alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
4.81 stars - based on 21 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b2275dbd675d46c168b456a/namaku-khadijah

Namaku Khadijah...

Namaku Khadijah...

Namaku Khadijah...

Hingar bingar risau malam mendera kota Jogja, menyelimuti kerumunan pejalan kaki yang berteduh dari rintik air langit yang makin terasa intensitasnya. Sesosok pria masih menunggu bus transjogja di bilangan Urip Sumoharjo, rambutnya mulai basah oleh hempasan air tampias karena halte itu tak cukup besar untuk menampung penumpang yang sekalian berteduh dari basah.

Sekilas tatapan matanya melihat wajah yang nampaknya tak asing berlalu dengan langkah agak cepat menyusur trotoar tanpa payung, Tije kah? Entahlah, mungkin ia salah karena yang nampak adalah seorang berhijab biru panjang dengan wajah membelakanginya.
"I bet if I'm wrong, pasti bukan dia" ujarnya melegakan diri bersamaan dengan datangnya bus yang sedang dinanti.

***

Waktu terbang begitu cepat saat melewatkannya dengan hati yang lapang. Lelaki itu terdiam sesaat di meja kasir yang lengang, menatap beberapa pelanggan yang asik menyantap soto Lamongan hasil kreasi Dapur Lamongan Cak Ardi yang baru berjalan beberapa bulan. Sebuah kepuasan apabila mereka meninggalkan mangkok-mangkok kosong dan berjalan dengan senyuman ke meja kasir tanpa beban.

"Sudah mas, berapa semuanya?" Seorang pelanggan sudah berdiri di depan meja kayu berukuran setengah meter, berpelitur coklat tua yang hanya cukup untuk kalkutor, kaleng pensil dan tulisan terlaminasi "silahkan makan sepuasnya setelah sholat jumat" tertempel di ujung meja menghadap pelanggan serta kotak infak kecil, amanah panti asuhan yang rutin dia kirimkan setiap minggunya.

"Bapak tidak perlu membayar" balasnya tersenyum.
"Afwan, tapi kenapa mas?" Tanya lelaki setengah baya berwajah cerah yang mengenakan gamis putih polos dengan sorban mengikat kepalanya dalam wajah bingung.
"Karena tiap jumat kami punya program ini pak" ia menjawab seraya menunjuk tulisan di meja tanpa bermaksud menyinggungnya.
"Barakallah, terima kasih...Jazakumullah" dalam senyuman teduh dia menyelipkan uang kedalam kotak infak dan menepuk pundak pria berwajah tirus, berambut ikal yang panjangnya melebihi daun telinganya itu dengan penuh makna. Alhamdulillah...

***

Fajar masih belum menampakkan wajahnya di sisi selatan kota Jogja saat gemericik air wudhu membasahi wajah bersih seorang perempuan berparas elok khas Timur Tengah yang berhidung mancung dan beralis tebal. Langkahnya membelah angin perubahan musim yang berhembus tanpa irama. Ia duduk bersimpuh dalam biliknya yang mungil, sembari menanti gema adzan subuh berkumandang. Tangisnya pecah dalam dzikir, hidungnya memerah. "Alhamdulillah, Engkau pertemukan lagi aku dan abangku dengan Ramadhan, Yaa Allah" lirih ucapan keluar dari bibirnya yang tipis. Tak lama adzan memanggil dan dia pun bangkit untuk sholat Fajr sebelum menunaikan sholat subuhnya dalam hening.

Selepas sholat dia bergegas menata tumpukan buku Fikih, Bahasa Arab dan Sejarah Islam yang tergeletak di lantai bertikar pandan. Sebuah Mushaf bersampul biru yang terbuka halamannya di tepi ranjang kayu bercat putih juga dibereskannya. Semalaman dia meringkas materi untuk bahan tugas yang harus dikumpulkan untuk minggu terakhir kuliah sebelum libur panjang. "Bismillah, semoga hari ini Allah mudahkan semuanya". Ringan langkahnya berayun dalam balutan gamis warna pastel dengan khimar serupa.

***

Hari pertama Ramadhan, suasana Pesantren Darussalam nampak lengang, para santri sudah berlibur sampai hari kesepuluh Idul Fitri kelak. "Masa libur mengajar para santri, jadi tinggal fokus tugas kuliah, tahfidz dan bang Khalid" wajahnya membungah begitu ceria seperti suasana pagi berembun yang pecah oleh mentari.

"Nak, nak Khadijah...cepatlah kemari!" Seorang perempuan bergamis dan berkhimar gelap memanggil dari ujung taman bilik dengan rautan wajah yang panik. Segera Khadijah pun menghampirinya "Ada apa Umi Zahra?" Tanyanya kebingungan.
"Abangmu lari lagi dari pesantren nak, Ustad Imran dan yang lain sedang berusaha mencarinya, bersabarlah...Kita berdoa dan menunggu kabar dari mereka" Umi Zahra memeluk Khadijah yang wajahnya telah memerah menahan isak dan tubuhnya melemas tanpa daya.

"Ya Allah, berilah bang Khalid hidayahMu, tunjukkanlah dia jalan yang Engkau ridhoi" pekiknya tertahan isak. Pikirannya tersaut gelombang yang tiba-tiba pasang menghempas karang. Gelombang-gelombang itu menghantarnya pada masa kecil mereka yang rukun, berlarian di lapangan dimana Uma dan Abi mereka menanti di tepi lapangan, menggelar tikar kecil lengkap dengan minuman dan beberapa jajanan kecil, bersenda gurau dan bermain bersama. Lalu gelombang yang lain menghempasnya pada masa Uma dan Abi mereka harus berpulang ke rahmatullah dan tinggallah mereka sepasang kakak beradik itu sendiri dalam duka yang mendalam.

"Maafkan perilaku bang Khalid, Umi" Khadijah mengambil nafas panjang dan duduk pada batu besar di tepian taman berumput hijau terpotong rapi, dengan bunga berwarna kuning dan merah di sisi bebatuan kali besar yang sengaja disusun untuk tempat duduk.

Bulu matanya yang lentik bergerak naik turun saat dia berusaha menyapu air bening yang mulai turun tanpa permisi. Sesaat dia terhenti dalam sesaknya hati yang berkecamuk. Pikirannya kembali pada masa dia baru menyelesaikan sekolah Aliyahnya, saat mendapat kabar bahwa toko baju yang tadinya jadi aset utama mereka pun harus disita bank karena tak mampu membayar hutang yang sebenarnya Khadijah pun tak mengetahui kemana larinya uang ratusan juta yang dipinjam dari bank oleh kakaknya itu.

Suatu ketika, Khalid pernah dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang sakaw. "Tije, tije..." Hanya suara lemah yang mampu keluar dari mulut pemuda bertubuh tinggi, berambut ikal kemerahan, berkulit putih yang kontur wajahnya hampir serupa dengan adiknya. Khadijah hampir kehilangan harapannya saat itu, dia menguatkan diri dengan bertilawah disamping ranjang kakaknya setiap waktu. Mereka tak punya siapapun lagi, hanya mereka berdua saja. Bukan tangisan, namun hanya ayat-ayat indah Al-Quran yang terdengar dari mulutnya saat dia bersama dengan kakaknya. Dia begitu menyayangi kakaknya, seperti apapun kondisinya. Dia bahkan ikhlas berjualan makanan dan kue keliling demi biaya perawatan kakaknya yang entah peduli atau tidak dengannya. Berminggu minggu, berbulan bulan dia melibas waktu dengan kakinya yang melepuh, tapi hatinya yakin bahwa semua akan kembali seperti semula tanpa sedikitpun mengeluh.

Dan saat dia terasa begitu lelah, Allah mempertemukannya dengan Umi Zahra di luar gerbang masjid ketika dia sedang berkeliling dengan kuenya. Umi Zahra terhenyak melihat keadaan gadis kecil yang dulu dikenalnya begitu riang dalam keadaannya sekarang, wajahnya lusuh dalam peluh, ada beberapa jahitan tambal di bajunya yang panjang. Sungguh dia berteriak saat melihat Khadijah dan berlari memeluknya.

"Ya Allah nak, Umi dan Ustad Imran mencari kalian begitu mendengar apa yang terjadi. Kami pergi kerumah kalian, tapi rumah itu sepi dan ada tetangga berkata kalian tidak tinggal disana lagi. Kalian pergi kemana nak?" Air mata tak berhenti mengalir dari sudut matanya yang mulai keriput oleh usia. Khadijah sangat mengenal Umi Zahra dan Ustad Imran suaminya. Mereka adalah kawan karib orangtuanya. Uma nya sering bercerita tentang bagaimana Ustad Imran tak pernah mau dibayar saat bertausiah, dan Umi Zahra pun selalu ikhlas mengajar ngaji. Sampai akhirnya karena bantuan Allah, kawan-kawan yang lain ikut membantu mendirikan pondok pesantren yang berfokus untuk membantu anak anak yatim mendapatkan pendidikan layak.
"Rumah kami sudah disita juga, bang Khalid punya hutang judi..." Khadijah tidak melanjutkan ceritanya, dia bahkan tersenyum dalam peluhnya, tak ingin mengutuk hari-hari sulit yang telah ditapakinya.

"Abi dan Uma mu sudah berjuang begitu besar untuk pesantren ini nak, kau pun harus berjuang untuk semangat abangmu. Hanya Allah lah yang Maha membolak balikkan hati manusia, kita berdoa untuk hidayah dari Allah ya nak" Umi Zahra menatap Khadijah teduh, kemudian Khadijah mengangguk perlahan.

***

Hari ketiga Ramadhan, Dapur Lamongan Cak Ardi tutup karena pemiliknya sengaja ingin berbagi rejeki dengan melayani jamaah Masjid Nurul Huda berbuka puasa, dengan menu andalan Soto Lamongan yang khas dengan kuahnya yang berwarna kuning dan taburan bubuk koya yang gurih.

Sesaat setelah suara adzan maghrib mengiringi matahari keperaduan senja, mangkok-mangkok soto pun segera diedarkan beranting pada para jamaah seusai sholat magrib setelah sebelumnya jamaah membatalkan puasa dengan segelas teh manis hangat dan kurma yang dibagikan sebelum adzan. Tak hentinya Cak Ardi, nama panggilan sang pemilik ini untuk bersyukur. Lelaki berkulit langsat yang juga bertubuh kekar ini sangat ramah pada para pegawainya, mereka seperti teman tanpa hirarki. Jadi mereka betah bekerja bersama di dapur Lamongan ini.

Selepas melayani buka bersama, Ardi dan seluruh kru-nya bersiap untuk sholat isya dan tarawih bersama jamaah yang lain. Derap langkahnya begitu terasa ringan seakan tanpa beban saat menapaki jalan menuju pelataran mesjid. Sholat pun berlangsung dalam kerinduan masing-masing akan Allah.

Seusai sholat, tausiah disampaikan oleh seorang lelaki paruh baya dalam balutan gamis putih yang panjangnya diatas mata kaki, wajahnya teduh. Mereka memanggilnya Ustad Imran. Ardi mengamatinya, seakan pernah mengenalnya. "Seperti bapak yang kapan hari". Mendadak dia teringat pada salah seorang pelanggannya. Kemudian dia tersenyum. Tausiah Ustad Imran begitu merasuk kedalam relung hatinya. Ia merasakan siraman rohani sejuk yang mampu mengubah pemikiran dan kehidupan kelam yang selama ini pernah digelutinya.

Ardi menangis dalam diamnya, merenungkan tausiah Ustad Imran, tentang pengampunan Allah, betapa sayangnya Rasul pada umat yang bahkan belum pernah ditemuinya. Angannya melayang mengacak-acak palung terdalam nuraninya. Hingga sorot matanya yang tajam menangkap sosok perempuan muda berjalan melintas menuju pelataran masjid bersama seorang perempuan paruh baya berbaju biru tua dengan langkahnya yang terburu. Ardi berdesis dalam hati, ia mengenalnya. Bahkan teramat mengenal siapa perempuan itu.

Dia beranjak hendak berlalu ke arah perempuan tadi berjalan. Dia mulai mendekat, tepat saat perempuan itu keluar masjid bersama seorang perempuan paruh baya dan lelaki bergamis putih. "Ustad Imran?" Ardi masih bingung dengan apa yang dilihatnya ketika dia memutuskan untuk mengikuti mereka pada akhirnya.

Mereka berlalu dengan sebuah mobil tua berwarna putih tulang. Ardi segera menyambar motornya dan berpacu mengikuti mereka dalam pikiran beradu.

Mobil melambat dan berhenti pada parkiran sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Ardi menangkap raut kepanikan di wajah wajah mereka. Dia masih mengikuti dari belakang.

***

Khalid berjalan sempoyongan dengan mata memerah. Kedua kakinya terseret-terseret tampak seakan tidak sanggup menyanggah tubuh lelaki tegap itu dengan jambang tak terawat bagai rumput liar tumbuh dipinggiran hutan yang menyamarkan wajah tampannya. Ia dalam kondisi sakaw. Masalah hidup telah membawanya kedalam dunia hitam dengan menjadi pengguna narkoba. Khalid tak lagi mampu berpikir dengan jernih. Dia butuh suntikan sekali lagi, dua kali, atau mungkin berkali-kali demi menuntaskan ketergantungannya pada obat-obatan haram itu. Diketuknya berulang-ulang rumah berpagar besi dengan warna coklat kusam. Tak ada jawaban. Khalid meradang. Ia tidak sanggup berdiri dan jatuh sebelum pintu pagar terbuka. Tanpa disadari, seorang pria berbadan kekar dan bertato di lengannya memandangnya dengan dengus kekesalan.
"Mau apalagi kamu datang kerumahku" Desisnya perlahan. "Aku butuh barang!" Erangnya garang.

***

Ardi menahan sesak didalam dadanya. Entah apa yang ada dalam benaknya saat dia melihat mereka berkumpul di ruang tunggu Ruang Operasi. Tulisan Surgery Room yang berada diatas pintu lebar tertutup itu lampunya sedang menyala, tanda bahwa ada kegiatan operasi di dalamnya.

Perempuan muda yang sangat dikenalnya itu berada tepat di depan pintu tertutup itu. Ardi berjalan mendekat, dia mendengar nada indah Al Quran sedang dilantunkan, tapi dia tak tahu itu bagian dari surah yang mana.

"Tije? Tije..." Ardi memanggilnya. Seketika lantunan indah ayat Al-Quran tadi terhenti saat si perempuan berparas elok berbalik arah pada suara yang memanggilnya. Dia tertegun menatap Ardi, dia pun mengenalinya. "Namaku Khadijah...Biarlah cuma Bang Khalid yang memanggilku seperti itu, Bang..." Dia mengusap titik air bening yang merebak dari mata indahnya. Ardi bertanya tentang Khalid. Khadijah menunjuk arah pintu operasi yang tertutup rapat dan menceritakan bahwa Khalid ditemukan orang dalam posisi perut sobek terkena tikaman senjata dan tim medis sedang berusaha menyelamatkannya saat ini. Ardi benar benar terkejut mendengar cerita Khadijah.

Khadijah mengenali Ardi sebagai salah seorang kawan kakaknya, tapi Khadijah tak pernah tahu mereka pergi kemana setelah janjian kumpul bersama di rumahnya, dia membuat makanan untuk lima atau enam orang seingatnya, kemudian mereka tak pulang berhari-hari setelahnya. Seringkali seperti itu kejadiannya.

Ustad Imran melangkah menghampiri mereka, dia heran melihat Ardi berada disana dan dia mulai bertanya. Dia lemas karena terguncang saat mulai membuka kisahnya diantara mereka. Dulu dia berkawan dekat dengan Khalid, "Tapi saya bukan kawan yang baik". Air matanya pecah saat Ardi mengulas kisahnya sebagai pelaku judi, miras dan pecandu narkoba bersama dengan Khalid di masa lalunya. "Kami mengenal bandar yang sama, kami saling melempar uang dalam judi. Kami tergila-gila dengan nikmatnya fatamorgana narkoba. Sehari, seminggu, sebulan dan entah berapa lama kami terjerat dan berlarian dari kejaran polisi kala itu". Kata-katanya tertahan saat menatap wajah Khadijah yang begitu tegar meski wajahnya memerah. Dia begitu marah, tapi pasrah dan berusaha mengikhlaskan.

"Saya berlari dan menjauh dari semua itu. Tapi saya terlalu egois, meninggalkan Khalid dalam keadaan yang terpuruk... Maaf, maaf...Maafkan aku Khalid, maafkan aku Khadijah..." Tangisnya kembali pecah. Ardi memukul keras tembok yang ada di sampingnya. Khadijah beringsut menjauh dan berlari menghilang dari sudut pandang Ardi. Hanya Ustad Imran yang masih tegak bersamanya.

***

Terik mentari hari ini, tak sekuat hari biasanya. Awan beriring mengikis sengatan sinar yang tajam. Ranting Terminalia Catappa bergerak-gerak oleh hembusan angin yang menggelora, menyisip sela-sela daunnya tanpa permisi. Perempuan berbalut kain warna merah hati itu berada di bawahnya, matanya begitu lekat menatap pohon yang tak lebih dari 12 meter itu. Batangnya yang kokoh, rantingnya yang indah bertingkat-tingkat, nampak seperti payung peneduh untuk siapapun dibawahnya. Ada persamaan diantara perempuan dan pohon yang lekat ditatapnya, mereka berjiwa kuat, tak mudah goyah oleh hempasan waktu, ada kalanya angin kencang mendera namun keinginannya untuk tetap menjadi peneduh tetap tak terhapuskan oleh apapun.

"Ayo kita pulang..." Sebuah tangan yang hangat memegang pundaknya dari belakang. Khadijah sontak menoleh, matanya mulai berkaca-kaca menatap sosok berambut kemerahan itu berdiri dengan wajah lembut. "Bang Khalid sudah kuat kah?" Ucapnya sangat khawatir.
"InsyaaAllah Tije, InsyaaAllah... Aku tak ingin kembali lagi kerumah sakit ini lagi dalam keadaan konyol". Khalid menyungging senyuman yang lembut meski tubuhnya masih lemah. Butuh waktu untuk recovery dari luka tikaman si bandar, tapi bukan itu saja. Penyesalan atas masa lalunya adalah jalan terbaik dalam asa tidak akan terjebak kembali dalam kenikmatan semu tanpa batas.

"Pesantren Darussalam adalah rumah kita, Ustad Imran dan Umi Zahra adalah Abi dan Uma kita sekarang. Aku sudah dibutakan oleh semuanya, Tije. Maafkan aku...Kau sudah melalui masa sulit karena Abangmu tak becus menjagamu." Perlahan suaranya memberat karena sesal yang menghantamnya begitu telak. Khadijah hanya menggeleng. Dia sudah memaafkan semuanya, bahkan untuk Ardi sekalipun. Dia sudah berdamai dengan realitas, karena bukan perkara siapa yang bersalah tapi semua hanya ujian dari Allah sebagaimana orang orang shaleh terdahulu pernah diuji. Ujian ini tak ada sebiji dzarrah pun dibandingkan ujian mereka. Sungguh memang Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Khadijah kembali bersyukur dalam hatinya saat hendak memapah kakaknya untuk berlalu setelah melepaskan pandangannya pada pohon Terminalia Catappa yang masih tegak membelakanginya. Ustad Imran dan Umi Zahra sudah menanti beberapa langkah di depan mereka, sekilas Khadijah seperti melihat wajah Uma dan Abinya sedang tersenyum bahagia dalam bayangan putih keperakan.

***

Khalid bersimpuh dalam biliknya, ingatannya kembali pada masa suramnya. Dia begitu menyesal dan memohon ampunan pada tiap-tiap kesalahannya setelah selesai menunaikan sholat taubatnya.

"Ya Allah, Ya Ghofar...hamba memohon pengampunanmu...Ampunkan hamba Ya Allah". Air matanya mendesak, hatinya membuncah, seakan labirin tanpa jalan keluar itu tiba-tiba diangkat dari hadapannya. Tangisnya pecah dalam penyesalan yang tak berujung. Lelaki yang wajahnya begitu mirip dengan Khadijah ini tak hentinya bersyukur, Allah sudah memberinya kekuatan melalui adiknya Khadijah yang tak pernah sedikitpun mengeluh dan berputus asa atas keadaannya.

Sebuah siluet indah dari doa Khadijah yang dijabahi pada bulan suci Ramadhan. Ia percaya, dalam tiap-tiap permohonannya, Allah akan memberikan jawaban atas semua permasalahan.


La Tahzan, Innallaha ma'ana...

Namaku Khadijah...
Diubah oleh skydavee
Halaman 1 dari 3
Cerita ini hanyalah fiktif. Tulisan ini merupakan karya pribadi penulis sendiri dan pertama kali di posting di forum Kaskus.

Selamat membaca
...

Sumber gambar: google
Mari hormati penulis dengan mencantumkan sumber asalnya saat artikel dibagikan. Be Smart, Respect Yourself...
Diubah oleh skydavee
Namaku Khadijah...
Bagus gan ceritanya emoticon-Salaman emoticon-Matabelo
Quote:


Trims untuk apresiasinya ya?
emoticon-Nyepi
Mampir dan ninggalken jejak dolo..

Sugeng riyadi Om dave..


emoticon-Salaman
Quote:


Sugeng riyadi jg om Punk. Hati² kl mudik ya? Minal aidin wal faidinemoticon-Salaman
Quote:


Iya Om..
Ini udah di kampung..

Nggak pulang ke darjo?
Quote:


Udah dari kmren. Darjo? Hahaha... Itu julukan simple utk kota udang. Darjo... Salam buat keluarga di sana ya?
Khadijah?
Jadi inget dijjah kuning wakaka emoticon-Big Grin
Quote:


Ohya? Saya malah baru tahu. Tp ini versi yg lain ganemoticon-Big Grin
Quote:


ente emang cer-penis kawakan. Sang jagoan emang selaku tampil menjelang dealine or ending acara. emoticon-Big Grin
Diubah oleh Aboeyy
Quote:


Hai bang aboeyy. Makasih dah singgah ya? Minal aidin walfaidin, mhn maaf lahir dan batinemoticon-Salaman
Quote:


yup macama.
Sesuai seperti yang diharapkan dari agan dave.. Kualitasnya gak diragukan lagi.. Btw.. Minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir batin gan emoticon-Salaman
Quote:


Hai gan. Nice to see u again. Agan gak ikutan kah? Eniwei, minal aidin walfaidin jg ya? Mhn maaf lahir dan batin atas salah yg kadang tercipta tanpa disadari. Selamat merayakan hari kemenanganemoticon-Salaman
Asik dibaca sambil unjung sana sini nih ganemoticon-2 Jempol
Quote:


Silakan disimak gan. Trims sdh singgah ya? Minal aidin wal faidin, mhn maaf lahir dan bathin. Happy ied mubarakemoticon-Salaman
Quote:


Alhamdulillah event kali ini juga masih diberi kemampuan dan kesempatan untuk ikut..
Quote:


Sdh saya baca tuntas. Nice story. Dan, saya paling suka penulis yg memiliki ciri khas. Beberapa kisah tulisan agan, sebagian sdh saya baca. Meski kadang tdk meninggalkan jejakemoticon-Malu
Sugeng riyadin gan. Ini story nya kurang mengaduk emosi sepertinya...emoticon-Mewek
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di