alexa-tracking

Berwisata Sosial : Desa “Rahasia” Di Pesisir Laut Kawasan Konservasi Ujung Kulon

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1e5d801ee5df592d8b4567/berwisata-sosial---desa-rahasia-di-pesisir-laut-kawasan-konservasi-ujung-kulon
Berwisata Sosial : Desa “Rahasia” Di Pesisir Laut Kawasan Konservasi Ujung Kulon
Kawasan Konservasi Ujung Kulon terletak di salah satu provinsi di Indonesia yaitu Banten. Tempat yang paling terkenal disana adalah Taman Nasional Ujung Kulon. Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991. Luasnya yang mencapai 122.956 Ha dimana 44.337 Ha merupakan kawasan konservasi perairan laut. Pulau yang paling sering dikunjungi di Taman Nasional Ujung Kulon adalah Pulau Peucang dan pulau Haendeleum. Namun bagi wisatawan asing maupun local tidak akan pernah lupa berkunjung juga ke pulau umang yang menjadi resort mewah meskipun letaknya cukup jauh dari Taman Nasional Ujung Kulon.

Keindahan Taman Nasional Ujung Kulon mulai dari ekosistem darat, laut hingga keragaman flora dan fauna selalu dibahas dalam berbagai paket wisata perjalanan. Di paket wisata itu juga termasuk snorkeling, trekking, maupun tempat penginapan yang layak. Wilayah tersebut tentu sangat dijaga keindahan alamnya demi para wisatawan local maupun mancanegara. Jalanan menuju ke lokasi juga sudah sangat baik dan lumayan mulus bagi bis ataupun mobil. Namun itu sudah terlalu membosankan bagi kami para mahasiswa yang sering berkunjung ke  Ancol  maupun Bali .

Saat Liburan Menjelang awal tahun 2016, ada sebuah ide dari salah satu dosen kewirausahaan di Universitas Tarumanagara untuk berwisata sambil bersosialisasi dengan masyarakat di wilayah ujung kulon. Beliau saat itu belum menentukan wilayah tepatnya namun tidak jauh dari desa Taman Jaya Kecamatan Sumur, Ujung Kulon. Beliau menunjuk saya untuk mengatur siapa saja yang mau ikut, jumlah peserta serta pengumpulan biaya yang diperlukan. Kami melakukan itu secara demokrasi dan tidak memaksa anggota kelas untuk ikut karena pada dasarnya acara ini sukarela. Akhirnya terkumpul peserta wisata sosial ini berjumlah 19 mahasiswa dan 3 dosen yang secara sukarela juga perginya tanpa membawa nama universitas. Kami juga mengumpulkan dana untuk memberi bantuan kepada masyarakat desa berupa kebutuhan pokok dan jajanan anak – anak untuk acara disana. Di luar dugaan, Kami juga mendapatkan 2 karung baju gratis dari salah seorang mahasiswa yang mempunyai toko baju di tanah abang. Ini semua menggunakan pembiayaan mandiri dan tanpa ada campur tangan pembiayaan dari pihak universitas. Kami meminjam ruangan  kosong di biro adak untar untuk menaruh seluruh sumbangan baju, bahan pokok dan tas kami.

Setelah semua dipersiapkan, kami berkumpul di kampus Untar pada hari jumat setelah sholat dan bergegas memasukkan seluruh barang yang ada di dalam satu ruangan ke bagasi bis bahkan dalam bis tempat kami duduk. Ketika semua peserta sudah masuk dan bis mau jalan, ada satu orang yang berlari mengejar bis kami yang ternyata adalah abang “Doel”. Dia adalah tukang anter makanan warung di pinggiran untar, tempat kami bersenda gurau atau sekedar minum kopi. Bis berhenti dan akhirnya abang doel bisa ikut dengan kami namun lucunya dia tidak membawa perbekalan baju. Perjalanan menuju ke wilayah Ujung kulon dilanjutkan dan cukup lancar di awal masuk jalan tol, namun mulai dekat pintu keluar tol macetnya luar biasa. Akhirnya dari jam 1 siang kami berangkat, bis kami baru keluar dari pintu tol jam 6 sore lebih. Hal ini memaksa kami untuk parkir di pom bensin untuk sholat maupun untuk makan sore sebelum melanjutkan perjalanan ke Ujung Kulon.
Setelah dari pom bensin, kami melanjutkan perjalanan ke tempat wilayah yang dituju yaitu desa taman jaya. Namun kami beberapa kali mengalami salah jalan dan membuat supir bis harus bertanya ke warga berkali – kali juga. Setahu kami, jalanan menuju desa tersebut sudah diperbaiki dan tidak bergelombang. Hal ini cukup membingungkan karena kami melewati daerah yang sangat bergelombang dan berlumpur. Kami harus lima kali turun dari bis karena bis terjebak dan takut merusak mesin yang ada di bawah bis. Supir Bis seringkali menggerutu karena merasa tidak sesuai dengan perjanjian di kantor. Supir bis mengatakan bahwa bilamana jalanannya rusak sebaiknya menggunakan bis dengan mesin di belakang dan bukan mesin di bawah. Kami yang bukan mahasiswa teknik tentu tidak mengetahui hal tersebut dan seharusnya supir bis lebih tahu di awal terkait penggunaan mesin. Saya sendiri curiga bahwa supir bis salah jalan sehingga kami harus melewati jalanan yang bergelombang dan tidak mulus. Review di Internet menulis bahwa desa Taman jaya sudah dibangun infrastruktur jalan yang baik.

Sekitar jam 1 pagi , kami masih menggunakan bis melewati jalanan bergelombang dan naik turun tersebut. Penerangan jalan hanya berasal dari dalam bis dan kami harus mematikan ac agar mesin kuat jalan. Banyak sekali rawa – rawa di sekitar kami dan pohon bakau ataupun pohon kelapa. Gelapnya malam membuat kami susah untuk melihat kanan kiri. Hanya terdengar suara ombak , jangkrik , suara tokek dan suara kodok sepanjang perjalanan kami. Meskipun kami membawa senter tapi kami tidak berani menyorot karena takut terlihat hantu atau begal. Saya yakin kalau kami semua dibegal maka seminggu kemudian mungkin kami baru ditemukan.

Dikarenakan tersesat, beberapa dosen pendamping menelepon perangkat desa agar menuntun kami berdasarkan gambaran situasi kami. Beberapa motor dari kejauhan menembus malam dan ternyata itu perangkat desa yang ditelepon dosen pendamping kami. Mereka mampu mengenali wilayah mereka meskipun malam yang gelap gulita serta waktu menunjukkan angka jam 3 pagi. Kemungkinan besar kami saat itu bukan berada di taman jaya tempat biasa wisatawan berkunjung namun desa lain namun masih di sekitaran taman jaya. Hal ini dikarenakan saya merasakan perjalanan yang berbeda dengan yang biasa diceritakan dalam beberapa review perjalanan.
Dikarenakan terlalu lelah, akhirnya kami tidak menuju ke wilayah desa yang ramai namun ditunjukkan suatu tempat peristirahatan terpencil yang berada tepat di pinggiran laut. Tempat peristirahatan ini berbentuk sebuah rumah berisi 3 kamar dan ruang tengah yang cukup besar. Akhirnya 2 kamar dikhususkan untuk 5 mahasiswi dan 2 dosen pendamping sedangkan kami ber15 dan dosen pria menumpuk di satu kamar. Sebagian pria memilih untuk tidur di ruang tengah menggunakan alas yang dibawa masing – masing.

Pada pagi hari kami bangun dan baru dapat melihat keindahan wilayah  sekitar tempat kami. Di depan penginapan kami adalah halaman besar yang langsung menuju laut. Banyak pohon – pohon kelapa yang tinggi serta ada wilayah dekat laut seperti di tanami tanaman bakau yang masih kecil. Pasir – pasir di depan penginapan kami sangat bersih dan di tengah laut ada nelayan yang sedang melakukan penangkaran terumbu karang. Rumah penduduk lumayan jauh dari tempat penginapan kami namun masih dapat terlihat selayang pandang. Setelah menikmati pemandangan, ibu dosen pendamping ternyata telah menghidangkan makanan berupa nasi goreng, telor dan ikan bakar di ruang tengah. Kami langsung menyantap makanan tersebut dengan lahap. Setelah itu kami mengeluarkan tas ,bantuan sembako, alat – alat games, gitar,  charger, bahan presentasi dan minuman ringan dari bis yang kami tumpangi semalam. Beberapa dari kami ada yang bernyanyi sambil main gitar, ada yang pedekate dengan adik kelas, ada yang mau manjat pohon kelapa, ada yang mempersiapkan games , ada yang marah – marah karena air di kamar mandi mati , ada juga yang bermain air di pinggir pantai ataupun berjalan – jalan melihat lingkungan yang masih cukup terjaga, ada juga yang mengikuti aktivitas warga untuk menanam bibit pohon di sekitar pantai . Saya sendiri sebagai ketua mempersiapkan bahan penyuluhan yang akan saya berikan bersama teman – teman karena tujuan kami selain berwisata juga untuk mengedukasi masyarakat di sekitar.

Menjelang sore, warga telah pulang dari aktivitasnya sebagai nelayan, petani , tukang ojek, pemilik warung ataupun lainnya. Kami dibantu perangkat desa mengumpulkan warga ke ruang tengah tempat peristirahatan kami untuk melakukan penyuluhan mengenai pentingnya perkembangan desa dan menjaga lingkungan di desa.

Berwisata Sosial : Desa “Rahasia” Di Pesisir Laut Kawasan Konservasi Ujung Kulon


Berwisata Sosial : Desa “Rahasia” Di Pesisir Laut Kawasan Konservasi Ujung Kulon


Dokumen : Foto Pribadi


Saya menyuluhkan agar warga desa bergotong royong dan tidak menunggu bantuan pemerintah maupun pihak luar dalam membangun desanya. Saya juga memberikan cara pengelolaan wisata yang baik sehingga pemasukan warga meningkat. Penjelasan ini secara garis besar agar warga mengembangkan hasil alam yang ada di sekitar mereka dengan pengelolaan yang baik. Pengelolaan yang baik justru tidak dengan cara merusak alam yang memberikan hasil kepada mereka. Namun meskipun warga desa tidak banyak berkomentar, saya masih merasa bahwa mereka masih ingin terus bergantung terhadap bantuan pihak luar dan tidak akan mandiri dalam pengelolaan ini. Semoga tidak benar pemikiran saya ini.

Setelah penyuluhan, kami bermain bersama dengan anak – anak yang jumlahnya mencapai 100 dengan membagi menjadi kelompok – kelompok berisikan 2 pendamping. Jadi kurang lebih ada 9 kelompok anak – anak yang bermain games dengan kami. Permainannya bervariasi mulai dari jenis – jenis ikan, matematika dasar, hingga adu yel – tel antar kelompok. Penilaian dilakukan oleh dosen pendamping terhadap kelompok – kelompok kami dan berhadiahkan makanan ringan serta baju untuk anak – anak.

Sehabis bermain, paket sembako dibagikan kepada warga  serta ada games untuk orang dewasa berhadiahkan uang tunai total 300 ribu dan kotak susu. Warga kemudian mengucapkan terima kasih dan balik ke rumah masing – masing. Kami masih melanjutkan acara kami yaitu menikmati pemandangan senja dan bakar jagung di malam hari. Ada yang bercerita tentang aktivitasnya hari ini misalnya membantu di warung, mengumpulkan sisa kerang, berenang di pinggir pantai, dll.

Malam itu, saya ikut pergi bersama beberapa mahasiswa karena mendapatkan undangan tidak terduga dari warga untuk ke rumah siput. Rumah siput ini adalah rumah belajar bagi anak – anak yang masih kecil. Rumah tersebut berbentuk rumbai dan masih menggunakan petromax untuk penerangannya. Mahasiswi pada ikut bermain bersama anak – anak sedangkan para mahasiswa ada yang main gitar dan bermain games kembali maupun bercerita . Setelah larut malam, kami harus balik ke tempat peristirahatan karena para anak kecil harus pulang tidur. Kami berterima kasih atas undangan ke rumah siput tersebut dan kembali ke penginapan kami yang lumayan jauh dari rumah siput. Lalu kami melanjutkan malam dengan bercengkrama dan saling bercerita menikmati suara ombak yang berdesir di penginapan kami.

Keesokannya hari minggu, kami mempersiapkan diri untuk keluar dari penginapan dan desa yang kami tidak tahu nama detailnya namun masih berada di wilayah taman jaya. Sepanjang perjalanan, kami melihat banyak jenis tanaman seperti pohon kelapa, pohon bakau, tanaman rotan, kayu cempaka, padang rumput  dan melihat budidaya terumbu karang oleh warga. Kami melanjutkan perjalanan pulang cukup lama dan memutuskan untuk mampir ke dermaga pulau umang. Beberapa dari kami menyebrang menggunakan perahu boat yang disewakan menuju resort pulau umang sedangkan saya dan kawan saya memilih untuk makan di restoran yang ada di dermaga pulau umang. Setelah menunggu beberapa lama, rombongan dari pulau umang kembali dan kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Kami sangat senang menghabiskan waktu kami untuk berwisata sosial di desa “rahasia” yang berada di wilayah Taman Jaya, Ujung Kulon.