alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Yudi Latif Mundur daru BPIP, Said Didu: Ikan Koi Tak Bisa Hidup di Air Keruh
3.25 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1a2ac654c07a551c8b4572/yudi-latif-mundur-daru-bpip-said-didu-ikan-koi-tak-bisa-hidup-di-air-keruh

Yudi Latif Mundur daru BPIP, Said Didu: Ikan Koi Tak Bisa Hidup di Air Keruh

TRIBUNWOW.COM - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif mendadak mengajukan pengunduran diri.

Pengumuman pengunduran dirinya tersebut dituliskan di lama Facebook, Jumat (8/6/2018).

Yudi pun turut memberikan alasan mengapa dirinya memutuskan untuk mundur dari BPIP.

"Saya merasa, perlu ada pemimpin-pemimpin baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

Harus ada daun-daun yang gugur demi memberi kesempatan bagi tunas-tunas baru untuk bangkit.

Sekarang, manakala proses transisi kelembagaan menuju BPIP hampir tuntas, adalah momen yang tepat untuk penyegaran kepemimpinan," tulisnya.

Kabar mundurnya Yudi Latif tentunya menjadi sorotan beberapa tokoh.

Salah satu tokoh yang bersuara masalah mundurnya Yudi Latif adalah Muhammad Said Didu.

Mantan Staf Khusus Menteri ESDM menyatakan jika Yudi Latif memang tak cocok berada di BPIP.

Ia mengibaratkan seperti sebuah ikan yang tak cocok di beberapa kolam.

"Ikan koi tidak akan bisa hidup di kolam yang airnya yang butek/keruh," tulisnya.


Selain Said Didu, Pengamata Hukum Tarta Negara, Refly Harun juga mengungkapkan analisisinya.

Ia tak kaget dengan mundurnya Yudi lantaran, ia mengenal Yudi sebagai orang moralis yang tak akan tahan hidup di BPIP.

"Yudi Latief mundur? Sy tak kaget. Seorang moralis sprt dia tak akan betah berlama-lama di suatu lembaga semacam BPIP, yg bagi sy sendiri memang tak dibutuhkan. Pancasila hrs hidup dr masy scr bottom up, tdk top down dr negara. Negara cukup memberi contoh baik. Salut Yudi," tulis dia.


Berikut isi surat lengkap pengunduran diri Yudi Latif

TERIMA KASIH, MOHON PAMIT

Salam Pancasila!
Saudara-saudaraku yang budiman,
Hari kemarin (Kamis, 07 Juni 2018), tepat satu tahun saya, Yudi Latif, memangku jabatan sebagai Kepala (Pelaksana) Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP)--yang sejak Februari 2018 bertransformasi menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Selama setahun itu, terlalu sedikit yang telah kami kerjakan untuk persoalan yang teramat besar.

Lembaga penyemai Pancasila ini baru menggunakan anggaran negara untuk program sekitar 7 milyar rupiah. Mengapa? Kami (Pengarah dan Kepala Pelaksana) dilantik pada 7 Juni 2017.

Tak lama kemudian memasuki masa libur lebaran, dan baru memiliki 3 orang Deputi pada bulan Juli.

Tahun anggaran telah berjalan, dan sumber pembiayaan harus diajukan lewat APBNP, dengan menginduk pada Sekretaris Kabinet.

Anggaran baru turun pada awal November, dan pada 15 Desember penggunaan anggaran Kementerian/Lembaga harus berakhir.

Praktis, kami hanya punya waktu satu bulan untuk menggunakan anggaran negara.

Adapun anggaran untuk tahun 2018, sampai saat ini belum turun.

Selain itu, kewenangan UKP-PIP berdasarkan Perpres juga hampir tidak memiliki kewenangan eksekusi secara langsung.

Apalagi dengan anggaran yang menginduk pada salah satu kedeputian di Seskab, kinerja UKP-PIP dinilai dari rekomendasi yang diberikan kepada Presiden.

Kemampuan mengoptimalkan kreasi tenaga pun terbatas.

Setelah setahun bekerja, seluruh personil di jajaran Dewan Pengarah dan Pelaksana belum mendapatkan hak keuangan.

Mengapa? Karena menunggu Perpres tentang hak keuangan ditandatangani Presiden.

Perpres tentang hal ini tak kunjung keluar, barangkali karena adanya pikiran yang berkembang di rapat-rapat Dewan Pengarah, untuk mengubah bentuk kelembagaan dari Unit Kerja Presiden menjadi Badan tersendiri. Mengingat keterbatasan kewenangan lembaga yang telah disebutkan.

Dan ternyata, perubahan dari UKP-PIP menjadi BPIP memakan waktu yang lama, karena berbagai prosedur yang harus dilalui.

Dengan mengatakan kendala-kendala tersebut tidaklah berarti tidak ada yang kami kerjakan.

Terima kasih besar pada keswadayaan inisiatif masyarakat dan lembaga pemerintahan.

Setiap hari ada saja kegiatan kami di seluruh pelosok tanan air; bahkan seringkali kami tak mengenal waktu libur.
Kepadatan kegiatan ini dikerjakan dengan menjalin kerjasama dengan inisiatif komunitas masyarakat dan Kementerian/Lembaga.

Suasana seperti itulah yang meyakinkan kami bahwa rasa tanggung jawab untuk secara gotong-royong menghidupkan Pancasila merupakan kekuatan positif yang membangkitkan optimisme.

Eksistensi UKP-PIP/BPIP berhasil bukan karena banyaknya klaim kegiatan yang dilakukan dengan bendera UKP-PIP/BPIP.

Melainkan, ketika inisiatif program pembudayaan Pancasila oleh lembaga kenegaraan dan masyarakat bermekaran, meski tanpa keterlibatan dan bantuan UKP-PIP/BPIP.

Untuk itu, dari lubuk hati yang terdalam, kami ingin mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya atas partisipasi semua pihak dalam mengarusutamakan kembali Pancasila dalam kehidupan publik.

Selanjutnya, harus dikatakan bahwa transformasi dari UKP-PIP menjadi BPIP membawa perubahan besar pada struktur organisasi, peran dan fungsi lembaga.

Juga dalam relasi antara Dewan Pengarah dan Pelaksana.
Semuanya itu memerlukan tipe kecakapan, kepribadian serta perhatian dan tanggung jawab yang berbeda.

Saya merasa, perlu ada pemimpin-pemimpin baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

Harus ada daun-daun yang gugur demi memberi kesempatan bagi tunas-tunas baru untuk bangkit.

Sekarang, manakala proses transisi kelembagaan menuju BPIP hampir tuntas, adalah momen yang tepat untuk penyegaran kepemimpinan.

Pada titik ini, dari kesadaran penuh harus saya akui bahwa segala kekurangan dan kesalahan lembaga ini selama setahun lamanya merupakan tanggung jawab saya selaku Kepala Pelaksana.

Untuk itu, dengan segala kerendahan hati saya ingin menghaturkan permohonan maaf pada seluruh rakyat Indonesia.

Pada segenap tim UKP-PIP/BPIP yang dengan gigih, bahu-membahu mengibarkan panji Pancasila, meski dengan segala keterbatasan dan kesulitan yang ada, apresiasi dan rasa terima kasih sepantasnya saya haturkan.

Saya mohon pamit. "Segala yang lenyap adalah kebutuhan bagi yang lain, (itu sebabnya kita bergiliran lahir dan mati). seperti gelembung-gelembung di laut berasal, mereka muncul, kemudian pecah, dan kepada laut mereka kembali" (Alexander Pope, An Essay on Man).

Salam takzim,
Yudi Latif (*)

http://wow.tribunnews.com/amp/2018/06/08/yudi-latif-mundur-daru-bpip-said-didu-ikan-koi-tak-bisa-hidup-di-air-keruh

Ikan koi di air keruh ya bisa mabok terus mati.
Cuman cebong aja yang bisa hidup di air keruh. Bener juga perumpamaannya
emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
Urutan Terlama
YAH APAPUN ITU, HIDUP PANCASILA!!!

tumpas radikalisme, pro khilafah , dan antek2nya.

emoticon-Recommended Seller
cebong mulu kpn jd lele nya
Hanya cebong yg bisa hidup di air keruh sisa kobokan kaki megatron

emoticon-Ultah
BPIP ditinggal Yudi Latief hmmh...

Semoga para penguasa, para pejuang Pancasila memiliki kepekaan yang tinggi dalam mengaktualisasikan Pancasila.

Harus ada daun-daun yang gugur demi memberi kesempatan bagi tunas-tunas baru untuk bangkit.

lu nyindir pentolannya ya? uda kering x coklat di remes ancur emoticon-Ngakak
Ikan piranha bisa hidup di air keruh kali ya

Cebong juga
Kalo hidup di air bekas kobokan pasti bisa, kecebong

Quote:


Tapi mereka perlu dilestarikan gan wong anak yang punya pancasila dan punya negara lho.
Wajar di santuni gede kata Mahfud MD mah
emoticon-Big Grin


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di