KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b331e83902cfe3a048b4567/mature---21-burung-kertas-merah-muda-2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2

[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2



Quote:


Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.


Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.


Terima kasih.



Spoiler for Perkenalan:


Quote:

Polling
133 Suara
Siapakah sosok perempuan yang akan menjadi pendamping setia Rendy? 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donny065 dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana

Chapter 58

“Rendy...”

Terdengar lirihan suara dari seorang perempuan yang sedang terbaring lemah pasca operasi. Dengan setengah sadar, dia memanggil nama itu berkali-kali. Mencari keberadaan dari seseorang yang memiliki nama tersebut. Melirik kiri dan kanan namun tak nampak wajah dari Rendy.
“Kamu udah bangun, nak?” tanya ibunda Anna.

“Kepalaku pusing... Rendy ke mana?” tanya Anna.

“Rendy sudah pulang. Dia juga butuh istirahat.” ujar ibunda.

“Kenapa Rendy gak nemenin aku?”

“Rendy juga sudah lelah, sayang. Dia mendonorkan darahnya untukmu. Untuk keperluan operasimu.” ujar ibunda.

“...”

“Dia titip ini ke ibu tadi.” ibunda memberikan sebuah burung kertas merah muda kepada Anna. “Kata Rendy, nanti kalau Anna sudah bangun, Rendy meminta ini dikasihkan ke kamu.” lanjutnya.

“Boleh nanti aja aku bukanya? Aku masih terasa pusing.” ujar Anna.

“Iya, gak apa-apa. Di depan masih ada temanmu. Mau ibu panggilkan?”

“Iya suruh masuk aja, Bu.”

Ada seorang perempuan cantik berambut panjang menyentuh bahu menunggu di bangku teras ruangan di mana Anna dirawat pasca operasi. Menundukkan kepala dengan mata sedikit terpejam menahan lelah. Menunggu Anna sadar dari tidurnya.

Dia pun terbangun karena mendengar suara pintu terbuka. Ibunda Anna menghampiri perempuan tersebut dan memintanya untuk masuk ke dalam untuk menemui Anna.
“Kak...”

“Eh, Vanessa...”

“Gimana rasanya, Kak?” tanya Vanessa.

“Aku masih pusing. Kamu dari kapan di sini?” tanya Anna.

“Dari sebelum Kakak operasi.” jawab Vanessa.

“Loh, kamu gak pulang?”

Vanessa menggelengkan kepalanya. “Aku harus tau keadaan Kakak. Aku mau kabarin ke Kak Rendy. Kak Rendy khawatir banget sama Kakak.” lanjutnya.

“Kalau gitu, aku pamit pulang ya, Kak... Aku sekalian mau kabarin Kak Rendy.” lanjut Vanessa.

“Oh, iya... Terima kasih ya. Kamu hati-hati di jalan. Udah malam soalnya.”

“Iya, Kak... Cepat pulih ya, Kak...”

Vanessa berjalan perlahan melewati lorong rumah sakit menuju area luar rumah sakit. Hari sudah malam, langit nampak gelap tanpa ada cahaya. Rembulan hilang ditelan gelapnya awan. Hanya dapat melihat cahaya samar yang memantul dari matahari.

Sesampainya di halte bus, dia duduk menyendiri sambil menunggu datangnya bus yang akan mengantarnya sampai tujuan. Tak lupa ia mengambil telepon genggamnya untuk mengabarkan keadaan Anna pada Rendy.
“Halo, Kak...” sapa Vanessa.

“Iya, Dek...”

“Kak, Kak Anna udah bangun... Tapi, tadi masih pusing... Kak Anna nyariin Kakak...” ujar Vanessa.

“Alhamdulillah... Iya, aku besok mau ke sana... Kamu di mana?” tanya Rendy.

“Lagi di jalan mau pulang, Kak... Ya udah Kakak istirahat aja dulu... Biar besok udah pulih dan bisa lihat senyumnya Kak Anna.”

“Iya, hati-hati di jalan ya...”

****

“Siapa, Ren?” tanya perempuan yang berbaring di samping Rendy.

“Vanessa, Kak.” jawab Rendy.

“Kenapa dia?”

“Dia cuma ngabarin Anna udah bangun... Cuma masih pusing aja kepalanya...” ujar Rendy.

“Jadi...” perempuan itu menyampingkan tubuhnya ke arah Rendy. “Gimana keputusanmu?” tanya dia.

Rendy menarik tubuhnya duduk di atas ranjang. “Keputusanku tetap, Kak...” jawab Rendy.

“Kamu yakin? Gimana sama Papa dan Mama?”

“Kak, aku cuma mau hidup sama Anna. Menghabiskan sisa umurku sama dia. Aku cinta dia dengan segala keadaannya.” jawab Rendy.

Perempuan itu menarik tubuhnya dan berpindah posisi. Berjalan ke arah jendela kamar Rendy. Menarik kursi dan duduk di atasnya sambil menatap langit yang sedang menutupi diri menggunakan awan.
“Jarang loh ada cowok kayak kamu, Ren... Beruntungnya Anna bisa dicintai sama kamu...” ujar perempuan itu.

“Aku yang beruntung bisa dicintai Anna, Kak...” ujar Rendy.

“Kenapa begitu?”

“Cuma dia yang melihatku bukan dari fisik dan materi.” jawab Rendy.

“Vanessa pun begitu, kan?” ujar Anita.

“...”

Anita kembali berdiri dan berpindah posisi. Dia pun duduk di samping Rendy di atas ranjang. Menggenggam erat tangan Rendy dan menatapnya dalam-dalam.
“Apa yang kamu lakukan ke Vanessa juga bukanlah sesuatu yang biasa, Rendy... Mungkin, kamu menganggapnya seperti adikmu karena kamu gak mau nama Anna tergantikan.” ujar Anita.

“Anna pun menyadari itu... Aku yakin...” lanjutnya.

Tiba-tiba saja pintu kamar Rendy terbuka. Ada sesosok perempuan dengan rambut panjang tergerai dengan memakai kaos berwarna putih dan hotpants yang hanya sampai pangkal pahanya.
“Kak Anita! Pasti mau godain Kak Rendy lagi!” ujar Tasya dengan nada meninggi.

“Apaan sih, Dek! Aku tuh lagi ngobrol sama Rendy!” Anita mengelak.

“Bohong! Itu ngapain cuma pakai tanktop sama hotpants doang! Mau pamer belahan, hah!” Tasya melawan.

“Duh, Tasya! Udah deh... Kak Anita udah biasa di rumah berpakaian kayak gitu... Gak usah berlebihan gitu...” ujar Rendy membela.

“Hahahahahaha... Susah deh kalau punya adek rasa pacar... Posesif banget..” ujar Anita sambil berjalan menuju pintu kamar Rendy.

Setelah Anita keluar, Tasya langsung menghampiri Rendy dan duduk di sampingnya. Tiba-tiba saja dia memeluk kakak tercintanya.
“Kak, aku mau Kakak sama Kak Anna, bukan yang lain.” ujar Tasya.

“Iya, aku tau kok... Aku juga maunya sama Anna...”

“Aku mau Kak Anna juga jadi kakakku... Tapi...”

“Tapi apa, Dek?”

“Tapi, gimana Papa dan Mama? Apa mereka bisa menerima Kak Anna dengan keadaan yang gak bisa kasih mereka cucu?” tanya Tasya.

Insya Allah, Mama dan Papa bisa terima.” ujar ibunda Rendy dan Tasya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu yang terbuka.

“Mama gak mau kehilangan Anna lagi. Dia sudah Mama anggap seperti anak Mama sendiri bagaimana pun keadaannya. Apa lagi darah yang mengalir di tubuh Rendy kini mengalir pula di tubuhnya. Apa yang kamu lakukan sudah cukup membuktikan betapa kamu mencintainya, Rendy.” lanjut Ratna, selaku ibunda dari Rendy dan Tasya.

“Jadi, gimana Kak?” tanya Tasya.

“Aku mau lanjut... Aku mau menikahinya dan hidup dengannya.” ujar Rendy.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
profile picture
romandhoni
aktivis kaskus
Makin menarik, keep update
profile picture
omie073
kaskuser
Akhirnya update juga,
Makasih gan, ditunggu lanjutannya

Chapter 48

“Dia juga darah dagingku!” ujar Mama Rendy.

“Aku yang merawatnya!” ujar Rama.

“Dia lahir dari rahimku, Rama!”

“Aku yang mendidik dan membesarkannya!”

“Aduh! Stop! Ini ada apa sih! Pa, ini maksudnya apa!” ujar Gavin kebingungan. “Kamu... Mamaku sudah meninggal dari aku lahir... Gak mungkin kamu lahirin aku...” lanjutnya.

“Rama! Keterlaluan kamu! Kamu biarkan anakmu untuk tidak mengetahui kenyataan yang sesungguhnya!” ujar Ratna.

“Karena kamu lebih memilih menelantarkan Gavin daripada merawatnya!” ujar Rama.

“Jadi... Benar dia itu mamaku, Pa?” tanya Gavin.

Ramaditya menghela napas panjang. “Ya... Benar...”

Gavin terlihat marah. Wajahnya berubah menjadi merah padam. Dia langsung menghampiri papanya dengan tatapan berapi-api. Napasnya tidak beraturan. Detak jantungnya menguat seraya ia menarik napas.
“Kenapa Papa bilang kalau Mama udah gak ada! Apa salahku untuk ketemu ibuku sendiri!” ujar Gavin.

“...”

“Sampai aku harus menghancurkan hidup saudaraku sendiri! Papa sakit jiwa!” Gavin melangkah meninggalkan area tersebut.

“Gavin! Tunggu!” Rama mencoba menahan.

“Vin! Tunggu, Vin!” Anita berteriak mengejar Gavin.

Gavin menepis tangan Rama dan bergegas pergi meninggalkan area restoran. Disusul oleh Anita yang juga hadir dalam acara tersebut. Tetapi, Gavin tetap menghiraukan suara Anita, wanita yang sampai saat ini masih ada dalam hatinya. Hingga akhirnya, Gavin berhenti di satu koridor menuju area parkir mobil.
“Vin! Tunggu!” Anita memegang tangan Gavin.

“Anita...”

“Capek ngejar kamu, Vin...” ujar Anita dengan napas terengah-engah.

“Maaf, aku gak tau kalau itu kamu...” ujar Gavin.

“Kenapa kamu bisa ada di sana?” lanjutnya.

“Aku kan keponakan Pak Win... Rendy itu sepupuku...” jawab Anita.

“Astaga...”

“Vin...” Anita memegang tangan Gavin. “Tahan emosimu ya... Aku tau kamu shock setelah tau semuanya...” ujarnya.

“Aku gak habis pikir aja Papa begitu dendamnya dengan Pak Win...”

“Duduk dulu, Vin...”

Anita mengajak Gavin untuk duduk di sebuah kursi kayu yang terletak di area parkir mobil yang berguna untuk menunggu mobil yang ingin ditumpanginya. Suasana terlihat sepi. Hanya ada Anita dan Gavin berada di sana.
“Anita...”

“Ya...”

“Kamu masih gak mau maafin aku karena kejadian masa lalu?”

“Vin, aku udah maafin kamu... Aku cuma trauma...”

“Sampai saat ini?”

“...” Anita menganggukkan kepala. “Tapi, setelah lihat sikapmu tadi, entah kenapa aku mau mengejarmu...”

Tiba-tiba saja telepon genggam milik Gavin berbunyi. Ada nama Bella nampak pada layar telepon genggamnya. Anita yang melihatnya terkejut dan bertanya pada Gavin.
“Kamu masih hubungan sama perempuan itu?” tanya Anita.

“Sebentar... Aku angkat dulu...”

****

“Halo, Vin!”

“Ada apa sih, Bel?”

“Gue ada kejutan buat lo...” ujar Bella.

Gavin menghela napas panjang. “Duh, apaan lagi sih Bel...”

“Lo kenapa? Lagi ada masalah ya?”

“Udah deh gak usah kepo... Ada apaan?”

“Lo ke kontrakan gue sekarang ya...”

“Lo lagi di sana?”

“Kalau gue gak di sini, ngapain gue nyuruh lo ke sini, Vin...” ujar Bella.

“Nah, kebetulan... Gue ke sana sekarang ya...”

“Oke! Ditunggu...”

****

“Ikut aku,Nit...” Gavin menggenggam tangan Anita.

“Ke mana?”

“Ketemu Bella... Kamu harus tau semuanya...”

“Tau apa?”

“Tentang aku dan kamu di masa lalu... Sudah ayo cepat!” Gavin menarik tangan Anita.

Gavin dan Anita pergi beranjak dari area gedung menuju tempat di mana Bella berada. Mengendarai mobil besutan Jerman milik Gavin yang kaca belakangnya kini sudah diganti dengan yang baru. Menghadapi ganasnya lalu lintas ibukota dan lampu lalu lintas dengan durasi waktu yang tak masuk akal. Satu jam perjalanan, mereka sampai di sebuah rumah yang di depannya sudah terparkir mobil berjenis van dan mobil milik Bella.

Gavin keluar dari mobil dan memasuki rumah tersebut disusul oleh Anita. Gavin masuk ke sebuah ruangan dan menemukan Vanessa dalam keadaan terikat di atas kursi sambil menangis. Lalu, ada Bella dan juga empat orang suruhannya yang berdiri menunggu Gavin.
“Hai, Vin! Lihat siapa yang tak berdaya itu...” ujar Bella.

“Vanessa...”

“Susah loh gue nangkep dia...”

“Udah... Lepasin aja, Bel...” ujar Gavin.

“Kok dilepasin sih! Gue udah capek-capek nangkepin buat lo!”

“Gue udah gak minat...”

“Ya udah, tetep lo harus bayar gue dengan nominal yang lo janjikan!” ujar Bella.

“Gue bilang, gue udah gak minat!”

“Vin... Tahan dulu emosi kamu...” Anita mencoba menenangkan Gavin.

“Anita!” Bella terkejut.

“Iya, ada masalah sama gue, Bel?” ujar Anita.

“Kok... Kalian bisa sama-sama lagi?” Bella kebingungan.

“Udah minggir!” Gavin mendorong Bella.

Gavin membuka tali yang mengikat tubuh Vanessa di atas kursi. Lalu dilanjutkan membuka ikatan yang mengikat tangan dan kakinya. Gavin juga membantu Vanessa membuka perekat yang melapisi bagian mulutnya.
“Sini... Jangan dekat-dekat dia...” Anita langsung menarik Vanessa dan memeluknya.

“Sebaiknya lo cerita semua sama Anita apa yang sebenarnya terjadi waktu itu...” ujar Gavin.

“...”

“Anita berhak tau, Bella...”

“Memang ada apa, Vin?” tanya Gavin.

“Dia dibayar Papa untuk menyuruhku menyetubuhimu secara paksa, Nit... Memang waktu itu aku butuh uang... Tapi, Papa memberikan melalui Bella dan menyuruh Bella untuk memerintahku supaya aku belajar arti usaha... Tapi, Bella justru menyuruhku untuk menyetubuhimu...” ujar Gavin.

“Papamu yang memerintahkan aku untuk kamu mengambil keperawanan Anita secara paksa, Vin!” Bella terdiam.

“Dan aku baru paham... Ternyata kamu adalah keponakan dari Pak Win... Orang tua sakit jiwa... Sama seperti Bella...”

“...” Bella terdiam.

“Kenapa lo diam, Bel?” tanya Anita.

“Iya! Iya! Gavin benar! Kebetulan gue juga benci sama lo, Nit! Setiap koridor kampus yang gue lewatin, semua orang ngomongin Anita, Anita, Anita! Anita cantik, Anita begini, begitu! Jijik gue! Kenapa harus ada cewek populer karena fisiknya! Di saat itu, gue berniat buat menghancurkan reputasi lo!” ujar Bella.

“Sudahlah, Bel... Urusan kita selesai... Masalah bayaran, biar jadi urusan gue sama lo... Gue mau pergi dulu...” ujar Gavin. “Ayo, Nit... Bawa Vanessa...”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 11 lainnya memberi reputasi
profile picture
abang.cepak
kaskuser
nahhh kan.. tebakan ane juga apaa..... pasti Gavin itu ada hubungan sama Rendy

Chapter 54

Telepon genggam milik Rendy pun bergetar.
“Kak...”

“Iya, Dek...”

“Kak Anna gimana? Aku lihat kakak sama Kak Anna tadi di lobby.”

“Aku belum tau. Masih diperiksa dokter.”

“Semoga Kak Anna gak kenapa-napa ya...”

“Iya... Aku juga berharap begitu.”

“Aku baru sempat telepon, aku banyak urus tamu yang datang tadi.”

“Iya, gak apa-apa kok.”

“Kabarin aku kalau ada apa-apa ya, Kak. Aku mau lanjut kerja dulu.”

“Iya, nanti aku kabarin ya.”

Dia adalah Vanessa Agustine. Yang biasa dipanggil Nessa atau Vanessa. Sudah dianggap sebagai adik dari Rendy karena tingkahnya yang lucu dan pemalu. Seseorang yang juga kerap beberapa kali dilindungi dan dijaga oleh Rendy selain Anna.
****

“Hei...” sapa Rendy.

“...” Anna hanya tersenyum ke arah Rendy.

“Mama sama ibu kamu ke mana?” tanya Rendy.

“Lagi dipanggil dokter.” jawab Anna lemah.

“Kamu gak apa-apa kan, sayang?” tanya Rendy seraya menggenggam tangan Anna.

“Aku cuma pusing aja, kok.” jawab Anna. “Aku kayak kenal ruangan ini ya...” lanjutnya.

“Kamu pernah ke sini sebelumnya?” tanya Rendy.

“Waktu kamu pingsan dan pendarahan, kamu dibawa ke sini, Ren...” ujar Anna.

“Iya, memang rumah sakit ini yang pernah merawatku juga.”

Tak lama kemudian, ibunda Rendy dan Anna datang dari balik tirai yang menutupi ranjang di ruangan IGD.

“Gimana kata dokter, Ma?” tanya Rendy.

“Anna harus dirawat inap sampai selesai diperiksa. Kata dokternya, tadi ada pendarahan pada masa menstruasi. Itu yang bikin Anna pucat sekali kelihatannya. Tadi udah diganti pembalutnya sama dokternya.” jawab Ratna.

“Dokternya bukan cowok kan?” tanya Anna.

“Ya bukanlah, nak... Dokternya cewek kok.” jawab ibunda Anna.

“Oh iya, tadi kamu sempet diambil darah. Lagi proses pengecekan di lab.” lanjut Ratna selaku ibunda Rendy.

****

Sang pusat tata surya perlahan menggeser tubuhnya ke arah barat. Membuat hari menjelang sore kian berat. Rendy masih menjaga Anna yang terbaring lemah dengan infus yang menancap di tangan kirinya. Di dalam ruangan kelas VIP, ibunda Anna dan Rendy sedang berbincang di atas sofa. Rendy masih terus menggenggam erat tangan Anna. Menunggu hasil pemeriksaan dokter yang nanti akan dikabarkan.
“Rendy...” panggil Anna.

“Iya.”

“Kerjaan kamu udah selesai belum?” tanya Anna.

“Belum sih... Tadi aku dipanggil HRD.” jawab Rendy.

“Dipanggil kenapa?”

“Iya, kan di peraturan perusahaan. Sesama pegawai gak boleh nikah. Kalau mau menikah, salah satu harus resign.” ujar Rendy.

“Terus kamu mau kerja di mana, sayang?” tanya Anna.

“Entah. Aku belum mau mikirin itu. Yang penting sekarang kamu sehat dulu.” ujar Rendy.

“Udah mau sore. Kamu balik kantor gih. Nanti kalau udah selesai, cepat ke sini ya...”

“Iya, kabarin aku kalau ada apa-apa ya. Aku pergi dulu...”

Rendy beranjak dari kursi yang terletak di samping ranjang di mana Anna terbaring. Dia tak lupa pula untuk berpamitan dengan Mama dan Ibu dari Anna. Berjalan pelan dengan penuh cemas melewati koridor rumah sakit menuju gerbang keluar. Memikirkan kondisi perempuan yang sangat dia cintai sedang tak berdaya.

Pukul 16.00 WIB, Rendy sampai di kantornya. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena ikut serta mengurus Anna yang sedang sakit. Kali ini, Rendy bekerja lebih lambat dari biasanya karena tidak bisa berkonsentrasi penuh pada laporan-laporan yang masuk setiap minggunya.
“Mas, diminum dulu...” ujar Vera yang membawakan secangkir teh hangat.

“Eh, makasih Vera.”

“Mas, lemas banget kelihatannya.” ujar Vera seraya duduk di depan Rendy.

“Aku gak apa-apa kok.” ujar Rendy.

“Udah makan siang belum? Pasti belum deh.”

“Iya, aku gak sempet. Aku ngurus Anna tadi.”

“Di pantry ada makanan yang aku pesan online tadi. Udah aku namain di kotaknya. Nanti dimakan ya, Mas...”

“Iya, makasih banyak. Aku jadi ngerepotin kamu ya.”

“Gak sama sekali kok... Aku lanjut kerja lagi ya.” Vera beranjak dan kembali ke mejanya.

****

Waktu.

Seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Rangkaian yang sedang berlangsung, akan datang, ataupun yang sudah berlalu. Suatu dimensi di mana terjadi peristiwa-peristiwa di masa depan, yang sedang terjadi, ataupun yang sudah mendahulu.

Sesuatu yang tak bisa dibandingkan oleh apapun. Sesuatu yang amat berharga. Tak dapat ditukar oleh sesuatu bahkan hingga berlian yang bersinar melewati embun. Tak dapat pula ditukar oleh emas yang membentang menyelimuti telaga.

Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, di mana matahari sudah lenyap dari langit. Digantikan dengan sang candra purnama yang sinarnya tertutup oleh awan sampai ke celah sempit. Tak dapat ia menampakkan wujudnya walau hanya sedikit.

Telepon genggam milik Rendy kini berdering.
“Rendy...”

“Iya, Na... Gimana keadaan kamu?”

“Kamu sudah selesai?” tanya Anna dengan suara terbata-bata.

“Sebentar lagi. Kamu kenapa? Kamu habis nangis?” tanya Rendy.

“Rendy, bisakah kamu cepat ke sini? Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu.” Anna meminta.

“Iya, aku langsung ke sana. Tunggu aku di sana ya...”

Rendy menutup telepon lalu mematikan notebook miliknya. Bersiap untuk menemui Anna di rumah sakit yang sedang terbaring.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 9 lainnya memberi reputasi
profile picture
wardhanalukito
newbie
sumpaah gw ikutin ini cerita dari season 1 sampe skrang, keren ceritanya, tapi kok menjelang akhir kayak ada aroma sad sad nya gituuu?emoticon-Frown(...ditunggu updatenya, pensaran bget sama si anna kenapa, pleeeaase jangan sad endingemoticon-Frown((

Chapter 51

“Halo, Tante...”

“Nit... Kamu di mana?”

“Aku lagi nemenin Gavin, Tante...”

“Tante bicara sama Gavin, boleh?”

“Sebentar...” Anita memberikan telepon genggamnya kepada Gavin. “Tante Ratna mau ngomong sama kamu, Vin...”

“Halo...”

“Vin, Mama mau bicara sama kamu malam ini bisa?”

“Iya, bisa... Mama mau ketemu di mana?” tanya Gavin.

“Mama share location ke Anita ya... Nanti kamu ke sini...”

“Iya, Ma...” Gavin memberikan kembali telepon genggamnya pada Anita.

Malam itu, langit terlihat berawan. Menghalangi cahaya bintang yang bertaburan. Bahkan, sang candra tak dapat menampakan diri. Pemandangan angkasa malam ini tak dapat mencairkan suasana hati. Sedih, bimbang, merasa bersalah semua tertanam dalam jiwa.
“Mama mau ketemu aku, Nit...” ujar Gavin yang sedang duduk di sebuah bangku taman.

“Mau ketemu di mana?” tanya Anita yang juga duduk di samping Gavin.

“Nanti dia share loc ke kamu...”

“Memang kamu gak capek, Vin? Kita habis antar Vanessa pulang kan... Ini udah malam banget...”

“Mama yang minta... Aku gak bisa nolak, Nit... Apa lagi aku baru tau kalau dia itu ibu kandungku...” ujar Gavin sambil menatap langit.

“Ya udah... Aku temenin kamu ya...” Anita menggenggam tangan Gavin.

“Iya, makasih Anita... Tapi, apa kamu gak merasa jijik dekat denganku lagi setelah kejadian lalu?” tanya Gavin.

“Vin... Semua sudah jelas kok... Papa kamu di balik semua ini kan?” ujar Anita.

“Iya sih...”

“Lagian kan masih ada Om Win... Dia juga kan Papa kamu karena Tante Ratna menikah dengannya...” ujar Anita. “Om Win juga baik kok... Mana mungkin dia gak anggep kamu anaknya... Padahal kamu juga kan dilahirkan sama Tante Ratna...” lanjutnya.

“Memangnya boleh aku panggil dia Papa?” tanya Gavin.

“Boleh... Percaya deh sama aku...” Anita menggenggam kedua tangan Gavin. “Eh, Tante udah share location nih... Yuk, berangkat!”

Gavin dan Anita berdiri dan berjalan ke arah tempat di mana Gavin memarkirkan kendaraannya. Mereka segera bergegas ke tempat di mana Ratna sedang menunggu kedatangan mereka. Hanya ditemani oleh gemerlapnya lampu lalu lintas dan penerang jalan. Serta, lampu belakang dari mobil-mobil yang memadati lalu lintas ibu kota.
“Kamu kok diem aja, Vin?” tanya Anita.

“...”

“Vin, apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Anita kembali.

“Gimana ya, Nit? Aku merasa berdosa banget...” jawab Gavin. “Aku masih ragu. Gak mungkin Mama dan Pak Win mau menerima kenyataan dan kehadiranku. Apa lagi, aku sudah berusaha menghancurkan kehidupan mereka.” lanjutnya.

“Kamu tenang aja, Vin... Mereka juga udah tau siapa dalang dari semuanya. Lagi pula, Tante Ratna pasti nerima kamu... Kan kamu diminta ketemu dia... Om Win juga baik... Tapi, kamu harus panggil dia Papa kalau ketemu...” ujar Anita.

“Emang boleh?”

“Boleh... Percaya sama aku... Kamu tenang aja...”

****

Empat puluh menit berlalu, sampailah mereka di sebuah tempat di daerah Pasar Minggu. Tempat ini hanyalah sebuah kafe berukuran kecil dengan suasana yang syahdu. Dihiasi oleh suara dari coffee grinder yang menderu. Dan juga lukisan dan pernak-pernik dari zaman dulu.

Terlihat Ratna sudah menunggu. Dia duduk di atas kursi sambil memainkan sendok teh dalam segelas kopi yang dia pesan. Pandangan dan lamunannya seketika tercuri perhatiannya setelah mendengar suara mesin mobil sedan mewah besutan Stuttgart milik Gavin terparkir di area parkir mobil.
“Duduk, Vin...” Ratna menyuruh Gavin duduk di depannya.

“Tiga puluh tahun Mama gak lihat kamu... Ternyata kamu sudah besar dan dewasa...” lanjutnya.

“Tiga puluh tahun pula, aku baru tau siapa ibu kandungku...” ujar Gavin.

“Maafin Mama, nak... Bukan maksud Mama untuk menelantarkan kamu...”

“Ma, udahlah... Lagian aku paham kok bagaimana aku lahir dan bisa ada di dalam kandungan Mama... Semua salah Papa... Mama gak salah...” ujar Gavin.

“...”

“Ma, aku yang harusnya minta maaf... Aku banyak dosa... Sama Mama, Papa Win, Tasya, dan juga Rendy...” ujar Gavin. “Seandainya dari awal aku tau semua, aku gak akan mau dan gak akan terpengaruh sama Papa...” lanjutnya.

“Vin... Semua sudah terjadi... Saatnya kita perbaiki semua... Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama Mama... Sama yang lain juga...” ujar Ratna.

“Iya, Vin... Tante Ratna dan yang lain juga masih keluarga kamu kok...” ujar Anita.

“Oh iya, Ma... Aku baru ingat...”

“Ingat apa, Vin?”

“Sebenarnya, aku udah booking gedung dan catering untuk pernikahanku dan Anna awalnya. Seluruh biaya gedung dan semuanya sudah aku bayar lunas...” Gavin berkata. “Souvenir dan undangan juga sudah aku bayar semua...” lanjutnya.

“Jadi...” Ratna memotong.

“Ma, aku mau kasih semua untuk Rendy dan Anna... Mereka bisa menikah dan menggelar resepsi di sana. Untuk undangan, nanti aku yang urus karena harus merubah namaku menjadi nama Rendy. Rendy gak perlu keluar biaya lagi, Ma... Semua sudah aku lunasi...” ujar Gavin.

“...” Ratna terdiam.

“Ma, cuma ini yang bisa aku kasih untuk menebus kesalahanku pada Rendy dan Anna...” Gavin menggenggam tangan ibunya.

“Nanti, kita atur waktu ya... Kita semua ke tempat itu bersama keluarga dari Anna juga... Kamu ikut ya, Vin?” Ratna meminta.

“Iya, Ma... Aku ikut... Aku mau tunjukkin tempatnya juga...” pungkasnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chrishana
profile picture
abang.cepak
kaskuser
nge fans banget gue sama TS..

Chapter 47

*BUG!*

Sebuah pukulan keras menghantam wajah Winarto. Tiba-tiba saja Rama datang lalu memukuli Winarto yang sedang bersantai di padang rumput yang biasa mereka jadikan tempat merebahkan tubuh mereka sejenak. Winarto tak sempat melawan karena kebingungan mengapa kawan sejatinya tiba-tiba saja menghajar dirinya.
“Sahabat macam apa kamu, Win!” sahut Rama.

“Tunggu, Rama! Ini ada apa!” ujar Winarto sambil menahan tangan Rama.

“Persetan denganmu! Ternyata selama ini kau menyembunyikan hubunganmu dengan Ratna!” ujar Rama.

“Tahan emosimu, Rama...”

“Ah! Brengsek kamu, Win!” Rama meronta dan kembali memukuli Winarto.

Winarto tak bisa melawan. Rama menyerangnya dengan membabi buta. Hanya sempat beberapa kali menangkis pukulannya. Setelah puas memukuli temannya, Rama pergi meninggalkan Winarto sendiri.
“Kau ingat baik-baik, Win! Aku akan menjadi lebih baik darimu dan merebut Ratna dengan caraku!” ujar Rama lalu pergi.

****

Hubungan mereka berdua kini hancur. Tak bisa disatukan kembali. Rama lebih memilih menjalani hidupnya sendiri. Menganggap bahwa Winarto adalah saingat beratnya. Menjalani sisa-sisa tahunnya di masa perkuliahan hingga akhirnya mereka berdua lulus dan bekerja di suatu perusahaan.

Dua tahun berselang, Winarto dan Rama tak saling komunikasi. Tali hubungan mereka sudah benar-benar putus. Tapi, hubungan antara Winarto dan Ratna masih terjalin harmonis hingga saat itu. Bahkan, Rama juga kerap masih berhubungan dengan Ratna walaupun hanya dianggap sebagai teman biasa. Hingga suatu hari, Rama mengundang Ratna ke acara ulang tahunnya melalu pesawat telepon.
“Halo...”

“Halo, Ratna ya?”

“Iya betul...”

“Aku Rama...”

“Hahahahaha... Aku sudah kira, suaranya kayak ku kenal...”

“Hahahaha... Aku mau undang kamu besok ke acara ulang tahunku, kamu datang ya...”

“Besok ya? Hhmm...”

“Aku jemput besok sore di rumahmu...”

“Iya... Baiklah... Dijemput kan?”

“Iya, Ratna...”

“Oke, aku tunggu besok ya...”

“Sampai jumpa besok...”

****

Waktu sangatlah cepat berlalu. Hari telah berganti melampaui yang sudah berlalu. Ratna dan Winarto sedang berdua melepas rindu di teras rumah Ratna yang sejuk dan asri. Ditemani oleh embun pagi yang menyegarkan jiwa, raga dan hati. Winarto melihat ada gerak-gerik yang tak biasa dari Ratna.
“Kamu kenapa, Ratna?” tanya Winarto

“Aku gak kenapa-napa, Mas...”

“Ada yang kamu sembunyikan?”

“Gak ada, Mas...” jawab Ratna.

“Jujurlah... Aku tau kamu ada yang dipikirkan...”

“Mas...” Ratna menghela napas panjang. “Janji sama aku, jangan marah...”

“Iya.”

“Rama mengundangku sore ini ke pesta ulang tahunnya.” ujar Ratna.

“Bukannya sudah aku bilang jangan berhubungan lagi sama dia?”

“Mas... Dia cuma aku anggap seperti teman biasa... Kamu percaya dong sama aku...”

“...”

“Nanti sore aku dijemput di rumah... Bolehkah aku pergi?”

“...”

“Percaya sama aku, Mas...” Ratna menggenggam tangan Winarto.

“Iya, aku percaya sama kamu. Salam buat Rama ya... Kalau begitu, aku permisi...” Winarto beranjak dari duduknya lalu pergi.

****

Sang pusat tata surya mulai tergelincir. Langit berubah menjadi jingga. Terbesit keraguan Ratna untuk melangkahkan kaki dari rumahnya. Terasa seperti merasakan isyarat kapal akan karam. Namun, Ratna tak punya pilihan lain. Di depan rumahnya sudah ada Rama yang menunggu. Mau tak mau, kakinya harus melangkah keluar dari singgah sanahnya.
“Kamu kenapa murung gitu?” tanya Rama.

“Ram, kita teman biasa kan?” tanya Ratna.

“Ya iyalah, Ratna... Memang kamu pikir aku menganggapmu apa?” ujar Rama.

“Aku takut kamu masih mengejarku...”

“Kalau perasaanku sih tetap... Tapi, aku paham posisimu yang sudah menjadi milik Winarto...” ujar Rama. “Yuk! Berangkat!” lanjutnya.

Ratna dan Rama melangkah perlahan menjauh dari rumah Ratna. Menumpang bus kota untuk sampai di rumah Rama. Satu jam perjalanan, mereka sampai di tujuan. Di sana sudah ramai teman-teman dari Rama. Ada teman dari kampus yang juga teman dari Winarto, ada juga teman saat Rama sekolah dulu. Mereka berpesta hingga malam datang. Rama mengambil satu gelas whisky untuk Ratna.
“Ayo! Kamu minum dulu...” Rama memberikan pada Ratna.

“Duh!” Ratna menjauhkan gelas yang berisi whisky.

“Apa ini, Ram?” tanya Ratna.

“Enak pokoknya... Diminum dong... Ayo teman-teman kita tantang Ratna untuk minum!” teriak Rama.

“Minum! Minum! Minum!” pengunjung bersorak.

“Oh, kamu nantangin aku?”

Ratna memang suka tantangan. Kali ini, dia merasa tertantang untuk meminum minuman keras tersebut. Hanya dalam hitungan detik, Ratna bisa menghabiskannya. Penonton bersorak keras dan meminta Ratna untuk meminumnya lagi dan lagi. Sampai akhirnya, Ratna hilang kesadaran.
“Rama... Gempa...” ujar Ratna setengah sadar.

“Hahahaha! Kebanyakan minum kamu...” ujar Rama.

“Pusing...”

“Ayo sini, istirahat dulu...” Rama membawa Ratna ke dalam ruangan.

Rama membawa Ratna ke dalam kamarnya. Ratna dibaringkan di atas ranjang milik Rama, lalu mengunci pintu. Ratna tak bisa berbuat apa-apa karena merasa dunia dan seisinya sedang berputar-putar.
“Ini di mana?” tanya Ratna.

“Kamarku...” jawab Rama.

“Rama... Jangan macam-macam loh... Kamu mau ngapain?” tanya Ratna kembali.

“Senang-senang...”

“Rama...”

Rama tidak mau hilang kesempatan. Sudah ada Ratna yang separuh kesadarannya menghilang. Seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Ratna, kini terlepas semua. Ratna terbaring lemah tanpa sehelai benang pun ada pada tubuhnya. Dengan leluasa, Rama menyetubuhi Ratna hingga tiga babak. Ratna tak sadarkan diri hingga mentari pagi bersinar.

Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui celah-celah jendela yang ada pada kamar Rama. Membangunkan Ratna yang terlelap sepanjang malam. Ratna membuka matanya perlahan. Dia pun terkejut, menemukan pakaiannya tergantung rapih di belakang pintu kamar. Ratna tak sadar bahwa Rama telah menyetubuhinya tadi malam karena pengaruh minuman keras.
“Rama!” Ratna berteriak dan membangunkan Rama yang ada di sampingnya.

Rama tersenyum melihat Ratna bangun dari tidurnya. “Pagi, Ratna!”

“Kenapa aku bisa seperti ini! Apa yang kamu lakukan!”

“Satu hal... Ingin memilikimu...” ujar Rama.

“Dasar brengsek!” Ratna bangun lalu memakai pakaiannya.

Ratna bergegas berjalan ke jalan raya. Menumpang bus yang belum penuh dengan penumpang lain. Sesampainya di rumah, dia masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Tak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia alami.
****

Tiga bulan berselang, Winarto pergi menemui Ratna di suatu taman kota. Dia melihat perubahan yang terjadi pada tubuh Ratna. Winarto juga merasa ada yang Ratna sembunyikan selama tiga bulan ini. Tanpa basa-basi, Winarto langsung mengintrogasi Ratna.
“Ada masalah dengan perutmu?” tanya Winarto.

“...” Ratna mengangguk.

“Mas... Kamu jangan marah...” lanjut Ratna.

“Ada apa?” tanya Winarto kembali.

“Aku... Hamil...”

“Kenapa bisa?”

“Rama menyetubuhiku ketika aku tak sadarkan diri, Mas... Aku berani sumpah... Aku gak berniat melakukan ini...”

Winarto menghela napas panjang. “Sudah ku bilang jangan berhubungan dengannya lagi, Ratna!”

“Mas...”

“Apa boleh buat... Kalau sudah begini...”

“Jangan tinggalkan aku, Mas Win...” Ratna menggenggam tangan Winarto.

“Menikahlah dengan Rama... Dia adalah ayah dari bayimu...”

“Ini adalah anak yang tak ku harapkan, Mas... Aku akan menikah dengan Rama, tapi setelah anak ini lahir, aku ingin cerai darinya...” ujar Ratna.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
dany.agus dan 9 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di