alexa-tracking

Bicara tentang Mimpi

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1603c0e052272c2d8b4571/bicara-tentang-mimpi
Bicara tentang Mimpi

“Dimana-mana juga begitu, namanya juga mimpi; segalanya terasa samar dan misterius, wajar kalo sulit divisualisasikan.” 


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kata pengantar.


Welcome To My Thread

Dari 2015..., wew..., emoticon-Ngakak (S) nggak nyangka ID ini udah hibernasi sebegitu lamanya. dulu saya bikin ID ini untuk posting komik hasil karya saya sendiri, sekarang justru saya lebih tertarik dengan tulisan.

Ini cerpen pertama yang saya mau publish di Kaskus, direvisi berkali-kali (takut ada yang salah tulis), dan ditulis dengan sudut pandang orang ketiga.

Mohon maaf kepada warga SFTH sekalian seandainya ada kata-kata yang terlalu ribet ataupun terdengar tidak lazim dalam cerpen ini. saya masih belajar soalnya. emoticon-Malu (S)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Bicara Tentang Mimpi



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Part 1


Vero berada di atap sebuah gedung yang tinggi bersama seorang pemuda. Warna langitnya jingga menyala yang merindukan. Di sekitar gedung itu bangunan bangunan tinggi sejauh mata memandang, namun tidak ada satupun manusia terlihat, seolah hanya mereka berdua di kota itu; kota peninggalan peradaban kuno.

Vero sangat merindukan tempat yang tinggi, atap gedung, tebing, puncak gunung, ia rindu akan semua itu. Dan seandainya ia punya sayap, maka ia mungkin akan terbang sejauh batas atmosfir bumi.

Pemuda itu berdiri di tepi atap gedung. Ia membelakangi Vero, dan saat Vero hendak memanggilnya, suaranya tidak keluar dan segalanya menghilang.

Vero terbangun di tengah-tengah mimpi anehnya, dan dengan wajah kusut ia pun menyeret bayangannya siap-siap berangkat sekolah.

---
Kelas belum dimulai, Vero membuang waktunya dengan memandangi dari lantai tiga; orang-orang yang berdatangan dari gerbang depan sekolah. jika ia menggeser pandangannya ke sudut lain maka terlihat sebuah graffiti bergambar pemandangan kota di dinding salah satu kelas yang terlihat dari tempat ia berdiri.

“Apa kamu lagi nggak ada kerjaan?” tanya Manik to the point.

Vero menoleh dan terlihat Manik; seorang temannya yang pendek, terlihat sedang minum kopi dingin dengan sedotan.

“Ya..., begitu lah, aku lagi mikirin sesuatu.”

“Lagi mikirin apa kamu Ver?, srruuup.”

Agak lama Vero terdiam, ia pun menunjuk ke bawah.

“Graffiti itu, kamu tau siapa yang gambar?” tanya Vero sambil menunjuk graffiti yang akhir-akhir ini senantiasa menarik perhatian Vero tersebut.

“Kenapa Ver?, kamu suka sama gambarnya?, srruuup.”

“Jawab aja sih Nik. Kamu tau nggak siapa senimannya?” Vero nanya balik.

“Ya karena aku tau orangnya, makanya aku tanya, kamu suka apa enggak?, srruuup.”

“Kamu dulu dong yang jawab.”

“Vero..., yang kepo kan kamu?, kalo kamu mau tau siapa seniman graffiti itu, jawab dulu: kamu suka apa enggak sama karya dia?” Manik ngeyel.

Vero memasang wajah jengkelnya, kemudian dia pergi dan berkata:

“Aku tanya orang lain aja.”

“Ehtunggutunggutunggu..., yang gambar Kiki dari kelas sono.” jawab Manik menahan Vero seperti seorang anak menarik-narik ibunya minta dibeliin mainan.

“Oh.” Respon Vero singkat, sementara Manik merasa sebal melihat reaksi Vero tersebut; berharap lebih dari sekedar Oh. Ia pun segera menghabiskan kopinya dan menalampiaskan perasaan sebalnya dengan melempar kemasannya ke tempat sampah.

“... reaksi kamu datar banget Ver?” tanya Manik.

“Ya..., kamu pikir setelah aku tahu senimanya lantas kenapa?, aku mau ngepoin dia gitu?”

“Ngepoin dia itu ide yang bagus Ver!”

“Lah... aku nanya Nik, bukan ngasih ide!”

“Iya tapi pertanyaan kamu memberi aku ide, hahahaha...” Kata Manik swag.

“Hhh..., nggak tertarik Nik.” Ujar Vero.

“Belum juga ketemu orangnya udah nggak tertarik... liat dulu dong Ver orangnya. Kebetulan dia temennya Sidik, siapa tau kita bisa kenalan sama dia ...” ucap Manik dengan alis naik turun.

Vero hanya mengernyitkan dahinya memberi isyarat nggak tertarik. Melihat reaksi Vero tersebut Manik pun melanjutkan:

“... Sidik bilang dia orangnya unik loh.”

Vero berpikir sejenak. Melihat Manik yang begitu ngotot tersebut sekarang ia jadi berpikir bahwa Manik memang ingin mengajak dirinya kenalan dengan orang yang bernama Kiki ini, tapi apa tujuannya?. Mungkin karena Manik pernah beberapa kali melihat Kiki, tertarik, dan kemudian ingin berkenalan dengannya, namun ia merasa canggung jika harus berkenalan sendirian sehingga berniat membawa Vero bersama dengannya. Vero melihat graffiti itu lagi dan berkomentar:

“Gambar dia bagus..., beneran.”

Mata manik berbinar-binar. Ia pun berkata: “I knew it!, dia emang jago gambar loh!, istirahat nanti kita kepoin dia yuk..., abis makan tapi.”

“Apa emang lagi tren ya? ngepon orang gini?” tanya Vero

“Ya nggak apa-apa..., cuma sekedar tegur sapa dan kenalan aja...” Jawab Manik.

“Iya..., boleh juga.” Kata Vero singkat.

---
Saat istirahat, Vero dan Manik makan bakso di kantin. Saat itu Vero memutuskan untuk menceritakan mimpi dia semalam kepada Manik, tentang gedung yang tinggi, tentang langit jingga, dan tentang diantara keduanya. Mungkin bagus juga, karena Manik kalo makan nggak pakai napas, jadi dengan diajaknya Manik ngobrol maka ia bisa makan dengan lebih pelan.

“Jadi itu alesan kamu ngeliatin graffiti itu?, karena mimpi kamu semalem Ver?, munch munch munch.”

“Sebenarnya aku udah tertarik sama graffiti itu udah lama kok, berhari-hari sebelum aku mimpi.”

“Oh ya?..., itu artinya apa yang kamu lihat itu masuk ke dalam mimpi kamu. Iya kan? munch munch munch.”

“Ya..., sepertinya begitu. Tapi plis deh Nik, kamu kalo ngomong telen dulu makanannya. Keselek bakso kamu aku kirim ke rumah sakit loh. Pake email nanti aku ngirimnya.” Kata Vero bercanda.

Manik hanya cengengesan saja menanggapi nasehat Vero masih dengan cemong sambel kacang yang langsung dia bersihkan. Memang Manik orangnya seperti itu.

(Bersambung)
RESERVED
Part 2

---
Seusai makan Vero dan Manik berjalan ke kelas Sidik; salah satu teman Manik yang sebelumnya Vero juga sudah kenal. Vero memperhatikan Manik, terlihat seperti orang yang kelebihan energi. Vero jadi berpikir bahwa benar Manik memang tertarik dengan Kiki. Sesampainya mereka berdua di kelas Sidik, terlihat seseorang sedang menempelkan dahinya ke meja dengan selembar kertas yang tertutup lengannya. Ia duduk paling depan kanan sehingga seandainya Pak Hamid si guru killer baru masuk ke kelas itu tidak mungkin beliau tidak sadar dan pasti akan menjewer si tukang tidur itu untuk membangunkannya.

“Yo! Nik, Ver!” sapa seseorang, berjalan ke arah mereka berdua.

“Hai Sid!” sapa Manik diikuti oleh Vero, sementara orang yang sedang tidur itu pun terbangun.

“Tumben ke sini, mo minjem jangka sorong lagi ya?”

“Enggak-enggak, ini si Vero penasaran sama graffiti yang ada di tembok kelas di bawah itu.”

Sekarang Vero melihat orang yang baru bangun itu tidur lagi.

“Oh, graffiti yang digambar Kiki pas kelas dua?, noh, orangnya lagi tidur.” Kata Kiki sambil memberi isyarat menunjuk dengan anggukan kepalanya. Ia pun membangunkan si tukang tidur.

“Ki...?, bangun Ki, ada yang penasaran sama graffiti yang lo gambar tuh.” Kata Sidik menggoyang-goyangkan badan Kiki.

Kiki pun mengangkat kepalanya. Rambut si tukang tidur itu seperti bulu burung kasuari. Tatap matanya seperti tatap mata kucing yang kesal karena diganggu saat sedang tidur. Ia menatap Vero dengan tatapan mata mengancam, seperti mau menggigit.

Vero sendiri sebenarnya ingin protes karena Manik hanya mengatakan bahwa dirinya penasaran dengan graffiti tersebut, “karena aku yakin disamping itu kamu sendiri juga penasaran dengan Kiki, namun karena canggung kamu pun menggunakan aku”, pikir Vero. Kiki terbangun dan melirik ke arah mereka berdua dengan mata mengantuknya.

Dipelototin Kiki, Vero pun mulai menyapa:

“Hai, kenalin, Vero dari kelas 3.D”

“Aku Manik, salam kenal.” Sapa Manik.

Kiki terlihat diam saja, Vero pun melihat ke arah Sidik.

“Maklum Ver, si Kiki emang orangnya rada..., ya..., apa ya?, gua juga bingung gimana ngejelasinnya.” kata Sidik.

“Antisosial?” tebak Vero.

“Ahaha!, kejam lo Ver, baru ketemu udah vonis orang antisosial...., tapi bisa jadi sih..” kata Sidik.

“..., Kenalin, gua Kiki, gua introvert, bukan antisosial.” Jawab Kiki yang kemudian berdiri.

“Nah Ki..., Vero sama Manik ini temen gua yang gua bilang tempo hari...., inget kan lo?” Kata Sidik sambil menunjuk Vero dan Manik dengan tangan terulur.

“Iya..., gua bisa liat itu.” respon Kiki.

“Itu graffiti pemandangan kota yang kamu gambar kan?, bagus banget.” Sanjung Manik.

“Kalo emang bagus ya nggak usah dikomentarin. Bosen gua denger anak- anak di sekolah ini pada bilang bagas bagus bagas bagus.... pengen gua bikin gambar sekali-kali ada yang bilang jelek gitu.” Respon Kiki, sementara Manik dengan sifat cengengnya yang mengherankan mulai berkaca-kaca matanya.

“Lah! Ki!, lo gimana sih?, dipuji orang bukannya terima kasih malah protes.”

Kiki duduk lagi dan mulai melanjutkan gambar pada kertas yang terlihat oleh Vero sebelumnya.

“Lo lagi gambar apa Ki?” tanya Sidik.

“Oh..., ini mimpi gua semalam.” Jawab Kiki.

“Emang lo mimpi apa Ki?”

“Semalem gua mimpi ada di atas gedung. Dalam mimpi itu gua berdiri di tepi atap bangunan, tapi anehnya gua bingung mau ngapain.”

Vero dan Manik pun saling berpandangan sebagaimana mereka menyadarinya. Kiki pun melanjutkan:

“Langit berwarna orange, bangunan-bangunan berwarna biru, ah...!, jelas apa yang ada di mimpi gua semalem sama kayak graffiti yang tahun lalu gua lukis di tembok kelas itu..., beneran...” Kiki mengahiri cerita mimpinya dengan senyum.

“Wah..., kok kayaknya lagi marak banget ya orang mimpi di sekolah ini, Vero tadi malem juga kan?, iya kan Ver?” celetuk Manik

“Eh, iya.” Jawab Vero canggung.

Kiki pun berdiri dan memperhatikan Vero dari dekat. Vero yang merasa tidak nyaman pun mundur sedikit ke belakang.

“Mimpi apa lo semalam?” tanya Kiki.

“Gua?, eh... gua mimpi ada di atas sebuah gedung.” Jawab Vero

“Terus?” tanya Kiki lagi.

Vero pun menceritakan mimpi dia lagi. Mimpi yang samar namun juga di saat yang bersamaan terasa begitu berkesan, tentang gedung yang tinggi, tentang langit jingga, dan tentang diantara keduanya. Mimpi Vero berbeda dengan mimpi Kiki hanya pada bagian Vero yang melihat seseorang dari belakang; berdiri di tepi atap gedung. Orang mana yang tidak berpikir bahwa Vero dan Kiki berada dalam skenario mimpi yang sama?

Kiki menatap Vero dengan dingin, seolah tidak percaya dengan cerita Vero. Di lain sisi Vero juga nggak mau terlihat kegeeran, ia pun menatap balik Kiki dengan dingin, sementara Manik sepertinya bingung melihat keduanya.

“Wah..., kok seolah mimpi lo berdua nyambung ya?” ujar Sidik.

“Mana gua tau?, tapi yang jelas gua ngerasa mimpi itu berkesan banget buat gua. Sampai-sampai gua sekarang lagi mencoba memvisualisasikan mimpi itu.”

Kiki menunjukan doodle yang ia gambar kepada Vero, Manik, dan Sidik; sebuah doodle yang digambar dengan tiga titik hilang; pemandangan kota dengan salah satu gedung paling dekat dengan mata burung memandang. Di atas gedung tersebut seseorang berdiri menatap langit yang dengan pensil warna diwarnai jingga, sementara gedung-gedung diwarnai biru muda. Kiki pun lanjut bertanya:

“Gimana menurut kalian gambar gua?”

“Bagus...” jawab Vero.

“Iya..., bagus bingits...” jawab Manik senyam senyum.

“Bagus juga.” Jawab Sidik, dan Kiki pun mulai memasang wajah jengkelnya.

“Napa lo Ki?, lo mo gambar lo gua nilai jelek?, masalahnya kalo gua nilai jelek sekalian gua lecekin ni gambar.” Ujar Sidik menambahkan.

Vero dan Manik keheranan melihat reaksi Kiki tersebut karena memang baru kali pertama ini mereka bertemu seniman yang lebih suka gambarnya dinilai jelek. Kiki menghela napas, ia pun mengambi kembali kertas itu dari tangan Sidik, memandangi gambarnya, kemudian berkata:

“Kalian nggak sadar ya?, ada yang kurang dari gambar ini.”

“Oh ya?, kurang apa?” tanya Sidik.

“Entahlah.” Jawaban Kiki bikin Sidik naik pitam.

“Napa? kurang rapi?” tanya Sidik lagi.

“Menurut lo?” Kiki bertanya balik, kemudian mengembalikan kertas tersebut ke tempat semula.

“Kurang garem?” tanya Manik spontan. Kiki tidak menjawab, hanya melirik ke arah Manik yang sepertinya menyesali pertanyaaanya sendiri, bersembunyi di balik Vero sambil mesam mesem sendiri. Vero sendiri jadi salah tingkah. Yah..., memang Manik orangnya seperti itu; suka nyeletuk yang aneh-aneh baik di waktu luang maupun sempit.

“Ah bingungin lo Ki, lo bilang ada yang kurang sama gambar lo sendiri, tapi lo sendiri nggak tau apa yang kurang.” Komentar Sidik.

“Ini terkait penjiwaan Sid, nggak sekedar kurang goresan, kerapihan, atau apapun itu yang bila lo liat pake mata fisik.” Kata Kiki yang kemudian berdiri lagi, kemudian melangkah agak jauh ke belakang kelas dan mulai melakukan perenggangan seperti baru bangun tidur. Sidik melirik ke arah Vero dan Manik, kemudian bertanya:

“Lo berdua ngerti sama yang dia bilang?”

“Sepertinya aku bingung.” Jawab Manik.

“Lo Ver?”

“Kalo menurutku.... Jika tujuan dari memvisualisasikan mimpi itu untuk merasakan kembali nuansa yang kita rasakan dalam mimpi, maka memang terkadang apapun mimpi yang kita berusaha untuk visualisasikan rasanya sulit untuk bisa menyamai apa yang kita alami dalam mimpi tersebut, mungkin itu bagian yang kurangnya.”

Manik dan Sidik terdiam sejenak memproses kata-kata Vero tersebut, sementara Kiki melirik dengan tatapan mata curiga, kemudian berkata:

“Dimana-mana juga begitu, namanya juga mimpi; segalanya terasa samar dan misterius, wajar kalo sulit divisualisasikan.” Ujar Kiki.

Bell sesi KBM kedua pun dimulai, Vero dan Manik pun hendak kembali ke kelas mereka.

“Eh, bentar.” Panggil Kiki, menghentikan langkah Vero dan Manik.

“Nama panggilan lo siapa tadi?” tanya Kiki yang menunjuk Vero.

“Panggil aja Vero, dan ini temen gua, panggil aja Manik.” Jawab Vero sambil menunjuk Manik yang langsung melambaikan tangan ke arah Kiki.

Kiki menyilangkan tangannya sambil tersenyum sinis, kemudian bertanya:

“Vero..., kalo menurut lo keterkaitan mimpi kita tadi kebetulan atau terjadi karena ada faktor tertentu?”

Vero terdiam, ia tidak tahu apa maksud Kiki menanyakan pertanyaan seperti itu, namun memang dari sejak awal ia tidak mau terlalu yakin dengan hal yang belum pasti.

“kebetulan.” Jawab Vero

“Kebetulan gimana?” tanya kiki lagi

“Kebetulan gua ngeliat graffiti yang lo gambar dan gua ngerasa kepikiran banget sama graffiti itu sehingga apa yang gua liat itu tereflesikan dalam mimpi gua. Dan mungkin aja refleksi itu juga muncul di mimpi lo selaku orang yang gambar.” Jawab Vero yang menjawab bahasa slang Kiki dengan bahasa slang juga. Ia pun berlalu sambil menarik lengan Manik, sementara Kiki tidak banyak bereaksi, hanya memperhatikan masih dengan tatapan mata curiga. Apa Kiki melihat hal yang aneh dari sosok Vero?
Part 3

---
Selesai jam terakhir KBM Manik menghampiri Vero di tengah perjalanan pulangnya.

“Vero.!” Panggil Manik.

“Nik?, kenapa?, mau pulang bareng?” tanya Vero.

“Boleh... eh!, tapi aku penasaran sama jawaban kamu tadi; kenapa kamu jawab kebetulan?”

“Kalo aku jawab karena faktor tertentu menurut kamu dia bakal bereaksi bagaimana?” tanya Vero.

“..., ya..., mungkin aja dia akan merasa melihat pertanda.”

“Pertanda?..., maksudnya apa?” Vero menghentikan langkahnya, menatap Manik dalam-dalam.

“Tau deh, ahahaha...,” jawab Manik yang cepat-cepat menarik pertanyaanya lagi. Khawatir Vero akan jadi bad mood dengan pertanyaan seperti itu. Selanjutnya Manik pun bertanya:

“Memang alesan kamu yang sebenernya apa?, kamu belum jawab loh.”

“Aku nggak mau kegeeran aja.” Jawab Vero yang kemudian lanjut berjalan, diikuti oleh Manik.

“Jadi kamu pikir dia kan bilang: nggak usah kegeeran deh. Gitu?” tanya Manik.

“Mungkin...” jawab Vero singkat.

“Apa itu artinya kamu sama sekali nggak tau siapa cowok dalam mimpi kamu itu?, gimana jika ternyata cowok itu Kiki?”

Sekarang Vero menghentikan langkahnya lagi. Manik yang dipelototin Vero pun berusaha mencairkan suasana dengan memaksa tersenyum.

“Segalanya terasa samar Nik..., samar.” Jawab Vero.

“Ya........., kamu jangan marah ya Ver, ini bukan karena apa, tapi ya..., siapa tahu mimpi ini pertanda bahwa kamu akan memulai hubungan baru sama seseorang.” Ucap Manik.

Vero pun memalingkan wajahnya dari Manik, kemudian bertanya:

“Ngomong-ngomong kenapa memangnya kalo aku marah?”

“Cerem!, kayak kuntilanak.” jawab Manik.

Vero terdiam; melihat wajah Manik yang lugu. Ia pun perlahan tersenyum, menggandeng tangan Manik dan lanjut berjalan.

“Iya iya..., aku nggak marah kok. Tapi kalo kamu pikir ini pertanda, lantas siapa menurut kamu orangnya? Kiki?” tanya Vero.

“Ya..., emangnya gimana menurut kamu Kiki orangnya?” tanya Manik balik.

“Biasa aja, lagian bukannya kamu sendiri yang suka sama Kiki?”

“Ehehe..., iya sih..., tapi nggak masalah kok kalo dia sama kamu.”

Vero terdiam. Terlihat Manik segera membuang muka saat mata mereka bertemu. Demikianlah Manik, yang sering merasa tidak kuasa memikul kata-katanya sendiri.

“Denger ya Nik, kalo harus milih antara kamu sama dia, aku lebih milih kamu loh.” Ujar Vero.

“Ah, bisa aja kamu Ver, ahaha...”

“Beneran..., seandainya kamu cowok udah aku pacarin kamu.” Kata Vero dengan gandengan tangannya yang semakin erat genggamannya.

Manik tersenyum dengan dahi sedikit mengkerut. Ia tidak menyangka bahwa pertemannan mereka selama hampir dua tahun terakhir ini berujung pada pernyataan gila Vero itu. Vero sendiri dengan senyumnya yang sudah lepas kendali mulai mengeluarkan masker dan memakainya; disangkutin di telinganya yang tertutup rambut hitam panjang. Seandainya ia tidak pakai masker, maka ia akan terlihat oleh Manik cekikikan sepanjang perjalanan pulang.

“Kayaknya kamu sering banget pake masker Ver? Kamu orangnya alergian ya?, atau apa?”

“Biar kayak Ken Kaneki versi cewek, kenapa Nik? nggak boleh?”

“Boleh aja sih, yeh..., wibu dasar......”

“Biar wibu asal nggak gangguin orang lain Nik hahaha....”

Keduanya pun berjalan bersama tanpa Vero menyadari satu pertanyaannya yang belum Manik jawab, tapi biar lah...

---
Keduanya tiba di palang pintu perumahan tempat tinggal Vero. Di persimpangan jalan itu Manik akan melanjutkan ke jalan utama yang membelah taman umum.

“Sampai besok Nik.” Sapa Vero.

“Iya Ver, sampai besok.” Balas Manik
Vero berjalan masuk kedalam komplek rumahnya, saat ia menoleh ke belakang dan menyadari Manik masih berdiri di palang pintu tengah memperhatikannya. Vero pun berbalik, menghampiri Manik dan bertanya:

“Kamu mau ngomong apa?”

“Heh?..., ngomong apa ya?” Manik bertanya balik dengan terlihat bingung.

“Aku perhatiin kamu berdiri di sini ngeliatin aku, sebenarnya kamu mau ngomong apa sih?”

“Ehehe..., Vero..., kayaknya kamu salah paham deh. Aku berdiri di sini bukan berarti aku mau ngomong sesuatu.”

“Kalo nggak ada yang mau kamu omongin tolong jangan pasang muka kayak gitu!”

Manik keheranan, ia pun mengeluarkan kaca dan memastikan sendiri muka seperti apa yang Vero maksud, namun ia melihat tidak ada yang aneh dengan wajahnya, masih terlihat lugu dan terkesan tulalit. Apa mungkin Vero tengah iseng mempermainkan dia?, namun saat Manik melihat Vero dengan wajah terlihat kesal, ia pun mulai memutar otak dan sambil tersenyum menjawab:

“Sebenarnya aku mau nanya, buat kamu pribadi, sebenarnya mimpi itu apa sih?”

Bagai badai yang terhenti dalam sepersekian detik, Vero tersenyum lebar. Ia menggandeng tangan Manik, membawanya keluar komplek ke bangku coran beton di dekat gapura. Mereka berdua duduk di situ, dan Manik menyadari jika ia duduk terlalu ke belakang maka ia akan nyemplung ke kali di bawah kaki mereka berdua.

“Jadi Nik..., (bulu kuduk Manik berdiri saat lengan Vero perlahan merangkul bahunya) menurut aku mimpi itu lebih dari sekedar bunga tidur, di dalamnya adalah suatu dimensi yang penuh dengan isyarat, gagasan, dan keinginan yang tidak kita sadari. Apa yang kita lupakan dan apa yang tersembunyi dalam pikiran kita, semua itu terefleksikan dalam mimpi. Itu setidaknya makna buat aku pribadi...” Jawab Vero dengan gesture tangannya yang kemana-mana selagi masih merangkul Manik.

“........., Vero..., kayaknya kamu jago tafsir mimpi ya?” tanya Manik.

Vero melepas senyumnya menjadi terlihat serius. Ia pun menjawab:

“Setahu aku tafsir mimpi itu pakai buku panduan yang ada gambar kaisar cinanya itu kan?, dan biasanya dipelajarin sama orang yang mencari peruntungan. Apa menurut kamu aku tipe orang kaya gitu?” tanya Vero.

“Enggak.” Jawab Manik singkat.

“Buat aku mimpi itu misteri, bukan untung-untungan.” Ujar Vero menegaskan.

Manik merasa hari ini Vero terdengar begitu terobsesi dengan mimpi. Ia pun bertanya:

“............... apa menurut kamu hidup ini ngebosenin?”

“Mungkin iya, dan mungkin karena itu juga jadi terkadang aku berandai-andai diriku sendiri bisa pindah ke dalam dunia mimpi. Pastinya itu pengalaman yang penuh warna kan?” ucap Vero yang kembali senyum, melirik ke arah Manik.

“Eheheh..., kalo mimpi kamu mimpi buruk?, masih mau pindah ke dunia mimpi hayooo...” tanya Manik.

“Kalo itu pastinya pengecualian sih, tapi aku sendiri lupa kapan terakhir kali mimpi buruk..., mungkin karena aku nggak terlalu banyak pikiran.” Jawab Vero.

Manik terdiam. Ia menatap Vero dan lebih dari sekedar Vero, ia juga melihat ada rahasia tersembunyi dari diri Vero. Bayangkan saat rahasia itu berjalan di sebelah kita, dan kita makin penasaran rahasia yang tersembunyi itu, sebagaimana nenek moyang kita penasaran dengan apa yang ada di sebrang lautan dan dengan rahasia dibalik bintang. Mungkin itu daya tarik Vero yang sesungguhnya bagi Manik. Vero; gadis pendiam yang misterius.

Di lain sisi Manik adalah gadis yang jenaka dan suka asal nyeletuk. Terkadang terkesan tulalit dan mengatakan hal-hal yang bodoh, namun masih bisa ditoleril alam semesta. Vero suka dengan karakter Manik, ia senantiasa merespon komentar-komentar Manik yang Vero anggap nyeleneh tentang sekolah, politik, dan game mobile dengan seribu satu kosa kata yang tidak biasa.

“Udah mau pulang ya?” tanya Vero.

“Ehehe..., iya Ver..., jemuran belum diangkat.”

“Ya udah deh, sampai jumpa besok ya?” sapa Vero yang melepas rangkulannya.

“Ver, seandainya kamu malam nanti mimpiin hal yang sama dengan malam sebelumnya...”

“Kenapa?”

“..., iya..., kamu pastiin aja, siapa orang yang kamu lihat dalam mimpi kamu itu.”
Part 4


---
Mimpi itu hadir lagi. Vero berdiri diatas gedung, memperhatikan pemuda itu dari belakang terlihat berdiri di tepi atap gedung. Ia melepas pandangannya ke segala arah, masih langit jingga yang sama, masih pemandangan kota yang sama. Ia pun mendekati pemuda itu dengan perlahan.

“Kamu siapa?” tanya Vero.

Pemuda itu pun menoleh. Vero mengulurkan tangannya dan berkata:

“Jangan berdiri dekat situ, bahaya!”

Pemuda itu tidak bereaksi. Vero hanya bisa melihat wajahnya secara langsung, namun sebagaimana yang ia rasakan sebelumnya; segalanya terasa samar. Pemuda itu pun meloncat ke bawah, meninggalkan Vero yang terbangun dalam keadaan bingung. Vero pun meluangkan waktu beberapa menit untuk merenungi ending mimpi itu.

“Mimpi yang bodoh...” pikirnya.

---
Di sekolah Manik dan Sidik menyambut Vero di depan pintu kelasnya dengan wajah penasaran.

“Hai Ver.” sapa Manik, Sidik pun menoleh.

“Oh, hai... guys.” balas Vero lemes.

“Kenapa Ver, kok muka masih kusut udah dibawa ke sekolah aja?” celetuk Manik yang membuat Sidik keselek ludah mendengarnya.

“Oh, tadi malem aku mimpi Nik.”

“Oh ya? Mimpi apa?”

Dan Vero pun menceritakan mimpinya lagi kepada Manik, mimpi singkat tentang pemuda itu yang loncat indah; meninggalkannya sendirian di atap gedung.

“..., gimana menurut kalian?, aneh ya mimpi aku semalem. ehehe” Kata Vero dengan tawa yang dipaksakan.

“Iya sih, sedikit aneh.” Ujar Manik

“Emangnya lo kepikiran apa Ver sebelum tidur?, ah!, lebih aneh lagi kenapa mimpi yang lo ceritain barusan seolah kelanjutan dari mimpi lo sebelumnya?” tanya Sidik.

“..., entahlah, tapi kenapa ya aku jadi kepikiran kalo mimpi ini merupakan pertanda kalo...”

“Kalo apa?” tanya sidik lagi.

“Kalo..., kalo aku akan jadi jomblo lama banget.”

“Heh? Maksud lo apa?” Sidik makin penasaran, atau lebih tepatnya heran karena menurutnya Vero itu parasnya lumayan, pasti ada yang mau lah.

“Iya, dalam mimpi aku semalem cowok itu pergi ninggalin aku begitu saja, jangan jangan itu artinya cowok di dunia nyata juga akan ninggalin aku. Aku harus gimana dong Nik?”

Sidik terdiam sejenak memikirkan tentang maksud dari kekhawatiran Vero tesebut, namun dipikirkan seperti apapun Sidik tidak akan pernah mengerti masalah perempuan. Mungkin mengerti, tapi ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya terdiam menyimak curhatan Vero, namun Manik berpikir agak berbeda tentang Vero.

Sekilas Manik merasa bahwa Vero tidak benar-benar khawatir. Baru kemarin Vero mengatakan bahwa dirinya bukan penggiat tafsir mimpi. Manik dan Vero saling menatap satu sama lain, dan kemudian Manik berkata:

“Turut berduka cita deh...”

Dan kemudian Manik tertawa lepas. Vero pun tersenyum ringan dan kemudian berkata:

“Jahat kamu Nik. Gimana kalo beneran aku jadi jomblo lama.”

“Ya cari lah, ahahaha...”

Disaat keduanya tertawa bersama, Sidik melihat Kiki yang diam-diam memperhatikan Vero dari jendela paling belakang kelas. Sidik yang memperhatikan kelakuan Kiki tersebut pun melangkah keluar kelas dan segera menciduknya.

“Lo ngeliatin siapa Ki?, gua bilangin loh ke orangnya.” Ancam Sidik.

“Oh..., inih..., uh..., terkait mimpi gua semalam Sid.”

“..., Mimpi lagi? Mimpi apa?”

“Sama kayak kemaren..., gua ada di atap gedung, tapi kali ini gua nengok ke belakang. Dan lo coba tebak siapa yang lagi berdiri di belakang gua.”

“Siapa?”

“Kuntilanak.”

“Serius?..., terus??”

“Gua takut banget Sid, saking takutnya gua jadi loncat aja.”

Sidik terdiam, ia melihat ada kemiripan antara mimpi Vero semalam yang ia dengar barusan dengan mimpi yang diceritakan Kiki tersebut.

“Setelah lo loncat terus gimana?”

“Ya selesai lah Sid, mo lanjut gimana?, lo ada-ada aja pertanyaan.”

“Ini bukan pertanyaan yang mengada-ngada ya Ki, pasalnya Vero juga...”

“Nah! Itu dia!.” Kiki memotong perkataan Sidik, kemudian ia melanjutkan:

“Lo tau kenapa gua dari tadi ngeliatin si Vero, karena kuntilanak dalam mimpi gua semalem mukanya mirip sama Vero.”

Sidik terhenyak; tersandar ke tembok. Ia pun melihat Vero dari jendela yang sama. Postur tubuh gadis itu tinggi, wajahnya tirus, rambutnya panjang terurai dan ada masker di lehernya. Ia terlihat tengah mengobrol dengan Manik.

“Okelah kalo kuntilanak yang ada dalem mimpi lo itu mirip sama Vero, tapi bagaimana dengan Vero yang sekarang?” tanya Sidik.

“Sama aja..., sekarang pun dia mirip kuntilanak, tapi gua akui biar kuntilanak juga masih termasuk cakep Vero orangnya. Udah ah..., gua balik ke kelas dulu ya?” Kata Kiki yang terlihat menguap kemudian berlalu begitu saja.

Awalnya Sidik memang tidak merasakan hal yang aneh dengan Vero, tapi kenapa sekarang dia jadi memikirkan hal yag sama dengan Kiki?. Saat Vero menoleh dan mata mereka bertemu, Sidik segera mundur dan berlari menyusul Kiki.

“Itu kenapa si Sidik kayak abis liat setan aja.” Pikir Vero. Yang Manik sendiri penasaran dengan reaksi Sidik. Terkadang juga aku berpikir; apa Vero benar-benar kuntilanak?, terkadang aku berpikir iya, terkadang juga tidak.

(Selesai)
Anjay!!! Segitu aja gan???
[/size]
Quote:


Ini cerpen gan jadi nggak usah panjang-panjang.
Mungkin kalo udah terbiasa sama cerpen, lanjut nyoba nulis cerbung