alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
40 Hari Mengejar Cinta
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1387fadac13e23388b4568/40-hari-mengejar-cinta

40 Hari Mengejar Cinta

40 Hari Mengejar Cinta




40 Hari Mengejar Cinta

Rama memandang wanita berhijab dihadapannya, namanya Rania perempuan shalehah yang mampu menggetarkan hatinya. Rania wanita yang cantik, shalehah dan dari keluarga baik - baik. Rama dan Rania bertemu 2 bulan lalu di Kafe ini, Kafe milik Rasyid yang merupakan sahabat Rama sejak SMA dulu. Rama yang memang setiap hari nongkrong disini, tertarik pada wanita yang selalu duduk ditempat yang sama ditepi jendela dan memesan kopi ditemani Buku yang selalu menjadi fokus utamanya.

Selama 1 bulan ini Rama telah berusaha mendekati Rania tapi dia selalu mendapatkan penolakan. Padahal Rama yakin jika dia tidak jelek, dan yah bisa dibilang tipe cewek - cewek jaman sekarang lah yang tajir dan ganteng. Ya emang sih Rama bukanlah cowok alim idaman para uhti seperti Rania, tapi dia shalat kok meski kadang kelupaan dan shalatnya molor.

Tapi bukan Rama namanya kalo bakal nyerah gitu aja, buktinya sekarang Rania mau juga duduk semeja sama dia.

"Mau kamu itu apa sih sebenarnya? Gak capek apa gangguin aku terus?"

"Iya salah kamu sendiri yang selalu nolak aku, tapi aku gak bakal nyerah gitu aja. Aku mau kamu jadi pacar aku.. " kata Rama dengan terang - terangan.

Rania tersenyum sinis, "What? Kamu mau apa? Dengar ya aku gak mau pacaran." jawabannya tegas.

"Oke kita ta'aruf, saling mengenal atau apapun itu namanya. Kamu mau suruh aku ketemu orang tua kamu pun, aku juga siap." kata Rama enteng.

"Yakin banget kamu? Kamu punya apa mau ketemu orang tua aku? Aku gak mau sama cowok yang masih tergantung sama orang tuanya."

Rama sedikit tertohok dengan pertanyaan itu, tapi Rama tetaplah Rama yang tidak akan menyerah begitu saja. "Oke aku emang belum punya apa - apa. Tapi aku bakal usahain buat kamu. Iya aku emang gak alim alim banget, tapi aku yakin kalo aku pantes jadi calon Imammu?"

Rania mengangguk - angguk, punya tinggi kepeden yang tinggi sekali pemuda dihadapannya. "Kamu shalat?"

"Iya lah,..." jawab Rama cepat. "Biar kata urakan gini, aku shalat kok..." kalo lagi inget, eh.

Rania menatap tajam, "Kalo Subuh? Shalat kan?"

Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ini nih shalat yang paling susah buat Rama, dia aja selalu tidur jam 1 lebih, jadi kadang shalat, tapi seringnya sih kebablasan. "Shalat sih," jawabnya agak ragu.

"Jam berapa?" tanya Rania. Matanya menuntut jawaban jujur dari Rama.

"Iya tergantung bangunnya, kadang jam 6 lebih sih. Tapikan gak papa yang penting kan tetep shalat." katanya membela diri.

Rania kembali tertawa sinis, "Kamu bangun pagi aja susah, apalagi bangun rumah tangga!"

Di skak seperti itu Rama tidak bisa membela diri. Jadi ia hanya diam dan menunggu apa yang akan cewek itu katakan lagi.

Setelah hening 5 menit, akhirnya Rania membuka suara. "Kamu serius sama aku?"

Rama mendongak, tapi Rania langsung mengalihkan pandangan. Seringai di bibir Rama pun muncul, see? gak ada yang bakal nolak seorang Rama Witradika. Bahkan seorang Rania Amalia sekalipun.

"Iya aku serius, aku bakal lakuin apa aja buat kamu." gombalnya.

Rania mengangguk, "Aku bakal ijinin kamu ketemu orang tua aku, asal kamu bisa penuhin syarat yang aku kasih."

Rama tersenyum senang, "Serius? Oke, apa syaratnya, kamu mau minta mahar apa? Mobil? Rumah?"

Rania memutar bola mata, "Nggak usah kejauhan deh mikirnya." Rama hanya tertawa menanggapi, "Syaratnya gampang kok, kamu cuma harus shalat berjamaah di masjid."

Rama menjentikan jari, "Itu doang? Kecil kalo shalat berjamaah doang mah. Gam-"

"Syaratnya Shalat Subuh berjamaah di Masjid selama 40 hari berturut - turut tanpa putus." selak Rania.

Rama melongo, apa katanya? shalat Subuh? Gila aja!

"Kalo sebelum 40 hari kamu gagal, hitungan dimulai dari awal lagi. Gimana? kamu sanggup?"

Mendadak Rama bimbang, masalahnya ini Subuh men! Dan dalam sejarah hidupnya selama 10 tahun kebelakang, dia tidak pernah shalat Subuh berjamaah di Masjid lagi. Terakhir kali pun karena bulan Ramadhan, setelah itu Rama bersama temannya jalan - jalan pagi untuk sambik menyalahkan petasan.

"Kalo nggak sanggup gak papa kok, yang penting kamu gak ganggu aku lagi."

Mendengar Rania bicara seperti itu egonya terusik, "Siapa yang gak sanggup, aku sanggup kok! Oke aku akan lakukan syarat dari kamu, dan aku yakin kalo aku bisa penuhin syarat ini."

"Dengan jujur." tambah Rania, "Meski nantinya aku gak tau, tapi Allah Maha Mengetahui segalanya."

"Iya aku bakalan jujur. Aku ini laki - laki, apalagi kalo bukan perkataannya yang bisa dipegang."

Rania mengembuskan nafas lega, "Oke kalo gitu, cukup kan hari ini, aku harus pergi."

"Eits, tunggu dulu. Nomer whatsapp kamu, sebagai jaminan dan biar laporan aku gampang nanti." Rama mengulurkan handphonenya.

Dengan setengah hati Rania menerimanya dan mengetikan nomornya disana. Akhirnya Rama punya juga kontak Rania.

"Nih, aku harus pergi. Assalamu'alaikum.." kata Rania sambil buru - buru bangkit dari kursinya.

"Waalaikumsalam calon istri..." jawab Rama sambil tersenyum memandangi Rania yang terlihat salah tingkah.

***


"Hahaha, jadi Rania ngajuin syarat kalo lo harus Shalat Subuh berjamaah selama 40 hari berturut turut?" kata Rasyid dengan nada geli melihat raut frustrasi sahabatnya itu. "Lo yakin sanggup men? Lo aja baru tidur pas mau adzan subuh..." kata Rasyid mencemooh.

Rama hanya mengangguk sambil mengacak rambutnya, dia tidak menanggapi karena apa yang dibilang Rasyid benar.

"Begini amat ya nasib gue, tapi jangan panggil gue Rama kalo nyerah gitu aja." kata Rama menyemangati diri sendiri.

Rasyid hanya terkekeh, "Udah balik sono! Udah hampir jam 12 tuh, besok kesiangan lagi lo." katanya sambil membereskan Kafenya yang tadi tertunda karena curhatan Rama. "Eits, tar dulu, bantu beresin lah."

"Tadi nyuruh balik, sekarang nyuruh bantuin, emang kampret lo." kesal Rama.

Subuhnya hampir saja dia kesiangan jika tidak mendengar Rasyid menggedor pintu kamarnya karena terganggu dengan bunyi alarm Rama.

"Gila lo tidur apa mati sih! alarm lo tuh ganggu orang banget. Bangun lo udah adzan tuh." omel Rasyid, mereka memang tinggal di kosan yang sama.

***


Setelah selesai Shalat Subuh, Rania mengecek handphonenya yang sejak tadi berbunyi terus, "Siapa sih subuh subuh berisik banget."

Ternyata yang mengirimi chat adalah Rama, cowok itu mengirimkan foto dirinya yang ada di Masjid. Rania menggelengkan kepala, dia tahu jika Rama sangat mengantuk di foto tersebut. Tapi cowok itu tetap menjalankan syarat yang Rania beri, cowok itu juga bilang jika dia akan terus laporan setiap subuh sebagai bukti jika dia menjalankan syaratnya dengan jujur.

Dan benar setiap Subuh, Rama mengirimi chat dan fotonya jika dia ada di masjid. Hari - hari berikutnya Rama sering mengirimi chat bahkan kadang tidak penting dan, sering Rania abaikan. Tapi cowok itu tetap saja mengirimkan chat sampai Rania terpaksa membalasnya. Cowok itu juga sering curhat tentang perjuangannya saat bangun subuh. Mulai dari hampir kesiangan, kejedot tembok karena masih mengantuk dan hal lucu lain yang membuat Rania senyum ketika membaca chat tersebut.

Tapi dihari ke 31 tidak ada chat masuk dari Rama yang melaporkan dia Shalat Subuh di masjid. Last Seen Whatsappnya juga tertera kemarin siang. Apa Rama gagal di hari 31ini?, batinnya. Rania menggelengkan kepala mencoba tak peduli. Jika Rama gagal berati memang belum pantas menjadi Imamnya, dia mendengus saat ingat Rama bilang akan mampu melakukan syarat darinya.

***


Sudah tiga hari sejak dia kesiangan bangun Subuh karena main dengan teman - teman motornya hingga dini hari. Sekarang Rama seperti orang yang nyaris frustrasi, sore ini ia duduk dengan lesu didapur Kafe Rasyid, apalagi jika bukan untuk curhat tentang kegalauannya. Selama tiga hari ini dia juga sama sekali tidak memberi kabar pada Rania.

"Yaelah Ram, tinggal lo mulai dari awal lagi kan selama 40 hari kedepan. Ngapain bingung sih."

"Ck, mulut lo gampang banget ngomong, lo gak inget 31 hari kemarin itu gue mati - matian usah buat bangun Subuh. Dan gara - gara kesiangan sehari usaha gue jadi sia - sia. Emang dasar kampret pada." kesal Rama.

"Woho kalem men, lagian lo gak usah nyalahin orang lain deh," cibir Rasyid. "lagian niat lo aja udah salah, lo Shalat cuma karena Rania kan bukan karena Allah dan sekarang lo nyerah?

Rama termenung, hatinya mendadak bimbang apakah akan melanjutkan syarat dari Rania atau menyerah. Apa yang dibilang Rasyid benar, niatnya salah. Mungkin memang benar ya cewek baik - baik kayak Rania gak pantes sama cowok urakan dan gak jelas kayak dia.

"Kayaknya gue sama Rania emang gak jodoh deh, dunia kita beda banget. Kayak langit sama bumi. Dia cewek baik pantes dapetin cowok yang baik juga, bukan gue yang urakan dan gak jelas masa depannya gini."

Rasyid mengernyit dan menyentuh jidat sahabatnya, "Sakit kali lo... Tumben banget seorang Rama jadi lemah begini."

"Men, denger gue. Kata - kata lo emang bener. Kalo perempuan baik - baik hanya untuk laki-laki yang baik pula. Tapi gak ada salahnya juga kan kalo manusia berusaha untuk jadi orang yang lebih baik, Allah pasti juga akan memperbaiki jodoh kita kelak."

Rama mendengarkan dengan seksama Rasyid yang mendadak jadi Ustadz itu.

"Gini men, menurut gue Rania ngasih syarat ini bukan tanpa alesan. Mungkin dia juga pengen lo berubah. Gak ada cewek yang mau dinikahin sama cowok yang hidupnya gak jelas. Kalo saran gue sih mending lo perbaiki diri lo, tinggalin kebiasaan buruk lo, cari kerja dan niatkan shalat Subuh ini biar lo lebih deket sama Allah.

Rama melempar pulpen yang ada didekatnya pada Rasyid. "Kampret lo nyeramahin gue, ngaca lo!"

Rasyid nyengir, "Seenggknya gue gak pengangguran kayak lo! Udah disekolahin tinggi - tinggi juga."

"Kampret lo! Baru punya warkop doang juga."

"Nih lo denger, kalo lo suka sama seseorang jangan dekati dia, tapi dekatilah Tuhan. Meski lo ngejar dia sampe ke ujung dunia pun, tapi kalo Tuhan bilang dia jodoh orang lain, lo bisa apa coba?" nasihat Rasyid dengan senyum puas.

"Kampret! jadi ustadz aja lo cocok." ketus Rama.

Subuh pagi ini Rama memikirkan semua ucapan Rasyid. Dia berniat akan mencari kerja dan perlahan menata hidupnya yang berantakan. Masalah Rania, jika dia adalah jodohnya, Allah pasti akan memudahkan usahanya.

***


Entah ada apa dengan hati Rania, setelah Rasyid bilang jika Rama pindah ke luar kota untuk bekerja. Dia merasa kecewa, setelah chat sore itu yang berisi Rama minta maaf karena gagal memenuhi syarat Rania. Rama tidak memberikan kabar apapun lagi bahkan tentang kepindahannya.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, "Ciye yang dilamar.." ternyata Afnan, adiknya yang nongol di depan pintu. "Turun tuh, calonnya dibawah." katanya.

Rania mengernyit, tidak paham dengan maksud adiknya. "Apaan sih Nan, gak jelas deh."

"Halah, pura - pura. Buruan turun, udah ditunggu calon suami juga. Dandan kek biar cantik dikit," katanya meledek.

Penasaran dengan maksud adiknya Rania buru - buru membenahi penampilannya. Apa coba maksudnya, dilamar? calon suami? Yang dikasih persyaratan aja kabur duluan dan ngilang gak ada kabar. Bilangnya aja mau serius dan bakal sanggup ngelakuin syarat yang dia kasih. Prett!

Rania menuruni satu persatu anak tangga, dan dia mendengar obrolan sang ayah dengan entah siapa.

"Jadi, niat saya ke sini mau melamar Rania."

Rania mempercepat langkahnya, penasaran siapa cowok yang berani bilang seperti itu pada ayahnya.

"Loh, Rama..." Rania kaget karena yang duduk didepan ayahnya adalah seorang Rama.

"Haii Rania..." sapa Rama ketika Rania sudah turun.

"Kamu kok disini? ngapain? bukannya?" tanya Rania yang masih bingung. Bukannya Rama diluar kota, bukannya dia sudah menyerah dan lupa pada syarat yang diajukan Rania.

Rama hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rania yang kebingungan.

TAMAT




Urutan Terlama
sweet gan..
Alhamdulillah taken jg akhirnya
critanya mirip sama webseriea cinta subuh di yutub emoticon-Hammer2
mirip cinta subuh dengan sedikit perubahan
bagus gan ceritanya...


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di