alexa-tracking

Fast Lane

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b3c129edc06bdd2498b4567/fast-lane
Fast Lane
Semalam kamu aku hellohello nggak jawab - jawab, rupanya kamu ketiduran, aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati kembali ke Bandung sama co-pilotmu itu. Nanti kalau sudah di Bandung, aku bakal masak buat kamu. Sekalian aku kenalin kamu ke gebetan baruku.

Kalimat di atas itu adalah short message yang gue terima dari Quinza Vierello, gue benar benar ketiduran ya rupanya? lagi asyik ngobrolin soal zaman waktu SMA dulu rupanya gue melayang begitu cepat ke alam mimpi, and for the next thing, katanya dia mau ngenalin gue ke gebetan barunya, wih... boleh boleh.

Shit. Baru aja beberapa minggu yang lalu dia have fun sama gue. Sekarang dia sudah dapat gebetan baru lagi.

►♀◄


Terbangun di sekitar pagi hari membuat gue bisa melakukan banyak hal dulu, sebagai persiapan, seperti pagi itu, gue bisa beranjak dari ranjang, mandi, get dressed sesimpel mungkin, kemudian mencari minum, apapun itu selain soda, lalu kemudian sarapan di kafeteria hotel.

Sambil menikmati sarapan roti pagi itu di halaman kafe hotel Dei, gue memanggil salah seorang pramusaji pria untuk gue ajak duduk bersama dengan gue di meja makan gue, tujuannya untuk mengobrol, — gue mau cari informasi mengenai bagaimana nih caranya agar gue bisa balik ke Genova. Awalnya si pramusaji ini menolak karena aturannnya tidak boleh seperti itu, duduk dengan pengunjung kafe, tapi setelah gue paksa akhirnya dia menyanggupi permintaan gue.

Lagian santai aja kali, kayak zaman imperial aja. Setelah duduk dan ngobrol ngobrol sebentar, si pramusaji ini ngomong ke gue, "If you wanna go back to Genova, i could help you by calling the... Hotel dei Airport carter, but one of my...," kata si pramusaji itu sambil mikir ini dan itu.

Intinya ada dua layanan yang dia tawarkan kepada gue, layanan yang pertama adalah layanan yang bagus, yang biasanya banyak turis pakai kalau mereka berkunjung ke Portofino, mobilnya nggak jauh dari Lancia dan SUV lain pada umumnya. — Pelayanan yang kedua adalah milik temannya yang memang hobinya nganterin turis turis di Portofino, dia agak sungkan sama gue pas dia mau ngomong kalau mobil temannnya itu ternyata adalah sebuah FIAT. Kata gue, kenapa harus sungkan, lanjutkan aja, gue ingin dengar.

►♀◄


Gue suka heran sama orang Itali yang suka merasa kalau FIAT itu adalah mobil rendahan, hell, man, ini tuh salah satu manufaktur mobil tertua di Itali, show some respect lah please. Those Englishman i often see, juga banyak pakai mobil ini sebagai transportasi mereka disana, tapi jangan dibandingkan dengan Aston Martin ya. Beda jauh dong itu kelas nya. But yeah, i know right? the Italians loves Ferrari more than their FIAT.

Dan setelah berbincang cukup banyak, akhirnya gue deal sama si pramusaji ini untuk memilih layanan yang kedua, menaiki FIAT temannya, di bawah sinar matahari yang mulai terang ini, sekitar jam 10 pagi, gue meminta si pramusaji untuk membuat janji waktu pick up dengan temannya itu sekitar pukul 12 siang nanti.

Sebagai ucapan terima kasih dari gue, gue minta dia, si pramusaji ini, untuk antar Vespa coklat yang gue rental tempo hari itu kembali ke Piazza Vespa rent. Lengkap dengan beberapa lembar euro tambahan sebagai tip yang membuat dia langsung melompat dengan kegirangan.

►♀◄


Kembali ke kamar hotel, gue melihat ponsel gue dan menemukan pesan dari Mr. Eiffel yang mengucapkan terima kasih dan menunjukkan sebuah foto bahwa dia sedang menikmati liburannya bersama dengan Vee serta istrinya, entah kenapa gue jadi agak panik sendiri ketika melihat wajah Velyandra lagi, — bukan karena BDSM yang kami lakukan di malam hari itu, melainkan karena flashback sialan di moment yang hampir panas panasnya itu, harus tertunda karena you know, something complicated happens to my ass. (My brain, actually)

Kemudian update lain..., nggak terlalu penting sih. Jackie belum juga membalas pesan yang gue kirim satu hari yang lalu sama dia. Ada perasaan dongkol saat bokap kedua gue ini, tumben tumbennya nggak mau mengurus anak sekaligus ponakan tersayangnya ini, dulu sih memang saldo quality time kami hampir bisa dibilang, nggak terbantahkan, tapi sekarang, gue banyak sadar diri lah ya. To sum up, Papa memang irreplaceable.

In other words, i don't knoww what makes him so busy like that... Dan ya, gue cuma bisa banyak banyak bersabar di hari itu.

*tut...*

*tut......*

*Call connected*

"Are you awake, buddy?" tanya gue kepada Diwangka di pagi hari itu.

"Iya, udah Pal, baru mau mandi nih, habis main sama Vania."

"You lucky bastard! what about your lovely Kiandra?" sahut gue memprotes si Diwangka.

"Hello? Bukannya elo yang lebih beruntung ya?" jawabnya membencong kepada gue.

"Oh, Kia, biarinlah, cuma masa lalu gue itu."

"Hahahah, Tjokorda, Diwangka, Adhi, Dartha, you are an absolute bastard." tambah gue lagi pada dia.

"Gue lagi beres beres barang di hotel nih, ketemu di airport kirakira jam setengah tiga an lah ya?"

"Awkay, naik apa lo kesini?" tanya dia sama gue.

"FIAT." Jawab gue santai.

"Gue kira naik Ferrari," jawabnya meremehkan tumpangan gue. Ya, sudah bisa ditebak.

"Diw, please deh. Gue suruh si Imam Samudra pasang mainannya di halaman depan rumah lo baru tahu rasa lo diw."

"Awww~, jangan dong." jawabnya dengan logat kemayu.

"Hahahahaha." tawa gue meledak saat itu juga, Diwangka is such a morning jokes.

Dua jam sudah berlalu, gue dan segenap belanjaan gue yang tidak terlalu banyak ini sudah siap meninggalkan hotel, tetapi sebelum benar benar meninggalkan hotel, nggak lupa gue melehoy dulu sejenak menuju ke bar hotel ini, memesan dua botol Riesling yang super biasa (nggak spesial spesial amat) untuk diminum nanti, who the fuck knows? barangkali Dewinta mau curi curi lagi dari gue, gue sudah sediaken buat dia dan gengsi - gengsinya itu.

►♀◄


Nggak beberapa lama setelah itu, si pramusaji yang barusan ngobrol sama gue tadi menemui gue di bar hotel ini, doski bilang temannya yang bawa FIAT dan tukang antar orang itu sudah berada di depan hotel gue.

"Sirr, let me help you, and come meet my friend in front of the hotel." ujar dia yang kemudian membantu gue mengangkat beberapa barang yang gue bawa menuju pintu masuk hotel. Gue ingat sekali siang itu Portofino terlihat agak cerah, agak cerah ya, walaupun nggak bener bener cerah sih sebenarnya.

Setelah berada tepat di depan pintu masuk hotel ini, gue melihat mobil teman si pramusaji yang tukang antar orang itu, memperkenalkan gue kepada temannya, "Meet my friend, Marco." kata dia kemudian. — And i was like, anjrit! ini kah FIAT yang di gadang gadang jelek setengah mati itu? A roadster with some comfortable seat?

"Ciao signor, mi chiami Marco, pleasure to meet you. (Halo pak, nama saya Marco, senang bertemu dengan Anda.)"

Kemudian mereka bercakap cakap dalam bahasa Itali, dugaan gue si pramusaji, yang gue nggak tahu siapa namanya ini, menyuruh si Marco, untuk mengantarkan gue sampai ke bandara Genoa Cristoforo Colombo? tapi gue masih bengong setengah mati karena jujur, FIAT yang katanya jelek ini, malah membuat gue kembali bertanya kepada si pramusaji, "Hey, uh, are you sure, that this is my pick up service?"

"Si, sirr, serious," begitu, jawabnya singkat kepada gue.

"What is this, FIAT?" tanya gue kemudian.

"FIAT"

"Barchetta, signor." sambung si Marco menjelaskan tentang mobilnya kepada gue.

Alamak!

Nggak lama setelah itu gue langsung memasukkan barang bawaan gue kedalam roadster bajingan-super-keren yang satu ini. Bener bener tuhan sedang baik sama gue di siang hari itu, kedua anak muda Itali ini bener bener bikin gue kagum.

Selidik punya selidik, rupanya si Marco dan teman pramusajinya itu, i find out later that his name was Alex, adalah pemilik bisnis antar orang (turis) di sekitaran Portofino, dan Marco, dia cerita kalau tamutamu sekaligus penumpang yang biasanya memakai jasa mereka suka dibuat kaget karena ternyata jemputannya adalah FIAT Barchetta dan bukanlah FIAT seperti di film nya si alien yang bernama Rowan Atkinson itu.

►♀◄


Selama di perjalanan...,

"Marco, why did Italian loves Ferrari more than the FIAT?" tanya gue sama cool guy yang satu ini. Karena sumpah, gue masih penasaran.

"I think it's because Enzo signor, Everybody like Enzo. Italian love enzo so much."

"Ferrari is the true pride of Italian cars." sambungnya lagi.

Oh, ternyata. Ini menjelaskan kenapa orang orang Itali yang mendukung Michael Schumacher (Pembalap Formula One untuk tim Scuderia Ferarri) di Monaco Grand Prix pada era 90an itu nggak sebatas mendukung Schumacher saja, tetapi lebih karena mereka menyenanginya karena mobil buatan negeri mereka itu, Ferrari, hampir selalu bisa memenangkan ajang Grand Prix tersebut. Question answered deh kalau begitu. Kemudian gue berkata, "You know what, Marco, kalau elo datang ke negara gue, elo pasti akan di sukai oleh banyak sekali gadis Indonesia~"

"Yang bener, signorr?" tanya dia seolah nggak percaya sama gue.

Iya, tapi elo harus bawa Ferrari dulu. Karena kalau elo nggak bawa, lo bakal dikira bule kampung yang lagi kesasar di Indonesia.

Jahat banget ya jawabannya, but that's the truth sometimes. Dan gue nggak jawab seperti itu karena gue yakin manusia manapun tidak suka jawaban seperti itu.

"Yeah, benar. You should go to Indonesia. For a culture exchange, i bet you'll love it. Many Indonesian loves fettucine and spaghetti, you know." dan, itulah kalimat selanjutnya yang gue keluarkan untuk Marco.

"Good, signorr!" jawabnya girang sambil tetap menyetir.

"So which one do you think is the best spaghetti restaurant in Portofino?" kemudian dilanjutkan dengan gue bertanya lagi mengenai restoran mana yang enak, kalikali gue mau balik lagi ke Portofino bareng teman teman gue. Pizza atau spaghetti adalah salah satu menu utama khas/asli a la Italia yang patut untuk di coba.

►♀◄


Setibanya pada titik drop off di bandara Cristoforo Colombo, "Thank you very much, signorr Ashburn!" Marco berteriak dari luar, berdiri tepat di sebelah pintu mobilnya, sambil gue melambai menjauhi anak muda yang berasal dari Portofino itu, gue pergi meninggalkan dia bersama dengan beberapa barang yang gue bawa dari Portofino.

Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicara seperti ini, karena kalau di dunia penerbangan,

Apapun aircraft nya, yang penting turbine engine nya tidak mati saat kita sedang mengudara di atas ketinggian 50 ribu kaki. — Sekarang kalau dihitung hitung, jam 12 siang barusan gue berangkat dari Portofino, dan kini gue tiba disini pada pukul 1 siang lebih sedikit. Benar benar lebih cepat dari yang gue janjikan sama bro Diwangka.

* * * * *


Quote:
Reserved
Preferably reserved.
KASKUS Ads
Selepas Marco pergi meninggalkan gue, gue kembali berjalan menuju ke hotel yang sejak semula sudah gue tempati ketika gue tiba di Genova ini sekitar dua hari yang lalu. Setelah itu gue mengeluarkan ponsel gue dan mulai menelfon Diwangka,

"Halo, Diw, gue udah di airport, kemarin check-in di kamar nomor berapa? Gue lupa." tanya gue kebingungan kepada Diwangka.

Dilanjutkan dengan Diwangka yang malah kembali bertanya kepada gue, "Eh, kok udah nyampe lagi lo Pal? Gue lagi di luar, secepatnya gue temui elo."

"Come on, speed it up Diw." Pinta gue pada dia, menyuruh Diwangka agar kembali ke hotel ini lebih cepat lagi.

"Oh ya udah kalau gitu, gue ke hotel sekarang ya." sahut Diwangka merespon tanggapan gue dengan suara yang mirip betul kayak salah satu host di Jakarta itu, yang pernah bawain acara ceriwis sama mbak Indy B@rends itu.

Gue lanjut berjalan ke lobi hotel, sambil menunggu, gue, seperti biasa yang selalu gue lakukan kalau sedang bosan menantikan sesuatu, akan memasang sepasang earbuds di kuping gue dan mulai menonton film Janji Joni, hahahaha. Film ini sudah gue download ke ponsel gue terlebih dulu sebelumnya. Kelihatan banget ya generasi old-nya? Hehehe. Buat adik adik zaman now yang penasaran sama film nya, bisa di google. Rame kok film nya itu.

►♀◄

Saat sedang asyik asyiknya memperhatikan sosok Marian@ Dantec tampil di awal film ini, gue menyadari bahwa ada seseorang yang menepuk bahu gue dari belakang, "Hey..."

Oh, didiw. Sadar gue cepat.

"Eh, diw." sahut gue lalu menoleh ke arahnya.

Kemudian diwangka dengan jaket Adidas windbreaker berwarna biru muda dan cotton pantspanjang berwarna khaki nya langsung berjongkok di depan gue, di saat gue sedang duduk di salah satu sofa pada lobi hotel ini, "Akhir tahun asem banget muka lo... Ada apa bro...." ucapnya lemah, dengan nada gay nya yang penuh akan perhatian dan kasih sayang itu mulai keluar lagi...

"Diw!?” gue terkaget kaget.

“Ngapain jongkok depan gue, sini duduk di sebelah gue." bisik gue malu, takutnya ada yang ngira aneh aneh, man.

"Hahahahaha, oukey." ucapnya kemudian berpindah, yang sekarang menjadi duduk di sebelah kiri gue.

"Kenapa, Pal?" tanya Diwangka, rasa rasanya dia memang penasaran setelah melihat ekpressi wajah yang gue tampilkan. Baca= gue lagi kayak orang yang telat mikir.

Gue duduk, hanya diam doang, gue nggak ngerti mau ngapain di momen momen kayak begitu, yang jelas, gue paham betul ada sesuatu yang lagi nggak beres di kepala gue, ... mengenai apa apanya, nanti aja gue pikirin lagi..

"Pal... need i explain some airlaw so that you could wake up?" tanya Diwangka berusaha berkomunikasi dengan diri gue. Gue ingat itu orang ngomong pakai memutar mutar kepalan tangan nya, udah kayak Obama kalau lagi ngasih speech aja lo Diw..

"Hey, sadar, Pal," tepuk dia tepat ke bahu kiri gue, agak sedikit keras tepukannya itu. Didiw berhasil membangunkan gue dari lamunan murah meriah yang gue alami beberapa detik lalu.

"Diw, ayo, kita berangkat," ajak gue secara tiba tiba setelah gue sadar, sumringah sekali rasanya gue pada saat itu, sambil senyum senyum sendiri.., mengingat gue akan dikenalkan dengan gebetan nya Q, kalian perlu tahu, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, pertama, Q bisa menggaet cowok sebagai gebetan dia, alright, itu sih biasa. Tapi pernah di waktu itu, Q menggaet cewek sebagai gebetan nya, this is rad! and it's really happening!

Gue sempat kaget, gue kira Q murni 100% hetero, rupanya enggak, dong.. melihat peluang seperti itu, gue nggak banyak cakap, langsung aja... kita kita three...

Hal selanjutnya silahkan dibayangkan sendiri bro.

►♀◄

"Bentar dulu ya, gue nggak mau kita takeoff kalau lo masih kayak tadi, lo denger nggak... tadi gue ngomong apaaa?" ucap Diwangka yang ternyata masih ngotot kepada gue, "Lo itu ngelamun, nggak nyaman gue rasanya terbang kalau lo nge blank kayak barusan itu," tambahnya lagi.

"Gue denger, Diw, nggak perlu dijelasin lagi, udah, man, ayok, kita bergegas," ajak gue lagi.

"Hahahahah, Palma... Palma.., klasik lo ya, bergegas, kayak apa aja." sahut Diwangka diplomatis.

"Asli mannn, c'monn," respon gue asyik sambil tersenyum simpul.

"Tapi jangan zone out lagi lo ya?" ancam Diwangka ringan kepada gue.

"Oh ya?" respon gue agak agak terkejut gitu.

"Nggak lagi lagi, man," tambah gue sambil meghempaskan punggung gue di sofa ini, lalu menoleh, menatap ringan bro Diwangka.

"Nggak lagi lagi, nggak lagi lagi, penyakit lo itu kan emang begitu Pal... a flyman's only friend is his concentration, so if you lost it, i need you to get it back," kritik Diwangka pedas terhadap gue. Okay, kritik itu memang pedas ya.

"Diw, you don't piss me off at this kind of hour," kata gue dengan nada yang agak agaknya.. terlalu serius.

"Oh why not," tantang Diwangka nada belagu nya. Nada nada a la anak agung begini nih yang kadang suka bikin gue mual, hahahaha.

"..... when we lost the comms, who the fuck cries in that tiny galleys," terang gue dengan suara yang dalam dan tatapan yang mendadak tajam.

"Hahahahahaha, jeez, dude," tawa Diwangka keluar lagi di sore hari itu.

"I ain't flying another propeller, nor a boeing," lanjut gue memacu emosi.

"I fly a fucking raptor if it necessary," tambah gue semakin serius.

"So you wouldn't question my.. credibility,"

"So when the lightning comes, you will not—

“Palma, stop dong...," ucap dia lemas, memotong perkataan gue.

"Hahah, emang enak...," sindir gue renyah.

"Ampun, Captain!" sanggahnya menyerah.

"Ya nggak enak, Pal, makanya gue minta elo selalu dalam fokus lo.., lagian tugas gue kan cuma mengecek kondisi kejiwaan elo tiap kali kita mau terbang.." jelas Didiw begitu diplomatis.

"Hargailah usaha gue..." keluhnya mantap.

"Well then, thank you, my brother, my friend, my everything, i love you," ucap gue mantap.

"Love you too"

"Enggak pakai cium pipi, Diw, man up bro!" seru gue mencegah bibir Diwangka ketika dia ingin mencium pipi gue, kemudian gue langsung berdiri dari sofa yang gue duduki ini. "Let's fly man," ujar gue memberi komando.

"Oke, ikut gue.." ucapnya penuh dengan gaya, lalu gue mengekor berjalan dibelakang dia, langkahnya yang atletis dan agak gemulai itu—kalau biasa hang out sama gay, (in this case, Diwangka sudah nggak begitu gay lagi, kalaupun gay nya kumat lagi, bukan urusan gue) kalian pasti tahu yang kayak begitu udah bukan hal yang aneh lagi.

►♀◄

"Itu podpal cakep juga ya," pujinya kepada benda itu.

"Entar entar gue mau upgrade ah," ucap Diwangka lagi saat kami berdua sedang membereskan masing masing koper kami didalam kamar hotel, gue diam nggak bergeming.

"Diw, gitu aja lo?" ucap gue singkat sambil membelakangi Didiw.

"Begitu gimana," tanya dia lagi, agak kebingungan.

Gue berbalik badan dan menunjuk ke arah tubuhnya yang bidang itu, "Tuh, setelan lo," obrol gue santai.

"Iya, kali kali lah, eksentrik dikit," jawabnya sedikit beralasan.

"Aight," jawab gue ringan.

"Lo, gimana?" tanya Didiw balik kepada gue.

"Gini aman, me and leroy brown," jawab gue sambil menunjukkan kaus coklat yang terpasang pada tubuh gue ini.

"Selalu ya....." balasnya mencibir ringan kebiasaan gue.

Dalam pikiran gue, ada suatu rencana yang nanti, bakal gue omongin ke si Didiw, cuma, nanti aja, karena kalau itu rencana diomongin nya sekarang, bisa ditolak mentah mentah rencana gue sama dia.

►♀◄

"Registry?" tanya seorang officer di bandara Cristoforo ini.

"Buona sera, yes," ucap gue ramah.

"Oh come on, not even on the peak hours, you fussy sicillians," bisik Didiw pada gue, didekat kuping gue, tepat di hadapan petugas bandara ini. Dia mengeluhkan bahwa kami harus selalu melalui proses administrasi seperti ini, padahal bandara juga tidak sedang pada jam puncak nya.

"Attitude, Diw," warning gue cekatan.

"Five Seven One Golden Delta," beber gue kemudian, cepat dalam menjelaskan plate number dari aircraft milik kami.

"Terminal two and hangar number four?" tanya dia yang kini sudah mengenali pesawat kami pada checkboard yang dipegang nya itu.

"Yes," jawab gue singkat.

"No issue, good to go," jawab petugas itu lagi.

"Thanks, ciao Mussolini," jawab gue lalu cabut nggak karuan, menjauh dari si petugas sialan itu.

"Hahahahahahaha, si Palma, lo tuh ya, anjing banget tau nggak, bilang bilang ke gue attitude², lo sendiri nggak sopan banget sama itu orang," setelah berhasil mengejar gue, Duwangka memprotes kelakuan gue terhadap petugas itu.

"Anyway no issue ya, emang udah ada orang dalem yang ngurus?" tanya Diwangka sambil menggenggam sebagian punggung gue.

"Orang dalem apaan, itu kemarin gue yang ngurus, Diw," ucap gue memprotesnya ringan.

“Kapan?” tanya dia ragu.

“Yang malam malam itu bangshad,” ungkap gue beringas.

"Hahahah, my friend Palma..., not even a regular Joe, i'm pretty sure that you must be blessed by the allfather," candanya agak agak serius gitu.

"Hahahaha, norak lo tahi," canda gue balik sama Didiw.. and that afternoon..., just the two of us, walking smoothly in the tarmac, talkin’ good, seein’ the sunset on European's most (eventho it's not, let's be grateful here) beautiful landscape.

***

Setelah kami berhasil taxiing dan meminta clearance,

"Airspeed alive," kata gue gesit.

"Checked," ucap Diwangka.

"Flaps up," ucap gue.

“Checked.” tambahnya lagi.

"Let's fly~"


image-url-apps
Reserved

Don't know why

image-url-apps
"Us flyers have a personal fear that makes us stop piloting the plane, it's not the storm that gets in our way, nor the murky, big-sized anvil clouds that smite us like a little prey," terang bokap di sore hari itu, dirumah kami, semua lagi pada kumpul, kebetulan kami lagi selebrasi ulang tahun pernikahan Papa dan Ibu yang ke enam belas.

"On the next morning. It's the fear of not seeing the smile of your family members." omong bokap lagi, saat dia menyudahi sesi sok bijaksana nya di sore hari itu. Gue ingat persis, Dee udah setengah mati waktu dia lagi ngedengerin kiasan super keren a la bokap gue, dia pasang mata, telinga, dan semuanya yang mau dia pasang waktu itu.

Terus... gimana dengan gue? halah, gue menganggap hal ini biasa biasa aja, gue kalau ditanya lebih jauh lagi, bakalan menjawab bahwa gue enggak tertarik sama sekali sama dengan hal hal yang berhubungan dengan aviasi, kayak the nature of air, dan yang lain lain nya. Big NO for me.

Apalagi ngobrolin tentang suatu masa dimana Papa masih bekerja untuk sebuah commercial airlines. Gue kadang sampai ngantuk saat mendengarkan nya, karena jujur, obrolan nya itu rigid dan penuh dengan penjelasan mengenai standar standar seputar dia dan perusahaan nya. Dan gue paling mual kalau sudah diminta mendengarkan betapa kerennya ketika Papa melakukan pitching airbus nya di saat dia mengudara diatas gunung superstisi.

For fuck sake, Pa!

...kalau bicara mengenai hubungan antar kru pesawat, seperti cabin crew yang naksir sama pilot in command atau first officers nya, itu hanyalah obrolan bonus. Too bad my old man didn't do the naughty stuff. Kalau enggak, gue mungkin tidak akan pernah bisa merasakan atmosfir dari keluarga harmonis seperti yang gue miliki dalam hidup gue. I bet, everyone does, envy this shit, dan gue akan memperjuangkan nya sampai kapanpun... sebisa mungkin...

Imagine kalau bokap gue berselingkuh, atau nyokap gue juga.. hell, man. Mungkin kelakuan gue nggak akan jauh dari hal yang seperti itu juga. Tetapi mereka tidak berlaku seperti itu, makanya kalau gue nggak pegang satu wanita dalam hidup gue, bisa dibayangkan betapa malunya diri gue kalau tidak satu jejak seperti mereka, seperti Papa dan Ibu. Mau ditaruh dimana wajah gue, man, kalau gue ketahuan selingkuh setelah menikah. Tetapi selagi belum menikah, puas puaskan dulu... lah.

In other words, i also think, that nothing beats this one. Gue, lebih tertarik untuk menjadi seorang tentara atau orang yang bekerja, dan mengabdi untuk negara, nggak pakai basa basi lagi, man, militer adalah dunia yang pantas buat orang yang perlu dididik seperti gue ini, dan menjadi tentara adalah bentuk pekerjaan nya.

Gun and bullets, that's me! Holding Les Baer had always been more cool for me than stirring the yoke of an old, trashy Piper. Di sisi lain, gue selalu dipengaruhi oleh adik adiknya Ibu yang bergabung ke dalam komando pasukan khusus, serta Amangnya Axel, camkan kata kata gue disini. Gue ingin jadi tentara, benar benar ingin, jadi tentara.

Tapi Papa selalu menawarkan gue suatu opsi yang enggak bisa gue lewatkan begitu aja, seperti, "Good wage, big uses of services, some lovely girl onboard, unlike a soldier, waste nothing of your time, that wasn't my expertise, nak... I can't support you," begitu, kalau kata Papa.

Speaking of becoming a soldier in New Zealand, and in this country, or starting a career in that profession. Di NZ, Papa didn't give a sh*t about being a soldier. Sedangkan di negeri kita? gue diketawain habis habisan sama Ibu, katanya begini, "Anak Ibu mau jadi AL, kamu itu nyium bau laut aja langsung nyari nyari Seldane, (sejenis obat mabuk laut) gimana mau jadi AL? hahah~" lalu setelah itu, ada suara ketawa Dewinta yang kecil, dan hampir nggak terdengar, namun bernada meremehkan.

"Something funny, Dee?" sewot gue sama Dewinta.

"Gak, nggak," jawabnya cepat, gue tahu bahwa tadi dia itu cuma pura pura aja. Waktu itu, kami baru pulang sekolah, Dee lebih duluan sampai dirumah gue. One thing that i always remember, adalah ketika masih SMA, Dewinta selalu pakai seragam putih abu abu, sedang gue enggak pernah mendapatkan kesempatan untuk mencicipi seragam SMA negeri, padahal kan gue kepingin banget pakai seragam putih abu abu :-( dan ya, kita beda SMA.

Ini, warna seragam gue malah warna biru semua, bener bener nggak jelas sekolah gue ini. Kan kalau dilihat sama orang orang, gue jadi mirip kayak petugas pemadam kebakaran, tapi sama nyala api secuil aja gue takut luar biasa, gimana mau jadi petugas pemadam kebakarann?

***

Balik lagi ke sore hari itu, gue lanjut ngomong sama Dewinta, "Then what's with the giggle?" tanya gue lagi, mengundang dia biar dia mau ngomong.

"Gak ada, gak ada," jawabnya nggak mau ngaku. Semenit kemudian, dia ngomong lagi, "Ada sih, tapi aku nggak mau kasih tau kamu," sebut Dewinta sambil menutup nutup mulutnya sendiri pakai tangan dia.

"Hey..." kemudian gue secara konstan langsung menggelitik perutnya.

"PALMAAAA!" teriaknya kencang, sampai Ibu jadi heran saat dia memperhatikan tingkah laku kami berdua.
"Stop, stop," pintanya biar gue berhenti menggelitik dia.

"Not until you tell me what's so funnyyy," jawab gue enggan berhenti menggelitik dia.

"Iyaa, iyaaa,"
"Stopph it!!" tegas Dewinta akhirnya, dia menyerah.

"Okay, heheh," ucap gue lalu terkekeh santai. Seketika, Dee langsung membisikkan sesuatu dekat ke kuping gue, "Kamu itu cocok nya jadi calo yang suka nawar nawarin jasa didepan kantor pengadilan itu, kamu tuh ga cocok jadi tentara, abisnya kamu lemah, huek, jari kamu aja lentik kayak anak cewek," jelasnya bikin gue gemas sama dia.

"Oh aku tau Pal.. kamu cocok deh jadi pornography historian, kayak yang waktu itu aku tonton di A Day of History itulohh, hahahahahah~" tawanya panjang dan asyik sendiri. Sialan banget memang ya.

"Dewintaa..." pancing gue panjang sambil menampilkan wajah cabul ke arah dia.

"Palma..." balasnya sambil menggoda balik diri gue.

"AHHHHHHH!" jeritnya pecah.
"Ampun, ampun," makin kuat gue menggelitik dia.
"Palma, udah, udah,"
"Pal, Palm, Palmah!"
"Ga kuattttt!" jerit dia histeris.

"Hey, Palma, udah, berhenti ah, nggak bagus, masa anaknya tante Widy kamu gelitikin terus, tuh liat, sampe keluar air matanya Dedew," protes Ibu yang sempat lewat di depan kami.

"Yang bener buu?" sanggah gue kaget.

"Iya, tuh, liat," tunjuk ibu dengan dagunya, gue sempat melirik, di dalam rumah, Papa ada tersenyum diam diam.

"Duh, eh, Dee, sorry ya..." ucap gue pura pura nyesel.
"Abisnya, bu, dia bilang jari aku lentik sih bu...," keluh gue membela diri gue sendiri.

"Huu..." desah Dewinta sambil ngos ngosan sekali nafasnya itu.

"Lah, memang iya kan? jarimu tuh lentik, nurun dari diriku," sombong ibu didepan gue.

"Iya tante, hihih," tanggap Dewinta secara tiba tiba kepada ibu.

"Nah, iya khan?" timpal ibu kemudian pergi berlalu, meninggalkan kami berdua.

Setelah Ibu meninggalkan kami, gue mendekat dan ngomong sama Dewinta, "Hey, no need to tease me," obrol gue yang akhirnya jadi merasa kesal juga.

"Iya iya... ih, kamu tuh ya, harum banget tau nggak, pake shampoo apa sih?" tanya Dee, mengalihkan topik.

"Yang biasa, pake Greyl," jawab gue polos.

"Ih, harum, sini sini, aku cium dong," pintanya penasaran, lalu dari tempat gue duduk, bersebelahan sama dia, gue lebih mendekat lagi.

Tiba tiba... pletak!

"Hahahah.., rasain," ucapnya belagu setelah dia berhasil menjitak kepala gue.

Oh, not again.

"Monyet!" seru gue sambil mengusap usap kepala gue sendiri, karena jurus pamungkas nya si Deedee itu sakit luar biasa.


Mari kita sedikit berspekulasi disini, andaikan gue tidak bekerja sebagai kuli aviasi seperti ini, seperti yang sekarang gue lakukan ini.. I don't know, mungkin gue sudah masuk akademi militer dan terikat didalamnya, menjalankan sebuah tugas yang diberikan oleh negara, dan yang paling asyik adalah, gue bisa memegang Hackler and Koch, sebuah rifle, tentu saja, atau Kalashnikov, atau Pindad, minimal, dan mulai menembak nembak segala macam living creature sesuka hati gue. Bisa hewan, bisa manusia. HA HA HA HA HA. Okay, nuff' with this crap.

Tapi kan gue enggak... gue malah menjadi seseorang yang pagi, siang, atau sore harinya berada didalam sebuah ruangan sempit, berkomunikasi melalui radio, menerbangkan seekor burung besi—dua, tiga, hingga enam belas jam maksimal dalam satu waktu berada di captain seat, bertugas, serta bertanggung jawab atas hidup beberapa orang selama berada di udara.

Memberikan senyum, menyapa, lalu mengantar mereka hingga mereka selamat sampai di tempat tujuan. Satu poin terakhir, bahwa nyawa, adalah taruhan nya... eventhough now, the supersonic jet is everywhere, making it easier to fly however you want, whenever you want—preventing aircraft incident (engine loss, gas leak, or some freaking junior who left the door unclogged) happening during the air travel occurs.

Karena saat ini sudah tidak seperti yang gue impikan, yaitu menjadi seorang tentara. Maka.. gue harus mengubur hidup hidup mimpi gue dalam mendapat pendidikan a la militer, atau membawa senjata dan berlayar di lautan lepas, atau terlihat keren seperti prajurit - prajurit di film Full Metal Jacket itu.

***

"Kamu cobain dulu deh Pal... jadi Co-Pilot nya Papa mu, on flight bareng, kan kemarin juga Papa mu baru ada offer baru lagi tuh, percaya deh, gak semuanya tentang hal itu, ngebosenin, aku sih gak maksa, so did everyone, tapi kan lebih gampang aja kalau ada yang langsung jadi mentor kamu pas dia lagi nugas..." ucap Dewinta sebelum gue kembali memutuskan untuk pindah kembali ke Rotorua saat menginjak bangku akhir di sekolah menengah keatas.

***

"Hey, flying is easy, the reality wasn't," ucap gue mengakhiri perbincangan kami di kebun belakang rumah gue, di syore hari itu. Dan dua kalimat sialan itu? masih gue ingat sampai detik ini.

image-url-apps
Reserved
image-url-apps
Reserved
image-url-apps
"Diw," ucap gue kalem.
"Sorry, sorryyy banget," tambah gue lagi.
"Gue harus ngomong ini.., sekalian, gue mau minta tolong ke elo juga Diw..," tukas gue lagi, sambil menepuk ringan tangan kanan nya, menaik naikkan salah satu alis gue. This is it, rencana yang akan gue bicarakan sama Diwangka. Rencana apakah itu, lihat nanti, ya.

"Ada apa bro?" tanya dia singkat lalu menoleh kearah gue, kami berdua masih berada didalam kokpit jet yang menjadi teman dalam penerbangan kami. Nine hours in the air, taking off at six in the afternoon and then landing at two at the predawn, tidak tepat, karena sudah memasuki zona waktu kolkata. Unit dari gulfstream aero memang selalu menjadi median, apa ya bahasanya, semacam, opsi aman buat gue di saat saat itu.. beda dengan mas Marshall yang biasa bawa Citation, memang sih.. lebih elok, tapi mau gimana lagi.. gue sudah terlanjur jatuh cinta dengan Honeywell nya gulfstream. Besides, they got that primus epic plane view, man.

Dan Didiw sih enak, pas masuk midpoint (meridian distance between Cristoforo and Gandhi, Delhi) dia tidur nyenyaaak sekali, gue bawa sampai jam sepuluh malam, pas, barulah, setelah itu, gue serahkan kendali kapal sama dia, kan dia yang kebagian giliran jadi kuli tengah malam.. gue, lewat jam sepuluh malam, patut dipertanyakan kesadaran nya.

Setelah itu... gue lanjut ngomong lagi ke Diwangka, "Diw, ini si Malone, lo bawa dia solo sampe ke Juanda yah.. bisa kan?" terang gue langsung to the point. Waktu itu kalau pulang kami biasa taruh di sana buat perawatan kapal maskapai kami, tapi belakangan ini sudah banyak kapal yang dipindah ke Pranoto, stand by disana.

"Ah anjing... kebiasaan," keluh Diwangka lemas, lalu dia seolah menjatuhkan kepalanya.

"Maaf Diw, maksud gue, lo nggak wajib langsung en route juga kesana nya..." tukas gue santai.

"Asem..."
"Sebentar," ucapnya berhenti sesaat.
"Iya, asem Pal..." sambungnya lagi.

"Hahahahahah!" tawa gue agak melebar mendengar Didiw menjawab kayak begitu.

"Lo kayaknya lagi rusak banget ya, ngagetin gue banget sih ini, kenapa nggak ngomong dari tempo hari aja," celetuknya sebal sama gue.

"Hahah, sorry.., banget. Gue ada perlu man," terang gue sambil cengengesan.

"Ada urusan apa sampai gue kudu solo begini Pal.." tanya Diwangka sambil agak menggerutu.

"Gue mau ketemu sama..." obrol gue menggantungkan jawaban gue.

***

This is a long road... in two o' thirteen, but i had it done in a very smooth way. Dari jawaban gue yang menggantung itu, gue kembali ngomong sama Diwangka, "Karena kita udah biasa nih Diw.., i'll make it straight, gue mau ke Sydney terus lanjut ke Rotorua, man. Gue mau ketemu Jackie, Olly, sekaligus temen temen gue disana..," belum selesai bicara, omongan gue sudah langsung dipotong sama dia, "Yesss!" seru Diwangka antusias.

"What the heck, man!?" kaget gue, karena melihat ekspressi Didiw yang sontak kayak begitu. Not so long after that, dia masih ngomong yes, yes, yes. Kayak orang gila, kalau diperhatikan. Membuat gue makin heran sama dia, "Hey, Diw, kenapa lo?" tanya gue bingung. Saat itu kami berdua masih berada didalam kokpit, dan langit dini hari dari landasan terbang Gandhi di New Delhi pada waktu itupun nampak sangat gelap.

"Eh?" dia mendelik ke arah gue, what the fuck, baru sadar nih orang?

"Kenapa lo?" tanya gue kritis sama reaksi yang ditampilkannya itu.

"Ikut dong, ke sana," jawabnya enteng.

"On what purpose lo mau ikut ke Rotorua?," tanya gue lagi, agak agak sedikit penasaran sama keinginan nya yang tiba tiba kepengin ikut ke Rotorua.

"Ya gue mau ikut aja kali Pal..." ungkapnya bernegosiasi sama gue. Karena gue perlu Didiw kembali ke Juanda, makanya gue tanya tujuan dia ke Rotorua itu mau ngapain, ternyata alasannya nggak kuat, ya udah, inilah respon yang gue keluarkan... "Oh, gue tau..., ah, dasar gaylord, bilang aja mau ke CC, mulai lagi yeppp, hahahaha," pungkas gue singkat dan sangat, sangat intuitif.

"Eee, ketawan..." jawabnya sambil mengeluarkan satu cengiran menggelikan a la dirinya itu.

"Diw, i'm not gonna argue with you, itu urusan mau ke CC bisa di atur nanti lah ya, sekarang.. ini gue minta tolong banget sama elo.. gue butuh elo buat bawa si Malone ke Juanda, nanti setelah itu, lo mau bawa Encore nya Astrid, Hebdo nya mas Marshall ke CC kek, terserah lo Diw, kita tutup booking soalnya November ini," gue menjelaskannya diplomatis pada Diwangka.

"Beneran gue boleh bawa si Hebdo?" potong Didiw cepat, wajahnya seolah nggak percaya.

"Nggak bohong kan bli?" tanya dia mengkonfirmasi.

"Nggak, Diw, my man..."
"Eh, manggil gue bli lo barusan?" cegat gue tersadar.

"Makasihhhhh!" ungkapnya bersyukur.
"Iya, maaf maaf Pal," kata Diwangka kalem.

"Hahah, relax²," omong gue simpel.
"Alright ya Diw, bilang aja disuruh Palma pinjam, nobody shall hinder your request, kecuali Astrid kali ya, kalau dia nggak mau, ya udah, ngalah aja." Setelah itu, gue mengusap wajah gue perlahan, argh.. harus terbangun pada pukul dua dini hari itu... benar benar nggak sering gue lakukan.

"We good?," ucap gue santai.

"Good," jawab Didiw mantap mengkonfirmasi.

"And uh.., i change my mind, Diw, you aren't going solo, the weather's unrest, biar nanti gue kontak Prakeesh, yah, (Prakeesh, pilot kita² juga yang ditugaskan di HQ Delhi) ya udah, sekarang kita cari kamar dulu aja. Let's get the fuck out, man," ucap gue lalu berjalan ke belakang flight desk, crossing the galleys dan mengambil barang barang bawaan gue dari Genova, kemudian meng-absen lagi satu per satu barang bawaan gue.

"Loro Piana.. checked." ucap gue memulai absensi nya.
"This little twitter... checked."
"Luggage, Riesling, checked,"
"Aight, i'm good," ucap gue setelah melakukan absensi sendiri... setelah itu gue kembali mengajak Diwangka, "Diw, ayooo," teriak gue dari passengers cabin. Karena lama dan nggak keluar² juga dari kokpit, gue menumpahkan semua barang bawaan gue di salah satu kursi penumpang dan kembali masuk ke dalam kokpit. Disana gue menemukan Didiw sedang asyik bermain snapchat—dengan seseorang yang nggak terlalu gue kenal, dan kalau dilihat sekilas, itu seorang laki laki.

"Udah cepetan monyet, nanti lagi aja itu texting nya," todong gue ke bahu kiri Diwangka.

"Eh, iya, iya, ayo ayo," respon nya kaget, lalu Didiw segera beranjak dari kursi yang didudukinya. Kemudian kami lanjut membereskan semua yang belum kami selesaikan, yang jelas, semua instrumen di dalam flight desk sudah dipadamkan jauh sebelum gue melangkah dari situ.

***

Saat sudah berjalan di landasan terbang, gue ingat Didiw sempat mengajak gue ngobrol lagi, dia bilang... "Pal, makasih banyak nih ya udah mau sharing sesuatu yang personal, gue jadi inget, gue pernah bilang sama temen² di Blu—kalau Palma ngasih tau urusan pribadinya sama kalian, itu artinya cobalah untuk lebih menghargai dia, privasi, salah satunya, jadi jangan paksa paksa kalau Palma nya memang nggak mau sharing sama kalian... berilah dia jarak..," ucap Diwangka sambil berjalan bersama gue di bawah gelapnya dini hari itu.

"........"

"Pal?"
"Kok diem doang lo?" tanya Didiw heran.

"........."

"I'm sleepy, Diw," jawab gue lemah.

"Aw cyinnn, percuma deh gue ngomong panjang lebar barusan." logatnya membencong.

"Heheh.." dan gue pun hanya bisa terkekeh singkat. Sial, gue ngantuk banget...

***

Everyone is unique, gue percaya itu, ah, salah, gue nggak sekadar percaya, kalau kalian tahu, karena realita nya, setiap orang memanglah unik, seperti Didiw, contohnya, yang kadang menjadi pertanyaan buat gue, kenapa, kok Didiw, bisa suka sama laki laki? padahal kan, dia, laki laki?

Simple question namun rupanya enggak selalu bisa dijawab dengan simple answer. Gue enggak pernah ambil pusing soal hal demikian, gue justru kagum, ada satu yang beda sendiri hahahaha, shit, Diw. Gue pernah bilang sama diri gue sendiri, mau suka sama laki, suka sama perempuan, suka sama lawan jenis, i don't give a fuck. Gue bukan seorang psikolog klinis yang bisa menganalisa behavior individu tertentu gitu, soalnya. All i know is, are my plane refueled good? are i experiencing a dual flameout during the mid-air? well then if i do. Suck, fuck, and let's pray together to whoever holds the strongest force in this universe.


image-url-apps
Bump.
image-url-apps



"In every man, when he met another man, there's a chance, always—a chance, to choose, whether he want to be an alpha, or, an omega in role."

Gue pernah mendengar kalimat tersebut bukan dari Papa, bukan dari Ibu, bukan dari Dewinta, Didiw, Axel, Q, Freya, Endro, Hasan, Ara, Dimas, Dhika, Tunggadewi, kerabat atau rekan rekan gue yang lainnya—juga bukan belakangan ini. Bukan... kalimat itu gue dengar di sebuah foster care, udah lamaa banget, ketika gue masih diminta untuk datang kesana oleh Ibu dan Papa, foster care ini adalah rumah kedua buat gue, simpelnya... Papa dan Ibu terlalu sibuk dengan seeegala macam urusan serta pekerjaan mereka, sampai sampai mereka harus menitipkan gue di sebuah foster care di Bandung.

Reasons behind why... Ibu dan Papa nggak mau tidak punya rencana sama sekali buat diri gue adalah karena mereka takut gue menjadi bandel dan nggak terkendali, terlibat dan terjerumus ke dalam hal yang tidak pantas untuk anak umur segitu. Nyatanya? gue bandel, itu satu ya.. dan gue bisa lihat hal seperti ini hampir terjadi pada kebanyakan orang tua, problem nya satu; terlalu cemas sama anak, padahal? nggak perlu.

Kedua, walaupun ada di foster care, yang notabene nya anak anak baik semua, skenario nya berubah ketika ada Axel, Ara dan Leo (ini Leo rusak banget pokoknya) yang lebih bandel lagi daripada gue—mampir ke tempat itu. Tepat jam 1 siang, Axel biasanya sudah menginjakkan kaki disana.

Gue, sehabis pulang sekolah, biasanya langsung diculik sama Ibu (atau kalau enggak, ibu nyuruh driver gue) buat dititipkan disana. Pulang sekolah jam 12 siang, pas lagi bosen bosen nya, tuh, ya, si Axel datang ke tempat gue. Terus, disana ngapain?

Merusuh..

Axel hobi banget nyogok petugas foster care disini, biar tutup mulut, nggak lapor ke Ibu gue, dia juga jago ngomong sama orang orang dewasa disini... si Axel, datang datang bawa makanan enak, terus jadi sok ramah gitu, dari situ mulai lah kan, dia itu, melancarkan aksinya... di foster care suka senyum senyum sama petugas disini, pura pura ikutan main basket... yang pas lagi sesi main basket itu, di foster care gue emang ada, jadi setiap anak diwajibkan untuk ikutan, katanya sih relaksasi otot—baru setelah itu dipersilakan untuk tidur siang. Gue sih ikut aja main basket, nggak masalah, tapi diam diam si Axel ngomong gini sama gue, "Hey, Palma, kau tau ngak, kau ikut ikut begini, liat bentar lagi, pasti kao kentut, kayak orang bodok," begitu, kata si Axel.

Gue sih so what gitu loh, mau Axel ngomong apa juga, orang dia yang main kesini, gue sih suka suka aja main basket. Dan ujung ujungnya, anak anak cewek yang dititipkan di foster care ini dia culik satu satu, gue pokoknya cuma nonton aja, nggak banyak ngelakuin apa apa. Gue takut kena marah sama Ibu, suer, gue anaknya penakut banget waktu itu, culun dan kuper nggak jelas, makanya kalimat ini mau gue ulangi lagi, "In every man, when he met another man, there's a chance, always—a chance, to choose, whether he want to be an alpha, or, an omega in role." gue dapat ini, pas lagi sesi bermain basket di foster care gue itu, let's just say, Ibu Priya yang mengatakan itu, bukan nama sebenarnya.

Waktu itu, gue memilih untuk menjadi seorang omega, dalam kawanan gue, imagine a wolfpack, dan Axel adalah alpha nya, diajak Axel main, kabur, atau bolos kelas, nurut.... disuruh Axel cium pipi anak cewek di foster care gue, nurut... gara gara kelakuan kayak begitu, sampai nangis gue dimarahin sama Ibu, karena mamah nya Rasty complaint ke nyokap gue. Axel memang bangsyat, gue benci Axel, lalu ketika gue lagi nggak suka sama dia, gue menjadi ignorant, dan tau apa yang dia lakuin?

Nyogok gue.

Cerdas, cerdas sekali Xel, kau belikan aku alange soehne, shitttt, who the hell, could refuse, this very kind offering? Bangsyattt tricky banget kau ini ya. Sampai Ara pun bisa ngebaca situasi kayak begini, waktu itu si Ara ngomongnya belum pakai ogut ogut, masih pakai 'aku', kalau nggak salah, "Ash, kalau nggak main sama aku dan kita kita, main sama siapa lagi Axell, sepi dia tuh Ash, sebenernya.. jangan di jahatin laa," kata Ara, secepat kilat langsung gue debat, "But Axel tends to make problem, Ra, that's why i hold back on him, (tapi kan si Axel suka bikin masalah, Ra, makanya aku malas main sama dia,)" tutur gue kokoh terhadap prinsip gue sendiri.

"Hahah amsyong ya... oke terserah Ash, pokoknya the man is lonely, baik baik lah sama dia," kata Ara lagi, menasihati gue. Ada benernya apa yang dibilangin sama Ara ke gue, sekian tahun berlalu, kami semua tumbuh besar, dan Axel tetaplah Axel, dia masihhh aja kayak begitu, cuma posisi kami sudah seimbang, sekarang, gue bukan lagi sesosok omega yang kalau disuruh suruh nuruttt aja, dan Axel bukan lagi alpha yang tiap kali dia nyuruh gue, gue harus nurut sama dia. Dan ya.. Axel masih se sepi itu, kadang, tengah malam dia suka telfon gue, cuma sekadar ingin bertanya mengenai kabar gue, atau cuma untuk menakut nakuti gue, atau cuma kepengin bentak bentak gue, nggak masalah, i still loves him, bahkan sampai hari ini sekalipun. Gue beruntung si anjing itu masih hidup dan berbisnis. Much respect, Xel.

***

Back to the main issue. Today, ketika gue bertemu dengan Diwangka, gue perlu memutuskan apakah gue kepengin jadi sosok alpha atau omega (ini jijik banget sebetulnya), then, tahun demi tahun berlalu, kenal sama Didiw udah bukan satu, dua atau tiga bulan aja.. tapi sudah lebih dari enam tahun lamanya, lebih malah, dari sejak pertama kali gue jadi first officers di sebuah maskapai yang menggaungkan kalimat "where the world," sisa nya lanjutkan sendiri, hahahaha. Yang jelas, itu maskapai adalah anak tiri kalau di Indo..

Ngomong - ngomong soal maskapai, gue heran, banyak yang kira gue dinas di maskapai mayor, salah... itusih Papaa, gue enggak. Kenapa? simpel lah, Papa nggak merekomendasikan gue, ya gue nurut aja man, orang dia lebih berpengalaman dibandingkan gue, gue bisa aja berontak, ya tapi untuk apa, mending ikuti aja apa kata orang tua, apalagi kalau sudah soal pekerjaan.

Dan yes, walaupun sebenarnya, gampang² aja bagi Papa atau Ibu dalam memasukkan gue kesitu, ke maskapai mayor itu, tetapi mereka berdua sudah berdiskusi panjang lebar dan akhirnya hasil dari diskusi itu disampaikan lah kepada gue, they say, nak, Ibu ada rencana lain, dan rencana ini sudah matang matang Ibu buat, jadi kamu nggak bakal lama kerja di s***-**r, karena Ibu ada rencana mau joint venture sama rekan bisnis Ibu, nanti lebih lengkapnya lagi Ibu kasih tau kamu. Dan hal itu berakhir pada terciptanya sebuah private jet company, Ibu termasuk ke dalam B Of D nya. Itu belum lama juga, karena kita bukan perusahaan senior.

Kembali lagi berbicara tentang Diwangka.. alias Didiw, yang merekrut Didiw, siapa? Ibu, yang memperkenalkan Didiw kepada Ibu, siapa? gue.

Kalau di ingat ingat lagi dulu.., Didiw orangnya kalem.., nggak banyak ngomong, sopan, prosedur on flight dia handle dengan baik.., briefing nggak pernah enggak hadir, pasti hadir, dan selalu on board sebelum stewardess masuk ke dalam pesawat. Makanya pas ngobrol sama PIC nya dia, Captain Aldo, dia bilang that boy Diwangka is a golden kid, terbukti, man, dengan track record pada karirnya yang selalu naik seperti anak tangga.

Dan walaupun di maskapai gue dia cuma substitusi, di maskapai tetangga? dia... kapten nya.. Anyway, gue ingat ini, ada satu hal lagi yang lucu.. apa? Didiw... dia suka sama perempuan (awalnya), pas lagi nyantai di Bali, itu juga gue habis antar orang dari Oz ke Bali, anak anak pada ngumpul di Belmond, gue lihat, si Diwangka ini, gandengan nya nggak cuma satu cewek doang, tapi dua sekaligus... dahsyat ya memang, cakep sekali Diw. Tapi setelah dua tahun kenal, dan gue udah panggil dia Didiw, bukan Diwangka - Diwangka lagi, sok formal banget ya, gue, dulu itu.

Disitu mulai deh, keluar warna aslinya... Didiw, dia jadi gandeng cowok, man, and I was like, "eh, lo bukannya gandeng cewek ya?" dan dengan entengnya dia jawab, "Gue bi, Pal, hehehee, baru tau ya lo?" ucapnya sambil cengengesan enggak jelas.

Anjis, man, gue kira lo laki tulen, hahahahahaha. Rupanya, nggak cuma doyan lubang, ternyata, elo juga doyan pisang ya? Wahahahahaha. Gue juga sempat tanya sama Didiw, "Diw, jadi waktu lo nolongin gue itu? karena lo suka sama gue, gitu ya man?" terus dia jawab, "Iya, Pal, ada lah sedikit.." jawabnya kalem. "Serius, Diw?" jawab gue agak agak panik, merinding ini kalau di ingat ingat lagi. "Serius..." jawabnya pakai nada genit ala gaylord gitu, lo tahu gimana kan, dan baru baru ini gue tahu kalau dia bisa genit kayak gitu.

Mantap ya, ternyata gue juga disukai sama gay. Beda sama si Axel yang kalau ada gay, ganas nya langsung keluar, hahahaha. Makanya Didiw nggak pernah gue satu kandangkan bareng sama Axel, walaupun waktu itu sempat sih, ketemu, di resepsi pernikahan nya Debbie. They got along, good, it's surprising.. though. And the reasons behind why Diwangka called me Bli, adalah karena gue sosok alpha nya dalam kawanan kita, analogi nya kok bikin geli ya? hehehe, okay, let's just stop it then.

Alasan kenapa Diwangka panggil gue Bli adalah karena gue sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri, kakak gadungan, man, but no problem at all, gue juga anggap dia adik gadungan gue yang doyan sama dua gender sekaligus, hahahahahaha. Masalah pekerjaan, kebanyakan, ya, gue yang kasih advice. Masalah relationship mungkin gue nggak bisa kasih terlalu banyak, tapi ya masalah gawean gue sering kasih warning buat dia, mengingat dia masih bekerja di maskapai komersial kan...

Hati hati, itu, mekanik, Diw, jangan yes yes aja terus langsung takeoff, itu kan udah kayak angkutan umum unit nya, yang benar lah prosedur maintenance kapal tuh, jangan baru seminggu bilang kapal udah enak di bawa lagi. Mau kejadian nya kayak maskapai yang pailit itu, ya? Apa tuh, yang gambarnya perempuan lagi terbang..

In the end, mereka justifikasi kan, pilot salah, pilot sialan, pilot bodoh, pilot nya hangover, pilot nya have sex in the compartment tuhhh, padahal, semua masalah bersumber dari turbin pesawat, hello, people, it's an engine failure. Makanya... one more thing, being a pilot doesn't mean you don't have to check on your aircraft, check it, please. Lo ingat nggak Diw, basic education of flying an airplane? that is; make sure you can fly the plane, if not, don't fly, at all. Got it, man? cek cek dululah kapal nya... jangan mekanik bilang yes, siap takeoff, lo iya in aja itu mekanik, kalau di komersial, itu orang kadang sontoloyo nya minta ampun, kapal sakit kok disuruh terbang, man, ya tamatlah kita...

Hal ini selalu terjadi pada commercial airlines yang penerbangan nya memiliki konsep kejar tayang, my advice, pray, dan hati hati setiap kali melakukan perjalanan, kelas ekonomi, atau bahkan penerbangan pada kelas pertama sekalipun, tidak selalu meriah sebab bisa mengantarkan kita selamat hingga sampai ke tujuan, karena ya itu, kembali lagi pada pertanyaan awal, apakah kapal nya bekerja dengan baik? lalu bagaimana jika tidak? jadi jangan salahkan ular yang berada di dalam pesawat anda, ya.

Eh, itu sih snakes on a plane, hahahahahaha.

***

The next morning gue terbangun pagi pagi banget, di sebelah gue ada Didiw, masih tertidur nyaman, menginap di airport hotel adalah rutinitas bagi orang orang seperti kami, jadi sudah pasti memberships card dari chain hotel (Hilton, FS, HI, Novotel) itu banyak gue miliki, gue nggak mau rugi, man, diskon keanggotaan adalah hal yang amat sangat krusial, buat gue. I don't waste pennies only to be broke, i think smart and save my ass.

Setelah selesai mandi dan rapi - rapi, gue mulai membangunkan Didiw, sambil menepuk nepuk kasar pipinya, gue ngomong, "Diw, bangun sebentar, man, gue mau cabut nih, nanti ada Prakeesh kesini ya, after lunch, dia bilang, gue udah telfon dia barusan, soalnya. Nanti lo bareng sama dia aja," terang gue lalu kembali berlalu, mempersiapkan barang bawaan gue.

"Haaaa?" Diwangka mengerang pas dia masih tidur.

"Goodbye, man," omong gue kalem sambil menatap muka nya yang teler kayak begitu, kemudian sibuk ambil ini dan itu lagi.

"Apppaaa?" jawab Didiw sambil mencoba buat bangun dan membuka matanya, berat banget kayaknya.

"Gue pergi dulu, kay? thanks a lot Diw, take care," ucap gue simpel lalu mengenakan jaket gue. Boy, i feel good, back with my brownie.

"Iyaa, iyaaa," jawabnya lemah, masih nikmat tertidur.

And then i go, leaving that room, walking to the airport, feeling ecstatic knowing that i ain't piloting the plane anymore.

Fast Lane
image-url-apps
Dari holiday inn Indira Gandhi gue berjalan memasuki lobi bandara, kemudian membeli tiket pesawat dengan tujuan menuju ke Kingsford, not much option that i've had, sebagai salah satu pelanggan setia SIA, (ya jelas setia lah..., mengingat dulu gue sempat bekerja di salah satu subsidiary mereka...) gue memilih untuk terbang menggunakan Singapore Airlines, walaupun sebenarnya ada juga Air India yang jauh lebih adidaya, halah, adidaya, klise sekali ya bahasa nya. Apalagi kalau berada di negara asal nya. Why Singapore Airlines.. well considering that i have their loyalty programs, business class with reasonable fare? (not much, but yeah, buying the assurance of flying with 'em) kenapa tidak. Kenapa nggak first class? jangan buang buang hepeng lah! hahahaha. Ke Kingsford doang bayar seratus jeti, mending eike naik embraer deh bokkkk.

By the way gue pesan tiketnya pagi pagi sekali, dan ada, tiketnya itu, kemudian nunggu dulu.. di silver lounge, baru deh boarding agak siangan, sekitar jam sebelasan kalau nggak salah. Setelah pesawat lepas landas, hati gue sudah plong karena sebetulnya unit pesawat yang gue tumpangi ini adalah a new Airbus, ini hal yang sangat standar di dalam dunia aviasi, bahwa cukup jarang ditemukan penerbangan kelas bisnis menggunakan unit Boeing, karena jika menaiki Boeing, (mostly you'll found it on the economy class) brace yourself, people, hahahahaha, ah, jadi kayak meme di game of thrones itu jadinya ya...

Definisi brace yourself disini itu maksudnya adalah persiapkan diri anda, karena Boeing bisa saja mengantarkan anda ke sebuah dimensi yang berbeda.. yaa, betul sekali, dimensi afterlife, hahahahahaha. Okay, let's stop this joke, it's mean and evil. — Alright, back to the flight, selama berada di dalam pesawat, sebagai penumpang, tentunya, kalau dengan SIA gue tidak bisa mengeluh banyak man... maskapai kesayangan gue ini soalnya... hahahahaha. Dan ya, untuk ranah asia ini tuh memang maskapai yang paling enak man.. in my opinion, if it's not in your opinion, well then nice talking to you (grumpy banget ya gue? hahahaha). Serta untuk ranah internasional ya Lufthansa, pastinya, the worst one is that Englishman flying an aircraft. BA? No thanks, mate. (Ogah banget kali naik maskapai ini, mengingat di flight 101 mereka lumayan produktif dalam mencetak mid-air collision, flight incident, tentunya karena si pesawat yang rewel dan tidak mau diatur oleh pilot nya...)

During the flight, gue memanggil salah seorang stewardess yang sedang bertugas, karena kelihatannya kelas bisnis yang gue tumpangi ini punya beberapa fitur baru yang belum gue temukan di waktu sebelumnya, "Excuse me," panggil gue sambil mengangkat salah satu tangan gue, lalu mendongakkan kepala, mencari cari mbak pramugari nya.

"Yes, Sir?" toleh dia, memberi respon ramah, sambil berjalan ke arah gue.

"Would you mind helping me, Miss, i'm a krisflyer member, but this is all new to me," tunjuk gue ke arah layar monitor di dalam compartment gue itu, "How do i enter this authorization, i wanna watch some specific movie," terang gue lagi kepada pramugari yang jelita ini :-)

Setelah mendengarkan apa yang gue bicarakan dengan baik, barulah dia dapat merespon apa yang gue katakan, "Oh, i could sign you back to our newest account system..," lalu dia menekan nekan sesuatu di layar monitor nya, "Please, input your account, Sir," pinta dia sopan lalu mempersilakan gue... setelah itu, gue mulai mengetik, memasukkan akun gue and... vòilã! gue pun berhasil terhubung. Hey, something new you got there, my friend.

"I'm sorry for the incovenience, Sir, any other thing that you'd like me to help?" tanya dia lagi, uh huh, basic hospitality. "Yes, can i see the menu? i would like to order some meal, please." dan kemudian, dia kembali menekan layar monitor gue, kemudian menunjukkan daftar menu yang bisa dipesan oleh penumpang. Keep in mind that business class ain't the first class, they got no chef onboard, so that's explain another fifty thousand dollars you've spent on a first class ticket, in the first class flight, you got a chef on board, you can order whatever they provide, it's a nice thing they provide a thematic cuisines from all over the world. Dan untuk maskapai yang memiliki cullinary service terbaik, nggak perlu bingung lagi, karena, Emirates adalah juaranya. This one?

Hope god bless my tummy, alright—so uh, i remember ordering the... sushi... yeah.. i forgot booking the meal while i'm at the lounge, (how stupid is that, ikr) so um, nothing to tell.. when i got hungry for the couple next hours, another roll of sushi is coming, anddd, a burger for the last supreme, no soda, thanks, mineral water would be fine. Begituuu aja di ulang ulang terus, sampai bosan, man, twenty hours of air travel, bayangkan... one stops in Changi, and that stops? lumayan lama, dan ini sih diam diam aja yah... so this is the reasons why i left my job there, then i come down here.

What?

Oh come on, you already know it.

The private flight... buddy.

Oh... yeah...

And now, i can see you smiling.

On the mid-air, not much that i can do really, gue cuma bisa movie-marathon beberapa film sekaligus, i remember watching some of them, it's Deuce Bigalow, another Adam Sandler's movie, and the legendary one, Tom Hanks in the castaway. One thing for sure is that gue adalah tipikal orang yang annoying kalau sudah nonton film, so when the movie shows something amusing, i laugh hysterically, and then when the movie shows some heartmoving scenario? and who the fuck is that, yang mengeluarkan suara tangisan, di saat film sedang diputar?

Unfortunately, that's me, fellas. So please don't bring me to a cinema unless you accept me a wholeheartedly. Banyak teman cewek gue, bahkan Dewinta sekalipun, kapok bawa gue ke bioskop, gue memang tipe individu sialan yang terlalu intense with whatever movie i watch, gue ketawa, gue nangis, gue tegang, gue gemas, tergantung dari apa yang sedang film tampilkan kepada gue. My advice? jangan nonton film bareng sama gue, bisa mati kutu lo pas ngelihat reaksi reaksi yang gue tampilkan.

Anyway.. gue lupa cerita soal kenapa Diwangka sempat kepengin ikut ke Rotorua ya? ah, that's a classic story, man. Tujuan Didiw sebenarnya bukanlah ke Rotorua, melainkan ke Christchurch, yang dengan kampung nya gue singkat saja menjadi CC, so it's much more simple when you don't want to say, "Christchurch" at all, and hell, man, that is a very nice word down there, feels so angelic. --- Di CC, ada sebuah gay bar yang cukup dikenal, Didiw suka datang ke tempat itu atas rekomendasi gue, tapi kecanduan nya akan datang ke tempat itu? not my reccomendation. Karena katanya, gay bar di Seminyak sudah terlalu bosan untuk dikunjungi, lantas, kenapa tidak sekalian datang ke gay bar di Bordeaux aja, Diw? disana kan gay nya lebih LEGIT, man... hahahahahaha. Dan ini, sebisa mungkin tidak gue bahas lebih lanjut ya.. karena, booooring.

After watching six or ten movies in the plane (not as sharp as i could remember), my plane stops, meaning that I could get a bit of those fresh air, on the midnight—again.... and then walking back to the lounge, seein' those weird internal garden they made it here, and tried the buffet, should've been more better at that rate, find a nice space and then reading some magazine, uh.. it's routine, really, so mari kita lewatkan saja detil kecil yang seperti ini karena gue sudah ribuan kali melewatinya, nothing special, except the fact that i bought some wine in the silver lounge dalam kondisi yang ngantuk tapi enggak bisa bobo, jam tidur gue berantakan, but stay, my day's been better with a bottle of wine.

Gue ingat ada seseorang yang menelfon di kala itu, Axel, kalau nggak salah, biasalah, dia curhat soal bisnis nya. Said that he got another business-villain yang menggunakan metode atau konsep berbisnis nya, Axel memang suka pura pura saleh, man, jadi ini topik sensitif, nih, di dalamnya terdapat banyak sekali isu isu yang menyinggung SARA, yang jelas, gue benci kalau udah bahas ini, Xel, apa apa yang lo bahas tuh pasti aja soal pertumbuhan aset, pertumbuhan aset, eksekusi lahan, oh come on... santai sedikitlah, Xel.

Life isn't just collecting treasure, have some, that's good, but having a lot of them and unable to think clear? janganlah Xel, rusak sebentar lagi lo itu, ingat Amang mu lah fucker, seratus gerai sudah cukup, jangan jadi mogul gadungan yang hobinya merampas harta orang, i know we don't have some dogmas, but man, for the sake of mankind, control your thirst. Kalau lo nggak bisa kontrol itu, tinggal tunggu aja tanggal mainnya anak anak si Bardo itu tembak elo di continental, man. And i ain't listening, except the sound of your grave, calling for your own attendance. --- Tiga jam lamanya menunggu sembari nggak bisa tidur, Changi has always been that one with the busiest fella, walking along, minding nobody business, walaupun masih dini hari, tuh.

Okay, waktunya untuk kembali mengudara, karena sudah diberitahukan juga agar segera boarding. Dari Changi menuju ke Kingsford memang enggak memakan waktu yang terlalu lama... boarding jam enam pagi, landing di Kingsford jam dua belas kurang, tapi kalau sudah memasuki zona waktu Australia, my HTC is automatically changing into the Australian's time zone, dua jam lebih cepat. Weird, huh? not if it's your habits. — Dan selama hampir satu hari kurang, ponsel gue selalu berada dalam mode pesawat, dan... imagine ketika gue kembali menghidupkan jaringan seluler pada ponsel gue. Mmh, must be a lot of messages, mate.

P.s: The stewardess is serving me good, really, an applause for that, and.... the numbers. — Words of the day: Talk nice, that's what makes it memorable.



Nggak lama kemudian gue mencari kontak seseorang di ponsel gue, nah, dapat juga nomornya.

+61 8 6536 7413.
Memanggil...

Tut..
Tut...
Tut....

"Old Macdonald had a farm
e-i-e-i-o..." nyanyi gue pelan tapi asyik.

*Click!*

"Hello," jawabnya.

"Jackie?!" kaget gue ketika panggilan kami akhirnya bisa terhubung, since i've want it in Portofino to get connected with him, dan sekarang sudah. Benar benar suatu keajaiban! (Palma, mulai deh lebay nya.)

The lovely Kingsford, my old pal, mmmh, smells humid, makes me want to vomit. The end of November gue menginjakkan kaki disana, Sydney selalu sukses bikin gue ingin kabur secepatnya dari sana, tidak, bukan gue tidak suka Sydney nya, melainkan.. ya itu tadi, i'm on the right place, but on the wrong time.

"Heyyyy!" jawabnya gokil dari seberang sana, suaranya seru sekali man.

"Makasih pakkk akhirnya gue bisa nyambung juga sama eloooo," jawab gue merasa amat sangat lega.

"Ngo-mong a-pa ka-mu?" balas dia dengan aksen Indo super gagalnya itu.

"Nggak usah belagu gitu deh pakkk," sentil gue judes.

"Hahahahaha, gotcha!" ungkap nya bercanda, ih jayus banget memang si anjing ini.
"Santai, santai, a-da a-pa?" tanya dia lagi.

"Benz, man, jemput donggg, baru dari Delhi nihhh, capekkkkk!," keluh gue manja.

"Oh... okay, okay, just go to the entry, he'll pick you there," terangnya memberikan instruksi.

"POE, you mean?" tanya gue.

"Yes," sahutnya yakin.

"And he? are you giving me another HE?" todong gue kejam. Soalnya dia suka gitu, asal suruh orang langganan dia aja buat jemput gue, gue kan pengen nya dia yang jemput man.

"Yeah, nam-pak-nya ba-gai-mana?" ucap dia ragu ragu, hahah, sialan ya.

"Jack my big mannn," desir gue sambil agak bercanda.
"Jadi nggak jemput gue nih looo?" tanya gue tanpa sungkan sungkan sama dia.

"I'm at my office," jawabnya singkat, dengan nada nya yang datar. Ongkel gue ini memang rada sensitif kalau sudah ada gue, mampir berkunjung ke Sydney, tapi posisi nya dia lagi di kantor, ini udah dari dulu, sebenarnya, tapi gue nggak tahu kenapa persisnya, si lubang pantat itu lebih senang bermain dengan gue dibandingkan duduk menuruti komando si bos di kantor dia sendiri.

"Where...?" tanya gue lagi.

"The office," semakin datar, dia menjawab pertanyaan dari gue.

"Sorry i can't hear, where?" ucap gue mengulangnya satu kali lagi, gue kepengin jail aja sebetulnya...

"The office, you bloody moron," finally, Jackie ngambek, coy!

"Hahahahahaha, now i got you. Udah ah, gue tunggu ya, kasih orang nya nomor gue aja, makasih ya pakkkkk," tukas gue santai.

"Terima kasih kembali!" jawabnya antusias.

"Kan udah gue bilang, sama - sama aja jawab nya, salah lagi deh lo," ucap gue mengoreksi tata bahasanya itu.

"Okay, okay, next time i'll go back to balai bahasa, mulai be-la-jar la-gi." kata dia penuh harap.

"Iya, datang aja kesana, bawa makanan khas nusantara kalau perlu, biar gurunya langsung bikin elo pinter, nanti dikasih tau deh kunci rahasianya."

"Terrific!" ungkapnya seru.

"Yep, bye bye," kemudian gue langsung menutup panggilan telfon itu.

Setelah itu gue mulai berjalan lagi, capek sekali, waktu itu, rasanya nyawa ini bagai sudah berada di titik nadir—sampai ada orang yang telfon gue, bilangnya suruhan Jackie, kami ngobrol sebentar, akhirnya ketemu juga, setelah masuk ke dalam mobil, dia tanya sama gue, "Where to?" lalu gue jawab, "Rotorua," dan kebingungan lah kan dia, gue iseng biarin aja sampai beberapa menit, gue diam, ini orang ternyata fungsi kemanusiaan nya masih jalan, dia tanya lagi sama gue, "Sir, are you certain that you want me escorting you to Quay?" tanya dia tajam, gue pengen ketawa disini, tapi gue tahan aja. Muka gue udah teler setengah mati, man. Buat mikir aja gue sampai butuh energi. Untuk pergi ke Roto masih butuh perjalanan via laut. — "There's some wearying look you got on you, Sir, i know Mr. Ashburn, you're a family, right?" dia ngoceh terus, gue cuma sempoyongan di kursi penumpang. Membuat gue bertanya, "What's your name?"

"Glenn, Sir." jawab dia sambil menyetir.

"Awkay. Glenn, take me to Jackie's house," pinta gue lemah.

"Oh thank goodness! because Mr. Jackie told me to bring you to his residence."

"Yeah... whatev he tell." gumam gue dongkol.

"Glenn, would you please tune me on Fine Music," kemudian gue meminta dia untuk menyetel radio pada salah satu stasiun yang ada di Sydney.

"Whoa, fancy some jazz, Sir?"

"Hush." jawab gue tajam.

"Sure, Sir." geraknya cepat lalu segera menyetel radio di dalam mobil.

Quite the evening till' i do arrives on my uncle's house, nggak jauh kalau dari bandara sampai ke pantai Bondi, setelah sampai, gue kasih tip buat itu anak, suruh dia pulang, agar hati hati, gue bilang. Kemudian... gue berjalan ke arah rumah ongkel gue, menuruni beberapa anak tangga, dan memasukkan passcode pada pintu sekunder di rumah ongkel gue.

Hey, kenapa rasanya gue jadi ikutan mengantuk ya ketika mengetik tulisan ini, okay, actually, gue senang bisa sampai selamat di Tamarama, and look, i have another sunset accompanying me on that laggy time, too bad that i was just alone on that precious evening, but something bug me is that Jackie has change the passcode on his freaking door... so i can't bypass.

O lord, our father...
image-url-apps
Divided
image-url-apps
Divided again
image-url-apps
Petang hari itu, gue beruntung, the force is on my side, i assume. Jadi nooo, kisah gue bukan kisah yang pakai di dramatisir begitu... seperti gue yang bakalan enggak bisa masuk ke dalam rumah sampai berjam jam lamanya, karena telfon nya nggak diangkat oleh ongkel gue, kemudian gue mulai membuat masalah, tidak, tidak seperti itu.

So, after that, gue langsung menelfon Jackie selepas menyadari bahwa passcode pintu rumah nya telah dia ganti, setelah panggilan gue tersambung, untuk kedua kali nya di hari itu, kami kembali ngobrol, disitu gue bilang "Pak, need your help, what's the new passcode for,

Belum selesai gue ngomong, Jackie langsung memotong ucapan gue, dia bilang, "Are you using my back door again?" tanya dia, membuat gue heran karena dia telah bertanya seperti itu. So, "Yeah, what's the passcode?" jawab gue sambil bertanya lagi.

Quote:


Gue terhenyak, untuk beberapa saat, gue termenung dalam diam. I'm a family. I'm a family. — Sejujurnya, di saat paman gue berkata seperti itu kepada gue, gue ingin mengucap se lirih mungkin lalu berkata, hey, universe, why did you take my old man, he's a family, too. Dia adalah jiwaku, se dalam dalamnya jiwaku...

Quote:


Enggak lama kemudian, ada seseorang yang membukakan pintu kayu yang lumayan besar ini.

Quote:


Dan, benar apa yang Jackie sampaikan ke gue, pintu depan akan dibukakan oleh putra sulung nya dia... unlike his daddy, Jefferson bukanlah anak sontoloyo yang suka bikin masalah seperti bokapnya waktu beliau masih muda dulu, Jeff is a hidden gems, tapi sama aja sih, ini anak ada nyebelin nya juga kalau sudah berurusan sama gue.

Gue tidak mengerti, kenapa sih, orang orang dalam hidup gue senang sekali membuat gue naik pitam, kita lihat nih ya, contohnya, ketika Jefferson mulai berkata begini kepada gue, "You got a toy for me?" and here is this little bastard, stomping his request right in the front of my turdy face. Untung gue belum punya anak, mungkin—gue tidak akan mau punya anak sama sekali kalau tingkah laku anak gue nantinya akan seperti ini.

A ten years old Jefferson (born on 2005, berarti sekarang umurmu sudah 14 tahun ya Jeff? have fun facing teenager's time, Choco.) menyambut gue di depan pintu rumah bokap nya, yang shit... gue sangat iri sekali kalau sudah ngomongin soal arsitektur dari rumah Jackie ini, lebih baik tidak gue bicarakan, deh. Daripada nanti gue jadi kesal sendiri.

Ditanya, "You got a toy for me?" sebenarnya gue kepengin marah dan meninju tembok sampai puas, but Jeff, you know i can not, not loving you with that genius brain you got over there, asal kamu tahu aja.. dulu itu kamu kecilnya adorable sekali, but ever since the puberty came out, i have problem on loving your ass.

Quote:


Yang barusan itu adalah istrinya Jackie, Darlene Atwood, namanya, let's describe. Profesi nya sebagai seorang manajer investasi, rupa dan penampilan nya? well she's a brunette, 7 feet tall, with a straight body shape, 32 b, long hair but not curly, i assume it's wavy, pointed nose, small lips. Seorang housewife tapi kerjanya merhatiin market terus, pakai kacamata lagi. Sexy? indeed, makanya bisa produksi anak se ganteng si kecil Jefferson ini. Any questions regarding on how did Jefferson's looked like, gue rasa nggak jauh dari mommy nya juga ya, sama sama menarik lah..

Jeff waktu itu masih pendek, dia baru ada di 3rd grade on the elementary school, soalnya. Jeff itu kurus, perutnya tidak buncit, tidak obesitas, dan yang jelas, warna kulitnya putih, pipinya selalu ada merah merahnya. Ini anak ganteng, mirip Papa gue, kalau warna matanya, mirip bokap dia, kalau bentuk rahang nya. Tapi apakah dia bakal tetap se-keren itu saat dia melewati masa remaja nya, gue rasa tidak... terbukti, sekarang Jeff lagi jadi ampas hahahaha, ini kalau kata Endro yaa.

Jeff jadi punya banyak jerawat dan sialnya, dia kurang suka olahraga, jadi, gemuk deh.

Beda dengan gue, yang kecilnya coklat matang, dan rambutnya keriting, kurus, banget, kayak kurang nutrisi..., dan besarnya? Oh... you're gonna love me, bite, and eat me like a sweet-tasty-chocolate. Alright, mari kita stop disini, karena ini benar benar menjijikkan sekali.

***

Setelah bertegur sapa dengan Darlene, gue pun berlalu dan segera memasuki kamar tidurnya Jeff, yang setelah naik tangga, letaknya hanya lima langkah saja. Kamar Jeff ini klasik punya, lantai nya adalah semen yang di perhalus, di kasih karpet persia sebagai alas nya, warna dinding nya biru tua dan di kamarnya ada sebuah bendera, slogan nya terkenal sekali; keep the blue flag flying high, and most people know it. Yep, nggak salah lagi, Jeff adalah penggemar Chelsea.

Petang itu... gue menjatuhkan tubuh gue di kasur milik Jeff, sempurna sekali lelah ini rasanya, di kepala gue tidak ada hal yang lebih mendominasi di hari itu selain untuk meminta agar gue segera menutup mata.

Baris kalimat yang satu ini disarankan sama sobat gue, makanya bahasa nya agak agak kemayu dan lebay begitu. Mohon dimaklum saja. So, petang itu pun gue tertidur... oh ya, gue lupa, nanti gue jelaskan alasan dari kenapa Jeff memanggil gue dengan nama panggilan, "Von".


image-url-apps
Bump.
image-url-apps
Fast Lane
image-url-apps
Quote:


Pertengahan malam itu, bulu kuduk gue benar benar merinding, kalau Jackie sudah menasihati gue, gue seperti kembali lagi ke mode default gue, dimana disana, gue akan diam, mendengarkan, dan..., ya basically itu adalah apa yang gue lakukan. Kami lagi diskusi ringan sambil ngobrol ngobrol santai.

Quote:


Gue tertidur pada saat waktu prime time sedang berlangsung, karena kelelahan kan... gue ingat bahwa tengah malam itu juga gue terbangun dan ngobrol sama Jackie, just the two of us. Ketika masih di kamar, gue lihat bahwa di sebelah gue Jeff sudah tertidur, sembunyi di balik selimut berwarna birunya.

Ketika turun dari lantai dua, gue berjalan ke ruang tamu, yang berada di dekat pintu depan rumah, lalu mendekati refrigerator—untuk mencari anggur, thanks god it was there. Lalu di samping kanan, di ruang untuk menonton televisi itu, gue melihat Jackie sedang sibuk sendiri di meja judi nya. Gue hampiri dia, dan disinilah hingga akhirnya kami mengobrol berdua, lumayan lama.

Quote:


Hahahaha, ah, malam - malam yang tipikal dalam hidup gue, dalam keluarga kecil yang gue punya, kalau nggak sama Papa, ya sama Jackie, tapi malam itu yang masih tersimpan di benak gue ya aroma cerutu nya si Jackie, chip poker dia yang berantakan dan jam tangan gue yang udah anaknya kasih ke bapaknya lagi, memang benar di suruh di jual oleh gue, tapi sama bapak nya Jeff di balikin ke gue lagi, hahahahaha.

Melihat Jackie di malam itu seolah sedang melihat Papa, bertahun tahun lalu, kami suka kumpul disini, di Tamarama, cuma sekadar memperhatikan ombak di pantai Bondi sambil minum russian river (actually yang minum ini cuma Papa dan Jackie, gue tidak mau, tidak doyan) dan gue ngumpulin kayu bakar untuk di nyalakan di bibir pantai. Umur 13 tahun, gue sudah dibolehin minum corona sama Papa, figur bokap macam apa yang seperti itu? figur bokap idola semua anak lelaki, coy! Papa gue itu, he's one in a million, pokoknya.

Dan gimana gue nggak kangen berat sama dia, man... orang itu adalah sebenar benarnya hidup gue.

Tapi nggak apa apa (bohong kamu, Palma), sekarang gue punya Jackie, dengan wajah belepotan dan rambut dimana mana nya itu, i mean, jackie is man who grow his beard, and he wear glasses too, semenjak dua tahun yang lalu. Sekarang, dia begitu, kalau dulu, dia enggak, katanya sih ini terjadi karena dia ketularan situs yang bernama the art of manliness. Tumbuh tumbuhin kumis dan jambang, tapi sampai tebal dan panjang.

Quote:


Tetapi bajingan ini (Jackie) memang cerdik, dia tetap stagnan pada jabatan tersebut, namun bisnis nya lah yang terus berkembang, membuat dia merasa nyaman, dengan tidak melepaskan apapun dari dunia bekerja nya, termasuk jabatan nya itu. Tetap setia, meski promosi akan kenaikan jabatan selalu ditawarkan untuk dirinya, namun selebihnya adalah jabatan politik, jadi selalu ditolak. I've heard that Jackie had his own mark from my grandpa Barnes—for not running another position.

So this is what i called the work - life balance. Tugas Jackie tidak pernah berubah, namun dia tetap bisa santai santai saja sama keluarga karena di sisi lain, bisnis terus bergerak, memberikan pemasukan, meski tidak selalu besar, karena kompetisi selalu ada pada ranah berbisnis, and getting money from that casino place is sometimes easy—and not easy. It depends on how the stupid people wants to waste their money.

Gue pernah bahas ini di slow lane, kalau nggak 'ngeh' juga nggak apa apa kok... tapi kalau sudah pernah baca, seratus persen pasti ngerti.

Quote:


Setelah itu gue kembali berjalan ke ruang makan dimana ada kulkas disana, lalu lanjut berjalan ke arah ruang tamu, di kiri nya adalah pintu menuju dek, bisa untuk turun ke bibir laut, tapi gue tidak kesana, karena gue kembali menaiki lantai dua. — Something classic in this house adalah Jackie punya foto dirinya bersama dengan George Benson, waktu itu dia sama Darlene baru nikah, jadi Jeff belum hadir. Gue ingat trip mereka, jauh jauh pergi ke San Martino hanya karena ada sejarah diantara mereka berdua, dan kebetulan Benson sedang konser tertutup disana, hah... unik juga karena sampai kayak begitu.

Gue juga mau sih, tapi bukan sama Benson, sama NKC, tapi NKC nya sudah tiada, ya mau gimana lagi... well... tengah malam itu.. membentuk suatu kisah. But still, there's a long road to go, my friend.
image-url-apps


Kumbaya, my lord.. kumbaya..

I've no idea why's that song starts ringing in my head over the past weekend.
image-url-apps