alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Tiga Hari Tour ke Masa Depan [18+, Sci Fi- Horror]
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b3fe597dad7705d048b4567/tiga-hari-tour-ke-masa-depan-18-sci-fi--horror

Tiga Hari Tour ke Masa Depan [18+, Sci Fi- Horror]

Tiga Hari Tour ke Masa Depan [18+, Sci Fi- Horror]

Assalamu'alaikum


Gua udah melihat terlalu banyak hal-hal aneh tentang fantasi manusia di masa depan, jadi gua mau tulis lagi tentang itu semua dalam bentuk suatu rangkaian cerita.


Tentang imajinasi gua sendiri, tentang apa yang menyambut di masa depan.


Nggak apa-apa lah walaupun hasilnya kacau, Woles aja.emoticon-Malu (S)


Selamat membaca,


Wassalamu'alaikum
Diubah oleh: thetaliotheta
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 2
Part 1


Pertanyaan itu muncul begitu saja dan Herry segera menanyakan pertanyaan tersebut ke proffesor di Institut tempat ia kuliah.

Jika secara umum kita memahami evolusi sebagai suatu perubahan yang berkelanjutan, maka ke arah mana tujuan evolusi manusia jika perubahan tersebut diumpamakan suatu perjalanan?. Pertanyaan itu mengganggu Herry sebagai seorang mahasiswa Anthropology semester awal. Ia pun penasaran; setelah “kita” berevolusi sebagai manusia, lantas kita berevolusi menjadi apa lagi? Mari kita kesampingkan dulu pertikaian antara Creationist dan Evolutionist di luar sana yang belum jelas terlihat ujungnya. Pertanyaan ini lebih penting dan lebih mengganggu Herry dibandingkan pertanyaan kapan kimpoi yang beberapa kerabatnya sering tanyakan secara rutin.

---
Saat ini Herry tengah berjalan pulang di tengah malam. Di sepanjang perjalanan ia teringat dengan jawaban si profesor yang bahkan dengan segala keintelektualannya masih belum bisa memuaskan rasa ingin tahu Herry, atau mungkin Herry hanya belum bisa menjangkau pemahaman itu?, tapi si proffesor memberi petunjuk tentang teori Lamarck bahwa makhluk hidup berevolusi sebagai respon terhadap perubahan lingkungannya. Jika lingkungan tempat tinggal manusia berubah seiring waktu, lantas tidakkah itu artinya kita sedang berevolusi?

Ssshhh...

Terdengar suara aneh entah dari mana; sekarang Herry menyadari bahwa ia memasuki wilayah yang begitu gelap di tengah perkebunan pisang di perjalanan pulangnya. Tempat itu terkenal angker dan pernah dijadikan tempat uji nyali. Ia pun melihat ke sekelilingnya dan memanggil dengan panik.

“Siapa itu?”

Setelah memanggil sampai yang ke tiga kalinya mata Herry mengarah ke sebuah pohon waru di tengah-tengah perkebunan pisang itu. terlihat samar-samar ada seseorang dengan tinggi hampir dua setengah meter berdiri diantara pepohonan.

“Wheeezh..., nggak usah diganggu yang beginian mah.” Pikir Herry yang kemudian segera cabut dari tempat itu.

Baru beberapa langkah ia di jalan setapak, Herry merasakan keberadaan seseorang di belakangnya. Ia pun menoleh dan melihat orang dua setengah meter itu; dengan kepala yang lonjong memanjang ke belakang dan tubuh kurus mengikutinya. Herry pun merasa paranoid. Ia hampir pasti melihat wajah orang itu dengan mata yang besar telinga panjang, hidung mancung dan rahang yang kecil. Mungkin lebih cocok disebut makhluk.

“..., situ alien ya...?”

“Bukan..., kami manusia.” Jawab makhluk itu.

“..., no komen..., good bye!.”

Herry yang merasa takut pun segera berlari pulang, namun setelah berlari beberapa menit ia masih merasa diikuti oleh makhluk itu, dan benar; saja saat ia menoleh ke belakang terlihat makhluk itu melayang dengan sebuah alat yang aneh; mengejar Herry. Rambut makhluk itu yang panjang menjalar ke mana-mana seperti gurita.

“TOLONG!!!...., SIAPA KEK, TOLONG!!!” pekik Herry.

Hansip yang sedang patroli di sekitar situ pun segera datang menyambut.

“Ada apa ya?” tanya Pak Hansip.

“Ada setan pak di sebelah sana.” Kata Herry menunjuk ke arah makhluk itu, namun tidak ada apa-apa di sana.

Dengan wajah bingung hansip itu berkata:

“Itu setannya mempan nggak kalo saya pentung? Kalo enggak saya ikut teriak aja bareng mas.”

“Iya..., tapi tadi setannya berdiri di sana pak. Kepalanya besar”

“Atau mungkin sebenarnya masih berdiri di situ setannya mas, cuman nggak terlihat aja.”

Herry terdiam. Ia pun memperhatikan lagi arah yang ia tunjuk dan bertanya dalam hati: apa benar itu tadi setan? Ia pun segera lanjut berlari pulang tanpa sadar diikuti oleh makhluk itu.

>>>
Diubah oleh thetaliotheta
Part 2


Gerimis turun malam ini. Suara gemerintiknya mengalihkan pikiran yang saat ini dalam tekanan hidup dan mengiringi suasana ke larutnya malam.

Tok tok tok...

Gerimis menjadi hujan, suara gemerintiknya pun semakin nyaring terdengar. Herry terbangun dari tidurnya; ia pun melihat jam yang masih menunjukan pukul 12 malam kurang 5 menit. Ia mencoba tidur lagi, namun entah kenapa bayang-bayang makhluk itu itu muncul di kepalanya. Makhluk yang ia temui saat pulang tadi.

“Madesu.” Gerutunya.

Teringat bahwa dirinya baru sekali makan sejak tadi pagi, ia pun masak mi instan; menduga bahwa dirinya lapar meskipun tidak merasakannya. Baru sempat ia meletakan mi di lantai, ia merasa ada yang janggal, suara gemeritik itu semakin nyaring terdengar, sampai akhirnya ia pun menyadari suara itu adalah suara ketukan pintu di kamar kosnya. Herry berusaha mengabaikan, namun ketukan itu terus berlanjut sampai akhirnya si pengetuk pintu itu berkata:

“Apa kamu manusia?”

Sambil mengipasi minya, Herry tetap berusaha mengabaikan si pengetuk pintu, sampai akhirnya si pengetuk pintu itu berkata lagi:

“Aku dengar kau penasaran menjadi apa manusia ber-evolusi. Apa kau mau aku jawab pertanyaan itu?.”

Herry tersentak dengan perkataan si pengetuk pintu. ia pun bangkit dan menoleh ke arah pintu di belakangnya, namun ternyata si pengetuk pintu adalah makhluk yang ia lihat saat pulang tadi dan makhluk itu kini berada dalam kamarnya, memperhatikan Herry dari dekat dan berkata:

“Kalian... akan ber-evolusi menjadi kami.”

Suasana hening begitu lama menyelimuti, keringat dingin Herry mengucur deras, namun setelah ia tenang ia pun merespon:

“Coba ulangi lagi tadi lo ngomong apa?”

“kalian akan ber-evolusi menjadi kami.”

“Menjadi... alien?”

“Kami manusia, bukan alien.”

“Oh..., maaf. Dilihat dari sisi manapun juga lo mirip alien.” Komen Herry sambil kepalanya berpindah-pindah sudut pandang melihat makhluk itu. Agak lama makhluk itu terdiam dan kemudian berkata:

“Tidak peduli kamu menganggap kami apa, kalian tetap akan ber-evolusi menjadi kami. Jika menurutmu kami alien, maka bisa kami katakan kepada kalian; Manusia akan ber-evolusi menjadi alien.”

“Enggak, nggak mungkin...”

“Itu semua mungkin saja terjadi, tapi memang pemahaman kalian saja yang belum bisa menjangkaunya.”

“Atau memang lo yang bohong!.”

“Tidak ada alasan logis bagi kami untuk berbohong.”

Herry terdiam. Ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan terakhir makhluk itu. Kemudian berkatalah makhluk itu:

“... Tidak perlu bingung, kelak kalian akan mengerti bahhwa kenginan untuk berbohong itu muncul karena pengaruh emosi, apakah itu cinta, takut, benci, emosi, demi mempertahankan kedudukan kalian di muka bumi ini.”

Suasana hening. Walaupun ia mengerti dengan perkataan makhluk di hadapannya itu, namun ia terdiam heran karena baru pertama kali melihat makhluk itu. Ia pun berjalan ke bilik kamar belakang, kemudian kembali menghadap makhluk itu setelah menenangkan diri dengan minum tiga gelas air.

“Namaku Cell.” Makhluk itu memperkenalkan diri.

“Oh..., sori, gua nggak nanya.”

“Tidak masalah kamu bertanya atau tidak. Kamu tetap akan menerima pesannya.”

“Sori bro, tapi lo sembarangan masuk ke sini itu udah salah. Dan lagi ngapain juga lo ngenalin diri ke gua?, lo pikir gua bakal memperkenalkan diri balik ke lo gitu?.”

“Herry..., kamu dengan emosimu yang menarik., kalian memang generasi yang menarik.”

“..., dari mana lo tau nama gua?”

“Aku bisa membaca pikiranmu, dan aku juga bisa mengirim telepati ke kepalamu, tanpa kamu menyadari bahwa itu telepati. Dan masih banyak hal yang aku bisa lakukan diluar batas manusia saat ini.”

Herry terdiam lagi. Ia memperhatikan detail-detail yang ia tangkap dari sosok makhluk itu. Walau ia sudah agak tenang, namun ia masih belum terbiasa melihat makhluk yang ada di hadapannya itu. Makhluk bernama Cell yang mengaku sebagai manusia. Herry pun berujar:

“Tentang emosi, jangan lo bilang seolah itu hal yang aneh, emosi itu hal yang manusiawi dan sama sekali nggak aneh.”

“Aku tidak bermaksud begitu. Begitu juga aku tidak menyamakan kalian dengan binatang saat aku berkata bahwa binatang juga punya emosi sebagaimana manusia, tapi sudah tentu ada pembeda antara keduanya. Ngomong ngomong apa kamu tahu satu ke arah mana umat manusia berevolusi..., Herry?” Balas Cell.

“Kasih tau gua.”

“Kita ber-evolusi dari binatang, pada akhirnya menjadi manusia. Kalian baru setengah jalan. Baru setengah manusia, dengan kata lain masih tersisa unsur-unsur binatang dalam diri kalian. Kami, adalah sebenar-benarnya manusia. Atau katakanlah kalian mendekati kesempurnaan manusia, sempurna dalam segala kebaikan dan keburukannya.”

“Ah masa?, nggak disebut dalam agama.” Herry blak-blakan.

“Agama itu tidak benar.” Kata Cell.

“Maaf?, tadi lo bilang apa?”

“Aku bilang, agama itu tidak benar.”

“...., atheis ya?”

“Kami percaya Tuhan, tapi kami tidak punya agama.”

“Lo..., eh, kalian ya? Walaupun gua liat lo cuma sendiri; kalian Agnostic-Theist?”

“Apa kami Agnostic-Theis itu tergantung bagaimana si-yang ditanya mendefinisikan tuhan, dan alasan aku menggunakan kata ganti kami karena aku di sini mewakili orang-orang dari masa depan dan aku menganggap kamu mewakili orang-orang di masa ini.”

“Memang apa definisi kalian tentang tuhan?”

“Tuhan adalah sesuatu di atas sesuatu. Bagi tiap orang tuhan bisa dalam bentuk apapun itu tergantung bagaimana mereka mendefinisikannya. Apakah itu matahari sebagaimana bangsa aztec menyembah matahari, apakah itu bintang yang orang yunani kuno menganggap merupakan jelmaan para dewa, ataukah itu berhala yang bangsa arab kuno sembah. Apakah itu mitos, alam, bayang bayang, harta, atau bahkan diri sendiri. Tuhan adalah konsep universal dan menurutku aku adalah Tuhan di atas sesuatu dan Tuhan bisa saja sesuatu di atas aku.”

“Seperti lo?..., lo nganggep diri lo sebagai tuhan? Apa maksud banyolan lo barusan?”

“Bisa saja demikian..., seandainya kamu mau menyembahku silahkan.”

“Nggak terima kasih, gua nggak mau nyembah makhluk aneh kayak lo.”

“Aku kan hanya berandai-andai..., lagi pula pemahaman kalian masih jauh di bawah pencapaian ilmu kami. Jika kau mau, kami bisa membawamu ke masa depan dan kamu bisa lihat sendiri dunia kami; dunia kalian kelak; dunia kita semua.”

“Mesin waktu?..., lo dari masa depan? ke sini pake mesin waktu?”

“Ya.”

Herry terdiam sejenak mendengar jawaban “Ya.” Cell. Sebelum ini ia berpikir bahwa mesin waktu itu sesuatu yang mustahil, tapi di saat yang bersamaan itu juga merupakan sesuatu yang luar biasa, sebagaimana bertemu dengan makhluk humanoid berkepala besar setinggi dua setengah meter juga merupakan sesuatu yang luar biasa. Herry pun mengaduk-aduk mi instannya.

“Makan?” celetuk Herry sok akrab.

Cell hanya menggeleng pelan. Setelah beberapa seruput mi instan, ia pun berkata:

“Menarik..., gua mau ikut lo ke masa depan, tapi besok. Sekarang gua mau tidur dulu abis makan nih.”

“Silahkan..., selamat tidur.”

Makhluk itu pun melangkah pergi keluar kamar kos Herry. Di dorong rasa penasaran; Herry segera mengambil kamera perekam dan menyusul hendak merekam sosok Cell untuk disebarkan di internet, namun Cell sudah tidak terlihat lagi. Ia pun kembali menutup pintu, menghabiskan mi instannya dan segera tidur.

>>>
Diubah oleh thetaliotheta
Part 3


Mungkin karena Herry pikir ini hari minggu sehingga tidak apa-apa menurutnya jika tidur lagi setelah sholat subuh, namun ia merasakan keanehan saat merasa sudah tidur agak lama; ia tidak merasakan cahaya mentari pagi masuk ke kamarnya. Hal yang aneh menurutnya karena walau tanpa lampu sekalipun kamar kos Herry seharusnya senantiasa terang di pagi hari oleh cahaya matahari yang masuk melalui atap mika di bilik kamar belakang dan juga melalui jendela kamarnya yang bergorden tipis. Ia pun segera melangkah keluar kamar kos. Semakin heran dia saat lingkungan tempat tinggalnya berubah menjadi sulit ia kenali dari sebelumnya. Gedung-gedung tinggi mencakar langit yang berwarna hitam. Entah mengapa Herry yakin saat itu bukan malam karena warna hitamnya langit terasa berbeda bahkan jika dibandingkan dengan malam paling gelap yang pernah ia lihat sekalipun.

Herry terus melangkah dan sampai di tengah-tengah jalan besar. Ia melihat dengan heran segala infrastruktur perkotaan yang ia lihat begitu absurd dan penuh tanda tanya.

~ Dimana pintu masuk gedung ini?
~ Bagaimana benda yang mirip bola mata itu bisa tetap melayang tanpa baling-baling seperti drone?
~ Garis apa itu yang berwarna warni di langit.
~ Bintang apa itu yang berwarna biru keputihan di garis cakrawala?

Dan berbagai pertanyaan lainnya yang bermunculan di kepalanya, namun yang paling aneh dari semua itu adalah suasana kota itu yang begitu sepi yang hampir tidak ada seorangpun terlihat. Herry pun menatap ke atas dan terlihat satu dan dua kendaraan seperti mobil setengah pesawat melayang di udara. Dengan tangan gemetar ia menyalakan kamera perekam dan mulai mengambil gambar.

“Tempat apa ini?” pikirnya.

Herry pun melangkah menyusuri jalan dan tiba di bagian jalan tanpa pagar yang melayang. Herry melihat awan hitam membentang di bawah jalan layang tempat ia berdiri, sama seperti awan di atas kepalanya. Ia pun menolah ke kiri dan ke kanan; masih; suasana begitu hening dan mencekam. Dengan sendirinya Herry menyadari seseorang memperhatikannya dari jauh. Sosok itu berkepala besar dan tinggi; terlihat sedang berdiri di balik tembok setengah sembunyi. Herry pun teringat dengan Cell dan bergumam:

“Apa ini di masa depan?”

“Ya.” Jawab Cell yang tiba-tiba saja bediri di belakang Herry.

Herry kaget dan segera mengarahkan kamera perekamnya ke arah Cell.

“Bagaimana menurutmu tentang masa depan kita ini?” lanjut Cell bertanya.

“Tempat ini seperti distopia..., dih!, bahkan Distopia sepinya pun nggak ngalahin kuburan kayak gini. Orang-orang pada kemana sih?”

“Mereka ada.”

“Ya dimana?”

”Di dalam gedung.”

Herry pun melihat gedung-gedung di sekitarnya. Kamera perekamnya diangkat setinggi mungkin. Sesaat kemudian ia menoleh ke arah Cell dan dengan nada penuh keraguan ia bertanya:

“Hoi! Cell!, ini beneran masa depan kan?”

“Sebenarnya seperti apa masa depan yang kau harapkan atau terpikir?”

“Ya..., gua pikir masa depan seharusnya lebih ramai, lo tau? Populasi manusia semakin bertambah seiring waktu. teknologi semakin berkembang pesat. Gua pikir mirip kayak dunia cyberpunk kayak di film..., Tron: Legacy!, lo tau film itu kan?.”

Cell geleng-geleng kepala.

“Judge Dreed?”

Cell diam.

“Ghost in The Shell?, Johnny Mnemonic?, Total Recall?, Cyberpunk! cyberpunk...?, lo pernah nonton televisi nggak sih?”

“Mungkin kerabat kami pernah tapi kami tidak lagi melihat ada tujuan logis dari menonton televisi.

“Heh...?, tujuan logis?” Herry menyimpan kameranya.

“Seandainya kau ingin tahu, pada masa ini informasi dikirim dan diterima dengan metode yang berbeda dengan di zamanmu; juga lebih cepat dan tepat tanpa perlu membuang-buang waktu duduk di depan layar. tertanam langsung dalam otak melalui simulasi saraf panca indera.”

“Ya ya..., maaf aja ya kalo seandainya gua kelewat banyak hal, tapi setau gua salah satu tujuan logis orang menonton televisi justru karena ingin terhibur.”

“Orang menonton televisi karena banyak hal, namun mereka menonton film untuk hiburan. Karena itu sebelumnya kami bilang tidak lagi melihat, karena walaupun kami pernah melihat tujuan itu sebelumnya, namun kami melihatnya sebagai sesuatu yang..., semu. Hiburan itu tidak logis bagi kami yang tidak butuh dihibur.”

“Tidak butuh dihibur..., kalian orang-orang aneh. Ngomong-ngomong siapa itu kerabat?”

“Kerabat kami?, mereka adalah orang-orang yang kamu cari.”

“Hah?. Siapa yang gua cari?”

“kau sendiri yang menanyakannya tadi. ~ Orang-orang pada kemana?”

Herry mempersiapkan kamera perekamnya.

>>>
Diubah oleh thetaliotheta
Lanjut gan, keren nih. Ijin nenda yah..
Quote:


Mari gan, silahkan dan terima kasih atas apresiasinya emoticon-Jempol
Part 4


Herry dan Cell tiba di sebuah gedung besar berbentuk tabung. Ada cahaya seperti laser yang menyoroti wajah Cell saat dirinya mendekati gedung itu. Sesaat setelah cahaya tersebut muncul keluarlah benda seperti kapsul yang muncul dari tembok atas gedung dan mendarat di hadapan keduanya.

“Naiklah.” Ujar Cell sambil memasuki kapsul.

Herry segera ikut naik dan kapsul itu pun terbang dengan cukup cepat, namun Herry tidak merasakan gaya tekanannya terhadap gravitasi. Di langit Herry mulai plonga-plongo memperhatikan suasana kota yang tumbuh ke atas; mengingatkannya dengan setting dalam manga BLAME! Yang pernah ia baca. Eh..., tunggu, dunia ini mirip dengan dunia BLAME!, bahkan lebih sepi, lebih gelap dan lebih menyeramkan dari setting manga BLAME!.

“Kita sampai.” Ujar Cell yang kemudian berjalan keluar menuju sebuah gerbang elektronik diikuti oleh Herry. Gerbang itu menyala dan bergerak mengawal langkah keduanya menuju sebuah ruangan berbentuk kubah. Herry pun mengikuti Cell sampai ke pad di tengah ruangan dan dalam sekejap keduanya berpindah tempat ke tempat lain; seperti; atau memang itu teleportasi.

“Nah Herry, apa kamu siap melihat ujung dari perjalanan evolusi manusia?” tanya Cell.

“Apa gua harus jawab?.” Tanya balik Herry, seperti ingin mengejek Cell.

“Nggak perlu jawab sih.... tapi baiklah..., manusia ber-evolusi dari binatang menjadi dua spesies manusia yang berbeda. Pertama adalah kami; Homo Angelus dan yang kedua adalah mereka; Homo Satani.” Ujar Cell sambil menunjuk ke arah sesuatu yang kurang jelas penampangnya.

“Mereka ada di sana, kamu bisa periksa dengan mata kepalamu sendiri.” Lanjut Cell.

Herry pun melangkah mendekati arah Cell menunjuk, semakin dekat dan semakin dekat; semakin pula Herry merasa ngeri dan semakin ngeri dengan apa yang ia lihat. ia melihat sesosok manusia dengan bentuk yang aneh mengintip dari balik tembok, kemudian bersembunyi entah kemana. Herry mencoba menjelajahi lebih lanjut ke dalam, lorong itu mengarah ke bawah tanah; begitu gelap dengan dinding yang penuh pipa dan kabel. Setibanya ia di ujung lorong Herry sampai puncak intensitas olah raga jantungnya.

Herry melihat sekumpulan makhluk berbadan bulat gemuk sedang duduk di kursi melayang. Pemandangan ini mengingatkannya dengan manusia dalam film animasi Wall-E, namun jika manusia dalam film animasi Wall-E didesain lucu, namun mereka begitu aneh dan mengerikan. Tubuh mereka penuh lipatan-lipatan lemak dan selang di sana-sini berikut infusnya. Merasa mual; Herry menutup mulutnya dan segera berlari mundur hendak kembali ke tempat Cell, namun ia tersesat dan malah berjalan lebih dalam melalui lorong-lorong yang lebih bercabang lagi.

“CELL!!..., CELL!!...” Herry memanggil, namun tidak ada balasan dari Cell.

Herry tiba di titik dimana dirinya tidak bisa lagi melihat apa-apa, namun seiring ia berjalan suasana semakin kembali terang sedikit demi sedikit sampai akhirnya ia menyadari dirinya berada di sebuah area remang-remang yang cukup luas mencakup sebuah pemukiman di dalam gedung. Di tempat itu Herry melihat beberapa orang tengah meregang nyawa dengan darah yang bercucuran, namun mereka tertawa. Di sekeliling mereka sekumpulan orang bersenjata tengah bersorak penuh semangat. Nggak pake lama Herry berlari ke arah lain lagi. DI tempat lain ia melihat tiga orang sedang begituan di tempat umum yang lebih ngeri lagi bagi Herry saat ia menyadari bahwa ketiganya sama sama berbatang dan bergunung kembar. Sebagai seseorang yang punya sisi gelap sebagaimana kebanyakan orang juga demikian; Herry pernah melihat Hentai paling absurd di internet, namun ia tidak menyangka akan melihat yang lebih gila lagi dan tidak bisa tahan melihatnya secara langsung. Ia segera berlari hendak kembali ke tempat ia datang, namun masih tersesat juga.

Setelah berlari tak tentu arah melintasi gang-gang yang kumuh dengan orang-orang berbentuk nggak jelas, ia sampai di lantai yang tinggi; melihat ke arah pemukiman kumuh itu. Dengan tangan bergetar ia segera menyalakan kamera perekamnya dan merekam orang-orang di bawahnya; yang menghiasi pemandangan dengan darah dan dosa. Tidak tahan dengan apa yang Herry lihat, ia pun dengan tak terkendali memuntahkan sebagian mi instan yang ia makan semalam.

“Kau tidak apa-apa?” Cell yang semakin kesini semakin seperti ninja tiba-tiba muncul di belakang Herry.

“APA MAKSUD LO NGGAK APA-APA?, PEMANDANGAN APA INI? DUNIA APA INI?”

“Ini masa depan..., selamat datang di masa depan.” Cell dengan terlihat santai mengatakannya.

“Yang benar saja...?, ini...? masa depan?”

Herry menoleh lagi dan melihat ke bawah. Herry menyadari dirinya menjadi pusat perhatian. Orang-orang itu; yang Cell menyebut mereka sebagai Homo Satani, melihat ke arahnya dengan masih di sela kegiatan masing masing, mulai dari orgy di tengah jalan, berkelahi sampai berdarah-darah, makan-minum, sampai bernyanyi dengan lagu yang bikin kepala Herry pusing. Bahkan ada orang yang melirik ke arah Herry dalam keadaan leher tergantung di tiang listrik. Herry memuntahkan mi instan yang tersisa di perutnya.

“Kau sakit..., ayo ikut ke ruang perawatan.” Ujar Cell.

Herry sempat telat mikir saat ditanyai Cell, namun saat ia menyadari ada segerombolan Homo Satani dengan langkah yang sangat aneh berlari ke arahnya, ia pun segera mengikuti Cell; meninggalkan pemukiman itu dengan pod teleportasi menuju ruang perawatan. Selama proses teleportasi Herry tidak merasakan apa-apa selain rasa takut. Tak terbayangkan di benaknya jika sampai orang-orang aneh itu menghampirinya; akan diapakan dirinya...

>>>
Diubah oleh thetaliotheta
cerita fiktip apa mimpi gan...??
Quote:


ini fiksi gan.
Part 5


Ada sebuah ruangan berdinding putih keperakan yang terdapat beberapa tabung besar di dalamnya. Ada monitor yang juga terpasang di sisi kiri dan kanan pintu tabung tersebut. Herry dan Cell baru datang dari melihat-lihat pemukiman, kini ada di ruangan itu; ruangan perawatan.

“Masuk ke sini.” Cell menunjuk salah satu tabung sembari menuntun Herry.

“......, mh... kayaknya gua udah agak baikan deh.” Herry khawatir.

“Masuklah..., tidak perlu bingung terhadap sesuatu yang baru. Jika bingung bertanyalah.”

Setelah berpikir agak lama, Herry pun masuk ke dalam tabung yang ditunjuk Cell dan mulai merasakan melayang di dalamnya. Ia merasakan gravitasi nol. Ia juga merasakan sensasi yang sangat nyaman, seperti berenang di udara; entahlah, mungkin seperti ini rasanya jadi bayi dalam rahim ibu.

“Kau bisa mendengarku?” tanya Cell dari luar tabung. Suaranya terdengar seolah dari dalam tabung itu sendiri.

“Bisa.” Balas Herry.

“Bagus, tidak ada batasan waktu bagi kamu di dalam situ. Jika kamu lapar kamu bisa keluar dan aku akan mengantarmu ke ruang makanan.”

“Boleh gua tanya sesuatu?.”

“Silahkan.”

“Tentang..., yang tadi itu. Kalian Homo Angelus dan Mereka; Homo Satani, kenapa manusia berevolusi menjadi dua spesies bebeda?”

“Ada banyak faktor penyebabnya, seperti gaya hidup, makanan, lingkungan, teknologi, dan sebagainya.”

“..., Maksud yang gua tanya itu perbedaan antara kalian dengan mereka. Kenapa terpisah jadi dua spesies?, pada titik apa spesies manusia bercabang jadi dua?.”

“Sebenarnya kau tahu melalui telepatiku, namun kau berusaha menyangkalnya dalam pikiranmu. Kami tahu itu.”

“Pesan apa? Telepati yang lo bilang barusan lebih mirip bisikan setan di telinga gua.”

“...”

“Hanya menyarankan, jangan berpikir ini dan itu sebagai bisikan setan. Pola pikir seperti itu hanya akan menjadikanmu percaya dan menyangkal tanpa alasan logis.”

Herry terdiam. Ia tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan Cell, namun ia percaya itu semata-mata karena pengetahuan dirinya yang kurang, bukan karena Cell mengatakan hal yang sudah pasti. Cell pun berkata lagi:

“Daripada diam seribu bahasa, lebih baik kau rangkai ikhtisar tentang kehidupan manusia di zamanmu, mungkin kau akan menemukan petunjuk dari itu.”

Herry tertegun. Bayang-bayangnya tentang kehidupan masa lalu pun muncul di hadapannya; muncul dengan dramatis seperti potongan film. Agak ironis baginya karena bayang-bayang itu muncul di masa depan. Sementara semata-mata bayangan yang muncul saat ia di masa lalu nggak lebih dari masalah kuliah yang baru ia mulai dan wajah mantan. Seiring bayangan itu seolah semakin terlihat nyata; tentang orang-orangnya yang beraneka ragam, tentang gedung-gedungnya yang mencakar langit, tentang lembaran-lembaran sejarah yang ditulis dengan darah, ia pun berkata:

“Lemah, kata itu yang ada di pikiran gua sekarang.”

“Katakan lebih lanjut tentang hal tersebut.” Cell memancing.

“Ya..., orang yang dikendalikan emosi itu lemah.”

“Lanjutkan.”

Herry menarik napas dalam. Ia mengetuk-ngetuk pintu tabung yang kemudian dibuka oleh Cell, kemudian berkata:

“Manusia berevolusi menjadi semakin lemah........., dibandingkan dengan leluhur kita dulu. Bagaimana menurutmu Cell?”

“..., mungkin kau benar, orang-orang di awal zaman itu kuat baik dalam hal kekuatan fisik ataupun psikis. Banyak pejuang-pejuang tangguh dan para pemikir-pemikir briliant muncul di masa lalu dan mencapai pencapaian yang luar biasa dalam segala keterbatasan mereka di bidang teknologi. Sesuatu yang belum tentu bisa dicapai oleh kita tanpa bantuan teknologi. Kami tahu kau akan menyadarinya.” Kata Cell.

“Mungkin ya...?” tanya Herry.

“Kau merasa yakin dengan teorimu?”

“Hanya hipotesis kok.”

“Oke, apa ada lagi yang ingin kau katakan?” tanya Cell lagi.

“Ya, menurut gua manusia terlalu beketergantungan dengan teknologi, sehingga kekuatan kita sesungguhnya adalah kekuatan yang tidak asli. Semakin kita ketergantungan dengan teknologi, semakin beberapa nggota badan kita jarang diakai, dan semakin jarang anggota badan kita dipakai maka anggota badan itu akan mengalami penyusutan menjadi lebih lemah, atau bahkan tidak berfungsi sama sekali.” Herry mengepalkan tangannya.

“Memang menyedihkan. Untungnya walaupun tubuh kami sudah menyusut menjadi mirip kerangka seperti ini, tapi masih bisa dipakai untuk hal-hal kecil. Segala pekerjaan berat pada masa ini dikerjakan oleh robot dengan kecerdasan buatan atau baju exoskeleton untuk menambah kekuatan.”

Hening

“Selanjutnya... bercabangnya spesies manusia, apa kau sudah punya gambaran?” tanya Cell.

“Teknologi... Menurut gua dengan semakin berkembangnya teknologi maka semakin manusia akan terbagi berdasarkan bagaimana mereka menggunakan teknologi. Golongan pertama adalah mereka yang mengembangkan teknologi, ...” Herry memandang Cell dalam-dalam, kemudian melanjutkan berkata:

“... sementara golongan kedua adalah mereka yang kecanduan teknologi. Lo Cell, kalo boleh gua tebak, lo ini orang yang mengembangkan teknologi ya?” Herry menunjukan rekaman yang ia ambil sebelumnya.

“Kami; Homo Angelus adalah para pengembang teknologi di masa ini. Aku pribadi seorang peneliti, jadi kami bisa pastikan; memang tebakanmu benar. Tapi coba beri tahu kami; bagaimana evolusi manusia dalam segi pemanfaatan teknologi itu.”

“Manusia yang mengembangkan teknologi dan manusia juga yang memanfaatkan teknologi. Bisa dibilang teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri.”

“Biar kami perjelas, mungkin kau menganggap bahwa umat manusia mengembangkan teknologi, namun sebenarnya hanya sebagian kecil manusia saja yang mengembangkan teknologi dengan mengatasnamakan umat manusia. Sebagian kecil; sementara sisanya tidak lebih dari sekedar pecandu teknologi. Seharusnya kau tahu itu Herry.”

“..., bener apa kata lo.” Kata Herry mindblown yang pada titik ini ia sepenuhnya setuju dengan Cell.

“Nggak ada yang bagus dari teknologi kecuali bagus di depan mata. Ketergantungan teknologi sudah jadi kecanduan yang merusak.” Lanjut Herry.

“Ngomong-ngomong kenapa sampai se ekstrim itu?, kenapa tidak kau menganggap baik atau buruknya teknologi itu tergantung pada bagaimana manusia memanfaatkan teknologi itu sendiri?, atau jangan-jangan kata-katamu tadi hanya di lidah saja?. Masih pakai teknologi?” Tanya Cell.

“Mungkn sama saat kau bilang kebutuhan seseorang akan hiburan itu hal yang semu, mungkin kebaikan dalam teknologi juga merupakan hal yang semu.” Jawab Herry sebisanya.

Cell terdiam, kemudian ia pergi ke pintu keluar dan berkata:

“Mau makan?”

“Ya, tapi apa sekarang sudah dzuhur?”

“..., sudah, tapi disini tidak ada masjid dan musholah. Meski begitu kamu bisa wudhu di toilet sebelah sana” Herry menunjuk pintu putih di sudut ruangan.

“Heh..., baru kemaren lo ngaku sebagai Tuhan, apa yang gua harepin?, lo jadi imam sholat?..., nggak usah repot repot. Gua permisi.” Kata Herry yang segera berlalu.

Sepanjang perjalanan ke toilet Herry terdiam memikirkan tentang pembicaraannya dengan Cell tadi. Bukan bermaksud tidak percaya bahwa apa yang ia katakan tadi adalah informasi yang ia dapat dari Cell melalui telepati, namun hal-hal seperti itu seolah sudah terpikirkan olehnya jauh-jauh hari sebelumnya. Selain itu ia juga terpikirkan dengan banyak hal yang ia lihat hari ini, hari di zaman terakhir. Ia kembali merasa tidak enak badan tidak lain karena ia melihat ada yang tidak beres dengan masyarakat ini. Ada sisi gelap di sepotong zaman; saat ini ia berada.

Di dalam toilet, segalanya terlihat begitu asing sampai Herry pun memakan waktu hampir lima menit hanya untuk mencari tahu dimana air akan keluar, namun ternyata tidak sesederhana keran air dipelintir langsung ngocor. Alat sanitasi bekerja dengan partikel pembersih yang ditembakkan dengan panduan sinar laser (entah mengapa Herry merasa itu bukan sinar laser biasa) yang muncul begitu saja dari tembok di hadapannya. Sebelum wudhu, didorong rasa penasaran ia pun mengintip bilik toilet yang terlihat aneh dengan bola kaca dan selang berkepala baling-baling di sebelah sana. Ah..., sudah lah..., wudhu saja semampunya dan langsung sholat .

>>>
Lanjut gan, tamatin ya.. Jng kendor.. emoticon-Cendol Gan
jejak dulu deh sebelum bacaemoticon-Traveller
Quote:


Diusahain ganemoticon-Jempol ane coba luangin waktu buat cek ricek ketikan ceritanya sebelum posting

Quote:


Mari, silahkan emoticon-Malu (S)
ihhh gila keren banget awal2 nya.
semoga sesuai ekspetasi ane emoticon-Big Grin
ijin gelar tiker bro/sis
Quote:


Mari gan, silahkan emoticon-Malu (S)
Part 6


Seusai sholat, Herry mengikuti Cell ke sebuah ruangan yang begitu luas dimana terlihat beberapa manusia mirip Cell yang Herry pikir adalah Homo Angelus sebagaimana Cell mengklaim dirinya; sedang duduk kompakan. Herry terdiam saat dipersilahkan duduk di sebuah bangku tanpa meja disekitarnya

“Jadi nggak nih makannya?” tanya Herry lihat kiri kanan mencari meja.

“Duduklah..., biar aku tunjukan bagaimana kami makan.” Kata Cell.

Herry pun ikut duduk bersama Cell. Sesaat kemudian muncul beberapa lengan yang terhubung dengan selang di belakang bangku Cell. Di ujungnya ada benda seperti tabung kaca; menempel di leher, lengan dan beberapa bagian tubuh Cell. Pada akhirnya Herry bisa menangkap pemahaman bahwa tabung kaca itu menyuntikan makanan yang disalurkan melalui selang. Sontak Herry segera berdiri panik.

“Apa begini cara kalian makan?”

“yup.”

“Nggak pakai mulut?”

“Seperti yang kau bilang.”

“Kenapa?”

“Karena bagi kami ini cara makan yang paling efisien. Cairan yang disuntikan dengan alat ini adalah nutrisi makanan murni, mirip tali pusar pada bayi dalam rahim, namun lebih dari itu. Alat ini juga menyediakan beberapa penambahan ataupun penggantian enzim, hormon, dan cairan tubuh lainnya.”

“Persetan dan masa bodo dengan cara makan kalian yang aneh!, gua mau makan makanan yang dimasukin ke mulut. Ada nggak?”

“Ada..., kita bisa pergi ke tempat tinggal Homo Satani. Di sana banyak makanan yang sudah dikembangkan dengan berbagai macam rekayasa genetik dan komponen-komponen kimia yang meningkatkan kelezatan makanan.”

“Ch!..., nggak beres juga kerabat kalian itu... apa bisa ini gua masukan lewat mulut? Kalo bisa gimana caranya?" tanya Herry sambil menunjuk tabung penyimpanan makanan di bangku itu.

“Bisa...” Jawab Cell yang kemudian membantu Herry makan dengan normal.

---
Seusai makan, Cell kembali ke pad teleportasi mengantar Herry yang ingin menggunjungi lebih jauh tempat Homo Satani tinggal. Herry berpikir, jika pemukiman ini baru mencakup satu dari sekian banyak gedung yang ia lihat sebelumnya saat pertama kali tiba di masa depan ini, maka tak terbayangkan bagi Herry banyaknya tempat-tempat lain seperti ini di luar sana. Tempat yang menyerupai neraka yang ironisnya orang- orang terlihat bahagia di tempat ini. Semakin Herry ke tengah pemukiman yang gelap itu, semakin terlihat manusia dalam bentuk yang beraneka ragam.

“Cell..., kenapa bentuk mereka aneh-aneh begini?” tanya Herry.

“Modifikasi organ dan rekayasa genetik.” Jawab Cell yang semakin membuat Herry penasaran.

“Modifikasi..., organ...?, bagaimana modifikasi organ dan rekayasa genetik bisa sampai menghasilkan bentuk aneh kayak gitu?”

“Teknologi kedokteran kami telah mencapai level kemukhtakhiran. Kami kaum scientist yang punya andil mengembangkan teknologi dan aku yakin kau tahu itu.”

“Lalu kenapa mereka melakukan modifikasi organ dan rekayasa genetik?”

“Beragam alasannya, begitu banyak sampai-sampai aku sendiri begitu peduli..., mungkin mereka tidak puas dilahirkan sebagai manusia normal. Tidak puas hanya punya dua tangan, mereka pun tambah sepasang lagi. Tidak puas dengan wajah sendiri, mereka pun memodifikasi wajah mereka. Ingin terbang; mereka pun memasang sayap di pundak mereka. takut mati, dan teknologi kedokteran kami sudah sanggup memperpanjang umur manusia sampai 500 tahun.”

“Itu artinya mereka tidak puas dengan kodrat mereka sendiri. Gila...”

“Mungkin saat ini kamu satu-satunya orang saat ini yang peduli dengan kodrat. Dengan teknologi, mereka bebas melakukan apa saja. Menambah umur, menambah, merubah ataupun memperbesar anggota tubuh, ganti kelamin, apapun itu termasuk..., menghindari kematian.”

“Nah loh!, nambah lagi menghindari kematian..., gimana caranya itu!?.” Herry kaget.

“Dengan mentransfer kesadaran dari satu tubuh ke tubuh lainnya yang biasanya adalah tubuh sintesis.”

Terdiam Herry agak lama, ia pun kemudian tertawa.

“Ada yang lucu?” tanya Cell.

“Oh..., lebih ke arah takjub sih...”

“Takjub?”

“Ya, itu artinya orang orang yang tadi gua liat palanya hampir putus itu bisa ditolong kan? tadi gua liat peristiwa pembunuhan pas masuk ke area pemukiman.”

Cell terdiam. Herry pun melanjutkan:

“Kalo boleh gua tebak, di masa ini kriminalitas semakin marak ya?”

“Tatanan hukum kami berbeda dengan tatanan hukum kalian, tapi memang dibandingkan dengan zamanmu, pembunuhan, penyalahgunaan obat, perbudakan, krisis moral, perang, penindasan, dan apapun yang kau mau sebut itu begitu marak di zaman ini. Anggap saja zaman ini ibarat miniatur dari segala jenis kejahatan yag dirangkum dari sejak abad pertama umat manusia sampai sekarang.”

“Dan kalian bisa mentransfer nyawa dari satu tubuh ke tubuh lainnya, hal itu bagus di masa sekarang di mana orang bisa saja dibunuh di tengah jalan seperti tadi.”

“Begitukah?” Cell menaikan alisnya.

“Yup!, oh..., bahkan lebih keren lagi.”

“Apa Kerennya?”

“Terlepas dari mereka; orang yang menghindari kematian karena takut mati, ada juga orang yang menghindari kematian demi kesempatan kedua demi memperbaiki kesalahannya, iya kan?, atau mereka mengorbankan nyawanya sebagai syuhada kemudian menghindari kematian demi mereka bisa mengorbankan lagi nyawa mereka untuk yang kedua kalinya, bagaimana menurut lo Cell?”

“Jika demikian mereka akan mengorbankan nyawa mereka selama-lamanya.”

“Nggak Cell, gua yakin mentransfer kesadaran nggak selalu berhasil kan?”

Cell terdiam, kemudian Herry melanjutkan:

“Segala yang bernyawa pasti akan mati, dan kalo gua boleh tebak praktik transfer nyawa yang lo maksud itu nggak selalu berhasil, iya kan?, seandainya belum pernah gagal sampai sekarang pun maka gua yakin seenggaknya praktik itu kelak akan gagal pada satu momen kapanpun dan dimanapun itu, jika Allah menghendaki."

“Kami tidak percaya dengan konsep nyawa, jadi kami menyebutnya transfer kesadaran, dan sejujurnya tebakanmu benar, praktik itu memang tidak selalu berhasil, terkadang gagal karena faktor tertentu.”

“Hahaha..., bener kan tebakan gua?” Herry menyilangkan tangannya.

Perjalanan Herry dan Cell sampai di lantai tinggi yang mirip dengan di pemukiman sebelumnya, bedanya pemukiman yang sekarang lebih sepi. Herry mulai merekam pemandangan pemukiman itu. Rumah di pemukiman itu berbentuk balok; berjejer dan berhimpitan satu sama lain. bayangkan melihat sekumpulan balok kayu tercecer di lantai, tidak ada yang menarik kecuali detail-detail yang terselip diantara gang-gang sempit itu yang sejujurnya menurut Herry tidak pantas jika divideokan untuk ditunjukan ke publik. Suasana pun cukup hening di tempat itu.

Mendadak Herry melihat adegan mengerikan untuk yang ke sekian kalinya. Terlihat dari lantai tinggi, kali ini seorang Homo Satani perempuan tengah terikat di tiang dan dikelilingi oleh beberapa orang bersenjata tajam.

"CELL!, ITU CELL!, ITU!"

"Itu apa?"

"ADA YANG MAU DIBUNUH CELL!"

"Kamu mau aku ngapain?"

"EH!, GILA LO YA MAU SEKEDAR NONTON BEGITU AJA ADA YANG MAU DIBUNUH, LO TOLONG LAH DIA!." Rengek Herry, namun Cell diam saja.

Sampai akhirnya perempuan itu telah bermandikan darah. Herry yang tidak sanggup merekam lebih lanjut mulai merasakan pandangannya memburam. ia pun terduduk dalam keadaan banjir keringat dan menatap Cell penuh tanda tanya.

"Kenapa lo diem aja?"

"Karena wanita itu tidak perlu dibantu. kau lihat?..." ujar Cell sambil menunjuk sebuah Drone yang mengangkat perempuan bersimbah darah itu entah kemana.

"Sekarang wanita itu akan dibangkitkan dengan transfer kesadaran. dia akan hidup lagi."

"Dari mana lo tau dia bakal dihidupin lagi?"

"Dari informasi yang aku terima. Sebenarnya wanita itu memang minta dibunuh.”

“Memangnya siapa mereka? apa latar belakang mereka?”

“Mereka para selebriti masokis yang menikmati rasanya sekarat dengan segala rasa sakit dan rasa tersiksanya, saat orang-orang mengikat kedua tangan mereka dan darah terpompa keluar dari tubuh mereka yang semakin dingin, lalu atas keinginan mereka sendiri mereka akan ditransfer ke tubuh baru hanya untuk bisa merasakan momen itu lagi.” Jawab Cell.

“WTF..., hoeeeeek.” Muntah lagi si Herry.

“Hanya memberi tahu saja...”

“Ya..., terima kasih atas pemberitahuannya..., ‘h... sori, gua masih sulit percaya dengan yang gua liat barusan. Lo yakin itu bukan kasus pembunuhan biasa?”

“Kamu lihat wanita itu tertawa, iya kan?”

Herry segera melihat rekamannya. Wajahnya semakin pucat dan keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Bayang-bayang wajah wanita itu pun muncul menghantuinya dengan rangkaian wajah tertawa yang penuh kengerian. Herry menunduk mengatur nafasnya yang semakin tidak terkendali. Cell melanjutkan:

“Faktanya ini bisnis yang lagi booming. Kaum sadist membayar kaum masokis untuk dibunuh, kemudian kaum masokis menghindari kematian mereka dengan transfer kesadaran dengan biaya yang tidak seberapa dibandingkan dengan bayaran yang mereka terima.”

Herry makin tidak berdaya mendengar penjelasan Cell, ia hanya bisa duduk dan mendengarkan.

"Oh! iya..., peristiwa-peristiwa pembunuhan yang kau lihat sebelumnya juga kemungkinan sama, sepanjang kau melihat kebahagiaan terangkai di wajah sekarat mereka."

“Sudah, sudah, cukup, bawa aja gua ke tempat lain.”

“Apa kamu masih penasaran ke arah mana manusia berevolusi?, ingin melihat lebih lanjut?, jika mau aku bisa mengantarmu ke pusat pemukiman.”

Herry menunjukan ekspresi penuh kecurigaan dan berkata:

“Iya sih gua minta dibawa ke tempat lain, tapi jangan lupa keamanan...”

“Tidak perlu merasa takut hanya karena sosok mereka yang vague dan menurutmu mengerikan, mereka masih termasuk manusia kok.”

Ekspresi curiga Herry semakin menjadi-jadi.

>>>
Bagus gan ceritanya walau belum mudeng emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
Quote:


Segala bentuk apresiasi, kritik, saran, baik yang positif maupun negatif begitu berarti bagi ane.
Terima kasih ganemoticon-Jempol
Part 7


Herry dan Cell berjalan lebih lanjut ke pusat pemukiman, namun diluar dugaan Herry yang menyangka pusat pemukiman lebih bermasalah dibandingkan pemukiman pinggiran, pusat pemukiman lebih tenang. Orang-orang juga berkegiatan dengan biasa, berjalan, jaga kios, duduk sambil berbincang-bincang, dll.

"Ini pusat pemukimannya?" Tanya Herry.

"Ya." jawab Cell singkat padat.

"Nggak nyangka, ternyata biasa aja, nggak beda jauh sama daerah PKL liar di deket rumah gua, walau orang-orangnya juga masih aneh sih,."

"Begitu ya?, memang ini adalah daerah yang bisa disamakan dengan daerah wisata kuliner di zamanmu."

Dengan lebaynya Herry kaget, kemudian komentar:

"Di zaman ini masih ada wisata kuliner?, demi apa?"

"..., wisata kuliner, wisata sex, wisata perang, wisata darah, wisata ..." timpal Cell.

"Udahudahudah!, wisata kuliner aja!..., gua nggak mau diajak ke wisata lainnya!, oke bro?"

"Fiiine...., hehehehe." Jawab Cell sambil cekikikan, dan entahlah..., menurut Herry Cell hanya mencoba untuk tertawa demi bisa cocok menemani dirinya dalam tour ini, tapi gagal.

Mereka pun tiba di depan pintu pada sebuah tembok besar dimana seseorang berbadan gemuk yang aneh menyambut keduanya. Pada dasarnya Herry tahu seperti apa penampilan orang gemuk, namun ia bisa membedakan mana yang wajar dan tidak, untuk yang satu ini tidak wajar dan posturnya pun sangat aneh. Dengan bahasa yang terdengar begitu asing, Cell berbincang-bincang dengan orang itu. Kemudian orang itu mempersilahkan keduanya masuk.

Sesampainya di dalam ruangan, Herry melihat orang-orang dengan ukuran yang lebih besar. Mereka duduk di kursi terbang masing masing dengan kegiatan kegiatan tersendiri. Ada yang hanya duduk bengong, ada yang menatap layar monitor, dan ada juga yang di kepalanya terpasang alat mirip VR; mungkin sedang main game tapi entah apa sebenarnya yang ia lakuan.

“Kamu mau makan apa?” tanya Cell.

"Enggak!, gak usah!, gua liat-lita aja."

"Tapi mereka nawarin dan tidak suka jika ditolak." Cell menunjuk seseorang di hadapannya dengan jarinya.

Herry terdiam. ia memperhatikan orang di hadapan Cell dan merasa terintimidasi dengan penampilannya yang ganjil dan seram.

“Apa aja.” jawab Herry

Sesaat kemudian bagian tembok dekat pintu bergeser dan mengeluarkan benda seperti crane yang melayang sambil membawa kotak seukuran kardus televisi layar cembung. Kotak itu pun dibuka dan orang-orang mulai berebut isi dari kotak itu yang ternyata adalah makanan. Herry pun disodorkan sepiring penuh makanan, kemudian ia menoleh ke arah Cell yang telihat bersandar di pojok ruangan.

“Lo nggak ikut makan?” tanya Herry.

“Enggak..., makanan itu nggak sehat, kami nggak bisa makan itu.”

Herry pun mengamati makanan yang didatangkan tadi. Terlihat potongan paha ayam seukuran paha manusia yang aromanya begitu menusuk hidung dan masih berlumur minyak panas. Di sebelahnya potongan-potongan sayur dan saus juga tidak kalah warna warninya dengan pelangi.

Ia melihat disekitarnya orang-orang makan makanan seperti chips, minuman bersoda, minuman keras dan benda mirip gorengan namun tiga kali ukuran normal. Cara mereka memasukan makanan ke dalam mulut mereka mengingatkan Herry dengan sampah yang dimasukan ke dalam truk besar yang sering ia lihat di depan rumah tempat ia kos. Disamping itu juga ia teringat dengan kata-kata Cell tentang makanan Homo Satani yang merupakan hasil rekayasa genetik dan mengandung bahan kimia. ditambah lagi fenomena ini sudah ada di zamannya; tahun 2017. ia pernah dengar tentang perusahaan agrikultur Amerika yang bernama Monsanto yang penuh dengan kontroversi sehingga diprotes oleh banyak kalangan. Apa mungkin teknologi agrikultur pada masa ini adalah warisan dari perusahaan seperti Monsanto?. Ia pun jadi takut memakan daging di hadapannya.

“Jangan-jangan ini ayam hasil rekayasa genetik? Dan sayur yang disajikan ini juga ada bahan kimianya...” pikirnya. Ia pun berdiri dan ikut bersandar di samping Cell.

“Lo lupa ya? kalo mereka Homo Satani sebagaimana yang lo bilang barusan.” tanya Herry.

“Aku ingat.”

“Inget?, berarti lo tau kan mereka makan apa?, makan sampah!, kenapa kok tadi lo masih ngotot nawarin makanan ke gua?, kan gua udah bilang, gua cuma mau liat-liat doang!”

“Maaf.” Respon Cell singkat.

“........., ah!...., bukan perkara yang penting sih, gua udah cukup banyak ngeliat masa depan. Lumayan dapet pengalaman yang unik.” Kata Herry sambil berjalan ke luar.

“Kau mau kemana?” tanya Cell.

“Mau liat-liat.” Ujar Herry yang keluar dan kembali melihat hal-hal yang membosankan di sekitarnya. Ia pun mengalihkan perhatiannya ke atas dan terlihat olehnya beberapa unit drone beterbangan. Salah satu dari mereka hinggap di alat mirip crane yang sebelumnya ia lihat dan pergi setelah mengantarkan pesanannya. Sepertinya drone itu mengantarkan bahan-bahan makanan melihat ukuran kargonya yang besar.

“Sedang melihat atap?” tanya Cell.

“Ya, benda terbang itu..., mereka nganterin barang ya?” Herry penasaran.

“Ya, itu teknologi robotik yang dikembangkan oleh ilmuwan divisi robotik.”

“Oleh kalian Homo Angelus?”

“Ya.”

“Hmm..., kayanya teknologi robotik zaman sekarang udah berkembang pesat ya?"

“Ya, dengan teknologi robotik tidak hanya pekerjaan manusia yang bisa digantikan oleh robot, melainkan juga mentransfer objek melintasi ruang dan waktu; membeli barang, mengirim surat dan paket, mengurus ini dan itu, apapun bisa.”

“jadi mereka nggak perlu banyak bergerak ya?” Herry tersenyum seolah mengejek.

“Seperti yang kau katakan tadi..., ya.”

“Mereka jadi obesitas dong, penyakit jantung dimana-mana...” Herry semakin tersenyum mengejek.

“......, Kau mungkin saja benar, tapi jangan lupa, teknologi kedokteran kami bisa menyembuhkan obesitas dengan teknologi genetik dan bedah, seandainya mereka tidak bisa disembuhkan karena terlalu sering menjalani perawatan maka kami punya teknologi organ artifikal berupa jantung tambahan untuk mendukung jantung yang sudah ada. Dan jika mereka tidak tertolong karena penyakit mereka, kami bisa mentrans...’”

“Gua udah denger itu sebelumnya.”

Cell terdiam. Keduanya pun berjalan meninggalkan gedung itu melihat-lihat suasana kota.

“Oh iya!, ngomong-ngomong bagaimana dengan kehidupan sosial di masyarakat ini?” tanya Herry.

“Pertanyaan yang umum seperti itu membutuhkan jawaban yang tidak sedikit. aku bisa mentarmu ke pusat studi kami; Homo Angelus dan kau bisa lihat sendiri jawabannya."

"Lain waktu aja, untuk sekarang jawab aja sebisa lo."

"Jika memang kau butuh jawaban singkat, pada masa ini kehidupan sosial hampir sepenuhnya terhubung melalui media sosial. Hanya itu garis besar yang bisa aku katakan.”

“Begitu ya?, Orang-orang seperti itu sudah ada di zaman gua..., termasuk gua juga pengguna sosmed, seolah umat manusia memang benar-benar menuju zaman seperti ini.”

“Jika kau kembali ke masa lalu apa kau akan berusaha mencegah agar masa depan seperti ini tidak terjadi?”

“... Mungkin. Biar bagaimanapun juga gua nggak mau anak cucu gua jadi kayak mereka.”

“Bagaimana cara kau mencegahnya?, belum tahu?”

“Nggak usah susah-susah memikirkan hal tersebut. Sejak awal tadi gua udah mulai mendokumentasikan apa yang gua lihat di zaman ini. Gua cukup tunjukin rekaman ini ke orang-orang di zaman gua, dan mereka pun dengan sendirinya akan mencari solusi untuk menghindari masa depan suram ini. Gimana menurut lo Cell, ide gua nggak terdengar mustahil kan?”

“Begitulah...” jawab Cell.

Herry terdiam penasaran, melirik ke arah Cell. Pada titik ini Herry memikirkan tentang apa maksud dari tindak tanduk Cell selama ini, terutama bagaimana kesan Cell terhadap zaman dia sendiri, apakah positif atau negatif?, apakah Cell setuju atau tidak dengannya?, apa Cell punya rencana tersendiri, atau jangan-jangan Cell ingin agar Herry merubah masa depan!, jika demikian maka bisa saja pemikirannya saat ini adalah pesan yang datang dari Cell. Herry pun memilih untuk tidak bertanya; melanjutkan tournya dengan berusaha sebisa mungkin tidak memikirkan yang aneh-aneh, berjalan melewati kegelapan masa depan.

>>>
Diubah oleh thetaliotheta
Part 8


Keesokan harinya, Herry terbangun di kamar gelap itu lagi, walaupun sekarang kamar itu sudah tidak gelap lagi. Ia sebenarnya ingin pulang kembali ke zamannya namun ia menundanya karena penasaran dengan kabar yang kemarin ia dengar dari Cell; diterima baru tadi malam bahwa perang baru saja terjadi. Herry penasaran seperti apa perang di masa depan ini berlangsung. Ia memikirkan tentang laser, robot, dan jetpack sebagaimana yang ia lihat di game-game bertema futuristik yang ia pernah mainkan.

---
“Perasaan kemarin kamu bilang nggak mau diajak ke wisata lainnya, kenapa sekarang malah mau ke wisata perang?” Cell mempertanyakan ketertarikan Herry dengan berita perang tersebut.

“Ya, emang gua kemarin ngomong gitu sih, tapi sekarang beda. Gua mau liat perang... di masa ini.” Jawab Herry mantap.

“Kalo begitu masuklah ke dalam kapsul. Aku akan membawamu ke wisata perang di daerah konflik yang kemarin aku terima kabarnya..”

“Nah!, keren dah kalo gini, tapi...., keamanan dijamin kan?.”

“Iya, tentu saja aman.”

---
Melayang dengan kapsul terbang, Herry sampai di satu titik dimana ia bisa melihat suasana perang melalui layar drone. Perang terjadi di pagi hari menjelang siang, di sebuah pantai luas di sebuah pulau dalam naungan awan hitam. Berbagai macam rongsokan dan bangkai kendaraan alat berat berserakan di sepanjang garis pantai. Terlihat oleh Herry pasukan perang seperti manusia setengah robot yang berbaju besi tengah saling bertukar peluru tanpa taktik dan strategi. Melihat suasana perang yang seperti ini Herry malah ketawa-ketawa sendiri.

“Tertawa saat menonton perang, selera humormu mengherankan.” Komentar Cell.

“Siapa yang nggak ketawa kalo ngeliat perang goblok kaya gini?”

"Perang..., goblok?" Cell mengernyitkan dahinya.

“Hey Cell, para serdadu itu Homo Angelus apa Satani?”

“Homo Satani.”

“Hah!, tepat dugaan gua. Ternyata di masa ini Homo Satani memang nggak sekedar namanya doang; setan, mereka juga mengerjakan perbuatan-perbuatan setan. Pasti mereka orang-orang yang terobsesi dengan perang. Tebakan gua benar kan?”

“.........., mereka mayat.”

Ekspresi wajah Herry berubah total. Ia pun melihat layar lagi, dan memang serdadu-serdadu itu terlihat aneh. Mereka bergerak dengan kaku dan sebagian pincang. suatu keanehan yang seharusnya Herry sadari lebih awal. Cell kemudian berkata:

“Sekedar mengoreksi, di masa ini manusia bisa menalampiaskan semua obsesi, hasrat, nafsu, syahwat, dan segala naluri kebinatangan mereka lainnya terhadap orang-orang di sekitar mereka dengan konsekuensi masing-masing pribadi, namun jika mereka berhalangan dalam melakukan keinginannya, mereka akan menggunakan simulasi otak dan game VR seperti orang dengan helm besar di kepalanya yang kemarin kamu lihat...."

Kemudian Cell menerbangkan kapsul mereka lebih dekat ke area panas. kini Herry bisa melihat suasana perang secara keseluruhan dari kokpit kapsul dan disaat yang bersamaan melihat detail-detail perang melalui layar. Cell pun melanjutkan

"..., tapi membunuh dengan ikut berperang adalah sesuatu yang mutlak semua manusia zaman sekarang berhalangan untuk melakukannya. Mereka terhalang oleh rasa takut mereka akan kematian.”

“.........uh, oke...., apa mereka orang orang yang gagal menghindari kematian? tranfer nyawa yang tidak berhasil?”

“Bukan hanya mereka yang gagal menghindari kematian, melainkan juga mereka yang tidak punya harapan hidup sedikitpun. Biar bagaimanapun juga jangan pikir jasa transfer kesadaran bisa didapatkan secara cuma-cuma. Saat ini hanya sekitar 7,31% saja manusia yang berkemungkinan bisa memakai jasa tersebut, selebihnya adalah mereka yang tidak bisa membayar.”

“Oh..., entahlah..., memanfaatkan mayat manusia sebagai senjata perang menurut gua nggak etis. Kenapa nggak pake robot aja semisal drone yang kemaren gua liat? Kenapa harus memperlakukan mayat manusia seperti itu?”

“Sebagai seorang ilmuwan, aku juga berpikir bahwa pasukan robot lebih hebat dari pasukan cyborg-mayat seperti yang kau lihat ini, namun untuk alasan tertentu pasukan cyborg-mayat lebih ekonomis baik dari segi produksi maupun perawatan sehingga mereka bisa dikerahkan dalam jumlah banyak.”

“......, Terus kenapa mereka nggak dimakamkan aja kayak orang-orang jaman dulu?”

“Tubuh manusia baik yang hidup ataupun mati itu berharga dan bermanfaat dalam berbagai hal, kremasi, mumifikasi ataupun mengubur mayat itu justru mensia-siakan manfaat dari tubuh itu sendiri.”

“Ehehehe..., gua lupa, kalian nggka punya agama.”

Cell sedikit tertawa.

“Kalo menurut kalian mayat orang itu berharga dan bermanfaat, lantas apa yang kalian lakukan terhadap mayat selain dijadiin kayak gini?” tanya Herry.

“Ada banyak pemanfaatan dari mayat manusia untuk kepentingan pengembangan atau penggunaan dari teknologi itu sendiri. Mayat manusia; dalam bidang kedokteran bisa digunakan untuk percobaan medis dan penelitian genetik. Jika ada mayat dengan organ yang masih berfungsi, maka terkadang organ mayat tersebut akan kami panen untuk bisa ditransplantasikan ke orang lain yang lebih membutuhkan, mayat juga bisa digunakan untuk makanan hewan penelitian, dan yang paling umum dalam pemanfaatan mayat adalah untuk digunakan sebagai senjata militer sebagaimana yang kamu lihat saat ini.”

“Tadi lo bilang mayat buat makanan hewan itu maksudnya apa!?”

“Kami menangkar hewan untuk berbagai tujuan. untuk dimakan, atraksi, penelitian, militer, dan lain-lain.”

"Penelitian apa?"

"penelitian medis, genetika, ........., sejujurnya, tidak praktis jika dijabarkan di sini. aku bisa membawamu ke pusat penelitian kami untuk ..."

"Nggak perlu!” bentak Herry.

Wajah Cell tidak berekspresi. Ia tahu Herry dari masa lalu dan pasti bereaksi dengan tidak biasa terhadap kenyataan di masa depan ini. Herry pun melanjutkan:

“Tadi lo bilang penelitian genetik. apa kalian melakukan rekayasa genetik ke binatang?"

"Ya."

"Nah, itu!, apa tujuannya?"

“Penelitian, membuka jalan terhadap hal baru dan terpenuhinya rasa ingin tahu.”

“........., jadi..., cuma buat nyari tau doang?, coba-coba doang gitu?”

“Ya...”

Herry mulai menatap Cell dengan tatapan dingin.

“Aku rasa kau mulai memandang masa depan sebagai sesuatu yang negatif ya?”

Herry menarik pandangannya kemudian sambil tersenyum ia berkata:

“...., hampir...., hampir jika bukan karena perang seperti ini yang memberi gua inspirasi tentang teknologi.”

“Inspirasi apa?”

“Tentang robot, terlepas dari penggunaan mayat, sekarang gua jadi berpikir jika seandainya kedua faksi menggunakan robot dalam menyelesaikan konflik dan permasalahan politik lainnya, maka mungkin korban jiwa akibat peperangan bisa dihindari..., entah kenapa gua pikir itu satu dari segelintir hal bagus dari masa ini yang bisa gua ceritain ke orang-orang di masa lalu.”

“Hehe..., hehehe..., hehehehe...” Cell tertawa dengan wajahnya yang tanpa tertawa pun sudah terlihat aneh, sekarang ia jadi terihat mengerikan.

“Kenapa lo ketawa?” Herry bertanya.

“Maaf, sebenarnya aku ketawa hanya untuk bisa mencairkan suasana, karena aku perhatikan sebelumnya kamu juga beberapa kali tertawa.”

“Kalo ketawa mbok yo yang lucu gitu wajahnya, ini malah serem, lagian apa sih yang lucu!?”

“Tentang pengandaian kamu barusan, itu sesuatu yang sangat ironis.”

“Ironis gimana?”

“Perhatikan jalannya peperangan dan kau akan tahu sendiri.”

---
Herry melanjutkan mengamati jalannya pertempuran. Ini adalah pertempuran antara negara pulau dan negara mainland yang sama-sama berhasrat ingin menguasai satu sama lain. Di mata Herry serdadu yang bertempur lebih mirip robot setengah zombie dari game Resident Evil, namun dengan bentuk dan ukuran yang lebih beraneka ragam. Kedua belah pasukan masih saling serang satu sama lain, namun semakin berlarut-larut peperangan berlangsung semakin Herry melihat adanya momen-momen kritis dalam pertempuran itu. Bom yang meledak jadi lebih meriah dan dampak kerusakan yang ditimbulkan semakin parah saja, sampai akhirnya Herry menyadari sesuatu.

“Oi!, Cell, sebelumnya gua perhatiin pesawat pengangkut pasukan dateng terusdari pasukan negara pulau, tapi kok sekarang jadi nggak dateng lagi ya?”

“Kenapa memangnya?”

“Kenapa?, ya mereka butuh reinforcement, kalo kayak begini mereka bisa kalah lah!”

“Jika kau pikir negara pulau bisa kalah maka negara pulau memang akan kalah.”

“... Serius?, terus kenapa mereka berhenti ngirim pasukan?”

“Dalam pertempuran ini kedua sisi sama-sama mengeluarkan banyak uang untuk membeli, membangun dan mengirim persenjataan perang, termasuk memobilisasi pasukannya, namun apa menurutmu yang akan terjadi jika negara kehabisan uang untuk itu?”

Herry mulai mengerti. Pada akhirnya pasukan negara pulau kalah dan pasukan negara mainland mulai menyerang pemukiman negara pulau. Pada momen itulah Herry tidak menduga akan melihat hal-hal gila itu lagi. Orang-orang penduduk pulau berlarian saat pasukan negara mainlan mengejar dan menangkap mereka. Kemudian mereka diseret dan dibunuh satu persatu yang mayatnya kemudian dimasukan ke dalam container yang diselimuti asap embun seperti es, sementara wanita dan anak-anak dimasukan ke dalam kontainer terpisah tanpa dibunuh.

Semakin pasukan negara mainland merangsek masuk ke jantung kota. Mereka mulai membunuh dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Korban perang diperlakukan seperti mainan menjelang kematian mereka; kematian yang diusahakan berlangsung secara perlahan. Pemerkosaan terjadi dimana-mana. Beberapa warga negara pulau yang tidak bisa bergerak karena tubuh mereka yang besar dibunuh dengan cara yang tidak kalah kreatif, yaitu dengan dilepaskan beberapa ekor monster hasil hybrid dan rekayasa genetik yang sedikit demi sedikit memakan tubuh warga negara pulau tersebut sampai mati. Potongan tubuh bergelimpangan di mana-mana, mayat tergantung, tersula seakan dijadikan sebagai monumen kemenangan, jeritan dan tangisan pun menggema di sepenjuru pulau, saling bersahutan seperti gambaran Herry tentang siksa kubur.

Tidak tahan dengan adegan sadis di layar monitor kapsul Cell, Herry mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terlihat olehnya kapsul lain di sekitar kapsul Cell datang bergerombol mengamati jalannya pertempuran. Orang-orang di dalam kapsul-kapsul itu begitu bermangat dan bersorak atas apa yang mereka tonton. atas adegan sadis yang mewarnai peperangan ini.

“Mmmh..., Cell..., Mereka ini kan mayat ya?, tapi kenapa mereka bisa melakukan hal-hal seperti itu? Bahkan ada yang tertawa saat membunuh dan memperkosa, lo yakin mereka udah mati?” tanya Herry.

“Aku rasa meskipun mereka sudah mati, namun otak mereka masih memproses informasi dan memori saat mereka masih hidup. Biar bagaimanapun juga otak mereka terintegrasi dengan sistem komputer cyborg.”

“Apa pasukan-pasukan ini hasil penelitian kalian kaum ilmuwan?”

“Ya.”

“Apa kaum ilmuwan tidak merasa bersalah menciptakan hal mengerikan seperti ini?”

“Apa maksudmu? Bukan kami yang mengirim pasukan ke medan pertempuran.”

“Tapi kalian punya andil kan?!”

“Jika kamu kembali hendak menilai sesuatu di zaman ini dengan parameter agama, maka kami tidak peduli, bukan kami yang mengirim pasukan ke medan pertempuran. Bahkan aku sendiri pun bukan peneliti mayat.” jawab Cell.

Herry terdiam agak lama. ia pun kembali mengikuti jalannya pertempuran yang kini sudah berubah jadi pembantaian. entah kenapa ia tidak lagi merasa mual melihat adegan-adegan seperti ini. Ditengah-tengah pandangannya fokus ke layar monitor, Herry berkata:

“Jujur, sebenarnya bagus juga gua ketemu orang kayak lo Cell. Ketidak percayaan kalian terhadap Tuhan merupakan contoh yang luar biasa buat gua ceritain ke orang-orang di masa lalu. orang-orang masa lalu akan belajar banyak...”

“Sudah kubilang sebelumnya; kami percaya dengan Tuhan.”

“Ya tapi kalian tidak percaya dengan agama, buat gua itu sama aja.” Herry menoleh dan menatap Cell, berusaha menahan ekspresi di wajahnya.

"Terserah deh..." komentar Cell singkat.

Herry pun menghela napas dan berkata:

“Gua rasa udah cukup tour gua di masa ini, balikin gua ke 2017!”

“Baiklah, tapi ada satu hal yang ingin kami katakan ke kamu.”

“Apa?”

“Tentang alasan mengapa kami mengajakmu ke masa ini, apa menurutmu alasan kami?”

“Hmmm, lo tau tentang pertanyaan gua terhadap evolusi manusia, apa tentang itu?”

“Yup, dan apa kau tahu tentang pertanyaan pemimpin kami tentang agama? Kita berdua punya pertanyaan yang kita juga bisa saling bertukar jawaban atas pertanyan tersebut.”

“Kalo pemimpin kalian punya pertanyaan tentang agama, kenapa nanyanya ke gua?, kenapa nggak ustad atau kyai?”

“Kami memang sengaja menghindari membawa manusia dari generasi tua ataupun orang yang tidak netral.”

“......... Tidak netral?”

“Ya, tokoh agama tidak netral dan cenderung terikat pada budaya tradisional; menghindari perubahan dan reformasi. Orang seperti kamu cenderung kebalikannya. Lagipula kebanyakan tokoh agama tidak tertarik dengan evolusi.”

“Tidak masalah lo sebut gua netral, tapi gua mempraktikkan agama gua.”

“Ya, tapi kamu tidak sekedar ikut-ikutan. Kamu punya prinsip, standar logika, dan intrepertasi tersendiri tentang agama yang kau anut. Sama seperti anak muda pada umumnya. Itu sikap yang bagus; bersikap kritis dalam beragama, walaupun sikap seperti itu juga menjadikan dirimu kurang religius karena ada beberapa dalam agama yang tidak sesuai dengan prinsip dan standar logika kamu. Bahkan terkadang kamu masih melakukan hal yang dilarang dalam agama.”

Herry merasa risih dikomentari seperti itu. wajahnya menunjukan ekspresi terganggu. Herry pun berkata.

“Kalo masalah itu gua cuma belum cukup bijaksana aja dalam bersikap.”

“Mengapa tidak memilih untuk bijaksana?”

“Terkadang kebijaksanaan didapat dari banyaknya pengalaman hidup. Gua sedikit pengalaman hidup, jadi gua masih...., yah..., cenderung mengambil tindakan yang bodoh.”

“Menurutku manusia seusiamu memang wajar demikian.” Ujar Cell.

“Memang wajar, tapi bukan berarti itu hal yang bagus!” Herry menegaskan.

“Menurut kami itu bagus.”

“Tidak!, yang terpenting adalah seimbang, boleh saja kita berpikir kritis, tapi kita tetap harus mendengarkan nasehat orang yang lebih bijaksana agar terhindar dari perbuatan bodoh!.”

“Kapan terakhir kali kau mendengarkan nasehat orang yang bijaksana, Herry?”

"Lupa." jawab Herry, namun sebenarnya ia ingat dan Cell bisa mengetahui itu. mungkin itu hanya nasehat singkat seorang ibu kepada anaknya. Belajar yang rajin, pola makan dijaga, ibadah yang rutin, nasehat yang terlalu sering diulang-ulang sampai-sampai Herry pun tidak lagi peka terhadap nasehat tersebut.

“Herry, di zaman kamu berasal aku melihat banyak orang yang bangga dengan agama, namun mereka gagal dalam menyempurnakan agama mereka. Semua itu karena mereka punya prinsip dan standar logika tersendiri dan mereka memilih untuk mengabaikan beberapa hal dalam agama yang tidak sesuai dengan prinsip dan standar logika mereka. yang ingin aku tanyakan adalah, apa kau merasa sebagai bagian dari orang-orang itu?"

"Mungkin iya..., sebagai manusia gua nggak sempurna. Terkadang masih mengedepankan logika naif, terkadang masih terbuai bisikan setan, terkadang masih berusaha untuk mendengarkan hati nurani. Susah jadi manusia..."

Herry terdiam, Cell pun menerbangkan kapsulnya meninggalkan area perang.

“Jadi... Cell, kapan gua bisa kembali ke tahun 2017? Pertanyaan apa yang kalian mau tanyain ke gua?; mahasiswa biasa yang nggak pinter-pinter banget ini.”

“Kau akan aku pulangkan besok, setelah bertemu dengan pemimpin kami.”

>>>
Part 9


Sejak kemarin Herry merasa risih dan bingung dengan anggapan Cell bahwa dirinya memiliki prinsip dan standar logika tersendiri dalam beragama. Apa maksudnya? ia tidak mau tahu jawabannya. jika perlu ia pulang saat itu juga meninggalkan tempat ini. Ia pun melangkah keluar kamar, berharap menemukan petunjuk untuk mengirimnya kembali ke 2017. Terlihat olehnya tempat ini masih sunyi dan sepi. Tidak menmukan apapun yang membantu, ia pun menunggu dan berharap Cell segera datang.

Dengan sendirinya Herry menyadari seseorang yang terlihat seperti manusia normal memperhatikannya dari jauh. Manusia normal!. ia pun berdiri dan mendekati orang tersebut, namun orang itu lenyap ditelan kegelapan gang kecil tempat orang tersebut berdiri. Herry pun mengejar sampai ke gang kecil itu. senternya dinyalakan, namun bukan hanya Herry kehilangan jejaknya, namun orang tersebut sudah berpindah ke ujung gang tersebut yang merupakan sisi lain barisan gedung saat ini ia berada di dekatnya. Herry kembali mengejar.

DI sisi lain barisan gedung, ia telah sepenuhnya hilang arah. bahkan saat ia meneusuri gang itu lagi, suasana sudah berbeda dengan sebelumnya. Panik, ia pun terduduk di sampaing jalan masuk gang tersebut, menunggu kedatangan Cell. Waktu berlalu lama sekali, Herry mulai mengalami tekanan sepi. Ia hampir saja menangis karena dibayang-bayangi wajah keluarganya, teman-temannya, dan tetangga kos lainnya, ia rindu ingin segera pulang.

Beberapa lama kemudian suara langkah kaki terdengar dari gang yang sebelumnya ia masuki. apa itu Cell?. Herry sempat berharap sekecil apapun harapan itu. ia segera bangkit dan menyambut Cell, namun betapa kagetnya Herry saat menyadari orang yang datang bukan Cell, melainkan seseorang yang muncul dengan menenteng benda seperti pisau cukur berukuran besar yang berlumuran darah. Orang itu menoleh kearah Herry dan tersenyum.

Sontak Herry berlari seperti kesetanan. Di tengah-tengah berlari ia menoleh ke belakang dan melihat orang tersebut mengejarnya dengan sangat bersemangat. Dengan nafas tersengal-sengal ia segera masuk ke salah satu pintu. Pintu apa?, masa bodo, yang penting sekarang dirinya aman dari orang seperti maniak yang saat ini menggedor-gedor pintu tempat ia sembunyi itu.

Setelah memastikan pintu terkunci, Herry pun berkeliling ruangan gelap itu .Tanpa sengaja ia menekan beberapa tombol di dinding yang kemudian menyalakan lampu di ruangan itu. Ia pun merasakan ruangan itu terangkat ke atas seperti lift, atau mungkin mungkin itu memang lift. Herry pun keluar ruangan; kini ia berada di atap gedung, terpaku menatap langit hitam yang ternyata adalah sekumpulan asap pekat.

“Sedang apa?” tanya Cell berdiri di atap gedung mengagetkan Herry.

“Menatap langit..., nggak nyangka baru sekedar berdiri di sini rasanya kayak knalpot mobil di depan muka...”

“Industri, perang, dan api yang dihaslkan diantara keduanya adalah penyebab munculnya asap itu. Ngomong-ngomong bagaimana?, apa kau siap bertemu dengan pemimpin kami?”

Herry terdiam sejenak, kemudian ia mengusap keringat di wajahnya dan dengan sedikit tersenyum ia berkata:

“Kalo gua boleh saranin, pulangin gua sekarang juga ke 2017, nanti gua tunjukin orang lain dari 2017 yang lebih cocok buat menjawab pertanyaan kalian tentang agama. Gimana?”

“Apa kau tahu kualifikasi yang membawamu sampai ke sini?” tanya balik Cell.

“Iya, iya tahu. Sekarang gua mau pulang, gua harus gimana?”

“kamarmu itu sebenarnya hanya replika saja yang aslinya adalah mesin waktu. Jika kamu mau pulang, masuk saja ke dalamnya dan aku akan mengaktifkan mesin waktu itu dan mengirimmu kembali ke kamarmu yang asli di tahun 2017.”

Herry pun masuk ke dalam lift dan mencoba turun ke lantai dasar menekan beberapa tombol yang ia tidak mengerti, namun saat pintu terbuka ia sampai di ruangan berisi sekelompok orang tengah mabuk-mabukan. Orang-orang memperhatikan Herry yang panik hendak menutup lagi pintu lift untuk menuju lantai dasar yang semestinya, namun memang sepertinya lift dalam ruangan tersebut tidak sekedar bergerak naik dan turun. Semakin bingung Herry saat dihadapkan dengan tombol-tombol di dinding yang begitu asing baginya, ia pun asal pencet yang justru malah membawanya kembali ke atap gedung; bertemu dengan Cell.

“Maaf mengecewakanmu Herry, tapi pemimpin kami baru saja menghubungiku, ia tidak mau bertemu dengan orang lain selain kamu.”

“Hhh..., terserah..., kalo dia mau ketemu sama gua cepet lah, nggak perlu lama-lama.”

“Mau makan dulu?”

“Nggak usah!, langsung aja ke sana.”

“...”

---
Kapsul mereka pun terbang ke sebuah gedung mencakar langit yang paling mencolok dengan diameternya yang hampir 0,75 Km. Tingginya menembus atmosfir bumi. Herry dan Cell masuk ke hangar di salah satu sisi gedung super besar itu. Saat keluar kapsul; Herry melihat banyak orang dengan kepala yang besar seperti Cell. Homo Angelus.

“Cell, antara Satani dengan Angelus banyakan siapa?” tanya Herry

“Satani, jumlah mereka mencapai 88,23% dari total populasi.” Jawab Cell.

“Lantas siapa yang memberi kalian nama itu?, kalian tau nggak arti dari nama itu? kalo tau lantas apa Homo Angelus udah merasa punya sifat yang sesuai untuk menyandang nama itu?”

Cell menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Herry dan menatapnya agak lama; membuat Herry nervous, kemudian ia berkata:

“Apa hanya itu pertanyaanya?”

“Untuk sekarang hanya itu pertanyaan gua.”

“Untuk sekarang..., heh..., hehehe... apa tujuan pertanyaan itu karena dorongan rasa ingin tahu atau kau hanya sekedar ingin bertanya saja?”

“Rasa ingin tahu.”

“Begitukah?..., masalahnya aku sendiri tidak tahu siapa yang mencetuskan dua nama itu. Kami pun tahu apa itu setan dan malaikat. Apa kami dan mereka merasa sudah punya sifat yang sesuai dengan nama itu pun tergantung definisi kalian terhadap Setan dan Malaikat. Kami memandang keduanya hanya sebagai mitos belaka. Dengan kata lain kalian yang menilainya dan kami pun tidak peduli. Apa lagi yang kau ingin tanyakan?”

“Kalo nggak ada?”

“Kita lanjutkan berjalan.”

“Kh..., bertanya ada pertanyaan lagi atau enggak..., pertanyaan aneh...” Herry pun berlalu diikuti Cell yang menyusul, mendahului dan kembali memandu jalan..

Keduanya berjalan melewati kesibukan hangar, melewati beberapa kendaraan menyerupai pesawat dan mobil dari berbagai bentuk dan ukuran. Mereka terus melangkah masuk ke sebuah lorong dan terus sampai di sebuah ruangan yang segalanya serba putih. Di tengah-tengah ruangan tersebut terlihat seorang gadis berambut hitam panjang dan berbaju putih-putih berdiri di sebuah pad yang menyala. Harry memperhatikan lebih lanjut gadis itu mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, kok proporsi tubuhnya normal?, loh, justru bagus dong jika pada akhirnya ia bisa bertemu dengan manusia normal yang sama dengan manusia 2017. Tapi bicara tentang manusia normal, Herry pun teringat dengan orang yang ia lihat tadi pagi.

“Herryansyah Rahadi..., selamat datang di tahun XXXX. Nama saya Lumen. Kami sudah menanti kedatanganmu.”

“..., iya, saya kira mbak Kunt..., eh..., maaf, senang bertemu dengan anda. Saya panggil mbak ya?” Herry salah tingkah..

Lumen tidak merespon.

“........., nggak mau dipanggil mbak ya?” tanya Herry lagi.

“Terserah..., mari kita langsung ke intinya. Ada banyak hal di masa lalu yang ingin kami tanyakan ke kamu, silahkan... anggap rumah sendiri.” Ujar Lumen

Dua buah sofa putih dan meja kecil pun bergeser dengan halus ke dekat Herry dan Cell. Keduanya pun duduk diikuti sebuah drone yang meletakan secangkir minuman seperti kopi; atau mungkin benar-benar kopi.

“Ada satu atau dua hal yang ingin aku tanyakan ke kamu.” Ujar Lumen.

“Oh! Mari, silahkan, tanyakan saja.” Herry mempersilahkan.

“Menurutmu apa itu Tuhan?”

“Penguasa alam semesta, yang tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakan. Dan dia...”

“Siapa Tuhamu?”

“Eits...!, tadi aku belum selesai jawab.”

“Kau sudah menjawabnya, jawab saja pertanyaan nomor dua.”

“...... Allah..., Tuhan saya Allah SWT.”

Sejenak hening. Ini keheningan yang sama dengan saat Herry baru tiba di masa ini. Merasa canggung dipandangi Lumen; Herry menyeruput kopinya sambil sesekali memperhatikan interior ruangan putih tersebut, serba putih, sejuk, dan nyaman. Sesaat kemudian Lumen berkata:

“Terima kasih atas jawabannya.”

Herry menyembur kopinya; tidak menyangka bahwa satu atau dua pertanyaan yang Lumen katakan barusan memang hanya sekadar dua pertanyaan semata. Lumen melanjutkan:

“... sekarang kamu bebas dalam otoritas dan lindungan kami atau jika seandainya kau ingin kembali ke zamanmu.”

“Eh, tunggu, ini serius cuma itu doang pertanyaannya? Nggak sekalian nanya siapa nabimu, apa kitab sucimu, dan lain-lain.” Herry berusaha lucu tapi gagal.

“Aku tidak akan menganggap itu pertanyaan aneh.” Ujar Cell membuat Herry sebal.

“Kami hanya butuh kamu menjawab pertanyaan itu saja, untuk pertanyaan-pertanyaan kami lainnya sudah terjawab melalui pemindaian pancaran gelombang otak dan hasil analisa sinyal bawah sadar yang baru saja kami lakukan. Terima kasih atas kerjasamanya.”

“..., oke, sama-sama, tapi apa maksudnya? Apa tujuan kalian melakukan pemindaian itu?”

“Kami hanya ingin lebih tahu tentang leluhur kami, karena kami adalah pemimpin dunia ini, dan kami akan mengatur dunia.”

“Ehehe..., tapi kayaknya mbak..., eh, anda mirip dengan orang dari zaman saya. Anda dari masa lalu juga ya?”

“Kau salah, yang berdiri di hadapanmu saat ini hanya hologram, bukan manusia.”

“Ah, yang benar?”

“Ya, aku adalah mesin yang diciptakan manusia di masa lalu sebagai pemimpin di masa ini. Yang saat ini berdiri di hadapanmu hanya hologram.”

Herry mulai merasa tidak nyaman. Ia berdiri dan mendekati Lumen. dari dekat Lumen memang terlihat tembus pandang dan sedikit bercahaya. Herry pun bertanya:

“......... Apa alasannya? Kenapa orang di masa lalu melakukan hal tersebut?”

“Alasan mereka adalah karena mereka tidak percaya dengan Tuhan sebagai hierarki tertinggi kepemimpinan dan tidak mau juga mempercayakan kepemimpinan mereka pada manusia. Karena itu mereka menciptakan aku; kecerdasan buatan dengan algoritma kompleks sebagai protokol tatanan dunia, sebagai kedaulatan tertinggi. Sebuah sistem yang adil, solid, dan universal.”

“..., tadi kamu bilang siapa yang menciptakan kamu?”

“Kalian.”

“Entah benar atau tidak orang-orang di zamanku atau bukan yang menciptakan kamu, tapi yang jelas orang-orang di zamanku percaya dengan Tuhan. Walaupun..., memang ada atheis sih, tapi kaum atheis di zamanku tidak punya pengaruh signifikan dalam........., perkembangan zaman.”

"Itu artinya kau hanya belum menyadarinya saja Herry, bahwa orang-orang semakin meninggalkan agama. Percaya kalian akan agama hanya di mulut dan ego saja, pikiran kalian tidak begitu mempercayai Tuhan berikut segala atribut-atribut-Nya. Sebagaimana pencipta kami yang tidak percaya Tuhan, kami pun tidak menemukan Tuhan dalam basis data kami.”

“Ya jelas kalian nggak akan mengerti Tuhan karena Tuhan itu terlepas dari ruang dan waktu! logika manusia nggak akan sampai ke sana!”

“Jika logika kalian sendiri tidak bisa menjangkaunya kenapa kalian percaya?”

“Karena kami manusia punya hati nurani untuk bisa merasakan keberadaan Tuhan secara tulus!, Lagipula aku kan cuma jawab dua pertanyaan itu aja, kenapa mengambil kesimpulan sampai sejauh itu?”

“Rasa cinta Kalian terhadap konsep tanpa kejelasan itu tidak lebih dari sekedar impuls syaraf yang mengendalikan tindakan kalian, dan juga sikap kalian menanggapi sesuatu. Kebiasaan yang berkembang dan beradaptasi sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup seiring evolusi kalian manusia. Kenapa kalian percaya dengan agama?, itu karena kalian merasa tidak berdaya dan menyadari bahwa tidak ada yang bisa menolong kalian sehingga kalian memunculkan imajinasi tentang pertolongan Tuhan, tapi sebenarnya tidak ada pertolongan kecuali datang dari manusia itu sendiri. Imajinasi kalian tidak nyata, Tuhan juga tidak nyata, dan jika seseorang memaksa untuk percaya dengan Tuhan, maka tidakkah aku mendekati kriteria tersebut?, Herry?”

Suasana pun hening.

>>>
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di