alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kekalahan PDIP, Antara Politik Dinasti dan Skandal Korupsi
1 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b374ab9642eb6a2248b4567/kekalahan-pdip-antara-politik-dinasti-dan-skandal-korupsi

Kekalahan PDIP, Antara Politik Dinasti dan Skandal Korupsi

Hasil hitung cepat atas pilkada serentak, 27 Juni 2018, memperlihatkan 11 dari 17 calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung PDI Perjuangan kalah. Beberapa calon yang diusung PDIP baru diumumkan beberapa saat sebelum batas akhir pendaftaran (injury time), selain faktor ketokohan dan salah penempatan wilayah, yang ikut andil.

Selain itu, dari pengamatan detikcom, para jago PDIP kalah di pilkada kali ini mungkin karena sentimen politik dinasti. Juga skandal korupsi yang menerpa sang kandidat. Sebagai contoh Karolin Margret Natasa di Kalimantan Barat. Saat mengumumkan namanya, Megawati menyebut sederet prestasi putri Gubernur Barat saat ini, Cornelis. Dia cantik, berpendidikan dokter, dan terpilih sebagai Bupati Landak pada Maret 2017 dengan perolehan suara 96,62 persen. 

Tapi sepekan menjelang hari pencoblosan, LSI Denny JA merilis hasil mengejutkan. Posisi Karolin sebagai putra Cornelis, yang telah dua periode memimpin Kalbar, justru menjadi titik lemah. Ada resistensi publik terhadap politik dinasti.Dari catatan detikcom, saat duduk sebagai anggota DPR di Senayan pada 2014, perolehan suaranya pun lumayan gemilang, 397.481. Jumlah ini lebih banyak dengan perolehan suara Puan Maharani (369.927) atau Edhi Baskoro Yudhoyono (Ibas) dari Demokrat di Dapil Jawa Timur, 243.747 suara.

"Sebesar 51 persen publik Kalimantan Barat menyatakan majunya Karolin Margret Natasa sebagai gubernur dinilai kurang pantas/tidak pantas sama sekali, karena dianggap sebagai upaya petahana (Cornelis) melanggengkan kekuasaannya melalui keluarga," papar Adjie Alfaraby, peneliti LSI Denny JA.

Pasangan dinasti politik juga terjadi di Sumatera Selatan, dan kalah. Giri Ramanda Kiemas, keponakan Megawati, yang dipasangkan dengan Dodi Reza Alex, anak Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Giri sebagai calon wakil gubernur dan Dodi sebagai calon gubernur. Keduanya tergolong anak muda dan merintis karier politik dari bawah. Dodi malah sempat mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri, Belgia. 

Baca juga: Blunder 'Injury Time' dan Kekalahan PDIP di 11 Provinsi (1)

Meski begitu, justru soal prestasi dan politik dinasti itulah yang antara lain dimainkan oleh Herman Daru. Saat kampanye dialogis di Palembang, 15 Februari, dia mengaku pernah dilabrak Alex Noerdin. Dia dituding suka mengolok Doli, yang banyak menerima penghargaan meski baru delapan bulan menjabat Bupati Musi Banyuasin.

Tak jelas benar apakah kampanye antipolitik dinasti itu berhasil. Nyatanya, hasil hitung cepat LSI Denny JA memperlihatkan pasangan ini cuma meraup 32,10 persen suara, sedangkan Herman Deru-Mawardi Yahya mendapat 35,54 persen suara.

Baca juga: Dinasti Politik di 7 Pilgub 2018

Khusus di NTT, kekalahan Marianus Sae-Emiliana Nomleni memang bisa dimaklumi. Sejak pertengahan Februari lalu KPK menetapkan dia sebagai tersangka kasus suap. Di NTT, duet Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae, yang diusung oleh Partai NasDem, Golkar, Hanura, dan PPP, menurut hasil survei Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC), unggul 35,62 persen, sedangkan Marianus-Emiliana, yang didukung koalisi PDIP dan PKB, 27,19 persen. 

https://m.detik.com/news/berita/4088069/kekalahan-pdip-antara-politik-dinasti-dan-skandal-korupsi

Mungkinkah demikian
Sebenernya basis masa PDIP itu kuat, cuma orang jadi gak mau ngaku pdipret karena ada mbok Mega. Coba tuh meganya nggak ngatur2 biarin kader yg muda yg bersih memimpin. Klo dalam ilmu manajemen, PDIP ini dah sekelas perush.publik skala usahanya jadi gak perlu lagi politik kroni. Apalagi figur yg pemimpin spt Mega sudah telanjur gak baik di mata rakyat. Coba pdip cari kroni yg lebih mantep yg nggak pernah cacat secara hukum dan minus di mata masyarakat, pasti jaya tuh PDIP. Misal kasih wiwi yg pegang tampuk PDIP.
dah dinasti ujung2nya skandal korupsi...kasus bantul,klaten...terulang
Masih predikat partai terkorup sihemoticon-Traveller
Partai kobokan wajib dapet karmanya.
Kelakuan elitnya itu memuakkan maksimal.
Kacang lupa kulitnya... Suara naek karena Wiwi malah berasa karena prestasi elitnya, pesona mamak dan bapake.
emoticon-Najis

KPK mau dimampusin.
Pimpinan polri diobok-obok
Wiwi dan Rini dihajar pansus... Oneng sampe ngancem lengserin Wiwi kalo gak tunduk sama pansus.
RR dipaksa masuk kabinet setelah ditolak mentah-mentah jadi cawapres.
BPK dijadikan alat politik.
Buwas dibuat perkasa.
Korupsi paling kenceng tapi sok nasionalis dan pancasilais
emoticon-Najis

Dengan dosa kayak begono, dapet suara 9% aja udah kegedean.
emoticon-2 Jempol
Diubah oleh coldblacksnow
kalo sebelah, azab suka fitnah & doyan selangkangan emoticon-Ngakak
wah sepi aja yang komen coba kalau partai PKS atau FPI yang berbuat kayak gini beh habis dibuli sama sampah sampah kaskus cememoticon-Wakaka id cloningan semuaemoticon-Wakaka
PDIP mau jaya gampang sbnernya. kasih jokowi sbgi ketua umum dah pasti kepercayaan publik naek
kasih panggung yang muda biar regenerasi jalan, itu intinya kalau mau tetap berjaya emoticon-Traveller

Kekalahan PDIP, Antara Politik Dinasti dan Skandal Korupsi
Kekalahan PDIP, Antara Politik Dinasti dan Skandal Korupsi
Kekalahan PDIP, Antara Politik Dinasti dan Skandal Korupsi
Kekalahan PDIP, Antara Politik Dinasti dan Skandal Korupsi
parpol lama yang ga berubah2, itu udah emoticon-Big Grin


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di