alexa-tracking

Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1f9c00d44f9f776a8b456f/jabatan-tangan-dan-retorika-komitmen-denuklirisasi
Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi
Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat pertama kali bertatap muka di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura, 12 Juni 2018.
Membuka tahun 2018, dunia diramaikan dengan retorika tombol nuklir yang dialamatkan dua pemimpin kontroversial, Donald Trump dan Kim Jong-un.

Saat perayaan pergantian tahun, Kim berujar dengan frontal di hadapan televisi nasionalnya, bahwa dirinya memiliki tombol pemantik nuklir di atas meja kerjanya dan kapan saja bisa diluncurkan jika "musuh" mengancam.

Trump tampak begitu percaya diri dengan menganggap dialah subjek yang dimaksud oleh Kim. Trump pun membalas, "Aku juga punya tombol nuklir yang lebih besar dan kuat..dan tombolku berfungsi!" beberapa hari setelahnya.

Aksi saling pamer kekuatan sekaligus ejekan itu bukan baru sekali. Sebab sejak 18 tahun terakhir, suasana permusuhan keduanya selalu dibagi di muka publik.

Tapi hari ini, Selasa (12/6/2018), bertempat di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura, keduanya berhasil menanggalkan ego masing-masing dan menjabat tangan satu sama lain sambil bertukar senyuman sebagai simbol keakuran. Setidaknya untuk saat ini.

Wajah Kim terlihat sedikit kaku saat menggapai tangan Trump. Sementara, Trump lebih luwes meraih tangan Kim sambil menyampaikan beberapa kata. Trump juga tampak lebih sering memberikan sentuhan di bahu dan lengan Kim.

Sepintas hal ini menjadi wajar lantaran Trump lebih sering berhadapan dengan dunia luar ketimbang Kim.

Jean H. Lee, analis Korea Utara di Wilson Center, AS, menyebut apapun yang terjadi saat dan sesudah pertemuan ini, jabatan tangan kedua orang ini akan tetap menjadi momen yang sangat bersejarah.

"Bagi rakyat Korea Utara, (jabatan) ini akan dijadikan sebagai momentum pengakuan dan perlakuan yang sejajar dari AS untuk Korea Utara," tuturnya dalam laporan CNN.

Kedua pemimpin ini begitu optimistis dengan jalannya pertemuan yang diagendakan berakhir setelah jamuan makan siang bersama.

"Banyak orang yang mengira ini adalah adegan dari film sains fiksi... Tentu saja akan banyak tantangan, tapi aku siap untuk menyelesaikan ini," ujar Kim yang disampaikan melalui penerjemahnya kepada Trump saat keduanya duduk di sebuah ruang pertemuan di Hotel Capella.

"Aku yakin (pertemuan) ini akan berlangsung sangat sukses. Kita akan punya hubungan yang lebih baik lagi. Aku yakin itu," timpal Trump.

Agenda pertemuan Trump dan Kim tak jauh berbeda dengan pertemuan Kim dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, akhir April lalu di Zona Demiliterisasi Korea Selatan.

Usai seremonial tatap muka, Trump dan Kim duduk bersama delegasinya untuk memulai perbincangan. Trump ditemani Kepala Staf Gedung Putih, John Kelly; Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo; Penasihat Keamanan AS, John Bolton; dan seorang penerjemah.

Sementara Trump didampingi oleh Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho; Wakil Ketua I Partai Pekerja Korea Utara, Kim Yong Chol; Wakil Ketua II Partai Pekerja Korea Utara, Ri Su Yong; dan seorang penerjemah.

Pertemuan berlangsung tertutup. Namun setelahnya, Kim dan Trump punya waktu khusus berdua, tanpa pengawalan dan bahkan tanpa penerjemah bahasa untuk Kim--dengan fakta bahwa kemampuan Bahasa Inggris Kim masih diragukan.

Usai pertemuan privat, keduanya tampak akrab berjalan berdua di area taman hotel sambil menyambangi sejumlah jurnalis yang menunggu di ujung jalan.

Kepada jurnalis Trump berujar, perbincangan keduanya berjalan sangat lancar, di luar dugaan. Momen itu sekaligus menjadi yang pertama kalinya bagi Kim untuk berdiri langsung di hadapan jurnalis asing.
Trump and Kim walk and talk after lunch. Trump says they’re signing something. pic.twitter.com/TVOlMCxjDf
— Jim Acosta (@Acosta) June 12, 2018
Jauh dari Singapura, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in tampak turut menyaksikan pertemuan keduanya bersama jajaran pejabatnya di ruang kabinet di Seoul, Korea Selatan.

Moon batal berangkat ke Singapura untuk ikut hadir dalam pertemuan ini. Namun saat Kim dan Trump berjabat tangan, Moon seketika tersenyum seolah bangga melihat apa yang baru saja terjadi.

"Aku sangat yakin, perdamaian akan tercipta," ucap Moon yang mengaku tidak bisa tidur nyenyak menantikan pertemuan ini.

Bukan hanya Korea Selatan, Tiongkok juga merespons dengan nada serupa. "Kami berharap semua pihak mau bersama-sama mewujudkan perdamaian ini. Tiongkok juga akan terus memainkan peran yang konstruktif," sebut Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, melalui akun Twitter resmi pemerintahan Tiongkok, @PDChina.
Bahasa denuklirisasi yang lemah
Ada sebuah dokumen perjanjian yang ditandatangani keduanya. Reuters berhasil mengabadikan isi dokumen tersebut.

Dokumen itu mengindikasikan bahwa dua pemimpin ini siap untuk bersama-sama membangun hubungan AS-Korea Utara yang baru dan lebih baik.

Perbaikan hubungan itu yang kemudian diyakini bisa menjadi kontribusi perdamaian dan kesejahteraan, tak hanya di Semenanjung Korea saja, melainkan untuk seluruh dunia.

Trump juga memenuhi permintaan Kim, yakni memberikan jaminan keamanan penuh kepada Korea Utara selama proses denuklirisasi berlangsung.

Tapi dokumen tersebut tidak menyebut secara jelas apakah Korea Utara akan benar-benar menyerahkan senjata nuklirnya atau tidak.

Dalam dokumen itu hanya disebutkan bahwa Korea Utara berkomitmen untuk mewujudkan perihal denuklirisasi sesuai dengan yang dituliskan dalam Deklarasi Panmunjom.

Adam Mount, peneliti senior di Federation of American Scientists menganalisis, bahasa denuklirisasi dalam dokumen yang ditandatangani ini sangatlah lemah.

"Bahkan ini lebih lemah dari komitmen yang dibuat Korea Utara (dengan Korea Selatan) sebelumnya...Aku sempat berharap sesuatu yang lebih kuat dan tegas muncul dalam pertemuan ini," sebut Adam.

Kendati begitu, Adam tidak menyebut bahwa pertemuan Kim dan Trump adalah sebuah hal yang sia-sia. Sebab, hubungan yang terjalin setelah ini bisa membawa kepada perubahan yang lain.

Dalam jumpa pers usai pertemuan, Trump berkelit komitmen denuklirisasi bisa dilakukan dengan bantuan banyak orang, termasuk dua Korea dan pengamat internasional.

"Aku bisa bilang, dengan aku duduk bersama Kim hari ini, kita berhasil menyelamatkan 30 juta jiwa, mungkin lebih dari itu. Aku bersedia untuk itu, aku senang berangkat ke Singapura untuk itu," sambung Trump, dikutip dari The Guardian.

Lagipula Trump meyakini bahwa Kim telah memulai gencatan senjata nuklirnya melalui pemusnahan salah satu tempat uji coba nuklirnya di Punggye-Ri.
Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi
Presiden Amerika Serikat Donald Trumo dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un meninggalkan tempat setelah menandatangani dokumen yang mengakui kemajuan pembicaraan dan berjanji untuk menjaga momentum yang ada, setelah pertemuan keduanya di Hotel Capella di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6/2018).
Entah apa yang ada di balik retorika pertemuan siang ini. Namun satu yang pasti, Trump dan Kim berubah menjadi "sahabat". Trump tak ragu mengundang Kim ke Gedung Putih, Washington DC. Begitu juga sebaliknya.

Tak hanya itu, Trump juga tampak mau memperbaiki hubungannya dengan Tiongkok. "Tiongkok adalah negara hebat, dengan pemimpin yang hebat juga," sebut Trump sembari mengaku akan menghubungi Presiden Tiongkok Xi Jinping sebelum kepulangannya ke AS, malam nanti.
Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...sasi-trump-kim

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi Lebaran diperkirakan bakal serentak lagi

- Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi Garuda minta tarif batas bawah dikaji ulang

- Jabatan tangan dan retorika komitmen denuklirisasi Manisnya kurma Israel tak terpaut sikap diplomatik

×