alexa-tracking

Yang Dinanti dari Tatap Muka Kim dan Trump

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1e68f4c1d770f6248b4580/yang-dinanti-dari-tatap-muka-kim-dan-trump
Yang Dinanti dari Tatap Muka Kim dan Trump
Yang Dinanti dari Tatap Muka Kim dan Trump

JAKARTA, Indonesia—Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong-un bakal menggelar pertemuan empat mata di Singapura, Selasa 12 Juni 2018. Dalam pertemuan itu, keduanya diberitakan membahas denuklirisasi Semenanjung Korea dan upaya rekonsiliasi antara Korea Selatan dan Korut. 

Pertemuan itu merupakan lanjutan dari pertemuan antara Presiden Korsel Moon Jae-in dan Kim Jong-un di Rumah Perdamaian (Peace House) yang terletak di kawasan zona demilitarisasi Panmunjeom, pada 27 April 2018. Pertemuan Kim dan Moon ketika itu menghasilkan Deklarasi Panmunjeom. 

Isi deklarasi itu kurang lebih menyepakati perlunya langkah-langkah konkret kedua negara untuk menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea. Usai pertemuan Panmunjeom, delegasi Korsel, Korut dan AS kemudian ‘bergerak’ untuk menyiapkan pertemuan antara Trump dan Kim. 


Kenapa Singapura?  
Singapura dipilih sebagai lokasi pertemuan Trump dan Kim karena negara itu dianggap netral dan tak bisa disetir oleh negara manapun. Selain itu, negara kota di kawasan Asia Tenggara ini juga dinilai sebagai negara yang aman. Menurut situs analisis risiko SafeAround, Singapura merupakan negara teraman keenam di seluruh dunia. 

Hal lain yang membuat Singapura dipilih sebagai venue pertemuan ialah pengalamannya dalam menggelar konferensi tingkat tinggi bernuansa sensitif. Pada November 2015 misalnya, Singapura menjadi tuan rumah pertemuan antara Presiden Republik Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Taiwan (ketika itu) Ma Ying-jeou. Itu kali pertama pemimpin tertinggi China dan Taiwan bertemu pascaberakhirnya perang sipil pada 1949.  


Siapa saja yang terlibat dalam pertemuan?   
Yang Dinanti dari Tatap Muka Kim dan Trump
Sejumlah pihak menjadi deal maker  dalam membidani pertemuan antara Trump dan Kim di Singapura. Salah satu orang yang paling berjasa melahirkan pertemuan bersejarah itu tidak lain ialah Presiden Korsel Moon Jae-in. Sejak tahun lalu, Moon berulangkali meminta Kim Jong-un kembali ke meja perundingan untuk membahas nasib nuklir Korut. Usai pertemuan Panmunjeom, Moon pun langsung bertolak ke AS untuk membahas rencana pertemuan susulan antara Kim dan Trump.

Di kubu AS, sejumlah nama turut menjadi aktor kunci dalam melahirkan pertemuan tersebut. Dua di antaranya ialah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan penasihat keamanan nasional AS John Bolton. Beberapa pekan lalu, Pompeo bahkan terbang langsung ke Korut untuk bertemu Kim. Di Singapura, Pompeo dan Bolton juga diberitakan turut mendampingi Trump. 

Di kubu Korut, Wakil Ketua Partai Pekerja Korut Kim Yong Chol menjadi salah satu deal maker. Pekan lalu, Yong Chol melawat ke AS dan bertemu langsung dengan Trump. Menurut analis, lawatan Yong Chol ke AS merupakan upaya Kim Jong-un menunjukkan kepada dunia bahwa ia serius merundingkan langkah-langkah perdamaian di Semenanjung Korea. 

Adapun di Singapura, konferensi tingkat tinggi AS-dan Korut akan dimulai dengan pertemuan empat mata antara Trump dan Kim di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Selasa 12 Juni 2018. Keduanya pertama-tama akan bertemu satu lawan satu dalam sesi tertutup, sebelum pertemuan yang lebih besar dengan para penasihat kunci. Itu bisa dua hari. Mereka akan berbicara selama yang mereka butuhkan,” kata seorang pejabat senior Gedung Putih seperti dikutip AFP. 

KTT kemudian bakal dilanjutkan dengan serangkaian rapat dan diskusi resmi dari delegasi kedua negara. Sebelumnya, baik Trump maupun Kim, telah bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. 


Apa yang bakal menjadi hasil pertemuan Kim dan Trump?   
Trump sesumbar bakal mengetahui kemungkinan bakal terciptanya kesepakatan antara AS dan Korut pada menit pertama ia bertemu Kim nanti. Padahal, hingga kini kubu Pyongyang belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rencana konkret mereka dalam proyek denuklirasasi Semenanjung Korea. Di lain hal, istilah denuklirasasi yang tertuang dalam deklarasi Panmunjeom juga memiliki batasan yang jelas. 

Namun demikian, denuklirisasi dipastikan menjadi bahasan utama Trump dan Kim. Sebelumnya, Washington telah menuntut Korut untuk memberikan informasi selengkap-lengkapnya terkait persenjataan nuklir mereka. “Kami tetap berkomitmen terhadap denuklirisasi secara penuh, terverifikasi, dan tidak dapat diubah dari semua persenjataan nuklir di Semenanjung Korea,” cuit Menlu AS Mike Pompeo di Twitter pribadinya @secpompeo usai bertemu delegasi Korut di Hotel Shangri-la, Singapura, Senin 11 Juni 2018. 

Di sisi lain, kantor berita Korut KCNA memberitakan, kedua kubu bakal membahas berbagai pandangan dan langkah untuk memperbaikih hubungan kedua negara. “Diskusi akan fokus pada isu membangun mekanisme perdamaian yang permanen dan bertahan lama di Semenanjung Korea, isu merealisasikan denuklirisasi Semenanjung Korea dan isu-isu lainnya yang menyangkut kepentungan dua negara,” tulis KCNA. 

Jauh sebelumnya, Korut selalu menolak upaya-upaya melucuti persenjataan nuklir mereka. KCNA kerap menyebut denuklirisasi di Semenanjung Korea harus berjalang beriringan dengan langkah AS untuk memindahkan ‘payung nuklir’ Paman Sam yang hingga kini dibentangkan untuk melindungi Korsel dan Jepang. 


Apa kata analis?   
Para pakar umumnya memandang pertemuan antara Trump dan Kim merupakan peristiwa sejarah yang langka. Asisten profesor Rajaratnam School of International Studies (RSIS) di Singapura, Evan Resnick bahkan menyebut, pertemuan tersebut sebagai langkah maju yang patut diapresiasi. Pasalnya, pertemuan semacam itu bahkan dianggap tidak mungkin terjadi beberapa bulan yang lalu. 

“Skenario terburuk ialah pertempuran dalam perang yang tidak perlu melawan Kore Utara yang bakal mengorbakan puluhan atau bahkan ratusan ribu jiwa. Hal lain selain itu ialah hasil yang lebih baik,” ujar Resnick seperti dikutip Al Jazeera. 

Sedikit berbeda, pakar negosiasi di INSEAD Singapura, Horacio Falcao menilai, tuntutan AS tidak bakal mampu dipenuhi Korut. Bahkan, dengan adanya keputusan politik yang tegas, menurut dia, dibutuhkan waktu hingga 15 tahun untuk denuklirasasi secara menyeluruh. 

“Korut tidak mungkin melakukan denuklirisasi secara menyeluruh saat ini dan berharap bisa aman dari seorang presiden yang pernah berkata ‘mereka akan menghujani tanah kalian dengan api dan angkara’. Presiden dari sebuah negara yang selama dua puluh lima tahun terakhir menyebut kalian iblis,” ujarnya. 

Beberapa bulan lalu, Trump memang pernah berkata akan menghancurkan Korut jika tak juga kembali ke meja perundingan. Ia bahkan sempat menyebut Kim sebagai ‘pria roket kecil yang sedang dalam misi bunuh diri’. Di sisi lain, Kim sempat menyebut Trump gila dan ‘siap melawan AS dengan api’.

—dengan laporan dari AFP/Rappler


Sumber : https://www.idntimes.com/news/indone...mpaign=network

---

Baca Juga :

- Yang Dinanti dari Tatap Muka Kim dan Trump Lolos ke Piala Dunia 2018, Ini 5 Fakta Gokil Islandia

- Yang Dinanti dari Tatap Muka Kim dan Trump Pemain Veteran Jadi Ujung Tombak Timnas Uruguay di Piala Dunia

- Yang Dinanti dari Tatap Muka Kim dan Trump Tiba di Rusia 9 Juni Lalu, Timnas Arab Dipimpin Pelatih yang Baru