alexa-tracking

Sudah pantaskah kita....? (Mari merenung sejenak)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b15588dd44f9f9a0b8b4568/sudah-pantaskah-kita--mari-merenung-sejenak
Sudah pantaskah kita....? (Mari merenung sejenak)
Sebelumnya ane mohon maaf sama admin di mari, jikalau thread ane salah kamar...tolong dipindahin aja min...emoticon-Big Grin

Sudah pantaskah kita di sebut manusia yang beragama dan takut kepada Tuhan, pencipta alam semesta iniemoticon-Gila


Sebagai umat beragama kita diajarkan tentang adanya kehidupan sesudah mati, atau disebut juga kehidupan akhirat. Sebuah bentuk kehidupan baru yang akan kita jalani setelah terjadinya hari kiamat atau hari berakhirnya segala kehidupan di dunia ini. Yang mana amalan kita selama hidup di dunia ini lah yang akan menentukan apakah Surga atau Neraka yang akan menjadi tempat kita selanjutnya. Untuk itu kita diharuskan untuk mengumpulkan amal dan pahala sebanyak-banyaknya selama hidup di dunia, kalau ingin menjadi salah satu penghuni surga nantinya. Namun kenyataan nya banyak diantara kita yang mengaku beragama, akan tetapi pola hidup kita masih sangat jauh dari dari apa yang dianjurkan oleh agama. Saya pun termasuk salah satu orang yang masih lalai terhadap perintah agama.

Coba bayangkan, berapa banyak dari kita yang masih suka menunda-nunda sholat, sedangkan seruan azan tanda masuknya waktu sholat telah berkumandang?? Tuhan menyeru kita untuk istirahat sejenak dari segala kesibukan dan aktifitas duniawi kita, dan memerintahkan kita untuk menghadapNya. Namun kita dengan sombongnya berani mengacuhkan panggilanNya dengan alasan pekerjaan belum selesai, sibuk dan berbagai dalih lainnya. Bandingkan jika big boss atau atasan di kantor yang memanggil. Secepat kilat kita langsung pergi menghadapnya walau sedang sibuk sekalipun. Atau ketika smartphone kita berbunyi atau ada sms masuk, kita dengan segera meraih dan membuka pesan tersebut. Tapi kenapa sewaktu Tuhan yang memanggil, kita tidak segera menghadapNya? Padahal yang memanggil kita adalah boss nya boss, atasan dari semua atasan.
Sudah pantaskah kita....? (Mari merenung sejenak)


Berapa banyak diantara kita yang rela menghabiskan waktu ber jam-jam hanya untuk bermain social media seperti facebook, twiter, instagram di smartphone? Berapa banyak di antara kita yang betah duduk ber jam-jam membaca Koran atau novel? Lalu kenapa susah sekali bagi kita menyisihkan waktu 15-20 menit sehari untuk membaca ayat-ayat suci Alquran.
Sudah pantaskah kita....? (Mari merenung sejenak)


Begitu juga halnya dengan sedekah. Dalam ajaran agama, kita sangat dianjurkan untuk menyisihkan sebahagian dari harta yang kita miliki untuk kemudian disedekahkan guna membantu orang-orang yang membutuhkan. Namun kenyataan nya, banyak dari kita yang masih enggan mengeluarkan harta kita untuk bersedekah dengan alasan gaji pas-pasan, tidak punya uang, masih ada keperluan lain, pengen beli ini dan itu dan sebagainya. Bukankah Tuhan telah menjamin, kalau kita tidak akan menjadi miskin karena bersedekah?? Itu adalah janji Tuhan. Coba bayangkan, betapa beratnya bagi kita mengeluarkan uang Rp 10.000,- sewaktu berhadapan dengan kotak amal di masjid? Di lain waktu, betapa mudahnya kita mengeluarkan Rp 100.000 dari kantong kita untuk membeli pulsa handphone/kuota internet. Betapa beratnya bagi kita untuk mengeluarkan uang Rp 20.000,- ketika berhadapan dengan orang tua jompo atau anak yatim yang sedang kelaparan dan meminta-minta? Bandingkan ketika dengan mudahnya kita merogoh kantong kita dan mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah sewaktu shooping di mall atau membeli smartphone terbaru. Sungguh ironis memang.
Sudah pantaskah kita....? (Mari merenung sejenak)


Ingatlah betapa kesal dan dongkolnya kita, sewaktu lagi enak-enak tidur lalu ibu dating membangunkan kita dan minta tolong dibelikan sesuatu di warung yang jaraknya hanya beberapa rumah? Mungkin banyak diantara kita yang menolak dengan alasan masih mengantuk, bahkan lebih parah lagi ada yang sampai membentak karena merasa terganggu tidurnya. Bandingkan sewaktu lagi enak-enak tidur, tiba-tiba handphone kita berbunyi dan ternyata itu dari pacar kita yang minta di jemput karena kehujanan. Bergegas kita langsung bangun dan segera pergi karena takut pacar kita ngambek dan marah-marah. Tak perduli hujan sekalipun. Padahal kita tahu bahwa kunci surga itu ada di bawah telapak kaki ibu.
Sudah pantaskah kita....? (Mari merenung sejenak)



Di sini ane tidak berniat untuk menghakimi pihak mana pun. Ini murni keresahan hati yang coba ane ungkapkan sebagai bahan renungan bagi kita…
 
Sekian dan terima kasihemoticon-Cendol Gan
tolong kasihemoticon-Rate 5 Star ya gan





agama bukan untuk direnungkan deh

sekali masuk ya di pelajari dan kerjakan

kalo cuma sebatas renungkan, keburu kiamat gan
Subhanallah like and share amin emoticon-Jempol
Quote:


monggo di share ganemoticon-Cendol (S)

Quote:


teori nya memang seperti itu gan..tapi prakteknya kadang yang susah emoticon-Cendol (S)