alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Menakar kinerja mesin partai saat Pilkada 2018
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b3f92f59e74048c498b458d/menakar-kinerja-mesin-partai-saat-pilkada-2018

Menakar kinerja mesin partai saat Pilkada 2018

Menakar kinerja mesin partai saat Pilkada 2018
Ganjar Pranowo dan Taj Yasin dipanggul para pendukungnya saat merayakan keunggulan dalam hitung cepat Pilkada Jateng 2018 di Kantor DPD PDI P Jateng, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (27/6). Ganjar adalah salah satu kemenangan PDI P yang menunjukkan konsistensi kemenangan pemilihan legislatif dan Pilkada.
Kemenangan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin dalam Pilkada di Jawa Tengah yang digelar Rabu (27/6/2018) justru membuat mata pengamat makin lebar melihat peran PDIP. Sebab, sebagai "kandang Banteng", perolehan suara Ganjar di Jawa Tengah diprediksi sangat dominan. Faktanya, cukup jauh dari harapan.

Hasil survei Litbang Kompas pada 10-15 Mei 2018, menunjukkan Ganjar-Yasin akan unggul dengan persentase suara 76,6 persen. Lawannya, Sudirman Said-Ida Fauziyah ditaksir hanya akan mengantongi 15 persen suara.

SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) dari surveinya 21-29 Mei 2018 memprediksi Ganjar-Yasin akan meraup suara 70,1 persen, unggul dari Sudirman Ida yang elektabilitasnya hanya 22,60 persen.

Sedangkan survei Indo Barometer yang digelar antara 7-13 Juni 2018 menyebut 67,3 persen suara akan bermuara pada pasangan Ganjar-Yasin. Lawannya hanya kebagian 21,1 persen.

Tapi hasil hitung cepat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah menunjukkan lain.

Suara yang diraup Ganjar di bawah taksiran 3 lembaga survei itu. Ganjar hanya meraih 10,28 juta suara atau 58,8 persen. Sedangkan Sudirman memperoleh 7,2 juta suara atau 41,2 persen. Meskipun, hasil hitung cepat ini memang tak final sifatnya.

Kemenangan tak sesuai harapan ini menjadi alarm buat PDIP, yang menguasai 31 dari 100 kursi DPRD Jawa Tengah dalam Pemilu Legislatif 2014. Modal besar saat pileg, tak boleh membuat partai terlena.

Kemenangan saat Pemilihan Umum Legislatif, tak menjamin partai politik bisa memenangi Pilkada. Menurut data yang diolah Lokadata Beritagar.id, hanya dua partai yang sukses dalam 3 pemilihan sekaligus: Pemilihan Legislatif DPR, Pemilihan Legislatif DPRD, dan Pemilihan Gubernur.

PDIP konsisten menang di tiga provinsi: Jawa Tengah, Bali, dan Maluku. Sedangkan Partai Golkar, menang di Sumatra Utara. Padahal, dari 17 provinsi peserta Pilkada 2018, PDIP berkuasa di 6 provinsi, dan Golkar menang di 8 provinsi saat Pileg 2014.

Dalam Pilkada 2018, paslon gubernur/wakil gubernur yang diusung Golkar dan koalisinya kalah di Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Adapun PDIP atau koalisinya gagal di Jawa Barat, Lampung, dan Sumatera Selatan.

Nasdem terhitung paling jitu dalam mengusung kandidat. Usungannya bersama koalisi kemungkinan berjaya di 10 daerah pemilihan gubernur, meski saat Pileg 2014 tak mampu mendominasi satupun dari 17 provinsi peserta pilkada tahun ini.
Menakar kinerja mesin partai saat Pilkada 2018
Grafik konsistensi kemenangan partai politik dalam Pileg dan Pilkada.
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa-Sumatera-Bali DPP Partai Golkar, Nusron Wahid, menilai hal itu biasa. "Kan pilihannya beda. Pilkada kan yang dipilih figur (bukan partai)," ujarnya Jumat (6/7/2018) lewat pesan instan WhatsApp.

Menurut Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes, tak konsistennya pilihan pemilih itu disebabkan oleh banyak faktor.

Pertama, perbedaan cara penghitungan suara. Dalam pemilihan legislatif 2014, perolehan kursi partai dihitung melalui pembagian suara dengan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Pemilih pun bisa mencoblos nama caleg, atau parpolnya.

Sedangkan dalam pemilihan kepala daerah, jumlah suara yang didapatkan langsung direkapitulasi sebagai hasil akhir yang menentukan kemenangan si pasangan calon. Fokus saat pencoblosan pada figur kandidat, karena lazimnya di beberapa daerah surat suara tak menampilkan parpol pengusung.

"Pileg itu hasil kerja banyak calon legislatif alias kerja kolektif. Sedangkan Pilgub, bergantung pada figur yang diusung," kata dia kepada Beritagar.id, Jumat (6/7).

Figur yang diusung partai politik atau koalisinya dalam pilkada memang berperan. Misalnya figur yang diusung tak populer. Atau saat partai politik mengusung calon petahana yang kinerjanya kurang baik; siap-siaplah pemilih beralih.

Namun, mengandalkan popularitas saja, bukan jaminan. Dodi Reza Alex dan Puti Soekarnoputri adalah contohnya. Dodi maju jadi calon Gubernur Sumatra Selatan. Sedangkan Puti maju menjadi calon Wakil Gubernur Jawa Timur.

Dodi adalah anak dari Alex Noerdin Gubernur Sumatra Selatan. Sedangkan Puti adalah keponakan dari Megawati Soekarnoputri. Keduanya sama-sama kalah. Bahkan memiliki relasi dekat dengan dinasti penguasa tak menjamin mampu memobilisasi pemilih.

Selain soal popularitas, figur cagub maupun cawagub harus mampu mendayagunakan mesin partai. Arya mencontohkan kegagalan Golkar di Riau dan Sulawesi Selatan, dua provinsi yang menjadi basis suara "partai kuning" itu saat pileg.

"Mungkin calon yang dipilih Golkar nggak bisa memaksimalkan dukungan dari Golkar, sehingga pemilih shifting (beralih)" kata dia. Alhasil, pilgub Riau kemungkinan besar dimenangkan paslon usungan PAN, PKS, dan Nasdem. Di Sulsel, calon pemenangnya adalah kandidat usungan PDIP, PAN, dan PKS.

Dominasi partai di DPR atau di DPRD harus diimbangi dengan rekrutmen calon kepala daerah yang berkualitas. Partai pun harus memperhatikan aspirasi pemilih. Arya menilai, kasus ini terjadi di Jawa Barat pada PDIP.

PDIP mengusung TB Hasanuddin dan Anton Charliyan sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur. Walau daerah itu jadi lumbung suara PDIP, jagoan mereka keok di peringkat terakhir dari empat kandidat. Padahal targetnya meraup 7,3 juta suara.

"Jika di basis suaranya partai malah kalah, mereka butuh perubahan," ujar Arya. "Dengarkan suara pemilih agar tak beralih. Mungkin mereka (partai) nggak melihat aspirasi pemilih," imbuhnya.

Dalam analisis singkat Pusat Kajian Politik (Puskapol), FISIP, Universitas Indonesia (UI), figur paslon dan kinerja mesin partai atau relawan memengaruhi mobilisasi pemilih. Sudrajat-Syaikhu misalnya, menjungkalkan lembaga survei meski tak menang.

"Perolehan suara pasangan Sudrajat-Syaikhu di Jawa Barat menunjukkan bahwa mesin partai bekerja. Pasangan ini memiliki mesin partai yang militan dan solid, sehingga meraih suara yang signifikan," tulis Direktur Puskapol UI, Aditya Perdana.
Menakar kinerja mesin partai saat Pilkada 2018


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...t-pilkada-2018

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Menakar kinerja mesin partai saat Pilkada 2018 Berharap Gunung Agung tak ganggu agenda tahunan IMF-Bank Dunia

- Menakar kinerja mesin partai saat Pilkada 2018 Layanan izin online terintegrasi terkendala masa transisi

- Menakar kinerja mesin partai saat Pilkada 2018 Sektor Keuangan memerah, biang pelemahan IHSG hari ini



×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di