alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Ngeri! Gerombolan Ini Berburu Kepala Manusia Untuk Hasrat Nafsunya. Sangat Mengerikan
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b144ec9a09a39993f8b4575/ngeri-gerombolan-ini-berburu-kepala-manusia-untuk-hasrat-nafsunya-sangat-mengerikan

Ngeri! Gerombolan Ini Berburu Kepala Manusia Untuk Hasrat Nafsunya. Sangat Mengerikan

Ngeri! Gerombolan Ini Berburu Kepala Manusia Untuk Hasrat Nafsunya. Sangat Mengerikan
Di dataran tinggi pegunungan Taiwan, terdapat penduduk asli yang tinggal di sana. Dulu mereka adalah pemburu kepala manusia karena harus memberikan persembahan berupa kepala manusia; dan kepala orang-orang Tionghoa lebih mudah diperoleh daripada suku lainnya. Seringkali mereka diam-diam menyusup ke daerah pertanian yang terpencil, menyerang, dan memenggal kepala petani.



Ngeri! Gerombolan Ini Berburu Kepala Manusia Untuk Hasrat Nafsunya. Sangat Mengerikan
http://hercules-xena.wikia.com


Mereka sering berdebat cara untuk mendapatkan kepala. Cara apa lagi yang dapat membuktikan kejantanan mereka, memenangkan perang suku, dan meredakan amarah dewa-dewa gunung?



Ngeri! Gerombolan Ini Berburu Kepala Manusia Untuk Hasrat Nafsunya. Sangat Mengerikan
http://travelsintaiwan.blogspot.com


Suatu hari ada seorang laki-laki muda Tionghoa bernama Wu-Feng. ia adalah Pemimpin Wilayah Gunung Ali yang ditunjuk oleh Kaisar Peking. Wu-Feng tinggal di Taiwan seumur hidupnya. Ia berasal dari Provinsi Fukien, ketika masih kecil ia tinggal bersama ayahnya. Wu-Feng adalah seorang yang pintar dan keturunan bangsawan. Ia memperoleh pendidikan klasik Konfusius yang terbaik. Ia sangat berhasrat untuk menjadi seorang penguasa yang baik, tetapi pertama, ia harus mengatasi ancaman mengerikan perburuan kepala. Ancaman itu membuat para petani Taiwan tidak dapat bertani di sawah dengan aman.

Sebagai seorang anak, Wu-Feng seringkali pergi ke pegunungan bersama dengan ayahnya yang seorang hakim. Wu-Feng sering bermain dengan anak-anak gunung. Salah satu temannya, anak laki-laki sebayanya dari suku Gunung Ali, menjadi pemimpin. Sedangkan Wu-Feng menjalani tugasnya sebagai pegawai pemerintah. Dengan memanfaatkan persahabatannya, Wu-Feng membujuk pemimpin muda ini untuk meninggalkan kebiasaan berburu kepala karena perburuan kepala itu salah.

Percakapan mereka panjang dan serius. Pemimpin ini menggunakan caranya sendiri untuk menciptakan kedamaian dan pemerintahan yang baik bagi rakyatnya, sedangkan Wu-Feng juga ingin melakukan yang sama tetapi untuk orang Taiwan. "Damai", tegas Wu-Feng, "satu-satunya cara adalah dengan menghentikan perburuan kepala".

"Tetapi rakyatku sangat menginginkan kepala", kata si pemimpin. "Itu kebiasaan yang tidak dapat diubah hanya dalam waktu semalam".

Wu-Feng setuju dengan pendapat ini, "Kenapa tidak menggunakan kepala-kepala yang sudah kalian miliki untuk dipersembahkan?", tanyanya karena ia tahu beberapa pejuang menyimpan kepala-kepala dari peperangan sebelumnya.

Pemimpin itu pun setuju.

Jadi selama 40 tahun masyarakat Gunung Ali memanfaatkan kepala-kepala yang ada dan membiarkan para petani Taiwan tetap hidup.

Tetapi pada akhirnya, kepala-kepala itu pun habis. Lalu generasi baru tumbuh dewasa dalam waktu lebih dari 40 tahun ini selama masa kerja Wu-Feng dan pemimpin ini.

Generasi baru suku asli ini ingin mengembalikan kebiasaan leluhur mereka dengan berburu kepala.

Pemimpin ini datang menemui Wu-Feng dan memperingatkan bahwa ia tidak dapat lagi mengendalikan para pejuang mudanya. Wu-Feng mengingatkan orang-orang Taiwan supaya mereka waspada, keadan mulai rusuh kembali.

Suatu pagi ketika Wu-Feng berangkat bekerja, ia disapa oleh segerombolan pejuang muda dari suku asli dan pemimpin mereka.

"Wu-Feng", sapa pemimpin itu, "karena persahabatan kita, aku datang untuk memperingatkanmu bahwa orang-orang muda ini tidak lagi menuruti kata-kataku. Mereka sedang merencanakan untuk berburu lagi. Ini merupakan pernyataan perang".

"Terima kasih atas peringatanmu", kata Wu-Feng. Ia membungkukkan kepalanya dengan perasaan cemas. Ia menyadari bahwa beban sebagai pemegang kekuasaan untuk mengatur itu sangat berat.

"Tidak ada yang dapat menghentikan kalian?", tanyanya kepada prajurit-prajurit yang sudah tidak sabar itu.

"Tidak ada", jawab mereka. "Kami mau kepala".

Wu-Feng berpikir selama beberapa menit. "Baiklah, kalau tidak ada yang dapat menghentikan kalian. Aku akan waspada. Tetapi apakah boleh aku memilih orang yang akan kamu ambil kepalanya?". Para prajurit itu saling melihat satu sama lain dan mengerutkan dahinya.

"Itu sama saja, kan?", tanya Wu-Feng.

"Baiklah". sang pemimpin setuju. "Tetapi bagaimana kami tahu kepala musuhmu yang ingin kamu penggal kepalanya?"

Tentu saja, Wu-Feng akan melakukan trik supaya musuhnya masuk ke dalam perangkap untuk dipenggal.

Wu-Feng tersenyum kecut. "Kapan kamu mau kepala itu?", tanyanya.

"Dalam tiga hari", kata mereka. "Kamu harus mempersiapkan persembahan kami".


Ngeri! Gerombolan Ini Berburu Kepala Manusia Untuk Hasrat Nafsunya. Sangat Mengerikan
https://www.gettyimages.com


"Tiga hari lagi kalian akan melihat seseorang dengan kerudung dan mantel merah berjalan keluar dari kantor ini. Itulah orangnya. Kalian dapat memenggal kepalanya untuk persembahan", kata Wu-Feng dengan suara tenang.

Para prajurit yang memenuhi kantornya itu merasa puas karena merasa memenangkan perdebatan mereka. Wu-Feng menyerahkan persahabatannya di tangan teman lamanya, pemimpin tua itu.

"Sampai jumpa, teman lama", kata Wu-Feng. "Mungkin kita tidak akan perah bertemu lagi".

Tiga hari kemudian, Wu-Feng bangun pagi dan memakai jubah merah dengan kerudung. Ia membaca lagi surat yang ia tulis untuk anak tertuanya dan meletakkan di atas altar keluarga. Ia mengucapkan salam perpisahan kepada istri dan anak-anaknya. Mereka sangat terkejut ketika membacanya

Pagi itu berkabut seperti biasanya di lereng Gunung Ali. Wu-Feng, berbadan tinggi dan berbaju merah, keluar dari kabut berjalan menuju kantornya. Para prajurit itu menunggunya sambil bersembunyi di balik bebatuan.

Dengan bunyi desingan, suara anak panah meluncur ke arah Wu-Feng dari segala penjuru. Wu-Feng pun jatuh tersungkur ke tanah.

Para prajurit berlari keluar dari persembunyiannya dengan mengangkat pedang dan mengayunkannya ke kepala orang yang berjubah merah itu.

Matahari mulai menyibakkan kabut, ketika prajurit membuka jubah merah korban mereka. Ternyata korban itu adalah Wu-Feng.

Orang-orang liar itu serentak mundur dengan takut. Ini bukan kepala yang mereka inginkan. Ya, hanya kepala, tetapi ini ...? Rasa takut dan sedih menyelimuti semua orang.




http://www.radiosantafe.com


Pemimpin tua itu akhirnya meninggal karena sedih yang mendalam ketika mendengar apa yang telah dilakukan oleh para prajuritnya.

Para prajurit pemberontak itu akhirnya menyadari bahwa melakukan perburuan kepala lagi tidak ada manfaatnya. Mereka bersumpah bahwa mereka tidak akan mempersembahkan kepala lagi.

Benar, mereka tidak pernah melakukannya lagi.

Orang-orang membangun kuil untuk memperingati Wu-Feng, pemimpin yang mencintai rakyatnya hingga ia mengorbankan hidupnya demi menciptakan perdamaian antara orang-orang gunung dan orang Taiwan.

Sampai saat ini keturunan Wu-Feng masih tinggal di dekat kuil yang masih berdiri, tempat Wu-Feng meninggal di dekat kota Chia-yi di Taiwan.



Pesan :

Kadang kita perlu berani mengambil langkah yang berbeda dari orang lain demi kebaikan banyak orang. Mengorbankan diri untuk kebaikan banyak orang. Berapa banyak dari kita yang rela mengorbankan diri kita untuk orang yang kita sayangi?

Persahabatan yang sejati membuat kita rela mengorbankan banyak hal demi sahabat kita, karena seorang sahabat menjadi setengah dari hati dan hidup kita. Sahabat yang bijak, ia menasehati tanpa harus menyakiti. Ia juga akan berani berterus terang dan membetulkan kesalahan kita agar kita tidak terus hanyut dalam dosa. Tak perlu takut jika memang kita merasa jalan yang kita ambil itu benar. Do the right things, not do the things right! Lakukan hal yang benar, bukan melakukan sesuatu dengan benar.




Sumber : Buku Tiongkok Wise Stories

Spoiler for bonus:
Urutan Terlama
jaman dulu aneh aneh aja
Untung jaman dahulu kala Gan...semoga udah gak ada lagi..emoticon-Takut emoticon-Takut
aya aya wae
itulah sebabnya indonesia tak akan pernah menjadi bangsa besar
pemimpin nya alay smua jaman now, boro boro mengorbankan diri
adanya ngorbanin rakyat sendiri iya
masa sih?
sedih juga endingnya emoticon-Turut Berduka
ini legenda apa cerita karangan?
Ngeri! Gerombolan Ini Berburu Kepala Manusia Untuk Hasrat Nafsunya. Sangat Mengerikan

serem yes buoskuh, mirip bajak laut kepalanya diburu
anjrit ngeri banget gan emoticon-Matabelo


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di