alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Cerita Ali Imron 'Dikerjai' Jadi Teroris Bom Bali
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afd0ecfdc06bdad1f8b4575/cerita-ali-imron-dikerjai-jadi-teroris-bom-bali

Cerita Ali Imron 'Dikerjai' Jadi Teroris Bom Bali

Cerita Ali Imron 'Dikerjai' Jadi Teroris Bom Bali

Liputan6.com, Jakarta - Terpidana seumur hidup mantan teroris Bom Bali I Ali Imron menceritakan pengalaman hingga menjadi bomber di Pulau Dewata. Perjalanan masa lalu kelam yang kini membawanya ke balik jeruji besi itu dengan lugas disampaikan kepada jemaah kajian Ramadan di Masjid Al Fataa, Menteng, Jakarta Pusat.

Berawal dari Ali Ghufron alias Mukhlas yang pergi ke Afghanistan selama enam tahun pada 1984 hingga 1990. Kembali ke Tanah Air, dia dibekali sejumlah uang oleh Osama bin Laden untuk menjalankan aksi jihad di Asia, khususnya di Indonesia.
Pesan Osama bin Laden dari Mukhlas saya dengar sendiri," tutur Ali di Masjid Al Fataa, Jalan Menteng Raya, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/6/2016).

Setelah sejumlah perekrutan eksekutor bom, Ali kemudian bersama dengan sang kakak yakni Amrozi, melakukan perjalanan ke Solo untuk menggelar teknis pembagian tugas. Di lokasi sudah ada Mukhlas, Imam Samudera, dan rekan lainnya yang menunggu.

Hasil pertemuan itu menetapkan Bali sebagai lokasi peledakan bom. Hati kecil Ali yang tergelitik pun akhirnya menuntun dia mempertanyakan alasan dari aksi heroik yang menurutnya janggal.

"Mereka bilang mau membalas Amerika dan sekutunya karena menyerang Afghanistan. Sudah saya protes kenapa serang bule di Bali? Disana kan (Afghanistan) yang nyerang tentara. Apa hubungannya? Kemudian saya tanya apakah semua Jamaah Islamiah sudah setuju semua dengan rencana ini?," beber dia.

Sedikit keras, Ali mendapat jawaban dari Mukhlas. Dengan lantang saudaranya itu mengatakan bahwa semua itu adalah tanggung jawabnya.

Masuk ke rencana awal, ada tiga jenis bom yang akan diledakan. Pertama, bom mobil yang dirakit dengan bobot mencapai satu ton. kemudian bom motor yang memiliki berat 50 kilogram. Terakhir bom rompi.
Imam Samudera Jadi Pemimpin

Imam Samudera pun diangkat sebagai pimpinan lapangan. Dia rencanakan 11 September pengeboman, untuk memperingati setahun WTC. "Kami pertemuan itu pertengahan Agustus. Rencana 11 September. Gak ada satu bulan. (Tapi) tetep ngotot Imam Samudera," terang Ali.

Karena penetapan waktu yang tergolong mepet, Amrozi yang ditugaskan membeli mobil pun jengkel. Mobil yang seharusnya dibeli di tempat yang jauh dan dengan identitas palsu, tidak digubrisnya dan akhirnya seenaknya memesan ke makelar yang juga merupakan teman mereka.

"Kita ketangkep itu gara-gara mobil itu juga," ujar dia.

Ali melanjutkan, pada 8 September 2002, mereka akhirnya bertolak ke Denpasar. Masalah muncul lagi, rencana yang tergesa-gesa itu kembali menuntun dia untuk kembali turut andil dalam eksekusi selanjutnya.

"Harusnya Imam Samudera dan Dulmatin yang di TKP duluan. Jadi diubah ajak saya. Padahal saya hanya disuruh bantu Amrozi (cari mobil)," tukas dia.

Akhirnya Ali pun ketiban kerjaan lagi. Tiba di Bali, dia menjadi pencari lokasi peledakan. Bergegas untuk mensurvei kawasan Kute, mana diskotek yang paling banyak turis asing alias bule.

Dia pun menetapkan sebuah klub malam di Jalan Legian bernama Sari Club. Imam Samudera setuju pilihannya.

Tanggal 8 sampai 16 September, mereka baru mulai mengirim bahan peledak dari Jawa menuju Denpasar. Terkumpul 1 ton lebih, tanggal 17 hingga 20 September mulailah peracikan bom. Mobil dari Lamongan juga di bawa ke Bali dan bom pun dirakit.
Eksekusi Ngaret

Masuk tanggal eksekusi yang akhirnya ngaret sampai 12 Oktober, lagi-lagi muncul masalah aneh namun lucu. Eksekutor yang dianggap siap kehilangan nyawa, malah kagok mengoperasikan bom aktif siap jalan.

"Ternyata saat mau eksekusi yang mau bunuh diri pada belum lancar. Yang setir mobil belum lancar. Naik motor juga belum lancar. Yang lancar yang rompi aja karena jalan. Disitu mulai konslet," kenang Ali sambil sedikit tertawa.

Rencana diubah sesuai kebijakan akhir. Bom motor yang dimaksudkan akan mengantam kantor konsulat Amerika, diubah menjadi bom tas jinjing berbobot 6 kg TNT. "Menandakan bom di Bali itu Amerika yang kami tuju. Rompi dan mobil dijalan legian," ujar dia.

Sementara bom mobil tidak berubah. Ali kembali "dikerjai" dengan mengantar eksekutor yang belum pandai menyetir mobil, beserta pemakai bom rompi ke lokasi peledakan.

"Yang nyetir mobil siap tapi harus saya antar. Karena belum lancar. Kalau jalan lurus saja dia bisa masuk gigi satu. Akhirnya dari Pulau Menjangan sampai Kute 11 kilo saya yang bawa. Sampai di Jalan Legian 100 meter saya serahkan ke yang mau bunuh diri. Detonator saya urus juga," jelas dia.

Sampai di TKP, Ali dijemput oleh rekan lainnya dengan sepeda motor. Tidak lupa juga dia ledakkan bom tas jinjing di konsulat Amerika, menggunakan handphone sebagai pengendali jarak jauh atau remot.

"Semenit kemudian ada ledakan besar. Itulah bom mobil," kata Ali.

Bagi dia, keseluruhan aksi dalam Bom Bali I tahun 2002 silam sangat jelas satu per satu melibatkan dirinya. Mulai dari perencanaan, meracik hingga pemasangan detonator bom, mengajarkan dan mengantar eksekutor bunuh diri, juga peledakan di konsulat Amerika.

"Ini kalau ada pahalanya, saya yang paling banyak dapat pahala," seloroh Ali.

sumur lampau



Ga boleh tertawa emoticon-Embarrassment
Diubah oleh: cangkeme
Halaman 1 dari 6
Post ini telah di hapus oleh Kaskus Support 06
Bingung mau ngomong apa
"Ini kalau ada pahalanya, saya yang paling banyak dapat pahala," seloroh Ali.

kocak ini tapi om ts seriusan emoticon-Embarrassment
dia tertawa miris sebenernya krn mmg dari awal udh gak srek
berarti big bosnya si muklas emoticon-Embarrassment

Dongeng ga mutu
Din syamsudin pernah berkata itu bom bali buatan amerika,manalah mungkin selevel amrozi mampu merakit bom dengan daya ledak sedahsyat itu
Dan saya lebih percaya apa kata din syamsudin
" ini kalau ada pahalanya"
emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
semua akan terima akibat perbuatan nya sendiri
pengalaman sepuhnya bray, lebih dalem emoticon-Matabelo

biasanya dipengajian yg hijrah2 gitu kan suka berbagi pengalaman, jangan2 ini lagi pengajian cerita begitu juga ? emoticon-Kagets
mudah-mudahan diterima tobatnya dan bisa menyadarkan para adik kelasnya..
waduh,,,intinya jangan mau diperalat ya emoticon-Takut
Quote:


terpaksa karena masi sodara bre
Quote:


baca dulu bre ...dia kan dapat ilmu dari afgan bukan lokalan cem disurabaya yg blajar dr internet
Quote:


jarang pengajian ane emoticon-Malu
paling ikut tahlilan yg ada berkatnya emoticon-Malu
kalo teroris bisa jadi counter terrorist bagi-bagi info kayak ali imron layak lah dapet keringanan.

tapi kalo yg bebal ya harus mati emoticon-Smilie

pilihannya cuma itu harusnyaemoticon-Cool
Quote:


suruh dia kenalan sama bom ikan ....

ini satu ton wong mercon diameter 1 meter aja bisa melempar sepeda motor sejauh 25 meter dan merontokkan jembatan desa.
Quote:


Menjijikkan sekali ini teroris jawir
Quote:


Hah wa lebih tidak percaya sama din syamsudin.

Tentu saja bro ndromudo percaya din syamsudin karena bro ndromudo ini termasuk simpatisan pembela paham terorisme dan ideologi terorisme di banyak post di forum kaskus ini.
Diubah oleh daimond25
Quote:


iya memang banyak org macem lu
itu udah jelas pelaku yg nyebutin tp lu bantah dengan opini bang udin syamsudin dengan teori konspirasinya. memang sih niatnya nyelamatin nama baik agamanya emoticon-Embarrassment makanya banyak yg mudah dihoakin emoticon-Ngacir
Quote:


Harap di sadari bro ndoromudo ini adalah simpatisan pembela paham terorisme dan ideologi terorisme di banyak post di forum kaskus ini.
Diubah oleh daimond25
Quote:


owh emoticon-Embarrassment
semoga di bulan ramadhan ini doi ga meledak sembarangan emoticon-Embarrassment
Quote:


emang yg bisa ngerakit bom dasyat cuma mamarika doang?

Situ sehat?
Halaman 1 dari 6


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di