alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1dc02512e257c94b8b4567/indahnya-kalam-mu

Indahnya Kalam-Mu

Indahnya Kalam-Mu
Oleh Azizah Noor Qolam

Ayara, tak menyangka secepat ini Allah mengirim seseorang untuk menggantikan sosok pria yang dulu pernah hadir, namun menyisakan memori kelam dalam ingatannya. Sepuluh bulan kelam.

Sandra  mengajak adik sepupunya yang baru pulang berlayar dari negara sebrang untuk bertemu dengan Ayara, namanya Aldo Saputra.

Ayara dan Aldo sempat bertukar pesan sebelum pertemuan itu terjadi. Ia sudah menceritakan semua kisah pilunya di masa lalu, terutama statusnya saat ini. Jadi harapan dalam hatinya tak terlalu besar. Jika pria itu mau menerima apa adanya Ayara, dengan senang hati ia akan berusaha untuk membuka dirinya. Namun jika tidak, mungkin Aldo bukanlah takdirnya. Dan ia bisa kembali merangkai mimpi yang telah dirancang sebelumnya. Malah sebenarnya, tak ada niatan sekali pun untuk menikah lagi. Tapi semua pemikiran itu salah.

Pukul sembilan pagi, Sandara dan Aldo  datang ke rumah Ayara. Dengan debaran jantung yang tak menentu, ia coba menatap sosok laki-laki yang ada di samping sahabatnya itu. Debaran ini, bukan debaran karena cinta. Namun lebih karena ia takut harus membuka tabir luka yang dengan susah payah dikubur dalam-dalam. Kini semua harus teerkuak kembali.

“Silahkan, duduk! Sebentar saya ambil air minum dulu,” setelah memastikan tamu duduk. Ayara langsung melangkahkan kaki ke dapur, kebetulan ibu ada di dapur. Jadi sekalian saja ia memberi tahu ibu. Jika laki-laki yang ingin mengenalnya sudah datang.

Ayara kembali membawa nampan berisi empat gelas air dan sepiring camilan. Sang ibu mengekori dari belakang. Tanpa basa basi, Sandra dengan gamblang memperkenalkan Aldo pada ibu. Dan menyatakan maksud kedatangan mereka berdua. Ibu mendengarkan dengan seksama, sedangkan Ayara hanya diam menundukkan kepala. Dia tak berharap banyak tentang pertemuan ini. Namun ternyata, harapan itu tetap ada meskipun sedikit.

Setelah Sandra selesai berbicara, sekarang giliran ibunya yang berbicara. Ibu menghela napas, kemudian mengalirlah cerita pahit tentang biduk rumah tangga sang anak selama hampir satu tahun, dan terpaksa harus berakhir. Ayara bersyukur tak ada anak yang terlahir dari rahimnya dari pernikahan dulu.

Namun ternyata, hal itulah yang menjadi masalah bagi Aldo, tidak meneruskan taaruf. Karena setelah pertemuan itu, Aldo menghubunginya, dan menyatakan bahwa dia datang ke rumahnya tanpa sepengetahuan kedua orangtua. Dan dapat dipastikan orangtua Aldo tidak menyetujui, jika anaknya menikahi wanita yang berstatus janda. Ditambah waktu di rumah, Ayara sempat mendengar dia sedang menghitung masa-masa kehamilan. Mungkin dalam pikirinnya dalam jangka waktu hampir setahun harusnya sudah ada anak dalam pernikahannya dulu.

 “Allah, aku percaya. Jika Engkau mmberikan aku kesempatan untuk bertemu dengan imam keduaku. Maka Engkau akan mempertemukan aku di waktu yang tepat. Kini tinggal saatnya aku untuk memperbaiki diri mnjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Agar Kau mempertemukan aku dengan laki-laki yang lebih baik dari sebelumnya,”
Indahnya Kalam-Mu


Quote:


emoticon-Sorryemoticon-Sorryemoticon-Sorry

Setahun berlalu sejak pertemuan dengan Aldo. Ayara kembali dengan rutinitas dan aktifitas seperti biasa. Bahkan di dunia literasi ia mulai berkenalan dengan beberapa penulis dan dikenal orang banyak. Salahsatunya dengan masuk ke dalam beberapa grup kepenulisan. Hingga tanpa sengaja Ayara melihat brosur di facebook yang mengadakan seminar workshop kepeulisan nasional dengan narasumber Bunda Asma Nadia dan Pak Isa Alamsyah serta beberapa narasumber lainnya. Hati Ayara seakan tergerak untuk ikut acara itu, sayang acara diadakan di Jakarta. Tapi jarak tak menyulutkan keinginannya untuk ikut dalam acara itu. dengan modal nekad. Akhirnya ia mendaftarkan diri dengan biaya yang tidak sedikit. 



“Bu, Ayara ingin membicarakan sesuatu,” dengan perasaan tak karuan Ayara memberanikan diri untuk meminta izin pada ibunya untuk berangkat ke Jakarta hari sabtu besok.




“Ada apa? Sepertinya penting.”




“Bolehkah Ayara pergi ke Jakarta besok? Ayara sudah daftar dan membayar biaya untuk mengikuti acara seminar bunda Asma.”




Ibu yang mendengarkan penuturan Ayara terdiam sejenak,”Kamu pergi sama siapa?” raut khawatir terlihat jelas diwajahnya.




“Mungkin kalo Kang Andika jadi ikut, Ayara bareng dia. Tapi kalo nggak jadi Ayara pergi dulu ke Cianjur bareng teman-teman di sana.”




“Cianjur? Kamu kan belum pernah kesana Ayara. Bagaimana kalau kamu nyasar?”




“In Sya Allah nggak, Bu. Kan Kang Andika bakal ngehubungi temennya dulu. Yang penting doa ibu untuk keselamatan Ayara. In Sya Allah Ayara akan baik-baik aja dan selamat sampai tujuan.” Ayara memegang tangan sang ibu, agar tidak merasa gelisah.




“Baiklah kalau begitu, ibu izinkan kamu pergi. Tunggu sebentar!” Ibu melangkahkan kaki ke kamar. Tak sampai lima menit, ibu keluar lagi,”ini untuk ongkos kamu pergi kesana,” ibu menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan padanya.




“Terimakasih, Bu. Kalau begitu Ayara mau siap-siap. Kemungkinan Ayara akan nginep. Soalnya acaranya hari minggu. Dan Ayara akan pulang hari seninnya.”




Ibu menganggukkan kepala sambil mengelus kepala Ayara. Ia pun beranjak menuju kamar untuk siap-siap.


Indahnya Kalam-Mu


emoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss

Percayalah jika kedua orangtua merestui apa yang dilakukan anaknya, selagi itu positif. Segalanya akan terasa mudah. Dan semua itu terbukti, ketika Ayara mengikuti seminar nasional kemarin. Selain pengalaman dan bertemu langsung dengan penulis bestseller Bunda Asma, Pak Isa, Bunda Helvy, dan sutradara pembuat film dan skenario. Ia juga berkesempatan berfotho dengan mereka. Plus mendapatkan teman baru dari daerah Cianjur. 



            Yang tak disangka-sangka Ayara di masukan ke dalam grup Whatsapp Rumah baca Asma Nadia yang dikelola oleh Kang Lutfi. Kang Lutfi ini adalah teman Kang Andika.

            Beberapa bulan setelah acara seminar berlalu, tak disangka-sangka Kang Lutfi menghubungi Ayara. Menanyakan tentang hal yang pribadinya. Terutama tentang pernikahan. Kang Lutfi sudah tahu kalau ia sudah menikah. Namun karena teman-teman selalu menanyakan perihal pernikahannya, dan hal itu membuat luka lama terkuak kembali. Mau tidak mau, ia harus menceritakan statusnya pada kang lutfi, biar tak ada lagi yang menanyakan tentang hal itu.

Namun siapa sangka, setelah Ayara menceritakan masalah itu. Kang Lutfi mengirim pesan, bahwa ada temannya yang mau taarufan dengannya. Kebetulan juga bulan depan dia dan teman-temannya itu akan datang ke Garut untuk mengadakan silahturahim sekalian mempertemukan kami berdua.

Ayara hanya mengiyakan saja, tanpa menyimpan harapan terlalu besar. Ia takut akan kecewa seperti pertemuannya dengan Aldo dulu.
emoticon-Keep Posting Ganemoticon-Travelleremoticon-Travelleremoticon-Traveller

Pria yang diperkenalkan untuk taarufan dengan Ayara bernama Izal Zakaria. Saat itu kami bertemu tak hanya bertiga. Tapi juga bersama dengan Kang Lutfi, Asdan, Ghani, dan juga Ibu.

Ayara kira, Kang Lutfi sudah membicarakan kondisi dan status dirinya pada Izal. Ternyata tidak. Pria itu baru tau setelah mendengar cerita dari ibu.

Ah, rasanya mengingat masa itu membuat lukanya kembali menganga. Namun inilah jalan yang terbaik. Diterima ataupun tidak itu tak jadi masalah. Yang penting tak ada yang ditutupi olehnya. Dan Ayara selalu menyakini apa yang Allah janjikan pasti akan terjadi dan ia percaya suatu hari nanti apapun yang terjadi itu adalah yang terbaik. Yang pasti mempersiapkan dan memperbaiki diri yang akan ia terus lakukan.


emoticon-Ultahemoticon-Ultahemoticon-Ultah



Ayara mengira Izal akan mundur dan menolaknya seperti pria yang sudah-sudah. Namun ternyata gayung pun bersambut. Ia, Kang Lutfi dan juga kakaknya datang ke rumah lagi untuk mengkhitbahnya. Betapa hati Ayara merasa tersanjung. Ternyata ada juga yang mau menerima dirinya apa adanya. Tanpa mempermasalahkan tentang hamil atau tidaknya.

Akhirnya dua bulan kemudian Ayara dan Izal pun melangsungkan pernikahan. Tak adanya yang istimewa. Acara pernikahan sederhana, namun begitu khitmad. Meskipun kedatangan mempelai pria terlambat karena terjebak banjir. Tapi semuanya berjalan dengan lancar.


Indahnya Kalam-Mu


Izal memboyong Ayara ke kampung halamannya. Tempat tinggalnya berada di pelosok dan dikelilingi oleh hamparan-hamparan sawah yang menghijau. Awal menjalani rutinitas di sini sangat menyulitkan. Karena penerangan rumah pun masih menggunakan kincir air. Terkadang siang hari tak ada penerangan. Belum lagi bahan masakan yang sulit di dapat. Hingga kami berdua makan seadanya, plus masak pun masih menggunakan kayu bakar. 



Semua itu tak membuat Ayara menyerah, ia berusaha untuk menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Semoga apa yang dilakukannya bisa berbuah surga suatu saat nanti. Karena tujuannya menerima pinangan Izal adalah karena-Nya.



Waktu terus bergulir, hingga tak terasa kami berdua sudah menjalani bahtera rumah tangga selama 8 bulan. Ayara sudah terbiasa dengan keadaan di kampung ini. Namun ada salah satu keluarga Izal yang mempertanyakan tentang keadaannya yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan.



Sedih sudah pasti Ayara rasakan. Doa dan usaha telah dilakukan. Bahkan ketika sempat terlambat datang bulan, ia selalu membeli testpack. Hingga lama kelamaan trauma akan testpack mulai menghantuinya. Ia tak mau lagi menggunakan testpack. Karena hasilnya negatif terus.



Memiliki keturunan bukanlah kuasa Ayara. Ia tak bisa apa-apa jika Allah belum berkehendak. Yang terpenting ia sudah memeriksakan diri dan rahimnya pun baik-baik saja. Ayara jadi ingat salah satu ayat Allah yang berkata:”Aku memberikan anak laki-laki kepada yang aku kehendaki, dan aku memberikan anak perempuan kepada yang aku kehendaki. Dan aku tidak memberikan keturunan kepada yang aku kehendaki.”



Dari ayat itu, Ayara sadar. Bahwa keturunan adalah kuasa-Nya. Yang dia lakukan hanya berdoa, berusaha, dan juga menyerahkan semuanya pada pemilik  kuasa yaitu Allah.



Jika suatu saat Allah tidak memberikannya keturunan, Ia tidak pernah sendiri. Siti Aisyah pun tidak memiliki keturunan dari Rasulullah. Dan itu bisa menjadi pelajaran yang bisa Ayara petik.



“Mas, beri aku waktu tiga tahun. Jika dalam waktu tiga tahun itu, aku belum juga hamil. Aku ikhlas jika Mas Izal menikah lagi,” meski sakit Ayara harus mengatakannya. Karena kata-kata mandul yang mantan suaminya katakan. Masih menghantui. Hingga membuatnya takut. Ia berkata seperti itu juga agar hatinya tidak terluka. Dan ia bisa bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang ada.



“Jangan menyerah dulu. Yang terpenting sekarang kamu tidak boleh banyak pikiran. Apa yang sudah terjadi di masa lalu, biarlah menjadi pelajaran. Kita tak bisa memperbaiki masa lalu. Maka masa depanlah yang harus kita jalani. Tak sepenuhnya penyebab ada di kamu. Mungkin Mas juga terlalu cape. Kita sama-sama berdoa saja, ya!” Izal yang paham akan sisa trauma yang istrinya alami, berusaha untuk meyakinkannya.



Mendengar ucapan suaminya, hati Ayara merasa teraliri air yang begitu sejuk. Ia bersyukur Allah mempertemukannya dengan Mas Izal. Yang notabene umurnya lebih mda dua tahun darinya. Namun dia begitu pengertian dan perhatian padanya.


Quote:



***


 Sudah hampir satu minggu ini Ayara merasakan mual-mual dan kepala terasa pusing. Ia kira masuk angin. Tapi makin hari intensitas mualnya semakin menjadi-jadi. Dua hari yang lalu Mas Izal mengajaknya untuk berobat. Ayara menolak, dengan alassan mungkin besok juga sembuh. Malah Mas Izal menyarankan untuk pake testpack, soalnya sudah beberapa minggu Ayara telat datang bulan. Ia tidak mau karena takut hasilnya mengecewakan Mas Izal.


Karena sudah tidak kuat lagi, setiap pagi harus menahan mual. Akhirnya Ayara mengajak Mas Izal untuk memeriksakan diri. Mas Izal mengajak ke bidan. Dengan detak jantung yang berdebar. Ia memberanikan diri. Apapun hasillnya nanti, itu yang terbaik. Ia menghela napas panjang ketika seorang bidan duduk di hadapannya.



“Ada yang bisa saya bantu? Mau pasang KB atau mau periksa?” tanya ibu bidan.



“Saya mau periksa, Bu. Sudah hampir satu minggu mual terus, kepala juga sedikit pusing,” Ayara menjelaskan apa yang dirasakan oleh tubuhnya.



“Sudah datang bulan belum?”



“Belum.”



“Kita testpack dulu ya! Coba ibu ke kamar mandi, air seninya simpan di gelas kecil ini. kamar mandinya sebelah sana!” Ibu bidan menunjukkan arah kamar mandi.



Ayara menatap Mas Izal, harap-harap cemas. Mas Izal hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.

Setelah ia menyimpan air senin di gelas kecil. Ibu bidan memasukkan alat testpack ke dalam gelas. Setelah itu menyuruh Ayara membuang air seni itu dan cuci tangan. Lalu ibu bidan kembali masuk ke ruangan tempat pemeriksaan tadi.

Ayara duduk kembali di kursi semula.



“Ibu, selamat atas kehamilannya,” Ibu Bidan memperlihatkan hasil testpack yang menunjukkan dua garis merah,”mual dan pusing itu memang sering terjadi pada awal-awal kehamilan. Paling ibu harus banyak makanan yang menambah darah. Soalnya darah ibu kurang. Kalo nggak masuk nasi, bisa diganti dengan umbi-umbian atau roti. Buah-buahan yang tidak boleh dikonsumsi nanas sama anggur ya, Bu. Ini saya kasih buku kontrolnya dan juga vitamin,” ibu bidan mengambil obat dan juga buku.



Ayara masih diam terpaku. Ia masih belum percaya dengan apa yang dijelaskan Ibu Bidan. Ia menatap Mas Izal yang sama-sama terkejut. Tak menyangka.



“Kandungnya berusia berapa bu?”



“Kalo dihitung dari haid terakhir, sekitar 6 mingguan. Ini buku sama obatnya. Di jaga baik-baik ya, Bu. Sekali lagi selamat!” senyum indah tersemat di bibir ibu Bidan.



“Terimakasih, Bu. Kami permisi. Assalamu’alaikum ...”



Ayara dan Mas Izal pergi meninggalkan ruang pemeriksaan dengan perasaan yang sama-sama tidak bisa terlukiskan.



Ayara jadi ingat salah satu ayat Allah yang berkata:”Aku memberikan anak laki-laki kepada yang aku kehendaki, dan aku memberikan anak perempuan kepada yang aku kehendaki. Dan aku tidak memberikan keturunan kepada yang aku kehendaki.”





“Terimakasih atas semua yang telah Engkau berikan. Ketakutanku ternyata tak beralasan sama sekali. Dan ternyata kepasrahan, doa dan ikhtiarku berbuah manis. Engkau membuktikan bahwa kata-kata mandul yang mantan suamiku katakan tidaklah benar,” Ayara tak henti-hentinya mengucap syukur dengan lelehan air mata kebahagiaan.

Quote:


 

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di