alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Penghayat Kepercayaan di Brebes Desak Pemerintah Kabupaten Bangun TPU
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b3f5c2c582b2e053b8b4586/penghayat-kepercayaan-di-brebes-desak-pemerintah-kabupaten-bangun-tpu

Penghayat Kepercayaan di Brebes Desak Pemerintah Kabupaten Bangun TPU

Penghayat Kepercayaan di Brebes Desak Pemerintah Kabupaten Bangun TPU

Penghayat Kepercayaan di Brebes Desak Pemerintah Kabupaten Bangun TPU

 Penghayat Kepercayaan di Brebes Desak Pemerintah Kabupaten Bangun TPU

Pendamping dari LPPSLH memaparkan tentang kebutuhan TPU dan regulasinya. (foto: Yunar Rahmawan )

BREBES - Penghayat kepercayaan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes menerbitkan peraturan terkait Tempat Pemakaman Umum (TPU). Mereka mengaku kerap kesulitan untuk memakamkan jenazah penghayat kepercayaan, bahkan mendapat penolakan dari pihak tertentu.

Bersama Lembaga Penelitian, Pengembangan Sumberdaya, dan Lingkungan Hidup (LPPSLH), para penghayat kepercayaan melakukan banyak audiensi dan pendataan sejumlah makam yang diklaim sebagai makam umum, namun hanya diperbolehkan untuk jenazah dari agama tertentu.

Pendamping LPPSLH, Muhajir, menyebut sekitar 90 persen dari TPU yang sudah dilakukan pendataan merupakan tanah wakaf. Ia mengatakan, pemerintah harus segera membuat regulasi tentang TPU untuk memberi pelayanan terhadap semua warga tanpa terkecuali.

"Ini sangat mengejutkan, karena mayoritas belum bersertifikat. Ini adalah tugas Pemkab untuk memberikan peraturan tentang TPU, sehingga semua warga bisa menggunakannya," jelasnya, Jumat (6/7).

Kabid Permukiman dan Pertanahan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinperwaskim) Brebes, Nurul Hidayat, mengakui persoalan itu termasuk tugas pokok dan fungsi kedinasannya.

Kemudian, ia pun menyampaikan terima kasih kepada LPPSLH atas pendataan tersebut dan mendukung langkah pembuatan regulasi terkait TPU.

"Kami apresiasi LPPSLH sudah melakukan pendataan TPU. Selama ini Pemkab Brebes memang belum mempunyai TPU. Kebanyakan makam yang ada di Brebes adalah tanah wakaf yang biasanya disertai pesan khusus untuk salah satu agama," jelas Nurul.

"Memang benar, yang utama saat ini adalah regulasinya dulu. Jadi ada payung hukum, sehingga ada Perda tentang TPU."

Dari pertemuan tersebut, kata Nurul, pihaknya akan membicarakan dan merumuskan regulasinya. Sehingga bisa diteruskan menjadi kegiatan penyusunan Perda.

"Pemakaman memang tugas kami, tapi bagian aset ada sendiri pada Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Untuk itu, harus ada regulasi perdanya," ucapnya.

Sementara itu, sejarawan Brebes Wijanarto yang hadir dalam pertemuan itu mengungkapkan, banyak warga non-muslim di Brebes yang harus memakamkan jenazah sanak saudaranya di luar Brebes. Hal itu dikarenakan banyak pemakaman non-muslim yang digusur menjadi pemukiman.

"Dulu masih banyak pemakaman nonmuslim, seperti Bong (makam) China yang sekarang hampir hilang karena menjadi pemukiman warga. Karena mereka menggunakan itu dengan sewa tanah," kata Wijanarto.

"Kita bisa lihat di Losari dan Klampok itu dari peranakan Tionghoa dan banyak dari kaum muslim yang mendirikan tempat pemakaman."

Menurutnya, area pemakaman yang ada selama ini dibangun oleh komunitas dan yayasan tertentu. Para penghayat kepercayaan, LPPSLH, dan Brebes berharap pertemuan itu menjadi awal Pemkab Brebes mendirikan TPU yang bisa digunakan semua warga dari agama dan kepercayaan apapun. (*)


Reporter: Yunar Rahmawan

Editor: Muhammad Abduh

https://m.kumparan.com/panturapost/p...31110790540098

Semoga aja bisa diperhatikan pemerintah
Urutan Terlama

Oooohhh begini toh cara kerja gubernur jateng, jangan diskriminatif gitu dong walaupun mereka pengahayat kepercayaan tapi mereka bagian dari indonesia dan mereka punya hak untuk pelayanan pemerintah dalam hal apapun termasuk dalam hal pemakaman
Kremasi aja kali nanti pun makam tu ujungnya cuman jadi semak belukar emoticon-Traveller
Quote:


ndoro pun bela tapir asal nyerang pemerintah emoticon-Big Grin



/S
Diubah oleh Riz2T
Quote:


Quote:


halah sudah jelas2 judulnya tanah wakaf, wajar kalo hanya khusus menerima jenazah orang islam.

wakaf ntu ibadahnya orang islam. orang di luar islam gak usah nuntut pengen manfaatin. kagak berhak.

minta saja ntu orang2 dari penghayat buat nyumbang tanah untuk pemakaman khusus penghayat.
Diubah oleh Veruzax
Pemuda Buddhis Temanggung Terus Bergerak, Kali Ini ke Gunungpayung

Ngasiran | Jumat, 8 Juli 2016 4.47 AM News

Penghayat Kepercayaan di Brebes Desak Pemerintah Kabupaten Bangun TPU

Ngasiran

Berbicara tentang umat Buddha di Temanggung, Jawa Tengah tidak akan lepas dari Kecamatan Kaloran. Karena hampir 80% umat Buddha Temanggung berada di Kecamatan Kaloran. Namun sebenarnya, selain di Kecamatan Kaloran, walapun sedikit, hampir di semua kecamatan di Temanggung terdapat komunitas agama Buddha, seperti Kecamatan Parakan, Jumo, Pringsurat, Wonoboyo, Gemawan, Bejen, Ngadirejo, Candiroto, dan lain-lain.

Dalam tulisan ini, akan diulas sedikit tentang umat Buddha di Candiroto. Secara administratif, Candiroto terbagi atas 14 desa dan 74 dusun. Salah satu desa yang terdapat komunitas umat Buddha adalah Desa Gunungpayung.

Menurut sejarah perkembangannya, umat Buddha di daerah penghasil kopi terbaik di Temanggung ini berkembang sejak tahun 1962. Berkembangnya agama Buddha di Gunungpayung tidak lepas dari para aktor penggerak, seperti Sumariyo dan Darmin, serta tidak lepas dari umat Buddha Kecamatan Parakan yang berkembang lebih dulu.

“Umat Buddha sini, pertama kali mengenal pembacaan parita, gatha dan sutta dari Ibu Siti dari Kecamatan Parakan. Pada tahun 1963 baru terdapat delapan kepala keluarga Buddhis di Gunungpayung. Saat itu puja bakti dilakukan dari rumah-rumah umat,” ujar Tri Mulyono, Ketua Vihara Virya Dhamma Loka, Gunungpayung.

Pada tahun 1965, umat Buddha Gunungpayung mulai berkembang dengan baik. Namun dalam perkembangannya umat Buddha tidak berjalan mulus. “Pada awal perkembangannya, sempat diterpa isu bahwa agama Buddha adalah agamanya partai komunis. Sumariyo, ketua vihara saat itu dipanggil ke kantor kejaksaan Kabupaten Temanggung untuk mengklarifikasi berita yang beredar. Beliau dengan tegas menjelaskan bahwa Buddha bukan agama partai komunis,” Tri Mulyono bercerita.

Tahun 1971, umat Buddha Gunungpayung mendirikan cetiya. Cetiya yang dibangun dari bambu dengan alas kepang dan tikar dari daun pandan ini diberi nama Cetiya Ramsi Loka. Dengan adanya cetiya yang dibangun secara gotong royong, umat Buddha Gunungpayung semakin berkembang. “Setelah cetiya jadi, kita dikasih rupang kecil oleh Ibu Siti. Umat Buddha yang awalnya hanya 8 KK, bertambah menjadi 35 KK,” lanjut Tri Mulyono.

Umat Buddha Gunungpayung semakin aktif setelah kedatangan Bhikkhu Jinakumara pada tahun 1971. Kedatangan seorang bhante memperteguh umat Buddha pada saat itu untuk semakin aktif dalam mengikuti segala kegiatan keagamaan Buddha. Bhante dari Semarang ini pula yang me-visuddhi upasaka dan upasika untuk pertama kalinya umat Buddha di Gunungpayung.

Tahun 1982, bangunan cetiya diubah menjadi vihara dengan nama Vihara Virya Dhamma Loka. Nama vihara ini diberikan oleh Bhante Jinakumara yang saat itu aktif membina umat Buddha Gunungpayung. “Menurut Bhante, Virya Dhamma Loka mempunyai arti semangat dalam menjalankan ajaran kebenaran di dunia.”

Dengan adanya vihara, banyak bhikkhu yang berdatangan dan aktif melakukan pembinaan, salah satunya Bhante Khemasarano yang beberapa kali datang ke Gunungpayung. Namun sayang, pada tahun 1982 pula umat Buddha Gunungpayung mengalami penurunan karena transmigrasi ke Kalimantan. Transmigrasi sebagian umat Buddha ini membuat umat Buddha Gunungpayung semakin terpuruk. Selain akibat transmigrasi, penyebab lain adalah pemuda Buddhis ketika menikah banyak yang pindah agama.

Umat mulai bergairah lagi melakukan kegiatan keagamaan Buddha sejak perayaan Waisak pada tahun 2007. Pada tahun 2007, umat Buddha Gunungpayung berjumlah 16 KK. Walaupun minoritas, namun semangat umat Buddha Gunungpayung dalam melaksanakan puja bakti dan kegiatan keagamaan Buddha lainnya tak terbantahkan. Bahkan Vihara Virya Dhamma Loka mulai saat itu dijadikan pusat kegiatan umat Buddha dari berbagai kecamatan, seperti Bejen, Wonoboyo, Jumo, dan Patehan serta sebagian Kabupaten Kendal.

Penghayat Kepercayaan di Brebes Desak Pemerintah Kabupaten Bangun TPU

Safari Pemuda Buddhis ke Gunungpayung
Sekitar 200 pemuda Buddhis Temanggung pada Minggu (26/6) lalu mengunjungi Vihara Virya Dhamma Loka. Acara yang cukup langka ini adalah Safari Vihara sebagai tindak lanjut dari rangkaian acara Kebangkitan Kembali Agama Buddha Temanggung pada awal Juni lalu. Pemuda Buddhis yang hadir bukan hanya dari Temanggung, tapi juga dari Semarang dan Kendal.

Selain untuk mengenal lebih dekat umat dan sejarah Vihara Virya Dhamma Loka, Safari Vihara kali ini juga dijadikan untuk rapat evaluasi dan laporan kegiatan masing-masing kelompok wilayah pemuda Buddhis Temanggung, Semarang dan Kendal, yang berdasarkan wilayah dibagi menjadi enam kelompok.

Dari keenam kelompok tersebut, terdapat dua kelompok wilayah pemuda Buddhis yang telah melakukan tindak lanjut dari komitmen yang telah dibuat. Wilayah satu yang meliputi Kabupaten Kendal, Kecamaran Jumo, Candiroto, Wonoboyo dan Bejen telah melakukan berbagai kegiatan tindak lanjut. “Sebelum mengikuti kegiatan gabungan dengan Kecamatan Kaloran dan sekitar, kami telah melakukan pertemuan vihara setiap tiga bulan sekali. Dan kami mempunyai rencana temu kreasi pemuda vihara,” ujar Samidi, koordinator wilayah satu.

Sementara itu, wilayah dua yang meliputi Desa Kaloran dan Tempuran, telah mengadakan anjangsana dari vihara ke vihara setiap malam Minggu. “Dalam kegiatan anjangsana, kami melakukan berbagai aktivitas, seperti puja bakti, menyanyi, bahkan Minggu kemarin kami telah mengadakan pelatihan membuat gula semut. Dan rencana ke depannya secara kelompok kami akan memproduksi gula semut. Kami juga sudah ada alatnya,” jelas Hari. Selain kelompok, pemuda vihara juga sudah mulai aktif melakukan pertemuan di vihara masing-masing.

Umat Buddha Vihara Gunungpayung berharap kegiatan seperti ini dapat mewujudkan keluarga Buddhis yang harmonis. “Kalau mau berkunjung ke sini setiap bulan, kami siap menjadi tuan rumah. Kami sangat senang melihat banyaknya pemuda Buddhis yang akan menjadi penerus agama Buddha di Indonesia,” tutur Tri Mulyono. Usai aktivitas di vihara, pemuda Buddhis berwisata ke curug yang berada di Desa Gunungpayung.

http://buddhazine.com/pemuda-buddhis...g/#prettyPhoto


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di