alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Neymar, Kenyataan Melawan Kenyataan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b40e707c1d770524b8b4589/neymar-kenyataan-melawan-kenyataan

Neymar, Kenyataan Melawan Kenyataan

Satu kisah menarik datang dari sebuah negara yang jauhnya kurang lebih 15,500 kilometer dari kota Jakarta yaitu Brazil. negara kelahiran dari "Seseorang yang bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang dikenal dunia".

Seseorang tersebut adalah Neymar.
memiliki nama lengkap Neymar da Silva Santos, pria kelahiran 5 febuari 1992 di kota Mogi des Cruzes, provinsi San Paulo, Brazil.


Dikalangan pecinta sepakbola, nama Neymar sudah sering didengar. pemain sepakbola berusia 26 tahun tersebut kini telah menjadi "satu diantara pemain sepakbola bergaji mahal didunia".

Diantara gaji dan kemewahan hidup, Neymar adalah satu diantara 207,7 juta masyarakat brazil yang telah menuliskan kisah "Kenyataan Melawan Kenyataan" hidup di brazil.


Dari sinilah kisah menarik itu terungkap
dari sebuah negara dengan tingkat populasi terbesar ke.5 didunia, dari sebuah negara dengan tingkat produksi narkotika terbesar ke.3 didunia bedasarkan kutipan dari halaman BNN [Link Ini] dan dari masyarakat yang hidup berdampingan dengan berbagai macam kelompok geng bersenjata.

Favela sebuah sebutan berasal dari masyarakat brazil untuk menyebut "lingkungan kumuh". disitulah Neymar bersama dengan seorang adik perempuan, ibu dan ayah hidup bersama dengan kondisi yang serba kekurangan. bersekolah disekolah biasa, memakai sepatu butut untuk sekolah, tidur beralaskan matras dan tidak ada sesuatu yang mewah.

Bedasarkan kantor statistik Brazil, IBGE menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 11 juta orang tinggal di favela yang tersebar pada 6.000 titik dan itu adalah lingkungan ilegal. senjata, narkotika dan kekerasan sudah menjadi hal biasa dilingkungan favela. bagi mereka yang hidup kekurangan pilihannya hanya dua, "Bekerja keras atau Melakukan tindakan kriminal".

Kembali kepada kisah Neymar. Kesuksesan tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga terutama sang ayah yang memiliki nama lengkap Neymar Santos.


Baginya, "Juniho (nama kesayangan bagi sang anak Neymar kecil) adalah anak yang mempunyai imajinasi banyak, ingin menjadi apa saja dan anak ini pun sangat banyak gerak. Kami selalu mendukungnya untuk mengejar semua mimpinya" Kenang sang ayah yang juga mantan pesepakbola dari sebuah klub kecil Uniao FC.

Diusia 10 tahun, Neymar kecil sudah bermain sepakbola untuk sebuah klub sekolah selama setahun. kemahirannya membuat ia harus pindah sekolah sekaligus pindah kesebuah klub sepakbola sekolah di Santos yang pada akhirnya melambungkan namanya dikenal berbagai media brazil sebagai pemain sepakbola terbaik. Tahun 2004 adalah tahun neymar memasuki akademi sepakbola Santos.


Menarik....
bukan hasil akhir yang didapat oleh Neymar namun sebuah proses dari perjalanan "Kenyataan melawan kenyataan" arus kehidupan.

Bisakah kita bayangkan bersama seandainya Juniho kecil ini ikut bersama arus kehidupan di brazil atau Ia tidak mendapat dukungan keluarga untuk menjadi pemain sepakbola mengingat begitu banyaknya pemain sepakbola di brazil yang juga serba kekurangan, akan seperti apakah jadinya si Juniho kecil sekarang ini ?

Bedasarkan data hasil penelusuran Ts di berbagai media internet baik, ada 30 ribu kesebelasan di brazil dengan total pemain terdaftar mencapai 11,2 juta. hanya 2% saja yang mendapat gaji diatas 20 kali upah minimum bulanan brazil atau 6.380 USD.

Akhir kata Ts ucapkan terima kasih untuk Kaskuser yang sudah membaca, memberikan komentar dan memberika rating thread. Mohon maaf apabila ada kalimat yang kurang berkenan. semoga kisah ini menjadi inspirasi kita semua diantara sejuta kisah inspirasi lainnya.

Berbagai Sumber emoticon-shakehand
Diubah oleh .ID.2949OOO.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Saya mengalaminya ketika berkunjung ke Brasil tahun 2008.

Saya bersama dengan 24 wartawan lain dari Eropa dan Brasil sedang melakukan ekspedisi menyusuri ruas sungai Amazon antara Manaus dan Santarem di Brasil guna mengkaji dampak pemanasan global terhadap alam dan kehidupan sosial di kawasan Amazon.

Karena terhadang badai, kami terpaksa membuang sauh di sebuah gugusan pulau di tengah sungai raksasa itu untuk bersembunyi.

Ceritanya sebenarnya kemudian agak memalukan.

Di pulau itu, sambil menunggu badai reda, kami ditantang bermain bola di bantaran sungai oleh bocah-bocah berusia belasan tahun.

Kami wartawan, semuanya pintar berbicara tentang bola dan serba-serbinya, hanya bisa bertahan bermain paling lama 20 menit.

Pasir tebal dan bola yang berat dan kempes menambah kesengsaraan kami. Kedodoran nafas kami kalah telak. Saya tak ingat skornya.

Padahal sebisa mungkin kami telah mencoba bermain dengan "benar": menggunakan taktik, bekerja sama dan memanfaatkan fisik kami yang rata-rata lebih besar dan kuat.

Sementara mereka, setidaknya di mata kami, bermain ngawur tanpa pola, berlebihan pamer keterampilan menggocek bola - sialnya, mereka memang bagus -- dan terlalu individualistik. Semua yang menurut kami serba salah dalam permainan sepakbola.

Intermezzo bola itu bukanlah hal yang serius. Kecuali untuk satu dua orang, keterampilan kami bermain bola memang biasa-biasa saja. Namun tetap saja menjadi kejengkelan buat kami yang merasa mengerti sepakbola. Kecuali bagi dua orang wartawan asal Brasil sendiri, laki-laki dan perempuan, yang berjanji mengantar kami berkunjung ke favela (kawasan kumuh) bila kami mampir ke Sao Paulo. "Anak-anak itu belum seberapa," kata mereka.

Sepanjang waktu anak-anak bermain bola dengan riangnya di setiap jengkal lahan yang dianggap luang.

Ada yang hanya sebuah gang sempit, pelataran bekas rumah yang dihancurkan, lahan yang tidak datar, pokoknya asal bola bisa digocek dan ditendang. Bola yang dipakai juga agak berbeda, semacam karet yang agak lunak dan berat agar tidak bisa ditendang terlalu jauh.

Sempitnya tempat bermain memaksa mereka harus sebisa mungkin membuat bola terus menempel di kaki, menyesuaikan diri dengan ruang permainan yang ada dan menyatukan semuanya dalam sebuah imajinasi guna melewati lawan.

Permainan bola anak-anak itu seperti cerminan kreativitas imajinasi orangtua mereka untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan dan barang yang tersedia agar bisa dijadikan tempat berteduh.


Sumber :
https://sport.detik.com/aboutthegame...an-dari-favela
Neymar, Kenyataan Melawan Kenyataan
coba 4 tahun lagi ya
hmmm, mejeng di trit neymar emoticon-Wow
harusnya neymar kalah di final aja bray, pan dia artinya
Tapi sayang, agak senga sekarang..


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di