alexa-tracking

Kata SETIA

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b0d6929c0d770cb6d8b4567/kata-setia
Kata SETIA
Sebagai manusia yang masih dan terus memohon kepada Sang Pencipta, aku berharap diberikan ruang yang terbaik dalam hidup. Aku yakin betul bahwa tugas manusia hanya meminta kepadaNya dan tak lupa untuk berusaha agar semua kemauan dapat terwujud. Dan sebagai manusia biasa, aku juga yakin bahwa akhir dari usaha tersebut tak jarang yang mengecewakan hati, dengan begitulah kita dilatih untuk ikhlas dan tidak lupa untuk terus bekerja keras serta tetap pada jalanNya.

Pagi ini aku memulai langkah kakiku dan selalu berharap diberikan kemudahan untuk satu hari ini dan seterusnya. Tidak mudah tinggal sendiri di tempat asing seperti ini, keraguan dan kecemasan sudah melekat dari awal aku memutuskan untuk jauh dari kedua orangtua. Keikhlasan mereka yang kubutuhkan untuk saat ini, agar jalanku selalu mendapat ridhoNya. Cahay matahari yang begitu terang, memberikanku semangat untuk menjalankan kegiatan hari ini.


Sesuai dengan rencana awal, aku sudah berjanji kepada seseorang untuk bertemu di halte tempat biasa dia datangi sebelum pergi ketempat tujuan. Dia adalah seorang pria seusia ku dan senasib dengan ku, yang berjuang  di tempat asing ini untuk memperoleh apa yang kami inginkan nantinya. Tapi, dia lebih dahulu berada di tempat ini sebelum aku. Maka dari itu, aku harus banyak belajar darinya.


Tepat pukul 07.00 aku tiba di halte tersebut, aku melihat ia sedang duduk diantara dua wanita yang usianya jauh lebih tua dari kami. Aku langsung menyapanya saat itu, dan diapun seketika membalas sapaku. Ya, dia merupakan orang yang ramah dan baik menurut ku. Tanpa berfikir panjang, kamipun langung menaiki bus yang sudah ditunggu sejak 10 menit yang lalu. Kebetulan ada dua kursi kosong di pojok kiri dan menjadi kursi untuk kami berdua.


Tanpa banyak perbincangan di sepanjang jalan, aku lebih menikmati perjalanan dengan memandangi kiri dan kanan. Ini pertama kalinya aku melihat pagi hari dari tempat yang berbeda, hanya bahagia yang kurasa saat itu. Sedangkan diirinya, hanya membaca buku bacaan yang aku tak tau isinya apa. Tapi, di menit ke 10 saat kami masih di dalam bus itu, dia memulai pembicaraan denganku. Dia mengatakan bahwa malam ini akan diadakan pementasan seni khas daerah, dia berniat mengajakku agar aku lebih familiar dengan tempat ini nantinya.


Dan jawaban ku pada saat itu adalah iya, sudah pasti iya, karena aku menyukai perunjukkan seni jenis apapun. Ketika dia mendengar jawabanku, wajah bahagia yang ia tunjukkan dari kedua lesung pipinya yang dalam. Karena memang pada dasarnya ia tidak banyak bicara, jadi aku mencoba untuk memahami maksudnya dari gestur yang ia tunjukkan.

Tak terasa, kami pun sampai di tempat tujuan dan sekaligus berpisah untuk menuju ke kelas masing-masing. Terima kasih sudah menemaniku sampai tempat tujuan, kalimat itu yang aku ucapkan sebelum berpisah. Aku berjalan kekanan sedangkan ia ke kiri. Ia berjalan lurus tanpa menoleh kebelakang lagi. Selama perjalanan menuju kelas, aku teringat kalimatnya sewaktu di bus. Ia mengatakan, bahwa akan menungguku di halte tepat pukul 8, setengah jam sebelum pertunjukkan  dimulai. Karena aku tau dia adalah orang yang super sangat on time, maka dari itu aku mengusahakan sebelum jam 8 aku sudah ada di halte tersebut.


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan aku pun sudah menyelesaikan kuliah pada hari itu. Bahagia ku rasa, pertama kali kuliah dan mengesankan sekali bagiku. Aku pun menggunakan langkah cepat untuk menuju halte dan haru tiba dirumah sebelum jam 8 malam. Campur aduk perasaan ku ketika perjalanan pulang, perasaan yang sering aku rasakan ketika akan mengalami hal buruk. Ada apa ini? Fikirku, gelisah sekali aku saat itu. Ku pandangi keluar jendela, berharap tidak ada hal aneh yang akan terjadi. Dan semua itu seketika tidak menjadi kenyataan, bus yang aku naiki mengalami sedikit kecelakaan. Kedua ban depan yang menopang bobot bus mengalami kebocoran. Berapa lama lagi ini akan selasai fikirku, waktu sudah pukul 7.30 malam.


Keringat bercucuran membasahi wajahku, terbayang wajahnya yang sudah berada di halte tempat kami janjian untuk pergi ke pementasan itu. Ingin rasanya aku terbang untuk menjumpainya, tapi apa daya semua sia-sia bus tersebut masih harus di selesaikan. Kalau pada saat itu sudah ada teknologi canggih seperti sekarang, maka tidak sulit ku rasa.

Ya, ini adalah tahun 1995, dimana komunikasi hanya teruntuk orang-orang berduit, apa daya aku yang hanya mahasiswa pas-passan. Bagaimana keadaan dia, marahkah dia padaku? Kesalkah dia padaku? Inginkah dia memaki ku ketika bertemu? Semua pertanyaan itu terbang-terbang di fikirayanya aku saat itu, kepada siapa aku meminta tolong? Penumpang hanya berisi 3 orang. Bus susulan yang akan lewat masih ½ jam lagi, dan itu akan sia-sia fikirku.

Bagaimana ia???????????

×