alexa-tracking

KISAH 3 HARI SEBELUM WISUDA

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b384463902cfe947a8b4569/kisah-3-hari-sebelum-wisuda
KISAH 3 HARI SEBELUM WISUDA
PART 1

Tulisan ini aku buat dengan sisa-sisa kewarasan yang masih ada...
Dengan rasa perih yang menyayat lambung ini...
Otak yang terus berfikir walaupun terus mencoba mengosongkan pikiran...
Mata merah yang gagal mencari jalan kealam mimpi...
Dan perasaan yang sangat sulit kupahami...
 
            Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, dengan rumah kecil yang berisi ibuku yang bekerja sebagai guru dan ayahku bekerja di stasiun TV serta dua orang kakak perempuan. Hanya saja di rumah kecil ini jarang terlihat sosok ayahku yang bekerja di luar kota yang jaraknya sangat jauh, sehingga ayahku hanya pulang saat ada hari libur panjang saja. Aku sebenarnya tidak begitu mengingat sosok ayahku, satu-satunya kenangan baik yang kuingat adalah saat ia mengajakku minum limun di suatu warung. Entah kenapa sampai bertahun-tahun lamanya aku tak pernah melupakan manisnya minuman tersebut. Memang kelihatan remeh sepertinya, tapi itu kenangan berharga yang tersisa dari sosoknya. Yang tidak terlupakan sampai hari ini.
            Mengenai sosok ayahku, ibuku selalu menceritakan ia adalah sosok yang hanya mau hidup enak saja. Makan makanan enak, minum minuman manis, perokok berat dan tidak peduli terhadap keluarga. Jarang pulang karna kerja jauh, tapi sekalinya pulang hanya memberikan sedikit uang untuk menafkahi keluarganya. Hal yang menyelamatkan keluarga ini dari kelaparan adalah sosok ibuku yang bekerja sebagai pahlawan tanpa tanda jasa...
            Ingatan terakhir sosok ayahku yang kuingat adalah borok-borok luka dengan nanah busuk yang menggerogoti kakinya dan tubuhnya terbaring di dapur rumah dengan asap rokok yang mengepul keluar dari mulutnya. Ibuku bilang ayahku terkena kencing manis, dan alasan mengapa ayahku ditelantarkan di dapur karna ibuku tidak tahan dengan bau nanahnya dan agar ia bisa bebas merokok. Cukup lama hari-hari yang kulewati dengan pemandangan borok kaki ayahku, sampai pada hari itu... akhirnya sang malaikat pencabut nyawa pun datang....


image-url-apps
true story apa fiksi gan
RESERVED
buat update atau hal lainnya...


Quote:


True Story...
KASKUS Ads

part 2

Aku tidak begitu ingat dengan acara pemakaman hari itu, maupun siapa saja orang-orang yang melayat datang kerumah, yang tersisa hanya gambaran orang-orang mengangkut keranda jenazah dan momen saat seseorang yang tidak ku kenal memberikan segumpal tanah kepadaku untuk di lempar ke liang lahat. Bahkan sampai saat ini aku tak mengerti makna dari melempar segumpal tanah tersebut. Hanya saja kata-kata ibuku yang masih sering kudengar dulu adalah “nak, rajin-rajinlah solat, biar saat meninggal jenazahnya tidak berat saat diangkat orang” sepertinya ibuku berkata begitu karna ada orang yang mengeluh berat saat mengangkut jenazah ayahku..

Beberapa hari kemudian, di depan rumah ada orang yang tak ku kenal menggali lubang di depan rumahku, lalu aku bertanya kepada ibuku “mak, siapa lagi yang meninggal ?” ibu dan kakak perempuanku sontak tertawa mendengar pertanyaan itu, lalu ibuku menjawab “tidak ada yang meninggal nak, orang itu menggali lubang hanya untuk tempat pembuangan sampah”.

Mungkin kalian merasa aneh mengapa ibu dan kakak perempuanku tertawa saat mendengar pertanyaanku, alasannya mungkin saja karena melihat wajah polosku yang masih berusia 5 tahun bertanya siapa lagi yang meninggal. Padahal saat itu mungkin saja aku belum memahami apa artinya meninggal. Ya, saat itu aku sudah menjadi anak yatim saat usiaku masih 5 tahun, dan belum paham dengan hal tersebut...

Lalu setelah itu ada kejadian yang entah kenapa sampai saat ini masih ku ingat. Pada suatu hari aku melihat anak kucing, dan anehnya reaksi yang pertama kali kulakukan adalah mengambil ranting pohon dan memukulinya sampai mati. Ibuku yang kuberitahu hal tersebut kemudian memarahiku dan berkata jangan memukuli anak kucing lagi. Dan aku pun mengiyakannya, kemudian ibuku mengubur jasad anak kucing tersebut. Walaupun aku mengiyakannya, saat itu aku merasa tidak bersalah, entah karena faktor karena masih anak kecil, ataupun faktor lainnya....
image-url-apps
ijin nenda and mantau di marij gan emoticon-linux2

Part 3

Tidak lama dari kematian ayahku, rumah nenekku yang tepat berada si sebelah kanan rumahku, kedatangan keluarga pamanku yang pindah ke rumah tersebut karena ingin merawat nenekku dan mungkin juga menjaga ibuku. Sebut saja dengan nama paman Jun.

Paman Jun memiliki istri bernama Vera, dan anak perempuan sulung bernama Frily yang lebih tua satu tahun dariku serta Farel yang satu tahun lebih muda dariku. Karna umur kami sepantaran maka tentunya kami sering bermain bersama. Dan juga ada anak tetangga sebelah yang sering bermain bersama kami, yang bernama Rifan. Walaupun sebenarnya Frily jarang bermain bersama kami karna dia satu-satunya perempuan di lingkaran pertemanan ini.

Masa kecilku bisa di bilang cukup bahagia, di mana yang kulakukan hanya bermain. tidak ada beban dan masalah hidup, tidak ada rasa sakit karna cinta. Rasanya waktu itu berlalu begitu cepat. hanya saja ada satu peristiwa buruk yang terjadi karna kepolosanku. Aku mengingatnya sebagai “tragedi sunat”...

Saat kelas 3 SD ibuku memutuskan sudah saatnya aku di sunat, lalu acara khitanan pun di gelar, mantri sunat pun datang dan melaksanakan eksekusinya. “eksekusi” tersebut berlangsung lancar-lancar saja jika mengabaikan fakta teriakan dan tangisanku. Memalukan untuk diakui, tapi memang itu yang terjadi. Sebetulnya yang sakit hanya saat di suntik bius, sisanya saat sesi pemotongan hanya terdengar suara gunting saja. Toh wajahku ditutupi sepupu dengan bantal, agar tidak melihat “eksekusi” tersebut. Tapi tetap saja aku menangis dan berteriak.

Setelah “eksekusi” tersebut, yang kulakukan hanya makan sate dan mengumpulkan amplop hasil dari penonton yang puas setelah datang dan menyaksikan “eksekusi” tersebut. Saat itu memang ibuku memotong seekor kambing untuk merayakan khitanan, sekaligus merayakan kakak perempuan tertuaku yang berhasil masuk PNS tanpa nyogok.

Di tahun tersebut masuk PNS tanpa nyogok tentunya adalah kebanggan yang luar biasa, karna saat itu sudah jadi rahasia umum jika anda tidak ada kenalan serta uang, maka akan sulit untuk bisa diterima menjadi PNS.

Akupun membelanjakan uang hasil sunat dengan membeli banyak mainan, mulai dari robot-robotan, mobil-mobilan, dan gimbot.

Beberapa hari kemudian Frily main ke rumah, kami pun bercakap-cakap ala anak kecil. Dan karna saat itu aku masih polos, aku mengatakan perkataan ibuku yang mestinya tidak boleh ku katakan, yang kelak akan membawa tragedi...
image-url-apps
Ijin nenda ...
image-url-apps
Tragedi apa?
Gan, nitip motor ya
×