alexa-tracking

Awasi Radikalisme di Kampus, Menristekdikti: Tak Renggut Kebebasan Mahasiswa

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b18b166162ec2d52c8b4567/awasi-radikalisme-di-kampus-menristekdikti-tak-renggut-kebebasan-mahasiswa
Awasi Radikalisme di Kampus, Menristekdikti: Tak Renggut Kebebasan Mahasiswa
Awasi Radikalisme di Kampus, Menristekdikti: Tak Renggut Kebebasan Mahasiswa
Jakarta – Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasirmengatakan pihaknya akan fokus mengawasi kampus dengan mempelajari model-model kegiatan yang rawan disusupi bibit radikalisme. Nasir menegaskan pengawasan ini tidak bermaksud merenggut kebebasan mahasiswa.


“Yang paling penting bagaimana memahami munculnya radikalisme dalam kampus dan model-model seperti apa yang bakal terjadi,” kata Nasir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (6/6/2018).

Oleh karenanya, Kemenristekdikti akan fokus pada pengawasan kegiatan kampus maupun media sosial. Dalam pengawasan itu pihaknya juga akan memberikan panduan tentang batasan dalam kegiatan di kampus.

“Bukan masalah ngajar dan saya rasa semuanya sama. Ada pengawasan di organisasi, majelis dakwahnya atau media sosialnya. Nanti akan dikasih rambu-rambu apa cara yang akan dilakukan dan saya akan bekerja sama dengan BNPT,” ujar Nasir.

Dalam pengawasan ini, dia menegaskan bukan bermaksud merenggut kebebasan mahasiswa. Dia mencontohkan dirinya dulu pernah mempelajari tentang paham komunis yang dilarang di Indonesia. Asal sesuai koridor dan masih dalam ranah akademik tak ada masalah.


“Kami bukan memberantas kebebasan. Kebebasan berjalan terus. Acara acara yang lain apakah boleh, ya silakan. Contoh kemarin ada salah satu mahasiswa dalam media mengatakan apakah tidak boleh mempelajari yang di luar itu,” tutur Nasir.

“Komunis silakan kalau itu dalam kajian akademik, tapi negara telah memilih sesuai konvensi yaitu Pancasila sebagai ideologi negara, ini yang penting,” imbuh dia.

Bahkan, Menristekdikti mengakui dulu dia juga mempelajari paham-paham yang terlarang dalam konteks keilmuan, namun bukan untuk dipraktikkan.

“Saya dulu juga belajar Marxist dan teori komunis saya juga belajar, teori sosialis saya juga belajar, tapi apakah saya jadi komunis? Kan enggak. Ini akan kembali kepada aturan itu,” imbuh Nasir.

Sementara itu, Anggota Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia (FRI) Profesor Asep Saifuddin mengajak semua rektor dan pimpinan perguruan tinggi untuk proaktif dalam mencegah dan menanggulangi penyebaran paham radikal di kampus. Misalnya, dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait terorisme, ulama, hingga melakukan upaya yang sistematik.


“Mereka (rektor) akan lebih baik memikirkan bagaimana upaya konkret dalam menjabarkan Pancasila. Indonesia ini butuh kebersamaan dan kekompakan untuk maju, rektor jangan harap masalah ini selesai dengan sendirinya. Tidak. Perlu kerja sama dan upaya sistematik,” kata Asep.


Pentingnya sterilisasi paham radikal di kampus mengemuka setelah Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggerebek Universitas Riau (Unri) dan menangkap sejumlah terduga teroris yang merupakan alumni universitas tersebut. Meski demikian, Polri berharap aktivitas ini tidak lantas menimbulkan anggapan bahwa kampus erat dengan radikalisme dan terorisme.

Sumber
masa orang yg berbuat onar tetep diberikan kebebasan dalam menjalankan aksinya? emoticon-Ngakak (S)
toh mahasiswa yg lain masih asik-asik aja di UKM masing-masing dengan kegiatannya emoticon-Ngakak (S)
anak ukm atletik, wirausaha, kesenian daerah dan sejenisnya ya ga ada urusan sama itu pengawasan radikalisme.
kalo ga ada bikin yg aneh-aneh ya ngapain was-was?
emoticon-Ngakak (S)
Rezim aneh, mledug kok dilarang emoticon-Smilie
hanya akan merenggut kebebasan kelompok partei korupsi syapi dalam melakukan rekrutmen kader-kadernya di kampus. Semoga saja demikian emoticon-Big Grin
Quote:


mledugnye ngajak2 orang, lah kalo mw meledug sendiri ya monggo cari tempat sepi emoticon-Leh Uga
BEM SEBAGAI INDUK ORGANISASI HARUSNYA BISA TAU DAN NGAWASI SEMUA UKM YANG DIBAWAHNYA BREE

BEM FAKULTAS KUDU TAU APA IYA UKM DIBAWAHNYA ADA YANG RADIKAL

KAN GAMPANG BREE

ASAL GAK BEM NYA JUGA DISISIPI BREE
NAH ITU REPOT

YANG NGAWASIN BEM YANG PEMBIMBING KEMAHOSISWAAN FAKULTAS BREE
Mahasiswa berhak belajar, bukan berhak ngebom orang. emoticon-Ngakak
Harus lah diawasi, tp ya jangan abis rame rame meleduk, musti konsisten ke depannya
Bapak Menteri ini tidak memiliki rasa toleransi,

Masa kebebasan berorganisasi dan berekspresi mahasiswa generasi emas kader PKS dan HTI mau dikekang?

Hanya karena kami berniat mengganti Pancasila dengan Khilafah, mengapa kami dimusuhi dan dianggap teroris?
Memangnya salah kami apa?

Padahal dengan sistem Khilafah, Indonesia akan semakin maju, PNS boleh beristri hingga 4 orang, seks bebas tidak ada lagi diganti sistem kimpoi kontrak, dsb.

Nikmat khilafah apalagi yang Bapak menteri dustakan?

SUNGGUH TERLALUemoticon-Wkwkwk

Quote:


masalahnya kadang BEMnya geblek
yang jadi ketua BEM malah mahasiswa nasakom atau mahasiswa "veteran "emoticon-Cool emoticon-Leh Uga
Quote:


MAHASISWA VETERAN ATAU NASAKOM ITU MALAH HARUSNYA TAU SELAK BELUK KAMVUS AMPE DALEM DALEM YA BREE

SUSAHNYA ITU KADANG KADERISASI MALAH MASUK KE BEM YABG HARUSNYA NGAWASIN UKM DI BAWAHNYA BREE
Emang di kampus...Pancasila gak berlaku ?

Ini bukan semata karena kurang pengawasan.
Pengawasan memang diperlukan...
Tapi dibalik itu juga mesti ada benteng lain.

Teroris mentargetkan kaum intelektual terlebih dahulu untuk di genggam.
Bila yg pandai sudah terdoktrin,maka tidaklah sulit mendapatkan orang orang di lapisan bawah.
Hal ini bisa lebih mudah dengan kedok organisasi dan kuliah.

Untuk kaum jelata dilakukan dengan kedok agama di pertemuan pertemuan rohani semisal dakwah dan pengajian.
Melakukan pengawasan secara universal baik di kampus maupun masyarakat tidaklah mudah.

Yang dibutuhkan adalah benteng dari doktrin radikal.
Yang dibutuhkan adalah doktrin penguat fondasi Pancasila.

Maka dari itu yang paling tepat adalah ..P4 hendaknya digalakkan lagi sebagai rival dari doktrin radikal.