alexa-tracking

[CERPEN] Bisik Ilalang

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b377cf5582b2ead178b457a/cerpen-bisik-ilalang
[CERPEN] Bisik Ilalang
[CERPEN] Bisik Ilalang

“HA?!”

Itu adalah seruan pertama yang refleks terlontar dari mulutku, setelah sebuah kekagetan berskala tinggi nyaris melepaskan jantungku dari tempatnya.

Sore itu senja masih membiaskan sisa semburat keemasan pada pucuk-pucuk ilalang yang menghampar pada sebidang tanah di belakang bangunan bekas sekolah yang sudah tak terurus, tak jauh dari perkampungan tempat aku tinggal. Lahan itu nyaris tak terjamah lagi, hingga ilalangnya tumbuh tinggi nyaris melebihi pinggangku.

Dari jarak pandang sekian meter, tentunya aku tak bisa langsung melihat sosok yang mengagetkan itu. Seorang anak lelaki berseragam putih abu-abu, tengah berbaring santai di antara gerumbul ilalang, berbantalkan sebelah tangannya. Sesaat tadi sempat kupikir bahwa tubuh kerempeng itu adalah sesosok mayat, kalau saja ia tak segera membuka matanya.

“Wah, kamu pasti punya banyak waktu luang. Tidur-tiduran di tempat seperti ini, menjelang maghrib begini, masih pakai seragam pula. Apa kamu nggak mikirin kalau orangtuamu mungkin khawatir atau—”

Anak lelaki itu melirikku sekilas, dengan isyarat menyuruhku diam. Lalu, ia kembali memejamkan matanya.

Kukernyitkan dahiku, tak habis pikir. “Apa sebenernya yang kamu lakuin? Jangan-jangan... kamu lagi ngambek sama orangtuamu? Bermaksud minggat dari rumah? Hmm, walau pun pilihan tempatnya lumayan bagus, tetep aja itu tindakan yang sangat nggak dewasa.”

Ia berdecak jengkel, lalu bangkit dari posisi terlentangnya. “Cerewet! Kamu merusak momen.”

“Ha?”

“Ha?” Ia hanya menirukan dengan tak acuh seruan keherananku barusan, tanpa bermaksud memberi penjelasan. Lalu dikemasinya barang-barang yang bergeletakan di sekitarnya —tas sekolah, jas almamater, beberapa buah pensil dan sebuah buku gambar besar, sebelum akhirnya ia beranjak pergi.

Kupandangi punggungnya masih tetap dengan dahi mengernyit. Aku tak begitu mengenalnya, tapi bagiku anak lelaki itu bukanlah sosok yang asing. Yang kutahu ia tinggal di kampung sebelah. Dan tahun lalu ia adalah kakak kelasku di SMP. Kalau tak salah namanya Raka, atau Rafa. Kurang lebih seperti itulah.

Sekian detik berikutnya, setelah kuangkat bahuku sambil memutuskan untuk tidak memusingkan kelakuan ganjilnya lagi, aku melanjutkan langkah dan kembali menyibak ilalang, meneruskan niatku semula untuk mencari kucingku yang hilang setelah dibawa kakakku berjalan-jalan di depan bangunan kosong itu tadi.

“Hei!” Anak itu berseru memanggilku. “Kamu nggak mau pulang?”

“Nanti, setelah kucingku ketemu.”

“Kucing?” Ia mengulangi penjelasanku sambil melangkah mendekat. “Kamu yakin yang lagi kamu cari itu kucing? Bukan kambing atau sapi? Kalau aku jadi kucingmu, aku nggak akan mungkin keluyuran di tempat ini. Buat apa?”

“Cih, emangnya cara berpikirmu seperti kucing?”

“Itu logika umum, tau? Di sini adanya rumput, bukan ikan. Jadi apa yang menarik seekor kucing sampai berkeliaran di tempat semacam ini? Denger ya, lo-gi-ka.”

Penegasannya yang berlebihan pada kata ‘logika’ itu membuatku merasa dianggap dungu atau semacamnya. Kami langsung terlibat debat kusir panjang lebar kala itu, padahal itu adalah kali pertama kami mengobrol.

Tapi ia membantuku mencari kucingku hingga azan maghrib berkumandang. Hasilnya nihil. Lagipula sebenarnya kami memang lebih fokus berdebat daripada mencari.

Saat aku pulang, kucingku sudah lebih dulu ada di rumah.

Tapi hari berikutnya, pada jam yang sama, aku kembali lagi ke hamparan ilalang di belakang bangunan bekas sekolah yang tak terurus itu. Entah apa yang sebenarnya kupikirkan. Pun aku tidak terlalu berharap kalau anak itu masih akan kujumpai di sana. Kalau pun ia ada di sana, lantas kenapa? Ingin meneruskan debat kemarin yang belum selesai? Benar-benar tak penting.

Faktanya, anak itu ada di sana. Masih tetap terlentang seperti itu, memejamkan mata, dengan barang-barang bergeletakan di sekitarnya. Saat itu, buku gambarnya terbuka. Aku dapat melihat suatu sketsa yang belum selesai, coretan-coretan yang ditarik dengan apik oleh tangan yang sepertinya dianugerahi bakat seni.

“Kucingmu belum ketemu?”

Bahkan tanpa membuka matanya, ia sudah langsung tahu kalau yang datang adalah aku.

“Gimana kamu tau kalau ini aku?”

“Dari cologne aroma strawberry-mu yang norak itu.”

Aku jelas tak terima. “Norak katamu?”

“Ssstt...!” Ia kembali menyuruhku diam, tak tertarik meladeni kalimat protesku yang bernada siap perang.

Ya ya ya, aku pastilah dianggapnya merusak momen lagi. “Tapi, apa sebenernya yang kamu lakuin itu? Apa tiap sore kamu pasti tiduran di sini kayak orang gila?”

Ia tak menjawab.

Oke, aku maklum. Seniman memang sering kali bertingkah atau berpikir seperti orang gila.

Beberapa menit berlalu. Aku merasa telah memberinya cukup waktu untuk momen ‘entah-apa’nya, jadi aku tak tahan berdiam diri terus.

“Hei Rafa, karena ada orang lain di sini selain kamu, nggak bisakah kita ngobrol aja? Kamu tau, kelakuan ganjilmu itu—”

“Raka.”, ia mengoreksi ucapanku masih tanpa membuka matanya.

“Oh, jadi namamu yang bener itu Raka toh. Anyway, yang lagi kamu lakuin itu, apakah semacam... lagi nyari inspirasi?”

“Bukan,” ia menjawab dengan tenang. “I’m listening to something.”

“Apa itu? Kicau burung?”

“Bukan.”

“Suara jangkrik?”

“Bisik ilalang.”

“Ha??”

“Ha??” Lagi-lagi ia menirukan —atau lebih tepatnya mencemooh— caraku mengekspresikan rasa terkejut. Dan tetap seperti kemarin, tak ada pertanda bahwa ia ingin menjelaskan hal yang sedang kuherankan.

“Bisik ilalang? Maksudmu suara desau angin di rerumputan?”

“Bi-sik-i-la-lang. Perlu kuulangi sampai sepuluh kali, huh?”

Mengesampingkan kegemarannya menegaskan kata-kata dengan cara mengeja yang menyebalkan seperti itu, aku memandanginya sedemikian rupa. “Kamu bener-bener orang gila rupanya.”

“Bukan kewajibanmu untuk mengerti.”

“Lagian siapa juga yang berusaha mengerti?”, aku bersungut. “Tapi kalau boleh tau, bisikan ilalang itu kedengarannya kayak gimana sih? Apa dia ngomong sesuatu? Ngasih semacam wangsit, gitu?”

It says: suatu hari nanti aku bakal sukses di bidang yang kusukai.”

“Menggambar? Oo...”, kepalaku memang manggut-manggut, tapi gerak bibirku tak dapat kutahan dari sebuah cibiran. Rupanya anak itu hidup di dunianya sendiri yang tak dipahami orang lain. [Baca: agak sedikit sinting]

“Mau lihat karyaku?” Ia menyorongkan buku gambarnya kepadaku.

Aku menerima buku itu dengan ekspektasi yang —jujur saja— cukup tinggi. Ia memang sedikit sinting or such, tapi entah mengapa aku sama sekali tidak meragukannya.

Benar saja, hasil karyanya memang terbilang bagus —terlebih di mata seorang awam sepertiku. Ia menggambar apa saja di buku itu. Pemandangan, mobil, binatang, tokoh kartun, robot, bahkan karikatur.

Sebagaimana naluri umum orang yang tengah menggebu-gebu terhadap sesuatu, melihatku antusias mengamati lembar demi lembar bukunya, dari mulut anak itu langsung meluncur mulus cerita ini dan itu tentang hobi menggambarnya. Terutama, soal mimpinya untuk dapat hidup dari melukis. Menurutnya hidupnya akan sangat bahagia andaikan ia dapat mencari nafkah di bidang yang dicintainya itu.

Bukan aku berbasa-basi demi menyenangkan hati seorang remaja tanggung yang idealismenya tengah menggelora. Saat itu aku meyakinkannya, karena hatiku mengatakan demikian. Aku memang tak tahu banyak soal lukisan, tapi aku dapat melihat sesuatu yang tak biasa pada diri anak itu.

“Kalau gitu, lukis aku!” Pintaku kemudian, memasang pose dan tampang semanis mungkin.

Ia ganti memandangiku dengan dahi mengernyit.

Why? Ada yang aneh sama wajahku?”

Ia menggeleng, menahan tawa.

“Kalau gitu cepetan lukis!”

Tiba-tiba saja, tanpa kuperhitungkan sebelumnya, ia memukul kepalaku menggunakan buku gambarnya. “Lupain ide narsismu itu! Nggak akan pernah.”

“Kenapa?”

“Impossible.”

“Kenapa?”

“Aku cuma ngelukis cewek kalau dibayar.”

“Kenapa?”

“Kenapa, kenapa, kenapa! Bisakah kamu cerewet dengan cara yang lebih kreatif?”, ia mengomel.

“Ke-na-pa!” Aku malah justru semakin ngeyel.

Lalu, penjelasannya benar-benar sok keren. Katanya, jika bukan untuk tujuan komersil, ia tak akan melukis perempuan yang ia kenal, kecuali satu orang saja selama hidupnya.

Ya, tentu saja pengecualian itu akan dipersembahkan bagi perempuan spesialnya. Belahan jiwanya. Pada saat itu, secara aneh, kupikir siapa pun yang kelak mendapatkan kehormatan itu, akan membuatku sangat iri.

Hari demi hari berganti. Aku tetap pergi ke sana setiap menjelang senja tanpa alasan yang cukup jelas, hanya untuk 20 menit bersamanya yang diwarnai perdebatan-perdebatan kecil tak penting. Kurasa aku tak perlu memusingkan alasan, karena ia toh tak pernah menanyakannya. Ia seolah setuju untuk membiarkan hal itu bergulir saja, tanpa perlu mempertegas apa dan mengapa.

Kami membicarakan apa saja, dari topik umum hingga permasalahan pribadi, dengan cara yang ringan dan tidak terlalu serius. Kami bahkan saling mengolok satu sama lain mengenai berbagai hal. Nyaris tak ada satu pun yang luput untuk dijadikan bahan ejekan. Mulai dari gaya berpakaian, cara bicara, potongan rambut, selera musik, makanan favorit, bahkan nama —yang nota bene adalah pemberian orang tua kami.

“Namamu alim ya. Ayu Lestari. Kesannya yang punya tuh orangnya polos, lugu, anggun, sopan dan sejenisnya. But you? Cerewet, usil, menjengkelkan, nggak mau kalah, suka meributkan hal-hal kecil— ”

Mungkin aku sudah marah jika yang mengejekku itu orang lain. Tapi terhadapnya, aku sama sekali tak punya prasangka bahwa ia mengucapkan segala olok-olok itu dari hatinya. Terlepas dari pembicaraan kami yang tak pernah bergulir damai dan baik-baik saja, ada naungan perasaan nyaman tertentu yang tak pernah kudapati di tempat lain. Hanya darinya. Hanya dengannya.

“Apa mimpimu?” Suatu hari ia bertanya.

Pertanyaan sepele, tapi bagiku terdengar seperti sebuah tantangan. Aku tak siap dengan tantangan seperti itu. Sejujurnya, itulah pertama kalinya pertanyaan semacam itu tertuju padaku, termasuk oleh diriku sendiri. Apa mimpiku? Bahkan aku belum pernah memikirkannya.

“Mm..., belum tahu.”

“Ha?”

“Ha?” Aku mengulangi dengan tak senang cara terkejutnya yang menirukan gayaku itu.

“Taukah kamu? Orang yang hidupnya nggak punya mimpi itu—," ia tak melanjutkan pendapatnya. Tapi dari caranya mengendikkan bahu, aku tahu pandangan seperti apa yang bersarang di balik batok kepalanya mengenai persoalan ini. “Bermimpilah! Hidup ini cuma sekali.”

“Cih, mimpi kok disuruh! Lagian aku bilang belum, bukannya enggak.”

“Jangan kelamaan! Emangnya kamu baru akan bermimpi setelah tua?”

“Sombong amat kamu, mentang-mentang punya mimpi.”

“Sombong??”

Dan ribut-ribut lagi, seperti biasanya.

Segalanya berjalan seperti itu, dari hari ke hari. Dua puluh menit sebelum maghrib, nyaris tak pernah kurang dan tak pernah lebih. Pun aku tak pernah mencoba datang lebih awal, walau sebenarnya bisa saja. Apalagi janjian bertemu di tempat dan waktu lain, atau bertukar nomor telepon sekadar untuk berkirim SMS di malam hari. Sama sekali tak ada.

Namun aku sudah merasa cukup dengan itu. Makna dari 20 menit itu jauh melebihi segala komitmen murahan yang mungkin dijalin oleh anak-anak muda seusia kami. Setidaknya begitulah yang kupikirkan.

Ratusan hari bergulir. Cuaca tidak selalu bersahabat terus setiap harinya. Adakalanya hujan deras, angin kencang, atau petir sambar menyambar. Kami sabar menunggu, terkadang hingga belasan hari tak bertemu. Tak masalah meski berapa lama pun, karena sore yang tenang tanpa hujan pasti akan datang lagi. Dan pertemuan selanjutnya setelah penantian berhari-hari itu, akan terasa lebih berwarna.

Tanpa terasa, aku segera tumbuh menjadi gadis kelas 2 SMA. Aku tak melanjutkan di sekolah yang sama dengannya. Tapi tak ada yang berubah dengan pertemuan rutin 20 menit kami di setiap penghujung senja. Segalanya masih sama seperti di awal. Sama persis. Kami tetap tak membahas mengapa kami terus bertemu dan sampai kapan akan tetap bertemu, juga akan bagaimana kelanjutannya nanti. 

Suatu hari, setelah berminggu-minggu yang suram berhiaskan rinai hujan, aku menerobos gerimis datang ke belakang bangunan kosong itu. Sebenarnya aku tak yakin ia akan datang. Tapi toh di rumah pun aku tak punya kegiatan lain selain gelisah terus memikirkan ia dan tempat itu. Jadi walau di sana aku hanya akan termangu sendirian, aku tetap memutuskan untuk datang.

Ilalang nampak segar menghijau, semakin lebat dan rapat setelah sekian lama terguyur hujan. Sebersit perasaan lega membuncahi dadaku manakala kudapati sebentuk gundukan berwarna putih menyembul di antara gerumbul ilalang itu. Sebuah payung.

Tapi aku urung melanjutkan langkah. Di bawah naungan payung putih itu, ia tak sendirian. Ada sesosok perempuan berambut panjang berdiri dekat, sangat dekat, di sebelahnya.

Aku tak tahu siapa perempuan itu, mengapa ia ada di sana, dan apa yang akan Raka ceritakan tentangnya. Dan aku tak mau tahu. Tempat itu dan 20 menit sebelum maghrib, adalah milik kami berdua —aku dan Raka. Jika sampai ada orang lain, maka semua itu berakhir.

Segera, sebelum dua orang itu menyadari kehadiranku, aku mengambil langkah mundur, pergi dari sana diam-diam.

Lalu tak pernah datang ke sana lagi hingga seterusnya.

Aku bisa saja mendramatisir situasi hari itu. Mencari-cari kemudian memilah-milah berbagai jenis rasa yang pada saat itu bercampur aduk di hatiku, menamai rasa itu satu per satu, termasuk menangisinya jika aku mau.

Tapi aku tak mau.

Seperti hubungan kami selama itu yang berjalan tanpa nama, tanpa jenis-jenis tertentu dengan masing-masing label pada wadahnya, saat harus berakhir pun kuputuskan untuk tidak menamai apa-apa. Aku enggan untuk menanyai diriku sendiri tentang apa yang kurasa, apa yang kuinginkan, juga bagaimana sebaiknya aku bersikap. Bahkan berusaha melupakan pun tidak. Kuabaikan saja perasaanku seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Hidup terus berjalan. Aku tak pernah mendengar kabar apa pun tentangnya, juga tidak mencari tahu. Ia pun sepertinya sama. Kami menjalani hidup masing-masing di tempat terpisah dan tak pernah sekali pun kebetulan bertemu.

Sore ini, bertahun-tahun kemudian, aku masih saja terkenang senja bersamanya. Jika sedang berlibur di kampung halamanku seperti sekarang, aku masih sesekali menyempatkan diri melirik ke sana setiap kali melintas di jalan depan bangunan sekolah yang tak terurus itu.

Bangunan itu sekarang sudah ambruk. Puing-puingnya sebagian besar sudah tertutup gulma. Dan lahan yang dulu ditumbuhi hamparan ilalang itu, kini sudah berubah menjadi lapangan bola. Jika sore sedang tidak hujan, tempat itu ramai oleh kaum lelaki dari usia SD hingga dewasa muda sekitar 30-an, baik yang datang untuk bermain bola mau pun yang hanya sekadar duduk-duduk menonton saja.

Ada sesuatu yang hilang. Ya, baru setelah beranjak dewasa, aku berani mengakui hal itu. Bahwa 20 menit di penghujung senja bersama Raka yang mewarnai ratusan hariku waktu itu, adalah something important yang kini meninggalkan celah besar menganga di dalam hatiku. Rasanya kosong dan sunyi. Bahkan masih tetap terasa begitu hingga detik ini.

Tapi aku tak menyesalinya. Tak ada secuil pun rasa atau ingatan yang aku merasa perlu untuk menghapusnya, karena aku menyukai segalanya tetap begitu. Termasuk pertanyaannya tentang mimpiku, yang masih saja menyibukkan pikiranku hingga sekarang. Orangnya memang sudah entah di mana, entah masih mengingatku atau tidak, pun entah bagaimana ia hidup sekarang; tapi bagiku ia seperti menantangku sepanjang waktu dengan satu tanya itu.

“Apa mimpimu?”

Sambil melangkah ke beranda, aku menghela napas dalam. Apa mimpiku? Tak ada yang mengharuskanku untuk menjawabnya. Jadi sampai kapan aku akan terus merasa terganggu?

Senja merayap pelan, mendekati 20 menit khusus yang hampir selalu kuingat setiap harinya. Matahari menenggelamkan dirinya sehati-hati mungkin, seolah tak ingin merusak momenku. Semburat keemasannya singgah di pucuk pohon palem di pinggir jalan depan rumahku. Cantik dan syahdu.

Kupejamkan mata, untuk menghirup udara senja sebanyak-banyaknya. Ah, aku benar-benar rindu aroma padang ilalang. Sejujurnya beberapa tahun terakhir, jika aku sedang berdiri di pinggir ladang milik orang tuaku, desau angin pada pucuk-pucuk ilalang terdengar seperti membisikkan nama itu. Raka Wisnu Pratama.

Yeah, begitulah resikonya jika terlalu banyak bergaul dengan orang sinting. Lama-lama pasti ikut tertular sinting.

Di pinggir halaman, ibuku sedang merapikan sisa-sisa sampah bekas pangkasan pohon teh-tehan yang sudah menjadi pagar pekarangan rumahku semenjak aku masih balita dulu. Aku sudah bekerja keras memangkasnya seorang diri tadi, jadi kubiarkan saja beliau membereskan sisanya. Aku bermaksud menemaninya saja sambil duduk-duduk di kursi beranda rumah kami.

Kursi panjang bergaya ukir kuno itu tidak kosong. Ada suatu benda tergeletak di atasnya, memakan sebagian besar tempat. Sebuah benda pipih persegi, ukurannya nyaris selebar permukaan meja ruang tamu, terbungkus kertas sampul berwarna cokelat.

“Ibu, apa ini?” Tanyaku sambil mengamati benda itu penuh rasa ingin tahu.

“Oh, iya. Itu kiriman buatmu.”

“Kiriman? Maksud I... Baca Selengkapnya : https://www.idntimes.com/fiction/sto...mpaign=network

---

Baca Juga :

- [CERPEN] Bisik Ilalang [CERPEN] Partikel

- [CERPEN] Bisik Ilalang [CERPEN] Kekasih Rami Melek

- [CERPEN] Bisik Ilalang [CERPEN] Satu Tuhan dan Dua Patah yang Sama

×