alexa-tracking

Rapat KSSK Bukti Kepanikan Pemerintah Terancam Krisis Ekonomi

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b11e3325a51636c548b4567/rapat-kssk-bukti-kepanikan-pemerintah-terancam-krisis-ekonomi
Rapat KSSK Bukti Kepanikan Pemerintah Terancam Krisis Ekonomi
Rapat KSSK Bukti Kepanikan Pemerintah Terancam Krisis Ekonomi

Rabu, 30/05/2018 13:53 WIB

Rapat KSSK Bukti Kepanikan Pemerintah Terancam Krisis Ekonomi
Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengkritik pemerintah melakukan propaganda hanya demi meredakan krisis ekonomi. (AFP PHOTO / AGUS LOLONG)

Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Fuad Bawazier menilai pernyataan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terkait penguatan koordinasi dan bauran kebijakan ekonomi merupakan propaganda untuk menutup kepanikan pemerintah terhadap ancaman krisis ekonomi. 

Pada Senin (28/5) lalu, KSSK yang terdiri dari pemerintah yang diwakili Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tiba-tiba menerbitkan keterangan pers terkait upaya koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi. Mereka juga menyebutkan kondisi ekonomi Indonesia cukup baik dan kuat. 

Menurut mantan Menteri Keuangan Era Orde Baru itu, pernyataan KSSK dilakukan untuk menenangkan masyarakat, sekaligus menunjukkan pemerintah menyadari bahwa ada sesuatu yang serius dalam perekonomian Indonesia, sehingga membuat pelaku pasar gelisah.

Tak hanya itu, melalui pernyataan tersebut, Fuad menilai pemerintah telah menyeret dan mencoba berbagi tanggung jawab dengan BI, OJK, dan LPS. 

"Sayangnya argumentasi dan pernyataan yang dikemukakan (KSSK) ngambang dan tidak full disclosure, sehingga bagi orang yang mengerti ekonomi seketika saja tahu bahwa itu semacam propaganda untuk menutup kepanikan sekaligus mengantisipasi ancaman krisis," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (30/5).

Propaganda yang dimaksud Fuad ialah pemerintah memaparkan data-data secara sepotong, sehingga tak memperlihatkan kondisi ekonomi sesungguhnya secara komprehensif.

Misalnya saja, data defisit transaksi berjalan yang tengah menjadi isu ekonomi terkini dipaparkan tanpa perbandingan tahun sebelumnya. Begitu pula dengan data pertumbuhan ekonomi yang tak disejajarkan dengan target tahun ini maupun pencapaian tahun lalu.

"Argumentasi normatif dan formalitas seperti ini juga biasa digunakan pemerintah untuk menjustifikasi defisit APBN yang maksimal 3 persen PDB dan utang negara yang maksimal 60 persen PDB sesuai UU Keuangan Negara No. 17 Tahun 2003," paparnya.

Menurut Fuad, pemerintah juga membandingkan keterpurukan kurs rupiah dengan mata uang Turki dan Brazil, bukannya dengan sesama negara ASEAN. Sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang jatuh hingga 5,98 persen dianggap masih terkendali, dan itu karena keluarnya arus modal asing dari pasar saham. 

Sayangnya, sambung Fuad, tidak disebutkan total modal asing yang keluar dari pasar saham atau ekonomi Indonesia pada umumnya. 

Pada saat yang bersamaan, dalam dokumen KPB ini juga disebutkan adanya UU Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis yang memberikan kewenangan istimewa bagi Pemerintah, BI, OJK dan LPS bertindak dalam hal terdapat ancaman krisis. 

"Kewenangan istimewa ini di perkuat atau dipermudah penggunaannya sebagaimana termuat dalam UU APBN 2018 yang juga sudah kami kritisi karena mengandung semangat moral hazard yang tinggi," terang dia.

Jadi, tambahnya, bukan tidak mungkin bagi kami yang sering mengingatkan bahwa tahun politik identik dengan tahun krisis ekonomi, seperti 1998 dengan skandal BLBI, 2008 dengan skandal Bank Century, dan 2018 dengan potensi skandal lain

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi...krisis-ekonomi


George Soros Was-was Tahun Ini Ada Krisis Ekonomi Lagi
Kamis, 31 Mei 2018 10:45 WIB


Rapat KSSK Bukti Kepanikan Pemerintah Terancam Krisis EkonomiGeorge Soros. Foto: Reuters

Jakarta - Investor miliarder legendaris George Soros mengkhawatirkan bakal terjadi krisis keuangan berskala besar tahun ini, khususnya di Uni Eropa.

Dikutip CNN, Rabu (30/5/2018), Soros menyampaikan itu pada pertemuan tahunan Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, di Paris, Selasa (29/5/2018).

Dia menyoroti, pertama, bahwa sentimen anti-Uni Eropa meningkat, lalu terjadi gangguan terhadap kesepakatan Iran, serta melonjaknya dolar AS. Selain itu, investor pun cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang. Hal ini menambah catatan negatif untuk ekonomi global.
"Kami mungkin menuju krisis keuangan besar lainnya," katanya.

Dia juga menyesalkan fakta bahwa sejak 2008, program penghematan Uni Eropa justru membantu mengarahkan pada krisis. Hal ini memicu gerakan anti-Uni Eropa.

"Banyak anak muda hari ini menganggap Uni Eropa sebagai musuh yang telah merampas mereka dari pekerjaan dan masa depan yang aman dan menjanjikan. Politisi populis mengeksploitasi kebencian dan membentuk partai-partai dan gerakan-gerakan anti-Eropa," jelasnya.

Soros juga khawatir tentang fakta bahwa ada kesenjangan yang berkembang antara Eropa dan Amerika Serikat (AS) terkait Iran.

Soros mengatakan keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mundur secara sepihak dari perjanjian senjata nuklir dengan Iran secara efektif menghancurkan aliansi transatlantik.

Baca juga: Setelah Brexit, Italexit Menyusul?

Dirinya memprediksi penghentian kesepakatan dengan Iran pasti akan berefek negatif pada ekonomi Eropa.

Tetapi Soros menyampaikan masih ada harapan dari pasar global lain, dan bencana ekonomi dapat dihindari.

Dia pun terus menekankan bahwa masalah ekonomi akhirnya akan membuat anggota Uni Eropa malah semakin kuat, namun butuh waktu untuk itu. Menurutnya Uni Eropa juga perlu berbenah.

"Perlu mengubah dirinya menjadi sebuah asosiasi yang diinginkan negara-negara seperti Inggris untuk bergabung," tambahnya.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4046540/george-soros-was-was-tahun-ini-ada-krisis-ekonomi-lagi



Mantan Menkeu Ini Sebut Pemerintah Tak Jujur Soal Kondisi Ekonomi RI

30 Mei 2018

Rapat KSSK Bukti Kepanikan Pemerintah Terancam Krisis EkonomiFoto: Mantan Menteri Keuangan (1998), Fuad Bawazier

Keuangan.co, Jakarta - Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada Senin lalu menerbitkan keterangan pers bersama (KPB) terkait koordinasi dan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas perekonomian. Konferensi pers itu menyebut kondisi ekonomi Indonesia masih cukup baik dan kuat. 

Menanggapi hal tersebut Mantan Menteri Keuangan (1998), Fuad Bawazier mengungkapkan keterangan tersebut diberikan karena pemerintah menyadari bahwa ada sesuatu yang serius dalam perekonomian Indonesia yang membuat pelaku pasar gelisah, sehingga tidak tradisinya menerbitkan keterangan pers.

"Sayangnya argumentasi dan pernyataan pernyataan yang dikemukakan dalam KPB ngambang dan tidak full disclosure sehingga bagi orang yang mengerti ekonomi seketika saja tahu bahwa KPB itu semacam propaganda untuk menutup kepanikan sekaligus mengantisipasi ancaman krisis," kata Fuad Bawazier dalam keterangannya, Rabu (30/5/2018).

Dia menyebut dengan cara KPB ini Pemerintah telah menyeret atau mencoba berbagi tanggung jawab dengan BI, OJK, dan LPS. Menurut dia ada hal-hal yang tidak disampaikan secara penuh dalam keterangan tersebut. Seperti angka defisit transaksi berjalan yang meningkat pada kuartal I 2018 namun masih lebih rendah dibandingkan kuartal I 2013. 

Menurut Fuad, perbandingan harusnya dengan target dan pencapaian tahun sebelumnya yaitu tahun 2017. Selain defisit, begitupun dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2018 yang hanya disebutkan tumbuh tanpa disebutkan dengan targetnya ataupun tahun sebelumnya.

Menurut dia, angka defisit transaksi berjalan tahun ini 2018 diperkirakan di bawah 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). Fuad menjelaskan argumentasi normatif dan formalitas seperti ini juga biasa digunakan pemerintah untuk menjustifikasi defisit APBN yang maksimum 3% PDB dan utang negara yang maksimum 60% PDB sesuai UU Keuangan Negara No. 17 Tahun 2003. 

Menurut dia keterangan tersebut tidak memberikan informasi yang semestinya. Ini karena pemerintah juga membandingkan keterpurukan kurs rupiah dengan mata uang Turki dan Brazil, padahal seharusnya pemerintah membandingkan keterpurukan kurs rupiah dengan mata uang sesama negara ASEAN.

Sedangkan terhadap jatuhnya IHSG di BEI disebutkan sebesar 5,98% masih terkendali dan itu karena keluarnya arus modal asing dari pasar saham. 

"Sayangnya tidak disebutkan berapa modal asing yang keluar dari pasar saham atau ekonomi Indonesia pada umumnya. Singkat kata, KPB itu lebih tepat disebutkan sebagai permainan kata kata dan kalimat tetapi tidak full disclosure, untuk tidak mengatakan propaganda bohong," ujarnya.

Dia mengaku kasihan dan prihatin pada BI, OJK dan LPS yang harusnya menjalankan sistem keuangan secara independen. Namun kini ketiga lembaga tersebut diajak bertanggung jawab pada kondisi perekonomian pada umumnya.

Pada saat yang bersamaan, dalam dokumen KPB ini juga disebutkan adanya UU No.9/ Thn 2016 Tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis yang memberikan kewenangan istimewa bagi Pemerintah, BI, OJK dan LPS bertindak dalam hal terdapat ancaman krisis. Kewenangan istimewa ini di perkuat atau dipermudah penggunaannya sebagaimana termuat dalam UU APBN 2018 yang juga sudah kami kritisi karena mengandung semangat moral hazard yang tinggi. 

"Jadi bukan tidak mungkin atau cukup berdasar bagi kami yang sering mengingatkan bahwa tahun politik identik dengan tahun krisis ekonomi seperti tahun 1998 dengan skandal BLBI, tahun 2008 dengan skandal Bank Century, dan tahun 2018 dengan skandal "tanyalah pada ahlinya/pemainnya"," ujarnya.

https://keuangan.co/isi/judul/Mantan_Menkeu_Ini_Sebut_Pemerintah_Tak_Jujur_Soal_Kondisi_Ekonomi_RI

Tiga Optimisme Gubernur BI Terhindar dari Serangan Krisis Ekonom

Keyakinan Gubernur BI Perry Warjiyo terkait posisi neraca transaksi berjalan, utang, dan rupiah yang masih terkendali.
Senin 28/5/2018, 07.06 WIB

Rapat KSSK Bukti Kepanikan Pemerintah Terancam Krisis Ekonomi
Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan pemaparan saat seminar ekonomi internasional di Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/4). Seminar yang diselenggarakan Bank Indonesia itu membahas tentang pandangan ekonomi global dari perspektif ASEAN.

Karena rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus level 14.000 dalam dua pekan terakhir, banyak pihak mengkhwatirkan krisis ekonomi akan mendera Indonesia kembali layaknya 1998. Namun tidak bagi Perry Warjiyo. Gubernur Bank Indonesia (BI) ini, dilantik Kamis pekan lalu, menampik kekhawatiran tersebut.


Menurutnyam ekonomi Indonesia tidak dalam posisi memasuki “lampu kuning” krisis. Optimismenya dilandaskan pada tiga indikator. Pertama, ekonomi suatu negara dikatakan krisis apabila defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) tidak terkendali. “Indonesia aman, tidak lebih dari tiga persen (dari PDB),” kata Perry di kantornya, Jakarta, Jumat (25/5). 


Pada kuartal pertama kemarin, bank sentral melaporkan defisit transaksi berjalan sebesar US$ 5,5 miliar atau 2,1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini menurun dari kuartal terakhir 2017 yang masih 2,3 persen senilai US$ 6,0 miliar. Kondisi tersebut pun diyakini mampu menopang ketahanan sektor eksternal perekonomian Indonesia. (Baca: Menepis Kekhawatiran Hantu Krisis 1998).


Menurut Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Arbonas Hutabarat, penurunan defisit transaksi berjalan ketika itu terutama dipengaruhi oleh penurunan defisit neraca jasa dan peningkatan surplus neraca pendapatan sekunder.
Penurunan defisit neraca jasa ini dipicu signifikan oleh kenaikan surplus jasa perjalanan seiring naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan menurunnya impor jasa pengangkutan. Adapun peningkatan surplus neraca pendapatan sekunder seiring dengan naiknya penerimaan remitansi dari pekerja migran Indonesia.


Walau demikian, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-April 2018 defisit US$ 1,31 miliar. Hal ini yang diduga menjadi salah satu pemicu melemahnya rupiah hingga mendekati 14.200 per dolar Amerika. Sementara cadangan devisa sampai akhir April 2018 mencapai US$ 124,86 miliar.

Optimisme kedua yang dibangun Perry yakni terkait utang luar negeri. Saat ini, Indonesia tidak dalam posisi tidak mampu membayar utang. Ketidakmampuan untuk membayar utang merupakan indikator lain krisis ekonomi suatu negara.
BI melansir utang luar negeri Indonesia sebesar US$ 358,7 miliar atau sekitar Rp 5.043 triliun pada akhir Maret 2018, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang US$ 357,19 triliun atau sekitar Rp 4.929,2 triliun. Secara tahunan atau year on year (yoy), jumlah tersebut naik 8,7 persen, lebih pesat dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama 2017 sebesar 2,9 persen.


Meski begitu, rasio utang terjaga di kisaran 34,77 persen terhadap PDB. “Debt problem yang seperti itu terkait fundamental,” kata Perry. Rasio utang tersebut memang jauh dari batas maksimal 60 persen terhadap PDB dan juga lebih rendah dari rata-rata beberapa negara peers.


Total utang luar negeri Indonesia terdiri dari utang luar negeri pemerintah dan bank sentral US$ 184,69 miliar serta utang swasta US$ 174,05 miliar. Untuk utang pemerintah dan bank sentral dalam tiga bulan pertama tahun ini meningkat US$ 4,06 miliar (2,25 persen) dari posisi Desember 2017, sementara utang swasta meningkat US$ 1,34 miliar (0,78 persen).


Walaupun utang luar negeri meningkat, tapi PDB Indonesia juga membesar hingga US$ 16,3 miliar (1,6 persen) menjadi US$ 1.031,87 miliar pada triwulan satu tahun 2018, lebih tinggi dari triwulan keempat tahun lalu US$ 1.015,57 miliar. (Lihat: Kondisi Utang Luar Negeri Indonesia 1998 dengan 2017).

Indikator terakhir, Perry optimistis terkait depresiasi rupiah. Menurutnya, tingkat depresiasi rupiah secara year to date (ytd) sebesar 4,3 persen atau rendah dibandingkan negara lain. Jika dibandingkan dengan CAD, tingkat rupiah depresiasinya relatif rendah.


Selain itu, Perry menilai Indonesia sudah melalui berbagai tekanan, seperti masa temper tantrum pada 2013 dan tekanan dari revisi pertumbuhan perekonomian Tiongkok 2015. “Sekarang jauh lebih kecil dari episode-episode tadi,” ujar dia. Walau demikian, dia menegaskan BI akan selalu waspada dan konsisten dengan perhitungan yang dilakukan untuk langkah stabilisasi nilai tukar.


Bila dibandingkan dengan krisis 1998, rupiah sempat melemah hingga 16.650 per dolar. Namun, neraca perdagangan triwulan kedua ketika itu masih surplus US$ 1,2 miliar dan neraca transaksi berjalan surplus US$ 670 juta. Hanya saja, cadangan devisa kala itu hanya US$ 18,99 miliar.


Saat ini, membaiknya ekonomi Amerika membuka ruang bagi kenaikan suku bunga The Fed hingga tiga kali lagi hingga akhir tahun yang memicu terapresiasinya dolar terhadap mata uang utama dunia.


Ketidakpastian pasar finansial global terkait kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi fokus utama para pelaku pasar. Mereka mencoba mengalihkan dana kelolaannya dari mata uang yang dianggap berisiko ke yang aman (safe haven) seperti dolar Amerika maupun yen Jepang. Nilai tukar rupiah untuk kontrak satu bulan ke depan berada di level 14.250 dan kontrak tiga bulan ke depan 14.419.
https://katadata.co.id/berita/2018/05/28/tiga-optimisme-gubernur-bi-terhindar-dari-krisis-ekonomi


-------------------------

Pemerintahan rezim Jokowi harus menyadari betul bahwa kondisi lingkungan ekonomi menjelang krismon 1997 lalu, jauh berbeda dengan masa kini. Di zaman medsos dan dimana internet menjadi acuan masyarakat memperoleh informasi dari seluruh jagad, assumsi rakyat nggak tahu apa-apa tentang apa yang sedang terjadi di luar sana harus dibuang jauh-jauh. Rezim "A-Symetric information'' seperti zaman Orde Baru dulu sudah lama berakhir. Kini masyarakat (terutama kalangan pelaku bisnis dan ekonomi serta pemilik modal/kekayaan) dalam hitungan detik bisa mengakses berbagai informasi terkini tentang kondisi terakhir ekonomi di dalam negeri dan internasional, sehingga ada cukup waktu bagi mereka untuk mengambil berbagai keputusan strategis yang menyangkut aset-assetnya yang perlu diselamatkan setiap saat. THINK!
Fuad bawazier?

Skip emoticon-Ngacir
angkat wowo jadi presiden !!
utang RI langsung lunas !!
1 dollar = 500 rupiah !!

emoticon-Mad
Nyimek aja gans emoticon-Big Grin

Yg penting masih bisa jalan2 ke sengapoor aman gans emoticon-Smilie
Tenaang kita punya menkeu terbaik eks WB, semua PASTI selesaiemoticon-Big Grin
Kmrn aja Indo sdh putuskan 35T hanya utk THR pns dan kasih 100jt perbulan lebih utk Guardian of the Pancasila,dgn nilai rapelan penghasilan sampai milyaran rupiahemoticon-Big Grin
Quote:


terlepas dia itu sekarang adalah politisi parpol saat ini, beliau adalah seorang akuntan, ekonom, pernah masuk di pemerintahan, dan analisa-analisa ekonominya pastilah berdasarkan referensi yang cukup valid karena beliau itu juga Dosen (di UGM) dan Ph.D lulusan AS di bidang ilmu ekonomi/akuntansi.

Kalau analisisnya ngawur dan tendensius, pastilah akan dikoreksi oleh para ekonom lainnya karena pada saat ini, ekonom muda bergelar Ph.D di bidang ilmu ekonomi dan keuangan internasioanl, yang juga pinter-pinter banyak lulusan Amrik dan Eropa serta Ostrali, banyak sekali di berbagai instansi/lembaga di tanah air ini. Dan banyak pula yang diam-diam menyamar menjadi "Keyboard Warrior"...

emoticon-Angkat Beer
Sebenernya udh terlihat sejak
- dicabutnya subsidi bbm. Fakta berkata sejak itu keadaan pasar langsung berubah sepi. Terlepas apapun alasannya.
- dicabutnya subsidi listrik dll utk kelas menengah. Padahal penyumbang pwrputaran uang adalah kelas menengah
- Pwrubahan pola konsumen dari offline ke online yg notabene langsung memutus rantai distribusi langsung ke agen utama.
- kondisi politik
- pembangunan proyek besar besaran. Alangkah bagusnya jika satu diselesaiin baru dilanjutkan yg lain. Logika dasar..anda membangun rumah jika gak ada duit maka hidup anda setelah itu harus prihatin dan super hemat buat ngelunasi itu rumah.
- blm masalah pajak
- cukai rokok yg naik gila2an, imbasnya pabrik rokok. Dan imbasnya lagi ya buruh dan petani.
Memang rokok menggangu kesehatan, tapi tergantung orgnya, yg disosialisasikan tentu orgnya bukan menekan pabriknya.


Memang subsidi hrs diputus tpi moment dan besarannya harus diperhitungkan.
Ibarat film bioskop, endingnya belum kelihatan. Jadi terlepas gagal atau tidak masih blm tahu.

Dibilang gagal ya tidak, di papua dan luar pulau udh lbh baik dripada dahulu, bbm, semen dll udh sama.
Dibilang berhasil ya blm, byk mega proyek yg belum sepenuhnya selesai, effeknya blm keliatan

Jgnlah menilai dari 1 sisi aja. Tiap keadaan dan kondisi selalu lihat, dari 2 sisi. Kacamata jgn hanya hitam. Lihat jangan hanya negatifnya aja.


Quote:

panik apa antisipatif? thanks udah mengingatkan, tapi input dari lo apaan ya?

Quote:


Thisemoticon-2 Jempol
Quote:

Sepakat gan
Skrg roda ekonomi kita sedang terseok-seok
Banyak juga phk masal,pabrik2 banyak yg tutup
Apa yg dikatan fuad bawasir memang benar
Tuh geogre soros juga kwatirkan ekonomi global juga
Artikel yg di bawa ts cukup menarik

Tuh d atas ada nastak kejang2 ngak karuan
emoticon-Leh Uga
gara2 1 orang gk mikir akhirnya semua harus mikir emoticon-Cape d... (S)
Quote:


Udahlah yang pasti2 aja.. kemarin ada yang janji rupiah bakalan langsung menguat ke 10.000 mana? Malah naik ke 14000 tolol apa goblok tuh yang ngomong?
Ekonomi bangsa ini tu baik-baik aja kok.
orang rapat ya wajar aja, lagian dunia emang bakal resesi gara gara dollar mengamuk
Quote:


hahaha baru hepi2 abis pelantikan

egk ding, wkt itu abis pelantikan suharto yg terakhir kali, sdh pada mulai rame
reformasi sih

bnyk menteri2 yg ditunjuk malah resign

doi termasuk yg tetep bertahan brrti

Quote:
Ekonomi mau ambruk.

Saya mau siapkan cadangan makanan 6 bulan dirumah emoticon-Big Grin
Bagus..dong berarti faham akan resiko.

Justru kl ada yg bilang semua Bae k Baek saja , ane malah khawatir