alexa-tracking

Semua Tentang Kita

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b3e4807ded770dc108b4567/semua-tentang-kita
Semua Tentang Kita
Semua Tentang Kita


  1. Grand Rules SFTH Forum
  2. Dilarang OOT atau Oneliner, OOT dikit boleh lah
  3. Komentar terserah tapi gunakan bahasa yang baik & benar
  4. Jadwal Update sesuai tergantung kesibukan dan mood TS
  5. Dilarang membully TS maupun karakter lain yang terdapat pada cerita
  6. Anggap ini adalah cerita fiksi & dilarang meminta lebih dari apa yang udah aku kasih
  7. Rate Bintang 5 ya Gan emoticon-Rate 5 Star sekalian emoticon-Blue Guy Cendol (L)

~ First Step ~

2011

Aku tidur tengkurap diatas dua kasur yang sengaja ditumpuk agar lebih empuk disebuah Mess karyawan sambil menonton acara music ditelevisi yang menampilkan band kesukaanku, yah saat itu ada musisi Bondan Prakoso & Fade 2 Black yang sedang mengisi acara yang katanya disebut sebagai acara alay karena banyak penonton bayaran yang kompak teriak ye ye la la.

Saat sedang asyik menonton, tiba-tiba seorang laki-laki berbadan kurus agak pendek duduk bersila tak jauh dari televise sambil mengunyah makanan ringan yang berada ditangan kirinya.

“Ady, nanti kamu masuk shift siang yah” Ujarnya sambil tetap mengunyah makanan

“Hah?” Aku yang daritadi asyik tiduran mendadak bangun. “Serius pak, kan saya jadwalnya libur” Jawabku kepada Pak Musto yang merupakan kepala toko disalah satu Mini Market terbesar yang logonya didominasi warna merah & kuning.

“Iya, soalnya Rudi ijin mendadak ada keperluan katanya”

“Owalah, yasudah mau gimana lagi pak” Jawabku dengan sedikit lesu sambil mengambil sebuah ponsel yang dari semalam aku charger kemudian mengetikkan sebuah pesan untuk memberi kabar seorang teman kalau nanti malam nggak jadi ngopi bareng.

Aku melirik seorang karyawan lain yang masih terlihat tidur dipojokan, Messnya sendiri berada dilantai dua tediri dari beberapa ruangan, dua ruangan terpakai sebagai gudang stock barang yang masih kartonan, sedangkan ruangan yang satu berukuran ± 10x6meter sebagai mess karyawan. Dapur dan toilet sendiri berada di ruangan yang lain, fasilitas karyawan tergolong lengkap ada Televisi, kasur, lemari, hingga dapur.

“Tri, bangun gih udah jam Sembilan pagi ini” Ujarku sambil menggoyangkan pundaknya. Tri terlihat masih tidur pulas tidak bergeming,hingga pada akhirnya aku juga malas keluar dan kembali tidur didepan televise.

*****


Aku mengambil sepatu dan duduk di anak tangga paling bawah, sambil terdiam agak heran memandangi seorang kasir yang shift pagi sedang menyapu di area gudang yang tidak jauh dari tempatku duduk saat ini,menggunakan seragam kaos kerah yang didominasi warna merah,tergantung ID card dilehernya.

“Asih,kok kamu pagi? Bukannya jadwal kamu siang yah?” tanyaku padanya heran.

“Iya pak, lah jadwalnya direvisi sama Pak Must kok, jadi yang siang Bapak,Yudha sama Feni”. Jawabnya sambil tetap meneruskan aktifitasnya.
Aku membulatkan bibir membentuk huruf O tanpa mengeluarkan suara sambil manggut manggut. Tidak lama kemudian datang seorang cewek agak kurusan dari balik pintu area toko terlihat agak lesu dan lemes.

“ Fen, kenapa mukamu kok ditekuk gitu” Tanya Asih padanya.

“Gpp kok” Jawab Feni datar sambil ngeloyor masuk ruang kerja staff. “ Asih, modalnya udah dihitung belom?” lanjutnya.

“Udah, cepet buruan dihitung udah jam segini loh”. Jawab Asih agak teriak sambil berjalan kearah toko.

Btw karyawan toko yang aku tempati saat ini ada sepuluh orang, yang laki-laki tujuh sedangkan tiga lainnya perempuan dan mini marketnya berada di dalam kota Tuban Jawa timur.

Semua berjalan seperti biasa sampai akhir shift, setelah selesai bikin laporan penjualan harian,aku melirik jam yang ada dipojok ujung kanan bawah computer waktu menunjukkan jam sebelas malam,

“Pak,aku pulang duluan” Ujar Feni pamitan sambil ngeloyor keluar toko, “Eh iya ati-ati” jawabku sambil memandanginya pergi.
Entah kenapa tuh anak hari ini ga kaya biasanya yang heboh kalo ngomong suka ceplas ceplos, atau enggak biasanya suka ngerayu aku minta beliin jajan, tapi malam hari ini diem mulu dari awal hingga akhir shift, ngomong seperlunya.

“ Yud, itu kenapa si Feni diem mulu dari tadi” tanyaku pada Yudha, karyawan yang shift malam/shift 3 yang lagi menghitung ulang uang recehan .

“Gatau pak ya, aku juga heran ga kaya biasanya” jawabnya.

“mungkin lagi ada masalah kali pak, sama pacarnya mungkin” Lanjut Chandra sambil tertawa dibuat-buat.

“Iya kali, tapi harusnya professional ga usah bawa-bawa ke kerjaan” Ujarku sambil menyodorkan kunci brangkas ke Chandra yang juga shift malam. “ Uangnya dihitung ya, aku ke mess langsung mau istirahat” lanjutku.

Sesampainya di mess aku langsung mengganti pakaian kerjaku dengan kaos dan celana jeans pendek, dan ikut rebahan disamping Tri yang daritadi udah istihat duluan sambil nonton televise.hingga tidak lama kemudian ponselku berbunyi ada panggilan masuk dari Feni.

“Ini bocah ngapain dah nelpon jam segini” uajrku sambil menekan tombol terima.

“Halo” ucapku. “Halo pak, bisa ke kosku gak?” Ucap Feni sedikit terbata-bata.

“Lah kamu kenapa dah? Nangis?” Tanya ku sambil duduk. “Udah pak, kesini aja dulu buruan”. Jawabnya lagi sambil sesekali sesenggukan.

“Iya-iya Fen,tungguin depan kos” Jawabku, tanpa dijawab Feni udah duluan mematikan panggilannya.

“Hmmm, nih Bocah napa sih tadi diem mulu sekarang nangis” ucapku sambil bangun dan berjalan menuruni tangga.

“Pak, nitip makan sekalian sebungkus”. Teriak tri dari dalam kamar ,mess
“Ogah, aku ga beli makan” jawabku

Buru-buru aku menyalakan motor dan tancap gas kearah kosan Feni yang ga jauh dari toko berjarak 50 meteran. Sesampainya didepan kos feni, terlihat Feni udah ada didepan kamar menenteng jaket dan langsung berdiiri menghampiriku.
“Kamu kenapa dah Fan? Kok nangis? “tanyaku padanya
“Udah yuk pak, jalan dulu aja” ajaknya sambil duduk dibelakangku. “Oke,”.

Tak lama kemudian motor yang kami naiki berjalan menyusuri dinginnya malam kota Tuban, tiba-tiba kedua tangan Feni merangkul pinggangku dan kepalanya bersandar dibelakang pundakku.
“Sial nih anak bikin salah tingkah aja dah ah” pikirku dalam hati. “Kita kemana Fan?”Tanyaku mencoba mencairkan suasana.
“terserah pak” Jawabnya.

Tangan kiriku merogoh ponsel disaku celana dan melirik jam yang ada dilayar ponsel, tak lama kemudian aku memasukkannya lagi, “yaampun jam segini kemana dah” pikirku. Setelah muter-muter ga jelas akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke alun-alun Tuban.

*****

Aku memandangi setiap sudut lapangan, terlihat masih ada beberapa anak muda yang masih bersenda gurau sesekali tertawa cekikikan, aku duduk disamping Feni yang udah lebih dulu duduk sambil sesekali mengusap bekas air mata dengan jaketnya. “ Fan pake gih jaketnya, dingin ntar sakit loh” ucapku melirik Feni.

“Aku memang udah sakit Pak, sakit hati” kembali Feni sesenggukan, “Kenapa sih cowok semua sama aja” lanjutnya dengan suara agak keras.
“Fen, jangan keras-keras kalo ngomong ntar dikira aku apa-apain” Ujarku,aku menggeser badan menatapnya. “ Memangnya ada apaan? Lagi marahan sama pacar kamu?” lanjutku, Feni hanya mengangguk pelan.

“Aku gak ngerti Pak, katanya aku ini terlalu inilah itulah cape aku gini mulu” Ucapnya.” Aku sama dia tuh sama-sama keras kepala, ga ada yang mau ngalah jadinya sering gini”.

“Kalo ada masalah sama orang terlebih orang yang kita sayang, yah diajak ngomong baik-baik Fen, pakai kepala dingin, saling ngalah yang paling penting.” Aku mnearik nafas dalam lalu menghembuskannya. “jangan pakai emosi nanti ujungnya malah keputusan yang ga seharusnya kamu pengen jadi kejadian, akhirnya nanti nyesel kan”.

Kulihat Feni terdiam dan masih sesenggukan, aku menatap masjid agung yang ada persis didepanku kemudian memandang langit. “Fen, kamu liat deh langitnya, bintangnya kok ilang semua yah?”. Feni mengangkat kepalanya “Apaan sih pak, mana aku tau” jawabnya gregetan.

“Mau tau ga kenapa pada ilang?” aku menatap Feni yang masih sesekali mengusap matanya. Feni hanya diam dan berbalik menatapku terlihat matanya yang merah seakan tanda menyuruhku melanjutkan omonganku. “Iya dikarenakan bintangnya para bintang lagi nangis, sedih makanya bintangnya ikutan ngilang”. Ucapku sambil menatap kearah yang lain.

“Apaan sih pak, ngacoh ah mana ada begitu, gombal mah”ucapnya sambil memukulkan jaket dilenganku sesaat kemudian kita tertawa bareng karena candaan yang aku lontarkan, tiba-tiba Feni menyandarkan kepalanya dipundakku, aku meliriknya sesaat kemudian kembali menatap langit. kita berdua memilih sama-sama diam sambil menikmati hembusan angin malam.

Aku mendadak teringat seseorang yang suka banget sama keindahan langit malam bertabur bintang, baginya langit malam bagaikan surga dunia, dia pernah bermimpi seandaniya dia mampu meraih bintang yang paling terang, dia ingin menerangi setiap harapan yang pupus, membawa mereka kepada jalan yang mampu membawa ke mimpinya masing-masing. “Bagaimana kabarmu? Apakah sudah menggapai impianmu menjadi dokter?” ucapku dalam hati.

“Fen, btw kita tidur disini aja nih?” Ujarku pada Feni, dia kemudian melihat jam yang ada diponselnya, jam menunjukkan pukul 02.00 WIB, “Lah cepet banget udah jam segini aja, yaudah yuk pulang pak,besok saya masuk pagi loh” ajaknya panik sambil berdiri. “lah kenapa jadi heboh dah”.

Akhirnya kami kembali berjalan menyusuri jalanan kota yang dingin hingga ga lama kemudian kami berpisah setelah aku mengantarkan Feni kembali ke kosnya.
KASKUS Ads
image-url-apps
btw nitip sendal and mantau dulu
image-url-apps
Garis besar Another Rain, tentang apa gan?
Atau genrenya apa?
image-url-apps
ijin nenda gan
Seru nih kayanya, ikut meramaikan gan emoticon-Big Grin
image-url-apps
seru nih keknya yang berhubungan sama hujan emoticon-Hansip
image-url-apps
Moga gerimis pagi nya indah. Hujan selalu bawa rasa serumit cinta
image-url-apps
bagus tuh ceritanya emoticon-Bookmark (S)
image-url-apps
lanjut lagi dong
~ Sebuah Senyuman ~

Aku menghela nafas panjang sambil duduk setelah membersihkan sisa-sisa air hujan yang membasahi bangku dan meja yang mulai kusam kehitaman karena sering kehujanan maupun kepanasan dengan lap, cuaca beberapa minggu ini memang sedang musim hujan ditambah udara pagi yang dingin. Aku memandangi Chandra yang ada didepanku sedang menghisap dalam-dalam rokok yang dia pegang,beberapa detik kemudian pandanganku menatap kearah yang lain.

Aroma kopi yang ada didepanku menambah suasana pagi ini begitu tenang terlepas dari perasaanku yang sedikit kalut, aku kembali membaca ulang pesan sms permintaan maaf dari Ani yang sedari tadi pagi-pagi sekali masuk diponselku. Mendadak ingatan yang sudah aku lupakan bersamanya pelan-pelan merangkak masuk dikepalaku, hubungan yang seharusnya berjalan baik-baik saja itu akhirnya pupus ditengah jalan karena ego masing-masing. Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian aku hembuskan dan dengan sedikit senyuman aku mengetikkan sebuah pesan balasan kepada Alfi. “Iya Gapapa kok, harusnya aku yang meminta maaf”, Aku meletakkan ponsel di meja secara terbalik kemudian buru-buru menyeruput kopi yang mulai dingin.

*****


“Selamat malam, selamat datang” terdengar suara Yudha dengan semangatnya meneriakkan jargon setiap kali ada customer masuk toko, “Sekalian keranjangnya Mbak?” sambil menawarkan sebuah keranjang dengan senyum ramah kepada seorang cewek cantik, putih, tinggi dengan balutan tshirt warna kuning dipadu celana legging motif bunga sangat pas melekat ditubuhnya. Aku yang daritadi sibuk merapikan barang diujung lorong mendadak mataku terfokus padanya.

“Ga usah mas, Cuma beli minum doang” Jawabnya sambil berjalan kearah Chiller minuman dingin.
Yudha kemudian berlari-lari kecil kearahku. “Bening Pak” ujar Yudha girang.

“Mantap jiwa Yud” Ucapku diikuti tawa kami berdua, “Btw ada asu-nya gak?”

“Enggak Pak, sendirian kayaknya” jawab Yudha sambil celingak-celinguk kearah parkiran.

Gak lama kemudian cewek tersebut berjalan kearah kasiran dengan membawa satu minuman soda dingin ditangannya, “Prospek dah Yud”.

“Kaya berani aja Pak” Ujar Yudha, aku hanya tertawa kecil sambil berjalan kearah komputer sebelah kiri,

Kulihat asih sibuk menscan barcode minuman kaleng soda tersebut sambil menawarkan produk-produk lain yang sedang promo yang berada disamping kompouter kasir, sedangkan aku mencoba mencari kesibukan merefresh e-mail berkali-kali sambil sesekali melirik kearah cewek tersebut. “Asli cakep banget” batinku.

“Nambah pulsanya sekalian Mbak?” Ucap Asih kepada cewek yang ada didepannya

“Iya mbak, yang 50k aja yah” jawabnya dengan suara renyah dan lembut.

“Nomernya mbak”
Cewek tersebut menyebutkan beberapa angka diikuti Asih yang mengetikkan nomer tersebut ke aplikasi e-commers kemudian langsung menekan tombol OK.

“Pulsanya udah masuk Mbak,totalnya 56.000 nambah lainnya?”

“Cukup Mbak” Ujar cewek tersebut sambil menyodorkan uang sementara tangan satunya sibuk memencet ponsel.

“Terima kasih Mbak,silahkan datang kembali” Ucap asih sambil merapatkan kedua telapak tangannya didepan dada.

Setelah menyunggingkan senyumnya beberapa detik cewek tersebut meraih kantong plastik berisi minuman kemudian langsung ngeloyor keluar toko. Busyet dah kenapa ga noleh ke arahku sama sekali, bahkan ngelirik aja enggak.
“Menoleh kesini plisss” batinku.

Aku terus memandanginya hingga saat dia menyalakan motor, beberapa detik sebelum memutar dan pergi dia sempat sekilas melihat kearahku sebelum pada akhirnya dia menoleh kearah yang lain. “Deg”

Kebetulan mini market yang aku tempati saat ini berada dipusat kota Tuban, sebenarnya setiap hari juga banyak cewek bening bersliweran keluar masuk toko, apalagi kalo tengah malam mesti rame cewek-cewek purel karaoke yang berpakaian minim-minim, dikarenakan lumayan dekat dengan tempat clubing, jadi sebenarnya sudah biasa aja ngeliat cewek bening-bening, tapi ntah kenapa kayaknya dia itu beda.

“Pak, tuker uang receh, koinnya habis” Asih teriak pas didekat kupingku kemudian menyodorkan uang didepan mukaku.

Dengan sedikit kaget aku langsung menarik uang yang dipegang Asih. “Berisik,ga usah teriak aku juga denger, dasar” sambil ngedumel aku berjalan kearah ruang brangkas.

“Makanya kalo kerja jangan ngelamun mulu pak,kalo ada cewek bening dikit aja matanya pink”

“Bodo”

Gak lama kemudian aku kembali membawa sekresek uang koin yang asih pesen tadi “ Nih uangnya” aku meletakkan uang tersebut ke meja kasir. “Btw besok yang pagi siapa aja yah”.

“Bapak, Didit sama Deni”

“Owh, Pak Rudi masuk siang berarti? Eh sama kasir baru juga? Hadew dia kan belom lancer kalo ngasir, ntar dikit-dikit manggil aku”.

“Sabar pak” jawabnya, Aku berdiri didepan computer server diikuti Asih yang juga berdiri disampingku bersandar dimeja kasir sambil menatapku dengan senyum-senyum sendiri “bapak ngelamunin cewek tadi kan?”.

“Enggak biasa aja” jawabku tanpa menoleh karena sedang sibuk menyimpan isi pesan email PO dari kantor.

“Dasar, tiap ada cewek cakep juga gitu, dibuntuti mulu kalo ngeliat”.

Aku menghentikan aktifitasku,menggeser badan persis didepan Asih kemudian mencubit pipinya keras “Udah ga usah ngomong,sana hitung modalnya udah jam segini loh”.

“Iih, pak sakit tau” aku hanya tertawa sambil ngeloyor kearah lorong untuk membantu Yudha ngerapiin barang di rak.

*****


Aku merebahkan badan di atas kasur mess,menyelonjorkan kedua kaki dan merentangkan kedua tanganku untuk meregangkan otot, ah rasanya lega sekali setelah daritadi berdiri. Setelah beberapa saat kemudian mendadak teringat nomer telpon cewek yang sempat aku simpan tadi.

Aku berniat mengetikkan sebuah pesan singkat kepada cewek tersebut, “tapi sms gimana yah” batinku. Rasanya aneh aja kalo tiba-tiba sms ga jelas lagian ini kan udah jam 23.40 wib.

“Hay, boleh kenalan ga?” aku mulai mengetikkan sebuah pesan,tapi beberapa detik kemudian aku menghapusnya, kan aneh kalo tiba-tiba sms ngajak kenalan? Nanti dia tanya dapat nomernya dari mana gimana? Hadew masa iya aku dapet nomer ngacak? Atau dapat dari temen? Kan basi,Aaaarrgh.

Setelah memikirkan kata-kata yang pas buat basa-basi kenalan akhirnya aku mengetikkan sebuah pesan “ Mbak Pulsanya udah masuk?” , setidaknya dengan begini paling enggak nanti bisa beralasan kalo tadi gangguan. Dengan pelan tapi pasti akhirnya aku menekan tombol kirim.

Jantungku mendadak berdegub gak karuan, aku berdiri dan berjalan mondar mandir gelisah “jangan bales plis” aneh yah sms ngejak kenalan malah justru berharap orang itu ga bales, bukan apa-apa karena aku malah makin gelisah perasaan jadi campur aduk ga karuan, hingga beberapa saat aku mencoba duduk dan mengatur nafas pelan-pelan setelah itu aku kembali merebahkan tubuhku dan melemparkan ponselku diatas kasur.
Quote:



Quote:


Quote:


Monggo Gan, mudah2an istiqomah yah emoticon-Shakehand2
jangan lupa kopinyaemoticon-Jempol
Quote:


Well karena aku juga ga bisa jawab pertanyaan Agan, aku ganti judulnya, maap gan emoticon-Shakehand2
sebenarnya setelah cerita ini aku post aku kepikirian judulnya, karena sebelumnya juga buru-buru dan ngasal ngasih judul
dan sekarang aku nemu judul yang pas,tapi nunggu direv sama momod emoticon-Malu
~BreakUp~


Drrrtt Drrrtttt Drtttttt

Setelah merapikan berkas penting toko tak henti-hentinya ponselku berdering tanda notifikasi dari pesan Grup whatsapp salah satunya grup Symbian Hacking,hampir setiap saat nih grup rame mulu. Pada jaman itu Si robot ijo belum merajai seperti sekarang, meski dulu sudah ada seri Froyo, tapi sebagian orang masih interest banget sama nokia Symbian termasuk aku.
Ponsel yang aku gunakan saat itu Nokia Eseries 63 dengan OS symbian S60v3 dan s60v5, dan hampir tiap hari yang dibahas digrup adalah tentang hacking symbian (kalo saat ini yang terkenal dari robot ijo adalah Root sedangkan di Apple disebut ) mulai dari hack system sampai modif desktop, menu, hingga font-font keren.

Meski sampai sorepun ga ada balasan dari sms yang semalam aku kirim, aku mencoba merefresh ulang kontak wahtasapp barangkali cewek tersebut punya whatsapp. Benar saja muncul kontak dengan nama “Cakep” tapi saat itu belum ada pemberitahuan Online atau Offline seperti saat ini. Tapi terlihat status terakhir dibuat beberapa bulan lalu.
Di foto profilnya close up mukanya yang bersih dan cakep banget, senyumnya yang bikin cowok manapun meleleh, dagunya yang terbelah.
Sumpah cakep banget.

“Pak, ada yang nyariin tuh”

“Siapa?” aku menoleh kearah Deni yang berdiri senderen dipintu sambil main ponsel tanpa menoleh kearahku.

“Tau, tuh didepan” nih anak baru gayanya sok cuek banget dah. “Udah boleh pulang kan Pak?”lanjutnya.

“Iya”

Aku beranjak dari kursi dan berjalan keluar kearah depan toko, terlihat seseorang sedang berdiri membelakangiku. Mengenakan setelan blazer dan celana panjang warna biru muda yang merupakan seragam salah satu bank ternama sedangkan rambutnya yang panjang tergulung rapi,tanpa sepengetahuannya aku menutup kedua matanya dengan kedua telapak tanganku dari belakang.
Dengan sedikit kaget dia memegang dan meraba kedua tanganku. “Ady kan?”

Aku hanya tertawa cekikian tanpa suara “ Ih Ady,lepasin ah jangan canda mulu sakit nih mata”. Ujarnya sambil berontak.

Karena kewalahan akhirnya aku melepaskannya sambil tertawa lepas, “Ah kamu mah” ucapnya sambil merapikan rambutnya.

“Baru pulang kerja Des? tumben langsung kesini,biasanya nelpon dulu mencak-mencak minta jemput”

“Hehe, iya tadi pas lewat sekalian mampir kamu udah kelar kan kerjanya?”

“Udah sih, mo ngajak malmingan?” aku memasukkan kedua tanganku disaku celana dan medekatkan wajahku ke wajah Desi.

“Udah kamu mandi gih bau tau” Desi menoyor kepalaku, “udah sana buruan aku tungguin disini” lanjutnya sambil mendorong badanku.

“Iya-iya bawel ah” jawabku berlalu meninggalkan Desi.

*****


Jujur menurutku Desi itu pacar yang ideal,dulu saat pacaran dia wanita yang super pengertian dan super perhatian tidak heran karena Desi lebih tua 3 tahun dariku. Meski kadang menjadi super bawel,hampir setiap hari aku dibawain makanan dari rumah.hari-hari kami berjalan sangat mulus selama beberapa bulan hingga pada akhirnya semua berakhir sejak Negara api menyerang. Eh maksudnya ada orang ketiga diantara kita yang sampai saat ini jadi pacarnya. Kami pun sempat lost contact selama dua bulan,namun hubungan kita kembali normal sebagai teman. Sikap dia saat ini memang seperti layaknya orang pacaran meski ga seperhatian dan ketemu sesering dulu, dan saat-saat seperti ini menjadi flashback tersendiri bagi kami.

“Btw, kok kamu belum punya pacar sih sampe sekarang” tanyanya. Aku menghentikan akrifitas makanku dan menatap Desi “Emang kenapa? Kan jadi kamu yang untung bisa aku temenin kalo jalan”.

“Dasar, jangan-jangan kamu masih ngarep aku kan?” ujarnya sambil senyum-senyum.

“Yang ada kamu yang ngarepin kan sering ngajak jalan aku, padahal udah punya cowok juga”.

“Jadi ceritanya kamu ga ikhlas nih”

“Enggg, yah ga gitu maksudnya, ikhlas-ikhlas aja sih kan bisa makan gratis hehe”

“Bodo”

Sekali lagi aku menatap Desi yang sedang sibuk memakan makanan yang tadi kami pesan, rambutnya yang panjang bagian kanan terjuntai kedepan, sesaat kemudian dia membenarkan rambutnya kebelakang telinganya. Entah kenapa beberapa detik saat itu jadi merasa aneh aja nih perasaan kalo ngelihat kek gitu.

Tuk

Satu potong kentang goreng berhasil mendarat didahiku, “Eh,apaan sih Des”.

“Kamu yang apaan,diajak ngomong diem mulu malah ngeliatin aku kek gitu, kenapa? Ga pernah liat aku yang cakep ini kek gini”

“Dasar, pede banget” aku kembali meminum jus jambu kesukaanku. “yaudah ah yuk pulang dah malam nih”

“Hm, Yudah yuk”

*****


Motor yang kami tumpangi melaju dengan pelan menembus jalanan kota, suasana gemerlap lampu jalanan menghiasi perjalanan pulang kami. “Boleh ga aku meluk kamu?” tanya Desi pelan tepat disebelah kupingku.

“Whatever” tanpa menunggu lama tangan Desi memeluk perutku. Lumayan menghangatkan disuasana dinginnya malam.

“Besok pagi aku berangkat ke Lamongan Dy” ucapnya pelan.

“Ngapain? Jalan-jalan?”

“Enggak, aku mutasi ke Lamongan persenin,minggu besok udah berangkat kesana” aku hanya mengangguk pelan. “makanya aku sengaja ngajak kamu keluar tadi”

“Iya enak dong, jadi deket sama pacar kamu kan” Aku sedikit mengurangi kecepatan “Lagian Lamongan-Tuban kan deket”

“Iya Sih”
Entah kenapa hidupku gini banget yah, sering banget ngurusin pacar orang.

Tidak lama kemudian kami sampai didepan rumah Desi daerah Semanding
“Makasih ya” ucap Desi setelah turun dari motor.

“Iya sama-sama, kamu kalo berangkat besok hati-hati yah, jaga diri baik-baik, jaga kesehatan” Aku melebarkan senyumku.

“Ga mampir dulu?”

“Engg, enggak Des, kamu kan butuh istirahat lagian pagi-pagi kamu berangkat kan”

Desi hanya mengangguk pelan dan senyum kearahku “Yaudah aku balik dulu yah udah malam” ucapku setelah kembali memakai helm.

“Iya pulangnya ati-ati” aku menatapnya sebelum akhirnya aku menancap gas pergi meninggalkan Desi.

Aku membenarkan spion sebelah kiri, terlihat Desi sudah pelan-pelan hilang masuk ke pagar rumahnya. Inikah yang dianamakan pengorbanan? Kadang orang yang kamu cintai tidak pernah tau seberapa besar pengorbanan yang telah kamu korbankan,lalu dengan seenaknya meninggalkan begitu saja. Dan mungkin itu tidak salah ! karena cinta memang butuh pengorbanan bukan?

Hanya saja,mungkin kita salah begaimana mengartikan sebuah pengorbanan yang sesungguhnya. Atau mungkin dengan menjadi korban kita bisa belajar banyak hal dari rasa keterpurukan, biarpun itu sakit,perih. Tidak ada yang sia-sia dalam pengorbanan. Tuhan punya cara tersendiri dalam mengarahkan hambanya yang bersabar.
~ Her Name is Vanya ~


Senja sore yang biasanya mengintip dijendela mess sore itu mendadak hilang, jalanan yang biasa ramai pengendara mendadak sepi, hujan deras di sore itu sukses mengguyur kota tuban.

Cuaca yang mendadak dingin membuatku langsung merebahkan diri dikasur dan buru-buru membungkus badanku dengan selimut tebal. aku menyalakan ponsel yang daritadi mati habis aku charge dan menyetel lagu Raindrops Keep Falling On My Head - B.J. Thomas. Belum sempat lagu habis tiba-tiba ponsel bergetar tanda panggilan masuk.

“Halo”

“Iya mas, ini Alfa**** kah?” Ucapnya diseberang telepon terdengar suaranya lembut sekali, aku sejenak melihat nomernya dilayar hpku kemudian kembali menaruh dikupingku. Aku cuma mikir kok customer tau nomer telponku, bukannya telpon ke toko.
“Mas?” Ucapnya lagi

“Iya Mbak, bener ada yang bisa dibantu?” jawabku agak sedikit gugup.

“Bisa delivery kan yah ke daerah Perum Gedongombo?”

“Gedongombo yang di Jalan tembus atas itu?”

“Iyap bener banget”

“Kok ga telpon ke toko terdekat aja mbak?”

“Masalahnya aku gatau Mas no telponnya,”

“Oh oke apa aja yang dipesen? Minimal belanja 50ribu ya”

Setelah menyebutkan beberapa item yang dipesan dan mencatatnya,dengan sedikit malas aku memberikan catatan tersebut ke Deni agar segera diambilkan dan dibungkus. “Den, sekalian suruh Tri nganterin yah,alamatnya udah aku catet”

“Iya Pak”

Buru-buru aku kembali ke mess dan merebahkan badanku dikasur, kalo hujan gini rasanya males ngapa-ngapain, apalagi udaranya yang dingin. namun aku berfikir sejenak dia bilang gatau no telp toko terdekat tapi kok tau nomer telponku,lagian perasaan aku juga ga ada kenalan yang rumahnya daerah situ. Akhirnya aku berlari kebawah kearah kasir “Den, Belanjaan Delivery udah dianter belom?”

“Tuh Tri masih didepan pak” jawabnya sambil menunjuk kearah parkiran yang ada kanopinya.

Dengan sedikit berlari aku menghampirinya “Tri, udah aku aja yang anterin,kamu lanjut kerja gih” ujarku pada Tri yang sedang sibuk memakai jas hujan.

“Lah kan Bapak ga shift, ini hujan juga loh pak?”

“Udah gpp, yaudah sana balik, siniin jas hujanmu” Aku mengambil jas hujan tri dan segera memakainya,kemudian aku menyalakan motor menancap gas kearah alamat yang dimaksud.

Kurang lebih 10 menit aku sudah sampai didaerah perum gedongombo dan muter-muter gang mencari alamat yang dimaksud. Tidak butuh waktu lama aku telah menemukan alamat pemesannya, aku berdiri didepan sebuah rumah minimalis berpagar putih, dengan kondisi basah kuyup aku langsung memencet bel.

Tidak lama kemudian keluar seorang cewek dari balik pintu membawa payung dengan sedikit berlari kearahku,dekat dan semakin dekat. Setelah membukakan pagar, aku pandangi lekat-lekat wajahnya, lampu yang sedikit remang tidak mampu menyembunyikan kecantikan wajahnya,tshirt hitam bertuliskan nama salah satu band legenda Dream theater dipadu celana pendek diatas lutut membuatnya begitu terlihat cantik. Aku bahkan baru sadar kalo yang pesen itu cewek yang kapan hari beli pulsa, mungkin ini namanya Pucuk dicinta Ulam pun tiba.

“Mas?”

“Hah,apa mbak?”

Kulihat dia menggaruk pelipisnya “Tadi saya ngomong minta maaf udah ngrepotin masnya”

“Eh iya mbak gpp kok kan emang resiko jualan” jawabku gugup, kemudian aku menyerahkan sekresek belanjaannya tadi. “Yaudah,tunggu sana aja dulu mas aku ambilkan uangnya” ajaknya sambil menunjuk kearah kursi depan rumahnya sedangkan dia berlalu masuk kerumah.

“Iya Mbak” Aku berdiri didepan rumahnya,hanya melepas penutup kepala tanpa melepas semua yang kupakai meski sedikit membasahi lantai.

Entah konspirasi alam apa yang terjadi beberapa saat kemudian setelah cewek tersebut masuk rumah hujan makin tambah deres, “Lah tambah deres aja,ato emang ditakdirkan kek gini yah” batinku sambil memandangi halaman rumah yang tergenangi air.

“Mas, ini uangnya” ujarnya berdiri disampingku sambil menyodorkan uang belanjaan.

“Eh iya mbak” aku menoleh kearahnya dan mengambil uang yang dia pegang “Makasih ya Mbak” lanjutku.

“Iya sama-sama mas,jangan kapok ya,btw ga nunggu hujan reda aja dulu? Deres banget soalnya”

“Eng” aku menggaruk bagian belakang kepalaku yang sama sekali tidak gatal,sekali lagi suaranya yang lembut itu membuatku malah semakin gugup.

“Udah ga usah sungkan, kamu buka aja jas hujannya dan duduk, aku buatin minum dah”

“Yaudah sih boleh juga kalo maksa mah” aku mencoba mencairkan suasana agar tidak canggung,semantara cewek tersebut masuk kedalam rumah sambil tertawa sementara aku melepas jas hujan dan duduk dikursi samar-samar terdengar alunan The Glass Prison milik Dream Theater dari dalam rumah.

Wuih,mantap juga selera lagunya

Aku memandangi sekeliling rumah, didepan rumah bagian samping kanan ada taman sedangkan bagian kirinya sebagai halaman parkir. “Nih tehnya” ucapnya setelah menaruh teh hangat kemudian menjulurkan tangan kanannya “Vanya”.

Ya ampun namanya cantik secantik orangnya, “Ady” jawabku setelah melepaskan jabatan tangannya, karena daritadi kayaknya tidak terlihat ada aktifitas orang lain didalam rumah aku menoleh kearahnya “btw kok sepi yah”.

“Iya kebetulan mereka pada keluar sih” jawabnya, aku hanya manggut-mangut dan membulatkan bibir tanda mengerti.

“Eh diminum gih keburu dingin”
“Iya mbak” aku mengambil cangkir dan meminumnya pelan-pelan, merasakan setiap cairan teh buatannya yang hangat mengalir membasahi kerongkonganku membuat badan lebih hangat.

“Btw ga usah panggil mbak ya, panggil nama aja kayaknya kita seumuran kok”

“Hehe iya sih”

“Btw itu mobil kamu ?” aku menunjuk sebuah mobil Audy TFSI Coupe terparkir dihalaman rumah. "Busyet emang kaya beneran kayaknya nih anak"pikirku

Vanya membenarkan duduknya, “Iya, e maksudnya dibeliin papa sih lebih tepatnya” jawabnya sambil tersenyum sementara aku membulatkan bibir tanda mengerti.

“Boleh juga sih selera kamu”

Hingga malam semakin larut,entah obrolan apa saja yang kami bicarakan saat itu,joke yang saling bergantian membuatku menikmati malam itu bahkan kami tidak sadar hujan mulai reda meski agak sedikit rinitk-rintik. Aku berpamitan padanya dikarenakan larut malam, “Van aku balik yah, udah reda hujannya” ucapku sambil berdiri kemudian mengambil jas hujan dan memakainya.

“Oh iya yaudah kalo gitu ati-ati deh”

“Siap” Aku menyalakan motor dan pelan-pelan keluar pagar sedangkan vanya kulihat mengambil payung berjalan kearah pagar untuk menutupnya. Kembali aku menoleh kearahnya dan tersenyum kecil kepadanya, hingga pada akhirnya aku menjalankan motor dan menjauh dari rumahnya.

Sepanjang perjalanan mendadak didalam hatiku mengalun pelan sebuah lagu Haven't Meet You Yet nya Michael Buble, pelan-pelan suasana hujan menjadi begitu romantis,lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang menjadi begitu membekas,inikah jatuh cinta? Tapi secepat ini kah?
Reserved
~Curcol In Love~


Tanpa disadari waktu berjalan begitu cepat,setelah pertemuan tidak sengajaku dengan vanya beberapa hari lalu tidak banyak yang berubah bahkan tidak ada, sejak saat itu vanya tidak pernah sms atau telp lagi meski aku pernah sms sekali namun tidak ada balasan darinya,toh aku juga tidak bias memaksa orang lain untuk bersikap sama sepertiku.

Tiba-tiba aku kepikiran Desi, sejak ditinggal pindah keluar kota sampai saat itu Desi belum pernah hubungi aku, sejenak aku berpikir untuk menghubunginya sekedar say hai sekalian curcol kan. Belum sempat aku menelponnya, nama Desi muncul dilayar hpku tanda panggilan masuk.

“Nah,panjang umur kamu Des”

“Haha,apanya yang panjang umur? Kamu mikirin aku ya?”

“Pede! Aku mau curhat”.

“Curhat apaan? Cewek?”.

“Iye, aku lagi suka sama orang? Tapi gimana yah?”.

“Apanya yang gimana? Kamu yang suka sama orang tapi nanya gimana”.

“Hehe, iya belum kenal sama dia Des, Cuma tau nama sama rumahnya doing, itupun ga sengaja pas nganterin delivery”.

“Jiah, jadi kamu suka sama customer kamu?” Terdengar desi tertawa cekikian diujung telepon “Terus masalahnya apa?”.

“Hm, malah ketawa, gimana yah, yah mau deketin tapi takut, takut ditolak Des”.

Lagi-lagi Desi tertawa lepas dengar ceritaku “Dy, Kamu ga inget pas kamu deketin aku dulu? Baru kenal sehari itupun via Facebook, tapi kamu ngebet banget deketin aku, tiap hari nginbox ngasih perhatian yang malah bikin aku risih”.

“Tapi lama kelamaan itu justru membuat aku juga suka sama kamu, salah satunya yah karena ga gampang nyerah, lah ini udah tau namanya bahkan rumahnya kamu malah takut? Ga kamu banget tau” Desi tertawa lagi semantara aku diam mendengarnya, “Keyakinan adalah kunci bagi seseorang untuk tetap memperjuangkan sesuatu. Dan semangat adalah api yang selau berkobar untuk sebuah keyakinan. Saat kita putuskan untuk berhenti meyakini berarti berhenti berjuang dan padamnya sebuah semangat,jadi tetap yakin dan semangat yah” lanjutnya.

"Iya bener juga sih kamu, tuben pinter" ucapku sambil tertawa

"Dasar"

Setelah hampir satu jam ngomong panjang lebar sama Desi, aku menutup telponnya karena Desi udah pamit ngantuk dan kuping juga udah mulai panas. Semantara itu kulihat jam diponsel menunjukkan sudah tengah malam, Pak Rudi yang daritadi tidur di kasur sebelahku mendadak terbangun.

“Dy, Mak Kah yok, laper banget daritadi sore belum makan”Ujarnya sambil menggeliat.

“Udah makan tadi, makanya kelar kerja jangan langsung tidur pak, belum mandi lagi”.

“Cape makanya langsung tepar”

“Yudah sana”

Sekedar info, Mak Kah adalah pemilik warung makan kaki lima langganan kami yang menjual masakan khas desa,berada disebelah selatan perempatan kembang ijo, barangkali ada yang tau makanannya enak-enak mulai pecel hingga lodeh tersedia disini tapi sekarang pindah depannya pasar pramuka buka sore sampai jam 3 pagi. Kabarnya Makkah udah meninggal beberapa tahun lalu dan sekarang diterusin sama anaknya.

Pak Rudi berdiri meninggalkan aku dan Yudha yang sedang tidur, kemudian aku iseng mencari udara segar dibalkon mess yang menghadap langsung parkiran bawah dan jalan raya. Biasanya jam segini cewek-cewek clubbing pada belanja, ada yang sama temen sesama cewek ada juga yang sama om hidung belang, bukan merendahkan tapi begitulah kehidupan kota memang berat.

Aku menyandarkan kedua tanganku dipagar dan memandangi jalanan yang udah agak sepi meski ada beberapa yang lewat,Beberapa saat kemudian ada pengendara sepeda motor yang mendadak memotong jalan sebuah mobil sedan yang ada didepannya dan keduanya berhenti persis didepan toko.

“Nyari mati nih orang” Bathinku.

Masing-masing pengendara turun dari kendaraanya terlihat keduanya terlibat adu mulut hingga saling dorong, entah apa masalahnya tapi tidak lama kemudian keluar seorang wanita dari dalam mobil dan mencoba melerai keduanya dan menarik salah satu laki-laki tersebut untuk segera masuk kedalam mobil, disini yang bikin aku kaget dan salah fokus dalah wanita itu cuma memaki BH dan rok diatas lutut.
“Eh busyet rejeki ini mah, mana gede lagi”

Tidak lama setelah mereka pergi, aku kembali kedalam mess dan memutuskan untuk istirahat.
image-url-apps
Ane kira bakal nolong tau nya tidur 😁😪
Reply to kkaze22's post
image-url-apps
Maunya gitu,nolongin ceweknya biar ga kena amuk massa emoticon-Genit eh udah keburu pegi aja emoticon-Big Grin
×