alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5afc7b2f162ec2a4458b4567/cerita-horor-remaja

Cerita Horor Remaja

Cerita Horor Remaja




PROLOG


Apakah kalian pernah berpikir mengenai kehidupan selain kehidupan di Bumi ini? Aku sering. Maksudku, dunia ini luas, sangat luas. Selain Bumi sebagai planet yang kita tempati ini, masih banyak ratusan bintang atau planet lain di galaksi ini, dan aku meyakini masih banyak lagi bintang atau planet di galaksi lainnya. Bukankah masuk akal jika kita berpikir, setidaknya ada satu bintang atau planet yang juga memiliki kehidupan seperti di Bumi ini?

Ketika berpikir seperti itu, seringkali pikiranku melayang-melayang sampai akhirnya aku tenggelam dalam lamunanku. Setelah selesai dengan pikiranku mengenai kehidupan di planet lain, entah kenapa aku jadi berpikir, bagaimana dengan di Bumi ini? Apakah benar di Bumi yang kita tinggali ini, hanya dihuni oleh makhluk-makhluk kasat mata seperti yang selama ini kita yakini? Lalu bagaimana asal-muasal cerita yang membuat sebagian orang meyakini adanya keberadaan makhluk tak kasat mata atau yang biasa kita sebut dengan sebutan makhluk halus?
Ada banyak sekali cerita mengenai makhluk halus tersebut, bahkan di Negara kita ini, bisa aku katakan kalau masing-masing daerah memiliki cerita mengenai makhluk halus atau yang biasa kita katakan sebagai cerita horor-nya sendiri. Lalu, bagaimana dengan pemahaman dari kata horor itu sendiri menurut kalian?

Menurut pemahamanku, horor itu adalah kondisi atau situasi yang berhubungan dengan hal-hal yang menyeramkan, hal-hal yang membuat kita merasa ketakutan, merinding, dan membuat kita ingin berlari, menghindari hal tersebut sejauh mungkin.
Biasanya kata horor dikaitkan dengan makhluk-makhluk halus yang diyakini keberadaannya oleh sebagian orang, seperti Pocong, Kuntilanak, Genderuwo, dan lain-lain. Selain itu, kata horor juga sering dikaitkan dengan tempat-tempat yang sepi, yang entah kenapa terkadang membuat kita merinding seperti kuburan, atau rumah kosong yang sudah lama ditinggal oleh pemiliknya, atau mungkin juga terowongan atau gang sempit yang jarang dilalui orang.

Sebagian orang meyakini kalau tempat-tempat seperti itu dihuni oleh makhluk-makhluk halus dan terkadang membuat kita ketakutan dengan pemikiran kita sendiri mengenai hal itu. Itulah beberapa hal yang kemungkinan terlintas di pikiran sebagian orang ketika kita menyebutkan kata horor. Namun bagiku, tidak hanya itu.

Bagiku, hal-hal horor bisa kita jumpai kapanpun, baik pagi, siang maupun malam. Kita bisa menjumpainya, kita bisa merasakannya di manapun, baik itu di tempat yang sunyi-sepi, atau bahkan di tempat yang biasa kita lalui setiap harinya. Hal-hal horor tidak hanya bisa kita temui atau kita rasakan di tempat yang baru, karena bagiku, kita juga bisa menemui atau merasakan hal tersebut, di tempat kita melakukan kegiatan sehari-hari kita, dan mungkin juga di tempat kita berada saat ini.

BAB 1


Hari itu, adalah hari pertama aku menjalani dunia perkuliahan di kampus itu. Kampus itu bukanlah kampus yang besar dan terkenal seperti kampus-kampus lainnya di Jakarta. Kampus itu memiliki empat fakultas, dan aku terdaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra.
Aku sendiri bukanlah mahasiswa yang menonjol baik itu dari segi penampilan maupun prestasi. Aku adalah seorang mahasiswa biasa, yang berasal dari keluarga biasa, yang berada dalam lingkungan biasa, dan juga menjalani kehidupan yang biasa.

Tidak ada yang kutakutkan saat memulai kehidupanku sebagai mahasiswa di kampus itu. Sejak lama, bahkan sejak aku berada di Sekolah Dasar, kehidupanku sering diwarnai dengan perkelahian, baik dengan teman sebaya, senior ataupun juniorku sendiri. Perkelahian dan berurusan dengan preman seperti itu terus berlanjut hingga aku duduk di Sekolah Menengah Atas.

Begitulah kehidupanku sebelum aku menjadi mahasiswa di kampus itu. Karena suatu alasan, aku memutuskan untuk tidak menjalani kehidupan seperti itu lagi, dan aku hanya ingin menjalani kehidupan mahasiswa-ku dengan tenang seperti yang lainnya.
Aku tidak terlalu ingin bergaul dengan mahasiswa lainnya, saat itu, aku tidak ingin bersosialisasi dengan mereka, walaupun hanya sebatas berbicara, aku memutuskan untuk menjauhkan diriku dari mereka dan menjalani kehidupanku sendiri.

Awalnya aku terpaksa untuk kuliah disana, di kampus yang tidak aku ketahui sebelumnya, dan juga di jurusan yang tidak aku perkirakan sebelumnya. Aku kuliah di jurusan Sastra Jepang, dan aku tidak pernah mempelajari Bahasa Jepang sebelumnya. Keputusanku untuk tidak bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya, bahkan dengan teman sekelasku, membuatku kesulitan untuk mengikuti pelajaran yang diberikan. Mungkin bisa dibilang, aku adalah mahasiswa yang paling bodoh dikelasku. Namun itu semua tidak menyurutkan niatku untuk tidak bersosialisasi dengan mereka. Saat itu aku hanya ingin menikmati kehidupanku sendiri, tanpa perduli dengan apa yang terjadi di sekitarku.

Beberapa minggu awal perkuliahanku kujalani dengan kesulitan dan kesendirian. Aku hanya datang, duduk, mendengarkan, dan pergi. Setiap harinya aku pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada teman-teman sekelasku. Awalnya, aku berpikir, apakah aku bisa terus kuliah di tempat ini? Keputusanku untuk tidak bersosialisasi, serta dengan perkuliahan yang sama sekali tidak kumengerti, terkadang membuatku berpikir untuk bolos dari perkuliahan dan pergi ke tempat lain. Tapi tanpa kusadari, aku perlahan menikmati keadaan itu. Aku memang tidak serta-merta menguasai pelajaran yang diberikan, tetapi kehidupan sebagai “bukan siapa-siapa” di kampus ini terasa nyaman untuk kujalani.

❀❀❀❀❀


Dua bulan sudah aku berstatus sebagai mahasiswa di kampus itu, masih tidak ada yang berubah. Aku mungkin sudah bisa mengingat beberapa nama dari teman-teman sekelasku, namun tidak lebih dari itu. Selain aku, hanya ada empat anak laki-laki dan sekitar dua puluh lainnya perempuan. Kurang-lebih sama sepertiku, keempat laki-laki itu juga sangat jarang berbicara satu sama lain. “Apakah memang seperti ini kehidupan laki-laki di jurusan Sastra?” pikirku.

Jika diperhatikan, anak-anak perempuan di kelasku juga masih belum bisa berbaur, masih banyak dari mereka yang terlihat seperti mengelompokkan diri. Yah, tidak bersosialisasi bukan berarti aku tidak memperhatikan mereka. Anak laki-laki di kelasku bisa dibilang memiliki karakteristik yang sangat berbeda satu sama lainnya, mungkin itu juga yang membuat mereka juga tidak bisa berbaur satu sama lain.

Anak yang biasa duduk di sebelahku, aku ingat dia dipanggil dengan nama Widi. Kesan pertamaku? Aku benci dia. Dia selalu diam saat di kelas, bahkan melebihiku, dan dia selalu melipat tangan di dadanya saat duduk di kelas. Jika saat itu adalah kehidupan di saat aku masih di SMA, Widi adalah orang yang akan aku ajak berkelahi.

Tiga anak yang biasa duduk di belakangku, Devon, Ricky dan Indra. Devon tidak terlihat terlalu menonjol, namun sepertinya dia adalah orang yang ramah. Sering kulihat dia berbicara dengan beberapa anak perempuan di kelas kami, dan dia juga sepertinya murah senyum, “Tipe anak yang mudah bergaul,” pikirku. Sedangkan Ricky, sangat berkebalikan dengan Devon. Ricky selalu terlihat serius di dalam kelas. Kadang aku mengintip ke belakang dan melihat dia sedang memperhatikan dengan seksama pelajaran yang sedang di jelaskan oleh dosen kami. Indra? Awalnya aku berpikir kalau dia setipe dengan Ricky, karena dia selalu terlihat sedang menulis sesuatu pada saat pelajaran sampai akhirnya aku tahu kalau selama ini kerjaan yang dia lakukan hanyalah menggambar di dalam kelas.

Satu anak laki-laki lainnya, Fero. Aku masih belum bisa mengira-ngira seperti apa karakteristik anak itu. Dia biasanya duduk menjauh dari kami berlima, namun dari yang kulihat, aku rasa dia memiliki minat terhadap Bahasa Jepang, lebih dari kami berlima.

Begitulah kehidupanku diantara empat anak laki-laki lainnya yang bisa dibilang, sangat berbeda satu sama lain. Namun setelah dua bulan, tidak ada masalah berarti yang aku alami. Aku sudah bisa menghafal tulisan Hiragana meskipun terkadang masih kesulitan untuk tulisan Katakana, tapi itu tidak menjadi halangan, karena aku tetap belajar setiap malamnya. “Aku rasa aku bisa terus berkuliah seperti ini sampai lulus nanti,” pikirku sebelum gangguan yang sangat ingin aku hindari, datang mengacaukan kehidupan perkuliahanku.

Memang terlalu naif kalau aku berpikir kehidupan perkuliahanku akan lancar-lancar saja sesuai keinginanku. Aku benar-benar melupakan hal yang penting, hal yang sangat ingin aku hindari namun tidak bisa aku hindari. Saat itu aku sedang berada di kelas Happyou atau yang dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai kelas Presentasi.

Benar, presentasi. Dosen kelas tersebut mengacaukan rencanaku dengan menugaskan kami membuat presentasi secara “berkelompok”. Dan benar saja, akhirnya kenginanku untuk tidak bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya, terhalang dengan tugas yang mau tidak mau harus kami lakukan, karena kami hanyalah mahasiswa yang masih membutuhkan nilai.

BAB 2


“Jadi gimana? Pada setuju gak sama tugasnya masing-masing?” tanya Ricky setelah kelas terakhir pada hari itu selesai.
“Yauda, jadinya lo sama Devon nyari bahan, kan? Gw yang bakal edit semua dan tugas Widi untuk nge-print,” tanyaku. Kurasa itu adalah percakapan pertama kami berempat setelah sekian lama sekelas.
”Hmm, ok!” jawab Widi singkat.
“Yauda kalo gitu, lo kerjain yang bener ye, Coy!” seru Devon kepada Ricky.
“Enak aja! Lo tuh yang bener!” balas Ricky sambil tertawa terkekeh.

Pada akhirnya, aku, Devon, Ricky dan Widi berada dalam satu kelompok. Bukan kami yang menginginkan hal itu, tapi dosen kami sendiri yang memilihkan kelompoknya, sedangkan Fero dan Indra masing-masing berada dalam kelompok yang berbeda.

Akhirnya kami berpisah, aku beralasan akan ke kamar kecil dahulu sebelum pulang agar aku tidak perlu bersama-sama mereka saat mengambil motor karena sepertinya kami parkir di tempat yang sama.

Aku berjalan keluar dari gedung Fakultas Sastra. Kampus itu memiliki keunikan tersendiri dalam urusan tata letak bangunan. Gedung Fakultas Sastra dibangun berdampingan dengan Fakultas Ekonomi di sisi kanan Kampus, sedangkan Fakultas Teknik dan Fakultas Kelautan berada di seberang kiri Kampus secara simetris.

Aku berjalan melewati Kantin Sastra tanpa menoleh sedikitpun kearah sana. Masing-masing dari Fakultas di Kampus itu memiliki sebuah ruang terbuka di sisi luar Fakultas yang biasa digunakan untuk berbagai kegiatan ataupun hanya untuk sekedar nongkrong, kami menyebutnya dengan sebutan Pendopo. Kantin Sastra berada di seberang Pendopo Sastra, karena itulah lebih banyak anak Sastra yang nongkrong disana ketimbang anak Ekonomi. Begitu juga dengan Fakultas Teknik dan Kelautan, mereka juga memiliki Kantin sendiri yang terletak di posisi yang sama secara simetris.

“Udah jam segini, masih banyak aja yang nongkrong,” ujarku dalam hati.
Waktu menunjukkan pukul enam sore. “Untunglah tugas gw cuma nge-edit aja,” ujarku. “Gw cuma perlu nunggu bahan presentasi dari mereka, gw edit dan serahin ke Widi. Gak perlu banyak komunikasi sama mereka,” pikirku.

Aku tiba di tempat aku memarkir motorku. Dari tempat itu, aku bisa melihat kearah Pendopo Ekonomi, dan aku melayangkan pandanganku kearah sana selama beberapa waktu.

Berbeda dengan Pendopo Sastra yang selalu ramai, bahkan sampai sore hari seperti saat itu, seingatku, aku tidak pernah melihat ada anak-anak Ekonomi yang nongkrong di Pendopo Ekonomi bahkan saat siang hari. “Kok sepi banget ya?” tanyaku dalam hati dan kemudian bergegas pulang.

❀❀❀❀❀


Kelas pertama di pagi hari, dua hari setelah kelompok kami terbentuk. Di kampus itu, jika kita masih semester satu, hampir semua mata kuliah yang kami ambil adalah mata kuliah wajib dan kelas yang kami ambil-pun sudah ditentukan sejak awal, itulah sebabnya hampir di semua mata kuliah, kami akan berada di kelas bersama dengan teman-teman yang sama, setiap harinya. Aku datang lebih pagi ketimbang ketiga anggota kelompokku, dan baru saja Ricky datang memasuki kelas.

“Pagi, Bro!” sapa Ricky yang untuk pertama kalinya, duduk di sebelahku.
“Pagi!” balasku singkat.
“Bahan gw udah hampir siap nih, nanti pas pulang kita kumpul dulu ya?” tanya Ricky.
“Ngapain??!” tanyaku dalam hati, namun aku memilih untuk tidak mengatakannya. Aku melihat Devon dan Widi memasuki ruang kelas secara bersamaan.
“Sini, Bro!” seru Ricky sambil menunjukkan dua bangku kosong yang berada di sebelah kirinya. Ya, keajaiban pertama hari itu, itu adalah pertama kalinya kami berempat duduk dalam baris yang sama.
“Nanti jangan pada langsung pulang ya , Bro! Kita kumpul dulu!” seru Ricky.
“OK! Sekalian ada yang mau gw tanyain,” jawab Devon sambil mengeluarkan buku dari tasnya. “Ohia, Coy! Lo udah punya nomor mereka?”
“Ohia, bener juga lo, Bro! Gw minta nomor lo dong!” pinta Ricky sambil menyerahkan telepon genggamnya kepadaku. Aku mengetikkan nomorku di telepon genggam milik Ricky dan mengembalikannya. “Gw juga minta nomor lo dong, Wid!”
“0809-8999,” ujar Widi singkat tanpa menoleh sema sekali kearah Ricky.

Kami terdiam beberapa saat setelah itu karena suasananya menjadi agak canggung karena sikap Widi, namun kemudian Devon menghangatkan suasana kembali dan mengajak Ricky mengobrol. “Apakah memang Ricky dan Devon sudah seakrab itu sejak dahulu?” pikirku mengingat mereka berdua pasti sudah bertukar nomor telepon masing-masing sebelumnya.

Setelah itu, kami menjalani perkuliahan kami seperti biasa, tidak ada yang mengobrol diantara kami selain Ricky dan Devon. Kelas pertama selesai tanpa adanya keajaiban lagi. Karena ruangan kelas berikutnya berada di ruangan yang sama, aku meninggalkan tasku di kursi yang kududuki tadi, dan aku pergi keluar kelas untuk ke kamar kecil.

Di gedung itu, terdapat masing-masing dua kamar kecil di setiap lantainya. Namun aku lebih suka menggunakan kamar kecil di lantai tiga, karena kamar kecil di lantai dua adalah kamar kecil campuran yang biasa digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Sial bagiku, saat aku berada di kamar kecil lantai tiga, disana sudah dipenuhi oleh makhluk-makhluk liar yang sedang buang air kecil, sehingga aku memutuskan untuk pergi ke lantai empat.

Kamar kecil di lantai empat itersebut adalah kamar kecil yang paling jarang digunakan. Sejujurnya, pertama kali aku menggunakan kamar kecil di lantai itu, aku merasa bulu kuduku merinding. Mungkin karena jarang digunakan, kamar kecil itu terasa lebih gelap jika dibandingkan dengan kamar kecil di lantai lainnya.

“Kenapa sekarang gw jadi sering banget parno, ya?” tanyaku dalam hati.

Kamar kecil di gedung itu, masing-masing terletak di bagian gedung Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi. Seperti yang aku jelaskan sebelumnya, kamar kecil yang terletak di bagian gedung Fakultas Ekonomi-lah yang bisa digunakan oleh anak laki-laki.
Setelah selesai dengan urusanku, aku menoleh melalui kaca jendela yang ada di kamar kecil tersebut. Aku melihat kearah lantai satu, tepatnya kearah Pendopo Ekonomi.

“Tuh, kan! Sekarang yang masih jam sebelas aja, gak ada yang nongkrong disana!” seruku. Keadaan yang benar-benar bertolak-belakang dengan Pendopo Sastra yang bahkan sudah ramai bahkan sejak jam sembilan pagi.
“Kenapa ya?” tanyaku dalam hati sambil berjalan kembali ke ruang kelas.

Sejak kecil aku sering ditinggal oleh kedua orangtuaku yang lebih sering pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan. Aku memang memiliki dua orang kakak perempuan, namun keduanya sedang menempuh kuliah di luar kota. Keseharianku di rumah lebih sering kujalani seorang diri.

Walaupun terbiasa berada di rumah seorang diri, aku masih belum terbiasa dengan tempat yang sepi dan sunyi. Di rumahpun aku selalu menyalakan televisi sepanjang malam untuk menemani tidurku. Sejak kecil aku memang sering terlibat dalam perkelahian dan itu membuatku hampir tidak takut menghadapi orang-orang di sekitarku, namun lain halnya dengan hal-hal yang berbau mistis.

Seringkali saat malam hari, bunyi angin ataupun bunyi tetesan air membuatku takut ketika aku berada di rumah sendirian. Beberapa kali juga suara kaca jendela yang bergetar karena hembusan angin membuatku kaget. Bahkan jika dalam suatu kondisi aku terpaksa mandi pada malam hari, aku tidak berani menutup mataku saat sedang membersihkan rambutku.

Mungkin karena aku yang memang takut akan hal-hal seperti itu, perhatianku jadi terpusat kepada Pendopo Ekonomi. Saat kembali ke kelaspun aku masih memikirkan hal itu, namun akhirnya beberapa pelajaran yang masih sulit kupahami membuat pikiranku teralihkan, dan akhirnya selesai juga perkuliahan hari itu.

❀❀❀❀❀


“Kumpul dimana ya enaknya?” tanya Ricky.
“Dimana ya?” balas Devon dengan wajah polosnya.
“Ye, si Oncom! Ditanya malah balik nanya!” ketus Ricky sambil memukul kepala Devon.
“Kalau bisa sih jangan di tempat yang rame kaya di Kantin, Rick!” saranku.
“Wah gw ada ide!” seru Devon. “Gimana kalau di Pendopo Ekonomi?” lanjutnya dengan semangat.
“Pendopo Ekonomi?” tanya Widi tiba-tiba.
“Iya, gimana?” jawab Devon.
“Boleh juga, tuh! Kebetulan disana kan sepi terus!” ujar Ricky menyetujui usulan Devon.
“Pendopo Ekonomi, ya?” ujarku pelan.
Widi melirik kearahku, “Gw lupa gw ada urusan. Maaf banget ya, gw harus pulang sekarang!” ujar Widi sambil menatap layar telepon genggamnya dan pergi meninggalkan kami. Kami bertiga-pun hanya bisa terdiam melongo.

BAB 3


“Si Widi kenapa, ya?” tanya Ricky kepada aku dan Devon sembari membuka-buka file di laptopnya.
“Ah paling dia males aja tuh, terus alesan deh ada urusan,” ujar Devon sementara aku hanya duduk bersender di tembok tanpa mengucapkan apa-apa.
“Wah bisa jadi tuh, haha! Sialan juga dia!” seru Ricky. “Nah ini dia bahan-bahan yang udah gw kumpulin, udah gw gabung juga sama bahan-bahan dari Devon, coba lo liat dulu deh, Bro!” lanjut Ricky sambil mempersilahkan aku berpindah tempat duduk ke depan laptopnya.

Seperti rencana awal, akhirnya kami tetap berkumpul di Pendopo Ekonomi untuk mendiskusikan bahan presentasi kami. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul enam sore, langit sudah mulai gelap tapi kami beruntung karena di tempat itu memiliki penerangan yang baik.

Aku sama sekali tidak menyangka, walaupun tempat itu sepi, tapi berbeda dengan Pendopo Sastra, tempat itu terasa sangat sejuk. Beberapa kali angin berhembus dengan kuat, mungkin karena di sebelah gedung Fakultas Ekonomi terdapat taman dengan beberapa pohon yang cukup besar sehingga tempat itu tidak seperti Pendopo Sastra yang selalu terasa panas, atau mungkin juga karena tidak ada orang yang berlalu-lalang di tempat itu seperti halnya di Pendopo Sastra.

Cerita Horor Remaja
Diubah oleh Ayubasauli.S.T.
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
“Nyaman juga ternyata nongkrong disini,” pikirku.
“Gimana, Bro?” tanya Ricky tiba-tiba membuyarkan lamunanku, “Bengong aja, lo!” serunya sambil tertawa bersama Devon.
Aku sama sekali belum membaca file tersebut karena daritadi aku hanya melamun. “Eh ngomong-ngomong, lo berdua udah kenal lama, ya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Wah rugi gw kalo kenal lama sama si Kodok ini!” ujar Devon sambil memasang wajah ketus.
“Enak aja, lo! Ada juga gw yang rugi!” balas Ricky sambil tertawa. “Engga, Bro! Gw baru kenal Devon di kampus ini, kok!”
“Kok kalian kayaknya udah akrab banget, ya?” tanyaku lagi.
“Emang, ya? Dia aja yang sok deket tuh!” sahut Devon.
“Yee, Kodok!” ujar Ricky sambil melempar gulungan kertas yang dia temukan di tasnya kearah wajah Devon. Ricky kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong celananya.
“Lo ngerokok?” tanyaku kaget.
“Iya, Bro!” jawabnya cepat sambil membakar rokoknya. Dia kemudian menghisap rokok tersebut dan menghembuskan asapnya perlahan. “Maaf ye gw ngerokok disini,” lanjutnya.
“Cepet mati lo, Kodok! Ngerokok terus!” seru Devon ketus.
“Ya gimana dong, Pak? Udah kebiasaan,” jawab Ricky sambil cengegesan. “Jadi gw ketemu si Devon waktu pendaftaran di sini, Bro!” lanjut Ricky menjelaskan. “Eh ternyata malah sekelas, sial bener!”
“Wah kurang ajar nih kodok!” maki Devon sambil melempar kembali gulungan kertas yang tadi dilemparkan oleh Ricky.
“Dari awal waktu pendaftaran, karena gw gak kenal siapa-siapa, jadi gw minta tukeran nomor telepon sama Devon, yauda sejak itu sering sms-an buat nanya jadwal, dan lain-lain!” jelasnya sambil memainkan kepulan asap yang dia semburkan dari mulutnya.
“Oh, gitu! Pantes aja!” jawabku. Penjelasan dari Ricky menjawab beberapa pertanyaan yang akhir-akhir itu sedikit menggangguku. Puas mendapatkan jawaban akan hal itu, aku melanjutkan membaca file di laptop Ricky, dan kami mulai mendiskusikan mengenai presentasi kami setelah itu.

Tidak banyak yang bisa kami diskusikan saat itu, sesuai dugaanku, Ricky memang orang yang cukup telaten dalam mengerjakan tugasnya. Sementara Devon, orang yang awalnya aku ragukan, ternyata juga mampu mengerjakan tugasnya dengan baik, walaupun masih ada beberapa kekurangan. Setidaknya aku cukup puas dengan hasil kerja mereka.

Terlepas dari semua itu, Ricky yang awalnya aku pikir adalah seorang kutu buku, ternyata jauh berbeda dari bayanganku. Walaupun Devon memang orang yang suka bercanda, tapi ternyata Ricky adalah orang yang sangat jahil dan tentu saja korbannya adalah Devon.

Devon sendiri ternyata walaupun suka bercanda, tapi dia juga sama sepertiku. Beberapa kali suasana menjadi hening karena aku dan Devon hanya duduk termenung, dan Ricky-lah yang mencairkan suasana kembali dengan mengajak kami bercanda ataupun mengobrol mengenai hal lain.

“Yauda kalo gitu deh, balik yuk! Udah malem juga!” ajak Ricky.
“Yuk lah, gw udah laper!” sahut Devon setuju sambil mengusap-usap perutnya.
“Yauda, thanks ya! Jangan lupa dua hari lagi harus udah jadi!” ujarku.
“Siap, Bro!” jawab mereka berdua, dan kemudian kami-pun meninggalkan tempat itu.

Aku pulang dengan mengendarai motorku di kecepatan 70 kilometer per jam. Saat itu sudah menunjukkan sekitar pukul sembilan, dengan kecepatan seperti itu, aku membutuhkan kira-kira dua puluh menit untuk sampai rumah.

Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan mengenai mereka berdua, Ricky dan Devon. Entah kenapa, sepertinya tidak buruk juga sekelompok dengan mereka. Selain karena mereka bisa mengerjakan tugasnya dengan baik, aku juga tidak merasa risih baik saat duduk bersama mereka, ataupun dengan obrolan mereka.

“Ah! Tapi masih ada Widi, ya?” gumamku teringat. “Kira-kira dia bisa presentasi dengan baik, gak ya?”

Kami bertiga mungkin bisa presentasi dengan baik karena dari apa yang sudah kami diskusikan tadi, Ricky dan Devon terlihat kalau mereka menguasai materi presentasi dengan baik. Aku sendiri walaupun hanya membaca sekilas materi tersebut, karena memang sudah disajikan dengan baik beserta beberapa penjelasan dari Ricky dan Devon selama kamai di Pendopo Ekonomi tadi, aku jadi lebih mudah memahami materi tersebut. “Tapi gimana si Widi, ya?” akupun terus memikirkan hal itu sepanjang perjalanan dan berharap kalau Widi juga orang yang bisa diandalkan seperti Ricky dan Devon. Walaupun begitu, tetap saja kekhawatiran itu ada.

BAB 4


Seperti biasa, aku adalah laki-laki pertama yang tiba di kelas. Disana sudah ada beberapa anak perempuan yang selalu duduk bergerombol seperti mengelompokkan diri. Sampai saat itupun, aku masih tidak bisa mengingat nama-nama mereka.

“Pagi, Bro!” sapa Ricky yang baru saja datang. Dia langsung menaruh tasnya di kursi di sebelahku dan mengeluarkan buku yang akan di gunakan untuk pelajaran nanti.

Tidak lama kemudian, terlihat Widi memasuki ruang kelas. Dia juga langsung mengambil kursi yang ada di sebelah Ricky dan kemudian duduk sambil menopang tangannya di dada seperti biasa.

“Kemarin kalian jadi ngumpul di Pendopo Ekonomi?” tanya Widi tiba-tiba.
“Jadi, Coy! Lo kemana?” jawab Ricky sambil cengengesan.
“Oh,” ujar Widi singkat tanpa menjawab pertanyaan dari Ricky.
“Besok jangan lupa ya, kita kumpul lagi di sana pas pulang!” seru Ricky mengingatkan.
“OK!” ujar Widi kembali dengan jawaban yang singkat.

Ricky sibuk membaca buku, sedangkan Widi terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Kami diam tanpa bicara sampai beberapa menit kemudian Devon akhirnya tiba dan langsung duduk di sebelah Widi.

“Baca buku mulu, Bang? Cepet tua lo!” ujar Devon kepada Ricky.
“Wah kurang ajar nih bocah!” ujar Ricky kepadaku sambil menunjuk kearah Devon. Widi yang duduk diantara mereka terlihat sedikit terganggu, namun kedua anak itu sepertinya tidak perduli dan mereka tetap melancarkan celaan satu sama lain.

Hari-hari perkuliahanku yang biasanya sepi, mulai diramaikan dengan candaan diantara Devon dan Ricky. Ricky memang selalu serius ketika kelas sudah dimulai, namun jika Devon memancingnya untuk bercanda, Ricky yang biasanya selalu terlihat serius-pun akan seperti anak kecil berumur tujuh tahun yang sedang bermain dengan teman sebayanya.

Selain tingkah-laku Devon dan Ricky yang seperti anak kecil itu, tidak ada hal lain yang berubah dalam keseharian perkuliahanku. Widi masih tidak banyak bicara seperti biasanya. Dia hanya menjawab seperlunya jika Devon atau Ricky bertanya atau mengajaknya berbicara, sama sepertiku.

❀❀❀❀❀


Kami memutuskan untuk makan siang di tempat siomay yang ada di depan kampus. Itu pertama kalinya kami makan siang bersama, aku-pun tidak menyangka kalau Widi mau ikut bersama kami. Sepertinya Devon dan Ricky memang biasa makan siang di tempat itu, walaupun jujur saja tempatnya sedikit membuatku tidak nyaman, tapi aku memilih untuk diam dan mengikuti mereka.

“Besok jangan gak dateng lagi ya, Wid?!” seru Ricky memperingatkan.
“OK!” jawab Widi singkat sambil tetap memasukkan siomay kedalam mulutnya.
“Lo besok liat-liat aja dulu materinya, kalo menurutlo ada yang gak diperluin atau ada yang perlu ditambahin, biar kita edit bareng,” kata Ricky.
“Kalian kemarin sampai jam berapa di Pendopo Ekonomi?” tanya Widi tanpa memperdulikan perkataan Ricky sebelumnya.
“Jam berapa, ya?” tanya Ricky kepadaku.
“Gw juga lupa, jam delapanan kayaknya deh,” jawabku tidak yakin.
“Oh,” lagi-lagi jawaban singkat dari Widi.

Jika melihat keadaan sekarang, dimana aku duduk bersama dengan Devon, Ricky dan Widi untuk makan siang bersama, sepertinya jauh dari rencana awalku ketika hari pertama kuliah di kampus itu.

Hari itu kami menghabiskan waktu untuk mengobrol satu sama lain lebih banyak disbanding biasanya. Dari obrolan hari itu, aku mengetahui kalau aku, Ricky dan Devon memiliki kesukaan yang sama dalam hal Sepak Bola. Devon adalah penggemar klub Inggris, Liverpool. Sementara Ricky adalah penggemar klub Italia, Juventus. Sedangkan aku, tentu saja adalah penggemar sejati klub raksasa Spanyol, Barcelona. Sedangkan Widi, dia sepertinya tidak terlalu suka Sepak Bola, dan dia hanya berdiam diri ketika kami membicarakan tentang perkembangan Sepak Bola yang kami ketahui saat itu.

Selain Sepak Bola, aku dan Devon sama-sama memiliki ketertarikan terhadap lagu-lagu dari band Jepang, dan uniknya kami sama-sama tidak menyukai band yang sangat terkenal dari negeri Matahari Terbit tersebut, Babuku. Aku lebih menyukai The Gazzette, sedangkan Devon menyukai Haikara.

❀❀❀❀❀


Hari itu seperti yang sudah kami rencanakan. Selesai kuliah, kami akan berkumpul di Pendopo Ekonomi. Tidak banyak yang berubah hingga hari itu selain aku jadi lebih sering menghabiskan waktu bersama Devon, Ricky dan Widi. Kami tetap menjalani perkuliahan kami seperti biasa.

Diantara kami berempat, walaupun aku belum mengetahuinya secara pasti, tapi sepertinya tidak ada yang memiliki pacar. Namun diantara kami berempat, Devon-lah yang memiliki hubungan paling baik dengan anak-anak perempuan di kelas kami. Berkebalikan dengan aku dan Widi yang sepertinya bisa dibilang hampir tidak pernah mengobrol dengan anak perempuan di kelas kami.

Aku sendiri, karena pernah memiliki pengalaman yang bisa kubilang tidak menyenangkan dalam pacaran sebelumnya, aku jadi enggan untuk mengakrabkan diriku lebih jauh dengan perempuan, setidaknya untuk saat itu. Aku harap Ricky dan Widi juga memiliki alasan mereka sendiri untuk tidak terlalu mendekatkan diri kepada anak perempuan, sama sepertiku. Maksudku, jangan sampai aku mengetahui kalau ternyata mereka menyukai sesama jenis. Membayangkannya saja sudah membuatku mual.

Hari itu, seperti biasa, kami duduk berempat dalam satu baris yang sama. Kami juga makan siang bersama seperti yang kami lakukan sehari sebelumnya. Sepertinya hal itu akan menjadi rutinitas kami kedepannya.

Tidak banyak yang kami obrolkan hingga kelas terakhir selesai. Saat itu kami memastikan agar Widi ikut bersama kami. Dia terlihat ragu saat kami mengajaknya, namun akhirnya dia tetap mengikuti kami kearah Pendopo Ekonomi.

“Kita beli cemilan dulu yuk, Coy?” ujar Devon ketika kami sampai di Pendopo Ekonomi.
“Wah boleh juga tuh idenya, nitip dong!” seru Ricky.
“Enak aja lo! Sini temenin!” maki Devon.
“Sama gw aja, Dev!” ujar Widi tiba-tiba. Kami-pun sempat terdiam sejenak karena heran. Akhirnya Widi-lah yang menemani Devon untuk membeli cemilan.
“Tumben ya si Widi?” tanya Ricky kepadaku.
“Iya. Mungkin dia ngerasa gak enak kali sama kita karena kemarin lusa gak ikut kumpul,” tebakku.
“Mungkin juga sih,” gumam Ricky. “Tapi lo ngerasa gak sih, Bro? Widi itu orangnya pendiem banget,” tanyanya.
“Ya, sama aja kaya gw, gw juga pendiem,” jawabku.
“Iya, sih. Tapi gak tau deh, gw ngerasa beda aja,” ujarnya sambil menyalakan laptop.

Waktu saat itu menunjukkan kira-kira pukul lima sore. Angin kencang berhembus kearah Pendopo Ekonomi. Aku duduk menyender di dinding sambil mendengarkan lagu-lagu Haikara yang dipinjamkan oleh Devon di Mp3 Player-nya.

“Kok mereka lama, ya?” tanya Ricky. “Ini sih gw harus ngerokok dulu,” lanjutnya.
“Itu mah emang mau lo,” ujarku kesal.
“Hahaha, bisa aja nih, Bapak!” ucapnya sambil menyalakan rokok yang dia pegang. “Gpp, kan kalo gw ngerokok, Bro?”
“Mending jangan,” kataku ketus.
“Wah, yaudah gw gak ngerokok disini, deh!” ujar Ricky sambil berpindah tempat duduk ke tempat yang agak jauh dariku.

Suasana menjadi agak canggung sejenak, mungkin Ricky merasa tersinggung dengan perkataanku, setidaknya itulah yang aku pikirkan saat itu, sampai dia membuka omongan denganku lagi.

“Lo punya pacar, Bro?” tanya Ricky memecah kesunyian disana.
“Enggak. Lo sendiri?”
“Enggak juga. Cariin, dong!” pintanya sambil tertawa.
“Ah, lagi males gw. Minta aja sana sama Devon!”
“Boro-boro, dia aja udah lama banget jomblo katanya, haha!” ujarnya senang.

Akhirnya obrolan demi obrolan yang tidak penting mengalir begitu saja diantara kami saking lamanya kami menunggu Devon dan Widi.

Ricky mengatakan kalau dia sangat bercita-cita menjadi musisi, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya dia malah kuliah di kampus itu. Aku-pun memberitahukan alasanku kuliah di kampus itu, walaupun dengan alasan yang berbeda, kami bisa memahami masalah yang kami hadapi satu sama lain.

Waktu menunjukkan pukul enam lebih dua belas menit, Widi dan Devon akhirnya muncul di hadapan kami. Entah apa yang mereka lakukan. Aku dan Ricky yang menunggu mereka hampir selama satu jam hanya bisa menatap mereka dengan heran.

Devon-pun hanya terdiam melihat kami. Aku saling berpandangan dengan Ricky dan kemudian memalingkan wajah kami lagi ke arah Widi dan Devon. Mereka masih saja terdiam tanpa sepatah katapun. Kami terus memandangi mereka, akupun mengerutkan dahiku. Tidak ada yang berbicara diantara kami, hingga akhirnya terdengarlah suara tawa yang cukup kencang.

Entah apa yang terjadi, suara tawa yang kerasa memecah keheningan saat itu. Entah apa yang sudah mereka lakukan, Widi yang selalu terlihat pendiam, saat itu tertawa keras sekali sambil memandang tajam kearah kami. Saking kerasnya, kami bahkan merasa kami sedang bermimpi, aku dan Ricky sama sekali tidak percaya kalau orang yang berdiri di depan kami itu adalah Widi yang kami kenal. “Apa yang terjadi dengan dia?”

BAB 5


“HUAHAHAHAHA!!!” tawa Widi semakin keras seraya memegang perutnya.
“Kenapa nih, anak?” tanyaku heran. “Kesurupan?” pikirku sambil beberapa kali bertatapan dengan Ricky, sepertinya dia juga berpikiran sama denganku.

Aku dan Ricky-pun hanya bisa terdiam memperhatikan Widi. Devon yang berada di sebelahnya juga hanya bisa menatap Widi dengan heran.

“Udeh! Nanti nangis lo, kebanyakan ketawa!” seru Devon sambil menepuk pundak Widi, aku dan Ricky-pun tambah keheranan.
“Huahahahaha!!! Bener kan, Dev! Mereka pasti nungguin! Huahahaha!!!” seru Widi sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ha???” tanyaku dan Ricky serempak, lalu kami berdua-pun saling bertatapan heran.
“Nih si Kodok, dia bilang pasti lo berdua nungguin sambil gelisah karena kita kelamaan gak balik-balik,” ujar Devon menerangkan.
“Huahahaha!!! Lo gak liat tadi mukanya bang Ricky pas liat kita, Dev?” tanya Widi sambil berusaha menahan tawa dengan menutupi mulutnya dengan kedua tangan.

Aku dan Ricky masih terdiam keheranan. Devon dan Widi-pun akhirnya duduk di sebelah kami. Widi masih terlihat kesusahan untuk menenangkan diri.

“Terus lo berdua kenapa lama?” tanya Ricky.
“Nih, si Kodok!” seru Devon sambil menunjuk Widi. “Dia malah ngajakin makan siomay dulu,” terangnya.
“Wah, sialan! Pantesan aja satu jam gak balik-balik, ye?!” ujar Ricky ketus.
“Huahahaha! Aduh, aduh! Maaf ye, Bang! Ane laper banget, gak tahan,” jawab Widi sambil tetap berusaha keras menahan tawanya.

Aku dan Ricky merasa kesal karena dikerjai, tapi rasa penasaran kami saat itu jauh lebih besar. Ini pertama kalinya kami melihat Widi tertawa, dan dia bisa tertawa terbahak-bahak seperti itu, apa yang terjadi dengan dia?

“Terus, kok lo begini?” tanyaku akhirnya.
“Ha? Begini gimana maksudnya?” tanya Widi, gantian dia yang keheranan.
“Ya, lo kan biasanya… Pendiem?” lanjutku.
“Ah bisa aja!” ujarnya sambil menepuk pundakku. “Gw mah diem kalo di kelas doang, kalo disini kan cuma ada kita,” ujarnya menerangkan.
“Maksudnya?” tanya Ricky menambahkan.
“Ya kalo di kelas kan harus keliatan cool gitu, biar cewek-cewek pada suka, huahahaha!” terang Widi.
“Sialan!” seruku, “Gw pikir lo emang beneran pendiem!”
“Ah dia mah pendiem apaan! Daritadi aja ngoceh terus!” ujar Devon menjelaskan.

Aku dan Ricky hanya bisa terdiam. “Jadi ini sosok aslinya orang yang biasanya diem dan ngeselin itu?” gumamku.

“Aduh, cape gw ketawa. Dev, beli minum di Kantin Sastra, yok!” ajak Widi sambil berdiri dari posisi duduknya.
“Ohia, terus mana cemilannya?” tanya Ricky setelah menyadari kalau Devon dan Widi sepertinya tidak membawa apa-apa saat kembali ke tempat itu.
“Ini baru mau dibeli, Bang! Huahaha!” jawab Widi sambil tertawa kembali.

Aku dan Ricky kembali dibuat terdiam melongo dengan sikap Widi. Ingin rasanya kami melempar Widi dengan sebongkah batu atau apapun yang bisa kami raih saat itu, tapi sepertinya Widi menyadari akan hal itu dan dia langsung bergegas pergi bersama Devon.

“Wah sialan tuh, anak!” ujar Ricky kesal.

Aku hanya bisa terdiam tanpa berkata-kata. Aku sama sekali tidak mengira kalau Widi adalah anak yang seperti itu. Pandangan awalku terhadapnya yang mengira dia dalah anak yang angkuh buyar begitu saja, berganti dengan sesosok anak yang bertingkah-laku konyol seperti yang sudah dia lakukan di depan kami.

Beberapa lama kemudian Devon dan Widi datang sambil membawakan empat piring nasi goreng. Karena memang sudah hampir jam delapan malam, kami memutuskan untuk makan malam sekalian di sana sambil mendiskusikan materi presentasi kami.

Setelah itupun candaan Devon dan Widi masih menghiasi kegiatan kami, mereka berdua terlihat kompak saat mengerjai Ricky dan Ricky-pun hanya bisa membalas dengan makian.

Aku masih heran dengan perubahan sikap Widi, tapi aku tahu kalau Ricky-pun berpikiran sama denganku. Ya, aku dan Ricky merasa kesal, heran sekaligus merasa lega. Kami lega karena ternyata Widi yang semula kami kira tidak dapat berkeja dengan baik dan tidak dapat berbaur dengan kami, ternyata adalah sosok yang cukup menyenangkan dan mudah diajak kerja-sama.

Waktu menunjukkan kira-kira pukul sembilan malam, dan kami sudah menyelesaikan materi untuk presentasi kami. Jika dibandingkan dengan saat aku, Devon dan Ricky berkumpul untuk pertama kalinya, saat itu pekerjaan kami terasa lebih cepat tapi juga terasa lebih melelahkan.

Kami bisa mengerjakannya dengan lebih cepat karena kami berempat aktif mengerjakan dan juga kejahilan Devon dan Widi membuat suasana saat itu lebih hidup, tapi itu juga-lah yang sepertinya membuat kami kelelahan.

“Syukurlah di kelompok kami tidak ada anak yang bisa menjadi beban,” pikirku. Aku benar-benar bersyukur karena Widi ternyata bukanlah orang yang seperti aku pikirkan awalnya.

Akhirnya setelah semua beres, kami memutuskan untuk pulang. Semua bahan sudah aku edit hari itu juga, jadi tinggal tugas Widi untuk mencetak bahan presentasi tersebut untuk kami presentasikan dua hari lagi.

Pertama kalinya kami pulang bareng dan ternyata kami memarkir motor kami di area yang sama. Hari itu juga karena untuk pertama kalinya kami keluar kampus pada saat yang sama, aku baru mengetahui kalau ternyata Devon, Ricky dan Widi pulang ke arah yang sama. Sedangkan aku di arah yang berlawanan dengan mereka.

Sepanjang perjalanan, aku memutar kembali ingatanku tentang Widi. Selain itu aku juga memikirkan mengenai kebersamaanku bersama dengan Devon dan Ricky. Walaupun awalnya aku sama sekali tidak ingin bersosialisasi dengan mereka, tapi karena sebuah tugas kelompok, aku jadi bisa lebih mengenal teman sekelasku. “Yah, tidak buruk juga,” pikirku. Akupun melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba dengan selamat di rumah pada pukul sepuluh lebih. Entah kenapa aku merasa lelah sekali hari itu, dan aku memutuskan untuk langsung tidur.

❀❀❀❀❀


Presentasi kami berjalan dengan lancar. Aku dan Widi bertugas bergantian mem-presentasikan materi kami. Kami beruntung sepertinya dosen kami-pun menyukai cara kami presentasi dan tertarik terhadap materi kami.

Setelah presentasi tersebut, kami menjalani keseharian kami dalam perkuliahan seperti biasa, tapi ada dua hal yang berbeda. Pertama, Widi tetap seperti biasanya, dia selalu bersikap dingin di kelas, tapi kami yang awalnya berpikir, “Ini anak kok sombong banget, ya?” berubah menjadi “Sialan masih aja sok cool,” dan kami pun tertawa dalam hati kalau memikirkannya. Kedua, hampir setiap hari setelah hari presentasi, kami tidak langsung pulang setelah jam kuliah kami berakhir. Kami berempat jadi sering menghabiskan waktu bersama di Pendopo Ekonomi. Widi yang awalnya ragu, walaupun kami tidak mengetahui alasannya, akhirnya tidak kuasa menolak ajakan kami.

Cerita Horor Remaja
Diubah oleh Ayubasauli.S.T.
Walaupun tidak ada lagi tugas kelompok yang harus kami kerjakan, tapi kami menghabiskan waktu kami di Pendopo Ekonomi untuk makan, bercanda ataupun mendengarkan musik bersama. Tidak adanya anak Ekonomi yang mondar-mandir di sana, membuat kami seperti penguasa di tempat itu, dan walaupun tanpa perjanjian tertulis, sepertinya kami sepakat kalau tempat itu adalah tempat tongkrongan kami berempat.

“Disini enak ya, adem!” ujar Devon ketika kami berempat sedang berkumpul di Pendopo Ekonomi. Aku, Devon dan Ricky duduk bersender di tembok, sedangkan Widi, mungkin karena saking merasa nyamannya, dia sampai tiduran di tempat itu. Ricky sendiri duduk agak jauh dari kami karena dia sedang merokok.
“Iya. Tapi kenapa malah gak ada yang nongkrong di sini, ya?” tanyaku sambil menyeruput secangkir kopi yang kubeli di Kantin Sastra.
“Gak tau deh. Tapi siapa yang perduli? Bagus dong tempat ini jadi milik kita! Hehe!” ujar Devon senang.

Ricky masih duduk menyendiri sambil merokok, Devon terkadang datang menghampirinya hanya untuk mengisengi Ricky ataupun menemani Ricky mengobrol walaupun Devon tidak merokok. Widi sepertinya malah sudah tidur terlelap. Walaupun kami duduk ataupun tiduran di lantai Pendopo Ekonomi, mungkin karena tempat itu jarang dilalui orang, lantai Pendopo itupun tidak terlalu kotor, jadi kami rasa masih aman untuk kami duduki ataupun tiduri. Pemikiran yang bodoh? Ya, aku tahu. Setidaknya kami merasa nyaman di tempat itu.

BAB 6


Sudah sekitar tiga bulan sejak pertama kali kami berempat memutuskan untuk nongkrong di Pendopo Ekonomi. Saat itu, memang ada beberapa mahasiswa ataupun mahasiswi yang suka melewati tempat itu, namun tetap saja hanya kami berempat yang nongkrong di tempat itu.

Saat itu kira-kira pukul dua siang, kami berempat baru ada kelas lagi pukul tiga, dan sejak pukul sebelas siang kami sudah berada di Pendopo Ekonomi.

“Dev, kalo cewek gw, gw kasih ini, menurut lo gimana?” tanya Widi dengan mata berbinar-binar. Ya, berbeda dengan perkiraan kami awalnya, ternyata diantara kami ada juga yang memiliki pacar.
“Apaan tuh?” tanya Devon sambil melihat kertas yang dipegang oleh Widi.
Rupanya itu adalah gambar yang dibuat oleh Widi dengan menjadikan pacarnya sebagai model.
“Apaan, nih! Ini mah gambar anak SD!” ledek Devon.
“Wah kurang ajar, lo!” seru Widi dengan muka kesal, Devon-pun hanya tertawa melihat tingkah Widi.

Widi ternyata memiliki hobi menggambar. Setelah kami mengetahui sosok asli Widi, dia kini tidak hanya berdiam diri saja di kelas, dia juga sudah mulai mengobrol dengan kami sesekali, tapi kami lebih sering melihatnya sedang menggambar sketsa ketika sedang berada di kelas.

“Ohia, kalian ikut Pekan Sastra?” tanya Ricky tiba-tiba, tentu saja sambil merokok seperti biasanya.
“Apaan tuh?” tanya kami bertiga serempak.
“Gak tau deh, tapi kayanya pertandingan olahraga gitu,” jelas Ricky.
“Lah lo tau darimana?” tanya Devon.
“Gw liat di mading tadi pagi, mading yang ada di depan Himpunan Sastra,” ujar Ricky lagi. “Ikut futsalnya yok? Mau gak? Tadi kayanya gw liat ada futsal deh,” lanjut Ricky.
“Wah boleh tuh! Gw udah lama juga gak olahraga!” seru Devon setuju.
“Mau liat madingnya? Sekalian ke kelas, gimana?” ajak Ricky sambil mematikan rokoknya.

Kamipun setuju dan kami berempat berjalan menuju Pendopo Sastra. Berbeda dengan Pendopo Ekonomi yang letaknya bersebelahan dengan ruang dosen Fakultas Ekonomi, Pendopo Sastra berada persis di depan Himpunan Sastra, sehingga kebanyakan yang nongkrong di Pendopo Sastra adalah anak Himpunan.

Himpunan itu sendiri adalah sebuah organisasi yang mewakili masing-masing jurusan di satu fakultas. Karena di Fakultas Sastra itu sendiri terdapat empat Jurusan, maka ada empat Himpunan yang berhak menggunakan ruang Himpunan Sastra itu sebagai tempat mereka menyimpan inventaris ataupun sebagai ruang rapat.

“Nah ini dia!” tunjuk Ricky mengarah ke salah satu selebaran yang bertuliskan:

KEPADA SEMUA MAHASISWA TINGKAT SATU!
BERKAITAN DENGAN AKAN DIADAKANNYA KEGIATAN BERTEMEKAN PERMAINAN DAN OLAHRAGA YANG KAMI SEBUT DENGAN “PEKAN SASTRA”
KAMI MENGUNDANG KALIAN SEMUA UNTUK BERPARTISIPASI SEBAGAI PANITIA YANG AKAN DIBENTUK PADA HARI RABU 7 DESEMBER 2009


Waktu yang ditunjukkan di seleberan tersebut adalah pada hari itu, dan pada keterangan lain dibawahnya, bagi yang berminat menjadi panitia, diharapkan untuk berkumpul di ruang Himpunan pada pukul lima lewat tiga puluh menit, kebetulan perkuliahan kami hari itu akan berakhir pada pukul lima lewat lima belas menit.

“Gimana? Mau ngumpul nanti?” tanya Ricky.
“Wah males gw jadi panitia-panitia gitu,” jawabku segan.
“Tapi kalo jadi panitia, kita masih bisa ikut lombanya, gak?” tanya Devon.
“Nah! Itu yang harus kita cari tau nanti, haha!” seru Ricky. “Gimana, Wid?”
“Ini bukan untuk anak Sastra Jepang aja kan, ya?” tanya Widi.
“Bukan kayaknya, untuk semua anak Sastra, bukan khusus Jepang,” jawab Ricky.
“Wah kalo gitu, gw mau tuh ikut!” ujar Widi semangat.
“Ha? Tumben lo?” tanyaku heran.
“Iya, dong! Kalo bukan dari Sastra Jepang aja kan artinya cewek-cewek dari jurusan lain ada kemungkinan ikut juga!” tegas Widi semangat.
“Yee, Kodok!” sontak Devon langsung memukul kepala Widi dan kami-pun tertawa.
“Jadi gimana, Bang? Lo ikut juga, kan?” tanya Ricky kepadaku.

Aku sebenarnya masih ragu. Aku masih sangat malas untuk bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya di kampus itu. Tapi entah kenapa, di hati kecilku, aku berpikir, mungkin aku bisa menemukan keseruan lain jika aku ikut.

“Nanti aja deh liat gimana pas kelar kuliah,” ujarku.

Kamipun memasuki ruang kelas yang akan digunakan untuk kuliah kami. Walaupun kuliah kami baru akan dimulai dalam lima belas menit, tetapi hanya kami berempat saja yang baru datang ke kelas itu. Anak-anak yang lain sudah duduk menempati kursinya masing-masing, bahkan Fero dan Indra. Mereka terlihat masih sibuk dengan kegiatan yang sudah biasa mereka lakukan setiap harinya. Fero terlihat sedang tenggelam dalam musik yang dia dengarkan dengan Headphone-nya, sedangkan Indra terlihat sibuk menggambar.

Aku duduk di tempat yang biasa aku duduki setiap harinya. Entahlah, walaupun setiap kuliahnya memiliki waktu, ruang kelas dan dosen yang berbeda, kami seperti memiliki pola tempat duduk yang harus kami tempati. Aku sendiri selalu duduk di kursi deretan paling kiri barisan kedua, begitu juga dengan Devon, Ricky dan Widi.

Aku duduk dan termenung. Sejak dulu, aku memiliki krisis kepercayaan terhadap orang lain. Aku yang sering ditinggal ke luar kota oleh kedua orangtua ku, dan juga seringnya aku berkelahi saat aku masih bersekolah, membuatku tidak memiliki orang yang benar-benar dekat denganku.

Sejak dulu, aku adalah orang yang emosional. Seringkali aku tidak bisa menahan amarahku. Bahkan saat aku lulus SMA, aku sempat membuat masalah sehingga beberapa anak mendatangi dan memukuliku. Saat itu, walaupun hidungku patah, walaupun dahiku robek dan darah bercucuran diseluruh wajahku, aku sama sekali tidak merasakan sakit.

Setelah perkelahian itu, aku pulang kerumah masih dengan wajah yang berlumuran darah. Aku menunggu sampai lampu dirumahku padam, berharap kalau kedua orangtuaku sudah tidur. Setelah itu aku langsung mandi dan membersihkan luka-lukaku. Walaupun darah dari dahiku masih belum berhenti mengalir, aku memaksakan diri untuk tidur dan berharap aku tidak kehabisan darah selama aku tertidur.

Pagi harinya aku terbangun karena teriakan histeris dari Ibuku yang melihat wajahku yang berlumuran darah. Ibuku menangis ketakutan saat itu sambil berusaha menahan rasa paniknya dan mengobati lukaku. Saat itulah, aku berjanji untuk tidak membuat Ibuku menangis seperti itu lagi. Sejak hari itu, aku berjanjji untuk tidak berkelahi lagi.

Karena hal itu jugalah, aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan siapapun. Aku yang masih belum bisa menjaga emosiku, takut kalau suatu saat aku harus berkelahi dengan orang lain lagi. Hal itulah yang membuatku ragu untuk ikut kegiatan seperti kepanitiaan yang akan diadakan.

“Kayanya gw gak ikut deh nanti,” ujarku di sela-sela perkuliahan kepada mereka bertiga.
“Kenapa emangnya, Bang?” tanya Widi.
“Males aja,” jawabku singkat sambil berharap mereka tidak menanyakan alasannya lebih jauh.
“Yah, gak seru nih! Masa gw, Devon sama Widi ikut, lo gak ikut?” ujar Ricky.
“Tau nih!” tambah Devon.
“Ikut aja, Bang! Masa lo gak mau ikut kepanitiaan bareng gw yang imut-imut ini?” kata Widi sambil menunjukkan senyumnya padaku.
“Rese lo! Katanya mau cool?” ujarku.
“Ohia! Cool!” seru Widi sambil membenarkan posisi duduknya dan kembali dengan pose cool-nya.
“Yauda nanti lo temenin kita bertiga aja ikut ngumpul dulu, kan gak langsung jadi panitia, gimana?” saran Ricky. “Kali aja lo berubah pikiran?”
“Ya- yauda deh kalau gitu,” ujarku akhirnya karena merasa tidak enak juga untuk terus menolak ajakan mereka.

❀❀❀❀❀


Kami berempat-pun akhirnya berkumpul di ruang Himpunan, tanpa disangka ternyata mahasiswa yang berminat menjadi panitia dalam acara Pekan Sastra itu lumayan banyak sehingga kami terpaksa menggunakan ruangan lain untuk berkumpul. Seperti dugaanku, ada banyak sekali mahasiswa yang tidak kukenal bahkan tidak pernah kulihat sebelumnya. Mungkin karena aku hanya menghabiskan keseharianku di kelas ataupun di Pendopo Ekonomi selama kuliah, aku merasa sangat asing berada diantara mereka walaupun kami sama-sama masih mahasiswa tingkat satu.

“Wah banyak juga ya yang kumpul!” seru seorang mahasiswa berkepala pelontos yang mengenakan jaket Almamater dan berdiri di depan kami. “Sebelumnya kenalin, nama gw Iman! Sastra Inggris tingkat tiga,” lanjutnya.
“Gw sendiri dari Sastra Jepang tingkat dua, nama gw Bryan!” seru seseorang berambut gondrong yang daritadi berdiri di samping Iman.

Mereka berdua secara bergantian memberikan penjelasan mengenai apa itu Pekan Sastra, kapan rencana akan diadakannya acara tersebut, struktur kepanitiaan serta target apa yang ingin dicapai dalam acara tersebut.

“Nah kalau masih ada yang kurang paham, kalian bisa tanya langsung ke kita, nih kakak-kakak yang ada disini,” ujarnya sambil menunjuk beberapa senior yang tidak semuanya diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri. “Atau bisa juga ditanyain besok saat kita mulai rapat pertama kita ya,” lanjutnya.

Kami yang berkumpul saat itu diberikan kesempatan selama satu hari untuk memutuskan apakah kami ingin berpartisipasi dalam kepanitiaan tersebut atau tidak. Bagi mahasiswa yang berminat, diwajibkan untuk datang di rapat pertama esok harinya pada jam dan ruangan yang sama. Setelah itu, kamipun dipersilahkan untuk pulang.

“Jadi gimana? Lo ikut?” tanya Ricky kepadaku saat kami berjalan ke parkiran motor.
“Wah, gw belom tau. Liat besok, ya?” jawabku.
“Yah, gimana nih? Masa kita bertiga aja yang ikut? Katanya temen?” gurau Ricky sambil meletakkan tanganya di pundak kananku.
“Hmm… Wait? Temen? Sejak kapan kita temenan?” pikirku dalam hati.

Jujur saja, aku sama sekali tidak pernah berpikir kalau kami adalah teman. Bagiku, kami hanyalah orang-orang yang saling mengenal karena pernah mengerjakan tugas bersama, dan kami suka nongkrong di tempat yang sama.

Itulah salah satu masalahku. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan orang lain, apalagi sampai menganggap orang lain sebagai temanku. Bagiku, aku adalah jiwa yang bebas, dan sendiri. Aku tidak ingin berada dalam masalah mereka, dan aku juga tidak ingin mereka berada dalam masalahku.

Biasanya, aku tidak pernah menganggap seorangpun sebagai temanku, hanya sebatas kenalan ataupun teman sekelas. Karena itulah aku tidak pernah perduli kalau aku harus berkelahi dengan mereka, aku tidak perlu memikirkan jika aku menyakiti perasaan mereka, ataupun sebaliknya.

“Liat besok, ya?” jawabku ragu.

Ricky tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan akhirnya kami berempat-pun pulang. Walaupun aku belum memberikan jawaban yang pasti, tapi aku sudah memutuskan, aku tidak akan ikut menjadi panitia dalam acara tersebut.

BAB 7


Hari itu hari pertama rapat kepanitiaan Pekan Sastra. Waktu menunjukkan sekitar pukul tiga sore. Aku duduk sendiri di Pendopo Ekonomi, seperti biasa angin berhembus cukup kuat ke arah tempat itu. Karena tidak ada yang bisa kulakukan, aku memutuskan untuk membaca buku pelajaran mengenai sejarah Jepang sambil mendengarkan lagu-lagu Haikara yang direkomendasikan oleh Devon.

Saat itu Devon, Ricky dan Widi sedang mengikuti rapat yang diadakan di salah satu ruang kelas di lantai empat. Karena tidak ada yang kulakukan di rumah, aku memutuskan untuk menunggu mereka selesai rapat, karena kupikir rapat pertama pada hari itu tidak akan terlalu lama.

Tidak membutuhkan waktu lama sampai aku tenggelam dalam lagu-lagu yang kudengarkan. Akupun secara tak sadar mengubah posisi dudukku dan merebahkan badan di sana. Akhirnya aku menutup bukuku dan perlahan memejamkan mataku, sampai kudengar suara langkah kaki yang mengarah ke tempatku.

“Udah kelar?” ujarku sambil kembali dalam posisi duduk dan menoleh ke arah suara langkah kaki tersebut.

Aku terdiam dan terus menatap ke arah suara itu berasal. Tidak ada siapapun. Aku terus menatap curiga ke arah yang sama, namun tetap tidak ada siapapun. “Apa gw mimpi, ya?” gumamku.

Aku masih menatap kearah suara tadi, namun tetap tidak ada siapa-siapa. Pikiran-pikiran aneh mulai meracuni otakku. Aku yakin sekali kalau aku mendengar suara langkah kaki, tapi sepertinya tidak ada orang di sekitar sana. Aku yang mulai merasa terganggu akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat siomay di depan kampus.

“Lah lo kok disini?” tanya seseorang ketika aku berjalan melewati Pendopo Sastra.
“Oh, Kak. . .” ujarku sambil berusaha mengingat nama dari senior yang memanggilku.
“Bryan!” tegasnya seperti merasa kesal karena namanya dilupakan. “Rapatnya udah selesai?” tanyanya kemudian.
“Oh, gw gak ikut, Kak!”
“Gak ikut rapat? Kenapa emang? Padahal baru rapat pertama, ada kelas?”
“Bukan, gw gak ikut jadi panitia,” terangku.
“Oh! Temen-temen lo yang kemarin? Gak ikut juga?”
“Mereka sih ikut, ini gw lagi nungguin mereka,” jawabku.
“Wah, sayang banget lo ga ikut!” ujarnya.
“Yauda, gw ke depan dulu ya, Kak!” kataku sambil berjalan meninggalkan Bryan.
“OK!” serunya. “Eh iya, lo sama temen-temen lo itu, yang sering nongkrong di Pendopo Ekonomi, kan?”
“Iya, kenapa?”
Bryan sepertinya menahan apa yang hendak dikatakannya, dan dia terlihat seperti sedang berpikir sejenak. “Gak kenapa-kenapa sih,” ujarnya.
“Oh, Ok!”

Sikap Bryan yang seperti menyembunyikan sesuatu menambah pikiranku. “Bangs@t! Ada apaan sih emangnya?” ujarku kesal. “Kalau memang ada apa-apa, bilang kek!”

Aku terus mengumpat dalam hati selama berjalan ke depan kampus. Aku memang sering terganggu dengan rasa penasaranku, seakan aku tidak akan bisa tidur sebelum aku mendapatkan kejelasan dari apa yang membuatku penasaran seperti itu.

Suasana di tempat siomay yang berada di depan kampus-pun tidak membantuku. Mungkin karena kebanyakan mahasiswa pagi, sudah tidak ada lagi kelas pada saat itu, tempat itu dipenuhi oleh anak-anak yang sedang menikmati siomay ataupun batagor. Mau tidak mau aku harus duduk di dekat mereka.

Masih dengan rasa kesalku, aku mengunyah siomay di piring yang kupegang dengan lahap. Di depanku terlihat anak-anak perempuan yang sedang tertawa walaupun tidak jelas apa yang mereka bicarakan.

Satu dari empat anak perempuan yang duduk di depanku sedikit mencuri perhatianku. Anak itu bertubuh kurus dan memakai kacamata. Rambutnya yang hitam-lurus memanjang menutupi punggungnya. Dia adalah Irna Lusiana, salah satu teman seangkatanku. Tawanya yang manis membuatku lupa kalau saat itu aku sedang makan, dan membuatku terus memperhatikannya.

Biasanya aku memang selalu sekelas dengan teman-teman sekelasku yang lain, kecuali untuk satu mata kuliah, yaitu Agama. Dimata kuliah inilah aku bertemu dengan Irna.

Diantara kami berempat, hanya kepercayaanku yang berbeda sehingga aku biasanya sendirian saat mata kuliah Agama. Mungkin karena tidak ada yang mengajakku bicara pada saat mata kuliah tersebut, aku jadi lebih sering memperhatikan sekitarku. Hal itulah yang pertama kali membuatku sadar akan keberadaan Irna.

Sosoknya yang juga pendiam tidak terlalu menarik perhatianku ketika kami pertama kali bertemu di kelas Agama. Namun, semakin sering kami bertemu, dan semakin sering aku memperhatikannya, aku sadar kalau ternyata anak itu cantik, cantik sekali.

Tawanya yang lepas, senyumannya yang manis, dan walaupun kurus, dia memiliki pipi yang sedikit gembul, membuatnya terlihat manis dan menggemaskan, ingin rasanya aku mencubit pipinya yang gembul itu. Aku bersyukur saat itu Devon, Ricky dan Widi tidak bersamaku, karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kalau mereka menyadari aku sedang kasmaran saat itu.

Pertemuan dengan Irna saat itu sedikit membuatku lega. Setidaknya, aku bisa melupakan kekesalanku karena rasa penasaran yang sejak tadi menggangguku. Aku yang hanya bisa memandanginya akhirnya memutuskan untuk kembali menunggu Devon, Ricky dan Widi di Pendopo Ekonomi setelah menghabiskan makananku.

Aku kembali merenung sambil duduk di Pendopo Ekonomi. Melihat Irna menjadi kebahagiaan sekaligus kegelisahan bagiku. Pengalaman pahit yang pernah kurasakan membuatku tidak ingin lagi pacaran, setidaknya untuk saat itu. Dan tentu saja, rasa sukaku kepada Irna, membuatku terganggu, melebihi rasa penasaran yang kurasakan sebelumnya.

Karena bertemu dengannya tadi, aku jadi tidak bisa tidak memikirkannya. Wajahnya yang manis terus terbayang di pikiranku. “Gak bisa gini terus nih, gw gak boleh suka sama dia,” gumamku sambil menyeruput segelas Es Kopi yang kubeli dari Kantin Sastra. “Gw harus nyari kegiatan nih biar gak kepikiran dia terus,” gumamku sambil berpikir keras.

Tidak lama setelah itu, terdengar suara beberapa langkah kaki, dan Devon, Ricky serta Widi muncul di hadapanku sambil tersenyum lebar. Akupun membalas senyuman mereka dengan tak kalah lebarnya. “Ini dia jawabannya,” pikirku sambil melihat ketiga orang di depanku yang memandang diriku dengan heran.

❀❀❀❀❀


“Jadi? Lo mau ikut kepanitiaan, nih? Serius?” tanya Ricky.
“Iya, masih bisa kan?”
“Masih bisa sih, tapi kok tiba-tiba gini? Padahal tadinya lo bilang gak mau?”
“Ya adalah alasannya, gw gak bisa bilang,” jawabku.

Devon dan Widi masih sibuk bermain bersama seekor kucing yang mereka temukan di taman di sebelah Pendopo Ekonomi.

“Yaudah kalo gitu, gw kasih tau SC-nya dulu ya,” ujar Ricky.

SC adalah singkatan dari Steering Commite, atau orang yang bertugas untuk mengatur serta mengarahkan anggotanya dalam suatu divisi. Sedangkan Devon, Ricky dan Widi berposisi sebagai OC atau Organizing Commite atau singkatnya, mereka adalah anggota dalam divisi tersebut.

Mereka bertiga adalah anggota dari divisi Perlengkapan. Sesuai namanya, divisi tersebut bertugas untuk membuat, menyediakan dan mengatur perlengkapan apa saja yang ditentukan oleh divisi Acara demi kelangsungan acara yang akan dilaksanakan.

SC dari divisi Perlengkapan berasal dari jurusan Sastra Jepang yang bernama Martin. Sedangkan untuk anggotanya, selain Devon, Ricky dan Widi, masih ada Sugiono dan Reka yang berasal dari jurusan Sastra Cina.

Cerita Horor Remaja
Diubah oleh Ayubasauli.S.T.
“OK nih katanya, rapat berikutnya hari Selasa minggu depan,” terang Ricky.
“Siap!” jawabku tegas.
“Nah gini kan enak! Bisa bareng kita berempat!” seru Ricky.
“Ngomong-ngomong, lo bertiga kenapa tadi kelar rapat kok malah senyam-senyum?” tanyaku. Devon dan Widi yang mendengar pertanyaanku tersebut, menghentikan kegiatan mereka dan berjalan ke arah kami berdua.
“Wah! Lo harus liat panitianya, Bang!” seru Widi.
“Hahaha, nih si Kampret bisa aja!” ledek Ricky.
“Emang kenapa, sih?” tanyaku.
“Jadi gini,” ujar Devon mencoba menjelaskan. “Dianatara panitia itu, ada yang namanya Yuni, Feli, Wini dan Fani,” lanjutnya.
“Terus?” tanyaku masih tidak mengerti.
“Mereka itu Bidadari, Bang! Bidadari!” seru Widi semangat sambil tertawa.
“Ha??”
“Lo gak tau Bidadari, Bang?” lanjut Widi.
“Bidadari gimana maksudnya?”
“Yah, intinya mereka cakep lah,” ujar Devon.
“Cakep? Lo gila, Dev?” bantah Widi. “Mereka bukan cakep lagi, mereka tuh manis, imut, lucu, sempurna deh! Bidadari, Dev! Bidadari!”
“Si Kampret!” kataku kesal. Mereka bertiga-pun tertawa kegirangan.
“Yah pokoknya bikin semangat ikut rapat lah,” kata Ricky setuju.

Aku memang penasaran dengan anak-anak perempuan yang disebutkan oleh mereka bertiga. Apalagi aku ingin mengikuti kepanitiaan itu agar aku tidak terlalu kepikiran soal Irna. Tapi aku yakin, tidak ada satupun dari mereka berempat yang dapat mengalahkan kecantikan Irna.
“Gw gak butuh cewe saat ini. Walaupun akhirnya gw jatuh cinta lagi, gw yakin cuma Irna yang bisa ngambil hati gw!” kataku dalam hati mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri.

Akhirnya kamipun menghabiskan sisa hari itu di Pendopo Ekonomi sambil membicarakan mengenai Pekan Sastra. Dari penjelasan mereka bertiga, aku bisa mengerti mengenai struktur kepanitiaan itu dan juga rencana kami kedepannya.

Tenggelam dalam pembicaraan mengenai acara tersebut, akhirnya pikiranku mengenai kejadian di Pendopo Ekonomi sebelumnya, juga mengenai Irna teralihkan. Mereka bertiga-pun terlihat semangat membicarakan acara tersebut ketimbang mengenai para Bidadari yang mereka sebutkan. “Gw rasa emang ikut kepanitiaan ini, keputusaan yang tepat!” gumamku sambil tersenyum lega.

BAB 8


Pertengahan Januari. Kami masih memiliki waktu lebih dari dua bulan untuk menyiapkan Pekan Sastra. Sejak akhir Desember sampai awal Januari, kami semua disibukan oleh Ujian Tengah Semester sehingga kami tidak bisa terlalu banyak berkegiatan di kampus. Namun mulai hari itu, para panitia Pekan Sastra sepertinya akan lebih sering berkumpul.

Benar seperti dugaanku, kegiatan kepanitiaan serta kesibukan karena Ujian membuatku bisa melupakan Irna. Bahkan aku hampir tidak pernah melihatnya lagi, mungkin terakhir kali aku melihatnya saat sedang Ujian Agama, saat itupun aku tidak memiliki banyak waktu untuk memperhatikannya karena aku lebih fokus pada ujianku.

“Nanti perlengkapan kumpul sebentar ya di ruang 305?” ujar seseorang sambil menepuk pundakku dari belakang.

Dia adalah Martin, SC atau ketua dari divisi Perlengkapan untuk acara Pekan Sastra. Aku tidak terlalu sering mengobrol dengannya, tapi dia orang yang cukup bisa diandalkan.

“Siap, Bos!” balasku.

Devon dan Ricky masih sibuk mengerjakan desain selebaran bersama dengan divisi Humas. Sedangkan Widi saat itu sedang pergi meminjam beberapa perlengkapan olahraga dari beberapa Sekolah Menengah yang berlokasi di dekat kampus bersama dengan Reka dan Sugiono. Aku? Aku saat itu sedang tidak memiliki tugas apapun karena aku dan Martin baru saja selesai membeli beberapa perlengkapan seperti paku, papan dan lain-lain.

“Hei, bengong aja!” seru seorang anak perempuan bertubuh mungil di belakangku. “Mana yang lain?” tanyanya sambil memutar-mutar permen lolipop di mulutnya.
“Oi, Ran! Ngagetin aja lo!”
“Hahaha, lagian bengong aja sih!”
“Lagi pada sibuk yang lain, lo sendiri?” tanyaku sambil melihat beberapa lembar kertas yang dipegangnya.
“Nah, pas! Temenin gw, yuk!” pintanya sambil merangkul tanganku seakan tidak memberikan aku kesempatan untuk menolak.

Rani adalah SC dari divisi Kesehatan. Selain itu, walaupun dia masih mahasiswa tingkat pertama, dia juga aktif menjadi pengurus dalam salah satu klub di kampus itu. Akhir-akhir itu Rani memang sering berkumpul bersama kami, selain karena sebagian besar kebutuhan dari divisi Kesehatan disediakan oleh divisi Perlengkapan, sikap Rani yang seperti anak laki-laki membuat kami mudah bergaul dengannya.

“Lo ngumpul dimana nanti?” tanyanya.
“Ha? Oh! 305,” jawabku setelah menyadari maksud dari pertanyaan Rani.
“Oh, yauda kesana aja kita sekalian!”

Kamipun tiba di depan ruang 305 yang ternyata masih digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Akhirnya kami memutuskan untuk duduk di lorong di depan ruang tersebut.

“Lo lagi ngapain, sih?” tanyaku kepada Rani yang sedang sibuk memilah-milah kertas yang di genggamnya.
“Nih!” katanya sambil menyodorkan beberapa kertas. “Tolongin dong liatin, menurut lo, kebutuhannya obat-obatannya udah sesuai, belom?”
“Ha? Kok gw? Kenapa bukan OC lo?”
“Mereka lagi sibuk, ah!” ujarnya dengan nada sedikit memaksa.
“Yeee, bocah!” kataku kesal sambil menempeleng kepala Rani perlahan.
“Hehehe! Lo emang paling baik, deh!” ujarnya sambil tertawa terkekeh.

Rani sepertinya sedang sibuk membuat naskah untuk kegiatan klubnya. Beberapa kali aku mengintip apa yang sedang ditulisnya sambil memeriksa daftar kebutuhan obat-obatan yang dia berikan padaku.

Beberapa kali wajahnya terlihat kusut dan merobek kertas yang baru saja digunakannya untuk menulis. “Kehabisan ide?” tanyaku.
“Iya, nih!” ujarnya kesal. “Lagian kenapa deadlinenya harus besok ya? Gw kan sibuk!” katanya lagi sambil memutar-mutarkan pulpen yang diapit jari-jarinya.
“Ha? Besok? Emang lo disuruh buat naskah itu dari kapan?”
“Udah lama sih, udah dua bulan. Tapi gw baru kerjain hari ini. Hehe!” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.

Plak! Tanganku kembali menempeleng kepalanya, namun kali itu sepertinya lebih keras. Rani sendiri memang sudah sering menghabiskan waktu denganku selama kami disibukkan dengan kegiatan kepanitiaan itu. Aku sendiri yang tidak terbiasa mengobrol dengan anak perempuan, entah kenapa bisa merasa nyaman dengannya. Mungkin karena sikap Rani yang tidak seperti anak perempuan pada umumnya, aku jadi lebih leluasa untuk bicara padanya.

Tidak lama kemudian, pintu ruangan 305 terbuka dan terlihat beberapa anak dari angkatan pertama berhamburan keluar dari ruangan itu.

“Nana! Tungguin!” seru seorang anak perempuan dari dalam kelas, membuat seorang anak perempuan lainnya diam terpaku di depanku yang sedang duduk.

Aku terhentak kaget mendengar nama itu dan menoleh kearah anak perempuan yang dipanggil tersebut. Menyadari kalau aku duduk di sebelah kakinya, anak perempuan itu langsung bergeser sambil berkata, “Ah maaf, maaf ya, gak liat tadi,” ujarnya sambil membenarkan posisi kacamatanya yang agak bergeser saat melirik kebawah tadi.

Aku hanya terdiam melihatnya, lalu mengalihkan pandanganku ke arah daftar obat-obatan yang masih kupegang sejak tadi. Anak itupun akhirnya pergi bersama dengan temannya.

“Suka? Sama Nana?” tanya Rani tiba-tiba saat suasana di depan ruang 305 tidak seramai sebelumnya.
“Ha?”
“Irna Lusiana, kan? Anak kelas E?” tanyanya lagi sambil menatap wajahku dengan cermat. “Cakep ya?”
“Apaan sih?” bantahku sambil tetap menatap ke arah kertas-kertas yang kupegang.
“Badannya langsing, rambutnya panjang, lurus, wah udah kaya artis aja!” seru Rani lagi sambil tetap menatap wajahku. “Udah cakep, pinter lagi!”
“Tau darimana lo kalo dia pinter?” perkataan Rani sedikit membuatku penasaran.
“Kelas gw sama kelas E ada satu kelas gabungan, di mata kuliah SPM. Dari situ gw tau kalo dia pinter, anaknya juga rajin nyatet, yah beda jauh sama lo lah pokoknya!” terangnya sambil tertawa dan menjitak dahiku.
“Apaan? Gw juga baru kali ini kok ngeliat dia, suka darimana?” kataku sambil berharap Rani berhenti menggodaku.
“Oh! Iya sih. Gimana caranya lo ngeliat dia kalo lo aja selalu ngebuang muka setiap kita ketemu dia waktu lagi ngurusin masalah kepanitiaan ini di kampus?” Rani-pun menyengir sambil menatap wajahku dengan tajam.

Aku yang tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya menunduk sambil terus membolak-balik lembaran kertas yang kupegang. Tidak lama kemudian, terdengar suara beberapa anak yang sedang mengobrol dari arah ujung lorong. Ternyata suara itu berasal dari Devon dan kawan-kawan.

“Oh lo udah disini! Udah kosong ya ruangannya?” tanya Martin sambil menunjuk kearah ruang 305.
“Udah, Pak! Sudah siap digunakan!” jawabku tegas.
“Haha! Yaudah, langsung pada masuk aja, yuk!” ajak Martin sambil mendahului kami memasuki ruang tersebut.

Aku-pun masuk menyusul kemudian dan bergegas ke arah colokan listrik di sudut ruangan untuk mengisi kembali daya baterai telepon genggamku.

Rani-pun kemudian berdiri setelah selesai membereskan beberapa lembar kertas yang daritadi berserakan di sekitar tempat kami duduk.

“Yauda, kalo gitu gw turun ya?” ujarnya sambil berdiri di pintu ruangan.
“Eh, lo mau turun? Kalo masih ada yang mau lo kerjain, disini aja gapapa, Ran!” ujar Martin. “Ruangan ini udah gak ada yang pakai lagi kok, gw udah cek jadwalnya,” lanjutnya.
“Oh, bagus deh kalo gitu! Maaf ya anak-anak Perlengkapan, gw ganggu!” seru Rani sambil berjalan dan lalu duduk di kursi di sebelahku. Anak-anak lainpun tidak ada yang merasa terganggu dengan kehadiran Rani, karena memang anak itu pintar bergaul dan mungkin hampir seluruh panitia Pekan Sastra menyukai sikapnya.

“Ok, Bang Dev!” seru Martin sambil menulis di whiteboard yang ada di depan kami semua. “Masalah desain selebaran udah beres ya, katanya?”
“Beres, Pak!” tegas Devon sambil berdiri dan mengambil sikap hormat. Kami yang ada diruangan tersebut-pun tertawa karena sikapnya itu.
“OK!” ujar Martin. “Nah kalo gitu ada tugas baru nih, kita butuh orang yang bisa desain pin yang nantinya bakal kita jual buat ngumpulin dana,” lanjut Martin sambil menatap kearah Devon.
“Gw lagi nih? Si Widi kan juga jago gambar!” ujar Devon sambil memelas.
“Wah gw sibuk Dev, takutnya gak kekejar!” seru Widi sambil mencoba menahan tawa.
“Lo lagi ya, Dev! Desain untuk selebaran yang udah lo buat kan diakuin bagus tuh sama anak-anak yang lain!” ujar Martin memohon.
“Iya, bener tuh Bang Dev! Udah, tugas dari SC jangan ditolak!” tambah Widi.
“Iya, Dev. Timnya sama kok. Lo bakal ngerjain desainnya bareng anak Humas lagi, karena cuma mereka aja yang jago gambar juga kaya lo!” pinta Martin.
“G-Gw!” seru Widi tiba-tiba sambil mengangkat tangannya.
“Apaan?” tanya Martin heran.
“Gw bisa, Bos! Gw aja!” seru Widi lagi, kali itu bahkan dia sambil berdiri.

Anak-anak dari divisi Humas memang mengerjakan desain selebaran bersama dengan Devon sebelumnya. Divisi Humas sendiri diisi oleh empat orang, yaitu Yuni, Feli, Wini dan Silvi. Ya, tiga dari empat Bidadari yang sebelumnya pernah disebutkan oleh Widi berada di satu divisi, dan sebelumnya mereka mengerjakan desain selebaran bersama dengan Devon. Tentu saja Devon yang akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan tiga Bidadari tersebut jadi lebih akrab dengan mereka bertiga, dan itu membuat Widi cemburu setengah mati.

“Ok, karena kita butuhnya beberapa desain, Widi sama Devon gw percayain tugas ini, ya?” tanya Martin kemudian.
“Asik!” seru Widi semangat, “Eh! Maksud gw, Siap Pak!”

Lagi-lagi kami tertawa karena sikap konyolnya itu. Bagiku sendiri, empat Bidadari yang pernah Widi sebutkan memang ternyata adalah anak-anak yang cantik dan manis sekali, aku setuju dengan Widi yang menyebut mereka sebagai Bidadari. Tapi entah kenapa, aku tidak terlalu ingin memperhatikan mereka, bahkan aku tidak pernah kepikiran soal mereka berempat.

“Mungkin ini yang dinamakan cinta?” ujar Rani tiba-tiba sambil menatapku seakan dia bisa mendengar apa saja yang baru aku pikirkan.
“Ha? Apaan sih lo!” kataku kesal sambil menjauhkan wajahnya dengan tanganku. Ranipun tertawa seakan puas sudah meledekku.

“Nah kebetulan, nih!” ujar Martin kemudian. “Lo sama Rani kan pacaran nih, ya?”
“Apaan? Enggak!” bantahku cepat.
“Apaan? Dia kan sukanya sama Na…” tanganku bergerak cepat untuk menutup mulut Rani.
“Oh, kirain! Haha!” ujar Martin sambil tertawa.
“Aduh!” teriakku sambil menjauhkan tanganku dari mulut Rani karena dia baru saja menggigitnya.
“Pokoknya segala kebutuhan yang berhubungan sama divisi Kesehatan, gw serahin ke elo ya?” sambung Martin.
“Ok, Pak!”
“Nah, Sugi sama Reka. Kalian ngurusin segala keperluan mengenai peminjaman tempat seperti lapangan, ruang kelas, pendopo dan area di sekitar kantin yang bakal kita pakai nanti, ya?”
“Siap!” ujar Sugiono dan Reka serempak.
“Terus gw ngapain, Pak?” tanya Ricky yang belum kebagian tugas.
“Nah, Bang Ricky sama gw nanti tugasnya ngurusin checklist sama anak dari divisi Acara ya? Gw sih udah manggil Dila untuk kesini, sebentar lagi dia dateng,” jelas Martin.
“Ciyeee! Bang Kodok sama Dila” ledek Rani.
“Apaan lo! Enak aja! Lagian nama gw, Ricky! Bukan Kodok!” seru Ricky tidak terima dengan ledekan Rani.
“Eh iya, lupa, Bang Ricky! Hahaha! Lagian ngomongnya kodok, kodok terus ya?” ujar Rani sambil menatapku.
“Sssst!” akupun reflek menutup mulutnya dengan tanganku, “Aduh!!” dan lagi-lagi dia menggigit tanganku.

Kamipun membicarakan mengenai anggaran dana yang sudah kami gunakan serta yang masih kami butuhkan sambil menunggu kedatangan Dila.

Rani terlihat sudah sibuk kembali dengan naskah yang sedang ditulisnya. Sedangkan Widi dan Devon terlihat sumringah karena tau mereka akan menghabiskan waktu mereka lebih banyak bersama dengan para Bidadari tersebut. Sugiono dan Reka yang memang sejak awal jarang aktif berbicara terlihata duduk santai sambil mendengarkan penjelasan dari Martin. Tidak seperti yang lain, Ricky aktif bertanya mengenai anggaran tersebut, dan sering memberikan masukan kepada Martin.

Suasana di ruangan terkesan sepi karena hanya ada perbincangan antara Ricky dan Martin, serta candaan antara Devon dan Widi, sampai tiba-tiba suara pintu dibanting memecahkan kesunyian tersebut.

BAB 9


“Halo, guys!!!” seru seseorang dari arah pintu.
“Yeee! Kodok! Ngagetin aja!” ujar Devon dengan nada kesal. Seseorang yang menampakan dirinya di pintu tersebut-pun terkekeh tanpa perasaan bersalah sama sekali.
“Maaf ya lama! Hehe!” seru orang tersebut kemudian.

Dia adalah Dila, anak dari divisi Acara. Dila memiliki tinggi seperti Rani hanya saja sedikit lebih gemuk dan pipi yang lebih bulat.

“Darimana aja, Dil?” tanya Martin. “Sini masuk cepetan, duduk di sebelah Ricky sana,” ujarnya.
“Siap, Bang Martin!” jawab Dila sambil berjalan ke arah kursi di dekat Ricky.
“Ciyeeee!” reflek kami yang ada di ruangan langsung meledek mereka berdua. Dila-pun hanya terdiam dan kemudian ikut tertawa.

Dari awal kami mengenal sosok Dila, dia memang terlihat seperti anak yang periang. Pada setiap rapat, kami mungkin hanya pernah melihat sosok Dila yang sedang tertawa, hampir tidak pernah kami melihat dia yang sedang memasang wajah serius.

“Yauda karena Dila udah dateng, sekalian aja tolong dijelasin di depan, kebutuhan acara apa aja yang harus kita sediain ya, biar semuanya paham,” ujar Martin.

Dila pun berdiri di depan kelas sambil menuliskan daftar kebutuhan acara dan kemudian memberikan penjelasan mengenai fungsinya kepada kami. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, kamipun memutuskan untuk menutup rapat dan pulang.

❀❀❀❀❀


Di sepanjang jalan pulang aku memikirkan apa saja yang sudah terjadi selama satu bulan terakhir. Sejak mengenal Devon, Ricky dan Widi, dan setelah satu bulan mengikuti kepanitiaan, aku jadi mengenal banyak orang. Aku yang tadinya tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain di kampus itu malahan jadi sering mengobrol dengan anak-anak dari kelas lain, terlebih lagi Rani. Bisa kubilang, Rani adalah anak perempuan pertama yang bisa akrab denganku sejak terakhir aku masih SMA.

Selain Rani, Dila juga termasuk salah satu anak perempuan yang sering mengobrol dengan kami. Berbeda dengan Rani yang lebih akrab denganku, Dila sepertinya lebih akrab dengan Devon karena memang Devon adalah orang yang mudah bergaul, mereka berdua, Devon dan Dila sangat suka menjahili kami.

Selain masalah soal Rani dan Dila, ada satu hal lagi yang membuatku kepikiran selama perjalanan pulang. Kenapa sekarang aku jadi selalu memikirkan Nana?

Tujuanku mengikuti kepanitiaan itu adalah agar aku bisa melupakan dia, tapi ternyata sejak aku menjadi panitia Pekan Sastra ini, aku malah jadi lebih sering berpapasan dengan Nana. Saat perjalanan pulang itupun aku terus memikirkan dia. “Kenapa Nana cakep banget, sih?” tanyaku dalam hati.

Didalam lamunan itu, aku mengecek kantong celanaku seperti yang biasa aku lakukan saat naik motor untuk memastikan apakah telepon genggam dan dompetku tidak terjatuh di jalan. “Ha??!!” ujarku kaget sambil kembali memeriksa kantong kanan celanaku.

“Astaga!!! HP gw masih di charge!!!” seruku ketika berhasil mengingat kenapa telepon genggamku tidak berada di dalam kantong celanaku.

Akupun memutar balik dan mengarahkan laju motorku kearah kampus. Waktu sudah menunjukkan jam sembilan lebih saat aku tiba di kampus. Hanya ada satu satpam yang saat itu berjaga di pos karena yang lain sedang patroli mengelilingi kampus.

❀❀❀❀❀


“Wah maaf nih, Mas! Tapi saya gak bisa ninggalin Pos,” ujar satpam itu sambil memberikan kunci pagar Fakultas dan sebuah senter.
“Iya, gpp Pak. Saya aja yang naik.” Ujarku sambil menerima kunci tersebut.

Peraturan kampus saat itu memang memerintahkan penjaga agar mengunci dan mematikan listrik di Fakultas pada pukul sembilan malam. Akupun berjalan sendiri ke arah Fakultas Sastra.

Aku melihat ke dalam gedung Fakultas Sastra yang sudah tidak disinari oleh lampu. Rasa takut sedikit menyelimutiku saat itu. “Ah, deket ko! Cuma lantai tiga!” ujarku memberanikan diri sambil membuka pagar Fakultas.

Aku langsung menyalakan saklar lampu di dekat pagar yang menerangi lorong menuju tangga ke lantai dua. Aku mengarahkan lampu senterku lurus ke arah tangga walaupun lampu di lorong itu sudah menyala, dan secara samar aku melihat sorotan lampu senterku ke arah Pendopo Ekonomi di kejauhan.

Aku berdiri terdiam sebentar saat aku tiba di tangga sambil menatap ke arah Pendopo Ekonomi. Entah apa yang ada di pikiranku, tapi aku terus menatap ke arah sana selama beberapa detik sampai akhirnya aku menaiki tangga ke lantai dua.

Kegelapan dari lantai dua menyelimuti ketika aku berada di pertengahan jalan saat aku menaiki tangga. “Buruan cari saklar lampunya, terus naik ke lantai tiga!” pikirku sambil menyakinkan diriku kalau tidak akan terjadi apa-apa.

Aku terus mengarahkan lampu senterku ke arah depan sampai aku menemukan saklar lampu untuk lorong lantai dua. Saat itu sangat sepi karena memang tidak ada mahasiswa lagi yang masih berada di kampus itu. Aku bahkan bisa mendengar suara hembusan angin dengan sangat jelas. Setelah berjalan beberapa langkah, aku pun bisa menggapai posisi saklar tersebut.

Tidak sampai hitungan detik ketika aku hendak menyalakan saklar tersebut, rasa merinding yang amat sangat menyelimuti sekujur tubuhku. Hembusan angin malam yang sebelumnya kurasa tidak dapat kurasakan atau kudengar lagi. Aku hanya berdiri terdiam di depan saklar tanpa bisa menoleh ke arah manapun. Sekujur tubuhku terasa kaku, namun juga terasa ringan, ringan sekali. Seluruh tubuhku terasa berat sampai aku tidak bisa menggerakan seujung jari sekalipun, namun juga terasa ringan sampai aku merasa kalau tubuhku sedang melayang.

Waktu terasa berhenti, tidak ada suara yang kudengar di sekitarku, kecuali suara degupan keras dari jantungku yang bisa kudengar dengan sangat jelas. Pandanganku mulai meredup, sekelebat cahaya yang tiba-tiba terpencar ke mataku membuatku pusing, aku seperti sedang berada di tempat atau mungkin dimensi lain.

Cerita Horor Remaja
Diubah oleh Ayubasauli.S.T.
Keringat mulai membasahi wajahku. Rasa takut yang amat sangat memenuhi pikiranku. Ketakutan yang memenuhi pikiranku karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Aku hanya berdiri menatap ke arah saklar, namun aku seperti bisa melihat kearah kanan dan kiriku sekaligus. Pemandangan lorong diarah kanan dan kiriku seperti tergambar jelas di pikiranku seakan aku sedang menoleh ke arah sana padahal aku tidak menggerakan kepalaku sedikitpun.

Nafasku mulai terasa sesak, kakiku terasa lemas, pandanganku mulai berkunang-kunang dan rasa pusing yang tidak bisa kujelaskan melanda kepalaku. Aku seakan mulai kehilangan kesadaran, ingin rasanya aku menyerah dan membiarkan tubuhku terjatuh karena aku tidak kuat lagi berdiri. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menyentuh saklar lampu yang ada di depan mataku.
Kepalaku serasa berputar-putar, namun aku tetap berusaha keras menggerakan tanganku. Hanya sesaat sebelum jariku berhasil menyentuh saklar lampu tersebut, aku mendengar suara, “Jangan!”

Suara tersebut menggema di kepalaku, seakan ada yang pecah di otakku, dan akhirnya membuatku tersadar. Mataku kembali melihat pemandangan di sekitarku dengan jelas. Dinginnya angin malam kembali berhembus kearahku, semakin terasa dingin ketika angin tersebut menyentuh tubuhku yang dibasahi keringat. Nafasku mulai lancar kembali, dan aku bisa menggerakan tubuhku dengan bebas. Rasa pusing yang sebelumnya kurasakan hilang begitu saja, dan suara-suara di sekitarku mulai terdengar kembali.

Aku mematikan lampu senterku dan langsung berlari ke arah luar gedung Fakultas. Aku bergegas mengunci kembali pagar gedung Fakultas tanpa menoleh sama sekali ke arah dalam gedung, dan berjalan secepat mungkin ke arah Pos Satpam.

Aku langsung bergegas pulang setelah mengembalikan kunci dan lampu senter kepada Satpam. Aku tidak terlalu ingat dan tidak ingin mengingat apa yang telah terjadi. Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak memikirkan hal itu. Aku bahkan tidak bisa mengingat seperti apa suara yang tadi kudengar menahanku. Masih dengan tubuh yang dibasahi keringat, akhirnya aku berhasil tiba di rumahku dengan selamat.

Cerita Horor Remaja
Diubah oleh Ayubasauli.S.T.
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
POST Reserved (Untuk Kepentingan Cerita)
pertamax di page dua
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di