alexa-tracking

SAYA RINDU

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1fa88d162ec2290f8b4570/saya-rindu
SAYA RINDU
Dear, A’….

Semua yang tertulis disini, hanya bermuara pada satu hal.


SAYA RINDU.

______________________________________________________________________________________________



PART 1


Makassar, awal Januari 2017

Waktu itu hari Sabtu. Hujan sudah menyapa sedari subuh. Seperti mendukung keinginan manusia pecinta weekend sepertiku, untuk bermalas-malasan di kasur dengan alasan cuaca. Belum genap jam 8 pagi tapi dari jendela terlihat langit masih gelap. Tanda-tanda hujan masih akan turun lebih lama.

AC kamar kumatikan dan aku semakin rapat membenamkan diri ke selimut untuk melanjutkan tidur. Baru beberapa menit memejamkan mata, tiba-tiba HP-ku berdering. Kulirik sekilas HP yang terletak disamping bantal. Ternyata nomer tak ku kenal yang menelpon. Aku paling malas mengangkat telpon dari nomer asing apalagi di hari libur begini.  Ku tekan tombol volume sampai mode silent supaya tidak terdengar lagi deringnya. Paling-paling urusan pekerjaanku yang tak mengenal waktu. Kalau tetap diangkat dan dilayani nanti jadi kebiasaan. Toh kalau memang benar-benar urusan pekerjaan yang urgent, nanti juga akan ada WA atau SMS setelah beberapa kali tak diangkat.

Screen HP-ku kembali gelap. Tapi tak berapa lama menyala lagi tanda ada telpon masuk dan masih dari nomer yang sama. Penasaran, akhirnya aku angkat juga telponnya.


Quote:

**setau TS, bahasa di Makassar atau daerah lainnya di Sulawesi pasti ada tambahan2 partikel sebagai pelengkap atau penegas kata. beberapa contohnya itu yang di garis miring di dialog diatas. Jadi walaupun bicara dalam bahasa Indonesia, partikel2 tersebut tetap ikut. kalau di bahasa sunda seperti partikel 'teh' atau 'mah' #cmiw#oot

Aku bergegas mandi kilat. Membuka lemari, cepat memilih baju yang akan dipakai dan menyiapkan baju ganti sekenanya. Jaket, kaos kaki dan printilan yang biasa kubawa saat camping, berantakan kumasukkan ke dalam ransel. Semuanya keperluan pribadi karena Kak Baim pasti sudah menyiapkan semua.

Ya, begitulah kegiatan weekend-ku beberapa bulan terakhir. Tepatnya sejak aku bergabung di komunitas travelling bentukan Kak Baim. Sebagai orang yang tinggal sebatang kara di perantauan demi tuntutan pekerjaan, aku merasa perlu cari kegiatan atau teman-teman di luar urusan dan lingkungan kantor. Pekerjaanku di bidang accounting&audit di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta yang memiliki banyak cabang di banyak kota membuatku harus siap bekerja ditempatkan dimana saja sesuai instruksi dan jangka waktu yang sudah ditentukan.

Dengan pekerjaan yang seperti tak ada habis-habisnya, jadi harus pintar-pintar cari waktu untuk quality time dan menyenangkan diri sendiri, misalnya melakukan hal sesuai hobby. Karena aku suka travelling atau ngetrip, jadi aku cari komunitas travelling via facebook dan dari beberapa komunitas yang pernah aku ikuti, hanya di komunitas Kak Baim-lah yang aku merasa ada feeling disana. Teman-teman yang seru dan tak segan saling bantu. Sangat terasa kekeluargaannya. Kak Baim dan istri pun sudah ku anggap keluarga sendiri. Mereka menganggapku seperti adik. Mungkin karena merasa kasihan, aku perempuan sendirian. Bekerja jauh dari rumah dan di kantor pun mayoritas laki-laki jadi hanya punya sedikit teman. Oleh karena itu kalau weekend tidak ada jadwal trip dan aku gak ada jadwal lembur, pasti aku main ke rumah Kak Baim atau kadang juga istri Kak Baim mengantar makanan untukku.

Ini tahun kedua ku tinggal di Makassar. Sudah mulai terbiasa dengan makanan, tipikal orang atau apapun tentang Makassar. Sudah mulai banyak teman juga diluar lingkungan pekerjaan. Kenalnya ya dari travelling juga. Beberapa malah menjadi akrab dan sering hangout bersama diluar jadwal trip. Diantaranya, ada dua orang yang sudah kuanggap sebagai adik yaitu Sani dan Ahmad. Sejak kita bertiga dekat, setiap trip yang diadakan Kak Baim pasti selalu ikut sama-sama. Ikut satu, ikut semua. Batal satu, batal semua. Kekanak-kanakan sih memang. Tapi mungkin ini salah satu bentuk solidaritas.

Untuk kasus camping di Ta’deang ini, pada awalnya kami bertiga sepakat ikut dan sudah konfirmasi ke Kak Baim. Tapi H-1, Ahmad yang sedang lanjut pendidikan S2 akhir tiba-tiba membatalkan rencana karena ada bimbingan tesis yang infonya mendadak juga. Demi solidaritas, aku dan Sani jadi ikut batal. Padahal dalam hati merasa sayang kalau gak ikut. Aku belum pernah ke Ta’deang dan selalu semangat setiap kali komunitas kami mengadakan trip di tempat baru. Untuk tambahan pengalamanku kan? Karena mumpung aku di Makassar. Suatu saat sudah harus pulang ke Jakarta, kayaknya gak mungkin sengaja datang ke Makassar cuma buat trip aja, menurutku. Itu kenapa setiap weekend dan jadwal trip ke tempat yang belum pernah kudatangi dan waktunya juga pas gak harus lembur, pasti aku ikut.

Hanya karena lagi-lagi demi solidaritas, aku cancel ikut trip ke Ta’deang-Maros. Makanya sejak di telpon Kak Baim semua jawaban dan alasan yang kubilang terdengar meragukan. Karena sebenarnya memang aku ingin ikut, hanya gak enak sama Sani dan Ahmad. Tapi bilang ke Kak Baim kalau aku batal ikut karena solidaritas ke mereka juga gak enak ke Kak Baim-nya. Jadi setelah kupikir-pikir, aku bukan orang Makassar dan gak setiap hari ada di Makassar. Kapan lagi bisa ke Ta’deang? Belum tentu Kak Baim ngadain trip ke sana lagi kalau aku masih disini. Ahmad dan Sani bisa saja kesana kapanpun karena mereka memang orang sini. Oleh karena itu, kuputuskan untuk ikut trip kesana walaupun hujan. Semoga seperti ramalan cuaca Kak Baim, langit di Maros terang jadi sampai di ta’deang sudah tidak hujan lagi.
PART 2

Sambil berjalan ke gerbang komplek, aku sibuk menelpon Ahmad dan Sani. Minta maaf karena aku memutuskan tetap pergi ikut trip sendiri. Kujelaskan juga alasanku. Ahmad tidak diangkat telponnya. Mungkin sudah mulai sibuk bimbingan. Jadi aku hanya mengirim pesan ke dia via WA. Sedangkan Sani, entahlah.. saat aku menelpon, dia sudah tau kalau aku ikut karena katanya, Kak Baim sudah lebih dulu menelpon dia dan mengajak pergi. Tapi Sani bilang malas pergi dan menyuruh Kak Baim untuk mengajakku. Waktu aku tanya kenapa malas, dia hanya jawab tidak apa2. Nanti saja ceritanya. Aku pikir, mungkin Sani sedang badmood, entah kenapa.

Sampai di gerbang komplek, sudah ada Kak Baim disana dan dua orang yang belum ku kenal. Satu laki-laki yang duduk di atas motornya dan satu perempuan berdiri di belakang Kak Baim. Seperti biasa, Kak Baim menyambutku ramah sambil memberikan jas hujan karena hanya aku yang gak pakai jas hujan.

Quote:


Aku memakai jas hujan dari Kak Baim dan berkenalan dengan perempuan yang sama-sama ikut di rombongan kecil ini. Namanya Nina. Kalau yang laki-laki tidak kupedulikan. Selain karena dia juga sibuk dengan HPnya seperti tidak peduli dengan sekitar, ya masa aku yang ngajak kenalan duluan?

Quote:


Aku hanya mengangguk dan berjalan mendekat ke motor satunya. Laki-laki itu melihatku sekilas dan berbicara dengan Kak Baim yang gak aku pahami. Selain karena pake bahasa Makassar dan cepat, juga karena laki-laki itu memakai buff.

Quote:


Aku melihat sekilas tas carrier yang dia bawa. Pasti berat! Tapi masa iya aku nolak bawa carriernya? Namanya juga nebeng. Nina aja bawa carrier-nya Kak Baim yang keliahatannya lebih berat dan lebih besar dari ini.
Aku menyerahkan tas ranselku ke dia. Tanpa sepatah kata pun dia memakaikan carrier-nya ke punggungku dan membantuku naik ke motor CBR-nya itu. Agak payah juga naik motor tinggi sambil bawa carrier besar gini. Tapi yasudahlah, mau bagaimana lagi.

Setelah semua siap, rombongan kecil kita berangkat. Hujan sudah mulai reda tapi masih menyisakan rintik-rintik kecil. Motor Kak Baim duluan di depan dengan kecepatan sedang. Sesekali motor kami mendekat ke Kak Baim dan dia berbicara entah apa dalam bahasa Makassar. Walaupun aku sudah lama di Makassar, tapi kosakata bahasaku masih terbatas. Hanya paham saja tapi belum bisa bicara dalam bahasa Makassar. Kadang Kak Baim menimpali perkataannya. Kalau Nina hanya tertawa-tawa saja. Aku? Karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, lebih memilih diam menikmati perjalanan.

Sampai di jalan utama Hertasning, rombongan kami ambil arah ke kanan.

Quote:

_________________________

Kamu ingat hari itu? Itu perkenalan pertama kita.
Kamu yang awalnya terlihat pendiam, ternyata berbanding terbalik dari yang aku kira. Banyak bertanya dan terbuka sekali. Terlalu blak-blak an malah emoticon-Smilie

Perjalanan hampir 2jam dari Makassar ke Ta’deang-Maros itu aku sudah mengerti kamu orang yang bagaimana. Pekerjaan, hobby, kegiatan sehari-hari sampai keinginan-keinginan kamu ke depan yang belum kesampaian. Bahkan kamu sampai bercerita tentang beberapa mitos yang ada di Makassar. Juga setiap melewati beberapa tempat, misalnya Taman Bantimurung, kamu pasti bertanya saya sudah pernah kesitu atau belum. Saya jawab belum dan kamu bercerita asal usul Bantimurung dan ada apa saja didalamnya. Sepertinya hal apapun selalu bisa dijadikan bahan obrolan. Saat itu saya hanya berusaha menjadi pendengar yang baik dan menanggapi alakadarnya. Kesan pertama kita tidak terlalu buruk, kan?

image-url-apps
Makassar udah jadi kota besar ya sis. Ane jd dejavu. dulu pernah kerja di Maccini. Setahun lalu baru pulang dari makassar. Langitnya disana cerah lebih sering cerah daripada mendungnya emoticon-Big Grin
KASKUS Ads
PART 3

Acara camping di Ta’deang-Maros sebetulnya acara tahunan gabungan hampir semua komunitas yang ada di Makassar. Bukan hanya untuk komunitas travelling saja, tapi juga komunitas vespa, komunitas fotografi, komunitas pecinta reptile, dan lain-lain. Semuanya berkumpul di satu tempat, camping sabtu minggu sebagai ajang silaturahmi dan sharing pengalaman.

Begitu sampai, Kak Baim mengurus registrasi. Lalu kamu dan Kak Baim sibuk mendirikan dua tenda terus memasang hammock di pohon sekitarnya sedangkan aku dan Nina hanya membantu hal-hal sepele. Setelah makan siang alakadarnya, panitia mengumumkan supaya semua peserta berkumpul di tengah karena mau dimulai acara pembukaan.

Semua peserta berkumpul dan berbaris sesuai komunitasnya. Bisa dipastikan komunitas kami yang paling pendek barisannya karena hanya berempat. Kak Baim yang paling depan karena dia ketuanya. Selesai upacara pembukaan yang diisi sambutan, berdoa dan absen masing-masing komunitas, dilanjut acara selanjutnya adalah games! Ketua komunitas gak boleh ikut games karena diharuskan sebagai wasit dan juri. Otomatis Kak Baim keluar dari barisan. Nina, mendadak gak mau ikut games entah karena apa. Mau gak mau, perwakilan dari komunitas kami yang ikut games adalah aku dan kamu. Hanya berdua, di saat komunitas lain mengirimkan banyak peserta untuk ikut games.

Ada beberapa games yang dimainkan. Karena kita cuma berdua, jadi kita digabung dengan grup yang masih kekurangan orang karena satu kelompok dalam satu games perlu sekitar 10 sampai 12 orang. Aku ingat, selama main semua games itu, saya merasa terlindungi. Misalnya waktu games berjalan di dalam kain panjang seolah-olah kain itu seperti roda yang besar yang harus sampai di tujuan, karena di dalam kain itu ada 12 orang dan langkah kaki harus sama supaya gak bertabrakan dan jatuh (kalau sampai jatuh berarti harus diulang dari garis start), kelompok kita memang beberapa kali jatuh tapi kamu berusaha untuk menjaga saya supaya tidak jatuh atau tertindih orang lain. Dan di games-games lainnya.

Selesai games dan kembali ke tenda masing-masing, hari sudah sore tapi belum ada tanda-tanda teman komunitas kami datang. Kita berempat bengong memperhatikan komunitas lain yang mulai sibuk memasak dan tampak lebih ramai. Seru sekali dibandingkan kita yang cuma berempat yang semuanya baru saling kenal pula.

Quote:


Kamu mengeluarkan seperangkat peralatan fotografi dari carrier-mu. Dari kamera, beberapa lensa sampai tripodnya juga. Lengkap! Gak setengah-setengah nih punya hobby fotografi.

Kamu mulai sibuk memotret. Foto tenda, foto Kak Baim, foto view sekitar, foto orang-orang yang lalu lalang. Paling banyak foto Nina karena memang Nina yang banyak minta difoto berbagai pose. Aku langsung paham kalo Nina tipe traveller yang narsis juga.

Aku? Sejujurnya aku gak terlalu suka difoto. Baik difoto sendiri ataupun selfie. Tapi kalau foto rame-rame masih oke. Hanya saja kalau pergi ke suatu tempat, aku lebih suka foto view-nya aja sampai dapat foto yang bagus. Dan sekali dua kali foto sendiri sebagai syarat dan kenang2an aja kalau aku pernah ke tempat itu. Gak pernah sampai berkali-kali minta difoto seperti Nina. Kalau aku malah sibuk foto-foto, gimana aku bisa tenang dan menikmati view atau acara di tempat itu ya? Begitu sih menurutku.

Quote:


Sebenarnya agak bingung juga mau respon gimana. Kayaknya gak pernah ada deh orang segitu PEDEnya, baru kenal pula, udah langsung minta di save nomer HPnya, trus minta langsung di accept FB dan follback IGnya saat itu juga harus di depan dia. Apalagi aku tipe orang yang sebenarnya gak asal terima pertemanan di sosmed kalau gak kenal2 banget. Memang agak pilih-pilih sih, tapi siapa yang peduli? Sosmed aku kan berarti terserah aku.

Quote:


Aku hanya diam. Lanjut sibuk ambil foto dengan HP lagi. Kali ini foto langit sore, suasana favoritku. Kamu ikut-ikutan sibuk foto juga dengan kamera-mu.

Quote:


Aku refleks menoleh dan CEKREK!!
Isshhh, lagi-lagi seperti itu dan ini jarak dekat. Pasti layar kamera seperti penuh muka ku semua dengan ekspresi yang gak fotogenic banget. Aku memasang muka bête dan kamu hanya tertawa.

Quote:


Aku melihat foto satu per satu. Foto dari awal. Foto view tempat camping, foto tenda, foto kak Baim, kebanyakan foto Nina dan.. dan… foto ku juga banyak walaupun gak sebanyak Nina. Candid! Foto ku lagi main HP, lagi ngobrol sama Kak Baim, lagi liat orang lalu lalang, lagi tersenyum ke arah mana entah karena apa, lagi ngefoto lampu minyak, lagi ngefoto kupu-kupu dan foto refleks menoleh.

Quote:

_____________________________

Kamu ingat gak kejadian itu? Disitu pertama kalinya kamu ambil foto saya ala candid dan dari situ juga awal kamu ambil foto muka bengong saya setelah kamu panggil.
Hhhh… saya rindu.
Quote:


Ahahaha.. ya begitulah. semacam pusat kota-nya Indonesia Timur sih yaaa. jadi udah lumayan maju juga.
Hooh langitnya udah bukan cerah lagi, gan! Cerah cenderung panas membara... emoticon-Big Grin

image-url-apps
Quote:


wkwk.. udah kayak bekasi emoticon-Big Grin

eh btw, post ane diatas anggap aja iklan. emoticon-Big Grin ane lanjut baca dulu yak.. asik juga nih
×