alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Tak ada isu HAM dalam pertemuan bersejarah Trump-Kim
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1fa0349a09510a228b456f/tak-ada-isu-ham-dalam-pertemuan-bersejarah-trump-kim

Tak ada isu HAM dalam pertemuan bersejarah Trump-Kim

Tak ada isu HAM dalam pertemuan bersejarah Trump-Kim
Pembelot Korea Utara dan aktivis HAM, Yeonmi Park, saat berbicara dalam ajang Foreign Correspondents' Club di Hong Kong, Tiongkok (3/4/2017).
Korea Utara sejak lama dikenal sebagai negara pelanggar hak asasi manusia. Human Rights Watch (HRW) melabelinya "salah satu negara otoriter paling represif". Sayang, isu hak asasi manusia (HAM) absen dalam pertemuan bersejarah antara pemimpinnya, Kim Jong-un, dengan Presiden AS, Donald Trump, di Singapura, hari ini (12/6/2018).

Harapan terhadap pembahasan isu HAM dalam ajang "US North Korea Summit" (Pertemuan AS-Korea Utara) setidaknya disampaikan Yeonmi Park, aktivis HAM warga negara Korea Selatan asal Korut. Pada 2007 ia dan keluarganya membelot karena kelaparan dan dipaksa menikah pada usia dini.

Perempuan kelahiran Oktober 1993 itu pun harus menelan kekecewaan. Penyintas bencana kelaparan Korea Utara yang memuncak pada kurun 1994 hingga 1998 itu sangat berharap Donald Trump bisa mengangkat isu yang dinilainya krusial.

Namun, hingga pertemuan berlangsung hari ini (12/6/2018), isu tersebut memang tak muncul. Isi perjanjian yang ditandatangani Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong-un, tak menyinggung isu HAM. Isinya hanya seputar denuklirisasi.

Ketidakjelasan isu HAM, sejak awal sudah ditunjukkan oleh gestur Gedung Putih yang sama sekali tak memberikan penjelasan. Bahkan setelah bertemu pejabat tinggi Korut, Kim Yong Chol di Gedung Putih (2/6), Trump mengatakan isu HAM tak muncul, dan ia hanya memberi sinyal "kemungkinan" saat ia bertemu Jong-un.

Saat ditanya wartawan tentang kemungkinan membahas kondisi penjara di Korut, misalnya, Trump sebelum berangkat ke ajang itu dikutip CBS News menyatakan bahwa "semua isu mungkin akan muncul" dalam pertemuannya dengan Kim Jong-un.

Sebelum pertemuan, isu utama yang mengemuka memang seputar denuklirisasi. Ancaman perang nuklir jelas menjadi sorotan dunia. Sepanjang 2017, Korut telah menembakkan 23 peluru kendali dalam 16 kali uji coba, dan 6 kali tes senjata nuklir. Aksi tersebut telah memperkeruh hubungan Korut dengan AS dan sekutunya.

Para analis awalnya memperkirakan, AS akan menggunakan momen pertemuan di Singapura itu untuk mencari jalan keluar. Robert Einhorn dari lembaga analisis kebijakan publik, Brookings Institution, menulis bahwa capaian paling realistis adalah menyepakati kerangka waktu "denuklirisasi", lalu berdiplomasi untuk menuntut implementasinya.

Ia berargumen, tak mudah melucuti Pyongyang dari senjata nuklirnya. Keyakinan serupa melekat di antara pejabat intelijen AS, dan pada ahli tentang Korut dari luar pemerintahan di AS. Pertemuan kali ini diprediksi tak bisa mencapai tujuan utamanya, tapi paling tidak "bisa membatasi pemutakhiran senjata nuklir Korut".

Meskipun kesepakatan tentang denuklirisasi bisa dicapai—dengan persyaratan minimal sekalipun—ada pihak yang skeptis bahwa kesepatan itu bisa menghentikan program nuklir Pyongyang. Dua peneliti dari Universitas Stanford menulis di The Diplomat, ada target yang lebih penting dari denuklirisasi semata.

Mereka menulis, membuat Korut menjadi negara yang "normal" adalah gambaran besar yang harus dicapai saat ini. Denuklirisasi semata, hemat mereka, tidak akan mengerem niat Kim untuk membuat persenjataan nuklir baru.

"Yang terpenting saat ini bukanlah kenapa Kim bersedia bertemu Trump, tetapi bagaimana membuat perubahan yang berkelanjutan tanpa mengulangi kesalahan pada masa lalu. Mungkinkah kondisi saat ini bisa berbeda?" tulis mereka.

Hubungan AS-Korut bisa disebut rumit sejak kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Bebasnya Semenanjung Korea dari cengkeraman Jepang, membuat wilayah itu terbelah jadi dua. Korea Selatan dengan dukungan AS, dan Korea Utara yang dikendalikan Soviet.

Perang Korea (1950-1953) sebagai turunannya, tak lepas dari peran AS membantu Korea Selatan agar tak dicaplok pihak utara. Negara komunis di utara Semenanjung Korea tersebut, lalu melihat AS sebagai penghalang unifikasi Korea. Korut pun kian terisolasi dari dunia internasional karena provokasi militernya.

Selain karena provokasi militer, negara bernama lengkap Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) itu juga dikenal tak peduli dengan HAM. Dalam catatan HRW, komunitas internasional tak henti melakukan tekanan untuk menindaklanjuti temuan United Nations Commission of Inquiry (COI) tentang penegakan HAM di sana.

Pemerintah Korut ditengarai telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk pemusnahan, pembunuhan, penyiksaan, perbudakan, pemenjaraan, pemerkosaan, pemaksaan aborsi, dan bentuk kekerasan seksual lainnya.

Bagi Yeonmi Park dan para pembelot Korut lainnya, hasil pertemuan hari ini bukanlah yang ideal. Mahasiswi di Universitas Columbia itu sempat bilang, bila perubahan yang Trump inginkan, ia seharusnya meminta Kim transparan soal kam konsentrasi dan memperbolehkan liputan wartawan ke negara tersebut.

Perubahan terhadap kondisi Korut yang digambarkan HRW, sayangnya belum akan terwujud dalam waktu dekat. Bahkan pasca-pertemuan bersejarah antara Trump dan Kim yang berlangsung di resor mewah Capella, Pulau Sentosa, Singapura, hari ini.
Tak ada isu HAM dalam pertemuan bersejarah Trump-Kim


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...arah-trump-kim

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Tak ada isu HAM dalam pertemuan bersejarah Trump-Kim Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi

- Tak ada isu HAM dalam pertemuan bersejarah Trump-Kim Lebaran diperkirakan bakal serentak lagi

- Tak ada isu HAM dalam pertemuan bersejarah Trump-Kim Garuda minta tarif batas bawah dikaji ulang

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di