alexa-tracking

Presiden-Presiden-an

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1f4859dbd770174f8b4568/presiden-presiden-an
Presiden-Presiden-an
Presiden-Presiden-an
SEKITAR tahun enam puluhan, pada waktu penulis sedang sekolah di Kota Lahat—Sumatera Selatan—masa itu Kota Lahat dikenal sebagai kota pelajar karena semua jenjang pendidikan dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi ada di sana. Kota itu sangat ramai didatangi para pelajar dari kota kabupaten sekitar; seperti Muaraenim, Lubuklinggau, Pagaralam, dan Manna, walaupun transportasi belum selancar sekarang, sebagai contoh teman yang datang dari Manna, Bengkulu Selatan, harus jalan kaki dua hari untuk mencapai Pagaralam. Baru kemudian naik oto menuju lahat. Oleh karena itu, untuk dapat sekolah ke kota ini bukan hal yang mudah, selain ekonomi harus cukup, juga harus memiliki tekad untuk maju, menurut ukuran zaman itu.
Pada masa libur atau ada tanggal merah, siswa SMA biasa tidak pulang kampung, dan pada malam hari pergi ke desa di seberang Sungai Lematang melewati jembatan goyang yang panjang; untuk melakukan kegiatan begare; yaitu mengunjungi rumah gadis-gadis dusun beramai-ramai untuk saling kenal, tentunya harus seizin kepala bujang yang kemudian biasanya melakukan permainan presiden-presidenan di tempat yang disepakati, biasanya di salah satu rumah gadis dusun yang cukup berada menurut ukuran setempat.
Aturan mainnya adalah semua muda-mudi yang hadir diberi label presiden, dimulai dari angka satu dengan menyebut “presiden satu” sampai jumlah yang hadir. Jika yang hadir ada dua belas orang; orang kedua belas tadi diberi nama “presiden dua belas”. Permainan dimulai oleh seseorang yang biasanya kepala rombongan yang ditokohkan sebagai presiden satu.
Mereka akan menunjuk presiden mana yang dituju, presiden yang dituju harus sigap menjawab presiden mana yang akan ditunjuk lagi. Jika ingin berpikir sejenak dia menyebut diri dengan mengatakan nomor dan disertai kata presiden. Permainan ini seru sekali jika ada yang lalai untuk menyebut atau gagap, dihukum ramai-ramai. Biasanya hukumannya disuruh bernyanyi, berpantun, berjoget, atau aktivitas lawak lainnya.
Peristiwa di atas adalah presiden-presidenan zaman old; berbeda dengan zaman now; yang kata presiden dapat dipakai untuk kata presiden direktur, presiden partai, presiden mahasiswa, presiden rumah tangga, sampai dengan presiden jadi-jadian. Kata “presiden” tampaknya memiliki magnet tersendiri; tidak jarang demi satu kata ini apa pun dikorbankan, dari harga barang sampai harga diri untuk menyandang kata “presiden”.
Manusia sering terbius dengan perhiasan dunia, termasuk kata (jabatan) presiden sendiri adalah perhiasan dunia. Bius ini begitu kuat sehingga bisa melanda siapa saja, tidak peduli apakah dia tua yang sudah bau tanah, sampai dengan anak kemarin sore yang baru melek. Dengan caranya sendiri mereka akan meraih impian demi satu kata “presiden“. Terlepas apakah cara itu santun, etis, atau bahkan tercela sekalipun; akan mereka lakukan demi menjadi sang presiden.
Semua itu adalah hak kebebasan pribadi masing-masing orang untuk berekspresi di muka bumi demokrasi ini. Hanya sering menjadi persoalan atas nama kebebasan justru menabrak kebebasan orang lain yang juga punya keperluan hak yang sama. Tidak jarang tampilan-tampilan ekspresi ini begitu ekspresif, sehingga orang lain yang melihatnya (yang juga memiliki hak kebebasan sama) menjadi muak; bahkan tidak jarang tergiring untuk beropini terhadap apa yang tampak dari suatu tampilan.
Kata presiden memang mampu membius manusia Indonesia saat ini. Jika diadakan survei tentang kata yang paling membius saat ini, mungkin kata presiden akan mendapatkan rating paling tinggi, dibandingkan dengan kata lainnya. Terlepas apa persepsi yang ada di benak pemberi suara dalam merespons kata tadi.
Kata presiden pun saat ini sudah diberi baju baru berupa lambang tagar (#) pada awalnya, adapun akhiran dari kata presiden menjadi bermacam-macam, bergantung pada selera dan kepentingan terhadap kata itu dari pemberi tagar. Tagar seolah menjadi lambang sah untuk suatu ujaran di zaman now.
Namun, ada yang tersisa dari semua hal di atas, yaitu lagi-lagi rakyat kecil; yang hari-hari ini harus direpotkan dengan dampak dari kehirukpikukan imbas kata presiden tadi. Mereka terbelah menjadi tiga kelompok; kelompok pertama yang sudah terpapar dengan kata tadi, dan menjadi begitu bersemangat untuk membicarakannya entah disurau, gubuk tengah sawah, atau saat tahlilan. Bahkan di dalam masjid rumah suci pun mereka lakukan. Padahal kita mengetahui bahwa Rasulullah pernah meratakan bangunan masjid megah karena diperintah Sang Khalik yang diketahui bahwa masjid itu dibangun justru tempat untuk mencaci maki atau mengumpat orang (kelompok) lain yang notabene juga sesama Islam.
Kelompok kedua yang diam dan melihat; kelompok ini hanya manggut-manggut saja jika saudara-saudaranya berbincang tentang presiden, kepalanya sering noleh kiri noleh kanan memperhatikan temannya yang bicara. Kelompok ini persis penonton  pertandingan tenis Wimbledon yang menoleh mengikuti arah bola dipukul. Kelompok ketiga adalah mereka yang superacuh. Kelompok ini amat tidak peduli mau apa terserah yang penting urusan mereka tetap jalan. Sejauh kegiatan orang lain tidak mengganggu usaha dan kerja mereka, mereka tidak ambil pusing. Pertanyaan berapa besaran masing-masing kelompok saat ini, jawabannya sangat relatif untuk masing-masing daerah, wilayah atau kelompok sosial.
Kebanyakan masyarakat sekarang tidak begitu tertarik dengan membicarakan hal-hal yang jauh dari pikiran mereka; mereka lebih terkonsentrasi saat ini pada hari Lebaran yang makin dekat dan pendaftaran masuk sekolah bagi anak-anaknya. Walaupun mungkin di antara merek ada yang tidak puasa, magnet Lebaran begitu besar bagi mereka. Demikian juga masuk sekolah; mungkin anak-anak mereka masih kecil, tetapi persoalannya menjadi begitu besar manakala dihadapkan kepada kalimat “akan sekolah di mana”. Perlu dicatat bahwa biaya masuk taman kanak-kanak bisa lebih mahal jika dibandingkan masuk pascasarjana.
Kalimat tunjangan hari raya dan gaji keempat belas bagi pegawai negeri merupakan angin segar, tetapi tidak bagi mereka yang bukan PNS. Bagi mereka pergumulan hidup untuk survive dari gelombang kehidupan ini, memerlukan enargi tersendiri untuk mengatasinya. Lebaran yang hanya satu dua hari itu memerlukan persiapan yang tidak mudah bagi mereka; demikian juga memasukkan anak ke sekolah adalah perjuangan kehidupan yang melebihi memanggul senjata di medan perang.
Hiruk pikuk soal presiden bagi mereka seolah bukan urusan mereka; urusan labido mereka masih di sekitar wilayah keperluan dasar manusia. Bahkan kecenderungan yang ada pada mereka adalah bagaimana menyelamatkan keluarga agar bisa terpenuhi makan, sandang, dan papan. Ketiga hal kebutuhan dasar itulah yang saat ini mereka perlukan. Urusan pilih memilih bagi mereka nanti saja pada waktunya, dan itu pun tidak pernah terlintas di benaknya akan memilih siapa dan mengapa.
Bagi mereka elite yang ada di Ibu Kota tidak akan memperhatikan mereka dalam memenuhi kehidupan keseharian mereka. Kecenderungan apatisme serupa ini mulai seperti operasi senyap merajut pada kehidupan mereka, perlahan tetapi pasti mereka tergiring pada kondisional yang memperangkap mereka untuk berpikir pragmatis. Kondisi ini seolah mulai merasuk pada darah daging mereka, menelusuri nadi mereka; sehingga terbangun semacam imunitas sosial yang bercirikan tidak peduli dengan apa yang bukan menjadi dunianya.
Kondisi ini mestinya disadari oleh teman-teman yang ada di pusat Ibu Kota, siapa pun Anda. Berbuih-buihlah Anda berucap; tetapi rakyatlah yang punya suara. Suara rakyat adalah suara Tuhan yang tidak dapat direkayasa dengan apa pun pada luasan Indonesia yang begini beragam. Justru rakyat akan tergiring kepada orang-orang yang menghargai mereka; yang menghargai akan keberadaan mereka sebagai penentu di ruang bilik pemilu.
Sejarah sudah pernah ditorehkan pada masa Orde Baru, di mana dominasi partai pemerintah begitu masif, rekayasa sosial dibuat agar kemenangan seolah gemilang. Bahkan belum selesai pelaksanaan pemilihan, angka persentase sudah keluar dan dilaporkan. Namun, rakyat tetap mencatat dalam hati menjadikan memori sosial mereka sehingga terbangun referensi yang cenderung abadi. Berawal dari sejarah sosial tadilah rakyat menjadi seperti sekarang cenderung apatis.
Harapan hanya ada pada generasi millennial atau generasi now yang mereka tidak dibebani oleh luka sejarah, dosa sejarah, atau apa pun namanya. Mereka hanya membaca dari buku-buku sejarah yang dipaksa oleh guru untuk membaca agar lulus ujian; atau berasal dari layanan kemudahan informasi di dunia maya. Mereka hanya memiliki kognisi dari peristiwa sejarah, tidak memiliki beban konasi maupun afeksi. Sehingga lebih bebas untuk memberikan penilaian dan pilihan.
Tinggal kita sekarang apakah akan merusak jiwa-jiwa bangsa ini dengan sejarah kelam, atau mengukirnya dengan tinta emas keberhasilan. Tanggung jawab itu ada di pundak kita semua sebagai orde alih generasi; atau jembatan generasi untuk mengantarkan Indonesia ini ke depan.
Jika kita salah mengambil cara atau metode, tidak menutup kemungkinan negara ini akan bercerai berai. Namun, jika kita jitu mengambil langkah, keberlanjutan bangsa ini akan tercapai. Apakah kita akan mengulangi usia panjang Majapahit–Sriwijaya, atau hanya sekelas Singasari saja, itu bergantung dari bagaimana kita mengukir NKRI ini ke depan.

Presiden-Presiden-an

image-url-apps
lucu2an
×