alexa-tracking

Butir Bening Cinta: Peci Dari Papih

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1f53a712e25702448b4568/butir-bening-cinta-peci-dari-papih
Butir Bening Cinta: Peci Dari Papih
Butir Bening Cinta: Peci Dari Papih

Tak terasa sudah masuk pada akhir bulan ramadan. Pada bulan ini, tentu banyak muslim yang memasang target untuk beribadah. Dan akupun begitu. Pada bulan ini, ada satu target yang terasa sangat sulit untuk di jalankan. Yaitu Solat subuh berjamaah di Masjid.

Butir Bening Cinta: Peci Dari Papih

Shalat subuhku pertama di masjid di bulan ini sangatlah berat. Pembiasaan yang coba kulakukan inilah yang menjadi tantangannya. Dan lawannya adalah hobiku semasa SMA, tidur. Namun pada akhir ramadan aku berhasil melawannya. Yessss..

Seperti biasa orang yang paling ingin kulihat di masjid saat shalat subuh adalah kakek ku yang biasa ku panggil “papih”. Dia bukanlah imam di masjid itu, walau dia salah satu jamaah yang paling sering menempati saff persis di belakang imam. Tapi rasanya tak pernah aku melihatnya menjadi imam di masjid itu. Walau tak menjadi imam, dia sering diminta untuk memimpin doa ba’da shalat subuh. Dan itu salah satu alasan mengapa sering kali aku tak langsung beranjak setelah shalat. Karna aku ingin mendengar lantunan doa langsung dari mulutnya.

Selesai shalat subuh dan doa, aku memutuskan untuk menunggu kakek ku untuk pulang. Jalan rumah kami berbeda. Jalan menuju tempat aku tinggal saat ini adalah jalan kekanan dari masjid sedangkan jalan menuju rumah kakek ku menuju kiri masjid. Dan aku memutuskan untuk pulang mengambil jalan ke kiri untuk sekedar bisa pulang bersama kakek ku. Walau resikonya aku harus memutar lebih jauh dari biasanya jika mengambil jalan itu. Tapi biarlah.

“nah gitu dong cucu papih shalat subuh di masjid.” kata kakek ku sumbringah.

Rasanya itu kayak terbang bersama paus akrobatik menuju rasi bintang paaaaaaaling manis. (berasa di iklan yaa?) emoticon-Stick Out Tongue

Dengan maksud menyembunyikan rasa senang yang ada, aku berkata “hehe, iya nih pih. Lagi coba mau rutinin buat shalat di masjid.”

“tapi saran papih in ya yan. Iyan udah ganteng pake baju koko dan sarung kyak gitu,”
Hahahaha.. rasa senang tiada tara menghasilkan tawa bangga yang sejujurnya lebih panjang dari yang barusan. Perasaan yang berlebihnya muncul. Antara senang, bangga, dan bahagia bercampur jadi satu. Serta sedikit sombong. Wajar sajalah namanya manusia yang baru belajar untuk jadi manusia sesungguhnya. Padahal kakekku belum menyelesaikan kalimatnya. Di bilang “ganteng” pula. Jarang-jarang ada orang yang bilang gw ganteng, apalagi yang ngomong kakek sendiri. Kurang lebih begitu kata hatiku. Luapan bangga dan sombong jadi satu. Rasanya itu seperti jadi pangeran dari negeri dongeng yang pasti akhirnya Happy Ending. Hehe..

“tapi, pasti lebih ganteng lagi kalau pake peci deh yan. Itu saran aja sih”

*Gubrak..* hilang sudah senyum yg tadi ada di pipiku.

Sembari membangkitkan kembali senyum yang tadi sempat berkembang di pipiku untuk, mencairkan suasana aku berkata.

“hehehe, iya nih pih. Pecinya ilang. Yang ada di rumah kekecilan semua. Jadi gak iyan pake deh.” Jawabku ngeles.

“atuh kenapa gak bilang sama papih? Masa kakeknya haji cucunya kalo sembahyang gak pake peci. Malu dong.” Kata kakek ku dengan nada sombong. Mungkin itu sebabnya kenapa mama juga rada sombong, orang ayahnya sombong juga. Walau sering kali dipakai untuk bercanda. Hehe..

“ayo ikut ke rumah papih sebentar, kalau gak salah papih ada paci nganggur tuh di rumah” lanjut kakekku.

Rasa senang muncul lagi. Bagaimana tidak aku yang tidak memiliki peci untuk digunakan shalat ingin diberikan peci oleh seorang haji, ya walaupun haji itu adalah kakekku sendiri. Sepanjang perjalanan menuju rumah kakekku kami bercerita banyak hal. 

Sesampainya dirumah kakekku beliau langsung mengajakku masuk ke kamarnya. Diruang tengah ada nenekku yang sedang membaca Al-Quran. Dan setelah salim kepada nenekku aku langsung menuju kamar kakek-neneekku. Disana kakekku mengeluarkan sebuah peci yang kiranya cocok denganku.

Butir Bening Cinta: Peci Dari Papih

“nih yan, kyaknya yang ini cocok buat iyan. Coba di pake deh” kata kakekku yakin.
Dan tanpa basa-basi aku langsung mengenakan peci tersebut.

“tuh kan bener cocok, yaudah itu buat iyan aja” kata kakekku senang.

Dunia seakan terpenuhi dengan senyumku, saja. Peci pertama pemberian kakekku.

Selesai mendapat peci aku langsung bergegas menuju rumah. Hal pertama begitu sampai rumah yang ku kunjungi adalah kaca. Tak bosan-bosan rasanya melihat sosok yang ada dibalikknya. Tentunya dengan peci baru. Hehe..

Sehari setelahnya aku kembali shalat subuh di masjid yang sama. Dengan maksud membuat kakekku bangga dengan peci pemberiannya yang ku kenakan ini, aku menunggunya pulang kembali menggunakan jalur kiri, jalur rumahnya.

Sembari menunggu kakekku yang sedang berbincang dengan kawannya aku merapihkan pakaianku, dari mulai merapihkan sarung, membenarkan kancing baju kokoku yang ternyata bagian paling bawahnya belum terkancing dengan sempurna, dan yang tidak kalah kurapihkan adalah peci baru ku pemberian orang yang sedang berbincang-bincang itu, kakekku.

Setelah salim dengan kakekku, kami memutuskan untuk jalan bersama. Satu yang ku inginkan dari perjalanan pagi itu, membuatnya bangga dengan kehadiran cucunya.

“cucunya pak haji?” tiba-tiba salah seorang imam di masjid itu yang kebetulan lewat bertanya kepada kakekku.

“hehe, iya nih cucu saya. Tadi shalat di masjid juga.” Ujar kakekku.

Batinku teriak kegirangan. Setidaknya usahaku untuk membuat kakkekku bangga terhadap cucunya yang satu ini berhasil kuwujudkan pagi itu, menurutku. Setelah itu hanya senyum yang ku sembunyikan yang tampak di raut mukaku. Perasaan senang yang berlebihan yang mungkin ini yang dinamakan bahagia. Dan setauku bahagia adalah bibit dari cinta. Bukan begitu?

“bapaknya siapa pak haji?”

“apa?” tanya kakekku meyakinkan pendengarannya. Dan ternyata benar pertanyaan itu yang ditanyakan oleh orang itu. Aku tak sanggup bila harus menulis ulang pertanyaan tersebut dilembar ini karena akan membuat seluruh sistem tubuhku kacau setelahnya.

Setelah itu entah apa yang dijawab oleh kakekku. Yang ku tahu dia mengalihkan pertanyaan tersebut dengan pembicaraan lain tanpa menjawabnya. Dan diakhir perjalanan aku mendengar dia membanggakan cucunya yang lain yang jelas siapa bapaknya. Ya, jelas siapa BAPAKNYA..

Dibalik tentang rasa yang berlebih..

Aku manusia biasa yang ada karena proses biologis yang tentunya ayah dan ibuku pelakunya. Tapi jika ditanya “apakah kamu seorang yatim?” maka izinkan saya berpikir selama satu jam penuh kemudian tidak menjawabnya. Ayah biologisku masih hidup. Ya jasadnya hidup, tapi tidak untuk duniaku. Itu sebabnya selalu ada “tetes” yang lahir setiap kuingat sosok yang sangat penting bagi hidup setiap orang kecuali aku, Ayah..

Surat cinta kepada hati..

Teruntuk engkau, hati..

Dari batin yang merindukan “sosok” yang tak didapat dalam dunianya..

Butir Bening Cinta: Peci Dari Papih

.. duhai orang tua, terimakasih telah menjadi orang tua yang dapat menjadi panutan bagi anak-anak kalian. Sisanya, untuk kalian yang ingin menikah, atau memiliki rumah tangga, atau telah menikah, atau ingin mengakhiri, atau lain sebagainya, atau lain sebagainya.

Perhatikan satu hal.

Jangan pernah bercerai jika kalian tak ingin anak kalian kebingungan akan dunianya


*Ditulis 1 Agustus 2003 - Karya Pribadi

image-url-apps



ikut menyimak, gan...

emoticon-Toast


Quote:


Thank you udah Minyak gan emoticon-Goyang
×