, Pilkada tidak bisa diklaim secara linear.

Semisal, Pilkada Sumatera Utara yang dimenangi pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah merupakan kemenangan 8 partai yang mengusung pasangan tersebut. Namun, Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) mengklaim kemenangan tersebut sebagai kemenangan mereka.

“Hasil pilkada tidak bisa diklaim secara linear. Belum tentu kemenangan di daerah yang dimenangi 3 partai tersebut pada Pilpres nanti akan dimenangi Prabowo. Jadi tidak berkolerasi antara Pilkada dan Pilpres,”ujar Karyono dalam diskusi bertajuk “Peta Kekuatan Capres Pasca Pilkada Serentak” di Jakarta.

Dikatakan Karyono, pada Pilkada Jawa Tengah suara pasangan Sudirman Said – Ida Fauziah yang melonjak juga bukan karena efek Prabowo atau karena isu ganti presiden 2019. Terlalu cepat untuk menilai demikian karena faktor logistik cagub/cawagub bisa jadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan suara pasangan tersebut.

Kemenangan Pilkada, kata Karyono, juga bisa dipengaruhi kekuatan figur, kekuatan media, dan kekuatan logistik. “Jadi loncakan Sudirman-Ida tidak serta merta karena kekuatan PKS dan Gerindra. Tidak sesederhana itu tapi banyak faktor yang mempengaruhi lonjakan tersebut,” Karyono menambahkan.

Ia akan tetapi menyayangkan adanya dugaan rekayasa terhadap lembaga survei karena hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan. Suara pasangan Sudirman-Ida, misalnya, melonjak tajam mencapai 43% dan berbeda jauh dengan hasil survei yang selalu menempatkan elektabilitas pasangan itu di bawah 20%. Pun demikian dengan hasil Pilkada Jawa Barat menjadi alasan untuk menilai hasil survei telah direkayasa.

Dari semua fakta tersebut, Pilkada 2018 cenderung pragmatis, dan menafikan masalah ideologis. Pasalnya, di beberapa daerah PDI Perjuangan justru berkoalisi dengan PKS dan Gerindra untuk mengusung pasangan calon kepala daerah.

Sementara, menurut budayawan Eros Djarot, PDI Perjuangan bisa jadi tidak mengusung Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019, bila cawapres yang diusulkan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak diinginkan Jokwi.

Sejauh ini, kata Eros, kepemimpinan di Indonesia miskin negarawan dan itu sangat dirasakan masyarakat Indonesia. Umumnya politikus Indonesia tidak visioner sehingga cenderung pragmatis ketimbang memikirkan kesejahteraan rakyat.

Isu pergantian presiden, menurut Eros, merupakan wacana yang miskin substansi dan asal bicara. “Kalau bicara tentang pergantian presiden, ngarang itu. Kalau ada bicara perubahan oke, mari kita ngomong,” kata Eros.

Kepala Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PDI Perjuangan Agustin Teras Narang mengatakan, Pemilihan kepala daerah adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dengana Pilpres 2019. Namun, menurut Teras , hasil Pilkada tidak bergaris lurus dengan Pilpres.

“Dalam Pilkada kita tidak bisa lagi bicara idieologi sebagai garis partai. Sejak saat itu saya langsung berpandangan Pilkada 2018, tidak bergaris lurus dengan Pilpres 2019,” kata Teras.

Teras mengatakan, perbandingan elektabilitas Jokowi masih berkisaran 56%, dan Prabowo Subianto sekitar 40%. Pandangan di daerah bahwa Jokowi belum melakukan sesuatu, dan bahkan banyak berpandangan bahwa Jokowi selalu berkiblat ke daerah tertentu. “Dan kurang perhatian kepada pengusaha menengah ke bawah,”ujarnya.

Karena itu, kata Teras, untuk membangun Indonesia dibutuhkan kebersamaan. Bukan sebaliknya. Karenanya, tidak terpusat membicarakan pemilihan presiden saja, tetapi juga berpikir bagaimana menempatkan para legislator yang memiliki jiwa kenegaraan dari tingkat pusat, sampai daerah.

“Tugas kita ke depan tidak ringan. Pemilihan serentak ini sangat diasoasikan pada Pilpres. Jangan kita terforkus pada satu sisi. Saya ajak kita ini satu, satu untuk keptingan bangsa, dan negara,”ujarnya. [RLJ]





































BACA SUMBER : https://koransulindo.com/hasil-pilka...-pilpres-2019/

Urutan Terlama
Yg jelas dalam demokrasi itu selalu ada pihak pemenang n pecundang

Kalau menang jadilah pemenang yg santun n dewasa
Kalau kalah jadilah pecundang yg legowo, jangan ngambek n bawa2 unimog
bodo amatlah ..... yg fenting dapet orderan bisa makan nasi padang emoticon-Ultah
Hasil Pilkada Tidak Bisa Jadi Tolok Ukur Pilpres 2019
Diubah oleh boregasm
Gak usah ada pemilu lagi salam dua periode emoticon-Cool
tapi lumayan lah
Quote:


Tumben ada yg bener nyebut TOLOK UKUR.....
Biasanya salah sebut TOLAK UKUR
Tapi masih mending ketimbang salah tulis jadi TOLAK BALA atau TOLAK PELURU...
menolak kebenaranemoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk
Quote:


unyiiing, 1 bungkus buat ber 4..? madafakah lah, ane aja sendiri kadang nambah, trus nutrisi buat otak jls2 tdk mencukupi itu pantes deh, blm lg buat anak bini yg nunggu dirumah, miris ah :goyang :goyang :goyang
Yang bilang bisa kan wowo duluan pas pilgub dki emoticon-Leh Uga
Diubah oleh kelazcorro
bukannya hastag itu gara2 goal pilkada dki ya. kok muna mentang2 grupnya gatot dipilkada
si bego masih aja ngeles.. jelas2 itu banteng udah mati
GOBLOK

mesin partai pada nyusruk

rakyat sudah mulai pintar
ada benarnya juga sih menurut ane, belum tentu hasil pilkada bisa nentuin untuk pilpres tahun depan


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di