alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Lantaran Sebagai Wong Cilik, Pantaskah Mereka Melanggar Aturan?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b375374c0cb17b56c8b456c/lantaran-sebagai-wong-cilik-pantaskah-mereka-melanggar-aturan

Lantaran Sebagai Wong Cilik, Pantaskah Mereka Melanggar Aturan?

Lantaran Sebagai Wong Cilik, Pantaskah Mereka Melanggar Aturan?

Kita memang wajib saling menghormati, menyayangi dan mengasihi kepada sesama, terutama kepada mereka yang memerlukan bantuan. Mereka ini sering disebut atau menyebut diri sebagai Wong Cilik, yakni orang kecil, rakyat biasa yang tak berkelebihan secara finansial. Lebih tegasnya lagi, mereka adalah “orang miskin”.

Dalam beberapa kasus, status Wong Cilik ini justru digunakan sebagai alasan untuk melanggar aturan, atau sebagai pembenaran atas pelanggaran yang mereka lakukan. Salah satu contoh konkritnya adalah Tukang Becak. (Maaf, ini tidak bermaksud mendeskriditkan mereka).

Ane sering lihat, beberapa tukang becak seenaknya melanggar aturan lalu lintas. Misalnya, jalan berlawanan arus, menyeberang/berbelok tidak pada tempat semestinya, berhenti dan parkir di tempat terlarang, menerobos lampu merah, dan sebagainya. Ketika melanggar aturan dan ditegur, mereka umumnya akan menjawab, “Aduh, maaf Pak! Kami ini rakyat kecil yang cuma mencari sesuap nasi”.

Memang, Undang-Undang Lalu Lintas tidak mengatur adanya sanksi (tilang) bagi pengemudi kendaraan tak bermotor ini. Namun sebagai pengguna jalan umum, seharusnya mereka juga tunduk kepada rambu-rambu yang ada, sebab ini menyangkut keselamatan dan ketertiban lalu lintas dan pengguna jalan.

Jika terjadi kecelakaan lalu lintas antara pengemudi kendaraan bermotor dan tukang becak, maka hal ini juga kadang dijadikan sarana untuk “memeras” pemilik kendaraan bermotor, meski secara faktual yang salah tukang becak itu sendiri. Misalnya, mereka meminta uang ganti rugi kerusakan becak, uang santunan atau uang damai, agar kasusnya tidak dilaporkan ke aparat yang berwenang. Pengemudi juga kadang karena tak ingin repot berurusan, langsung saja memenuhi permintaan tersebut, walau hatinya mengdongkol.

Lantaran Sebagai Wong Cilik, Pantaskah Mereka Melanggar Aturan?

Pernah kejadian, sebuah mobil menabrak sapi. Akibatnya, sapi itu mati di tempat dan mobil mengalami kerusakan yang cukup parah di bagian depan. Banyak saksi yang mengatakan bahwa sapi itu secara tiba-tiba berlari ke tengah jalan. Pemilik sapi meminta ganti rugi harga sapi tersebut. Pengemudi mobil itu hanya bersedia mengganti separuh harga sapi, dengan alasan mobilnya juga rusak yang biaya perbaikannya ditaksir lebih dari separuh harga sapi. Karena pemilik sapi tetap ngotot bahkan mengancam, akhirnya pengemudi itu membawa kasusnya ke ranah hukum. Dan akhirnya ternyata pengadilan memenangkan gugatan pengemudi itu. Pemilik sapi diwajibkan mengganti rugi atas kerusakan mobil tersebut.

Dari kasus tersebut, jelas bahwa Wong Cilik berusaha untuk memanfaatkan pelanggaran untuk meraih keuntungan. Pengemudi sih awalnya sudah bersimpati dan bersedia memberikan santunan. Namun karena merasa “diperas”, maka akhirnya ia memilih jalur hukum, dan memenangkannya.
***
Nah, dari uraian kasus di atas, masih pantaskah seseorang melangar aturan dengan dalih mereka adalah Wong Cilik? Mari kita bahas masalah ini melalui kolom reply di bawah ini!(*)
Spoiler for Referensi:

Quote:
Diubah oleh Aboeyy
Urutan Terlama
Reserved
cilik gede sama saja, kalo sudah crot rasanya sama
begitu juga terhadap aturan yang ada
ya ga boleh melanggar apapun alasan nya
#terkecuali darurat dan berhubungan dengan keselamatan nyawa
sebenarnya wong cilik itu lebih mudah di atur daripada wong BESAR emoticon-Shutupemoticon-Ngakak (S)
contoh lain: bikin lapak / hunian sembarang, giliran disuruh pindah malah minta ganti rugi padahal itu bukan haknya



sudah tradisi emoticon-Angkat Beer
menurut gue gk ada beda . di mata allah semua sama . juga di aturan , semua harus patuh
Diubah oleh naminami.rr
mungkin sdh punya ajian kebal hukum
emak2 dungu naik motor nyebrang gak liat2 ditabrak mobil, yg disalahin mobilnya yg harus ganti mobilnya emoticon-Ngakak
kan goblok tuh emoticon-Ngakak
tapi kayaknya klo dibawa ke hukum polisi udah objektif emoticon-Big Grin
cuma masyarakat yg ngelihat tetep stigmanya klo ada tabrakan,kendaraan yg gede selalu salah emoticon-Ngakak
Diubah oleh tukang.semprot
wong cilik punya partai
Quote:

keterlaluanlah itu ...
udah salah masih play victim
Hukum itu tidak pandang bulu, mau yang kaya atau miskin semua sama di mata hukum emoticon-Cool
Quote:


fedei-fe...fartai wong licik
Quote:

memang super gan ini emoticon-Ngakak (S)

ya gak pantas lah walaupun mereka wong cilik.. kan dari kemarin koar koar kesamaan hukum.. klo mau sama ya mereka juga harus ikutin aturan..
Hamba lelah mendengarnya bre emoticon-Hammer2
Quote:

Urusan "rasa", ente emang ahlinya. Wkkk


Quote:

Sangat paradoks sebenarnya. Satu sisi wong cilik yg susah diatur, di sisi lain wong gede yg ribet. emoticon-Big Grin


Quote:

Yah begitulah tradisi di negeri ini.


Quote:

Yoi bro, semya sama, tp sebagian manusia ada yg merasa lebih hebat dari yg lain. emoticon-Big Grin

Quote:


Begitulah, selalu yg gede disalahin. Mungkin krn ada mungkin, yg besar mengalah, kakak mengalah sama adik. emoticon-Big Grin
Quote:


Implementasinya apa kabar bosku?
emoticon-Traveller
Para subes diatas sudah menganalisa jadi aye bisa melanjutkan perjalanan

Lantaran Sebagai Wong Cilik, Pantaskah Mereka Melanggar Aturan?
Diubah oleh kruingputih3
Quote:


kalo soal implememtasi itu masing masing orang. bukan dilihat dari `` wong nya`` . terkadang ada juga wong cilik yang banyak ngelanggar aturan. Jadi menurut gue semua dilihat dari diri masing masing orang. Ya tapi tau juga kan faktor lingkungan juga ngaruh sama orangnya
ga pantas
Quote:


Kalo udah mengutip istilah "masing2", berarti premis "semua sama" itu terpatahkan
Okeh bosku?
emoticon-Traveller


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di