alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Apa Alasan Logis di Balik Mitos Kutukan Juara Bertahan?
4.5 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b34a9a2e0522709258b4567/apa-alasan-logis-di-balik-mitos-kutukan-juara-bertahan

Apa Alasan Logis di Balik Mitos Kutukan Juara Bertahan?

Apa Alasan Logis di Balik Mitos Kutukan Juara Bertahan?

(Instagram/withneuerandco)


"Mempertahankan gelar/prestasi/sesuatu lebih sulit ketimbang merebutnya."kata kutipan anonim yang kadang sering berseliweran di telinga kita. Itulah yang terjadi khususnya di sejarah Piala Dunia.

Tadi malam baru saja tim Der Panzer, Jerman, harus menelan pil paling pahit dalam sejarah World Cup. Mereka tidak lolos babak grup Piala Dunia 2018 setelah dikalahkan Korea Selatan. Padahal Korea Selatan adalah negara yang sudah delapan kali gagal lolos babak grup dari sepuluh kali keikutsertaan di Piala Dunia. Meski Korea Selatan juga harus ikut pulang ke negaranya, sebagaimana Jerman yang harus mengepak barangnya untuk pulang, namun Korea Selatan pulang dengan rasa bangga setelah membobol gawang Juara Bertahan Piala Dunia, Jerman, sebanyak 2 gol di menit-menit terakhir. 

Siapa yang tidak ingin mengalahkan juara dunia? Terlebih menjadi penentu nasib Sang Juara Bertahan di bagian permulaan Piala Dunia. Itulah yang dirasakan Korea Selatan, atau bahkan Meksiko yang telah berhasil membobol gawang Jerman dan menoreh kemenangan atas Jerman.

Kekalahan Jerman seakan membenarkan mitos kutukan juara bertahan, dan turun temurun dari masa ke masa:

Prancis sebagai juara Piala Dunia '98, telah gugur di babak grup pada Piala Dunia berikutnya, tahun 2002.
Empat tahun setelah juara Piala Dunia 2006, Italia gagal melewati babak grup pada Piala Dunia 2010.
Spanyol, juara Piala Dunia 2010, gagal lolos babak grup pada Piala Dunia 2014.
Jerman, juara Piala Dunia 2014 sekaligus juara bertahan, tahun ini harus pulang dengan rasa malu karena gagal di babak grup karena tidak berhasil membobol gawang Korea Selatan.

Permainan Jerman di Grup F terbilang mengecewakan. Setelah gawangnya kebobolan 1 gol oleh Meksiko, posisi Jerman terancam. Di pertandingan kedua, Jerman pun terlihat kurang sangar, hingga Reus dan Kroos menyelamatkan Jerman dari kekalahan, dan berakhir menang atas Swedia 2-1. Dengan jumlah poin yang sama dengan Swedia, Jerman hanya butuh menang dari Korea Selatan yang saat itu berada di posisi terbawah Grup F.

Sayangnya, di pertandingan sebelah, Swedia melawan Meksiko, Swedia justru unggul dengan 3 gol, sedangkan Meksiko belum menorehkan gol satupun. Posisi Jerman makin terancam, dan satu-satunya cara agar lolos grup adalah menorehkan setidaknya satu gol saja dan tidak kebobolan, untuk menandingi posisi Meksiko dengan 4 kebobolan sejauh pertandingan babak grup. Namun, hingga akhir pertandingan, serangan Jerman terhadap gawang Korsel semuanya tumpul dan berhasil dihalau Kiper Korsel, Jo Hyeonwoo, yang menunjukkan performa terbaiknya. 

Setelah Korsel berhasil membobol gawang Neuer, menit-menit terakhir, Neuer nampaknya terlalu bersemangat sehingga menyerang terlalu jauh hingga ke daerah pertahanan Korsel. Seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dimana Neuer jauh dari gawang, dan lini tengah Jerman begitu kosong, Son Heung-min menggiring bola hingga ke sisi gawang Jerman dan menendang gol terakhirnya di Piala Dunia 2018.

Blunder yang dilakukan Neuer, kurang ngototnya permainan Jerman, tumpulnya tendangan Jerman ke arah gawang Korsel, dan kecerdikan Son Heung-min memanfaatkan kesempatan, jadi faktor penentu Jerman pulang ke tanah airnya tanpa membawa kemenangan.





Apakah ada alasan logis di balik sebutan "kutukan" atau "mitos" juara bertahan ini?


Menjadi juara, ada banyak rasa sakit, pengorbanan, dan ketidaknyamanan di baliknya. Yang paling berarti bagi sang juara selain kemenangan, adalah proses di belakangnya. Proses menaiki tangga juara, di situlah seluruh fokus dan seluruh upaya maksimal ditorehkan. Namun, ketika gelar juara itu sudah di tangan, hal yang paling sulit berikutnya adalah konsistensi dan komitmen. 

Permainan Jerman di Piala Dunia tahun ini jauh berbeda 180 derajat ketimbang sebelumnya. Konsistensi berkurang, terlebih, setelah Jerman ditinggal pemain-pemain terbaiknya yang memutuskan pensiun; Miroslav Klose, Phillip Lahm, Per Mertesacker, dan Bastian Schweinsteiger. Pelatih Jerman, Joachim Löw, pun terlihat mengubah posisi pemain penting seperti Mesut Özil ke posisi 6 (tadinya 10), dan Thomas Müller ke posisi 10. Terlebih, Goetze sebagai pencetak gol pada final Piala Dunia 2014 lalu, tidak dipilih dimainkan kembali tahun ini, dengan berbagai alasan performa yang menurun pada pertandingan di liga dan klub.


Quote:



Meski Jerman secara statistik lebih dominan pada ball possession dan akurasi passing, tumpulnya tembakan yang mengarah ke gawang jadi faktor kekalahan Jerman kemarin. Ditambah performa terbaik kiper Korsel yang mencengangkan.


Dilansir dari CNN Indonesia, Neuer mengakui para pemain kurang ngotot dalam bermain di tiga pertandingan. 


Quote:


Performa yang menurun. Drastis. Mungkin menjadi alasan utama di balik "mitos kutukan juara bertahan". Faktor performa yang menurun bisa banyak, misalnya terlalu percaya diri dengan gelar sebelumnya, kurangnya motivasi karena merasa target sudah tercapai sebelumnya. Atau kurangnya motivasi untuk meraih target ke level yang lebih tinggi tidak terlalu kuat. Stamina pemain juga menjadi faktor turunnya performa, misalnya saja Neuer yang belum fit dan staminanya belum kembali seperti performanya di piala dunia sebelumnya, sebagai peraih Golden Glove, Piala Dunia 2014.


Adakah alasan lainnya di balik mitos kutukan juara bertahan? Percaya diri yang terlampau tinggi, bisa jadi faktor psikologis yang mempengaruhi. Banyaknya sorotan yang ditujukan kepada mereka para peraih gelar juara, membuat fokus mereka teralihkan dari target kemenangan berikutnya dan berujung minimnya strategi baru untuk menang.


Terakhir, semua negara ingin mengalahkan Sang Juara di kesempatan apapun. Akan ada imbalan rasa bangga yang tinggi ketika mampu mengalahkan Sang Juara. Dengan target mengalahkan sang juara yang begitu besar, tentunya fokus lebih tinggi, strategi lebih tajam, analisa permainan lawan (Sang Juara) digali lebih dalam. 


Upaya keras dan pantang menyerah terlihat dari permainan Meksiko, Korea Selatan, dan Swedia yang mengeluarkan seluruh daya dan upayanya sekeras mungkin untuk memenangkan pertandingan. Meski Korea Selatan tetap keluar dari babak grup di akhir cerita, namun Korea Selatan pulang dengan bahagia dan rasa bangga. Sedangkan Jerman pulang membawa rasa malu yang tak terelakkan. Wajah kekecewaan fans Jerman berbanding terbalik dengan wajah kebahagiaan fans Korsel, meski keduanya sama-sama pulang. 


Apa Alasan Logis di Balik Mitos Kutukan Juara Bertahan?

Kekecewaan Fans Jerman di nobar terbuka langsung dari negaranya/County Times


Apa Alasan Logis di Balik Mitos Kutukan Juara Bertahan?

Fans Korea Selatan merayakan kemenangan atas Jerman, meski tetap tidak lolos babak grup F/Vaaju


Gimana menurut Agan, apa alasan logis di balik mitos kutukan juara bertahan?


Spoiler for Referensi:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh: paanjoel
Halaman 1 dari 7
Pertamaxx
analisa yg mantab bray, dan ane nyatakan trit ini HT emoticon-Cool
Satu-satunya alasan logis dari semua kutukan di dunia olahraga, adalah "nilai berita". Sekalipun bukan tentang juara bertahan, toh tetap saja media akan melahirkan kutukan-kutukan baru.

Kutukan si nyonya menir lah, kutukan ngixing day lah, kutukan angka keramas lah, dan bla ... bla ... bla ... emoticon-Cape d... (S)
Diubah oleh kodok.kungkong
abis juara dunia para pemain langsung melonjak harganya, kena star syndrom....ditambah ekspektasi publik yang tinggi.


berat emang
Memburu memang lebih ringan daripada diburu. Asal jangan terburu-buru.
Quote:


HT-kan Gan!

emoticon-Ultah
Quote:


Karena ngangkat hal-hal yang berbau klenik, mistis, masih jadi nilai jual sebuah berita emang.
mereka tertekan sama tuntutan buat mempertahankan gelar + kena ekspektasi yg berlebihan dari fans, belum lagi pemberitaan media yg masif

apa hasilnya? akhirnya performa mereka sedikit banyak akan menurun dan mereka bakal susah fokus mainnya emoticon-Turut Berduka

Kesimpulannya, ini disebabkan oleh faktor psikologis
Diubah oleh chytoplasm
DFB dah engap bayar Joachim Loew jugak, kemahalan (setahun 60an Milyar) heu heu heu..mo cari alesan mecat paling enak yaaa ini saatnya! emoticon-Wink
teamnya noobemoticon-Ngacir
dari awaL lawan meksiko jerman emang maennya kacau ...
Emang layak ngga lolos....

Lawan korsel kimmich, oziL, khedira, werner maen cem emoticon-Tai aja.... emoticon-Busaemoticon-Busa
Kurangnya ada perombakan dari segi pemain..
Jadi gaya bermainya, udh pasti bisa kebaca oleh lawan....
Quote:




Terlalu percaya diri mungkin emoticon-Big Grin
Diubah oleh devi729
sebetulnya cuman MITOS

lah loe gak lihat BRASIL bisa berhasil di Piala DUNIA 2006 walau pun jadi juara di PIALA DUNIA 2002
Apa Alasan Logis di Balik Mitos Kutukan Juara Bertahan?
ngga ada player yg kreatif membangun serangan kayak sane, skuad yg di bawa joachim 'garuk' low cenderung monoton permainannya, terasa hambar
Fans korsel coliy masal..

Padahal tetep keok juga... emoticon-Big Grin

Untuk asia, masih jepang lah yang terbaik.. emoticon-Big Grin
Bagus ini trit...Layak di HT kan..analisanya mangstab beud..
Cuma mitos
ane pribadi fans jerman sejak 1998
dan bener, jerman layak angkat kaki di pildun kali ini
mainnya bikin geregetan gan dari pertandingan pertama
menurut ane jerman kayak kehilangan key player, yg merupakan inisiator serangan dan pengatur strategi
sebut aja Bastian Tiger, Philip Lahm, striker ganas macem Klose.
emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek
Halaman 1 dari 7


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di