alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / REGIONAL / All / ... / Kalimantan Selatan /
Pengunjung Pasar Ramadhan Bukti Toleransi Antar Umat Beragama
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b175c0e60e24b42158b4571/pengunjung-pasar-ramadhan-bukti-toleransi-antar-umat-beragama

Pengunjung Pasar Ramadhan Bukti Toleransi Antar Umat Beragama

Pengunjung Pasar Ramadhan Bukti Toleransi Antar Umat Beragama


Di antara banyak orang yang mengenakan hijab, pria bersarung, berkopiah, dan berbaju koko atau atribut yang identik dengan umat Islam, tidak sedikit pengunjung Pasar Wadai Ramadhan (PWR) atau Ramadhan Cake Fair (RCF) di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan yang bukan warga Muslim, itu yang terlihat ketika team Easy Shopping Indonesia berkunjung ke sana.

Meski pasar ini menyediakan kebutuhan makanan untuk berbuka puasa bagi umat Islam, namun banyak pembeli dari kalangan non-Muslim juga. Belum lagi, kadang kala berbaur juga pembeli berbaju biarawati, atau berbaju yang identik dengan agama bukan Islam ikut berjubel di tengah ribuan pengunjung pasar yang hanya muncul setiap bulan Ramadhan di Banjarmasin.

Rekan kerja di Easy Shopping warga Banjarmasin mengatakan "Selain itu, kedatangan sekelompok wisatawan asing non-Muslim yang dipandu para peramuwisata seringkali berbaur di tengah keramaian pasar penganan itu." Kedatangan pasar yang ada hanya pada bulan Ramadhan ini membuktikan PWR bukanlah untuk kepentingan agama Islam saja.

Artikel menarik lain yang berhubungan dengan kegitan Easy Shopping Indonesia yang dimuat di Kaskus dapat dilihat pada tautan berikut bertajuk Easy Shopping: Beauty Contest 2018 Yang Memukau dan ulasan yang cukup bernas berjudul Antara Easy Shopping dan Kaskus.

"Banyak pembeli kue khas Banjar yang dikenal dengan kue 41 macam adalah orang-orang China," kata Ibu Maspah, satu dari ratusan pemilik kios dagangan di Pasar Wadai Ramadhan yang berada di bilangan Jalan RE Martadinata, depan Balai Kota Banjarmasin itu.

"Orang China biasanya berani membeli agak mahal dagangan saya, sehingga saya bisa lebih untung, " kata Ibu Maspah. Dari logat bicaranya, warga etnis orang Tionghoa yang berbelanja memang sudah lama tinggal di Banjarmasin, serta kota-kota lain di Kalsel, kebanyakan mereka dari suku Hakka. Bahkan mereka orang etnis China itu tak sedikit mengajak keluarga mereka dari Pulau Jawa serta daerah lain khusus datang menikmati penganan khas Kalsel di pasar tersebut.

Sementara kedatangan kalangan wisatawan mancanegara (wisman) yang mengenakan pakaian celana pendek, kaos senglet, kaos oblong, baik wisman pria dan wanita tak masalah berada di lokasi ini. Ada dari mereka setelah membeli penganan langsung menyantap di lokasi itu juga, tidak mengerti bahwa saat itu lagi bulan puasa, namun oleh masyarakat setempat hal itu dimaklumi saja.

Menurut para pedagang, pembeli non-Muslim di lokasi itu menyebabkan harga penganan dan masakan lebih mahal dibandingkan di tempat lain, dan berapa pun banyaknya barang dagangan hampir bisa dipastikan akan habis terjual.

Deobora (35), warga Banjarmasin yang beragama Kristen mengaku dia selalu menunggu kehadiran pasar Ramadhan ini, karena momen ini benar-benar memberikan kesenangan bagi keluarganya.

"Keluarga kami hampir tiap hari membeli makanan di pasar Ramadhan tersebut, banyak pilihan makanan, begitu juga penganan aneka ragam, sulit didapati hari lain," kata Deobora yang dikenal sebagai seorang PNS di lingkungan Pemko Banjarmasin tersebut.

Memang Pemkot Banjarmasin sendiri membangun lokasi destinasi wisata tahunan saat Ramadhan ini bukan semata untuk umat Islam, tetapi diciptakan untuk semua golongan, bahkan dijadikan kalender kepariwisataan tahunan yang terus dipublikasikan ke dunia luar sebagai andalan kepariwisataan Kalsel.

Banyak fungsi di pasar ini selain sebagai objek wisata, juga sebagai lokasi ngabuburit (menunggu bedug berbuka puasa), serta sebagai sarana pelestarian budaya. Karena itu, tak heran bila ada sekelompok muda mudi berjalan santai sambil bercanda gurau berada di sana hanya untuk ngabuburit.

Atau, sekelompok wisman begitu asyik membidik-bidikan kamera ke para pedagang atau pembeli yang sedang bertransaksi di lokasi itu, sedangkan yang lain ikut berjubel begitu asyik mencari-cari kue-kue tradisional yang juga hanya muncul pada saat digelarnya pasar tersebut.

Objek Wisata Sebagai objek wisata maka keberadaan pasar ini pun diciptakan sedemikian rupa bernuansa budaya Suku Banjar yang merupakan suku terbesar di daratan Kalsel.

Pasar Ramadhan ini sudah ada di Banjarmasin sejak tahun 1970-an. Saat itu hanya kelompok-kelompok kecil saja, hingga kurang teratur dan mengganggu keindahan kota.

Mulai tahun 1980-an oleh Pemkot Banjarmasin pedagang itu dikumpulkan di satu lokasi, lalu dinamakan Pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair). Sejak itu pula lokasi ini dinyatakan sebagai atraksi wisata tahunan.

Untuk memperkuat lokasi ini sebagai objek wisata maka digelar pula berbagai pertunjukan rakyat, seperti kesenian tradisional, seperti madihin, lamut, rebana, jepin, dan tarian serta seni-seni tradisi lainnya. Setiap pertunjukan selalu saja memperoleh sambutan hangat dari masyarakat, terutama kawula muda yang berdatangan bukan saja dari Kota Banjarmasin sendiri tetapi dari kota sekitarnya.

Seperti tahun ini, lokasi pertunjukan persis di tengah pasar sehingga memudahkan pengunjung untuk menikmati seni tradisi tersebut. Pasar Wadai ini tidak hanya dimaksudkan untuk melestarikan seni budaya setempat, tetapi juga untuk melestarikan penganan tradisional khas Kalsel.

"Banyak penganan yang hampir punah lantaran jarang ditemui di hari biasa, bisa ditemukan pada saat pegelaan pasar Ramdahan ini, yang membuktikan kegiatan tahunan ini mampu melestarikan budaya membuat penganan tersebut," kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Banjarmasin, Jimmie Khuzain.

Masyarakat suku Banjar yang tinggal di Kalsel dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekayaan budaya khususnya penganan tradisional, namun beberapa jenis penganan tersebut kini nyaris punah.

Ada sekitar 41 macam penganan tradisional Suku Banjar yang dikenal selama ini, tetapi tak sedikit penganan tradisional itu yang tak lagi terdata dan diketahui. Dari 41 macam itu saja mungkin belasan yang nyaris punah, dan penganan itu muncul bila ada hajatan, kenduri, atau acara ritual lainnya di masyarakat Suku Banjar.

Penganan tradisional yang nyaris punah itu antara lain seperti kue kelalapon, kue kakikicak, sasagon, cucur, wajik, cangkarok batu, bubur habang, bubur putih, apam habang, apam putih, bingka barandam, garigit, ilat sapi, dan wadai satu. Penganan itu hilang setelah kian banyaknya penganan modern dan makanan kecil siap saji bermunculan, tetapi juga akibat kue-kue kering dan makanan kecil yang diproduksi perusahaan besar di Pulau Jawa.

Dengan banyaknya pengunjung dari berbagai agama ini membuktikan bahwa pasar Ramadhan ini menjadi bukti toleransi di Banjarmasin.
Urutan Terlama


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di