alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Beritagar.id /
Dokter dan tempat tidur rumah sakit tak rata di wilayah Pilkada
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b17b28456e6af97778b456c/dokter-dan-tempat-tidur-rumah-sakit-tak-rata-di-wilayah-pilkada

Dokter dan tempat tidur rumah sakit tak rata di wilayah Pilkada

Dokter dan tempat tidur rumah sakit tak rata di wilayah Pilkada
Warga berada di halaman depan UGD RSUD Daud Arif yang terbengkalai di Terjunjaya, Tanjungjabung Barat, Jambi, Sabtu (2/6). Gedung UGD RSUD milik Pemkab Tanjungjabung Barat yang diwacanakan akan dikembangkan menjadi rumah sakit tipe B dan sempat beroperasi pada 2015 atau setahun sejak diresmikan pemakainnya itu, kini terbengkalai selama lebih dari dua tahun.
Pilkada serentak di 171 daerah tahun ini kian mendekat. Para kandidat kepala daerah pun telah mengeluarkan beragam jurus pemikatnya melalui rangkaian kampanye sejak 15 Februari hingga 26 Juni 2018, sehari sebelum pencoblosan.

Banyak tema yang perlu dipelototi calon pemilih terhadap jagoannya seperti kebijakan politik, pendidikan sampai kesehatan. Isu kesehatan seperti ketersediaan pelayanan kesehatan menjadi penting dalam Pilkada 2018 karena adanya kesenjangan antardaerah. Indikator kesehatan setidaknya dapat dilihat dari rasio tempat tidur di rumah sakit per 1.000 penduduk dan rasio dokter per 100 ribu penduduk.

Kesenjangan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam wilayah Pilkada itu dapat terjadi di wilayah terdekat. Contohnya Kota Bogor dan Kabupaten Bogor—keduanya menggelar pemilihan kepala daerah pada 2018.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan BPS yang diolah Lokadata Beritagar.id, rasio tempat tidur rumah sakit di Kota Bogor sebesar 2,69 tempat tidur per 1.000 penduduk. Angka rasio itu sudah melampaui standar minimal rasio dari organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) yaitu 1 tempat tidur rumah sakit per 1.000 penduduk.

Rasio di Kota Bogor sangat timpang jika dibandingkan dengan daerah penyangganya, yaitu Kabupaten Bogor yang rasionya hanya 0,64 tempat tidur rumah sakit per 1.000 penduduk, jauh di bawah standar minimal dari WHO. Minimnya ketersediaan tempat tidur berpotensi mengakibatkan pasien menumpuk.

Kabupaten Bogor tak sendiri. Terdapat 73 dari 151 kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada di mana angka rasio tempat tidur dan angka rasio dokter di bawah standar WHO.
var divElement = document.getElementById('viz1528275141618'); var vizElement = divElement.getElementsByTagName('object')[0]; vizElement.style.width='620px';vizElement.style.height='587px'; var scriptElement = document.createElement('script'); scriptElement.src = 'https://public.tableau.com/javascripts/api/viz_v1.js'; vizElement.parentNode.insertBefore(scriptElement, vizElement); Display only on mobile var divElement = document.getElementById('viz1528275201260'); var vizElement = divElement.getElementsByTagName('object')[0]; vizElement.style.width='320px';vizElement.style.height='587px'; var scriptElement = document.createElement('script'); scriptElement.src = 'https://public.tableau.com/javascripts/api/viz_v1.js'; vizElement.parentNode.insertBefore(scriptElement, vizElement);
Rasio terendah adalah Padang Lawas Utara, Sumatra Barat (0,2), Sampang, Jawa Timur (0,24), Deiyai, Papua (0,25), Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (0,28), Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (0,29).

Di tingkat Kota, dari 39 kota penyelenggara Pilkada, hanya Kota Bima, Nusa Tenggara Barat yang rasio tempat tidurnya masih di bawah standar dari WHO. Di Kota Bima hanya ada 1 rumah sakit dengan jumlah tempat tidur sebanyak 150 unit untuk melayani 166.407 jiwa.

Rasio tertinggi ada di Kota Madiun, dengan angka rasio 6,4 tempat tidur rumah sakit per 1.000 penduduk. Di Kota Madiun terdapat 8 rumah sakit dengan jumlah tempat tidur 1.132 unit untuk melayani 176.099 jiwa penduduk di kota ini.

Pada level provinsi, dari 17 wilayah yang menggelar Pilkada, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur angka rasionya masih di bawah standar WHO. Rasio terbesar tempat tidur dengan jumlah penduduk adalah di Bali.

Kekurangan dokter di pelosok

Pada Pilkada tahun ini, terdapat 98 dari 115 kabupaten dengan angka rasio dokter di bawah standar WHO. Organisasi dunia menerapkan standar minimal 40 dokter per 100 ribu penduduk.

Angka rasio terendah terdapat di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Empat Lawang, Sumatra Selatan. Rasio tertinggi keberadaan dokter dengan jumlah penduduk adalah di Kabupaten Klungkung, Bali.

Di tingkat kota, terdapat 6 daerah yang angka rasionya di bawah standar WHO. Mereka adalah Kota Subulussalam; Kota Padang Sidempuan; Kota Pagar Alam; Kota LubukLinggau; Kota Bima; dan Kota Tual.

Rasio dokter dengan jumlah penduduk terkecil di tingkat provinsi adalah Nusa Tenggara Timur. Jumlah dokter di provinsi ini sebanyak 1.295 dengan jumlah penduduk 5.287.302 jiwa. Sedangkan angka rasio tertinggi adalah Bali dengan jumlah dokter sebanyak 3.272 dokter dengan penduduk 4.246.528 jiwa.

Tak hanya rasio di bawah standar, penyebaran dokter dan tenaga medis pun masih belum merata di seluruh Indonesia. Padahal, masyarakat di daerah terpencil masih sangat membutuhkan pelayanan kesehatan. Pendistribusian dokter di daerah terpencil sangat mendesak dilakukan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), saat ini masih ada 1.008 puskesmas di daerah pelosok yang belum memiliki dokter. Dokter spesialis seperti dokter anak, bedah, penyakit dalam, radiologi masih langka di daerah terpencil.

Presiden Joko Widodo menyebut Indonesia masih kekurangan tenaga dokter terutama untuk ditugaskan di daerah-daerah pelosok. Presiden pun menyambut baik berbagai pihak termasuk Muhammadiyah yang berencana membuka Fakultas Kedokteran pada beberapa perguruan tingginya.

Di wilayah barat Indonesia ada 92.741 dokter umum dan 25.226 dokter spesialis, lalu bagian tengah Indonesia memiliki 15.698 dokter umum dan 4293 dokter spesialis. Sedangkan di bagian timur Indonesia baru ada 1.472 dokter umum dan 227 dokter spesialis.

Sejumlah organisasi seperti doctorShare, berupaya menjembatani kesenjangan layanan kesehatan itu. DoctorShare sebuah organisasi untuk pelayanan medis terjun ke pulau-pulau terpencil yang minim dokter dan fasilitas kesehatan.

Pendiri doctorShare, Lie Dharmawan, mengatakan bahwa ketimpangan jumlah dokter di bagian barat, tengah, dan timur Indonesia sangat besar. Untuk itu, layanan kesehatan dan kemanusiaan yang sudah dirintis doctorShare akan lebih memprioritaskan kawasan Timur Indonesia.

Beberapa program doctorShare antara lain Rumah Sakit Apung yang berlayar menuju pulau terpencil dan terluar. Selama singgah, para awak rumah sakit apung ini menggelar kegiatan penyuluhan kesehatan, pengobatan umum, pemeriksaan kehamilan, bedah mayor, dan bedah minor.
Dokter dan tempat tidur rumah sakit tak rata di wilayah Pilkada


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ilayah-pilkada

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Dokter dan tempat tidur rumah sakit tak rata di wilayah Pilkada 8 Sektor seret pelemahan IHSG

- Dokter dan tempat tidur rumah sakit tak rata di wilayah Pilkada Tak ada mobil dinas dan parcel untuk Lebaran PNS

- Dokter dan tempat tidur rumah sakit tak rata di wilayah Pilkada Kerajaan Arab Saudi mulai bagikan SIM untuk perempuan

Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di