KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2



Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

Polling
133 Suara
Siapakah sosok perempuan yang akan menjadi pendamping setia Rendy? 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donny065 dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
Halaman 1 dari 47

Prologue

“Hhmm...”

“Assalamu ‘alaikum, Mas.”

Terdengar suara merdu dari seorang perempuan di balik speaker handphone milik Rendy di waktu matahari sedang bersiap merangkak naik ke atas langit. Suara yang tidak asing bagi Rendy karena setiap hari, dia selalu rajin mengingatkan dan membangunkan Rendy di pagi hari. Seperti sebuah pengingat bernyawa bagi Rendy. Ada nama Vera Agatha yang muncul di layar ponselnya.
“Iya, Wa ‘alaikum salam.” jawab Rendy setengah mengantuk.

“Pasti belum sholat shubuh deh kamu.”

“Iya, kan baru dibangunin sama kamu.”

“Ya udah, Mas sholat sekarang ya. Siap-siap ke kantor. Jangan lupa sarapan dan bahagia ya.”

“Hehehehe... Iya, makasih ya Vera.”

“Assalamu ‘alaikum.”

“Iya, wa ‘alaikum salam.”

****

Namanya Rendy Adrian Mahardika, seorang karyawan sebuah perusahaan yang baru saja promosi jabatan menjadi manager di departemen IT Support and Helpdesk. Umurnya masih tergolong muda, masih dua puluh tujuh tahun. Dengan prestasi dan kerja kerasnya, dia berhasil menjadi manager termuda di perusahaannya.

Setelah menunaikan ibadah pagi, dia melanjutkan aktifitasnya untuk bersiap menuju kantornya. Sudah menjadi rutinitas setiap pagi, dia selalu memandangi sekumpulan burung-burung kertas berwarna merah muda pemberian seseorang yang posisinya tidak beranjak dari hatinya. Berharap keajaiban untuk bertemu dengan orang itu kembali.

Sebuah untaian kalimat yang ada dalam burung kertas tersebut, masing-masing dibaca dari dalam hati, direkam dalam memori otaknya. Ada satu kalimat yang tak bisa dilupakan dan masih menempel kuat dalam memorinya yang berisi bukti bahwa dia sangat mencintai Rendy. Seorang perempuan yang rela sebagian darahnya mengalir di tubuh Rendy karena kejadian masa lalu. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa tak akan ada wanita di dunia ini yang bisa berbuat sebanding dengannya.

Hanya misteri yang akan mempertemukan mereka kembali. Hampir mustahil bagi mereka untuk bersatu. Ya, hampir. Masih ada kesempatan walau hanya satu persen saja.
Diubah oleh chrishana

Chapter 1

“Pagi, Pak Rendy!” sapa petugas keamanan gedung.

“Pagi, Pak!” balas Rendy sambil berjalan menuju elevator gedung.

“Pak Rendy, selamat pagi!” sapa gadis resepsionis lobby dengan nama ‘Vanessa Agustine’ di nametag yang terpasang di blazer miliknya.

“Pagi, Nessa!” balas Rendy.

Rendy cukup terkenal di gedung perkantoran yang terletak di sebuah kawan perkantoran daerah Jakarta Pusat ini. Dia dikenal dengan keramahan, serta fisik yang di atas rata-rata bagi kaum hawa. Banyak yang menyukai sosok Rendy, namun tidak ada yang berhasil mendapatkan hatinya. Tapi, ada satu perempuan yang tidak pantang menyerah untuk menggantikan posisi wanita yang ada di hati Rendy.
“Pagi, Mas.” sapa seorang perempuan yang berada di samping Rendy.

“Eh, Vera. Pagi juga, Ver.” balas Rendy yang sedang menunggu elevator.

“Udah sarapan, mas?” tanya Vera.

“Belum sih. Gak sempet.” jawab Rendy.

“Kamu kebiasaan deh mas!” Vera meninggikan sedikit nada bicaranya.

“Hehehehe... Lupa.”

“Kan aku udah ingetin!”

“Iya, maaf. Besok gak lupa. Janji.”

“Ya udah kita sarapan berdua ya. Kebetulan aku bikin sarapan lebih. Aku tahu pasti kamu gak sarapan.” ujar Vera.

“Hahahahaha... Kamu ini. Ya udah boleh deh.”

****

Namanya Vera Agatha, perempuan yang tak kenal kata menyerah untuk mengambil hati Rendy. Vera dan Rendy hanya beda dua tahun. Sama seperti Tasya dan Rendy. Yang menjadi ciri khas dari Vera adalah kaca mata berwarna biru muda dan senyum dengan lesung pipitnya yang manis.

Banyak kaum adam yang menyukai sosok Vera. Vera tergolong wanita yang manis dan cantik. Dengan rambut lurus panjang sampai lehernya bagai polisi wanita. Dia juga sosok yang feminim dan lemah lembut. Bentuk tubuhnya langsing dan proporsional. Wajar saja banyak yang mengagumi sekaligus mengejar untuk merebut hatinya. Walaupun, dia cinta pada pandangan pertama dengan Rendy.
“Kamu bikin apa untuk sarapan, Ver?” tanya Rendy yang berada satu lift dengan Vera.

“Nasi goreng buatanku dong.” jawab Vera.

“Oh, ya? Wah, gak sabar mau coba.” ujar Rendy.

“Udah sampai, Mas. Yuk!”

Lift yang mereka tumpangi telah sampai di lantai tempat mereka beraktifitas. Perusahaan tempat Rendy dan Vera bekerja mempunyai pengaturan meja bekerja dengan sistem open space. Yang artinya di mana karyawan bebas memilih di mana ia akan duduk. Tapi, berbeda dengan Vera. Vera bekerja sebagai IT Helpdesk yang mempunyai job desk menerima telepon dari karyawan mengenai keluhan dengan perangkat kerja mereka. Jadi, dia tidak bisa bebas memilih tempat duduk. Hanya Rendy yang bisa leluasa ingin duduk di mana yang dia inginkan.
****

Setelah menaruh barang bawaan mereka di meja masing-masing, Vera dan Rendy bergegas menuju pantry untuk memakan sarapan bersama. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Vera mengeluarkan dua buah kotak makan yang berisik satu porsi nasi goreng di setiap kotaknya. Wanginya sungguh menggoda bagi siapa yang mencium aromanya. Tak terkecual dengan Rendy.
“Wah, wanginya!” ujar Rendy.

“Dihabisin loh, Mas. Aku marah kalau kamu gak habis makannya.” ujar Vera.

“Aku coba ya.” Rendy menyuap satu sendok makan nasi goreng buatan Vera masuk ke dalam mulutnya.

“Hhmm...”

“Gimana, Mas?” tanya Vera penasaran.

“Ya Allah, enak banget! Kamu pinter masak ya, Ver.” jawab Rendy.

“Wah, maaf. Ganggu yang lagi pacaran nih.” tiba-tiba saja ada seseorang masuk ke dalam pantry.

“Ih, apaan sih Kak Tommy.” ujar Vera.

“Gimana jadi bos rasanya, Ren?” tanya Tommy.

“Biasa aja.”

“Buruan lamar Vera. Nanti Vera diambil gue loh, Ren.” ujar Tommy.

“Iihh! Apaan sih, Kak!” Vera mencubit tangan Tommy hingga Tommy merintih.

Pria bernama Jonathan Hosea Pratama ini adalah kawan satu tim dengan Rendy sebelum Rendy naik jabatan. Dia biasa dipanggil dengan sebutan Tommy. Entah dari sudut pandang apa dia bisa mempunyai nama panggilan seperti itu.

Tommy ini bertubuh gemuk. Kegemarannya adalah menggoda Vera hanya untuk sekedar bercanda. Berbeda dengan Vera, Tommy ini berada di tim IT Desktop Support yang mempunyai job desk menghampiri karyawan untuk menyelesaikan permasalahan pada perangkat kerja mereka jika tim dari Vera tak dapat menyelesaikannya by remote.
“Sini ikut makan, Tom.” ajak Rendy.

“Udah makan bubur pakde gue tadi di bawah. Gue mau ngopi doang kok. Dah, lanjutin pacarannya.” ujar Tommy lalu keluar dari ruangan.

“Sana sana! Ganggu aja.” ujar Vera sambil mengibaskan tangannya.

“Mas.”

“Iya, Ver.”

“Jangan dipikirin kata-kata Kak Tommy. Dia emang rese.”

“Iya, nggak kok.”

“Kok kamu langsung murung gitu?” tanya Vera.

Pada saat di suapan berikutnya, Rendy teringat dengan seseorang. Seseorang yang pandai memasak nasi goreng untuknya sarapan di masa lalu. Seseorang yang ada di hatinya. Seseorang yang ada di balik tulisan pada burung kertas merah muda yang berjajar di atas meja kamarnya.
“Nggak apa-apa kok. Yuk, lanjutin lagi makannya.” ujar Rendy.

Vera lebih memilih diam dan menatap wajah Rendy. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rendy. Karena sudah cukup lama Vera mendekatkan diri pada Rendy. Jadi, dia tahu jika Rendy sedang berbohong atau jujur.
“Mas.” panggil Vera seraya memegang tangan kiri Rendy.

“...”

“Cerita sama aku.”

Rendy menghela napas panjang, “Aku cuma kangen aja, Ver.”

“Sama?”

“Perempuan yang dulu sering masakin aku sarapan. Tapi udah dulu banget. Dua belas tahun lalu.” jawab Rendy.

“Siapa dia?” tanya Vera kembali.

“Namanya Anna. Perempuan yang rela mengorbankan apapun buatku.”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 7 lainnya memberi reputasi
amankan Pejwan emoticon-Cool
Komen dulu baru baca
Apakah Agan Rendy akan di pertemukan dgn Anna
Kita tunggu lanjutannya emoticon-Hammer2
Diubah oleh dewapanggung
Wah dah update..numpang baca gan emoticon-Smilie
Quote:


Yah kalah start saya emoticon-Cape d... (S)
Numpang page one.
Btw Fara dan rheva ada lagi ngak?
Diubah oleh rasyidenaboy
nahhh ini

Cerita lanjutan
emoticon-Embarrassment

Yg lama udah baca
Yg ini pasti bagus jg nih
emoticon-Malu

Chapter 2

“Ada yang ketinggalan, Nak?” tanya ibu dari seorang perempuan.

Insya Allah gak ada, Bu.” jawab perempuan itu.

“Jangan lupa bismillah ya, sayang.” ujar ibunda.

“Iya, Bu. Lagian siang ini cuma perkenalan aja kok.”

“Hari ini kan hari pertama kamu kerja, nak. Baik-baik ya. Tunjukkan kerja kerasmu.” ucap ibunda sambil mengusap kepala anak kesayangannya.

“Aku pamit, Bu. Assalamu ‘alaikum.” perempuan itu mencium tangan ibunya lalu berangkat menuju kantor.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Artinya, matahari sedang berada tepat di atas kepala. Walau siang ini matahari sedang galak-galaknya memanaskan bumi, tetap saja tidak membuat mundur perempuan yang satu ini. Dengan menggunakan hijab serta blazer yang menutupi tubuhnya, perempuan ini tetap berjalan maju menuju kawasan di mana kantor barunya berada.

Waktu terus bergulir dengan cepat. Tak ada satupun awan yang nampak pada langit yang sedang membiru. Tak ada yang bisa menghalangi matahari untuk menyiram panasnya. Sepuluh menit berlalu, sampailah perempuan ini di gedung kantornya. Sebelum dia naik, dia pergi menuju area belakang gedung untuk menyantap makan siang.
“Mbak, orang baru ya?” tanya petugas keamanan yang sedang istirahat.

“Oh, iya Pak.” jawab perempuan itu.

“Pantesan. Saya gak pernah liat sebelumnya. Di lantai berapa mbak?” tanya petugas itu kembali sembari menyantap hidangan.

“Di enam belas sih pak.”

“Oh, IT ya. Saya kira mbak orang ekonomi loh. Kelihatan dari dandanannya.” ujar petugas itu.

“Hahahahaha... Semua orang juga nilai saya begitu, Pak. Gak kaget saya. Pak, saya duluan ya.” ujar perempuan itu.

“Iya, mbak.”

Perempuan berhijab itu pergi setelah membayar pesanannya. Berjalan perlahan sampai di depan elevator yang sedang bergerak turun untuk menjemputnya. Suasana di dalam lift begitu penuh karena banyak orang yang ingin kembali ke meja masing-masing setelah tadi istirahat makan siang.

Sesampainya di sana, ia disambut oleh petugas keamanan yang berjaga di lantai tersebut. Petugas tersebut melangkahkan kakinya mendekati perempuan itu.
“Siang, mbak. Mau ketemu siapa?” tanya petugas.

“Maaf, Pak. Saya baru di sini.” ujar perempuan itu.

“Oh, karyawan baru ya.”

“Iya, Pak. Saya lagi nunggu orang HRD yang nanti mau ngenalin dan nunjukin tempat kerja saya.”

Tak lama kemudian, keluarlah dari dalam lift sesosok pria bertubuh sedang dengan menggunakan kemeja berwarna merah dan celana jeans hitam. Dia tampak tersenyum melihat kedatangan karyawan baru yang akan menggantikan posisi karyawan sebelumnya.
“Hai, Mbak! Formal amat. Hahahahahaha...” ujar lelaki itu dengan bercanda.

“Iya, Pak. Saya salah kostum ya.” ujar perempuan itu.

“Gak apa-apa. Namanya juga baru. Pasti gak tahu budaya kerja di sini terutama masalah pakaian. Besok-besok casual aja.”

Lelaki ini adalah seorang karyawan dari departemen human resource development yang bernama Agung Kuncoro. Karyawan yang cukup senior dan disegani di kantor ini karena sudah mengabdi jauh lebih lama dari karyawan lainnya.
“Mari, saya antar.” Pak Agung mempersilahkan perempuan itu memasuki area perkantoran di lantai tersebut.

“Iya, terima kasih Pak.”

Pak Agung mengajak perempuan itu berkeliling lantai. Jadi, lantai ini diisi oleh tim IT. Mulai dari helpdesk, support, server, database, network, dan IT Service Monitoring yang bekerja dua puluh empat jam. Beliau pun menjelaskan tentang sistem tempat duduk yang berpindah-pindah atau biasa dikenal dengan sebutan open space. Tapi, perempuan itu tidak bisa menikmatinya karena tempat duduknya sudah permanen.
“Vera.” panggil Pak Agung.

“Oh, iya Pak Agung.”

“Ini karyawan baru yang masuk ke tim kamu.”

“Oh, alhamdulillah. Kita jadi gak keteteran lagi. Duduk mbak.” ujar Vera.

“Iya, terima kasih.”

“Saya tinggal dulu ya. Saya masih banyak yang harus diselesaikan.” ujar Pak Agung.

“Aku Vera.” Vera mengajak perempuan itu berkenalan.

Perempuan itu menyambut semua rekan satu timnya dengan senang hati. Mereka sangat baik padanya. Selesai berkenalan, mereka menjelaskan bagaimana cara bekerja dan bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang setiap hari berbeda-beda.
“Oh iya, aku telpon bos dulu ya. Dari tadi dia belum kelihatan.” ujar Vera.

“Oh, iya aku juga mau kenalan sama atasanku.”

Vera mengambil telepon genggamnya dan menelpon atasan langsungnya. Terlihat raut wajah yang kurang mengenakan yang ditampakkan pada Vera. Sudah menelpon dua kali tetapi tak kunjung dijawab oleh atasannya.
“Kenapa, Mbak?” tanya perempuan itu.

“Gak diangkat. Sebel deh aku.” ujar Vera.

“Lagi makan atau di jalan kali, Mbak.”

Vera memberikan isyarat kepada perempuan itu bahwa atasannya menjawab telepon darinya.
“Halo, Mas.”

“Iya iya, ada apa sih, Ver?”

“Mas, kamu masih makan?”

“Masih, ada apa?”

“Ini loh ada pegawai baru masuk ke tim kita. Kamu masih lama gak? Ini udah lewat jam makan siang loh, Mas.”

“Nggak, sedikit lagi kok. Aku lagi sama adekku.”

“Ya udah kalau gitu, kamu jangan lupa sholat loh, Mas.”

“Iya, makasih udah ingetin aku, Ver.”

“Iya, sama-sama, Mas. Dah, Mas Rendy.”

Vera menutup teleponnya.
“Rendy?”perempuan itu bertanya-tanya dalam hati dan teringat dengan seseorang.

****

Sekitar dua puluh menit perempuan itu dan Vera menunggu kedatangan atasannya. Akhirnya, dia tiba dan segera menuju tempat di mana dia biasa duduk. Vera langsung mengajak perempuan itu menemui atasannya. Tapi, perempuan itu seperti ada sesuatu yang mengganjal dan lebih memilih berdiri menjauh.
“Hei, sini. Jangan malu-malu. Bos kita masih sebaya sama kita kok.” Vera memanggil perempuan itu.

Perempuan itu nampak kaget setelah melihat bagaimana rupa dari atasannya. Sesosok lelaki yang sepanjang tahun ia pikirkan. Seorang lelaki dari masa lalu yang posisinya tak bergeser sedikitpun dari hatinya.

Perempuan itu kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air mata yang dia tahan pun akhirnya jatuh setetes ke pipinya.
“Re... Rendy?!”

Atasannya yang juga melihat perempuan itu terkejut dan berdiri menatap perempuan itu. Nampak wajah dengan ekspresi tak biasa ditunjukkan darinya.
“Kamu... Anna?!”

Ya, perempuan itu adalah Devianna Azzahra. Sesosok bidadari tanpa sayap yang mengisi pikiran dan hati milik Rendy sepanjang tahun.

profile-picture
profile-picture
dany.agus dan elangbiru00 memberi reputasi

Chapter 3

“Jam makan siang nanti, ikut aku ya.” sent to Anna.

“Kalau aku gak mau, gimana?” received from Anna.

“Atasan gak boleh dibantah.” sent to Anna.

“Sekarang, hubungan kita atasan dan bawahan ya, Ren?” received from Anna.

“Menurutmu?” sent to Anna.

“Iya, aku ikut.” received from Anna.

Sebuah obrolan yang mereka berdua lakukan dalam aplikasi Whatsapp membuka pagi hari ini. Tak ada yang menyangka bahwa mereka berdua bisa dipersatukan kembali dalam kehidupan. Dua belas tahun lamanya mereka tak pernah bertemu. Dua belas tahun pula mereka tak saling menghubungi setelah Anna pergi begitu saja meninggalkan Rendy.
“Hai, Dek!” sapa Rendy kepada adiknya yang sedang sarapan.

“Hai, Kak!”

“Gimana kerjaan kamu sebagai bos, Ren?” tanya Mama.

“Lancar, Ma. Mama tau gak, ada karyawan baru yang gantiin aku. Dia perempuan, Ma.” ujar Rendy sambil mengambil satu piring nasi goreng untuk sarapannya.

“Cantik?” tanya Mama.

“Banget, Ma.” jawab Rendy.

“Kakak suka sama dia? Kak Vera gimana?” tanya Tasya.

“Sebelum aku jawab pertanyaanmu, aku mau kasih tau siapa orangnya.” ujar Rendy.

“Siapa, Kak?”

“Anna.”

“Anna? Oh, Anna yang pernah donorin darahnya buat kamu?” tanya Mama sedikit terkejut.

“Iya, Ma.”

“Kak Anna! Serius, Kak?” tanya Tasya yang juga sedikit terkejut.

“Iya. Dan nanti siang, aku mau ajak Anna makan bareng sama kamu dan Danu.” ujar Rendy.

“Beneran, Kak? Aku udah lama gak liat Kak Anna.”

“Iya, bener. Yuk, berangkat!” Rendy menyudahi sarapannya dan mencium tangan Mama. “Aku berangkat, Ma.”

“Aku juga ya, Ma.” Tasya juga mencium tangan Mama.

“Iya, kalian hati-hati di jalan ya.”

Rendy menyalakan sepeda motor besutan negeri sakura dengan isi silinder 250 yang sedang menjadi sorotan media otomotif pada waktu itu. Belum pernah Rendy semangat untuk berangkat menuju kantornya seperti hari ini. Dia mengendarai sepeda motornya dengan pelan dan santai dengan Tasya yang duduk memeluknya dari belakang.
“Kak, tumben gak ngebut.” ujar Tasya.

“Keselamatan nomor satu, Dek.” ujar Rendy seraya memberhentikan laju sepeda motornya di persimpangan lampu merah.

“Kakak beda hari ini.” ujar Tasya.

“Beda gimana?”

“Kalau yang sekarang, aku kayak lihat Kakak sama seperti dulu. Penuh semangat, gak emosian di jalan, mukanya cerah gitu.”

“Pasti karena ada Kak Anna ya?” tanya Tasya.

“Hehehehe... Bisa aja kamu.”

Lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau. Tandanya, Rendy dan Tasya harus melanjutkan perjalanan mereka sampai ke gedung perkantoran mereka. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di tempat di mana mereka bekerja. Tasya dan Rendy bekerja hanya berbeda tiga gedung perkantoran saja. Sampailah Rendy di depan gedung di mana Tasya bekerja sebagai Tax Accounting.
“Dah, kamu kerja yang bener ya.” ujar Rendy sambil mengusap kepala adiknya.

“Kakak yang semangat. Kan udah ada Kak Anna. Hehehehe...”

“Ya udah, aku lanjut lagi ya.”

“Iya, hati-hati ya, Kak.”

Tasya mencium tangan Rendy sebelum masuk ke gedung kantornya. Banyak yang menyangka bahwa Rendy itu adalah suami atau pacar dari Tasya. Padahal, Rendy adalah kakak kandung satu-satunya yang Tasya miliki. Beberapa menit kemudian, sampailah Rendy di kantornya. Dia memarkirkan motornya di parkiran khusus motor dengan isi silinder lebih dari sama dengan dua ratus lima puluh.

Masih di area parkir, Rendy melihat seorang perempuan dengan blazer hitam sedang kesusahan untuk memarkirkan kendaraannya. Suasana di area parkir sudah hampir penuh dengan kendaraan para karyawan yang bekerja di sana. Rendy segera menghampiri dan menolong perempuan tersebut.
“Sini, aku bantu.” ucap Rendy seraya mengangkat sepeda motor yang memakan jarak parkir dari satu motor ke motor lain.

“Eh, makasih Kak.”

“Kamu itu kalau butuh bantuan, bilang dong, Nes.” ujar Rendy.

“Hehehehe... Aku gak mau ngerepotin orang lain.” ujar perempuan dengan nama "Vanessa Agustine" pada nametag yang tertera pada blazer miliknya.

Setelah selesai membantu Vanessa, mereka berdua berjalan bersama menuju gedung kantor. Vanessa terlihat sangat malu-malu berjalan berdua bersama Rendy. Vanessa adalah salah satu perempuan yang mengagumi sosok Rendy. Namun, dia lebih tahu diri karena posisinya hanya seorang resepsionis. Sedangkan Rendy punya jabatan dan juga anak dari founder perusahaan kontraktor terkenal, Nugroho Groups.
“Kakak gak malu jalan sama aku?” tanya Vanessa.

“Kenapa harus malu?”

“Aku cuma resepsionis.” jawab Vanessa.

“Kamu itu lucu ya. Hahahahaha.”

“...”

“Resepsionis atau Manager, itu hanya jabatan di dunia. Kita semua sama kok, Nes. Aku duluan ya.” ujar Rendy seraya mengacak-acak rambut Vanessa.

Rendy dan Vanessa sudah mengenal satu sama lain dari mulai Rendy bekerja sebagai staff biasa di perusahaan tersebut. Walau Vanessa hanya sebagai resepsionis, Rendy tak pernah membedakan sikapnya kepada siapapun. Rendy tetaplah menjadi Rendy. Hanya saja, kali ini dia telah kembali ke dirinya seperti sedia kala. Apakah ini adalah efek dari pertemuannya dengan Anna?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 4

Malam yang sunyi dan dingin kini berganti dengan teriknya pagi dengan matahari merangkak naik perlahan dari arah timur. Tak ada hiasan dari nyanyian hewan bersayap yang biasanya melantunkan kicauannya yang indah dari atas ranting pepohonan. Langit yang cerah berawan membuat sinar matahari terhalang untuk menusuk bumi. Rendy masih meringkuk dalam selimut di atas ranjangnya.
“Rendy...” suara perempuan berbisik di telinga Rendy.

“Bangun sayang...” suara sedikit mendesah.

“Rendy! Bangun!” teriak perempuan itu sambil menarik selimut yang dipakai Rendy.

“Aduh! Apaan sih, Kak!” Rendy terpaksa membuka matanya.

“Cepetan siap-siap duluan. Aku bareng ke kantor sama kamu.” ujar Anita.

“Kakak aja duluan. Udah separoh telanjang gitu.” ujar Rendy yang melihat Anita masih menggunakan hotpants dan sportbra miliknya untuk tidur.

“Sana mandi!” Anita menendang Rendy hingga jatuh dari ranjang.

*BRUK!*

“Aduh! Apaan sih! Kenapa gak sama Tasya aja sih!” Rendy mulai kesal.

“Tasya sama dijemput sama Danu. Jadi, aku sama kamu.”

“Harus ya berangkat sama wewe gombel.” Rendy menggerutu.

“Apa kamu bilang!”

“Nggak!”

Anita menarik tangan Rendy dan membantingnya ke atas ranjang dengan posisi telentang. Rendy yang belum sepenuhnya mengumpulkan tenaga berhasil dilumpuhkan oleh Anita.
“Bilang apa tadi...” Anita naik di atas tubuh Rendy.

“Aduh, Kak... Jangan gini...”

“Bilang apa anak manis...” Anita mulai membungkukkan tubuhnya hingga Rendy dapat melihat buah dada Anita yang menggemaskan.

“Kak! Udah dong!”

Wajah Rendy berubah menjadi memerah. Seketika rasa kantuk itu berubah menjadi birahi yang tertahankan. Rendy masih memaksa matanya untuk terpejam agar tak melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat. Tiba-tiba saja sebuah tamparan keras menghantam pipi Rendy.
*PLAK!*

Anita menampar dengan keras lalu beranjak dari tubuh Rendy. Rendy yang kebingungan hanya bisa mengeluh dan mengelus pipinya yang perih terkena tamparan dari Anita.
“Nakal kamu, Rendy!”

“Nakal apa sih! Sakit tau!”

“Kamu nafsu kan! Ngaku!”

“Siapa yang gak tegang sih, Kak digituin!”

“Udah sana cepetan mandi, Udah hilang kan ngantuknya.”

“Iya, dasar wewe gombel.”

“Eh! Mau lagi, hah!”

“Nggak!”

****

Anita ini adalah kakak sepupu Rendy. Dia memang gemar menggoda Rendy dari dulu. Tujuannya hanya bercanda saja. Walaupun candaan yang dia lemparkan terhadap Rendy sudah melewati batas wajar. Tapi, tak ada niat untuk melakukan yang lebih dari itu.

Anita juga bekerja di perusahaan yang sama di mana Tasya juga bekerja di sana. Hanya bedanya, Anita lebih senior dan ia juga membantu Tasya agar bisa diterima di perusahaan di mana Anita bekerja. Karena mereka berdua sama-sama lulusan Fakultas Ekonomi.
****

Hari ini adalah hari pertama Rendy bekerja sebagai IT Desktop Support di suatu perusahaan. Padahal, bisa saja Rendy mendapatkan posisi yang sangat baik di perusahaan papanya. Tapi, Rendy ingin berusaha sendiri dan tak bergantung dengan orang tuanya. Hal ini lah, yang membuat papanya bangga terhadap anaknya.

Sesampainnya Rendy di gedung kantornya, dia pergi menuju belakang gedung untuk sarapan. Rendy hanya sendirian karena belum kenal dengan teman-teman rekan kerjanya.
“Pak, nasi uduknya satu. Makan sini ya.” ucap Rendy.

“Siap, Pak!”

Tak lama kemudian, datanglah sesosok perempuan yang tinggi dan parasnya hampir sama dengan adiknya Rendy. Dia juga memesan satu piring nasi uduk untuk sarapannya.
“Kerja di gedung itu juga?” tanya Rendy.

“Iya, Pak.” jawab perempuan itu.

“Oh, di bagian apa?”

“Saya resepsionis, Pak.”

“Oh, udah lama?”

“Hari ini, hari pertama saya kerja, Pak.”

“Wah, sama dong. Hehehehe...”

Perempuan itu hanya tersenyum ke arah Rendy. Seperti kebingungan harus berbicara apa kepada Rendy. Mereka berdua menyantak sarapan bersama-sama. Setelah selesai sarapan, Rendy melihat perempuan itu seperti kebingungan. Merogoh tasnya dalam-dalam dan kantong pada blazer hitamnya. Rendy langsung mengetahui bahwa perempuan tersebut tidak membawa dompet. Dengan sigap, Rendy langsung mengeluarkan uang dari sakunya.
“Pak, dua berapa?” tanya Rendy.

“Dua puluh empat ribu, Pak.”

“Eh, Pak. Gak usah. Saya ada kok.” perempuan itu menahan Rendy.

“Beneran ada?” tanya Rendy untuk memastikan.

“Iya.”

“Coba tunjukin ke saya sekarang.”

Perempuan itu terlihat kebingungan. Sepertinya, dia tidak bisa membohongi Rendy. Atau, Rendy yang memang tidak bisa dibohongi oleh orang lain. Perempuan itu makin salah tingkah dan malu.
“Hahahahaha... Kamu lucu ya.” ujar Rendy. “Ini, Pak.” Rendy memberikan uangnya kepada penjual nasi uduk tersebut.

“Terima kasih, Pak.”

“Yuk, udah aku bayar.” ujar Rendy.

Rendy dan perempuan yang belum diketahui namanya tersebut berjalan bersama menuju area gedung perkantoran. Perempuan itu masih malu-malu untuk berjalan berdampingan dengan Rendy. Dia lebih memilih berjalan di belakang Rendy layaknya orang yang tak saling mengenal.

Rendy pun menghentikan langkahnya. Tak terkecuali perempuan itu yang juga langkahnya terhentikan karena menabrak tubuh Rendy.
“Aduh!” perempuan itu memegang hidungnya yang memerah karena menabrak Rendy.

“Eh, maaf. Sakit gak?”

Perempuan itu terlihat emosi dan ingin marah tapi tak jadi terluapkan karena melihat Rendy yang ada di depannya. Rendy melihat perempuan itu memegangi hidungnya pasca tabrakan tadi.
“Sedikit.” jawab perempuan itu.

“Hahahahaha... Kamu ini...”

“Kenapa jalannya di belakang?” tanya Rendy.

“Gak apa-apa, Pak.”

“Karena kita belum kenal?” tanya Rendy.

“...”

“Aku Rendy.” Rendy mengajak perempuan itu berkenalan.

“Saya...”

“Vanessa Agustine, kan?” kata Rendy memotong.

“...”

“Itu ada di nametag kamu. Sekarang sudah kenal. Jalannya jangan di belakang ya.” ujar Rendy.

“I... Iya, Pak...”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
Mejeng di pejwanemoticon-nyantai
subkrip n rate done gan,,

akhirnya yg ditunggu rilis juga,
kip apdet ganemoticon-Jempol
Ijin gelar tikar ren
rate full ya subs done mejeng pejone hohoho

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2hikzz 😁
Diubah oleh kkaze22
keren nih... akhirnya muncul juga kelanjutan kisah bang Rendy dan Anna... bakal langgeng dah
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Terima kasih sudah membaca cerita yang tidak menarik ini.
Diusahakan update setiap hari kalau lagi gak sibuk ya.
lanjut lagi kakak

Chapter 5

“Ciee...” ledek perempuan yang duduk di samping Vanessa.

“Ih, apaan sih...” Vanessa tersipu malu.

“Baru hari pertama, udah jalan bareng sama cowok. Ganteng banget lagi.” ujar teman sebelahnya.

“Itu kebetulan aja ketemu tadi pagi.” Vanessa berkata dengan menahan malu.

****

Namanya Vanessa Agustine. Seorang perempuan yang masih berusia dua puluh satu tahun. Dia bekerja sebagai resepsionis di tempat di mana Rendy bekerja juga di sana. Pagi sampai sore hari, Vanessa berstatus sebagai pekerja. Jika sudah sore hingga malam, dia melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa kelas karyawan.

Vanessa adalah resepsionis yang paling cantik di antara resepsionis yang lain. Kulitnya kuning langsat dan cerah. Rambutnya hitam, lurus, panjang hingga menutupi lehernya. Bentuk tubuhnya ideal, idaman semua kaum adam di muka bumi ini. Langsing, namun padat dan berisi.
****

Waktu berjalan perlahan-lahan. Di mana matahari yang merangkak perlahan, kini sudah tepat berada di atas kepala. Itu artinya, waktu istirahat telah tiba. Vanessa hanya bisa menghela napas panjang karena dompetnya tertinggal. Dia hanya mengandalkan sarapan tadi pagi untuk bisa bertahan sampai malam hari.
“Makan ga, Nes?” tanya teman sebelahnya yang dengan nametag"Nayla Putri Alesha" yang terpasang di blazer miliknya.

“Nggak deh, Nay... Lo aja.” ujar Vanessa.

“Kenapa? Lagi diet?” tanya Nayla.

“Nggak kok.”

“Atau... Oh, janjian sama mas ganteng tadi pagi? Hahahahaha...” Nayla meledek.

“Ih, apaan sih!”

“Duluan ya. Daaahhh...” Nayla melambaikan tangannya seraya berjalan meninggalkan Vanessa duduk sendiri di meja resepsionis.

Sepuluh menit sudah Vanessa ditinggal sendiri oleh rekan kerjanya. Wajahnya memucat karena menahan lapar. Dia hanya bisa pasrah karena tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya meminum air bening yang ada pada gelas kaca di atas mejanya untuk menahan rasa lapar yang sudah memerihkan perutnya.
“Hei...” sapa Rendy yang baru saja turun dari elevator.

“Eh, Pak.”

“Udah makan, Nes?” tanya Rendy.

“Udah kok Pak.” jawab Vanessa.

Rendy hanya berdiri di depan meja resepsionis sambil menatap Vanessa. Vanessa yang sedari tadi ditatap dengan tatapan tajam langsung salah tingkah. Wajahnya memucat hingga menjadi merah padam.
“Udah makan atau belum?” tanya Rendy sekali lagi.

“...”

“Dompet aja gak bawa, gimana makannya.” ujar Rendy.

Rendy langsung mengambil tag dengan label “sedang istirahat” dan ditaruhnya di atas meja resepsionis. Vanessa yang melihatnya langsung terkejut tak bisa berbuat apa-apa. Rendy pun langsung menarik tangan Vanessa.
“Jangan ditahan kalau lapar, nanti sakit. Yuk!” Rendy menarik tangan Vanessa.

“Eh, kita mau kemana?” tanya Vanessa.

“Makan siang.”

“...”

“Kamu itu teman pertamaku di sini. Udah, gak usah malu-malu.” ujar Rendy.

“I... Iya, Pak.” jawab Vanessa.

Rendy dan Vanessa berjalan ke arah area parkir sepeda motor. Di sana sudah terparkir sepeda motor milik Rendy yang terparkir khusus di area motor besar. Rendy memberikan helm yang satunya untuk Vanessa. Vanessa masih kebingungan dengan sikap Rendy.
“Kenapa diem?” tanya Rendy.

“Eh, itu... Pak...”

“Cepetan pakai helmnya, kita berangkat sekarang.”

“I... Iya...”

Vanessa terlihat canggung. Dia seakan-akan mati kutu dibuat oleh Rendy. Apa yang Rendy perintahkan, langsung saja dituruti oleh Vanessa. Setelah itu, Rendy melajukan sepeda motornya ke sebuah tempat yang ramai pengunjung tak jauh dari area kantornya. Sepanjang perjalanan, Vanessa diam seribu bahasa karena perasaan tegang dan kaku masih menyelimuti dirinya terhadap Rendy. Sepuluh menit kemudian, sampailah mereka berdua.
“Gak salah kita makan di sini?” tanya Vanessa.

“Nggak, kenapa?”

“Ini kan mahal banget, Pak.” ujar Vanessa yang baru saja menginjakkan kakinya di sebuah restoran.

“Aku masih baru di kantor. Jadi, sebelum makan siang, aku searching dulu di mana tempat makan enak sekitar kantor. Ketemu deh sama tempat ini.” ujar Rendy sambil berjalan ke tempat duduk.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pramusaji yang siap mencatat pesanan Rendy dan Vanessa. Vanessa terlihat kebingungan karena harga makanannya yang sangat mahal untukknya. Dia hanya membolak-balikkan menu makanannya.
“Kamu pesan apa, Nes?” tanya Rendy.

“Apa ya? Ini angkanya banyak nol nya, Pak. Saya bingung.”

“Aku yang traktir. Kamu pesan apa?”

“Eh, Pak...”

“Apa? Mau berdalih lagi?”

“...”

“Pesan chicken katsu curry-nya dua sama lemonade-nya dua ya, mbak.”

“Ditunggu ya, Pak.” pramusaji tersebut langsung meninggalkan tempat Rendy dan Vanessa duduk untuk memproses pesanannya.

“Duh! Kenapa gue gak bisa bantah dan nolak cowok ini, sih!” ujar Vanessa dalam hati.

Tiba-tiba saja, handphone milik Vanessa bergetar. Tanda ada pesan masuk dari aplikasi whatsapp miliknya. Ternyata, pesan itu dari Nayla, rekan kerja satu meja dengannya.
“Di mana lo?” from Nayla.

Picture sent, “Gue lagi sama dia.”

“Anjir! Itu resto di SCBD? Sikat, Nes. Tebel tuh duitnya.”

“Hush! Gak boleh gitu. Gue gak liat cowok dari tampang dan harta.”

Beberapa saat kemudian, salah satu pesanan datang. Seperti biasa, minuman datang pertama kali sebelum makanan datang. Dua gelas lemonade sudah tersedia di atas meja makan.
“Sebelumnya, kamu kerja di mana?” tanya Rendy.

“Di mall gitu, Pak. Jadi SPG.” jawab Vanessa.

“Zodiakmu?”

“Libra.”

“Oktober awal?” ujar Rendy.

“...” Vanessa mengangguk pelan.

“Umurmu berapa sekarang?” tanya Rendy.

“21 tahun, Pak.” jawab Vanessa.

“Masih muda banget. Lebih muda dari adekku. Jangan panggil aku ‘pak’. Kesannya tua banget.” ujar Rendy.

“I... Iya, Rendy.”

“Heh, aku lebih tua dari kamu.”

“Ma... Maaf, Kak...” ujar Vanessa terbata-bata.

“Nah, itu lebih baik. Hahahahaha... Kamu lucu, dek.”

Makanan yang dinanti akhirnya datang juga. Vanessa terlihat sangat lahap memakannya. Rendy hanya memerhatikan sambil sesekali tersenyum manis ke arah Vanessa. Vanessa seperti terhipnotis dengan rasa lapar yang tak tertahankan serta makanan yang rasanya sangat lezat tersebut. Vanessa yang menyadari itu langsung tersipu malu dan diam seribu bahasa.
“Lucu kamu...” ujar Rendy sambil tersenyum.

“...”

“Enak, Dek?”

“Enak, Kak.”

“Duh! Jantung gue mau copot pas dia manggil gue ‘adek’.” gumam Vanessa dalam hati.

Vanessa menghela napas panjang, “Kak, aku mau minta sesuatu.”

“Apa?”

“Kalau di kantor, aku panggil “pak” aja ya. Kalau manggil “kak”, nanti dimarahin atasanku.” ujar Vanessa. “Duh! Kalau dia nolak gimana ini! Mati gue! Gue gak bisa bantah!” Vanessa kembali bergumam dalam hatinya.

“Iya, kalau itu aku paham. Yuk, balik kantor!” ajak Rendy.

“Alhamdulillah.” ujar Vanessa dalam hati dan bisa bernapas lega.

profile-picture
profile-picture
dany.agus dan jimmi2008 memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
Asikkk part 2 has begun, cant wait to read more
Quote:


besok lagi ya
Halaman 1 dari 47


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di