alexa-tracking

Jangan Golput, Jadi Saksi Tonggak Sejarah Baru di Sumatera Utara

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1cbae3ddd770af4e8b4579/jangan-golput-jadi-saksi-tonggak-sejarah-baru-di-sumatera-utara
Jangan Golput, Jadi Saksi Tonggak Sejarah Baru di Sumatera Utara
Jangan Golput, Jadi Saksi Tonggak Sejarah Baru di Sumatera Utara

Medan, Pilgub Sumut kali ini akan sangat menarik. Ada 2 hal yg menjadi faktornya. Pertama, munculnya nama Djarot yg diusung PDIP. Kedua, sejak pilgub 2008 dan 2013, Golput selalu jadi “pemenang” di provinsi ini.
Kita lihat dulu yang kedua, tentang golput. Golput sudah menang mengalahkan kandidat lain di pilgub sumut 2008 dengan capaian 43 persen, Golput ini terus menanjak naik menjadi 51,5 persen pada Pilgub Sumut 2013.

Bahkan di Kota Medan, dimana kaum kelas menengah terbesar provinsi sumut berada, angkanya bahkan mencapai 63,3 persen.

Luar biasa muaknya orang Medan terhadap Pilgub Sumut 2013. Lalu bagaimana dengan Pilgub Sumut 2018?

KPUD Sumut menargetkan angka partisipasi Pilgub Sumut 2018 mencapai 95 persen. Tanpa sama sekali menjelaskan strategi-strategi yang jelas untuk mencapai angka tersebut. Sepertinya, peluang Golput kembali memenangkan Pilgub Sumut 2018 sudah terlihat jelas. Tambahan lagi, pendukung Tengku Erry yang kecewa, kemungkinan besar ikut memperbesar suara yang Golput.

Sekarang kita bahas yang pertama, Djarot, Beliau udah 2 periode menjadi wali kota Blitar (2000 – 2010) dan Wakil Gubernur DKI (2014-2017). Beliau bukan putera daerah Sumut. Ber-etnis Jawa. Bergaya flamboyan, (PDIP) memboyongnya menjadi cagub Pilgub Sumut 2018.

Kedua Edy Rahmayadi beliau dari Militer, galak, berwibawa. diusung oleh PKS. Deputi Bidang Pemantapan Nilai Kebangsaan, LEMHANAS RI (2013)

Panglima Divisi Infanteri I, Kostrad (2014). Panglima Kodam I/Bukit Barisan (2015), Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (2015-sekarang), Ketua Umum PSSI (2016 - 2020).

Berdasarkan sensus 2015, dari 10 juta lebih DPT provinsi SUMUT, ada etnis Jawa 32,63persen batak toba 22,3persen Mandailing 9,5persen Nias 6,36 persen Karo 5,5 persen, Melayu 4,92 persen, Tionghoa 3,07 persen, Minangkabau 2,66 persen. Dari sini saja bisa kelihatan, seberapa besar suara yang mungkin diraih oleh Djarot dan Edy. Belum lagi sebagian suara dari etnis Batak Toba, Mandailing dan Karo.

Orang Sumut masih ingat jelas bagaimana para gubernur mereka satu per satu, bergantian, ditangkap oleh KPK. Dan semuanya putera daerah. Bahkan, Gubernur Sumut yang terakhir ke penjara justru dari partai yang berlandaskan Islam, partai dakwah, PKS. Ini sangat ironis. Rasanya harapan itu mulai hilang.

Beberapa warga Kota Medan yang berprofesi sebagai tukang becak motor, satpam, sopir ojek online, warung rokok, dan lain-lain. Mereka lebih memilih Djarot. Alasannya sederhana, bosan dengan korupsi putera daerah, sekalian saja ambil dari luar daerah. Seperti Jokowi yang dari Solo dikirim ke Jakarta, hasilnya justru bagus buat warga Jakarta.

Bagaimana dengan Edy Rahmayadi?


Hal menarik berikutnya adalah Djarot mengumandangkan slogan baru SUMUT: Semua Urusan Mudah dan Transparan. Ini sangat bertolak belakang dengan terminologi yang selama ini berkembang, SUMUT: Semua Urusan Mesti Uang Tunai. Bila Djarot meyakinkan bahwa korupsi di kalangan pejabat Sumut bisa hilang, sepertinya suara Golput bisa tergerus.
×