alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Nasib Anies Baswedan Diputus Pengadilan Senin Depan. Terkait Kasus Apa?
1 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b1340b19e7404f35a8b4568/nasib-anies-baswedan-diputus-pengadilan-senin-depan-terkait-kasus-apa

Nasib Anies Baswedan Diputus Pengadilan Senin Depan. Terkait Kasus Apa?

POS-KUPANG.COM, JAKARTA -- Gugatan Tim Advokasi Anti Diskriminasi Ras dan Etnis (TAKTIS) terhadap Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan terkait ujaran kontroversial pribumi dan non pribumi dalam pidato pelantikannya, kini telah memasuki tahapan akhir yakni putusan.

Sebelumnya pada persidangan Senin (21/5/2018) lalu, para pihak (TAKTIS dan Anies Baswedan) telah memasukan kesimpulan akhir kepada majelis hakim untuk menjadi bahan pertimbangan putusan.
Siaran pers TAKTIS yang diterima Pos-Kupang.Com, Sabtu (2/6/2018), menyebutkan Gubernur Anies Baswedan diduga melakukan perbuatan melawan hukum melalui pidatonya pada tanggal 17 Oktober 2017 lalu.

Pidato tersebut dinilai rasis oleh para pengunggat karena melanggar ketentuan Instruksi Presiden (Inpres) No. 26 tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi oleh pejabat penyelenggara negara, termasuk gubernur.

Sesuai Inpres tersebut, Anies Baswedan diduga telah melanggar ketentuan klausul pertama dan kedua, yang mana berbunyi :

Pertama : "Menghentikan penggunaan istilah pribumi dan non pribumi dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan, perencanaan program, ataupun pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan".

Kedua : "Memberikan perlakuan dan layanan yang sama kepada seluruh warga negara Indonesia dalam penyelenggaraan layanan pemerintahan, kemasyarakatan dan pembangunan, dan meniadakan pembedaan dalam segala bentuk, sifat serta tingkatan kepada warga negara Indonesia baik atas dasar suku, agama, ras maupun asal-usul dalam penyelenggaraan layanan tersebut".

Selain itu, Gubernur Anies juga diduga melanggar ketentuan Pasal 4 huruf b angka (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, yang mana pada pokoknya berbunyi :

"Tindakan diskriminatif ras dan etnis berupa menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain."

Atas dasar itu, kemudian dengan merujuk pada pasal 1365 dan 1366 KUHPerdata Jo Pasal 13 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, TAKTIS pun melayangkan gugatan perdata kepada mantan rektor Universitas Paramadina itu.

Gugatan itu terdaftar secara resmi di Kepaniteraan Perdata, PN Jakarta Pusat pada tanggal 7 november 2017 dengan Nomor perkata: 588/PDT.GBTH.PLW.2017/PN.JKT.PST.
Dalam proses mediasi , Anies Baswedan selaku tergugat, tidak hadir tiga kali berturut-turut.

Berdasarkan keterangan dari kuasanya, Nadya Zunairoh Dan Aditya Nugroho (Biro Hukum Pemprov DKI Jakarta), klientnya tidak bisa hadir karena disibukkan agenda tugas sebagai gubernur.
Padahal dalam Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan, secara tegas mengatur bahwa dalam tahapan mediasi, para pihak yang berperkara diwajibkan untuk hadir secara langsung.

Pasal 6 ayat (1) : "Para pihak wajib menghadiri secara langsung pertemuan mediasi dengan atau tanpa didampingi oleh kuasa hukum."
Tidak hanya sampai di situ, sidang yang sudah dimulai sejak tanggal 14 Desember 2017 dan akan memasuki tahapan terakhir ini pun, Anies Baswedan sama sekali tidak pernah muncul di persidangan secara langsung sebagai tergugat prinsipal.

Meskipun demikian TAKTIS tidak mengendurkan semangat perjuangannya demi menegakan keadilan.
Hermawi Tasllim,S.H., anggota TAKTIS, menuturkan gugatan yang pihaknya ajukan, selain untuk mendapatkan kepastian hukum, sasaran yang mau dicapai adalah terpenuhinya rasa keadilan bagi seluruh warga bangsa yang telah tercederai hak kebinekaannya oleh ujaran pribumi dan non pribumi tergugat.

"Secara esensi, gugatan kami ini, selain untuk mendapatkan kepastian hukum (karena Indonesia adalah negara hukum), juga dimaksudkan untuk terpenuhinya rasa keadilan bagi warga bangsa ini, yang mana sudah kita ketahui bersama bahwa hak kebinekaan warga bangsa yang dicederai, dilanggar oleh karena pernyataan tidak etis dari tergugat," tutur Taslim.

Anggota TAKTIS lainnya, Daniel Tonapa Masiku, S.H., menambahkan, bangsa Indonesia akhir-akhir ini sedang terancam keutuhananya oleh sikap-sikap yang tidak mencerminkan rasa kebinekaan dan rasa keindonesiaan. Hal itu tidak hanya datang dari aktor non negara (non state actor), tetapi juga dari negara itu sendiri (state actor) .

Salah satu bentuk nyata yang sering terjadi adalah praktik diskriminasi yang berbasiskan SARA. sehingga menurutnya, putusan hakim dapat menjadi yurisprudensi baru bagi tatanan hukum nasional dan juga memberi efek pembelajaran anti SARA bagi para penyelenggara negara, termasuk tergugat.

"Harus diakui bahwa, hari ini, bangsa kita dalam kondisi yang terancam keutuhannya oleh karena sikap-sikap yang tidak pro pada kebinekaan dan keindonesiaan. Diskriminasi berbasiskan SARA merupakan bentuk yang paling tampak kita jumpai. Pelakunya tidak hanya sipil tapi juga negara, pejabat negara di sana terlibat.... dan vonis hakim nanti akan menjadi sumber hukum baru (yurisprudensi), sekaligus memberikan efek pembelajaran anti rasial dan etnis bagi penyelenggara negara," tambah Daniel.

Sementara juru bicara TAKTIS, Greg R. Daeng, mengungkapkan jika tidak ada perubahan, sidang pembacaan putusan akan berlangsung pada Senin, 4 Juni 2018 pukul 10.00 WIB.
Komposisi majelis hakim antara lain, Tafsir Sembiring Meliala, SH.MH (ketua), Abdul Kohar,S.H.,M.H., (anggota) dan Desbenneri Sinaga, S.H., M.H. (anggota).

Lebih lanjut ia mengatakan, pada sidang putusan nanti pihaknya (TAKTIS) akan hadir lengkap sebagai bentuk komitmen perjuangan mewujudkan keadilan.

TAKTIS yang beranggotakan para advokat seperti Hermawi Taslim, S.H., Cosmas Egidius Refra,S.H., Daniel Tonapa Masiku,S.H., Gregorius Retas Daeng,S.H., Vitalis Jenarus,S.H., dan Christianus Budi,S.H., pada November 2017 lalu melayangkan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) kepada Gubernur Anies Baswedan.

Anies dinilai telah melakukan diskriminasi ras dan etnis melalui pidatonya pada momentum pelantikan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. *

http://kupang.tribunnews.com/2018/06/02/nasib-anies-baswedan-diputus-pengadilan-senin-depan-terkait-kasus-apa?page=all
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
emoticon-Roll Eyes (Sarcastic)
laskar akan mengawal putusan ini !

laskar pribumi dan laskar non pribumi (keturunan arap) akan bersatu emoticon-Ultah
emoticon-Ngacir
Nasib Anies Baswedan Diputus Pengadilan Senin Depan. Terkait Kasus Apa?
mantan menteri pendidikan bicara pribumi dan non pribumi

Gak etis
"Harus BEBAS!!! Pokokmen harus!!!", NGUMAT 212 bergantung pada-MU"

'Logistics Tiris, Gaji telat, kas bon dimana-mana" emoticon-Leh Uga
Gw yakin si goblok lolos lah kasus ini mah
Ini yang 3x dipanggil mangkir semua ya ?
Dikit banget beritanya emoticon-Shutup
pribumi ngarab jink
diusung kelompok gitu ya gk heran, arab saja dianggap pribumi emoticon-Traveller
jadi gini... sebodo amat ma taik

ntap
goyang puting item
Nasib Anies Baswedan Diputus Pengadilan Senin Depan. Terkait Kasus Apa?
astajim minta ga disholatin nih bangkek hakimnya emoticon-Kagets
terlalu banyak yg palsu...
Perdata yak? Kebayarlah tuh, yg belain juga bakal nyumbang klo kenak emoticon-Hammer (S)

Wa kirain yg gara2 nutup jalan ntuh..
Diubah oleh RyoEdogawa
langsung demo berjilid jilid lagi dong, siapin dana nya buat sponsorin umat yg demo emoticon-Leh Uga
Sok sibuk tugas gabener, klo tiba ga lolos br tau emoticon-Wakaka
1000jin mijon siap menjebloskan anies ke penjara
gegara itik bertelor
Makan tuh telor itik nis.
Bayar denda klo kalah perdata
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di