alexa-tracking

Sebuah Kisah Nyata : Tekad Dalam Menggapai Impian (Part 3)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b36de569a095139488b456a/sebuah-kisah-nyata--tekad-dalam-menggapai-impian-part-3
Sebuah Kisah Nyata : Tekad Dalam Menggapai Impian (Part 3)
Yang Belum Baca Thread Sebelumnya bisa dibaca dulu :
(1)
Sebuah Kisah Nyata : Tekad Dalam Menggapai Impian



Ini kisah saya selama duduk dibangku SMA 3 tahun yang lalu. 

saya sudah lama berada didalam euforia mimpi dan harapan. Mimpi untuk masa depan, untuk kebahagiaan diri sendiri bahkan keluarga. Banyak mimpi yang pada waktu itu saya tulis didalam buku diary saya, kertas pribadi saya, hingga saya simpan dalam do'a. Saya mulai merajut mimpi-mimpi saya ketika saya memasuki kelas 2 SMP. Ketika saya bertemu dengan pendamping asrama saya, saya memanggilnya dengan sebutan "UCUS". Beliau adalah sosok pemimpi yag besar, punya tekad yang tinggi untuk mencapai cita-citanya.

 Awalnya saya mengenal beliau dengan satu sisi dan sebelah mata. Ternyata beliau-lah yang membuat saya optimis dalam membangun mimpi-mimpi saya kelak. Dulu, saya menginginkan sebagai musisi, song writer, arranger bahkan suatu saat nanti saya akan mempunyai sebuah orchestra yang besar dan dapat mengharumkan nama Bangsa Indonesia. Dan saya termotivasi oleh sosok beliau, dengan keterbatasan biayanya beliau pantang menyerah untuk mengejar cita-cita belajar ilmu sosiologi walaupun usianya pada waktu itu 20 tahun yang hampir saja tidak bisa mendaftar lagi ke PTN jalur bidikmisi. Selain itu, beliau juga mempunyai mimpi dapat bersekolah di luar negeri, misalnya Jepang.

Waktu itu, saya beserta teman-teman saya pernah diajak ke pameran pendidikan Universitas Melborne Australia di Hotel Phoenix, Yogyakarta. Saya memandang beliau betapa semangat untuk mengejar cita-citanya sekolah ke luar negeri.

 Singkat cerita, kita berpisah saat saya memasuki kelas 1 SMA. Beliau sudah tidak lagi menjadi pendamping asrama. Masih ingin bertahan di Yogyakarta, beliau memutuskan untuk mencari tempat kost di daerah Gondomanan.Beliau bekerja serabutan untuk membiayai hidupnya sendiri dan menabung untuk mengejar cita-citanya. Saya beserta teman-teman saya terkadang tidak tega dengan keadaannya. Makan susah, semakin lama beliau sakit-sakitan. Tapi semangatnya tidak pernah sakit.

 Ketika beliau mencoba mendaftar prodi sosiologi di UGM, ternyata umur sudah tidak memasuki kriteria. dan alhasil beliau mendaftar ke Universitas Atma Jaya walupun mencicil Dp nya saja.

 Dilema melanda, ketika beliau ditawarkan untuk bekerja di Pemalang, alhasil UAJY dilepas dan beliau bekerja disana walaupun singkat.

Tak lama kemudian beliau sakit keras selama 1 bulan. Sempat beliau tak terdengar kabar. Dengan beliau sakit, tak melumpuhkan cita-citanya untuk sekolah.

Beberapa bulan kemudian, beliau datang ke Jogja dan meminta bantuan kepadaa saya, tapi pada waktu itu saya tidak bisa menolongnya.Dan setelahnya, beliau tidak ada kabar.

Unpredictable, beberapa tahun kemudian saya melihat situs Facebook bahwa beliau sudah ada di Malaysia. Mimpi beliau sudah menjadi nyata. Tak ada kata menyerah dalam hidupnya. Hasil tak mengkhianati usaha beliau untuk bersekolah di luar negeri.

 Kisah beliau tetap akan menjadi motivasi saya untuk mendapatkan apa yang saya cita-citakan dan saya inginkan. Walaupun kemungkinan kecil tidak dapat dikejar karena hakikatnya saat ini saya belajar di Ilmu Komunikasi bukan Seni Musik.

Begitu kisah motivasi tentang mengejar sebuah mimpi,Asal kita punya tekad yang kuat pasti akan tercapai. Pepatah mengatakan " There is a will, There is Away" 



----------------------------------------------------------------
(2)



Gambar yang tertuju diatas adalah banner/ spanduk penyemangat kami untuk bisa meraih menjadi juara. Juara dalam meraih mimpi yang kita inginkan dan sesuai dengan passion kita masing masing. 

Banner yang dibuat oleh Ucus dengan kata-kata beliau yang mengajak kita bersama sama untuk bisa jadi orang yang sukses dengan jalur keinginan masing-masing. Tetap bisa Fighting segala sesuatu keadaan apapun. Melawan kegundahan, kemalasan, dan melawan dunia yang tidak support dengan apa yang kita mimpikan. 

Siapa yang bisa sangka sih kalau mimpi bisa menjadi nyata dengan sesuai harapan kita. Namun, tidak semua orang bisa mendukung apa yang dapat dijadikan untuk menggapai mimpi kita. 

Tapi berbeda dengan sosok Ucus yang satu ini. Beliau lah yang membangkitkan dan memotivasi saya dan teman teman saya di asrama untuk gigih dalam menggapai mimpi dan cita-cita masing-masing. 

Beliau adalah motivator yang hebat. Tidak hanya beliau yang gigih dalam mencari cara agar mimpi nya untuk pergi ke luar negeri terwujud tapi juga mengajak saya dan teman teman saya untuk bisa mewujudkan keinginan sesuai dengan passion. Bagi saya dia adalah teman. Teman seperjuangan dalam menggapai sebuah impian. 

Kegigihannya yang membuat saya salut. Setiap hari dia tidak hanya bekerja sesuai tanggung jawabnya sebagai pendamping asrama tapi juga belajar TOEFL dan IELTS ga sekedar itu bahkan negara yang dia ingin kunjungi juga ia pelajari budaya, culture, dsb. 

Quote:Tidak hanya sekedar keiinginan yang berucap. Namun perbuatan dengan Kegigihan menggapai mimpi juga diperlukan. Serumit apapun tantangan menghadang, demi sebuah mimpi harus bisa kita lewati dengan penuh kesabaran. Itu yang saya lihat beliau yang telah berhasil dalam menggapai mimpinya. 

Quote:Berdoalah jika menghadapi suatu kesulitan. Karena setiap kesulitan pasti ada jalan menuju kemudahan. Setiap ada kesengsaraan pasti ada jalan menuju kesuksesan.


"Selamat Datang Para Juara", kata-kata yang sederhana namun menggugah semangat untuk menggapai sebuah mimpi. 
-----------------------------------------------------------------
(3)

"Kenapa sih Cus, Kamarnya Harus dicat Warna-warni?"


Sebuah Kisah Nyata : Tekad Dalam Menggapai Impian (Part 3)

Waktu itu kami sedang beranjak kelas 3 SMP. Masa-masa dimana kami harus giat belajar untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam menghadapi Ujian Nasional.

Rata-rata kami orangnya sedikit motivasi untuk belajar, hanya sebagian kecil yang rajin belajar. Untuk sisanya? Lebih suka bermain, bersenda gurau sesuka hati.

Waktu itu juga kami yang hidup di asrama merasa terpencil kan. Karena asrama kami pojok tidak terlihat, memasukinya aja harus melewati lorong kecil, disitu asrama kami. Selain itu juga, cat tembok sudah mulai kusam. Yah wajar saja jika kami tidak punya motivasi untuk belajar. Karena Lingkungan juga penting untuk mendukung apa yang kita perjuangkan.

Ternyata, Ucus sudah melakukan sebuah rencana bagaimana kita bisa terus semangat belajar. Beliau ingin semangatnya juga bisa diturunkan kepada kami saat belajar. Bagaimana cara untuk konsentrasi lebih untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Rencananya saya kira hanya sebuah desas-desus wacana, ternyata memang menjadi sebuah rencana yang seru dilakukan. "Kita Cat Asrama aja yuk! Tiap Kamar usul kalian mau nge cat warna apa. Tapi ingat harus ada filosofis nya kenapa milih warna itu dan warna itu yang membuat kalian termotivasi untuk belajar" kira kira begitu ucapannya. "Wah bagus! Setuju! Aku juga bosen warna nya ijooo terus ga ganti-ganti. Warna yang lain keek," Tutur teman saya.

Saat itu juga kami berembuk memilih warna yang sesuai yang menjadi motivasi kami. Setelahnya kami mengirimkan istilahnya seperti proposal keinginan kami kepada pimpinan sekolah. Tapi, kenyataannya pimpinan sekolah berkata lain. Mereka menolak. Lebih dari itu mereka mempertanyakan. "Kenapa sih Cus Kamarnya Harus dicat Warna-warni?" Ada juga yang bilang "Loh ga sesuai sama ketentuan sekolah dong. Kan kita harusnya warna hijau" dan lain sebagainnya.

Tapi usaha kami terlebih Ucus tidak menyerah begitu saja. Kita tetap bersikeras bagaimana hal itu bisa diwujudkan. Sempat kita mengumpulkan pribadi untuk membeli cat dan kuas. Iya, kami menyelewengkan keputusan sekolah. Tapi bagi kami itu bagian dari sebuah kebutuhan motivasi.

Setelah sekian lama, akhirnya kami bisa mewujudkan nya. Tekad kita tercapai. Akhirnya kami cat ruang-ruang di asrama sesuai keinginan warna dan bergotong royong kami saling cat tembok asrama kami tanpa ada bantuan tukang bangunan. Sesuatu kebanggaan bagi kami, para perempuan tangguh yang mampu melakukan pekerjaan yang tidak biasa dilakukan.

Warna-warna kamar kami akan tetap selalu menjadi saksi jerih payah kami saat melakukan pekerjaan yang belum pernah kami lakukan. Setelah kami mengecat nya, kami merasa puas dan lega. Dan persis apa yang menjadi gambaran Ucus sebelumnya. Kami menjadi lebih semangat belajar dan lebih melakukan kegiatan kegiatan positif.

Hal yang menjadi sebuah rasa nyaman adalah saat kita sedang berkonsentrasi, setiap malam hari kami disuguhkan instrumen musik klasik dan melihat cerahnya tembok asrama kami. Kami Lega dan tersenyum puas.

Sangat berterima kasih sekali atas kerjasama kepada teman-teman ku yang mau berjuang bersama serta Ucus. Kami senang. Kami terkenang.

Quote:
. To be Continued
×