alexa-tracking

Film 212 dan Sisa-sisa Kontroversi dari Jakarta

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afcef7da09a390c768b456f/film-212-dan-sisa-sisa-kontroversi-dari-jakarta
Film 212 dan Sisa-sisa Kontroversi dari Jakarta
Film 212 dan Sisa-sisa Kontroversi dari JakartaFilm 212 dan Sisa-sisa Kontroversi dari Jakarta

JAKARTA --
The Power of Love garapan produser-sutradara Jastis Arimba menuai penolakan di bioskop Sulawesi Utara dan Palangkaraya oleh sejumlah kalangan. Alasannya, film ini dianggap berkaitan dengan benih radikalisme agama dan punya konten yang "memecah belah bangsa".
Kabar ini ramai di media sosial sejak kemarin Senin, 14 Mei 2018. Jastis membenarkan ada penolakan, tetapi mengaku belum tahu pasti pihak mana yang melarang film ditayangkan. Pihak penolak bahkan sampai datang bergerombol ke bioskop mal untuk melakukan intimidasi terhadap calon penonton dan pengelola bioskop.
"Alasannya mungkin prasangka (negatif) saja, ada indikasi sentimentil," kata Jastis kepada Medcom.id saat dihubungi lewat telepon, Selasa (15/5).
"Saya juga kurang tahu kenapa menolak, tetapi kalau informasi lewat situs pencarian (internet), rata-rata yang menolak, belum menonton filmnya, menganggap filmnya punya nilai-nilai provokasi, padahal isi filmya jauh dari itu," lanjutnya.

Menurut Jastis, film yang melibatkan ustaz Erick Yusuf sebagai produser eksekutif ini punya tiga semangat utama sejak awal dikerjakan. Pertama adalah autokritik bagi umat Muslim supaya lebih santun dan bijak dalam menghadapi perbedaan. Kedua, menyampaikan pesan perdamaian dan cinta.
Ketiga, melihat kembali peristiwa aksi massa 212 di Jakarta pada 2 Desember 2016 (kasus Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dan penistaan agama) dari salah satu sudut pandang humanis.
"Bagian mana yang mengandung unsur provokasi SARA yang mengancam kebinekaan, itu tidak ada, karena semangat membuat film ini untuk kebaikan," ucap Jastis.
Naskah film 212 ditulis oleh Jastis bersama Ali Eunoia. Kisahnya mengikuti Rahmat (Fauzi Baadila), jurnalis majalah Republik di Jakarta, yang pulang ke Ciamis begitu mendengar kabar sang ibu meninggal. Usai pemakaman, Rahmat hendak kembali ke Jakarta, tetapi tertunda karena Zainal (Humaidi Abbas) ayahnya akan berjalan kaki bersama para santri untuk ikut aksi 2 Desember 2016.
Hubungan Rahmat dan Zainal sangat tidak harmonis. Zainal menganggap Rahmat pengecut yang tidak bertanggung jawab. Rahmat berupaya menggagalkan niat ayahnya karena khawatir aksi tersebut akan memicu kerusuhan dan menimbulkan korban jiwa.

Penolakan di Palangkaraya
Pada Senin malam, 14 Mei, akun Twitter @PakatDayak membagikan dua video singkat tentang penolakan film 212 di bioskop XXI Palangkaraya Mall, Kalimantan Tengah. Tak cukup jelas apa yang hendak disorot dalam gambar, selain situasi ruang tunggu bioskop dan para calon penonton. Namun media komunitas ini menyatakan menolak kehadiran film tersebut.
×