alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Seberapa sulit mengajak masyarakat tidak buang sampah ke sungai?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afcb1ae582b2ead678b4567/seberapa-sulit-mengajak-masyarakat-tidak-buang-sampah-ke-sungai

Seberapa sulit mengajak masyarakat tidak buang sampah ke sungai?

Kemasan plastik bekas pakai tampak menumpuk di salah satu sudut Poliklinik Kesehatan Desa Buntalan, Klaten Tengah, Klaten, Jawa Tengah. Sampah tersebut didatangkan oleh warga yang ingin berobat.

Ya, poliklinik ini memang unik karena layanan untuk para pasien bisa digratiskan asal mereka membawa sampah sebagai ganti ongkos berobat.

Pelayanan kesehatan berbayar sampah tersebut dinamakan Program Sampah Barokah—yang merupakan bagian dari Sekolah Sungai di Klaten.

"Bank Sampah ini sebagai upaya pelayanan kesehatan gratis berbayar sampah. Kegiatan ini sebagai usaha agar warga tidak membuang sampah di sungai," ujar Tina Farida Mustofa yang akrab disapa Bidan Tina, pengelola poliklinik ini.

Sekolah sungai muncul pertama kali di Klaten pada April 2016. Lantaran gerakan ini terlihat menuai hasil, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadikan sekolah sungai Klaten sebagai acuan untuk melakukan gerakan bersih sungai.

Divisi Humas dan Informasi Sekolah Sungai Klaten, Arif Fuad menjelaskan basis gerakan sekolah sungai ini muncul dari komunitas relawan bencana.

"Relawan dan komunitas tanggap bencana sudah terbentuk. Mereka ini menggerakkan warga untuk peduli sungai. Lantas para relawan dan komunitas ini mengajak warga menyusur dan membersihkan sungai, tetapi masih secara sporadis. Awal tahun 2016 itu ada apel akbar diikuti ribuan warga untuk bersih sungai," papar Arif kepada wartawan di Klaten, Fajar Sodiq.

Di sekolah sungai, tidak ada bangunan seperti sekolah formal. Dinamakan sekolah karena ada beragam penyuluhan kepada masyarakat yang diberikan dengan memadukan elemen akademisi, pemerintah, dan komunitas. Dari beragam edukasi, salah satunya bagaimana mengelola sungai agar bisa memiliki nilai ekonomis.

Dalam jangka dua tahun ini, sekolah sungai sudah 'menyulap' beberapa sungai penuh sampah menjadi area yang memiliki nilai ekonomis. Arif Fuad menyontohkan Kali Lunyu di tengah kota Klaten pada musim puasa tahun kemarin menjadi Pasar Ramadan.

"Ada juga komunitas ibu-ibu Mama Cantik Arisan Pinggir Kali (Macan Arli) di daerah Karangnongko, Klaten. Arisan ini setiap seminggu sekali digelar di pinggir sungai, " kata dia.

Sekolah sungai di Klaten sengaja menjadikan kelompok perempuan dan ibu rumah tangga sebagai garda terdepan dalam mengelola sampah rumah tangga mengingat penghasil sampah terbesar di Klaten adalah sampah rumah tangga.

"Sampah di sungai itu kebanyakan sampah rumah tangga. Ada pampers, kantong plastik, kertas, pokoknya sampah rumah tangga. Artinya para perempuan ini memegang peran penting agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah terpanjang, " ujar Arif.

Kesadaran masih rendah

Akan tetapi, bukan berarti program Sekolah Sungai langsung berhasil. Nanang Jatmiko, fasilitator Sekolah Sungai Klaten, mengaku masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai.

"Kesadaran warga untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah terpanjang masih rendah. Nanti repotnya pas musim banjir. Karena sampah menumpuk di bawah jembatan dan sungai. Ini membuat aliran air saat hujan terganggu. Dampaknya adalah tanggul jebol dan membuat lahan pertanian rusak. Akhirnya yang terjadi gagal panen, " jelas Nanang.

Untuk mengajak masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai juga bukan persoalan mudah.

"Cara mengubah mindset itu berbeda-beda. Kami cari akal, dengan mengajak relawan bukan warga setempat untuk susur sungai. Dari situ muncul warga setempat yang merasa tidak enak hati. Mereka mungkin berpikir, 'warga lain saja mau membersihkan kok aku malah tidak mau membersihkan'," tutur Nanang.

Contoh lain bahwa tidak mudah meyakinkan dan mengajak warga menjaga agar sungai bersih dari sampah dapat dilihat dari program Poliklinik Kesehatan Desa Buntalan, yang pasiennya cukup membayar dengan sampah.

Dua tahun berjalan program ini berjalan kurang efisien. Tidak semua pasien menggunakan sampah untuk biaya berobat. Bahkan tidak setiap hari ada warga yang menggunakan sampah untuk biaya berobat.

"Kesadaran warga untuk mengelola sampah masih kurang, " ujar Tina.

Kampanye bersih sungai yang pernah digerakkannya tahun 2016 lalu belum menuai hasil sempurna. Bahkan sungai di dekat tempat tinggalnya kembali menjadi tempat warga untuk membuang sampah.

"Jadi tahun 2016 itu sungai di dekat rumah itu bersih. Tapi kemudian ada satu orang yang membuang sampah di sungai. Nah itu ternyata menular ke orang lain. Jadinya sekarang sungai itu kotor lagi. Papan larangan membuang sampah di sungai juga nggak ada, " jelas Tina.

Perlu keberlanjutan

Kendati belum berjalan mulus, Sekolah Sungai di Klaten dinilai berada di jalur benar dalam membangkitkan kepedulian warga akan masalah sampah.

Tantangan Sekolah Sungai Klaten adalah bagaimana mempertahankan keberlanjutan.

"Sustainability yang paling rawan. Kenapa sangat rawan? Karena sustainability ini berkaitan dengan keistiqomahan untuk menjaga agar tetap dalam relnya. Perlu komunikasi yang sesuai dengan kondisi warga. Jadi bukan sekadar omongan atau wacana saja," jelas pengamat lingkungan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prabang Setyono.

Menurutnya, topik keberlanjutan bukan hanya masalah khusus di sekolah sungai Klaten, tapi juga sekolah sungai di daerah lain. Bahkan masing-masing kementerian memiliki inisiatif sendiri yang terkait dengan sekolah sungai. Ia menilai jika kinerja seperti itu rentan tumpah tindih dan rawan tak berlanjut.

"Semuanya memang butuh aktor penggeraknya untuk triggernya. Tetapi jika dibiarkan seperti ini terus kan malah seperti hukum alam. Nanti orang yang bergerak itu-itu saja. Jangan sampai gerakan ini hanya milik pegiat lingkungan dan pemerintah, tapi juga milik masyarakat," paparnya.

sumber
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
sulit pol gan emoticon-Big Grin
Amat sangat sulit..
sesulit membuang puntung rokok ditempatnya.. atau membuang abu rokok ditempatnya.
susah lah, gak ada malu orang orang kita ini
Susah banget gan.
Lebih gampang mencuci otak orang Indonesia lewat internet daripada mendidik mereka supaya nggak buang sampah sembarangan
Orang Indonesia tidak peduli dengan alam sekitar.
Jangankan sungai, kali depan ruko ane aja sampahnya banyak apalagi di musim kemarau.
Masyarakatnya aja sampah emoticon-Smilie
sulit gan, kecuali dibikin aturan buang sampah sembarang akan ditembak ditempat emoticon-Cool
Mungkin sesulit makan dengn sendok pakai tangan kiri. emoticon-Bingung
tinggal tingkat kesadaran masyarakatnya saja yang perlu dibenahi
Mestiny pemerintah daerah yg siapkan fasilitasny..
Misal tiap RT dikasih satu area penampungan sampah, nanti petugas pakai truk ambil tiap hari keliling.
Atau kaya diperumahan elit, petugasnya keliling perumahan ambil sampah di tempat sampah di depan rumah masing2.
Sekarang pemdanya aja geblek. G pernah ngangkutin sampah, warganya yg disuruh swadaya.
Dana kebersihan entah nguap kemana sama pegawai pns kebersihan.
Ya klo yg warganya sadar, yg engga ya lebih banyak.
susah, dulu gw pernah tegur warga lokal deket rumah lagi buang sampah 3 plastik besar ke kali aja malah gw diajak duel, teriak2 katanya disini biasa, padahal kalo musim ujan rumahnya kelelep banjir. kan geblek emoticon-Big Grin

pernah jg subuh 3 hari berturut2 ada orang buang sampah 1 karungan ke kebon kosong gw, ga ada yang ngaku ngeliat akhirnya gw pasang cctv ga taunya angkot. besoknya gw cegat gw masukin lagi itu sampahan ke angkot penuh penumpang emoticon-Big Grin
Diubah oleh dr.anonymous
Quote:


bener sekali gan. Ditempat kerja ane dulu tempat rokoknya disediain tong sampah tetap aj puntung bertebaran di lantai sekitar tong sampahnya... masih mental jaman batu
Quote:


jgn samakan perumahan elit sama perumahan biasa gan
kalau perumahan biasa bikin tempat sampah di depan rumah bisa bisa orang pada buang sampah kesitu
depan rumah gw kalau mau bersih bisa 3-4 jam sekali harus disapuin
maklum depan rumah ada deretan kandang ayam yg sebenarnya jalur hijau, semalem pd nongkrong depan rumah sampai jam 12.10
pagi2 sampah nya udah banyak
yaaa buangnya di tempat sampah sih,nah ntar sampah yg di tempat sampah di buang ke sungai emoticon-Leh Uga
bawa sampah dikasih hadiah
hadiah habis sampah kembali dibuang sembarangan emoticon-Ultah


menurut pengalaman gw sih,
kesadaran tidak membuang sampah sembarangan tergantung peran aktif guru di sekolah
orang tua gw di rumah dulu malah memberi contoh berbagai cara membuang sampah sembarangan emoticon-Ultah

Mengajak yah gak akan pernah bisa. Hukuman yang tegas baru bisa.

Contoh noh singapur, bersih karena yah tegas


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di