alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b363b9e947868297a8b4567/the-game-thriller

The Game (Thriller)

THE GAME
(Thriller, Fiction)


The Game (Thriller)


Quote:

Apa kau tidak merasa hidup ini membosankan? Seperti terlalu monoton. Bahkan aku mulai merasa sekolah itu melelahkan. Tidak ada tantangan. Aku selalu ingin adrenalinku terpacu dan membuatku berteriak “Waw ini menyenangkan!”. Tak satu pun membuatku tertarik, hingga aku bertemu dia. Namanya Reol, dia adalah murid pindahan yang menyita perhatian seisi kelas dengan tampangnya yang persis seperti boneka, benar-benar imut.

Selepas bel istirahat berbunyi, dia langsung dikerumuni banyak orang. Layaknya artis yang terjepit di antara para wartawan. Berbagai pertanyaan pun terlontar untuknya.

“Reol, apa kau sudah punya pacar?” celetuk Iki sang ketua kelas. Sebagai laki-laki, dia cukup percaya diri dengan tampangnya yang memikat.

Di sana juga ada Pinkan yang tampak iri dan bertanya, “Apa rahasiamu bisa cantik? Jangan bilang karena oplas?”

“Rambut Reol sangat lembut, bagaimana bisa warnanya begitu hitam?” Rinrin ikut bertanya.

Aku bisa melihat tampang Reol yang cukup kebingungan untuk menjawab satu persatu pertanyaan yang tanpa henti menghujani dirinya. Pada akhirnya, rentetan pertanyaan bodoh itu hanya ia jawab dengan seulas senyum. Di sisi lain, aku terus memperhatikan mereka dari pojok tempat duduk. Berusaha menahan tawa atas aksi teman-temanku yang kelewat konyol.

“Timi, apa kau mendengarkanku?” tanya Sasya.

Segera aku melempar pandangan ke arah gadis yang saat ini berdiri di hadapanku. Entah sejak kapan gadis bermata sipit itu masuk ke kelasku. Dia itu teman masa kecil yang merepotkan, selalu menempel seperti permen karet. Aku sendiri heran mengapa bisa selalu satu sekolah dengannya. Satu-satunya yang kusyukuri saat SMA adalah kami tidak sekelas. Seandainya bukan karena permintaan ibu, aku tidak akan bersikap baik kepadanya.

“Eh? Ada apa?”

“Apa itu murid baru yang heboh dibicarakan?” tanya Sasya sambil menunjuk ke arah Reol. Aku pun langsung mengiyakan dengan satu anggukan. “Menurutmu apa aku lebih imut dari dia?”

Tanpa ditanya pun jawabannya pasti “Tidak”, sudah jelas Reol seratus kali lebih imut. Namun, itu bukan jawaban yang diinginkan Sasya. Aku tak mau melihatnya pulang sambil menangis dan mengadu pada ibuku.

“Sudah pasti kamu yang terimut,” jawabku bohong. “Memang perlu jawaban apa lagi?”

Mendengar jawabanku, Sasya langsung tersenyum puas.

Tiba-tiba saja Denis menghampiri kami. Dia membawa buku tebal panjang dan pulpen. Aku menatapnya penuh tanda tanya, tak biasanya Denis yang pendiam berinteraksi dengan orang lain.

“Timi, bisa kau menulis nomor teleponmu di sini?” minta Denis sambil menunjuk bagian kosong di bawah deretan nomor telepon lainnya.

“Tentu,” aku segera menulisnya. “Tapi untuk apa?”

“Ah, ini demi membantu teman baru kita agar tidak kesulitan menanyai tugas,” jawabnya antusias.

“Maksudmu untuk Reol?” tanya Sasya. “Kalau begitu biarkan aku ikut mengisinya, aku juga ingin berteman dengan Reol.”

Aku benar-benar tidak percaya bahwa pengaruh Reol sebesar ini. Dia memberi dampak luas, bahkan bagi si Denis. Hari ini kehadiran Reol berhasil menguncang satu sekolah. Meski terdengar berlebihan, tapi begitulah kenyataannya.

***

Tak ada yang lebih baik dari mandi tengah malam. Tubuhku jadi segar. Setelah berpakaian, aku mencoba mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk. Kemudian aku membaringkan tubuhku di kasur. Sebelum aku merasa benar-benar terlelap, ponselku berdering. Dengan setengah malas aku memeriksa pesan yang baru saja masuk.

“Apa kau ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan? Seperti membunuh kebosananmu yang menumpuk? Aku akan menunggumu di sekolah, tepatnya di kelas. Mari memainkan sebuah game malam ini.”



Quote:

The Game (Thriller)


Quote:

PROLOG
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13 (END)
profile-picture
lolinii memberi reputasi
Diubah oleh ningsiw878
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Reserved.
The Game? Anak baru? Pasti Reol ini pembunuh. Ketahuan banget. Denis ngumpulin nomor teman sekelas buat dikasi ke Reol. Malamnya ada chat masuk. Siapalagi kalo bukan Reol? Beol? emoticon-Leh Uga
Ijin nenda dulu gan 😎

PART 1

Apa-apaan pesan ini? Apa ini sejenis tipuan baru melalui sms? Yang benar saja. Aku menghempaskan ponselku di samping bantal, lalu mencoba memejamkan mata. Namun, itu tidak berhasil. Aku kembali meraih ponselku dan menatap layar berpendar itu hingga aku menyadari sesuatu. Terdapat nama “Reol” di sana. Apa pesan ini dari Reol? Tapi mungkin saja seseorang sedang berusaha mengerjaiku dengan mengatasnamakan Reol. Sudahlah dari pada penasaran sebaiknya aku memeriksanya sendiri ke sekolah. Aku pun meraih hoodiehitamku yang tergantung di belakang pintu.

Saat hendak membuka pintu kamar, aku baru ingat ini bukan waktu yang tepat ke luar rumah. Orang tua mana yang akan mengijinkan anaknya ke sekolah pukul dua belas lewat hanya karena mendapat sms aneh? Apa aku bilang saja ingin pergi kerja kelompok ke rumah Sasya? Ah, itu makin terlihat mengada-ngada. Bagaimana kalau kabur lewat jendela? Itu bukan ide yang buruk. Lebih tepatnya hanya itu satu-satunya pilihan yang tersisa.

Jendela kubuka dengan hati-hati. Tidak membiarkan suara sekecil apa pun mengusik dua orang yang tengah terlelap di kamarnya. Pertama-tama aku melempar sepatuku lebih dulu, selanjutnya aku pun melompat, kembali menutup jendela, dan aku berlari-lari kecil di halaman. Siapa pun yang melihat, mereka pasti menuduhku sedang merampok rumah sendiri.

Sayangnya, perjuanganku tidak sampai di situ. Kali ini aku harus menunjukkan bakatku dalam hal memanjat. Pagar besi yang cukup tinggi itu akhirnya dapat kulewati tanpa kesulitan yang berarti. Motor? Aku tidak perlu membawanya, berjalan selama sepuluh menit itu sudah cukup agar bisa sampai ke sekolah.

***

Awalnya kupikir hanya aku yang datang ke sekolah. Namun, aku salah. Begitu aku masuk ke kelas, tak ada yang lebih mengejutkan ketika melihat Sasya, Iki, Denis, Rinrin, dan Pinkan.

“Timi, kau ke mana saja?” rengek Sasya yang langsung memelukku.

“Kenapa kau ada di sini?” aku balik bertanya.

Sasya mencoba bicara sambil mengatur napasnya. Dia tampak begitu panik. “Aku mendapat pesan. Isi pesannya kau kecelakaan di depan sekolah, jadi aku buru-buru ke sini. Begitu aku tiba di depan sekolah, aku bertemu Pinkan dan yang lainnya.”

“Tenanglah, aku ada di sini sekarang. Jadi jangan khawatir.”

Kuharap dengan kata-kata seperti itu Sasya akan membatalkan niatnya untuk menangis. Matanya sudah berkaca-kaca, dan aku paling benci jika harus mendengar dia menangis. Suaranya itu sangat berisik.

“Kalau begitu kenapa kau tidak mengangkat teleponku?” tanyanya penuh selidik.

“Telepon?” Segera aku memeriksa saku celanaku. “Maaf, sepertinya teleponku ketinggalan di kamar.”

Aku mulai mengerti. Dari penjelasan yang diberikan Sasya, sepertinya setiap orang mendapat pesan yang berbeda. Aku tidak bisa menebak pasti pesan seperti apa yang mereka terima. Mungkin sesuatu yang berkaitan dengan hasrat. Contohnya aku, hasratku itu ingin menghilangkan rasa bosan. Sementara Sasya? Dia itu cukup terobsesi denganku, jadi mungkin saja aku termasuk dalam hasratnya. Yang pasti tujuan pesan itu hanya satu, mengundang kami ke sekolah.

“Bagaimana mungkin Timi yang biasanya masa bodoh tertarik datang ke sini?” tanya Iki sinis. Ia tengah duduk di atas meja dengan santai.

“Hanya ingin,” jawabku singkat.

“Bukankah semakin banyak orang itu baik?” timpal Rinrin. Ia memeluk boneka koalanya dengan erat.

Ekspresi wajah Iki berubah ketus, “Jadi kau lebih membela Timi ya, Rinrin?”

Rinrin tidak memberi komentar apa pun. Dia lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah Denis dan kembali menutup mulut.

Pinkan yang dari tadi sibuk merapikan make up-nya di depan cermin persegi kecil itu pun angkat bicara, “Tenang Iki, aku ini ada di pihakmu. Selalu.” Sekarang ia mulai menyisir rambutnya. “Dan jangan membuat Rinrin ketakutan, dia itu pemalu.”

“Bisa kalian diam?” Aku jadi susah berkonsentrasi dengan buku yang kubaca,” keluh Denis.

Menempatkan kami berenam dalam satu ruangan bukanlah ide yang bagus. Selalu saja begini. Berawal dari hal sepele dan berakhir pada perdebatan yang sia-sia. Meski sekelas, kami tidak begitu akrab. Pengecualian untuk Sasya yang sering main ke kelas, ia cukup akrab dengan Pinkan.

***

Atmosfer ini cukup tidak menyenangkan. Aku punya firasat buruk. Ini sudah lima belas menit berlalu, tetapi orang yang mengundang kami belum juga menampakkan diri. Semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Apa hanya kekhawatiranku saja yang berlebih? Walau bagaimanapun, aku merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.

Speaker yang ada di kelas tiba-tiba saja berbunyi. Sebuah lagu diputarkan. Sejenak kami terdiam, menghentikan aktifitas yang tadinya kami lakukan. Tunggu dulu, lagunya cukup mengerikan! Itu adalah lagu tanpa lirik dan hanya ada suara perempuan dengan nada yang aneh. Sejak lagu itu diputarkan aku merasa ada yang salah dengan diriku, begitu juga dengan teman-temanku.

Suara langkah kaki tiba-tiba bergema di koridor. Seseorang datang!
Awas tim pulang" di apus dari KK loh keluar rumah tanpa pamit
ijin bangun tenda sis seru ceritanya emoticon-Jempol
Quote:

Silakan berspekulasi gan, baca aja ampe updaten part terakhir. Entar semuanya terungkap kok emoticon-Belo
Quote:

Silahkan gan, makasih udah mau mampir gan emoticon-Jempol
Quote:

Semoga aja nggak, Timi kan anak baek-baek emoticon-Malu
Quote:

silahkan gan, makasih banyak udah mau mampir emoticon-Jempol
Nitip sendal gan,sekalian nyimak emoticon-Big Grin
keknya menarik nih
Quote:

ok gan emoticon-Big Grin

Quote:

jangan lupa baca lanjuannya gan, pasti lebih menarik emoticon-Malu

PART 2

Dia memakai dresshitam panjang dengan membiarkan rambut hitamnya terurai, kulitnya cukup pucat seperti mayat begitu tertimpa cahaya lampu.

“Halo semuanya,” sapa Reol ramah. “Apa kalian sudah cukup lama menunggu?”

“T-tentu s-saja tidak,” jawab Denis gelagapan. Aku bisa melihat muka Denis yang merah padam hanya dengan menatap Reol.

“Sebenarnya apa maumu?” tanyaku dingin. Sasya masih mengamankan dirinya di sampingku, ia terus saja memeluk lenganku dengan erat.

Reol menunjukkan sesuatu yang tadinya ia simpan dibalik punggungnya. Itu hanya sebuah gelas dengan beberapa bekas stik es krim di dalamnya. “Silahkan, satu orang ambil satu. Setelah itu akan kujelaskan semuanya.”

Reol menyodorkan gelas itu padaku terlebih dulu. Baiklah, untuk sementara akan kuturuti keinginannya. Aku pun mengambil satu stik secara acak. Disusul dengan Sasya, Pinkan, Iki, Rinrin, dan Denis. Sejauh ini tidak ada yang protes.

“Permisi, apa lagu itu tidak bisa dimatikan? Aku cukup terganggu mendengarnya,” potong Rinrin dengan ekspresinya yang ketakutan.

“Ah lagu itu ya, lagunya akan berhenti secara otomatis begitu permainan berakhir,” jawab Reol santai.

“Permainan?” tanya Iki tak mengerti.

Reol tersenyum lebar. Itu jelas berbeda dengan senyum yang tadinya ia tunjukan di kelas. Senyum itu lebih seperti seorang psychopath. “Game nomor kematian. Game ini bertujuan untuk mempererat pertemanan kita. Apa kalian sudah lihat angka yang ada di ujung stik kalian?” Spontan kami memeriksa stik kami masing-masing dan mencari angka yang Reol maksud. “Itu adalah nomor kematian kalian. Begitu aku mengocok dadu, nomor siapa pun yang keluar maka ia harus dibunuh. Jika tidak, maka pemilik nomor di bawahnya akan mati.”

“Hey jangan bercanda!” bentak Pinkan. “Jangan mentang-mentang kau cantik, kau jadi seenaknya memerintah kami.”

“Jaga mulutmu Pinkan! Beraninya membentak Reol!” bela Denis sambil melayangkan pukulannya. Untungnya Iki dengan cepat mencegah hal yang tak diinginkan terjadi.

Iki mencenkram tangan Denis kuat-kuat. “Apa-apan kau Denis! Kau ini seperti pengecut,” geramnya. Denis pun segera menurunkan tangannya. Sudah jelas fisik Iki bukan tandingannya.

“Semuanya hentikan!” teriak Rinrin sambil menangis. “Kumohon …”

Suasana yang kacau. Ini seperti emosi kami mulai tak terkendali. Bertubrukan satu sama lain. Sepertinya yang kukhawatirkan akan segera terjadi. Ini buruk.

Aku melirik stik milik Sasya, ia mendapat nomor enam. Sementara itu aku mendapat nomor satu. Untuk empat orang lainnya aku tidak tahu, karena mereka langsung menyimpan stik milik mereka.

Aku mengambil beberapa langkah ke depan hingga semuanya dapat memperhatikanku. “Saling bunuh? Dasar sinting!” umpatku kesal. “Jadi maksudmu jika dadunya menunjukkan dua, maka si nomor dua yang harus mati? Dan jika dia tidak berhasil dibunuh maka si nomor satu akan bunuh diri secara otomatis sebagai gantinya? Game ini bahkan tak memberikan kesempatan kepada kami untuk hidup.”

Ditengah-tengah ucapanku, suasana yang tadinya cukup sunyi hingga hanya suaraku yang terdengar, begitu Rinrin berlari ke pintu, hal itu berhasil memancing keributan.

“Keluarkan aku,” Rinrin menggedor pintu. “Aku tidak mau main game …,” lirihnya putus asa.

“Apa kita tidak bisa keluar? Bagaimana ini?” Sasya semakin panik.

“Terkunci bersama Reol? Kurasa itu hal yang bagus,” gumam Denis sambil senyum-senyum.

Seperti dugaanku, entah sejak kapan Reol sudah mengunci pintunya dengan baik. Semua teman-temanku tertunduk. Mereka depresi. Segala rasa takut, gelisah, amarah, dan sedih tengah menyelimuti ruangan kelas. Tak satu pun dari kami yang dapat berpikir tenang. Termasuk aku. Kurasa Denis menjadi pengecualian, dia sungguh tergila-gila dengan Reol. Mungkin hanya dia satu-satunya yang tak keberatan memainkan game ini.

“Apa kalian mengerti? Kurang lebih seperti yang dikatakan Timi. Oh iya untuk pengecualian, nomor di bawah nomor satu adalah nomor enam,” jelas Reol. “Dan semuanya berhentilah menjadi cengeng! Apa kalian tak berpikir ini kesempatan untuk menyingkirkan orang yang kalian benci tanpa merasa bersalah? Lagi pula ini hanya game,” hasut Reol.

Sejenak kami terdiam. Teman-temanku tidak mungkin akan terhasut dengan mudah, bukan? Tapi apa-apaan dengan tatapan mereka yang berubah drastis. Tatapan tajam yang siap menghunus satu sama lain. Kuharap ini hanya perasaanku saja. Walau bagaimanapun, Aku, Pinkan, Iki, Denis dan Rinrin, kami sudah lama kenal selama dua tahun. Ya sebenarnya kami memang tak lebih dari teman kelas.

Tanpa banyak bicara, “Game dimulai!” teriak Reol.

PART 3

Reol mengocok sebuah dadu menggunakan gelas yang ditelungkupkan di atas meja. Kami memperhatikannya. Begitu ia berhenti dan bersiap mengangkat gelasnya, semua orang membeku di tempat. Aku menahan napas. Lalu kembali mengembuskannya. Untungnya bukan nomor satu yang keluar.

Setelah menghitung jumlah titiknya dengan baik, itu adalah dadu yang memiliki lima titik. Tapi siapa? Kami bahkan tak tahu pemilik nomor lima. Kemudian jika sudah tahu, lalu apa? Tidak mungkin kan kami membunuhnya?

Aku mengambil langkah mundur dan menyejajarkan posisiku dengan Sasya. Tangan Sasya gemetaran. Dia tidak terlihat baik-baik saja.

Aku berbisik di telinga Sasya, “Kau tidak berpikir untuk memainkan game gila ini, bukan? Bagaimana kalau kita menyerang Reol dan kabur dari tempat ini.”

“Tapi Timi, bukankah itu beresiko?”

“Percayalah padaku, ok?”

“Hey aku bisa dengar loh apa yang kalian bicarakan,” ujar Reol dari posisinya berdiri.

Reol berjalan beberapa langkah, dan ia berhenti di meja nomor dua dari kanan. Tepatnya meja paling depan. Ia mengintip kolong meja dan mengambil sesuatu. Sebuah pistol semi otomatis yang biasanya dimiliki polisi. Hey yang benar saja bagaimana mungkin dia punya senjata itu?

Reol mengarahkan pistol itu ke arahku, “Jangan mencoba menyerangku. Melanggar aturan sama saja dengan ingin mati,” ancam Reol. Ia meletakkan jari telunjuknya pada trigger, lalu “Bang!” teriaknya hingga membuatku memejamkan mata. Kupikir dia benar-benar akan melubangi kepalaku.

“Jangan ada yang macam-macam, ini sudah lebih dari cukup untuk menghabisi kalian semua,” sambungnya.

“Tidak jangan bunuh aku!” gumam Sasya berulang kali. “Timi kau akan menyelamatku hingga game ini selesai, bukan?”

Sejujurnya aku tak bisa menjanjikan apa pun. Aku sendiri tak bisa menjamin keselamatanku di hadapan gadis sinting seperti Reol.

“Tentu, akan kuusahakan” jawabku ragu.

Bruk!

Suara meja terjatuh. Denis terjatuh ke belakang bersama meja tersebut. Tanpa kami sadari, telah terjadi pertengkaran kecil di pojok kelas. Iki memegang kerah baju Denis dan meninju perutnya beberapa kali. Denis tak melawan, ia hanya tersenyum dengan muka yang babak belur.

“Iki, tahan emosimu!” Aku menghampiri mereka. Lalu menarik Iki agar segera menjauh dari Denis.

Rinrin membantu Denis untuk kembali berdiri. “Denis kau tak apa?” tanyanya khawatir. Denis tak menjawab.

“Jangan coba hentikan aku, Timi! Biar kuberi dia pelajaran.” Iki masih memberontak.

Denis tertawa. “Sudah kubilang kan kalau kau benar-benar marah, artinya memang benar kau lah si nomor lima.”

Sontak semuanya melemparkan tatapan aneh ke arah Iki. Merasa tak terima, Iki semakin marah dan terlihat panik. “Apa kalian semua pecaya dengan ucapan si mata empat itu? Hah?”

Sesaat hening. Hingga akhirnya Pinkan berteriak histeris, “Aku tahu! Tadi aku melihatnya ketika dia mengambil stik. Jelas sekali itu adalah angka lima. Ya, pemilik nomor lima itu adalah Denis.” Ia menunjuk Denis sambil menatap kami semua. Seolah ia berkata, bunuh saja Denis dan jangan bunuh Iki.

“Jangan ada yang bergerak!” seru Rinrin. Ia memegang pisau dengan kedua tangannya. Boneka koala yang tadi dipeluknya kini ia biarkan tergeletak di lantai. Pisau itu sepanjang tujuh belas sentimter dengan sisi yang bergerigi.

“Ah, iya ada yang lupa kukatakan,” sela Reol. “Di beberapa meja aku menyimpan beberapa kejutan. Jadi jika kalian beruntung, kalian bisa menemukan alat untuk saling bunuh di kolong meja itu. Ya, seperti yang Rinrin temukan. Kurasa pisau itu ikut terjatuh bersama meja tadi,” jelasnya. Reol kembali duduk sambil menyilangkan kaki di kursi guru, layaknya seorang bos.

“Siapa pun yang bergerak …. Aku akan membunuhnya,” ancam Rinrin dengan suara yang gemetar. “Gamenya sudah dimulai dan aku tak ingin mati.” Ia menatap kami dengan tatapan penuh waspada.

“Aku berani sumpah, si nomor lima itu adalah Denis.” Sekali lagi Pinkan meyakinkan.

“Tidak! Aku tidak percaya ucapan Pinkan! Kau pasti menuduh Denis karena membencinya kan?”

Rinrin berdiri di sisi Denis. Ia seolah berusaha melindungi Denis apa pun yang terjadi.

“Kau menuduhku membencinya? Hah yang benar saja. Orang menyedihkan seperti Denis yang bahkan tak mampu bersosialisasi, dia sama sekali tak layak mendapat perhatianku. Dan kau pikir aku membencinya? Itu bukan hal yang pantas,” ujar Pinkan sinis.

Apa yang dikatakan Pinkan sedikit masuk akal. Mengingat tak sekali pun Pinkan pernah mempedulikan kehadiran Denis di kelas. Sebenarnya cukup sulit menilai siapa yang berbohong di antara mereka. Untuk sementara aku dan Sasya meimilih diam. Ada kalanya mengamati adalah pilihan yang terbaik.

Pinkan memegang kepalanya seperti sedang berpikir. Lalu ia tersenyum, seakan mengingat sesuatu. “Aku mengerti. Kau itu menyukai Denis kan? Buktinya kau sering memandanginya diam-diam. Pernah saat Denis tak masuk sekolah, hanya kau satu-satunya yang menyadari bahwa dia tidak masuk.”

Dengan cepat muka Rinrin memerah. Semburat merah itu tak dapat ditutupi lagi. Lalu ia menangis.

“Pinkan kau keterlaluan. Aku bahkan belum mengungkapkan perasaanku kepada Denis,” isak Rinrin penuh air mata. “Dan kau malah mengumumkan perasaan yang dengan susah payah kupendam kepada semua orang? Itu sangat jahat.” Rinrin berjalan ke arah Pinkan. Ia menggores sepanjang tembok dengan pisaunya hingga tercipta bunyi “kriiiittt” yang menyakiti telinga.

Denis mengusap perutnya yang masih terasa sakit. “Pertengkaran antara wanita? Sepertinya menarik. Hey Rinrin jika kau benar menyukaiku, cobalah bunuh si Pinkan! Mungkin dengan begitu cintamu tak akan bertepuk sebelah tangan,” ujar Denis bercanda.

Sasya hendak menghampiri mereka. Namun, aku segera menggeleng. Mencegahnya untuk ikut campur.

Langkah Rinrin diiringi lagu mengerikan itu menambah suasana menegangkan. Kini giliran Pinkan yang berdiri ketakutan begitu Rinrin menghampirinya dengan sebilah pisau.

Rinrin mendekatkan wajahnya kepada Pinkan. Menatap lekat-lekat gadis yang berhasil memancing kebenciannya itu. “Pinkan, apa kau dengar itu? Akhirnya perasaanku selama dua tahun ini akan terbalas.”

Sebelum salah satu di antara kami dapat mengambil tindakan yang tepat. Aku tidak pernah menyangka Rinrin benar-benar akan melakukan itu. Semuanya terjadi sangat cepat. Dan begitu tersadar, sesuatu seperti potongan telinga jatuh ke lantai.

Pinkan berteriak begitu kencang. Darah memercik di mana-mana. Dia baru saja kehilangan telinga kirinya.
Diubah oleh ningsiw878
kaya nama salah satu album band queen
Quote:


yang mananya gan? kayaknya kebetulanemoticon-Belo

ijin nenda and mejeng di pedone emoticon-raining
Quote:


Silahkan gan. Jangan lupa tunggu part selanjutnya ya emoticon-Jempol

PART 4

Untungnya aku sempat menutup mata Sasya. Dia tidak akan sanggup menyaksikannya.

“Timi, apa yang terjadi? Kenapa Pinkan berteriak? Dia tak apa-apa kan?” tanya Sasya penasaran.

“Semua baik-baik saja. Kau hanya perlu menulikan telinga dan memejamkan matamu untuk sementara.”

“Baiklah, karena Timi bilang seperti itu. Aku akan menurut.”

Jeda beberapa detik setelah teriakan Pinkan, Rinrin kembali mengayunkan pisaunya. Kali ini pisau itu mengenai leher Pinkan. Sebelum Rinrin dapat menyayatnya cukup dalam, Iki menahan tangan Rinrin dan menjauhkannya dari leher Pinkan. Iki meremas bagian pisau yang tajam hingga darah mengalir dari telapak tangannya, lalu merebut paksa dari Rinrin.

Rinrin mundur ke belakang dengan langkah yang sempoyongan. Ia menggigit ujung kukunya sampai patah, lalu menatap Pinkan dan Iki secara bergantian.

“Apa? Apa yang baru saja kulakukan?” tanyanya seperti orang kebingungan.

“Rinrin, kumohon! Kembalilah seperti dirimu yang biasanya. Aku tak ingin melihatmu jadi pembunuh.” Iki mencoba mendekati Rinrin.

Rinrin melirik ke arah pisau yang di pegang Iki, darah segar mengalir di ujungnya. Ia berusaha menghindari Iki. Namun, kakinya cukup gemetaran untuk bisa berjalan secara normal.

“Aku bukan pembunuh!” pekik Rinrin. Ia melepas kedua sepatu hak tingginya dan melemparnya ke arah Iki satu persatu. “Jangan dekati aku!” serunya
.
Iki terlihat begitu cemas. Aku tidak pernah tahu bahwa Iki punya sisi seperti ini. Terlebih lagi kepada Rinrin. Itu bukan tatapan terhadap seorang teman kelas, itu lebih mirip dengan cara Rinrin menatap Denis. Jangan katakan mereka terjebak dalam cinta segitiga?

“Apa aku perlu mengatakannya agar kau mengerti? Aku ini menyukaimu, Rinrin.” Iki mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi. “Karena itu, aku tak ingin tanganmu berlumuran darah. Dari pada berharap kepada Denis, aku ini akan selalu ada untukmu.”

Belum cukup dengan pernyataan mengekjutkan itu, tiba-tiba Pinkan meraung seperti orang kesurupan. Dia membenturkan kepalanya ke lantai.

Sekali lagi Reol bangkit dari tempat duduknya, “Sepertinya aku lupa menyampaikan hal paling penting,” katanya sambil menghela napas. “Game ini punya batas waktu lima menit. Kabar baiknya waktu sudah habis dan saatnya seseorang menerima hukuman.” Reol menekankan kalimatnya pada kata “hukuman” sambil melirik Pinkan.

“Hey cepat hentikan, Pinkan!” teriakku spontan.

“Timi, apa yang terjadi? Ada apa dengan Pinkan? Biarkan aku melihatnya!” Sasya mulai mendesakku untuk menyingkirkan tanganku dari wajahnya. Sayangnya, untuk kali ini aku tak akan menuruti kemauannya.

Walau pun aku menyuruh yang lain menyelamatkan Pinkan, aku sendiri idak bergerak. Lebih tepatnya, kami semua membeku di tempat, tak satu pun yang beranjak dari posisi semula. Bukan karena kami tak ingin menolongnya, tetapi karena Pinkan benar-benar tak memungkinkan di dekati. Dia sudah tak punya harapan.

Dalam posisi seperti orang yang sedang sujud, Pinkan membenturkan kepalanya beberapa kali.

“Ini salahku! Ini salahku! Demi menyelamatkanku, Iki jadi terluka!” Kata-kata itu terus meluncur dari mulutnya, terdengar seperti rekaman rusak.

Belum cukup dengan membenturkan kepalanya, Pinkan mulai menggaruk luka di lehernya dengan kuku-kukunya yang cukup panjang. Dia tersenyum seperti sedang menikmati rasa sakit. Luka di lehernya semakin dalam dan menganga, darahnya mengucur tanpa henti.

Saat tangan-tangannya tak mampu bergerak lagi, tubuh Pinkan merosot di tembok. Air mata mengalir di pipinya, “Aku tak bisa mendengar dengan baik … Teman-teman apa kalian masih di sana? Kumohon bunuh saja aku …,” lirihnya putus asa.

Untuk beberapa saat kesadarannya kembali dan Pinkan malah memohon hal yang mustahil kepada kami. Pinkan sekarat, ia terlihat begitu menderita. Itu seperti tubuhnya bergerak sendiri untuk menyiksa dirinya sendiri. Di saat bersamaan dia tersenyum dan menangis.

Hal yang tak terduga terjadi, Iki berlari ke arah Pinkan dan menikam perutnya dengan pisau. Iki mendorong Pisau itu cukup dalam higga darah merembes dari balik baju merah muda yang Pinkan kenakan. Di detik-detik terakhir, aku bisa melihat mulut Pinkan yang bergerak, terlihat berusaha mengatakan sesuatu. Dari gerakkan bibirnya kurasa Pinkan berkata, “Iki, aku menyukaimu,” dan dia juga sempat bilang sesuatu tentang, “musik”.

Begitu Iki mencabut pisaunya dari perut Pinkan, darahnya keluar semakin deras, Pinkan pun segera meregang nyawa. Stik yang bertuliskan angka 4 itu terjatuh di sampingnya.

Sasya masih memberontak, akhirnya dia berhasil menyingkirkan tanganku. Sasya terbelalak begitu mendapati kondisi sahabatnya yang mengenaskan. Dengan sigap aku memeluknya dari belakang.

“Lepaskan aku!” Teriaknya emosi. Sasya mulai menangis sampai terisak. “Tolong katakan padaku, bahwa gadis yang tergeletak di sana itu bukan Pinkan!”

Aku tak bisa berkata apa-apa selain menunduk dan tak berani menatap Sasya. Rasanya ini bukan seperti diriku yang biasanya. Iki bahkan terlihat lebih buruk dan penuh rasa bersalah. Dia berlutut dengan kepala yang tertunduk, kedua tangannya berlumuran darah. Iki bergeming. Memilih untuk tetap di sisi Pinkan.

“Iki, apa yang kau lakukan? Apa itu ulahmu?” tanya Sasya tak percaya. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, “Tidak! Tidak! Ini pasti ulah perempuan sialan itu!” Sasya memelototi Rinrin penuh kebencian.

“Baiklah, hentikan drama bodoh kalian, ini saatnya ronde ke dua. Sepertinya ini semakin menarik.” Reol terlihat puas begitu menangkap ekspresi putus asa di wajah kami. Otaknya benar-benar sudah sinting.

***
Diubah oleh ningsiw878
Post ini telah dihapus oleh sella91
Post ini telah dihapus oleh sella91

PART 5

Dengan terpaksa permainan berlanjut. Protes pun rasanya akan sia-sia. Mulai di titik ini, tak ada yang dapat menaruh kepercayaan satu sama lain. Kecuali, bagi beberapa orang yang diperbudak cinta.

Aku mulai memutar otak untuk mengatur strategi. Mengingat situasi ini, pintu dan jendela terkunci. Sebenarnya, mungkin kami dapat merusaknya secara paksa sebelum Reol berhasil menembaki punggung kami satu persatu. Kami juga akan dipermudah untuk melakukan perlawanan balik jika berhasil menemukan beberapa alat yang disembunyikan di kolong meja. Namun, itu terlalu berisiko. Persentasenya sekitar lima puluh banding lima puluh.

Kalau dipikir-pikir, kata yang disampaikan Pinkan mengenai “musik” itu memberiku sedikit petunjuk. Aku pernah membacanya di internet bahwa ada beberapa lagu yang dapat meningkatkan rasa depresi seseorang sampai di titik di mana ia ingin bunuh diri. Apa jangan-jangan lagu itu memberi efek yang sama dengan yang kubaca di internet? Tidak, ini sedikit berbeda. Kurasa lagu yang satu ini memberi efek yang sangat parah dengan cara kerja yang tidak kumengerti.

Jika bisa kudeskripsikan, lagunya terdengar seperti ini, “Lalalalala, la, la, laaa… laaa… Tum! Tum! Kik, kik, kik, kikkk, haaa… haaa… haaa… ” diisi teriakkan melengking perempuan dengan tawa tak terkendali, musiknya juga cukup sumbang.

“Timi, hentikan Sasya!” teriakkan itu langsung membuyarkan lamunanku.

Sebelumnya, Reol mengocok dadu dan angka yang keluar adalah angka enam. Itu berarti hal yang buruk bagi Sasya. Sialnya aku terlalu sibuk berpikir hingga melepas Sasya dari pengawasanku. Aku hampir tidak menyadarinya kalau saja Iki tidak meneriakiku. Raut wajah Iki berubah begitu sadar apa yang akan dilakukan Sasya. Namun, kaki Iki seolah tertancap sempurna disamping Pinkan, dia tidak akan sanggup meninggalkan Pinkan begitu saja setelah apa yang diperbuatnya.

Aku bisa melihat Sasaya yang berlari sambil menyusuri setiap meja. Dia melewati meja pertama, meja kedua, lalu berhenti di meja ketiga yang terletak disamping jendela. Sasya tersenyum. Senyum yang sangat berbeda dari biasanya.

Sasya mengacak-ngacak kolong meja itu dan mengeluarkan sesautu. Itu adalah sebuah obeng. Yah dia berlari dengan obeng di tangan kanannya. Sinar mata Sasya tidak lagi berkilau, kedua sinar matannya mulai meredup. Tertelan dalam keputusasaan. Ekspresi Sasya berakhir sama dengan Iki.

“Sasya, apa yang akan kau lakukan? Bukankah sudah kubilang untuk tetap disampingku?” Kali ini Sasya bertingkah seperti orang tuli yang tidak mau menghiraukanku.

Ayolah aku harus memikirkan sebuah cara untuk keluar dari situasi gila ini. Tunggu dulu, setiap masalah pasti punya sebuah penyelesaian, bukan? Benar, kurasa hanya itu satu-satunya cara untuk mengakhiri ini.

Sasya berlari lalu melompat ke tubuh gadis kurus itu. Terlihat seperti binatang buas yang sedang menerkam mangsanya. Rinrin terdorong ke lantai dengan posisi berbaring dan Sasya berada di atasnya. Sasya menindih tubuh Rinrin, gadis bermata sipit itu memegangi leher Rinrin kuat-kuat agar Rinrin tidak dapat melarikan diri.

Ririn meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Sasya. Gadis itu menjadi begitu pucat hanya dengan melirik obeng yang dibawa Sasya. Ujungnya tumpul dan penuh karat.

“Denis, bisakah kau menolongku?” Rinrin memohon pertolongan pada Denis yang hanya terpaut lima langkah dari posisinya saat ini.

Sedari tadi, Denis sibuk duduk sambil menonton aksi yang menurutnya menyenangkan. Ya, apa pun yang membuat Reol senang akan membuatnya ikut senang. Kemudian Denis berdiri sambil membersihkan bagian belakangnya, menepuk-nepuk debu yang menempel di celana hitamnya. “Rinrin, apa aku tidak salah dengar?” tanyanya dengan nada yang meninggi. “Well, kau bahkan tak berhasil membunuh Pinkan dengan kedua tanganmu. Huh… gadis menyedihkan sepertimu, apa aku harus menolongnya? Aku ini tidak ingin melukai diriku hanya demi seorang gadis yang tak menarik sepertimu.” Cuih! Denis membuang ludah.

“Dasar bajingan!” umpat Iki tak terima. “Kau bahkan tak bisa menyelamatkan gadis yang jelas-jelas menyukaimu.”

Iki terlihat kesal dan tak berdaya. Dia baru saja kehilangan gadis yang menyukainya, jadi apa dia juga harus kehilangan gadis yang ia sukai? Ah, cinta memperumit segalanya. Kurasa kata-kata yang ia lontarkan kepada Denis juga berlaku bagi dirinya.

“Timi, cepat hentikan Sasya! Kenapa kau masih diam saja?!” Sekali lagi Iki meneriakiku dan aku kembali sadar bahwa aku tak bergerak selangkah pun dari tempatku berdiri. Lebih tepatnya tubuhku tak ingin merespon perkataan Iki dan otakku masih sibuk mengolah beberapa informasi yang dapat meyakinkankku untuk mengambil keputusan paling tepat. Pengecut? Anggap saja begitu.

“Argh… Kaki sialan ini kenapa tak mau bergerak,” gerutu Iki.

Dengan terpaksa Iki menusuk-nusuk pahanya sendiri dengan pisau tujuh belas senti yang ada ditangannya. Berharap bahwa apa yang dia lakukan itu mungkin berhasil untuk membuat kakinya bergerak lagi. Namun, usahanya tak membuahkan hasil selain rasa sakit.

“Rinrin, apa yang kau lakukan terhadap Pinkan?” Sasya berteriak hingga urat-urat lehernya menonjol dengan jelas.

Rinrin tak menjawab dan itu menambah kekesalan Sasya. Gadis bermata sipit itu akhirnya menancapkan obeng di mata kanan Rinrin tanpa merasa bersalah sedikit pun. Rinrin berteriak dengan suara yang melengking, dan itu cukup Cumiakkan telinga. Sasya tak langsung mencabut obengnya, ia menggerak-gerakkan obeng yang menancap di bola mata Rinrin. Memutar-mutar obengnya agar karat pada obeng menambahkan sensasi nyeri di mata Rinrin.

Hanya dengan melihatnya, aku jadi bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika benda asing yang tumpul dan dipenuhi karat bergerak-gerak di dalam bola mataku. Rasanya mata kananku jadi ikut sakit.

“Ayo jawab aku! Kenapa kau tega memperlakukan Pinkan dengan jahat!” desak Sasya. “Pinkan itu gadis yang baik! Meski dia terlihat angkuh, dia itu sebenarnya baik dan seorang teman yang loyal.”

Merasa tidak sanggup dengan perlakuan yang diterimanya, Rinrin pun angkat bicara sambil menahan sakit. “Kau benar-benar ingin tahu alasannya? Hah?” Rinrin balas berteriak. “Alasannya sederhana, dia memang pantas menerima itu dan dari dulu aku memang membencinya!”

“Dasar gadis hina! Kau lah yang pantas mati!”

Sasya menekan leher Rinrin semakin kuat hinga Rinrin cukup kesulitan bernapas. Kedua tangan Rinrin yang bebas mencoba menjauhkan tangan Sasya dari lehernya. Namun, itu sia-sia. Meski seorang gadis, kekuatan cengkraman dari satu tangannya saja cukup kuat. Kurasa karena Sasya seorang perenang jadi wajar jika otot-otot tangannya terlatih. Dia itu kuat, hanya saja sering pura-pura lemah dan senang bergantung kepada orang lain.

Rinrin mulai menghentak-hentakkan kakinya, merasa tersiksa. Segera Sasya melonggarkan cengkramannya. “Tidak! Kau tidak boleh mati segampang itu. Aku harus membalaskan dendam Pinkan dengan cara yang setimpal.”

Sasya mencabut obengnya dengan kasar dan itu membuat Rinrin kembali berteriak. Merasa terganggu dengan kedua tangan milik Rinrin, Sasya pun menusuk-nusuknya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan darah yang memercik dan meninggalkan bekas noda di wajahnya. Satu tusukkan, dua tusukkan, hingga aku tak sanggup lagi menghitung berapa tusukkan yang menembus kulit Rinrin dengan darah yang mengalir dari pori-porinya.

“Tet! Tet! Sekedar pemberitahuan waktunya tinggal dua menit lagi loh,” kata Reol memberi peringatan.

Yang benar saja? Aku baru sadar bahwa waktu berjalan begitu lamban. Apa lima menit memang terasa selama ini? Dan ini baru berjalan tiga menit?
Diubah oleh ningsiw878
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di