alexa-tracking

3 Kebiasaan Song Leader Yang Merusak “Penyembahan”

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b139602e05227d5128b456a/3-kebiasaan-song-leader-yang-merusak-penyembahan
3 Kebiasaan Song Leader Yang Merusak “Penyembahan”
3 Kebiasaan Song Leader Yang Merusak “Penyembahan”


Tidak banyak yang benar-benar memahami apa sesungguhnya peran seorang Worship Leader (WL). Banyak orang mengira, WL seperti seorang “MC” yang memimpin jemaat untuk menyanyikan lagu. Sebagian lagi mengira WL adalah seperti vokalis utama seorang band yang harus menyanyikan lagu dengan bagus dan memberikan impresi kepada jemaat. Sebagian lagi berpikir, WL adalah orang yang bertanggung jawab untuk membawa jemaat untuk mengalami hadirat Tuhan.

Walaupun WL mungkin memang melakukan semua fungsi itu, tetapi sebenarnya tugas seorang WL bukanlah itu semua. Tugas utama seorang Worship Leader adalah menjadi yang “sulung” (yang terlebih dahulu) dalam menyembah Tuhan dan menjadi inspirasi bagi jemaat dalam sebuah sesi penyembahan.

Terlebih penting untuk menjadi seorang penyembah ketimbang menjadi seorang vokalis. Lebih utama menjadi seorang penyembah ketimbang menjadi seorang performer. Dan, lebih krusial untuk menjadi seorang penyembah, ketimbang seorang “MC”!

Karena ketidakmengertian inilah, maka sering muncul kebiasaan WL yang kemudian entah sejak kapan “diwariskan” dan “ditularkan” secara turun-temurun, sehingga seolah menjadi salah satu standar atau acuan yang dipakai banyak WL di seantero bumi.

Inilah beberapa kebiasaan “merusak” tersebut:



MEMBERI “KEMULIAAN”
“Berikan kemuliaan bagi Tuhan…” adalah kalimat yang sudah terlalu umum dan sering kita dengar dilontarkan seorang WL. Dan kita semua sudah menangkap apa maksudnya. Kalau kita mendengar “kemuliaan” kita menangkapnya sebagai “tepuk tangan”.

Benarkah kemuliaan bisa diberikan hanya dengan sekedar bertepuk tangan (apalagi bertepuk tangan setengah hati?).

Kalau Anda benar-benar ingin mengetahui apakah kemuliaan itu, hadirlah di stadion pertandingan sepak bola final piala Champion atau final piala dunia. Lalu, lihatlah apa yang terjadi ketika seorang pemain mencetak gol krusial di menit terakhir yang mengantarkan timnya untuk menang. Disitulah kemuliaan terjadi diberikan kepada si pencetak gol. Bukan sekedar tepuk tangan, bukan sekedar teriakan sorak sorai, dan bukan sekedar lompatan hingar bingar, tetapi seluruh keberadaan dari hati, jiwa, pikiran, hingga fisik, semuanya “dilepaskan” sebagai bentuk ekspresi terbaik, terbesar, dan termaksimal yang bisa diberikan. Dan itu terjadi secara korporat bersama-sama. Itulah gambaran kemuliaan.

Makanya, Yohanes menggambarkan suasana penyembahan di Surga bunyinya seperti desau air bah. Begitu bergemuruh, menggetarkan hati, dan tak tergambarkan karena memang begitulah kemuliaan.

Maka, ketika kita menyamakan kemuliaan dengan tepuk tangan seadanya, kita justru sedang mengecilkan Tuhan itu sendiri. Hanya sebegitukah kemuliaan yang bisa kita berikan kepadaNya?

Memakai kalimat seperti ini justru mengedukasi jemaat, bahwa seolah Tuhan tidak layak menerima yang terbaik.

3 Kebiasaan Song Leader Yang Merusak “Penyembahan”


MENYURUH-NYURUH JEMAAT
Saya pernah menghadiri sebuah kebaktian, dimana WL memberikan begitu banyak instruksi kepada jemaat. “Mari kita bangkit berdiri”, “Mari kita mengangkat tangan”, “Mari bertepuk tangan”, “Katakan ‘amin!’”, “Ayo menari buat Tuhan”, “Ayo berikan sorak sorai…”, dan masih banyak lagi instruksi lainnya. Dan semuanya diberikan berulang-ulang.

Kalau Anda memahami bahwa penyembahan adalah sebuah hubungan yang personal dengan Tuhan, pernahkah Anda melihat ada orang yang memiliki hubungan dekat, harus disuruh-suruh dalam berekspresi?

Bayangkan, kalau saya dan istri saya, ketika kami sedang makan malam bersama, lalu ada seseorang di sebelah kami yang memberi instruksi, “Ayo katakan kamu mencintai dia…”, “Ayo peluk dia…”, “Ayo senyum…”, “Ayo coba sapa dia…”, “Ayo berdiri dari kursimu dan hampiri dia…”, dan seterusnya.

Apakah Anda bisa percaya bahwa saya adalah suaminya dia?

Anda akan mengira saya sedang bermain peran bukan?

Anehnya, kita para WL, bersikap demikian di setiap ibadah. Sebuah ekspresi yang disuruh dan tidak lahir dari hati BUKANLAH HUBUNGAN, melainkan ritual dan program. Penyembahan bukanlah ritual dan program, penyembahan adalah sakral karena terjadi hubungan personal yang dalam antara kita dan Tuhan.

Orang yang memiliki kedalaman hubungan dengan seseorang, tidak perlu disuruh untuk berekspresi. Dengan sendirinya, dia akan mengekspresikan dirinya. Semakin dekat hubungannya, semakin dalam dan personal ekspresinya. Begitu pula dengan penyembahan kita kepada Tuhan.

Kalau kita memiliki kedalaman hubungan dengan Tuhan, tanpa disuruh kita bisa berekspresi kepada Dia.

Dengan WL menyuruh-nyuruh setiap saat, justru kita sedang membentuk sebuah budaya agamawi di tengah ibadah kita. Jemaat tidak lagi memahami esensi personal relationship dalam sebuah penyembahan. Akibatnya, jemaat hanya memandang sesi penyembahan sebagai bagian ritual semata dan ketika tidak ada yang menyuruh, mereka akan diam saja.



TERLALU BANYAK BICARA
Saya pernah berada dalam sebuah sesi penyembahan dimana WL begitu “cerewet” dan mengisi semua “celah kosong” dengan berbicara. Dan seperti biasa, semua kata-katanya adalah kata-kata “klise” yang berupa retorika agama semacam, “Tuhan itu baik… KasihNya kekal sampai selamanya…”, “Engkau begitu luar biasa Tuhan, betapa ajaib perbuatanMu…” dan berbagai kalimat senada lainnya.

Tentu saja bukan kalimatnya yang salah, tetapi, jika kalimat itu tidak lahir dari perhemaan dan pengalaman bersama dengan Tuhan, maka itu hanya akan menjadi “jargon” semata.

Dan masalahnya, dalam sebuah sesi penyembahan, setiap individu sedang terkoneksi dengan Tuhan secara personal. Seringkali, ketika saya sedang menikmati keintiman dengan Tuhan dalam sebuah sesi penyembahan. WL sibuk “nyerocos” mengucapkan semua kalimat retorika itu yang membuat saya menjadi terganggu.

Worship Leader bukanlah seorang performer. WL tidak perlu memunculkan kesan rohaniah. Dia hanya perlu menjadi yang sulung dan menunjukkan bagaimana seharusnya semua itu dilakukan melalui keteladanan yang dia lakukan di atas (dan TERUTAMA di bawah) panggung.

Pastikan setiap kalimat yang keluar dari mulut Anda bukanlah “lips service” semata, atau sekedar “supaya tidak sepi”, tetapi memang lahir karena kedalaman hubungan Anda dengan Tuhan. Anda bukan MC, Anda adalah penyembah Tuhan.

3 Kebiasaan Song Leader Yang Merusak “Penyembahan”


SUMBER
2017 emoticon-Big Grin
Amda adalah penyembah tuhan gan..
Quote:


kan bangkit di hari ketiga bray emoticon-Ngakak
bababababababbababababa bbbababbaa

bahasa roh emoticon-Big Grin
Quote:


raba-raba-raba emoticon-Big Grin
JPCC & Mawar Sharon
Memuji Tuhan katanya. Tuhan senang dipuji katanya. Tuhan gila pujian. Tapi si Yesus banyak mengajarkan supaya umatnya harus sering merendahkan hati yang tentu saja salah satu produknya yaitu jangan mengharapkan puja dan puji.

Aneh. Tuhannya gila pujian sedangkan sang anak Tuhan mengajarkan kepada umat manusia supaya jadi rendah hati. emoticon-Bingung emoticon-Entahlah
Quote:


Sikilawalalalalala lololololo lalalalalalaka siktasikiwala. :goyang
Quote:


Hanya Allah yang layak menerima puji-pujian emoticon-Ngakak
3 Kebiasaan Song Leader Yang Merusak “Penyembahan”

Quote:


Kontradiksi macam beginian yang bikin gue kurang 'sreg' sama agama Abrahamik dari Timur Tengah. emoticon-EEK!
Iki berita opo toh cuk?


emoticon-Leh Uga
Ini mah biasanya aliran pantekosta
Quote:


emoticon-Marah penistaan ente emoticon-Marah



emoticon-Leh Uga
Quote:


"pengurapan" emoticon-Matabelo
Quote:


astaga, ini dimana gan ?
Quote:


Clue : onta