alexa-tracking

I Am A Strong Woman

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1dfcd0e0522772228b4577/i-am-a-strong-woman
[#cerpenreligi]I Am A Strong Woman
I Am A Strong Woman

I Am A Strong Woman

Allohuakbar Allohuakbar...
"Hm? Subuh? Jam berapa ini?"

Aku meraba jam beker di samping tubuhku.
04.10
"Waktunya bangunin anak-anak"

Sambil mengucek mata aku membangunkan teman sekamarku dan bergegas keluar untuk membangunkan teman-teman yang lain.
"tok tok tok... Subuh subuh! Jama'ah jama'ah!"

Beberapa menit kemudian para penghuni kamar sudah berhamburan keluar menuju toilet dengan membawa gayung masing-masing.
"Lho rek iki siwure sopo?"
"Emboh. Tek Aish paling"
"Endi areke?"
"Gaeroh"
"Yowis aku disek... Lalala...🎶"
Spoiler for Translate:


Obrolan anak-anak yang selalu kudengar sewaktu subuh. Budaya antri meletakkan gayung si pemilik di depan toilet adalah antri anti mainstream di pesantrenku.

I Am A Strong Woman

Setelah berthoharoh aku kembali ke kamarku untuk mengambil mukena.
"Mbak!"
Seseorang mencolek lenganku.
"Hm?"
"Anu mbak, iko Nurul gak gelem digugahi. Cek angele gugahane. Mau mari tak ciprati banyu barang gak tangi-tangi" kata Lia teman kamar sebelah.
"O iyo tak gugahane. Samean wes nango langgar"
"Iyo mbak"
Spoiler for Translate:


Setelah memakai mukena aku menuju kamar Nurul.
"Lha, lak sek turu... Nurul tangi ayo Rul! Lek gak tangi tak kon nguras jeding loh"
"Aduh mbak aku loro weteng"
"Wes rausah alesan. Mben isuk wetengmu loro. Ayo nang jeding. Ndang wudhu' terus sembayang jama'ah" perintahku tegas.
Spoiler for Translate:

Sambil ku tarik-tarik tangannya akhirnya dia mau juga bangun. Aku terus memperhatikannya sampai masuk toilet, memastikan dia tidak akan tidur lagi di sana.

04.30
Sholat berjama'ah terasa begitu khidmat. Bacaan surat imam terdengar begitu merdu.
'Al qoriah... Mal qoriah... '
Sambil mengira-ngira makna surat yang dibacakan imam, kami teringat akan dahsyatnya hari kiamat. Adalah hari dimana manusia beterbangan seperti belalang dan gunung-gunung berhamburan seperti kapas.
Seketika itu teringat dosa-dosa yang telah kami perbuat. Dosa pada kedua orang tua, guru, dan kepada sesama manusia.
Ya Rabb, Kami memang tak layak masuk surga-Mu namun Kami juga tak sanggup menanggung dosa-dosa kami. Dari itu karuniakanlah ampunan kepada Kami. Sesungngguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar.

Setelah melaksanakan sholat berjama'ah dan dzikir bersama, kami membuat 9 lingkaran. Pada setiap lingkaran ada 1 orang senior yang bertugas untuk mengokoreksi bacaan dan tajwid ke-10 junior yang ditanggungnya.

Shodaqolluhul'adziim
Kegiatan rutinan kami telah usai.

05.15
"Masih ada waktu setengah jam lagi. Baca surat Yasin dulu ah habis itu ngantri"
Kubuka kembali Al-Qur'anku menuju juz 22 surat Yasin. Dipertengahan surat terdengar suara yang memanggilku.
"Mbak Fathin! Mbak! Mbak Fathin!"
"Dalem"
"Mbak pean dikirim"
"Hah? Dikirim? Isuk temen? Sopo sing ngirim?"
"Gaeroh mbak wong lanang. Age temonono ndek kamar pengiriman mbak. Wonge ngenteni ndek kono"
"Iyo aku tak mrono"
Spoiler for Translate:


'Lanjutin nanti nggak papa kan?' gumamku.
Aku bergegas meletakkan Al-Qur'an dan melepas mukena lalu menuju ruang tamu.

"Assalamualikum"
"Wa alaikumsalam nduk!"
Aku terkejut. Lho,paman? Kok bukan kakakku?
"Oh, njenengan tah pak dhe. Kulo kinten sinten mruput temen. Badhe ngirim mbak Yati ta?"
"Ora Nduk. Aku ngirim awakmu"
Spoiler for Translate:

Hah? Aku terkejut untuk yang kedua kalinya.
"Awakmu dikon mulih saiki mbek emake Nduk. Emake seseke kumat"
Spoiler for Translate:

Sesak napas? Sejak kapan ibu punya penyakit itu?
"Lho tapi kulo sakniki ujian try out. Sakniki dinten terakhir"
"Wes pokoke mulih dikek. Emben ujiane iso nyusul"
Spoiler for Translate:

Aku terdiam beberapa saat. Separah itukah? Sampai-sampai ujianku harus ditunda?
"Njeh Pak dhe,kulo ijin riyen ten ndalem"
"Iyo Nduk"
Spoiler for Translate:

Sambil menuju kediaman Pengasuh Pesantren, aku tak henti-hentinya berfikir ada apa sebenarnya yang terjadi pada ibuku.

Setelah mendapat izin aku mengambil beberapa potong baju serta barang-barang yang kuperlukan.
"Rek, aku balek disek yo. Jagakne kamar. Ojo rame tok lo yo!"
"Siap mbak" jawab teman sekamarku serentak
Spoiler for Translate:

"Mbak,kok moro mulih? Enek opo?" tanya seorang temanku yang sangat akrab denganku. Dia sudah kuanggap adikku sendiri.
"Gaeroh aku yoan. Jarene emakku loro"
"Wala ngunu a mbak. Yowis mandar ndang waras emakke mbak"
"He em. Suwun yo. Aku moleh disek. Asslamualaikum"
"Wa alaikumsalam"
Spoiler for Translate:


Entah mengapa air mataku mengalir di pipi. Aku tak tahu apa sebabnya. Aku teringat wajah ibuku saat beliau sambang padaku di pesantren. Kenangan-kenangan indah yang muncul silih berganti terasa sangat jelas di pelupuk mata.
"Pak dhe, Emak mboten nopo-nopo o kan?" tanyaku dengan suara agak serak
"Iyo Nduk. Emakmu gak popo. Ojo nangis awakmu"
Spoiler for Translate:

Mendengar jawabannya, tangisanku semakin kuat namun masih bisa kutahan.
Satu setengah jam perjalanan yang membuatku takut. Takut tidak bisa bertemu lagi dengannya, takut dia akan meninggalkanku terlalu cepat. Namun segera ku buang jauh-jauh fikiran itu. 'ah,mikir apa sih aku. Ibuku baik-baik saja kok'

07.30
Di depan rumah sudah banyak tetanggaku berdiri menanti kedatanganku. Dan entah mengapa mereka menangis.

Seseorang berlari ke arahku dan memelukku dengan erat.
"Nduk, sing sabar yo Nak!"
Apa? Apa maksudnya?
"Opo seh? Onok opo iki? Kok rame-rame nok omahku? Endi Emak? Emakku loro jarene. Loro opo? Aku te nang Emak"
Spoiler for Translate:

Tangisan orang-orang semakin keras mendengar pertanyaanku.
Pamanku yang lain merangkulku. Sebut saja Cak Nur.
"Cak Nur, onok opo iki? Lapo seh kok nangis-nangis?" suaraku terdengar tercekat dengan nada tinggi.
Spoiler for Translate:

"Nduk,kabeh seng nok ndunyo iki Pengeran sing duwe. Awakdewe mek dititipi tok. Sing wis dijupuk yowis ben. Awakmu kudu sabar lan ikhlas"
"Ngomong opo seh samean Cak? Kok ngawur ngene?"
"Ayo Nduk tak tuntun. Alon-alon"
Spoiler for Translate:

Aku masuk ke dalam rumah. Aku tertegun. Jantungku seakan-akan berhenti berdetak. Nafasku tak beraturan. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku. Hal pertama yang aku lihat adalah jenazah yang sudah dibalut kain putih menghadap kiblat.
"Aaaaaaa..."
Aku menjerit sekuat yang kubisa. Aku merasa tubuhku sangat lemas sampai-sampai aku tidak bisa berdiri. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Aku tidak peduli pada orang-orang yang melihatku.
"Emaaaaak... Aaaaaaa..."
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
'Tidak! Ini bukan ibuku! Ini cuma akalan orang-orang saja! Ibuku belum mati. Ibuku cuma sakit dan dia akan lekas sembuh. Candaan kalian keterlaluan... Huhuhu... ' itu yang ada di fikiranku saat itu.

"Nduk,sing sabar yo Nak! Emakmu wis ganok"
"Enggak! Kowe goroh! Emakku hurung mati. Emak hurung matiiiii..."
Spoiler for Translate:

Aku mengambil apapun yang ada di dekatku lalu melemparkannya pada orang itu. Aku terus menjerit seperti orang gila.
Cak Nur membopongku masuk ke dalam kamar.
"Ngombe disek Nduk!" (minum dulu Nduk!)
Lalu aku meminum air yang diberikannya. Lama kelamaan tangisku mereda namun masih tidak bisa berhenti.
"Nduk,ikhlasno yo Nak! Emakmu wes budal disek. Emakmu pesen nang aku, awakmu sinauo sing tenan. Dadio wong pinter. Terusne sekolahe sampek cita-citamu ketekan"
Spoiler for Translate:

Aku hanya bisa menangis,menangis dan menangis tanpa mengucapkan sepatah kata.

'Aku harus bisa menerima kenyataan ini'

Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar. Aku ke ruang depan membaca surat Yasin bersama tetangga dan saudaraku.

Malam harinya ayahku menelpon.Ayahku tak di rumah. Dia berada jauh di negri orang. Berjuang mencari nafkah demi keluarga kami.
"Pak... Emak,Pak!"
Hanya itu yang bisa ku ucapkan. Aku tidak tahan. Aku menangis lagi. Aku tidak sanggup mendengar suara ayahku. Telepon yang ku genggam kuberikan pada kakakku. Aku terus saja menangis hingga aku tertidur.

3 hari kemudian aku kembali ke pesantren. Aku harus menyelesaikan ujianku karena tak lama lagi aku akan menjalani Ujian Nasional. Kedatanganku disambut dengan tangisan kawan-kawan. Kawan-kawan yang bisa merasakan betapa sakit dan perihnya hatiku. Kawan-kawan yang pasti ada untukku baik saat aku senang maupun sedih.
"Mbak, jangan sedih... Kami ada buat mbak... Mbak harus kuat ya..."
"Terima kasih kawan-kawan"

Setahun berlalu...
"Bapak... Aku ranking 1 lagi di kelas"
"Alhamdulillah... Anakku memang pintar. Adek minta hadiah apa dari bapak?"
"Enggak Pak. Aku nggak minta apa-apa. Yang penting tahun ini Bapak pulang dan kita bisa sama-sama lagi kayak dulu. Bapak jadi pulang kan? Bapak sudah janji..."
"Iya Nak. In shaa Allah, doakan bapakmu ini sehat selalu ya!"
"Iya Pak"
Telepon kututup.
"Dek, sebenarnya bapak lagi sakit. Doakan dia ya semoga lekas sembuh" kata kakakku. Ya, ayahku memang sering sakit-sakitan, sampai dia ambil cuti beberapa hari dari pekerjaannya.

Beberapa bulan kemudian peristiwa yang hampir sama terulang kembali. Sore hari sekitar jam 4 aku disusul oleh kakakku.
'Ya Allah, ada apa lagi ini?' benakku.

Setibanya di rumah...
"Dek, bapak... Bapak..."
"Bapak kenapa Kak?"
Kakakku langsung memelukku. Kami menangis bersama dalam waktu yang lama.
"Dek, bapak nggak bisa melawan penyakitnya... Dia nggak bisa dibawa pulang... Bapak dimakamkan di sana. Kita nggak punya cukup uang membawanya pulang. Abang yang mengurus semua proses pemakamannya"
Aku mengangguk. Jujur, aku sangat rindu Ayah. Aku hanya bersamanya saat aku masih kecil, dan itu hanya sampai aku berusia 3 tahun setengah. Ayah tidak pernah pulang. Aku rindu Ayah. Aku ingin sekali memeluknya, membuatkannya kopi tubruk kesukaannya, dan berbuka bersama dengan keluargaku semua.

Aku tahu, Ayah sayang kami. Ayah banting tulang memeras keringatnya cuma supaya kami anak-anaknya bisa hidup enak, makan enak, tidak dicibir tetangga karena kondisi ekonomi kami.

Kini usiaku 19 tahun dan ini adalah tahun ke-4 dimana aku dan kedua saudaraku menjalani ramadhan tanpa kedua orang tua.

Jika kalian bertanya sulit? Ya, ini sulit. Sangat sulit. Apalagi melihat teman-tamanku sungkem pada orang tua mereka di hari raya atau liburan bersama sekeluarga. Iri rasanya aku. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang seperti itu.

Namun aku harus kuat. Kakak-kakakku bisa bertahan, maka aku juga harus bisa. Aku akan buktikan bahwa aku adalah wanita kuat. Semua cobaan ini adalah bentuk dari kasih sayang Tuhan padaku.

Aku yakin ayah dan ibuku bahagia di surga sana melihat kami anak-anaknya bisa melewati cobaan yang berat ini.

Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada hamba dan keluarga hamba atas kepergian mereka berdua. Tempatkanlah mereka di tempat terbaik di sisi-Mu. Berikanlah mereka berdua ni'mat kubur yang kekal sampai hari kiamat tiba. Amin...

"Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya"

SEKIAN


[Based on true story]
Semangat nduk..selalu doakan ortunya.
Tuhan menguji hambaNya sesuai dengan batas kemampuannya.
Quote:


Terima kasih bang atas supportnya... dan terima kasih sudah mampir di thread saya😊😊
Bagus ceritanyaemoticon-2 Jempol
Quote:


Ma kasih baang emoticon-Malu
Ya allah, yang sabar ya mba.. Nangis aku baca nya.. Mba kuat pasti.. tetap semangat, allah selalu ada buat kita emoticon-thumbsup
Quote:


iya mbak.. makasih support dan kunjungannya mbak..😊😉