alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b34999b5c7798827b8b456a/raja-penguasa

Raja Penguasa

1.1 SANG HANTU

Sunyi, sepi dan tidak ada suara apapun disini, aku hanya memejamkan mata karena takut. Aku terlalu takut untuk membuka mata sekarang hingga aku terbangun nanti. Kejadian seperti ini, terulang setiap malam.

"Betapa menyedihkannya diriku, takut dengan mimpinya sendiri" keluhku 

Setiap pagi aku terbangun dengan bercucuran keringat dan membasahi piyama putihku, suatu saat, entah kapan, aku pasti bisa menghadapi ketakutanku.

Yosh, saat mandi. Kamarku seperti halnya kamar yang lain tapi yang membuatnya istimewa adalah 'sesuatu' yang tinggal disini. Kamar 91 adalah kamar yang paling banyak dihindari karena rumor hantu yang beredar di sekolah dan banyak calon siswa pindah kamar saat mendapat kamar ini, tapi itu tidak berlaku bagiku, aku memilih tinggal sendiri karena beberapa alasan tersendiri, seperti beberapa barangku tidak boleh disentuh sembarangan oleh sebagian orang. ya tahulah, barang pribadi seperti itu.

Perlu kalian catat, aku bukan orang mesum yang menyimpan majalah pornonya di bawah kasur atau di dalam lemari, karena pada akhirnya pasti ketahuan jika seseorang bukan? aku tidak ingin dicap sebagai orang mesum.

Selanjutnya, di setiap kamar memiliki fasilitas yang sama, 2 kasur tingkat, 2 lemari, 2 meja belajar dan sebuah kamar mandi. Bagiku, yang tinggal sendirian, ini bagaikan kamar impian, dimana fasilitas 2 orang digunakan seorang saja. sebenarnya ini asik.

setiap kelebihan yang kita dapatkan pasti kita akan mendapat kekurangannya. Menurut rumor yang beredar, ada hantu yang tinggal di sini dan oleh karena itu, banyak siswa yang pindah karena tidak betah dan ada beberapa yang langsung pindah.

Hantu itu sekarang memakai selembar handuk untuk menutupi tubuhnya yang pucat. Tubuh dan rambutnya basah, sepertinya dia habis mandi, eh tunggu dulu, sejak kapan hantu perlu mandi? bodoh amat. Pada awalnya, aku langsung pingsan gegara kaget tapi aku sekarang sudah terbiasa dengan pemandangan erotis di depanku. 

"permisi" aku membalikkan badan, keluar dan menutup pintu tersebut.

sepertinya dia tidak marah bukan? jika dia marah lagi, aku pasti kerepotan. Apa sebaiknya aku meminta maaf? tapi jika dia masih mengenakan handuk, eh? kenapa aku memikirkan hal mesum sih! 

"Kamu tidak perlu meminta maaf kok"
"HAH!?" kesadaranku menghilang seketika dan tubuhku jatuh ke lantai.
Diubah oleh: kizoku.daiki48
Urutan Terlama
Assalamualaikum WR.WB

Salam sejahtera bagi agan-agan sekalian

tak peduli dengan hasil tapi ane lebih peduli dengan proses pembuatan karya ini, jadi ane akan buat daftar isi

1.1.2 SANG HANTU
1.1.3 SNIPPET
Diubah oleh kizoku.daiki48
1.1.2 SANG HANTU

suasanya ini, sepertinya aku di dalam sana, mimpi yang kutakuti. seandanya aku punya keberanian, mungkin aku akan membuka mata dan 'melanjutkan mimpi' itu tapi aku tidak sanggup.

lebih baik aku membuka mata di dunia nyata dan bangun dari bunga mimpi.

"hahaha" nafasku terasa berat
"oh? sudah bangun? mending kamu pergi sekolah aja langsung udah telat tuh"

hantu itu sudah mengambang di depanku, lengkap dengan baju seragam sekolah kami. setidaknya dia mengenakan sesuatu. Bentar dulu, sekarang udah jam berapa? ku tengok jam tanganku dan itu menunjukkan jam 08.27. aku hampir terlambat.

aku bergegas berlari menuju kamar dan membuka lemari, mengenakan seragam tanpa mempedulikan bau badanku, yang terpenting adalah tidak terlambat di hari ini, hari selasa. Dimana jam pertamanya adalah Pak Guntur, dia adalah salah satu guru elit dan termasuk ke daftar guru killer di sekolah ini.

"Seharusnya kamu tidak kagetkan dengan keberadaanku ini?"
"iya, aku sudah terbiasa tapi jika kemuncullanmu..."
"maaf deh kalo gitu, itu juga salahku" dia memotong pembicaranku.

bagaimana aku tidak pingsan, hantu itu muncul dari perutku. Kemuncullanya memang tidak bisa diduga tapi jika sudah lama kalian pasti akan bisa merasakannya terkadang tapi kemuncullan yang tidak lumrah masih saja membuat orang pingsan, itulah hantu.

"Tuan pemarah, sebagai permintaan maaf nanti sepulang sekolah aku akan menceritakan masa laluku, gimana?"

Masa lalunya? mungkin inilah saatnya aku bisa menyingkarnya dari kamarku.

"ok ngg apa-apa" jawabku

sehabis menyelesaikan perbincangan pagi kami, aku bergegas keluar dari kamar dan berangkat menuju ke sekolah. Sialnya, kamar 91, berada di lantai tiga dan lift sedang rusak. Jika aku terlambat, tamatlah sudah riwayatku hari ini. aku berlari sekuat tenaga menuju tangga dan melompat kecil saat menuruni tangga.
(JANGAN DITIRU ADEGAN INI)

Saat berada di lantai 2, aku berlari menuju balkon dan melompatinya. Tepat setelah melompat, aku disambut oleh dahan pohon dan memeganginya dan melepaskannya. *BUK* aku sudah ada di depan asrama. Tanpa berpikir lagi, aku langsung bergegas menuju ke gedung sekolah.

Jalan menuju sekolah sudah sepi, gawat aku udah hampir telat. karena khawatir dengan situasi ini, aku mengerahkan tenaga untuk melangkah lebih cepat dan semakin cepat.

tepat di depan sana adalah gerbang sekolah, gerbang yang mengantarkan kita menuju masa depan yang lebih baik lagi, eh? aku bilang apa coba, udah ngaco gitu.

Sesaat setelah melewati gerbang, aku sudah berpikir yang tidak-tidak tapi sekarang aku sudah ngos-ngosan, gimana nanti nasibku? oh tidak aku sudah muak memikirkannya.

Pagi ini, aku pasti sangat bau keringat, bangun tidur udah keringatan dan aku belum mandi karena hantu sialan itu, ditambah sekarang aku keringatan lagi. Sejujurnya aku tidak menyukai situasi seperti ini, ntar aku jadi bahan omongan para cewek? aduh, dengan memikirkannya sudah membuatku sakit hati.

Sekarang pintu kelas sudah ada di depan dan aku mempersiapkan diri untuk membuka seluruh masalah yang akan menimpaku nanti.
aku menghirup udara dan menghembuskannya, dengan cara seperti ini membuat beberapa orang bisa menenangkan dirinya, begitu pula denganku.

tangan kanan sudah bersiap memutar gagang pintu dan tanganku ini sudah bergetar sedari tadi.

*Cklek*, kudorong daun pintu hingga penuh. Betapa terkejutnya, tidak ada siapapun disana. Kelas benar-benar kosong, kutatap tajam jam dinding di belakang kelas. menunjukkkan pukul 07.05. eh!? kok beda? lalu kuangkat tangan kiriku dan melihat di pergelangannya, 08.27. tepat dugaanku jam tanganku tidak bergerak tapi masih hidup.

Jam yang kukenakan sekarang adalah jam digital dan pada pukul 08.27, dia berhenti tapi hidup. hm? apa jam tangan ini rusak? entahlah, nanti kutanyakan sama Aden, seharusnya dia tahu daripada aku.

Tempat mejaku terletak di area belakang tengah. Tata letak kelas diatur oleh para pengurus kelas berdasarkan nilai rerata kami, bukan berarti aku ini siswa bodoh, tapi menyetarakan kemampuan kelas hingga kami bisa menaikkan seluruh nilai akademik maupun non-akademik. Ini adalah saran dari ketua kelas, kupuji dia karena idenya sangat hebat bagi kelas.

Pada awalnya kelas sangat kaku dan hening, kondisi seperti itu benar-benar membosankan dan karena itu, aku jadi sering tidur di kelas. tidur di kelas sangat berarti bagi orang yang tidak bisa tidur di malam hari karena mimpi yang mengganggunya. Jadi tidur di kelas sangatlah penting.
(JANGAN DITIRU)

*tok tok tok* suara daun pintu yang dipukul dan seseorang muncul dari sana. Dia adalah ketua kelas.

"Oh? Rudy, kamu sudah berangkat ternyata" dia menyapaku, mungkin karena aku melihatnya.
"iya"
"kebetulan, ada yang ingin kutanyakan"
"silahkan"
"Alasan utama kamu tidur di kelas dan tolong dong ceritakan tentang hantu di kamarmu"
oi! pertanyaan pertama bisa kutolerin tapi ada apa dengan pertanyaan keduanya? apa kamu maniak dengan hal yang begituan?
"Alasan utamaku selalu tidur karena pada malamnya aku tidak bisa tidur dengan nyenya...."
"WAH! Berarti rumor itu benar ya?"
"Jangan memotong pembicaan orang dong!"
"eh? maaf deh, aku terlalu bersemangat" Tolong kembalikan pujianku padamu.
"Pada awalnya aku kaget dengan kebenaran beberapa rumor yang beredar dan hantu itu sangat..."
"EROTIS! huft,huft" . semangat boleh tapi nafsumu itu udah keluar tahu.
"Kok kamu bisa tahu? padahal tidak ada rumor yang menggambarkan seperti itu?"
"aku tahu karena dia adalah SUKKU..."
sebelum dia menyelesaikan jawabannya, beberapa anggota kelas kami masuk dan mencukupkan pembicaraan kami.

seharian di kelas aku tidak tidur karena obrolan yang dibawa oleh ketua kelas, hantu itu sebenarnya siapa? dan juga kalimat ambigu dari ketua kelas SUKKU? suku? atau istilah yang lain? aku tidak habis pikir. tapi seluruh pertanyaanku terjawab nanti.

*selesai kegiatan sekolah*
ketua kelas sangat tenang jika tidak membahas hantu atau makhluk aneh lainnya. Mungkin dia adalah maniak. Aku mengemasi barangku dan bersiap pulang, anehnya ketua kelas mengabaikanku, seolah-olah dia tidak pernah membicarakan apapun.Mungkin dia ingin menyembunyikan rahasianya. Setidaknya dia mempercayaiku saat ini.

*Di depan kamar 91*
aku membuka pintu kamar dan semuanya sama saja tidak ada yang berubah, rak sepatu masih ada sepatuku yang lainnya. aku berjalan sebentar dan melihat samping kanan, area kamar mandi sepertinya tidak ada siapapun dan masih kering. Di ruang tengah, dimana 2 ranjang tingakat dan 2 meja belajar masih tersusun rapi juga barang-barangku yang lain juga tersusun rapi kecuali penampakan meja tengahku sangat berserakan, ada 2 cup mie dan sebuah botoh teh. Termasuk makhluk astral penghuninya yang mengambang diatasnya.

"Gimana sekolahmu? Lancar?"
"makasih udah membuatku mengalahkan orang paling rajin di sekolah"
"masama" kok enteng banget sih yang njawab, jadi kesel.
"tentang tadi pagi"
"oh iya, akan kuceritakan masa laluku tapi"
"tapi apa? bukannya kamu udah setujukan cerita?"
"ya tapi aku ingin kamu menceritakan mimpimu yang belum selesai itu"
kok dia bisa tahu mimpi itu?
"oke aku sepakat"
nah gitu dong! sekarang aku akan menceritakan masa laluku atau lebih tepatnya melihatkannya"
"hmm, melihatkan? maksudmu?"
tepat setelah aku menanyakan keraguanku, kami berpindah tempat. Tepatnya sang hantu memberikan ingatannya kepadaku.



note:"saya butuh kritik", peace
1.1.3 SNIPPET
Bau lembab tercium dari seluruh ruang, tertata rak-rak yang di dalamnya terdapat buku-buku kecoklatan karena usia. Kurasa ruangan ini adalah bagian gudang perpustakaan, gudang arsip lama. Jika ini adalah bagian ingatan dari Hantu, kenapa dimulai dari bagian ini? Seingatku, rumor yang beredar di kalangan siswa tidak ada yang menyebutkan perpustakaan, bahkan buku. Kenapa?

Karena aku masih penasaran dengan ingatannya, ku telusuri seluruh sudut ruang dan aku menemukan pintu keluar, tapi aku masih penasaran dengan potongan ingatan dari hantu ini. Jika ini penting bagi si hantu, seharusnya ada sebuah petunjuk atau momen tertentu, bukan gambaran abstrak.

Di dalam pikiranku terus berkutat akan berbagai kemungkinan, apakah di sini ada panel rahasia untuk menuju ruangan tersembunyi?

“Seandainya aku jadi dia, apa yang harus aku lakukan?”

“Tak usah risau karena itu” pertanyaanku langsung terjawab.
Hantu itu tepat berada di belakangku. Mengagetkan saja.

“Soalnya, kamu dari tadi berjalan terus sih”

“Kenapa nggak bilang dari awal, jika kamu disini”

“...” dia tak menjawab. Dasar.

“Aku sudah rela membuang waktu istirahatku padamu, jadi jangan terlalu banyak membuang waktuku! Semisal tidak ada hal yang penting, aku akan membiarkanmu dalam rasa penasaran hingga kiamat datang.” keluhku padanya.

“ Maaf deh, omong-omong, disini aku hanya lewat aja” dia tersenyum malu. Kenapa nggak bilang dari tadi. Sial.

Seandainya aku bisa make kemampuan buat [nyentuh] dia, sudah ku
pukul kepalanya dari tadi.

Kami berjalan ke pintu keluar dan pemandangan perpustakaan belum berubah banyak, walaupun sudah terlewat beberapa tahun. Bu Maria masih mengenakan pakaian susternya, masih terlihat muda dan sedikit menggoda, tahulah apa yang kumaksudkan. Dia adalah penjaga utama perpustakaan. Selain itu, ada beberapa suster lainnya.
Aku tidak mengingat mereka semua.

Bu Maria saat kukenal, ia terlihat tua dan menjengkelkan. Apalagi pakaiannya yang norak dan serba warna hitam. Aku tahu dia adalah seorang suster saat berkunjung ke kantor kepala perpustakaan, disana ada jejeran foto kepala penjaga perpustakaan saat pertama kali menjabat dan kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian suster.
Termasuk Bu Maria.

Perpustakaan pada ingatan si hantu sedikit buram karena ia jarang ke sini, tapi didalam gudang tadi sangat jelas hingga aku bisa mencium bau ruangan tersebut. Ada yang aneh bukan? Seandainya ini benar berarti..... aku harus mengingatnya.

Beberapa bagian perpustakaan yang buram dan itu terlihat seperti bagian yang rumpang di sebuah lukisan setengah jadi. Putih bersih tanpa noda.

“Jadi apa yang akan kau perlihatkan disini?”

“Entah” eh?

“Kalo nggak tahu, kenapa menunjukkan bagian ini!”

“Aku tidak bisa mengontrol ingatanku jadi....” dia memiringkan kepalanya dan memegang dagunya, seakan-akan ada tanda tanya diatas kepalanya.

“...” aku terdiam setelah dia tidak melanjutkan pembicaraannya sendiri.

Seandainya hantu itu masih hidup, mungkin dia akan jadi populer di zamanku tapi sebaliknya dia akan jadi bahan ledekan karena sikapnya. Tunggu dulu.

Bagian gudang sangat mendetail dan terperinci sedangkan bagian dalam perpustakan malah buram? Mungkin dia...

“ah! Aku ingat sekarang” dia memotong lamunanku.

“gudang –tempat penyimpanan buku-buku, adalah tempat tidur terbaik saat dulu”

Ingin rasanya ku jitak kepalanya.

Walaupun seperti itu, hantu itu tetap misterius dan berbahaya. Semua makhluk yang tidak bisa dijelaskan atau dipahami oleh manusia dianggap berbahaya, seakan-akan kita, manusia, adalah eksistensi yang mutlak di bumi ini. Beberapa orang akan lari ketakutan saat berada di kondisiku sekarang, kecuali ketua kelas. Dia aneh.

Kedua buah daun pintu perpus sangat berbeda dari yang kuingat, keduanya sangat berat dan beberapa bagian, cat sudah mulai menghilang. Kuduga bahwa antara masa ini dan masaku, perpustakan pernah direnovasi sebelumnya tapi sepertinya tidak mengubah banyak hal. Mengingat ingatanku yang sedang kugabungkan dengan ingatan sang hantu.

“Oi, kita akan pergi kemana lagi? Dari tadi kita hanya melihat-lihat kelas” sedari tadi kita hanya berjalan lurus kedepan dan tidak belok sama sekali.

Ingatannya benar-benar sudah rusak? Atau otaknya sudah berpindah ke tempat lain? Entahlah. Normalnya bagian yang kami lewati ini sudah menemukan belokan atau tempat yang berbeda, tapi dari tadi hanya menampilkan gambaran kelas dan membuatku tertekan.
Seakan-akan kamu berada didalam sebuah film horor dan kamu sedang berlalri dari kejaran hantu, tapi hantu ini malah berada di sampingmu persis.

Jika ku periksa lagi, ruang kelas yang kami lewati masih sama, hingga membuat hafal tanpa kusadari. Tiga orang cewek, seorang dari mereka duduk diatas meja, satunya berdiri disampingnya, berambut panjang sedang memegang sebuah buku dan satu lagi, dia tersungkur di depan mereka. Apakah mereka sedang melakukan tindakan kekerasan? Jelas banget!

Kubuka pintu kelas tersebut dan berlari menghampiri mereka bertiga.
“hey, katakan, kenapa Aldo sangat tergila-gila denganmu!” gadis yang duduk dimeja berkata sangat kasar, apalagi bajunya, dia terlihat seperti seorang preman begitu pula dengan satunya. Tapi yang membedekan keduanya hanya rambut mereka. Yang satu sebahu sedangkan satunya panjang terurai.

Adegan ini sama seperti di sebuah film anak sekolahan yang sedang dibulli oleh teman sekelas. Walaupun kejadian ini sering terjadi dan juga pencegahannya juga dilakukan, tetap saja lingkaran setan ini tidak akan pernah berhenti sama sekali. Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana lingkaran setan ini berawal.

Gadis yang tersungkur itu mungkin adalah si hantu, Bella Benedict. Dia hanya tersungkur dan pandangannya tidak mengarah kepada kedua orang itu, Bella tidak mempedulikan keduanya. Kupikir.

Gadis yang sedang duduk itu berdiri, menghampiri Bella yang masih membisu. Ia menarik rambut coklat Bella dengan kasar dan mengangkatnya ke atas. Membuat ekspresi kesakitan di muka Bella yang anggun. Gadis itu tampak puas, seakan-akan dia menikmatinya. Apakah dia tipe sadistik? Semoga tidak.

Eh? Mereka berhenti, seakan-akan waktu mereka dihentikan. Seluruh ruangan memburam hingga seluruh visualku berubah menjadi putih kembali dan kini, hantu itu tepat berada didepanku.

Apa yang sedang terjadi adalah hantu itu sudah mendapat ingatannya kembali setelah melihat traumanya sendiri. Terkadang untuk mengingat masa lalu, kita perlu membenturkan kepala kita bukan? Itulah yang sedang dialami oleh hantu itu atau Bella Benedict. Asal tahu aja, aku mengetahuinya dari plakat nama yang ia kenakan dalam ingatannya, bisa saja kejadian yang barusan terjadi Cuma ingatan yang bercampur dengan imajinasi atau ingatan orang lain.

Kondisi sekarang ini menghasilkan kerancuan disetiap sudutnya, seakan mengerjakan soal matematika yang belum pernah kamu pelajari. Kamu tahu dasarnya, tahu angka yang tertulis dan bisa memilih dari kelima jawaban yang benar, tapi kamu benar-benar tidak tahu caranya. Jadi, apa yang harus aku katakan sekarang?

Jawaban saat ini cuma 2 hal yang akan terjadi, kupikir. Pertama, aku bisa meringankan emosinya atau kedua, kondisinya akan menjadi lebih buruk lagi. Aku perlu tambahan opsi lagi.

Petunjuk yang kudapatkan hanya sedikit sekali, kondisi perpustakaan dan tempat ia dibulli. Posisi seperti ini, membuat tertekan. Sungguh.

Aku sudah lupa seberapa lama Bella terdiam membungkuk dan mengeluarkan aura yang tidak menyenangkan. Itu membuatku gundah dalam memilih kata. Sial.

“Apakah namamu Bella Benedict?” pertanyaan macam apa itu. Malah membuat situasi tambah mencekam.

“Masa lalu memang berat, tapi setidaknya kita bisa...” memangnya aku ini pria setengah botak yang sering muncul di televisi?
Duh, aku benar-benar kacau dalam situasi seperti ini, coba ini bukan dalam ingatannya.

Ingatan? Inikan ingatannya, harusnya aku sadar. Betapa bodohnya aku sampai melupakan poin pentingnya.

“Trus?” ucapku padanya, untuk memecah konsentrasinya.

“Ha?”

“Iya, terus apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kita sudah tahu apa yang terjadi di masa lalumu tapi pertanyaanya bagaimana kamu bisa berubah menjadi hantu yang sekarang ini dan tetap ceria seakan-akan masih hidup?”

“Aku tidak tahu namaku, aku tak yakin dengan apa yang sedang kita lihat tadi” dia sepertinya masih bingung dengan kondisinya saat ini.
Apa yang sudah kudapatkan adalah petunjuk plakat yang di kenakan salah seorang dari mereka bertiga, Bella Benedict. Mungkin ini akan mempermudah mencari latar belakang dari si hantu.

Sejujurnya aku bingung dengan si hantu, apakah dia adalah korban atau pelaku? Aku tidak bisa memastikannya dengan ingatannya yang simpang siur. Tentu saja selain itu juga aku juga mengumpulkan petunjuk lain, Suster Maria.

Kurasa aku akan berhadapan dengan seorang yang menyebalkan lagi. Jadi teringat saat aku pertama kali masuk ke dalam ruangan penjaga perpus dan bertemu dengan suster Maria untuk pertama kalinya.

Kesan pertama aku bertemu, dia adalah orang tua yang taat pada agama walau sudah menanggalkan pakaian susternya tapi tetap saja ia masih mengeluarkan ketaatan pada tuhan. Bukannya aku membencinya tapi dia mengingatkanku pada seseorang yang pernah kutemui dulu. Juga bahasanya yang sangat membuat kantuk. Kesan pertama sudah seburuk itu. Berhenti dulu, aku tidak mau mengingatnya lagi.

“Aku akan menbantumu hingga kamu bisa pergi ke akherat dengan damai, tenang saja, aku akan memegang janjiku padamu, percayalah.”

“Ya.” Kedua matanya berair dan menetes. Apakah dia menagis bahagia?

Menolongnya adalah prioritasku sekarang ini atau semua rahasiaku akan mudah diakses orang lain dan membuatku kesusahan nantinya. Hantu itu bisa menembus dinding dan benda, tentu saja. Memangnya kalian ingin rahasia kalian terbongkar begitu saja? Tentu tidak.

Seandainya aku mengetahui sihir untuk menahan kekuatan abstrak. Aku tidak akan membantunya.

“Tapi aku memiliki syarat dan kau harus mematuhinya” semoga dia tidak mengetahuinya.

“Pertama, jangan suka muncul seenaknya. Kedua, berperilakulah layaknya manusia. Terakhir, bersikaplah seperti wanita pada umumnya” semoga dia paham apa maksudku.

“Sebagai ucapan terima kasihku, aku akan memberikan rapierku padamu. Rapier itu berada di ruangan tengah, disembunyikan dibawah lantai kayu. Selain itu, aku juga akan memberi tahumu tentang semua rahasia yang ku ketahui selama aku hidup”

Bukannya dia berlebihan dalam memberikan hadiah? Bodoh amatlah, yang penting dia sudah tidak bisa mengancam rahasiaku.
***




×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di