alexa-tracking

Indonesia Waspadai Ancaman Penyakit Infeksi Emerging

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b18dacb162ec2b3168b456d/indonesia-waspadai-ancaman-penyakit-infeksi-emerging
Indonesia Waspadai Ancaman Penyakit Infeksi Emerging
[img][/img]

JPP, JAKARTA - Di Indonesia, selama 11 tahun terakhir, 167 orang meninggal karena flu burung, dari 199 orang yang tertular virus H5N1, di 15 provinsi dan 58 Kabupaten/Kota.

“Kesehatan lingkungan berpengaruh pada kesehatan manusia dan hewan khususnya satwa liar. Data WHO menyebutkan setiap tahun lebih dari 12 juta orang meninggal di seluruh dunia karena lingkungan yang tidak sehat,” tutur Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian LIngkungan Hidup dan Kehutanan Indra Eksploitasia.

Berada di posisi ke dua sebagai negara dengan kekayaan hayati dan keanekaragaman jenis fauna di dunia, Indonesia rentan terhadap ancaman zoonosis. Interaksi antara manusia, hewan dan lingkungan hidup menjadi salah satu faktor munculnya PIE di Indonesia.

“Salah satu kondisi yang meningkatkan risiko munculnya penyakit zoonosis adalah alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman atau perkebunan. Hal ini akan mengakibatkan interaksi antara satwa liar dengan manusia serta ternak akan semakin tinggi sedangkan menurut penelitian menyatakan bahwa reservoir penyakit zoonosis paling tinggi ada di satwa liar seperti burung migran, kelelawar, monyet ekor panjang dan tikus,” begitu penuturan Kasubdit Keamanan Hayati Dit KKH Ditjen KSDAE KLHK Lulu Agustina.

Lu'lu menambahkan, perilaku manusia dan faktor demografi juga dapat mempengaruhi epidemiologi zoonosis yang berasal dari satwa liar. “Berburu dan mengkonsumsi daging satwa liar dapat meningkatkan risiko tertular penyakit zoonosis,” imbuhnya.



Kerja Sama Usaid

Untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah Indonesia dalam mencegah dan mengurangi dampak penyakit infeksi emerging (PIE) dan zoonosis, Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan , Kementerian Pertanian, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) melalui program Emerging Pandemic Threats (EPT)2, menerapkan pendekatan One Health.

Pendekatan One Health merupakan upaya terintegrasi dari lintas disiplin ilmu dan institusi, dilaksanakan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global, untuk mencapai kesehatan yang optimal bagi masyarakat, hewan dan lingkungannya. One Health mengakui, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan hidup saling terkait. 

Program EPT2 menerapkan pendekatan One Health melalui kegiatan peningkatan kapasitas, penguatan sistem surveilans, riset, penerapan panduan koordinasi lintas sektor, dan penanganan kasus bersama. 

Sampai pertengahan 2018, Pemerintah Indonesia telah memiliki 32 modul kurikulum pendekatan One Health untuk PIE dan zoonosis, panduan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi kejadian luar biasa (KLB), wabah zoonosis dan PIE dengan pendekatan One Health, 74 pelatih utama dan 267 petugas lapangan terlatih. 



Penerapan One Health 

Pemerintah Kabupaten Boyolali menerapkan pendekatan One Health untuk menangani 22 kasus dugaan rabies yang disebabkan gigitan anjing dan monyet ekor Panjang (Macaca Fascicularis) pada Januari-Oktober 2017. 

Komunikasi dan koordinasi lintas sektor dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan serta Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali berhasil menanggulangi kasus ini. Khusus sektor lingkungan hidup, Kementerian LHK telah memperkuat sistem surveilans dengan meluncurkan sehatsatli (http://sehatsatli.menlhk.go.id). 

Sehatsatli adalah satu sistem informasi pelaporan kejadian pada satwa liar berbasis web. Sistem ini menjadi langkah awal investigasi pada dugaan kasus penyakit zoonosis yang bersumber dari satwa liar.

Sementara itu, Direktur Kantor Kesehatan USAID Indonesia Jonathan Ross menyebutkan, berbagai faktor seperti peningkatan populasi masyarakat, perubahan habitat tempat tinggal hewan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan dan globalisasi, menjadikan Indonesia rentan terhadap PIE.  “Untuk mencegah dan mengendalikan Penyakit Infeksi Emerging atau PIE, diperlukan kerja sama dari pemangku kepentingan multisektor,” kata Jonathan.

Lebih jauh Jonathan mengatakan, keberhasilan di Boyolali adalah bukti nyata bahwa kerja sama multisektor berperan penting dalam pencegahan PIE. "Amerika Serikat bangga bisa bermitra dengan Indonesia dalam hal ini,” tambahnya.

Program USAID EPT2 adalah kolaborasi antara pemerintah Indonesia dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO), Badan PBB untuk Pangan dan Pertanian (UNFAO), PREDICT-2 (dipimpin oleh Institut Pertanian Bogor dan Lembaga Eijkman), Preparedness and Response, One Health Workforce (dipimpin oleh jaringan universitas One Health di Indonesia atau INDOHUN), Palang Merah Indonesia (PMI) dan The International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) untuk mencegah, mendeteksi serta merespon PIE dan zoonosis. (lhk)


Sumber : https://jpp.go.id/teknologi/lingkung...feksi-emerging

---

Kumpulan Berita Terkait TEKNOLOGI :

- Indonesia Waspadai Ancaman Penyakit Infeksi Emerging Opini WTP Kementerian Kominfo Merupakan Hasil Kerja Kolaboratif

- Indonesia Waspadai Ancaman Penyakit Infeksi Emerging Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Bulan Ramadan, Saatnya Adil pada Lingkungan

- Indonesia Waspadai Ancaman Penyakit Infeksi Emerging Indonesia Tegaskan Komitmen Kesetaraan Gender dan Tolak Pelecehan di Tempat Kerja

×